2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Daviatul Umam by Daviatul Umam
July 20, 2024
in Cerpen
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Ilustrasi tatkala.co

MALAM sudah suntuk ketika Yuyud dan Eeng kembali ke markas di waktu yang hampir bersamaan. Di masing tangan keduanya tergenggam sebilah parang berlumur darah. Sejumlah orang di ruang markas menatapnya takjub. Satu di antara mereka lantas bertepuk tangan dengan mode lambat, pertanda kagum dan bangga atas keberhasilan calon anak buahnya.

Pria itu bernama Fahri, ketua geng Alexer yang beranggotakan dua belas orang siswa dari satu sekolah yang sama. Meski bertubuh kurus, ilmu bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Fahri pernah menaklukkan lima orang lawannya sekaligus dengan tangan kosong, saat ia berkendara seorang diri di malam buta. Ia juga pernah mengalahkan musuh bebuyutannya, Reza—ketua geng Galaxi—dalam sebuah pertandingan khusus untuk menunjukkan siapa di antara dua kepala geng itu yang paling hebat.

Setiap sekolahnya memasuki periode baru, geng Alexer membuka peluang bagi siswa-siswa baru secara diam-diam. Mereka butuh generasi untuk menjaga eksistensi dan melanjutkan perjalanan geng. Adalah kesialan terburuk bagi mereka, jika geng yang didirikan oleh seniornya sejak 2009 itu sampai punah. Ia tak ubahnya warisan sakral yang harus dirawat secara turun-temurun.

Ada lima siswa baru di tahun ini yang mengajukan diri. Sudah sedikit, tiga orang dari mereka terpaksa harus ditolak karena dirasa tidak punya cukup nyali. Terbilang ketat memang, sebab geng tersebut bukan tempat penampungan cecunguk yang hanya suka main remi, gemar mabuk-mabukan, atau hobi menggaung-gaungkan mesin motor di jalanan. Ini soal kejantanan dan nyawalah taruhannya. Jadi, cuma dua orang saja yang dinilai memenuhi kriteria: Yuyud dan Eeng.

Tidak cukup di situ. Ada syarat utama yang terlebih dahulu wajib dilakukan oleh setiap calon anggota sebelum dinyatakan resmi bergabung. Mereka harus melukai tubuh seseorang, minimal, dan akan menjadi nilai plus jika sampai terbunuh. Tak peduli tua atau muda, laki-laki atau perempuan, yang akan menjadi sasaran. Yang penting, calon anggota membawa bukti nyata ke hadapan ketua geng, dengan menunjukkan senjata tajam yang telah berlumur darah.

“Hahaha. Bagus, bagus!” seru Fahri setelah Yuyud dan Eeng menyerahkan parang berbalur cairan amis itu kepadanya. Sontak Yuyud dan Eeng tersenyum lega.

Lagi-lagi belum cukup di situ. Bisa saja darah yang menempel di kedua parang itu darah ayam, bebek, kelinci atau kucing yang mereka sembelih. Seperti biasa, kebenaran akan bicara keesokan harinya. Kalau media sosial ramai membicarakan aksi pembacokan liar, otomatis Yuyud dan Eeng resmi diakui sebagai anggota Alexer. Sebaliknya, jika tidak, mereka gagal dan mereka sendiri yang bakal jadi tumbal atas dasar penipuan. Berkhianat, bagi Alexer, sama saja dengan melecehkan nama besar geng.

Alexer tidak mau punya anggota pengecut. Itulah prinsip terbesar yang senantiasa dipegang teguh masing-masing anggota antar generasi. Sanksi bagi yang melanggarnya bukan pemecatan, melainkan penumpasan. Hal demikian pernah terjadi pada tahun 2016. Seorang anggota diketahui bercakap-cakap dengan mantan anggota geng Galaxi di luar pagar sekolah. Tak menunggu waktu lama, malam harinya bocah itu langsung dieksekusi di markas.

Padahal, orang yang diduga sebagai mantan anggota geng Galaxi itu, bukanlah seperti yang mereka kira. Dia merupakan adik kandung dari orang yang dicurigai, yang sekilas memang ada kemiripan di antara rupa keduanya. Dia tidak pernah bergabung dengan geng mana pun. Dia tak lain tetangga si korban. Dia menyambangi si korban ke sekolah semata-mata untuk memberi tahu, kalau ibunya terserang strok dan kondisinya sangat memprihatinkan.

Sayangnya, tak ada yang tahu bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman belaka. Tiba-tiba saja anak malang itu ditelepon oleh ketua gengnya saat ia menjaga sang ibu di rumah sakit. Sebenarnya ia sempat menolak perintah si penelepon agar ke markas. Tetapi karena diancam, ia menurut juga akhirnya.

Begitu tiba di markas, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, kawan-kawannya segera menghantamnya bertubi-tubi. Lelaki tujuh belas tahun itu ambruk. Mukanya babak belur. Dari mulut dan lubang hidungnya darah pekat bercucuran. “Apa salahku, Bos?” pekiknya sambil terbatuk-batuk ketika sang ketua geng mendekat. Yang dipanggil bos mencondongkan badan, lantas menjawabnya dengan tusukan golok dua kali.

***

Pagi-pagi kota A dihebohkan dengan penemuan mayat sesosok laki-laki di kecamatan S, tepatnya di jalan Dewi Padi di samping warung makan Burjo. Peristiwa yang diketahui merupakan korban pembunuhan itu diwartakan media-media nasional, kemudian terus disebarkan oleh media-media online. Beberapa jam kemudian, muncullah sebuah postingan seorang mahasiswi yang bercerita bahwa dirinya disayat sebanyak tiga kali oleh pemuda bermotor, disertai dengan foto luka di lengannya yang telah dibebat kain kasa, sehingga turut tersebar luas menjejali dinding X dan Facebook, sebelum akhirnya juga diberitakan oleh sejumlah media.

Dua berita tersebut sungguh membuat seisi kota A gaduh. Link berita semakin meluas. Berbagai caption serta komentar warganet dari segala penjuru Indonesia yang berisi kecaman, tuntutan keadilan, ragam pendapat, maupun sekadar ungkapan rasa iba terhadap korban, memadati media massa dan kolom komentar berita. Kata kunci “bandit” dan “geng pelajar” menempati posisi teratas di kolom pencarian aplikasi X. Tagar #tumpasbandit dan #tumpasbanditdikotaa tak kalah trendingnya. Petisi desakan kepada pemerintah untuk menjalankan proses hukum atas pelaku, juga dilayangkan.

Mengapa sampai seheboh itu? Mengapa netizen begitu berang? Karena ini kasus lama dan terus berulang-ulang hampir tiap tahun tanpa penanganan yang serius. Sudah menjadi rahasia umum kalau di kota A terdapat kejahatan jalanan, yang pelakunya tak lain adalah para pelajar. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan, baik warga pribumi maupun perantau. Itulah sebabnya orang-orang takut bepergian di larut malam. Mereka yang pulang kerja pada jam 24 ke atas, berkendara dengan dada yang disesaki rasa cemas. Sebagian penduduk luar yang ingin merantau ke kota A, terpaksa harus mengurungkan niatnya.

Namun, tak pernah ada penyelesaian secara optimal. Setiap kali kasus serupa terjadi, terulang dan terulang lagi, para pelaku hanya ditahan beberapa hari di kantor kepolisian, diberi bimbingan ala kadarnya, lalu dipulangkan dan kembali bebas berkeliaran. Setiap kali polisi ditanyai kenapa bandit-bandit itu tidak dipenjara saja biar jera, satu-satunya alasan yang mereka berikan: karena para pelaku masih di bawah umur. Lain halnya tanggapan Bapak Wali Kota. Katanya, sebaiknya kasus demikian tak perlu dibesar-besarkan. Bisa jadi itu cuma isu yang dibuat oleh oknum-oknum yang ingin menodai citra kota A.

***

Fahri dan kawan-kawannya mengembuskan napas kegembiraan. Apa yang mereka harapkan terkabul. Terbukti sudah kejujuran Yuyud dan Eeng dalam melaksanakan tugas. Otomatis mereka telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar geng Alexer. Lebih dari itu, kegaduhan di media massa yang menimbulkan kekhawatiran mendalam di dada masyarakat, tentu saja amatlah berarti bagi Alexer. Karena dengan begitu, eksistensi Alexer semakin kukuh. Dan memang itulah misi utamanya.

Mereka akan terus berupaya membesarkan nama gengnya. Caranya dengan mencari tumbal saban tahun, selain menantang tawuran geng-geng lain, paling tidak dua kali dalam setahun. Bagi mereka, tak ada yang lebih berharga dalam hidup kecuali pengakuan. Mereka selalu ingin diakui keberadaan dan kejantanannya sebagai kaum lelaki. Mereka tidak mau dianggap enteng oleh masyarakat walaupun mereka masih berstatus pelajar. Karenanya mereka berlagak sadis seperti aktor-aktor mafia dalam film Barat.

“Aku yakin, Galaxi pasti panas mendengar kabar istimewa ini,” ucap Fahri diiringi tawa ringan.

Perkataan Fahri bukan prasangka hampa. Selama ini Alexer dan Galaxi memang berlomba-lomba bermain api. Dan sejauh ini, tidak ada geng lain yang pernah melakukan tindakan kriminal yang amat kejam selain dua geng itu. Itu artinya, jika anggota Galaxi tidak merasa melakukan aksi kejam dalam waktu dekat, lantas menyeruak berita pembunuhan yang pelakunya adalah anak remaja, sudah pasti Alexer-lah yang berulah. Begitu pun sebaliknya.

“Mari kita rayakan keberhasilan ini, Bos,” seorang kawannya menimpali. Tawa yang sama kadar ringannya membubung ke udara. Mereka pun bersulang hingga teler.

Sementara itu, di markas geng Galaxi, Reza beserta segenap anak buahnya mulai merencanakan sesuatu. Mereka hendak membayar ‘piutang’ yang ditimpakan Alexer kepadanya. Lalu dua anggota diperintahkan untuk menghabisi nyawa tiga orang sekaligus dalam satu malam.

Biasanya, pelunasan utang gila ini dilakukan satu atau dua tahun sesudah kasus yang baru terjadi benar-benar lenyap ditelan bumi, di kala warga telah abai pada rasa awas dan takutnya. Akan tetapi, lantaran kasus kali ini teramat ramai diperbincangkan publik, Reza sungguh tidak dapat meredam emosi. Apalagi, rasa malu yang ia derita sejak dua bulan lalu akibat kekalahannya dalam duel melawan Fahri, belum juga terobati. Maka tidak boleh tidak, secepatnya Galaxi harus bergerak. Kalau perlu, Galaxi bakal menyerang markas Alexer setelah ini.

***

Dua anggota Galaxi yang ditunjuk Reza sudah siap bertugas. Mereka mengendarai motor berboncengan, berkecepatan rendah, menyusuri kelengangan malam yang teramat likat, dengan sebuah celurit terselip di balik punggung masing-masing.

“Sial!” keluh salah satu dari mereka, ketika menghentikan laju motor di tepi kali usai menempuh belasan kilo meter perjalanan. Tidak ada satu pun manusia mereka jumpai. Tidak ada satu pun kendaraan lewat.

“Mungkin orang-orang masih trauma.”

“Apa sebaiknya kita pulang saja?”

“Kamu kangen kepalan tangan si bos?”

“Ya besok malam kan bisa balik kerja lagi.”

“Sudah, kita tunggu saja dulu. Kalau sampai jam 3 belum ada juga orang lewat, kita pulang.”

Beberapa menit selepas percakapan singkat itu, bunyi mesin motor terdengar lamat-lamat dari kejauhan. “Siap-siap!” instruksi yang satu kepada yang lain. Keduanya lekas melepas celurit dari sarungnya. Begitu sinar lampu motor mulai terlihat membelah kegelapan, mereka gegas berdiri di sisi kiri-kanan jalan seraya menghunuskan senjata. Laju motor semakin dekat, melambat, lalu berhenti. Seandainya nekat menerobos, tentu sangat berisiko. Jika saja kedua bandit itu menghadang di tengah jalan, niscaya si pengendara akan menabraknya.

Mengapa pengendara yang rupanya seorang lelaki paruh baya itu memilih berhenti dan turun dari kendaraannya? Bukankah jauh lebih berbahaya? Ia sama sekali tak gentar. Ia pun tahu harus berbuat apa.

Sepasang bandit cepat-cepat menyerang secara brutal. Dengan gerak-gerik yang begitu gesit, si bapak itu dapat mengelak dari amukan dua celurit yang amat beringas. Ia bahkan berkali-kali dapat memukul dan menerjang tubuh kedua bandit, dengan gerakan yang memukau dan tampak sangat terlatih. Beda halnya dua remaja itu yang hanya bermodal nyali besar dan menyerang secara serampangan, hingga berkali-kali pula mereka terjengkang dan tersungkur. Meski begitu, mereka tetap berusaha bangkit dari jatuh dan rasa sakitnya. Sampai akhirnya, satu celurit berhasil direbut oleh si bapak. Cuma butuh beberapa detik, si bapak telah merobek perut dua anak manusia nyaris bersamaan.

***

Pagi-pagi seisi kota A kembali heboh. Orang-orang merasa senang sekaligus sedih. Senang sebab populasi bandit di kota A telah berkurang. Sedih sebab si bapak yang sebenarnya membela diri itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Seolah adu sigap, media-media segera memberitakannya. Kolom komentar berita lantas dipenuhi rasa syukur yang berbunga-bunga, di samping juga menuntut pemerintah serta aparat kepolisian untuk membebaskan si pelaku pembunuhan yang mereka sebut sebagai pahlawan.

Sumenep, November 2023

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zajima Zan | Di Sebuah Perpustakaan Kecil

Next Post

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Daviatul Umam

Daviatul Umam

Lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi dan prosa. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co