2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kredibilitas Komunikator dalam Interaksi Budaya

Chusmeru by Chusmeru
July 3, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

MENGAPA orang gagal berkomunikasi ketika berada di lingkungan budaya yang berbeda?. Dan mengapa ada orang yang begitu disegani dan dihormati dalam lingkungan budayanya? Penyebabnya bukan pada gegar budaya yang dialami seseorang saat berada di tempat yang baru. Namun lebih pada ketidakmampuan orang menjadi komunikator dalam interaksi budaya.

Beberapa kasus menunjukkan kredibilitas yang rendah sebagai komunikator dalam interaksi budaya. Seorang mahasiswa berinisial FS yang berasal dari luar Jawa tersandung kasus di Yogyakarta pada tahun 2014. Hanya lantaran kesal tidak diperbolehkan menyerobot antrean di salah satu SPBU di Yogyakarya, FS mengunggah kekesalannya di media sosial.

Unggahannya berisi cacian dan sumpah-serapah terhadap masyarakat Yogyakarta. Tidak terima terhadap unggahan itu, masyarakat Yogyakarta melaporkan FS ke polisi. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pun merasa tersinggung dengan unggahan tersebut. Buntutnya, FS harus duduk sebagai terdakwa di kursi pengadilan.

Kasus berikut menimpa artis dangdut Cita Citata pada tahun 2015. Menggunakan baju adat Papua dalam suatu acara, Cita Citata melontarkan perkataan yang dianggap menghina masayarakat Papua. Cita Citata pun dilaporkan ke Komnas HAM oleh perwakilan masayarakat adat Papua.

Somasi juga dilayangkan oleh Forum Papua Bersatu kepada Cita Citata. Sanksi adat dijatuhkan kepada pedangdut itu, yaitu harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Papua serta menyerahkan 500 ekor babi sebagai bentuk perdamaian.

Artis cantik Syahrini juga tersandung kasus yang berkaitan dengan norma dan etika saat berkunjung ke Holocaust Memorial Berlin, Jerman pada tahun 2018. Syahrini berpose dan berfoto di atas memorial tersebut. Dia pun mengunggah foto dan videonya di fitur Story Instagram.

Tindakan Syahrini dikecam netizen, karena dianggap telah melanggar etika berkunjung ke Holocaust. Norma masyarakat Jerman melarang orang untuk duduk, memanjat, maupun berfoto di Holocaust Memorial sebagai lambang korban pembantaian Nazi pimpinan Adolf Hitler.

Contoh kasus tersebut menggambarkan ketidakpahaman orang terhadap lingkungan budaya orang lain. Dalam contoh kasus itu, semua dipandang tidak kredibel berkomunikasi. Bahwa ada wilayah adat, tradisi, norma, nilai, kepercayaan, dan budaya yang perlu dipahami dan dihormati. Itulah yang seharusnya dimiliki orang agar menjadi komunikator yang kredibel.

Kredibilitas Sumber

Proses komunikasi mengisyaratkan, setiap orang dapat menjadi khalayak sekaligus komunikator. Kajian terhadap komunikator akan diperoleh gambaran tentang kredibilitas sesorang sebagai sumber informasi. Terdapat perbedaan terkait kredibilitas sumber antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.

Komunikator dalam masyarakat tradisional dapat diperoleh melalui empat cara.

Pertama, orang dianggap kredibel karena informasi yang ia peroleh bersumber dari petunjuk, wangsit, wewarah, atau pawisik. Kemampuannya menjadi komunikator di masyarakatnya diperoleh secara transendental. Oleh sebab itu komunikator pada masyarakat tradisional sangat disegani dan dihormati, karena kerap membawa pesan yang bersifat gaib.

Kedua, kredibilitas diperoleh melalui laku tirakat. Seseorang dianggap sebagai komunikator dan dipercaya oleh masyarakat, karena pengetahuan yang dimiliki diperoleh melalui usaha olah batin. Biasanya komunikator tersebut menjalankan ritual puasa atau semedi untuk mendapatkan petunjuk yang dapat diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. Secara moral kredibilitas semacam ini mendapat dukungan dari masyarakat. Artinya, orang yang sudah melakoni berbagai ikhtiar itu tentunya tidak akan berdusta atau mencederai masyarakat.

Ketiga, komunikator yang kredibel di masyarakat tradisional didapat dari proses belajar atau berguru pada orang yang disegani atau kasepuhan (orang yang dituakan) di masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya merupakan hasil proses panjang dalam menimba ilmu, baik ilmu kanuragan maupun kebatinan.

 Keempat, momentum historis juga dapat menjadikan seseorang memiliki kredibilitas sumber sebagai komunikator yang dihormati. Keberhasilan seseorang di masa lalu dalam mengatasi masalah akan diingat masyarakat sebagai modal sosial. Kampung yang dulu kumuh dan sering terjadi tindak kriminal berhasil diubah oleh seseorang menjadi pemukiman yang asri, aman, dan nyaman.

Interaksi sosial budaya yang dilakukannya semata sebagai upaya untuk memecahkan masalah di masyarakat, tanpa orientasi pada kepentingan ekonomi maupun kekuasaan. Oleh sebab itulah, setiap informasi yang disampaikan orang itu akan dipercaya masyarakat.  

Sedangkan pada masyarakat modern seperti saat ini, kredibilitas sumber sering merujuk pada tingkat pendidikan, jabatan, maupun penguasaan informasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan dianggap semakin benar informasi yang disampaikan.

Jabatan yang dimiliki seseorang juga dipandang sebagai modal tingkat kepercayaan sumber sebagai komunikator. Begitu pula dengan akses media yang membuat seseorang dipandang memahami berbagai persoalan.

Kredibilitas dalam masyarakat modern sangat rentan terhadap persoalan moralitas, karena informasi bernilai pragmatis serta sarat dengan kepentingan ekonomi dan politik. Tidak heran jika ada orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan keren, serta sangat melek media melakukan manipulasi informasi untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun politik.

Kejujuran

Menjadi komunikator dalam interaksi antarbudaya membutuhkan landasan moralitas, yaitu kejujuran dalam menarasikan budaya sendiri maupun budaya orang lain. Kadangkala orang menambahkan narasi budaya sendiri agar dianggap baik oleh orang lain. Atau juga menutupi narasi budaya agar tidak dinilai buruk pihak lain.

Padahal tidak ada hal yang benar atau salah, baik atau buruk dalam memberikan penilaian budaya. Setiap masyarakat memiliki persepsi sendiri tentang budayanya, dan pihak lain tidak dapat memberikan penilaian baik-buruk dan benar-salah atas budaya orang lain. Justru acapkali orang melakukan tindakan yang keliru atas dasar pemahaman yang kurang terhadap budaya orang lain; seperti contoh kasus FS, Syahrini, dan Cita Citata.

Kejujuran adalah kunci penting dalam interaksi budaya. Masyarakat Indonesia zaman dahulu mengenal istilah opo anane, apa adanya. Katakan apa adanya tentang nilai, norma, tradisi, kepercayaan, budaya kepada orang lain.

Jika orang lain memahami dan sepakat, maka interaksi budaya berlanjut. Namun jika orang lain tidak sepakat dan tidak paham, maka diharapkan ada tenggang rasa, tidak mencela, dan tidak memberi penilaian buruk tentang budaya seseorang.

Sayang sekali, di era yang serba digital ini kredibilitas komunikator dalam interaksi budaya sulit ditemui. Media sosial sering dijadikan sumber informasi budaya dan sarana untuk menarasikan budaya sendiri. Namun media sosial acap tidak lengkap dalam menyuguhkan informasi budaya.

Begitu pula narasi budaya yang dibangun lewat media sosial sering mengalami distorsi. Maka tidak heran, jika muncul kasus wisatawan yang berkunjung ke suatu negara melakukan tindakan tidak etis, seperti pelecehan terhadap simbol-simbol budaya masayarakat setempat.

Komunikasi dan interaksi antarbudaya memang membutuhkan keterbukaan antarpihak. Namun keterbukaan juga acapkali menimbulkan kerentanan dalam memahami budaya pihak lain. Seperti kata Paul Kendall, komunikasi yang baik dan sehat tidak mungkin tanpa keterbukaan, kejujuran, dan kerentanan. [T]

  • BACA opini dan esai lain tentang komunikasi dari penulis CHUSMERU
Mendem: Totalitas Komunikasi Transendental dalam Berkesenian
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]
Strategi Kampanye Pemilu: Antara Komunikasi Persuasif dan Pencitraan
Sentuhan Komunikasi dalam Pariwisata
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi

Next Post

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co