12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Daviatul Umam by Daviatul Umam
July 20, 2024
in Cerpen
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Ilustrasi tatkala.co

MALAM sudah suntuk ketika Yuyud dan Eeng kembali ke markas di waktu yang hampir bersamaan. Di masing tangan keduanya tergenggam sebilah parang berlumur darah. Sejumlah orang di ruang markas menatapnya takjub. Satu di antara mereka lantas bertepuk tangan dengan mode lambat, pertanda kagum dan bangga atas keberhasilan calon anak buahnya.

Pria itu bernama Fahri, ketua geng Alexer yang beranggotakan dua belas orang siswa dari satu sekolah yang sama. Meski bertubuh kurus, ilmu bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Fahri pernah menaklukkan lima orang lawannya sekaligus dengan tangan kosong, saat ia berkendara seorang diri di malam buta. Ia juga pernah mengalahkan musuh bebuyutannya, Reza—ketua geng Galaxi—dalam sebuah pertandingan khusus untuk menunjukkan siapa di antara dua kepala geng itu yang paling hebat.

Setiap sekolahnya memasuki periode baru, geng Alexer membuka peluang bagi siswa-siswa baru secara diam-diam. Mereka butuh generasi untuk menjaga eksistensi dan melanjutkan perjalanan geng. Adalah kesialan terburuk bagi mereka, jika geng yang didirikan oleh seniornya sejak 2009 itu sampai punah. Ia tak ubahnya warisan sakral yang harus dirawat secara turun-temurun.

Ada lima siswa baru di tahun ini yang mengajukan diri. Sudah sedikit, tiga orang dari mereka terpaksa harus ditolak karena dirasa tidak punya cukup nyali. Terbilang ketat memang, sebab geng tersebut bukan tempat penampungan cecunguk yang hanya suka main remi, gemar mabuk-mabukan, atau hobi menggaung-gaungkan mesin motor di jalanan. Ini soal kejantanan dan nyawalah taruhannya. Jadi, cuma dua orang saja yang dinilai memenuhi kriteria: Yuyud dan Eeng.

Tidak cukup di situ. Ada syarat utama yang terlebih dahulu wajib dilakukan oleh setiap calon anggota sebelum dinyatakan resmi bergabung. Mereka harus melukai tubuh seseorang, minimal, dan akan menjadi nilai plus jika sampai terbunuh. Tak peduli tua atau muda, laki-laki atau perempuan, yang akan menjadi sasaran. Yang penting, calon anggota membawa bukti nyata ke hadapan ketua geng, dengan menunjukkan senjata tajam yang telah berlumur darah.

“Hahaha. Bagus, bagus!” seru Fahri setelah Yuyud dan Eeng menyerahkan parang berbalur cairan amis itu kepadanya. Sontak Yuyud dan Eeng tersenyum lega.

Lagi-lagi belum cukup di situ. Bisa saja darah yang menempel di kedua parang itu darah ayam, bebek, kelinci atau kucing yang mereka sembelih. Seperti biasa, kebenaran akan bicara keesokan harinya. Kalau media sosial ramai membicarakan aksi pembacokan liar, otomatis Yuyud dan Eeng resmi diakui sebagai anggota Alexer. Sebaliknya, jika tidak, mereka gagal dan mereka sendiri yang bakal jadi tumbal atas dasar penipuan. Berkhianat, bagi Alexer, sama saja dengan melecehkan nama besar geng.

Alexer tidak mau punya anggota pengecut. Itulah prinsip terbesar yang senantiasa dipegang teguh masing-masing anggota antar generasi. Sanksi bagi yang melanggarnya bukan pemecatan, melainkan penumpasan. Hal demikian pernah terjadi pada tahun 2016. Seorang anggota diketahui bercakap-cakap dengan mantan anggota geng Galaxi di luar pagar sekolah. Tak menunggu waktu lama, malam harinya bocah itu langsung dieksekusi di markas.

Padahal, orang yang diduga sebagai mantan anggota geng Galaxi itu, bukanlah seperti yang mereka kira. Dia merupakan adik kandung dari orang yang dicurigai, yang sekilas memang ada kemiripan di antara rupa keduanya. Dia tidak pernah bergabung dengan geng mana pun. Dia tak lain tetangga si korban. Dia menyambangi si korban ke sekolah semata-mata untuk memberi tahu, kalau ibunya terserang strok dan kondisinya sangat memprihatinkan.

Sayangnya, tak ada yang tahu bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman belaka. Tiba-tiba saja anak malang itu ditelepon oleh ketua gengnya saat ia menjaga sang ibu di rumah sakit. Sebenarnya ia sempat menolak perintah si penelepon agar ke markas. Tetapi karena diancam, ia menurut juga akhirnya.

Begitu tiba di markas, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, kawan-kawannya segera menghantamnya bertubi-tubi. Lelaki tujuh belas tahun itu ambruk. Mukanya babak belur. Dari mulut dan lubang hidungnya darah pekat bercucuran. “Apa salahku, Bos?” pekiknya sambil terbatuk-batuk ketika sang ketua geng mendekat. Yang dipanggil bos mencondongkan badan, lantas menjawabnya dengan tusukan golok dua kali.

***

Pagi-pagi kota A dihebohkan dengan penemuan mayat sesosok laki-laki di kecamatan S, tepatnya di jalan Dewi Padi di samping warung makan Burjo. Peristiwa yang diketahui merupakan korban pembunuhan itu diwartakan media-media nasional, kemudian terus disebarkan oleh media-media online. Beberapa jam kemudian, muncullah sebuah postingan seorang mahasiswi yang bercerita bahwa dirinya disayat sebanyak tiga kali oleh pemuda bermotor, disertai dengan foto luka di lengannya yang telah dibebat kain kasa, sehingga turut tersebar luas menjejali dinding X dan Facebook, sebelum akhirnya juga diberitakan oleh sejumlah media.

Dua berita tersebut sungguh membuat seisi kota A gaduh. Link berita semakin meluas. Berbagai caption serta komentar warganet dari segala penjuru Indonesia yang berisi kecaman, tuntutan keadilan, ragam pendapat, maupun sekadar ungkapan rasa iba terhadap korban, memadati media massa dan kolom komentar berita. Kata kunci “bandit” dan “geng pelajar” menempati posisi teratas di kolom pencarian aplikasi X. Tagar #tumpasbandit dan #tumpasbanditdikotaa tak kalah trendingnya. Petisi desakan kepada pemerintah untuk menjalankan proses hukum atas pelaku, juga dilayangkan.

Mengapa sampai seheboh itu? Mengapa netizen begitu berang? Karena ini kasus lama dan terus berulang-ulang hampir tiap tahun tanpa penanganan yang serius. Sudah menjadi rahasia umum kalau di kota A terdapat kejahatan jalanan, yang pelakunya tak lain adalah para pelajar. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan, baik warga pribumi maupun perantau. Itulah sebabnya orang-orang takut bepergian di larut malam. Mereka yang pulang kerja pada jam 24 ke atas, berkendara dengan dada yang disesaki rasa cemas. Sebagian penduduk luar yang ingin merantau ke kota A, terpaksa harus mengurungkan niatnya.

Namun, tak pernah ada penyelesaian secara optimal. Setiap kali kasus serupa terjadi, terulang dan terulang lagi, para pelaku hanya ditahan beberapa hari di kantor kepolisian, diberi bimbingan ala kadarnya, lalu dipulangkan dan kembali bebas berkeliaran. Setiap kali polisi ditanyai kenapa bandit-bandit itu tidak dipenjara saja biar jera, satu-satunya alasan yang mereka berikan: karena para pelaku masih di bawah umur. Lain halnya tanggapan Bapak Wali Kota. Katanya, sebaiknya kasus demikian tak perlu dibesar-besarkan. Bisa jadi itu cuma isu yang dibuat oleh oknum-oknum yang ingin menodai citra kota A.

***

Fahri dan kawan-kawannya mengembuskan napas kegembiraan. Apa yang mereka harapkan terkabul. Terbukti sudah kejujuran Yuyud dan Eeng dalam melaksanakan tugas. Otomatis mereka telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar geng Alexer. Lebih dari itu, kegaduhan di media massa yang menimbulkan kekhawatiran mendalam di dada masyarakat, tentu saja amatlah berarti bagi Alexer. Karena dengan begitu, eksistensi Alexer semakin kukuh. Dan memang itulah misi utamanya.

Mereka akan terus berupaya membesarkan nama gengnya. Caranya dengan mencari tumbal saban tahun, selain menantang tawuran geng-geng lain, paling tidak dua kali dalam setahun. Bagi mereka, tak ada yang lebih berharga dalam hidup kecuali pengakuan. Mereka selalu ingin diakui keberadaan dan kejantanannya sebagai kaum lelaki. Mereka tidak mau dianggap enteng oleh masyarakat walaupun mereka masih berstatus pelajar. Karenanya mereka berlagak sadis seperti aktor-aktor mafia dalam film Barat.

“Aku yakin, Galaxi pasti panas mendengar kabar istimewa ini,” ucap Fahri diiringi tawa ringan.

Perkataan Fahri bukan prasangka hampa. Selama ini Alexer dan Galaxi memang berlomba-lomba bermain api. Dan sejauh ini, tidak ada geng lain yang pernah melakukan tindakan kriminal yang amat kejam selain dua geng itu. Itu artinya, jika anggota Galaxi tidak merasa melakukan aksi kejam dalam waktu dekat, lantas menyeruak berita pembunuhan yang pelakunya adalah anak remaja, sudah pasti Alexer-lah yang berulah. Begitu pun sebaliknya.

“Mari kita rayakan keberhasilan ini, Bos,” seorang kawannya menimpali. Tawa yang sama kadar ringannya membubung ke udara. Mereka pun bersulang hingga teler.

Sementara itu, di markas geng Galaxi, Reza beserta segenap anak buahnya mulai merencanakan sesuatu. Mereka hendak membayar ‘piutang’ yang ditimpakan Alexer kepadanya. Lalu dua anggota diperintahkan untuk menghabisi nyawa tiga orang sekaligus dalam satu malam.

Biasanya, pelunasan utang gila ini dilakukan satu atau dua tahun sesudah kasus yang baru terjadi benar-benar lenyap ditelan bumi, di kala warga telah abai pada rasa awas dan takutnya. Akan tetapi, lantaran kasus kali ini teramat ramai diperbincangkan publik, Reza sungguh tidak dapat meredam emosi. Apalagi, rasa malu yang ia derita sejak dua bulan lalu akibat kekalahannya dalam duel melawan Fahri, belum juga terobati. Maka tidak boleh tidak, secepatnya Galaxi harus bergerak. Kalau perlu, Galaxi bakal menyerang markas Alexer setelah ini.

***

Dua anggota Galaxi yang ditunjuk Reza sudah siap bertugas. Mereka mengendarai motor berboncengan, berkecepatan rendah, menyusuri kelengangan malam yang teramat likat, dengan sebuah celurit terselip di balik punggung masing-masing.

“Sial!” keluh salah satu dari mereka, ketika menghentikan laju motor di tepi kali usai menempuh belasan kilo meter perjalanan. Tidak ada satu pun manusia mereka jumpai. Tidak ada satu pun kendaraan lewat.

“Mungkin orang-orang masih trauma.”

“Apa sebaiknya kita pulang saja?”

“Kamu kangen kepalan tangan si bos?”

“Ya besok malam kan bisa balik kerja lagi.”

“Sudah, kita tunggu saja dulu. Kalau sampai jam 3 belum ada juga orang lewat, kita pulang.”

Beberapa menit selepas percakapan singkat itu, bunyi mesin motor terdengar lamat-lamat dari kejauhan. “Siap-siap!” instruksi yang satu kepada yang lain. Keduanya lekas melepas celurit dari sarungnya. Begitu sinar lampu motor mulai terlihat membelah kegelapan, mereka gegas berdiri di sisi kiri-kanan jalan seraya menghunuskan senjata. Laju motor semakin dekat, melambat, lalu berhenti. Seandainya nekat menerobos, tentu sangat berisiko. Jika saja kedua bandit itu menghadang di tengah jalan, niscaya si pengendara akan menabraknya.

Mengapa pengendara yang rupanya seorang lelaki paruh baya itu memilih berhenti dan turun dari kendaraannya? Bukankah jauh lebih berbahaya? Ia sama sekali tak gentar. Ia pun tahu harus berbuat apa.

Sepasang bandit cepat-cepat menyerang secara brutal. Dengan gerak-gerik yang begitu gesit, si bapak itu dapat mengelak dari amukan dua celurit yang amat beringas. Ia bahkan berkali-kali dapat memukul dan menerjang tubuh kedua bandit, dengan gerakan yang memukau dan tampak sangat terlatih. Beda halnya dua remaja itu yang hanya bermodal nyali besar dan menyerang secara serampangan, hingga berkali-kali pula mereka terjengkang dan tersungkur. Meski begitu, mereka tetap berusaha bangkit dari jatuh dan rasa sakitnya. Sampai akhirnya, satu celurit berhasil direbut oleh si bapak. Cuma butuh beberapa detik, si bapak telah merobek perut dua anak manusia nyaris bersamaan.

***

Pagi-pagi seisi kota A kembali heboh. Orang-orang merasa senang sekaligus sedih. Senang sebab populasi bandit di kota A telah berkurang. Sedih sebab si bapak yang sebenarnya membela diri itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Seolah adu sigap, media-media segera memberitakannya. Kolom komentar berita lantas dipenuhi rasa syukur yang berbunga-bunga, di samping juga menuntut pemerintah serta aparat kepolisian untuk membebaskan si pelaku pembunuhan yang mereka sebut sebagai pahlawan.

Sumenep, November 2023

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zajima Zan | Di Sebuah Perpustakaan Kecil

Next Post

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Daviatul Umam

Daviatul Umam

Lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi dan prosa. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co