14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 10, 2023
in Esai
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]

Foto penulis di depan kampus Leeds Trinity University, Inggris (Dokumentasi Pribadi)

SETELAH TIGA malam beradaptasi di Leeds (dan ternyata masih jet lag karena jam 3 atau 4 dini hari sudah bangun), maka mau tidak mau saya harus menunaikan kewajiban untuk mengikuti Leadership Training di London.

Di Leeds dan juga kota-kota lain UK, semuanya serba cashless, begitu pula untuk pembelian tiket kereta maupun bis. Maka saya harus rela handphone dibombardir dengan beberapa aplikasi terkait pembelian tiket, cek rute, dan sebagainya.

Untungnya, Pak Profesor bersedia mengajari tentang aplikasi tersebut sekaligus membelikan tiketnya. Ini poin yang paling penting! Sebenarnya tidak sulit menggunakan aplikasi tesebut, tetapi karena waktu itu buru-buru akan ke kampus, jadi tampak rumit bagi saya. Pada malam harinya saya mencoba lagi dan ternyata sangat mudah dan membantu.

Foto Penulis di antara peserta Leadership Training in Research (Dokumentasi Pribadi)

Berbekal tiket yang sudah ada di handphone, tibalah saatnya saya harus berpetualang sendiri ke salah satu kota terbesar di dunia. Pak Profesor memotivasi saya dengan beberapa kali mengatakan, “You will be fine, Shinta”. Ok, itu menambah semangat dan kepercayaan diri untuk mencapai London.

Perjalanan pertama dimulai dengan menuju halte bis jurusan ke stasiun. Beberapa kali saya baca di pengumuman yang ada di halte, tapi tidak menemukan tulisan Leeds Train Station. Karena takut ketinggalan jadwal kereta, maka saya tanya ke ibu-ibu setengah baya yang bediri di depan saya.

Si ibu menjawab bahwa memang tidak ada bis yang langsung ke stasiun. Saya harus turun di Beeston kemudian jalan sekitar 10 menit ke stasiun. Okelah kalau begitu, setidaknya saya ada di halte bis yang benar—karena memilih halte yang salah risikonya tidak bakal ketemu dengan bis yang ditunggu atau harus berjalan ke halte bis lain terlebih dahulu.

Begitu bis datang, naiklah saya ke bis tersebut dan scan kartu ajaib yang dibelikan Pak Profesor (tiket bis bulanan unlimited yang bisa saya gunakan berputar-putar di West Yorkshire berapa kalipun, yang penting dalam waktu satu bulan). Beruntung ibu yang saya tanyai tadi ternyata satu jalur dengan saya—dia ada appointment dengan dokter gigi di City Center.

Meski baru kenal pada saat itu, kami berbincang akrab tentang banyak hal, sehingga tidak terasa bis sudah sampai di City Center.

Sebelum turun dari bis, dia bilang ke sopir kalau nanti saya akan turun di Beeston. Di UK, meski cuma bis kota, tenyata ada pergantian sopir. Mungkin untuk menjaga keselamatan penumpang karena sopir kelelahan, dan sebagainya.

***

Setelah satu halte dari City Center, sampailah saya di Beeston. Saat saya baru akan berdiri dari tempat duduk, dari belakang, ada seorang ibu-ibu yang memberi tahu kalau saya harus turun. Untungnya lagi, ibu itu juga akan ke stasiun untuk menjenguk temannya di Sheffield. Betapa beruntung saya pada hari itu—setidaknya “sudah pasti” bisa sampai stasiun karena ada barengannya.

Sesampainya di stasiun, ibu tadi memberi tahu saya untuk melihat platform berapa kereta saya dan menyarankan kalau masih lama mending duduk-duduk dulu saja, alias jangan masuk ke peron. Kereta ke London berangkat jam 11.50 GMT, sehingga saya masih harus menunggu kurang lebih satu jam. Gak papalah, daripada terburu-buru, pikir saya.

Setelah kurang setengah jam dari jadwal keberangkatan, masuklah saya ke peron dan melihat jadwal keberangkatan. Saya cari-cari kereta saya di platform berapa, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Daripada pusing sendiri, saya tanyakan ke petugas—dan katanya kereta saya belum ada platformnya.

Kurang 10 menit dari waktu keberangkatan, saya lihat lagi info tentang platform kereta ke London—dan ternyata belum muncul juga. Akhirnya saya bertanya lagi pada petugas dan disampaikan bahwa kereta yang baru saja datang adalah kereta saya. Saya diminta menunggu lima menit karena kereta sedang dibersihkan.

Penulis (tengah) di pusat kota London (Dokumentasi Pribadi)

Setelah diperbolehkan masuk, dan saya menemukan kursi, datanglah seorang ibu setengah baya dan menunjukkan tiketnya kalau dia duduknya di sebelah saya.

Setelah ibu tersebut duduk, masuklah sepang suami istri dengan anjing peliharaannya yang berkulit hitam legam dan badannya yang lumayan besar. Ternyata mereka duduk persis di depan saya. Anjingnya mengendus-endus di dekat saya pula. Duhhhh…takut sekali saya.

Reflek, ibu di sebelah saya menggenggam tangan saya sambil bilang, “Jangan takut, sebentar lagi dia (si anjing) juga akan tidur”. Ternyata apa yang disampaikan ibu tadi benar. Anjing tersebut terus tidur hingga sampai di London. Baru kali ini saya punya pengalaman satu kereta dengan anjing. Pengalaman yang tidak akan mungkin saya temukan di Indonesia.

Seperti kedua ibu sebelumnya, ibu ketiga ini juga ramah dan baik sekali. Sambil mengeluarkan sulamannya yang berwarna merah, kami ngobrol ke sana kemari. Perjalanan dengan durasi sekitar dua jam 15 menit terasa tidak terlalu lama.

Beberapa kali si ibu mengeluarkan handphone-nya untuk mengecek—karena saya tanya tentang rute maupun durasi tempuh Tube dari London King’s Cross ke stasiun terdekat dengan hotel yang akan saya tempati.

Begitu sampai London, kami jalan bareng sebentar ke arah pintu ke luar, kemudian ibu tadi bilang kalau mau ke toilet terlebih dahulu. Di pintu keluar ternyata harus tap out tiket. Karena masih ndeso (kampungan) dengan prosedurnya, maka saya harus mencari terlebih dahulu tiketnya di handphone.

Celakanya, handphone saya matikan karena memang tidak terpikir kalau diperlukan pas keluar. Tidak disangka, ibu tadi tiba-tiba sudah ada di depan saya dan masih menunggu saya di peron tersebut.

Dia menunjukkan satu pintu yang sedang error sehingga saya tidak perlu tap tiket. Wah, baik hati sekali ibu ini. Kami berjalan bersama kembali ke stasiun bawah tanah. Karena rute berbeda, maka kami berpisah di pintu masuk stasiun sambil saling mendoakan satu sama lain.

***

Target pertama saya mencari Tube Picadilly Line (kereta bawah tanah), yang akan mengantarkan saya ke Leicester Square. Tidak disangka, meski bawah tanah, tapi luasnya minta ampun. Berkelok-kelok dan naik turun. Bagi saya, yang jarang berolahraga ini, memang menjadi tantangan tersendiri. Kebetulan, Picadilly Line pada waktu itu tidak terlalu penuh sehingga lumayan nyaman.

Setelah melewati beberapa stasiun, sampailah saya di Leicester Square. Di stasiun ini saya harus berjuang kembali menemukan Tube yang berbeda, yakni Northern Line yang akan mengantar saya ke Chering Cross.

Di terminal tersebut saya bertanya kepada sepasang suami istri dari India. Tetapi tampaknya mereka agak ragu dengan rute saya. Tiba-tiba ada ibu-ibu bule yang bantu cek dan memastikan kalau saya sudah di terminal yang benar. Legalah hati saya.

Penulis (paling kanan) dengan latar belakang Thames River, London (Dokumentasi Pribadi)

Ibu yang dari India tadi juga bilang kalau nanti akan memberi tahu saya kalau sudah sampai ke stasiun Chering Cross. Hanya beberapa menit saja, sampai di stasiun tersebut.

Begitu turun dari kereta ternyata ketemu dengan bapak-bapak dari Jawa Timur. Wah, senengnya setelah beberapa hari tidak berbahasa Indonesia. Setelah sejenak berbasa-basi, bapak itu memberi tahu saya arah pintu ke luar. Ternyata untuk kembali di atas daratan membutuhkan perjuangan pula. Belok sana-sini dan naik turun tangga.

Begitu keluar dari stasiun, saya bertanya pada petugas (mungkin semacam satpol PP kalau di Indonesia) arah ke hotel. Ya, saya akan menginap di Strand Palace Hotel—hotel bintang 4 di jantung kota London. Meski terlihat letak hotel tinggal “disitu”, tetapi ternyata saya harus bertanya kepada beberapa orang. Beberapa diantara mereka tidak tahu hotel tersebut.

Entah sudah orang ke berapa belas yang saya tanya sejak berangkat dari Leeds—saya bertanya pada tukang sampah (untuk yang satu ini saya yakin dia tahu karena daerah operasinya). Ternyata saya keliru, dia juga tidak tahu. Hebatnya, tukang sampah tadi telpon ke teman atau keluarganya dan menanyakan letak hotel tersebut.

Setelah mendapatkan informasi, dia memberi tahu saya bahwa Hotel Strand tinggal lurus saja ke depan. Tidak jauh, katanya.  Memang benar, ternyata hotel tesebut tidak jauh. Namun karena ramai sekali wisatawan—dan saya sudah cukup lelah dengan perjalanan jauh nan berliku—maka rasanya hotel tersebut menjadi terasa jauh.

Disambut dengan bendara Union Jack di sepanjang jalan strand, sampailah saya di hotel yang akan menjadi tempat tinggal dalam tiga malam ini. Saya melaporkan “keberhasilan” sampai ke hotel Strand dengan selamat kepada Pak Profesor, dan beliau sangat mengapresiasi karena memang tidak mudah perjalanan tersebut bagi pendatang.

***

Rentetan perjalanan sejak dari Leeds hingga hotel semakin memantapkan keyakinan saya bahwa persepsi yang selama ini kita bangun tentang orang Barat sangatlah keliru.

Jika mereka individualis dan mengabaikan orang lain, saya tidak akan pernah dapat sampai hotel di tengah kota London tersebut tepat waktu. Betapa semangatnya belasan orang yang saya tanyai selama dalam perjalanan—mereka sangat membantu saya dalam berbagai cara.

 Saya jadi merenung, akankah kita yang orang Timur, yang mengklaim diri suka menolong orang lain, akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang Barat pada saya? Ataukah kita harus “menukar perspektif yang selama ini kita anut” karena budaya tolong menolong sejatinya sudah mulai luntur di budaya kita?

Komunikasi dan budaya memang saling terkait. Komunikasi tidak akan efektif ketika perbedaan budaya menjadi penghambat dalam proses komunikasi. Sebaliknya, budaya dapat berubah ketika terjadi komunikasi dan interaksi dengan budaya lain. Dengan demikian, komunikasi adalah kunci dalam interaksi lintasbudaya.

Komunikasi lintas budaya dapat menjadi jembatan untuk mewarnai sebuah budaya, termasuk perspektif akan budaya tersebut.

Ketika tulisan ini sedang saya ketik, seorang teman dari Brazil mengajak saya dinner sekaligus sight seeing. Wah, pas sekali, karena siang tadi saya makan “tidak berasa makan”. Thank Fernanda.[T]

Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]
Tags: esaiInggriskomunikasikomunikasi informasiperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bernyali dan Percaya Diri

Next Post

Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Pelajaran Berpikir Sehat dari Pak Manthok, Si Penarik Becak Motor di Kota Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co