3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendem: Totalitas Komunikasi Transendental dalam Berkesenian

Chusmeru by Chusmeru
June 20, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

INDONESIA MEMILIKI RAGAM kesenian rakyat yang begitu banyak di setiap daerah. Berbagai kesenian itu pada umumnya bersifat menghibur. Meskipun ada beberapa kesenian rakyat yang dipandang sakral.

Kesenian yang menghibur dapat juga menjadi sakral ketika unsur magis menyertai penampilan kesenian itu. Mendem atau kesurupan dalam kesenian dianggap sebagai bagian dari hiburan sekaligus magis. Kesurupan atau kerasukan di Bali disebut kerauhan, yaitu proses transendental ketika roh atau makhluk gaib merasuk dalam diri pemain kesenian.

Ragam kesenian yang disertai mendem di Indonesia cukup banyak. Di Jawa Timur ada Jathilan atau Jaranan. Jawa Tengah memiliki Ebeg dan Sintren. Jawa Barat kesenian Kuda Lumping juga ditandai dengan kesurupan. Sedangkan di Bali, kesenian tari Barong dan Kecak kadang diwarnai dengan kerauhan pemainnya.

Mendem adalah fenomena yang terjadi pada beberapa kesenian rakyat. Tidak semua kesenian rakyat diwarnai dengan kesurupan. Unsur hiburan tetap menjadi tujuan kesenian rakyat. Mendem biasanya dianggap sebagai totalitas komunikasi transendental para pemain dalam berkesenian.

Terhimpit Tiga Budaya

Sesungguhnya kesenian rakyat adalah simbol egalitarian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kesenian rakyat selalu digelar dalam ruang terbuka secara melingkar. Khalayak dalam kesenian bersifat homogen, saling mengenal; kecuali bagi penonton yang berasal dari luar. Karena kesenian rakyat bersifat egaliter, maka tidak ada penonton dengan kategori VIP.

Kesenian rakyat juga merupakan simbol komunikasi sosial. Bahkan di masa lalu kesenian rakyat sering digunakan sebagai simbol perlawanan dan heroisme rakyat. Banyak gerakan kesenian yang menghentakkan kaki ke bumi sebagai eskpresi perlawanan. Selain itu, kesenian rakyat sering dijadikan kamuflase penggalangan rakyat untuk melawan penjajah.

Sayangnya, kesenian rakyat kini kurang digemari lagi di masyarakat. Utamanya kesenian rakyat yang dahulu banyak terdapat di Jawa. Kesenian rakyat terhimpit di antara tiga budaya, yaitu budaya Barat, budaya K-pop, dan budaya Timur Tengah.

Budaya Barat banyak menawarkan modernitas kepada masyarakat. Serba baru, serba teknologi, dan serba bernilai ekonomis serta praktis adalah beberapa ciri budaya Barat. Sedangkan kesenian rakyat dipandang sebagai bagian dari budaya yang ahistoris. Kesenian rakyat dianggap terlalu njelimet, tak pernah berubah, dan kuno.

Budaya K-pop yang merupakan turunan dari Korean Wave telah menghasilkan histeria baru pada individu maupun kelompok musik dari Korea Selatan. Generasi milenial dan generasi Z banyak yang tergila-gila dengan artis K-pop. Bahkan kadang bertindak irasional dalam menggandrungi penyanyi maupun grup band Korea.

Sedangkan budaya Timur Tengah menjajakan simbol-simbol religiusitas. Pengaruhnya cukup signifikan bagi perkembangan kesenian rakyat. Budaya lokal dan kesenian daerah dianggap bertentangan dengan agama tertentu. Bahkan pernah terjadi tindak kekerasan dan persekusi terhadap kelompok dan simbol-simbol tradisi, ritual, adat, dan kesenian rakyat yang dilakukan oleh kelompok tertentu atas nama simbol religiusitas.

Fenomena Mendem

Mendem dalam kesenian rakyat biasanya merupakan salah satu bagian dari sekuen pertunjukan. Memahami mendem atau kerasukan tidak cukup hanya dari peristiwa hilangnya kesadaran diri pemain kesenian pada satu saat.

Kajian fenomenologi dapat digunakan untuk mengetahui lebih jauh tentang mendem, baik dari proses menjadi (becoming), motif penyebab (because motives), maupun motif masa depan (in order motives). Seseorang dapat menjadi mendem saat pertunjukan kesenian melalui proses yang panjang.

Penelitian terhadap pelaku kesenian rakyat di Jawa Tengah menunjukkan, bahwa agar dapat mendem seseorang harus memiliki Indang, sejenis roh halus atau makhluk gaib yang setiap pentas dapat dipanggil untuk merasuk dalam tubuhnya (Chusmeru, 2011).

Proses untuk mendapatkan Indang juga tidak begitu mudah. Seseorang harus melakukan tirakat atau ritual tertentu. Langkah awal biasanya dengan menjalankan puasa selama tiga hari untuk membersihkan diri. Dilanjutkan dengan berendam di malam hari pada sendang atau sungai yang dianggap keramat, seperti tempuran; yaitu pertemuan dua sungai menjadi sungai utama.

Setelah itu dilanjutkan dengan mendatangi tempat-tempat angker, seperti makam seorang tokoh atau pohon besar yang dikeramatkan masyarakat. Tempat-tempat seperti ini dipercaya dihuni oleh para leluhur yang memiliki kesaktian di masa lalu. Di tempat inilah seseorang meminta untuk diberikan Indang.  

Banyak alasan kenapa seseorang menjadi pemain kesenian dan bersedia untuk mendem. Salah satu penyebabnya (because motives) adalah totalitas berkesenian. Menghibur masyarakat dengan berkesian perlu totalitas. Dan hal itu bisa diperoleh melalui komunikasi secara transendental dengan leluhur saat Indang merasuk dalam tubuhnya. Tanpa mendem, seorang pemain kesenian rakyat seperti Ebeg maupun Sintrendianggap tidak total. Masyarakat juga kurang terhibur jika ada pemain kesenian yang tidak mendem.

Sedangkan yang menjadi alasan ke depan (in order motives) para pelaku kesenian rakyat yang rela kesurupan adalah untuk melestarikan ragam kesenian yang ada di daerahnya. Selain itu juga sebagai upaya untuk menghormati para leluhur. Kesenian rakyat banyak yang mulai dijauhi oleh generasi muda. Oleh karena itulah para pemain berharap kesenian tetap lestari.

Apa yang dilakukan para pemain kesenian di daerah sesungguhnya patut diapresiasi. Mengingat budaya nasional adalah adalah puncak dari budaya-budaya daerah. Jika mendem dalam kesenian rakyat dicibir sebagai sesuatu yang irasional; lantas apa bedanya dengan histeria massa pendukung penyanyi dan grup band K-pop? [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

[][][]

Esai-esai lain tentang Ilmu Komunikasi

Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]
Strategi Kampanye Pemilu: Antara Komunikasi Persuasif dan Pencitraan
Sentuhan Komunikasi dalam Pariwisata
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasiSeniUniversitas Jenderal Soedirman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berwisata Sambil Belajar dari Kehidupan Desa Senaru : Ada Rumah Tua dan Guide Perempuan

Next Post

Pesan-pesan Megawati Kepada Wayan Koster

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pesan-pesan Megawati Kepada Wayan Koster

Pesan-pesan Megawati Kepada Wayan Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co