6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
April 6, 2024
in Cerpen
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co

AKHIR-AKHIR ini hujan sering tertabur dengan serta merta. Kadang lembut seperti perawat yang sopan, kadang cepat dan mengejutkan seperti peristiwa kecelakaan. Bagiku, seperti apapun, sama saja; aku selalu lupa membeli jas hujan. Apabila hujan sudah tertabur, barulah aku ingat bahwa aku lupa membeli jas hujan; lantas aku akan mengutuk diri sendiri sambil susah payah mencari tempat berteduh yang hampir selalu sudah ditempati orang lain meskipun sebagian dari mereka mengenakan jas hujan lengkap. Mengherankan, untuk apa mereka mengenakan jas hujan kalau tak berniat menembus hujan?

Pastilah, sebetulnya, mereka malas ke tempat tujuan. Bukan tempat tujuan itu yang mereka inginkan, melainkan tempat lain, yang hangat dan tanpa beban; tempat yang bukan rumah di mana keluarga menerapkan aturan-aturan, di mana orangtua tak ada bedanya dengan majikan, atau sebaliknya: anak-anak tak ada bedanya dengan karyawan yang malas dan bengal. Sayangnya, tempat yang hangat dan tanpa beban itu bukan tujuan mereka, meski mereka sangat menginginkannya.

Beban dan tekanan memang ada di mana-mana, dan hujan, yang tertabur dengan serta merta ketika seseorang sedang berada di jalan menuju tempat yang tidak mereka inginkan, membuat beban dan tekanan itu kian berat dan menjengkelkan. Perjalanan menuju tempat yang tak diinginkan, tapi harus tetap dijalani, terhalang tanpa ada kepastian kapan halangan tersebut bakal hilang.

Malam itu hujan tertabur kembali. Aku mengutuk diri sambil berupaya mencari tempat menepi. Aku sedang berada di Jalan Pemuda, tak ada tempat menepi di jalan itu. Terpaksa aku berbelok ke sebuah areal kafe yang kelihatan sepi. Sebagian besar areal kafe itu terbuka; cuma ada kanopi berbentuk jaring yang tentu saja tak bisa menahan hujan. Hanya bagian belakang, tempat kasir dan meja racik, yang berbentuk bangunan, itu pun sempit saja. Tempias memuncrat ke seluruh bagian bangunan itu.

Aku berniat masuk ke bangunan itu tapi urung sebab aku melihat di sebelah kiri ada toko yang sudah tutup. Beranda toko itu bisa dipakai untuk berteduh sehingga aku tak perlu memesan minuman hanya untuk menunggu hujan reda. Pintu dan bagian depan toko itu terbuat dari kaca. Rupanya itu toko yang menjual buku-buku kedokteran. Dekat dari Jalan Pemuda memang ada sekolah tinggi keperawatan. Pemilik toko pasti berharap para mahasiswa di sekolah tinggi itu akan menjadi pelanggannya.

Aku mendekatkan muka ke pintu kaca. Bagian dalam toko remang-remang, sedang bagian dekat pintu cukup terang. Ada poster Tan Malaka ditempel di dinding sebelah kiri, entah apa hubungannya dengan kedokteran, juga selembar baju putih, yang bisa langsung ditandai sebagai seragam perawat atau dokter, digantung di dinding sebelah kanan.

Sebagaimana di bangunan kafe, tempias sampai juga ke teras toko buku itu. Aku nyaris menempelkan tubuh ke pintu kaca sambil memunggungi hujan dan malam; menghadapkan pandangan ke dalam toko. Pada saat itu, sekonyong-konyong, di bagian belakang toko ada yang bergerak-gerak. Seseorang muncul dari balik kegelapan, menunjukkan sosoknya. Ia menatapku, pandangan kami bertemu. Aku bisa menandainya: seorang perempuan mengenakan seragam perawat. Sosoknya semakin jelas setelah ia melangkah keluar dari areal gelap, mendekat ke arahku. Ia mengucapkan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengar. Bukan cuma karena deras hujan, melainkan juga karena ia berada dalam ruangan; suaranya tak bisa menembus dinding kaca. Aku memberi tanda bahwa aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Ia mendekat, menoleh dengan hati-hati seakan takut ada yang mengetahui. Sampai di dekat pintu kaca ia kembali mengucapkan sesuatu, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Namun, aku tetap tak bisa menangkap kata-katanya. Aku menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah ada orang yang melihat. Tak ada. Aku merasa perempuan itu dalam masalah dan ia hendak meminta pertolongan. Timbul niatku untuk berlari ke bangunan kafe tempat kasir berada, tapi aku melihat isyarat tangan perempuan itu yang melarangku sebelum ia kembali ke bagian gelap dalam ruangan toko. Aku mengabaikan isyarat perempuan itu, dan berlari menembus hujan ke arah bangunan kafe. Aku yakin perempuan itu butuh pertolongan.

Di dalam ruangan kafe cuma ada seorang kasir; seorang perempuan muda berambut pendek. Kasir berseru memanggil seseorang, lalu seorang perempuan lain keluar. Rambutnya juga pendek dan pirang sama seperti kasir itu. Perempuan yang baru keluar menunjuk daftar menu, tapi aku bertanya: “Kalian kembar ya?” Kedua perempuan itu mengangguk bersama-sama.

“Ada seseorang di dalam toko itu. Sepertinya ia dalam masalah. Sebaiknya kalian menengoknya,” ucapku. Dua perempuan saling pandang. Lalu perempuan yang baru keluar berkata: “Oh, itu. Saya akan menengoknya nanti. Sekarang silakan Anda memesan dulu. Tugas saya adalah melayani Anda, dan tugas dia adalah menerima bayaran dari Anda.”

“Sebetulnya saya ke sini cuma mau memberitahu soal orang itu. Saya tak berniat memesan apa-apa,” ucapku.

“Kalau begitu Anda bisa ke tempat lain,” jawab kasir.

“Tapi Anda berdua tahu bahwa ada seseorang di dalam toko buku itu, dan ia berada dalam masalah?”

“Tentu saja. Kami tahu,” ucap perempuan yang baru keluar.

“Dan kalian tak berbuat apa-apa?”

“Sudah saya katakan tadi, tugas saya adalah melayani dan tugas dia adalah menerima bayaran.”

Aku menggeleng-geleng.  

Angin menderu-deru. Sementara hujan kian deras. Kanopi jaring menimbulkan suara seperti ada gelombang besar yang datang menghantam. Kursi-kursi berjatuhan. Aku bergegas ke pintu kafe dan menengok ke arah toko buku. Baru kuperhatikan bahwa di bagian atas dinding kaca toko buku itu ada mural sosok perempuan terbelit barisan huruf yang membentuk satu kalimat: Mors Vincit Omnia.

Aku kembali berlari ke toko buku dan langsung menengok ke dalam, tapi sosok perempuan itu tak tampak. Aku mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi tak ada perubahan apa-apa. Aku termenung dan berpikir-pikir. Sial. Kenapa aku harus repot dengan urusan ini?

Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu kuputuskan kembali ke kafe. Begitu aku masuk ke kafe, kasir kembali berseru memanggil dan perempuan tadi kembali muncul. Aku melihat-lihat menu. Rupanya kafe itu disusun dengan konsep tertentu sehingga nama-nama di daftar menu merujuk ke nama-nama orang terkenal. Tanpa pertimbangan berarti aku memesan Shakespeare Roses Coffee.

Di ruangan ada beberapa meja. Aku memilih meja dengan dua kursi yang terletak di pojok. Aku sandarkan punggung di dinding sambil memperhatikan suara hujan yang tampaknya kian lebat. Sekonyong-konyong seorang perempuan masuk. Air menetes-netes dari jas hujannya. Ia langsung menuju kasir. “Gila hujannya. Banyak pohon tumbang. Di jalan protokol ada mobil yang tertindih. Pengemudinya perempuan. Waktu saya lewat tadi, ia masih terjepit.”

Kasir dan pelayan menunjukkan muka prihatin. Tampaknya mereka sudah saling mengenal. Perempuan itu melihat-lihat menu sambil membuka jas hujannya. Aku dapat menandai bahwa perempuan itu mengenakan seragam perawat. Aku juga dapat mendengar bahwa ia memesan minuman yang sama denganku.

Setelah memesan minuman, perempuan itu celingak-celinguk mencari tempat duduk. Ia melihatku dan berjalan mendekat.

“Maaf, bolehkah saya duduk di tempat Anda? Saya baru saja melihat peristiwa mengerikan. Saya masih terkejut. Saya butuh bersandar. Setiap kali datang kemari saya duduk di tempat Anda sekarang, itu bisa membuat saya merasa hangat dan tanpa beban.”

Aku bangkit. Perempuan itu segera duduk di kursi yang tadi kutempati, sementara aku duduk di kursi satunya. “Saya boleh duduk di sini?” tanyaku. Pertanyaan retoris, sebab aku sudah duduk. Perempuan itu mengangguk. Kami duduk berhadap-hadapan, tapi selama beberapa saat kami tak berucap apa-apa. Aku memikirkan perempuan di dalam toko buku. Sedang perempuan itu mungkin memikirkan peristiwa yang baru saja dilaluinya: pohon tumbang menimpa sebuah mobil dan seorang perempuan terjepit di dalamnya.

Sebentar kemudian pelayan mengantar pesanan kami. “Kita memesan kopi yang sama,” ucap perempuan itu. “Iya,” jawabku.

“Siapa namamu?”

“Romeo,” jawabku.

“Seperti nama laki-laki, ya?” tanyanya. Kuperhatikan papan nama kecil di dadanya: Julia.

“Kalau begitu mari kita bersulang,” katanya lagi. Kami mengangkat dan mendekatkan cangkir ke satu sama lain.     

“Mors Vincit Omnia,” bisiknya, sebelum kami menyesap minuman masing-masing. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

11 Miliar Mengalir dari Badung untuk Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co