24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lada dari Papa

Fathia Inayatus Shalihah by Fathia Inayatus Shalihah
May 19, 2024
in Ulas Buku
Lada dari Papa

Novel "Di Tanah Lada"

Di Tanah Lada merupakan sebuah novel karangan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2015. Novel Di Tanah Lada menjadi pemenang juara dua pada sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 dan menjadi novel yang cukup dikenal oleh masyarakat.

Cerita dalam novel ini bertema kekerasan pada anak-anak dengan menggunakan latar kota metropolitan yang memiliki kesan dunia bebas dan keras.

Walaupun secara umum novel ini menceritakan tentang kekerasan pada anak (Child Abuse), namun novel Di Tanah Lada sebenarnya menceritakan tentang kepolosan cara berpikir anak kecil yang menjadi tidak percaya kepada adanya kebaikan dari seorang ayah di dunia ini, hal tersebut terjadi karena anak sering disakiti oleh ayahnya.

Novel ini juga bercerita tentang dua orang anak kecil yang tulus ingin hidup bahagia bersama di kehidupan yang lain setelah mengalami kehidupan buruk di kehidupannya sekarang, hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri.

Kisah dalam novel ini banyak terjadi di dunia nyata dan sering memakan banyak korban. Terutama di kota metropolitan Jakarta, keras dan liarnya persaingan hidup di ibukota menjadi faktor utama hal ini terjadi.

Pada dasarnya sebuah karya sastra diciptakan berdasarkan fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti kekerasan, kemiskinan, pengangguran, serta keterbelakangan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Endraswara (dalam Kadir, 2021: 173) bahwa pemicu lahirnya karya sastra adalah kehidupan sosial.

Sejalan dengan pendapat tersebut, sebuah karya sastra terutama novel biasanya ditulis dengan merefleksikan kehidupan sosial di sekitar penulis.

Dalam novel Di Tanah Lada anak-anak diperlakukan secara kasar oleh sang ayah yang seharusnya dapat menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Salva adalah seorang anak perempuan yang sering mendapat perlakuan buruk dari sang papa, Salva kerap kali mendapat ucapan bahkan sang papa tidak segan-segan berlaku kasar terhadapnya.

Saat Salva berada di Rusun Nero, Salva bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama P, P hidup bersama dengan sang papa, tidak jauh berbeda dengan nasib Salva, Ia juga sering mendapat tindakan kasar dari sang papa. Sesuai dengan kodratnya, dunia anak-anak seharusnya diisi dengan hal yang indah, hal-hal yang dapat membuat anak merasa bahagia layaknya anak yang hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Hidup dengan mendapat kasih sayang dari orang tua, perhatian yang cukup, serta segala kebutuhannya dapat terpenuhi.

Kehidupan anak-anak malang, seperti Salva yang sejak kecil sudah dianggap ludah oleh sang papa dan hampir diberi nama saliva karena menganggap Salva tidak berguna, selalu memberikan kata-kata buruk yang tidak pantas didengar oleh seorang anak kecil, hingga puncaknya ketika papanya tega mengurung Salva yang sedang tertidur di dalam koper.

Kemudian terdapat kisah P, anak laki-laki yang tidak sengaja bertemu dan berteman dengan Salva yang memiliki kisah hampir sama dengan Salva yaitu dibesarkan oleh papa yang ternyata bukan papa kandungnya dan selalu mendapat perlakukan kasar dari sang papa berupa disiksa dengan kejam.

Kisah P sedikit lebih menyedihkan jika dibandingkan dengan Salva, karena P dibesarkan oleh orang tua angkat yang ternyata adalah suami dari kakak ibu kandungnya sendiri, dan hingga pada akhirnya P mengetahui bahwa orang tua kandungnya adalah dua orang yang sudah P anggap kakaknya sendiri, yang sudah mengajari dan mendampingi P selama di Rusun Nero.

Permasalahan hidup kedua anak tersebut yang menuntun mereka untuk melakukan bunuh diri, bunuh diri yang Salva dan P anggap sebagai jalan agar mereka dapat hidup bahagia di kehidupan yang lain.

Terlepas dari berbagai konflik dalam novel ini, novel karangan Ziggy Zezysyazeoviennazabrizkie ini memiliki sebuah keunikan yang dapat menjadi daya tarik bagi pembacanya. Salva, seorang anak berusia enam tahun yang pandai dalam berbahasa Indonesia, setiap Salva berbicara dengan orang lain pasti menggunakan bahasa baku sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar.

Oleh karena itu, bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa seorang anak kecil yang lugu dengan bahasa Indonesia baku, Ziggy seolah-olah mengajak para pembacanya merasa sensasi sedang mengobrol dengan seorang anak kecil.

Salva pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan benar bukan tanpa alasan, pada saat ulang tahunnya yang ke tiga Salva diberi hadiah oleh kakeknya sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus tersebut selalu Salva bawa ke mana pun Ia pergi agar jika kesulitan mengetahui arti sebuah kata Ia dapat langsung mencarinya di kamus. Akan tetapi, yang disayangkan adalah kepandaiannya itu dianggap remeh dan tidak membanggakan sang ayah.

Kisah dalam novel ini tidak hanya menceritakan tentang penderitaan Salva saja, sang ibu juga merasakan penderitaan yang sama. Ibu Salva sering bertengkar, diperlakukan kasar, hingga dipaksa oleh papa Salva untuk menemaninya berjudi. Tidak jarang Salva menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, tidak jarang Salva diberi uang oleh sang mama agar keluar rumah saat orang tuanya bertengkar.

Kekerasan rumah tangga sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia, KDRT dapat terjadi apabila budaya patriarki masih menjadi pedoman dalam realita sosial budaya Indonesia. Dalam novel Di Tanah Lada, kekerasan yang dilakukan oleh papa Salva terhadap mama Salva sesuai dengan pendapat ha. F. Nadia (Nurachmad, 2013: 100), kekerasan tersebut dapat berupa penyiksaan emosi, penyiksaan ekonomi yang membuat istri selalu bergantung secara ekonomi, dan ancaman akan siksaan.

Ziggy mengemas tindakan kekerasan rumah tangga ini dalam beberapa bentuk, seperti dalam bentuk verbal (Verbal Abuse) yaitu pada saat papa Salva menyalahkan mama Salva dan Salva karena selalu menghabiskan uang. “Papa balik berteriak lagi, “MASIH INGAT! KARENA KERJAAN DIA CUMA MALAS-MALASAN MENGHABISKAN UANGKU! COBA KAU DIDIK DIA UNTUK BEKERJA! BUKAN UNTUK JADI PEMALAS SEPERTIMU!”” (Hal 16).

Beberapa tindakan lain yaitu kekerasan nonverbal, yaitu pada saat papa dan mama Salva bertengkar karena Salva membawa P ke dalam kamar di Rusun Nero dan akhirnya papa Salva menyebut Salva sebagai jalang, setelah pertengkaran itu, tindakan KDRT pun terjadi. “ITU ANAK DIDIKANMU! DARI KECIL SUDAH JADI JALANG!”. Lalu mama tampaknya marah sekali sehingga badannya gemetaran. Dia melemparkan tas yang dia pegang ke arah papa. Tasnya mengenai kepala papa. Lalu papa menggeram keras-keras seperti monster. Dia menerjang mama dan mendorongnya sampai menabrak pintu. Kemudian, papa menampar mama.” (Hal 48)

Dalam cerita ini, anak dibuat takut dan trauma dengan perlakuan sang ayah yang selalu menyakitinya. Perlakuan-perlakuan yang dianggap sepele oleh orang tua ternyata sangat berpengaruh pada psikologis anak. Tindakan KDRT yang orang tua lakukan di depan anak dapat memberikan resiko kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang, seperti pendapat Aghnis Fauziah bahwa anak yang menyaksikan KDRT akan mempelajari kekerasan dari lingkungannya tersebut, yaitu anak meyakini bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, meyakini bahwa dunia tempat yang mengerikan dan tidak aman, meyakini bahwa laki-laki jahat, suka mengatur, dan kejam, serta meyakini bahwa perempuan lemah dan tidak berdaya.

Beberapa hal tersebut benar-benar terjadi pada Salva dan P. “Mama aku sama sekali nggak ingat aku. Berarti dia nggak sayang” (hal 154). Sesuai dengan pendapat sebelumnya, keyakinan kedua anak tersebut hilang sejak Salva dan P mendapat perlakuan buruk dari ibunya. Tidak hanya itu, Salva dan P menganggap semua papa di dunia ini jahat. “Ih, kok begitu sih?” Aku bergumam, sebal. “Kamu jangan jadi papa, dong. Nanti kamu jadi jahat.” (hal 160).

Salva dan P kompak untuk tidak mau menjadi mama dan papa karena mereka menganggap mama dan papa adalah orang yang buruk, jadi Salva dan P memutuskan untuk menjadi kakek dan nenek. Hal itu disebabkan karena kakek Salva, Kakek Kia, dan nenek Salva, Nenek Isma, mereka berdua dianggap orang-orang yang baik oleh Salva. 

Berdasarkan beberapa kejadian tindak kekerasan, baik kepada anak maupun dalam rumah tangga tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh faktor lingkungan tempat tinggalnya. Rusun Nero, sebuah rusun di pinggiran kota Kota Jakarta yang berdiri di pemukiman penduduk kumuh dengan segala kekacauannya. Rusun Nero menjadi tempat tinggal beberapa orang dengan latarbelakang buruk, di sekitar rusun terdapat sebuah kasino (tempat perjudi) yang menjadi surga bagi orang dengan kelas sosial rendah hingga menengah penggila judi. Tidak heran jika papa Salva memilih pindah ke Rusun Nero, karena papa Salva adalah seorang penjudi yang rela menghabiskan warisan dari kakek Kia hanya untuk berjudi. “Ya! Bagus, kan? Kau lihat gang kecil di samping rusun ini? kalau kita lewat sana, terus saja, bisa langsung tembus ke kasino! Lihat! Luar biasa, kan?”

Begitu pula dengan papa P, Ia adalah seorang yang hobi berjudi, keluar rusun hanya ketika di malam hari dan kembali saat pagi harinya. “Kalau di atas jam7, Papa pergi main judi. Jadi, rumah kosong.”

Faktor lingkungan dan ekonomi menjadi faktor pendukung terjadinya kekerasan pada anak maupun dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pendapat Soetjiningsih (2002), kekerasan anak dan rumah tangga dipicu oleh tuntutan ekonomi  yang semakin meningkat, pada akhirnya rasa kecewa dan marah orang tua dilimpahkan kepada anak karena kelemahan seorang anak yang dapat diperlakukan semena-mena oleh orang tua.

Jika dilihat dalam kisah pada novel Di Tanah Lada, kasus P adalah permasalahan yang kompleks terkait beberapa faktor yang dibahas sebelumnya. P menjadi korban kebencian sang papa, setiap melihat P pasti papa P merasa benci dan kesal karena ia menganggap P adalah beban hidupnya yang merepotkan. Padahal jika dilihat pada kenyataan sebenarnya, P adalah orang yang membiayai kebutuhan sang papa mulai dari membayar sewa kamar rusun hingga sang papa sering meminta uang pada P untuk judi, padahal P baru berusia sepuluh tahun. [T]

Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: novelresensi bukusastraUNYZiggy Zezysyazeoviennazabrizkie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene

Next Post

Bali, the Island of the Gods

Fathia Inayatus Shalihah

Fathia Inayatus Shalihah

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Bali, the Island of the Gods

Bali, the Island of the Gods

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co