3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 10, 2023
in Esai
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

Foto penulis di depan kampus Leeds Trinity University, Inggris (Dokumentasi Pribadi)

SETELAH TIGA malam beradaptasi di Leeds (dan ternyata masih jet lag karena jam 3 atau 4 dini hari sudah bangun), maka mau tidak mau saya harus menunaikan kewajiban untuk mengikuti Leadership Training di London.

Di Leeds dan juga kota-kota lain UK, semuanya serba cashless, begitu pula untuk pembelian tiket kereta maupun bis. Maka saya harus rela handphone dibombardir dengan beberapa aplikasi terkait pembelian tiket, cek rute, dan sebagainya.

Untungnya, Pak Profesor bersedia mengajari tentang aplikasi tersebut sekaligus membelikan tiketnya. Ini poin yang paling penting! Sebenarnya tidak sulit menggunakan aplikasi tesebut, tetapi karena waktu itu buru-buru akan ke kampus, jadi tampak rumit bagi saya. Pada malam harinya saya mencoba lagi dan ternyata sangat mudah dan membantu.

Foto Penulis di antara peserta Leadership Training in Research (Dokumentasi Pribadi)

Berbekal tiket yang sudah ada di handphone, tibalah saatnya saya harus berpetualang sendiri ke salah satu kota terbesar di dunia. Pak Profesor memotivasi saya dengan beberapa kali mengatakan, “You will be fine, Shinta”. Ok, itu menambah semangat dan kepercayaan diri untuk mencapai London.

Perjalanan pertama dimulai dengan menuju halte bis jurusan ke stasiun. Beberapa kali saya baca di pengumuman yang ada di halte, tapi tidak menemukan tulisan Leeds Train Station. Karena takut ketinggalan jadwal kereta, maka saya tanya ke ibu-ibu setengah baya yang bediri di depan saya.

Si ibu menjawab bahwa memang tidak ada bis yang langsung ke stasiun. Saya harus turun di Beeston kemudian jalan sekitar 10 menit ke stasiun. Okelah kalau begitu, setidaknya saya ada di halte bis yang benar—karena memilih halte yang salah risikonya tidak bakal ketemu dengan bis yang ditunggu atau harus berjalan ke halte bis lain terlebih dahulu.

Begitu bis datang, naiklah saya ke bis tersebut dan scan kartu ajaib yang dibelikan Pak Profesor (tiket bis bulanan unlimited yang bisa saya gunakan berputar-putar di West Yorkshire berapa kalipun, yang penting dalam waktu satu bulan). Beruntung ibu yang saya tanyai tadi ternyata satu jalur dengan saya—dia ada appointment dengan dokter gigi di City Center.

Meski baru kenal pada saat itu, kami berbincang akrab tentang banyak hal, sehingga tidak terasa bis sudah sampai di City Center.

Sebelum turun dari bis, dia bilang ke sopir kalau nanti saya akan turun di Beeston. Di UK, meski cuma bis kota, tenyata ada pergantian sopir. Mungkin untuk menjaga keselamatan penumpang karena sopir kelelahan, dan sebagainya.

***

Setelah satu halte dari City Center, sampailah saya di Beeston. Saat saya baru akan berdiri dari tempat duduk, dari belakang, ada seorang ibu-ibu yang memberi tahu kalau saya harus turun. Untungnya lagi, ibu itu juga akan ke stasiun untuk menjenguk temannya di Sheffield. Betapa beruntung saya pada hari itu—setidaknya “sudah pasti” bisa sampai stasiun karena ada barengannya.

Sesampainya di stasiun, ibu tadi memberi tahu saya untuk melihat platform berapa kereta saya dan menyarankan kalau masih lama mending duduk-duduk dulu saja, alias jangan masuk ke peron. Kereta ke London berangkat jam 11.50 GMT, sehingga saya masih harus menunggu kurang lebih satu jam. Gak papalah, daripada terburu-buru, pikir saya.

Setelah kurang setengah jam dari jadwal keberangkatan, masuklah saya ke peron dan melihat jadwal keberangkatan. Saya cari-cari kereta saya di platform berapa, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Daripada pusing sendiri, saya tanyakan ke petugas—dan katanya kereta saya belum ada platformnya.

Kurang 10 menit dari waktu keberangkatan, saya lihat lagi info tentang platform kereta ke London—dan ternyata belum muncul juga. Akhirnya saya bertanya lagi pada petugas dan disampaikan bahwa kereta yang baru saja datang adalah kereta saya. Saya diminta menunggu lima menit karena kereta sedang dibersihkan.

Penulis (tengah) di pusat kota London (Dokumentasi Pribadi)

Setelah diperbolehkan masuk, dan saya menemukan kursi, datanglah seorang ibu setengah baya dan menunjukkan tiketnya kalau dia duduknya di sebelah saya.

Setelah ibu tersebut duduk, masuklah sepang suami istri dengan anjing peliharaannya yang berkulit hitam legam dan badannya yang lumayan besar. Ternyata mereka duduk persis di depan saya. Anjingnya mengendus-endus di dekat saya pula. Duhhhh…takut sekali saya.

Reflek, ibu di sebelah saya menggenggam tangan saya sambil bilang, “Jangan takut, sebentar lagi dia (si anjing) juga akan tidur”. Ternyata apa yang disampaikan ibu tadi benar. Anjing tersebut terus tidur hingga sampai di London. Baru kali ini saya punya pengalaman satu kereta dengan anjing. Pengalaman yang tidak akan mungkin saya temukan di Indonesia.

Seperti kedua ibu sebelumnya, ibu ketiga ini juga ramah dan baik sekali. Sambil mengeluarkan sulamannya yang berwarna merah, kami ngobrol ke sana kemari. Perjalanan dengan durasi sekitar dua jam 15 menit terasa tidak terlalu lama.

Beberapa kali si ibu mengeluarkan handphone-nya untuk mengecek—karena saya tanya tentang rute maupun durasi tempuh Tube dari London King’s Cross ke stasiun terdekat dengan hotel yang akan saya tempati.

Begitu sampai London, kami jalan bareng sebentar ke arah pintu ke luar, kemudian ibu tadi bilang kalau mau ke toilet terlebih dahulu. Di pintu keluar ternyata harus tap out tiket. Karena masih ndeso (kampungan) dengan prosedurnya, maka saya harus mencari terlebih dahulu tiketnya di handphone.

Celakanya, handphone saya matikan karena memang tidak terpikir kalau diperlukan pas keluar. Tidak disangka, ibu tadi tiba-tiba sudah ada di depan saya dan masih menunggu saya di peron tersebut.

Dia menunjukkan satu pintu yang sedang error sehingga saya tidak perlu tap tiket. Wah, baik hati sekali ibu ini. Kami berjalan bersama kembali ke stasiun bawah tanah. Karena rute berbeda, maka kami berpisah di pintu masuk stasiun sambil saling mendoakan satu sama lain.

***

Target pertama saya mencari Tube Picadilly Line (kereta bawah tanah), yang akan mengantarkan saya ke Leicester Square. Tidak disangka, meski bawah tanah, tapi luasnya minta ampun. Berkelok-kelok dan naik turun. Bagi saya, yang jarang berolahraga ini, memang menjadi tantangan tersendiri. Kebetulan, Picadilly Line pada waktu itu tidak terlalu penuh sehingga lumayan nyaman.

Setelah melewati beberapa stasiun, sampailah saya di Leicester Square. Di stasiun ini saya harus berjuang kembali menemukan Tube yang berbeda, yakni Northern Line yang akan mengantar saya ke Chering Cross.

Di terminal tersebut saya bertanya kepada sepasang suami istri dari India. Tetapi tampaknya mereka agak ragu dengan rute saya. Tiba-tiba ada ibu-ibu bule yang bantu cek dan memastikan kalau saya sudah di terminal yang benar. Legalah hati saya.

Penulis (paling kanan) dengan latar belakang Thames River, London (Dokumentasi Pribadi)

Ibu yang dari India tadi juga bilang kalau nanti akan memberi tahu saya kalau sudah sampai ke stasiun Chering Cross. Hanya beberapa menit saja, sampai di stasiun tersebut.

Begitu turun dari kereta ternyata ketemu dengan bapak-bapak dari Jawa Timur. Wah, senengnya setelah beberapa hari tidak berbahasa Indonesia. Setelah sejenak berbasa-basi, bapak itu memberi tahu saya arah pintu ke luar. Ternyata untuk kembali di atas daratan membutuhkan perjuangan pula. Belok sana-sini dan naik turun tangga.

Begitu keluar dari stasiun, saya bertanya pada petugas (mungkin semacam satpol PP kalau di Indonesia) arah ke hotel. Ya, saya akan menginap di Strand Palace Hotel—hotel bintang 4 di jantung kota London. Meski terlihat letak hotel tinggal “disitu”, tetapi ternyata saya harus bertanya kepada beberapa orang. Beberapa diantara mereka tidak tahu hotel tersebut.

Entah sudah orang ke berapa belas yang saya tanya sejak berangkat dari Leeds—saya bertanya pada tukang sampah (untuk yang satu ini saya yakin dia tahu karena daerah operasinya). Ternyata saya keliru, dia juga tidak tahu. Hebatnya, tukang sampah tadi telpon ke teman atau keluarganya dan menanyakan letak hotel tersebut.

Setelah mendapatkan informasi, dia memberi tahu saya bahwa Hotel Strand tinggal lurus saja ke depan. Tidak jauh, katanya.  Memang benar, ternyata hotel tesebut tidak jauh. Namun karena ramai sekali wisatawan—dan saya sudah cukup lelah dengan perjalanan jauh nan berliku—maka rasanya hotel tersebut menjadi terasa jauh.

Disambut dengan bendara Union Jack di sepanjang jalan strand, sampailah saya di hotel yang akan menjadi tempat tinggal dalam tiga malam ini. Saya melaporkan “keberhasilan” sampai ke hotel Strand dengan selamat kepada Pak Profesor, dan beliau sangat mengapresiasi karena memang tidak mudah perjalanan tersebut bagi pendatang.

***

Rentetan perjalanan sejak dari Leeds hingga hotel semakin memantapkan keyakinan saya bahwa persepsi yang selama ini kita bangun tentang orang Barat sangatlah keliru.

Jika mereka individualis dan mengabaikan orang lain, saya tidak akan pernah dapat sampai hotel di tengah kota London tersebut tepat waktu. Betapa semangatnya belasan orang yang saya tanyai selama dalam perjalanan—mereka sangat membantu saya dalam berbagai cara.

 Saya jadi merenung, akankah kita yang orang Timur, yang mengklaim diri suka menolong orang lain, akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang Barat pada saya? Ataukah kita harus “menukar perspektif yang selama ini kita anut” karena budaya tolong menolong sejatinya sudah mulai luntur di budaya kita?

Komunikasi dan budaya memang saling terkait. Komunikasi tidak akan efektif ketika perbedaan budaya menjadi penghambat dalam proses komunikasi. Sebaliknya, budaya dapat berubah ketika terjadi komunikasi dan interaksi dengan budaya lain. Dengan demikian, komunikasi adalah kunci dalam interaksi lintasbudaya.

Komunikasi lintas budaya dapat menjadi jembatan untuk mewarnai sebuah budaya, termasuk perspektif akan budaya tersebut.

Ketika tulisan ini sedang saya ketik, seorang teman dari Brazil mengajak saya dinner sekaligus sight seeing. Wah, pas sekali, karena siang tadi saya makan “tidak berasa makan”. Thank Fernanda.[T]

Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]
Tags: esaiInggriskomunikasikomunikasi informasiperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bernyali dan Percaya Diri

Next Post

Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co