7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi

Jaswanto by Jaswanto
July 3, 2023
in Tualang
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi

Jaswanto saat menyusuri Pantai Pulau Merah Banyuwangi | Foto: Dok. Jaswanto 2019

TIBA-TIBA saya merasa “dipaksa” untuk tahu daerah Banyuwangi bagian selatan. Wilayah di tepi Banyuwangi ini tak akan pernah saya tahu jika saja Dziky tak mengajak saya untuk menjelajah ke sana pertengahan tahun 2019 lalu. (Dziky mengetahui wilayah Banyuwangi bagian selatan yang eksotis itu setelah setahun sebelumnya mengunjunginya bersama seseorang—yang namanya tak perlu saya sebutkan. “Ini persoalan hati, Kak,” kata Dziky.)

(Sekadar informasi: waktu itu, saya dan Dziky sama-sama sedang menikmati peran sebagai mahasiswa akhir yang (bingung) sedang mengalami masalah dengan rasa malas untuk menyelesaikan tugas akhir—skripsi.)

Tujuan utama kami ke Pulau Merah. “Pantainya bagus—dan tenang,” kata Dziky, merujuk pada foto-foto di Instagram yang dilihatnya. Begitulah, maka, demikian adanya…, meminjam kalimat Mumu Aloha, demi untuk memenuhi hasrat akan eksistensi layaknya orang-orang yang hidupnya kelihatan begitu bahagia dari pose-pose dan gaya-gayanya di media sosial itu, berangkatlah kami ke Pulau Merah—walau sebenarnya, jauh di lubuk hati kami yang paling dalam, tujuan kami ke sana lebih daripada soal memenuhi hasrat eksistensi. Catat itu!

Dan ya, konon Pulau Merah memang tempat paling eksotis di Banyuwangi bagian selatan: pantai dengan pasir putih—yang agak kecoklatan—terhampar luas sepanjang 3 kilometer; debur ombak khas pantai selatan (Pulau Merah memiliki ombak—yang sangat bagus—setinggi 2 meter); bukit kecil cantik setinggi 200 meter; dan di bagian timur, pegunungan berbaris eksotis, sedangkan di bagian barat, katanya senja selalu tampak bagus.

Tak perlu pikir panjang, tak ada salahnya menerima ajakan itu, pikir saya. Segera saya kumpulkan informasi seputar Pulau Merah termasuk rute mencapainya, juga bertanya kanan-kiri, siapa anggota Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Banyuwangi yang tinggal atau sedang liburan di sekitarnya.

***

Kami berangkat dari Singaraja pukul setengah sebelas siang dengan motor Jupiter Z yang sudah lapuk—motor Jupiter generasi 3 keluaran tahun 2006—tapi masih bagus performa mesin dan handling yang mudah dikendarai.

Dengan mengendarai motor berkubikasi 110 CC itu, kami melaju dengan kecepatan yang, ah… tidak usah saya tuliskan. Meski begitu saya bangga dengan motor yang bentuknya sudah berantakan ini. Walapun secara fisik tampak tidak meyakinkan untuk menempuh perjalanan jauh, nyatanya performanya tetap bisa diandalkan, mesinnya masih halus, irit, dan masih memiliki power yang panjang di trek lurus (yang terakhir ini memang agak saya lebih-lebihkan, memang).

Setelah berjalan selama kurang lebih 1 jam 52 menit (kira-kira 88 km), dan melewati Taman Nasional Bali Barat, kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana. Tanpa berpikir lama, kami langsung membeli tiket kapal penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Saat di dalam kapal, saya kontak Andika, anggota Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Banyuwangi yang kebetulan putra asli kelahiran Banyuwangi. Setelah membaca lagi beberapa halaman novel “Bumi Manusia”-nya Pram, saya membaca pesan dari Andika. Menurut dia, kami disarankan untuk sekalian mendirikan tenda saja di Pulau Merah, mengingat, hari sudah sore. Saran yang bagus, pikir kami.

Berpose di dalam kapal dan pemandangan Pelabuhan Ketapang / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Akhirnya kapal bersandar di Pelabuhan Ketapang, setelah lebih dari satu jam dikoyak ombak Selat Bali yang waktu itu lumayan bikin hati deg-deg ser. Memang, tahun itu, BMKG Banyuwangi telah memberikan peringatan dini adanya cuaca buruk di Selat Bali. Gelombang tinggi berpotensi terjadi hingga waktu yang lama karena adanya peralihan musim dari penghujan ke kemarau. Tinggi gelombang di Selat Bali waktu itu bisa saja mengalami peningkatan utamanya—saat malam hari—hingga mencapai 2 meter. Mengerikan!

Setelah keluar dari kecemasan kapal, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Merah—surga di selatan Banyuwangi.

***

Untuk sampai di Pulau Merah, dari Kota Banyuwangi, menurut informasi dari Andika, kami harus menempuh jarak sekitar 66 km dengan perjalanan 2-3 jam—dan setidaknya melewati empat kecamatan: Rogojampi, Srono, Purworejo, dan Pesanggaran. Kami sempat mengkhawatirkan kondisi si Jupe—yang usianya tak lagi muda. Tetapi mendengar suara mesinnya, kami kembali optimis, bahwa motor busuk ini bisa diandalkan.

Dan benar, Jupe memperlihatkan kualitasnya. Dia berjalan santai di antara motor-motor keluaran terbaru—yang kebanyakan tak bergigi. Warna birunya yang sudah pudar, dek depan sebelah kirinya yang sudah terlepas, dan headlamp-nya—yang berbentuk menyerupai mata burung hantu itu—manggut-manggut, juga suara rem belakangnya yang berbunyi ketika diinjak, menandakan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ya Tuhan, sungguh, sekali lagi, kami bangga dengannya.

Atas performa Jupe yang melebihi bayangan kami, tak terasa kami sudah sampai di daerah Rogojampi—kecamatan asal legenda Watukebo itu.

Saya menyarakan Dziky untuk berhenti sejenak sekaligus membeli barang-barang yang diperlukan selama kemah nanti. Kami berhenti di sebuah Indomaret, membeli beberapa bungkus mie instan dan air minum. Namun sayang, kami tidak mendapatkan gas portable.  Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti lagi di Pasar Tradisional Rogojampi.

Berbelanja di Pasar Tradisional Rogojampi / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Saya selalu menyukai pasar tradisional, ucap alm. Cak Rusdi. Sebuah tempat yang aromanya sangat khas: bau bawang, lada, kol, cabai, amis ikan, daging, dan sebagainya; yang bercampur dengan aroma peluh manusia dan wangi buah. Tempat di mana pedagang dan pembeli masih bisa melakukan tawar-menawar. Berdialog dan bertatap muka secara jujur. Saya menyukai tempat dan suasana semacam itu. Sungguh-sungguh menikmatinya.

Kami membeli tambahan bahan-bahan untuk memasak; membeli seikat sawi, kol, dan seons cabai. Tak lupa juga membeli gas portable—yang belum terbeli sebelumnya.

Agaknya, kami berdua menjadi pusat perhatian di pasar itu. Mungkin penampilan kami yang sudah mirip traveller betulan. Saya memakai flanel biru kotak-kotak—yang kancingnya sudah lepas satu di bagian atas—dengan kaos dalam berwarna kelabu, celana pendek selutut, sendal gunung, ikat kepala, dan tas gunung ukuran 45 liter yang menempel di punggung saya. Tas ini berisi pakaian ganti, buku, peralatan masak, dan bahan-bahan makanan.

Penampilan Dziky lebih kacau daripada saya. Ia memakai surjan lurik Sunan Kalijaga, dengan celana bahan berwarna hitam, dan di punggungnya tas gunung ukuruan 55 liter yang berisi tenda, sleeping bag, baju ganti, dan air. Alih-alih tampak seperti traveller, penampilannya justru malah lebih mirip abdi dalem keraton. “Kurang blangkon saja, Dzik,” kata saya. Ah, Dziky.

Bahan-bahan makanan sudah lengkap, kami melanjutkan perjalanan dan merencanakan berhenti di SPBU terdekat untuk mengisi bahan bakar dan juga menumpang mandi atau sekadar cuci muka.

***

Sekira pukul setengah enam sore, setelah melewati jalan seribu lubang di sepanjang Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, kami tiba di Pulau Merah. Ya, tahun itu jalan utama menuju Pulau Merah memang rusak total, aspalnya mengelupas, nyaris hilang, dan warga menuding, jalan yang rusak parah itu akibat sering dilewati kendaraan berat milik PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan yang kini melakukan penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung.

Kami hendak membayar tiket. Duapuluh dua ribu, kata penjaga loket. Tetapi setelah saya mengeluarkan uang, katanya tidak usah membayar. Saya dan Dziky saling tatap, heran. Tetapi diam-diam merasa senang. Itu artinya kami bisa menghemat biaya. Setelah beberapa saat kemudian, kami baru tahu alasan kenapa kami tidak usah membayar tiket. Ternyata kami datang pada jam free—alias gratis masuk tanpa tiket.

Kami memarkir Jupe kemudian berjalan… dan benar, saya kagum setelah melihat keindahan Pulau Merah.

Pasir putih yang terhampar sepanjang tiga kilometer; bukit kecil di tepi pantai yang memiliki tanah berwarna merah dan ditutupi vegetasi hijau sehingga tidak terlalu tampak warna aslinya (bukit ini hanya bisa diakses pada saat air sedang surut); ombak yang terbilang cukup tinggi; dan di sebelah timur, karang-karang besar mencuat, tajam, dan angkuh; atau itu, jajaran bukit dengan bayangan pohon-pohon menghitam bagaikan raksasa yang kedinginan di balik kabut, benar-benar nyata. Ah, mungkin ini secuil surga yang jatuh ke bumi.

Menyusuri Pantai Pulau Merah / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Pada saat kami datang, wisatawan—lokal maupun asing—sudah tidak terlalu banyak. Saya memperhatikan sepasang bocah berlarian di atas pasir, membiarkan kaki-kaki telanjang mereka yang mungil diguyur ombak, lalu mereka berusaha menghindar sambil tertawa-tawa, sebelum orangtua mereka memangil untuk pulang. Tentu saja, tetap ada turis asing yang datang, namun bukan untuk berjemur atau mandi, melainkan sekadar berjalan-jalan, atau lari sore, atau menikmati pemandangan sambil berfoto.

Dan perempuan itu—ya Tuhan, cantik sekali—ia seperti punya dunia sendiri, tak terganggu atau sedikit pun mempedulikan keramaian di sekitarnya. Wajahnya setenang angin senja, tampak kelabu oleh pantulan cahaya matahari. Sementara, udara, tanah, dan segala yang ada di sekitarnya meredup dalam sapuan jingga yang berkilau. Di kejauhan, orang-orang yang masih bermain bola atau hanya berdiri saja di garis pantai, perlahan berubah menjadi siluet. Kesan kedamaian kian terasa.

Pulau Merah tampak sepi / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Kami berjalan ke barat, menyusuri pantai, mencari tempat yang tepat untuk mendirikan tenda.

Sepanjang perjalanan menyusuri pantai Pulau Merah, saya agak terganggu dengan sampah-sampah plastik yang berserakan—dan banyak. Seketika itu, saya teringat sebuah film dokumenter yang pernah saya tonton. Albatross (2017), film dokumenter karya fotografer Amerika Serikat, Chris Jordan, yang menceritakan albatros atau elang laut yang sekarat di Pulau Midway di Samudera Pasifik akibat polusi (sampah) plastik.

Jordan pertama kali datang ke Midway pada 2009 untuk memotret elang laut di kepulauan itu. Ia terganggu oleh data yang menyebut ada 10.000 elang laut yang mati di pulau kecil itu akibat makan plastik. Jordan kembali ke sana pada 2017 lalu dan mendokumentasikannya dengan video. Tampaknya, film ini menjadi titik balik bagi saya untuk lebih mencintai alam.

Di Indonesia sendiri, sampah plastik memang menjadi momok pencemaran lingkungan. Indonesia menjadi negara yang memproduksi sampah plastik nomor dua terbesar di dunia setelah Tiongkok, dengan angka 64 juta ton per tahun. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, sebanyak 37 persen sampah plastik ditemukan di pantai dan laut.

Sedangkan, mengutip data Badan Pusat Statistik, indeks ketidakpedulian orang Indonesia terhadap sampah sebesar 0,72. Artinya, tingkat kepedulian orang Indonesia terhadap sampah masih rendah.

Jika Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah per tahun, dan penduduk Indonesia 261 juta, maka tiap orang memproduksi 0,7 kilogram sampah per hari. Tentu saja, angka ini membuat orang Indonesia menjadi juara nomor dua sebagai penghuni bumi yang memproduksi sampah terbanyak setelah orang Tiongkok.

Celakanya, tiap orang cernderung tak peduli dengan sampah yang mereka hasilkan. Alih-alih mengolah atau mendaur ulang, tiap rumah tangga menimbunnya, membuangnya secara sembarangan atau membakar sampah yang membahayakan udara dan sistem pernapasan manusia. Menurut survei BPS, hanya 18,6 persen rumah tangga yang peduli dengan sampah plastik yang mereka hasilkan—dengan cara daur ulang atau tak membuangnya karena dimanfaatkan untuk keperluan lain. Padahal, rumah tangga menyumbang sampah plastik cukup besar ke dalam jumlah sampah Indonesia secara keseluruhan.

Dan di pulau yang indah ini pun tak luput dari serangan sampah plastik. Jika ini tidak cepat ditanggulangi, surga yang pada tahun 2013 dipakai untuk lomba selancar Banyuwangi International Surf Competition 2013 yang diikuti oleh 15 negara ini, keindahannya hanya akan tinggal cerita saja. Semoga sampah-sampah itu sekarang sudah ditangani.

Saya berhenti melamun ketika Dziky memanggil dan menunjuk sebuah tempat yang cocok untuk mendirikan tenda.

***

Embusan angin senja menerpa wajah kusam kami. Hari merayap dan senja mendaulat. Burung-burung melayang dari laut kembali ke daratan. Wisatawan semakin sepi. Payung-payung untuk berjemur para turis telah dibongkar. Satu-persatu warung-warung tutup. Kami mendirikan tenda.

Tenda berdiri. Untuk beberapa saat kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Di barat, senja sedang bagus-bagusnya—apa jangan-jangan Sukab mencuri senja untuk Alina di sini? Cahaya jingga menyepuh bukit-bukit di bawahnya. Romantis dan cantik. Sedangkan bayang-bayang benda terpaku di pasir, dan jiwa kami tenggelam di dasar antah-brantah.

Memasak di Pulau Merah / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Gelap mulai datang, mendaulat langit Pulau Merah. Debur ombak kian bergemuruh. Malam tampaknya sudah benar-benar datang, ia merangkul bukit-bukit hijau dan membuatnya hitam misterius sekarang. Kerlap-kerlip lampu perahu nelayan di tengah laut hanya terlihat seperti cahaya kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Dziky mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun. Sedangkan saya mulai memasak mie instan.

Di Pulau Merah, sebenarnya saya bisa berjalan jauh sampai ke ujung, sampai bukit penghabisan. Atau, menari dan bernyanyi seperti orang gila. Tapi saya lebih memilih duduk-duduk saja di pasir sampai hari gelap, mendengar debur ombak, menatap tanpa bosan gulungan-gulungan yang menjauh dan mendekat, sambil merasakan degup jantung sendiri. Saya bisa saja di sini sampai mati, melupakan kata pulang, membuang rumah dari ingatan.

Duduk di atas karang dan termenung / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Ya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau di pantai. “Tempat paling gemuruh sekaligus paling sunyi di muka bumi,” kata Mumu.

Dan kami makan malam dengan perasaan yang belum ternamakan sebelumnya. No cellular signal. No wireless fidelity. Tenang. Benar-benar surga di selatan Banyuwangi.

Dengan perut kenyang saya memutar lagunya Eddie Vedder yang berjudul Society—ost film Into the Wild.

Oh, it’s a mystery to me

We have a greed with which we have agreed

And you think you have to want more than you need

Until you have it all you won’t be free

Ah, saya tidak bisa mengatakan perasaan yang saya rasakan kala itu; saya diam mematung, terpejam. Eddie Vedder masih terus memperdengarkan suara khasnya—berat dan menggeram—dan menghujam dalam ke hati saya.

Api unggun di Pulau Merah / Foto: Dok. Jaswanto 2019

Society, you’re a crazy breed

Hope you’re not lonely without me

Society, crazy indeed

Hope you’re not lonely without me

Society, have mercy on me

Hope you’re not angry if I disagree

Api unggun dinyalakan, bintang bertebaran, ombak terdengar semakin bergemuruh, kami terlelap, dengan jiwa yang damai.[T]

Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Desa Wisata Taman Sari di Banyuwangi, Hebat Bersama, Bumdes Kelola Homestay Milik Warga
Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen
Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau
Tags: banyuwangijawaJawa Timurperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Generasi Janger Anak-anak dari Banjar Mukti Singapadu 

Next Post

Kredibilitas Komunikator dalam Interaksi Budaya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Kredibilitas Komunikator dalam Interaksi Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co