24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 10, 2023
in Esai
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Ilustrasi Tatkala.co

SEJAK DULU KALA seperti sudah terpatri di otak kita bahwa orang Barat (Eropa, Amerika, termasuk juga Australia meski bukan berada di sebelah Barat Indonesia) adalah sosok yang sangat individualis, tidak peduli dengan orang lain karena mereka asyik dengan kehidupannya sendiri.

Sebaliknya, kita—orang Timur—mengklaim diri kita merupakan makhluk yang masuk dalam klaster ramah, suka tolong menolong, sangat berempati dengan kondisi orang lain dan berbagai atribut positif lainnya.

Entah sejak kapan dan dari mana asalnya pemahaman tersebut sehingga potret terhadap orang Barat tidaklah berubah. Sayangnya pola pikir seperti itu terjadi secara “turun temurun”. Lantas, apakah “warisan perspektif lintas budaya” yang seperti itu benar adanya?

Sepertinya buku maupun film-film yang kita maupun orang tua kita tontonlah yang menjadi pembentuk perspektif yang keliru tersebut—karena sejatinya apa yang terjadi di buku maupun film belum tentu mencerminkan realita yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

Salah satu metode sahih yang bisa membuktikannya adalah melalui pengalaman dengan berinteraksi secara langsung dengan mereka yang berbeda budaya.

***

Pembuktian berlangsung dalam perjalanan saya ke Inggris, salah satu negara yang menjadi kiblat tidak hanya Eropa tapi juga dunia.

Nyatanya, pengalaman berabad-abad melakukan penjajahan di berbagai negara tidak menjadikan orang Inggris menjadi jumawa, egois, dan mengabaikan orang lain ketika berinteraksi dengan orang yang budaya dan latar belakangnya jauh berbeda.

Saya membuktikannya sendiri. Saya kaget, dan tidak menyangka, bahwa seorang guru besar dan istrinya yang juga berpendidikan tinggi bersedia menjemput saya di bandara, seseorang yang belum pernah mereka temui sama sekali.

Lambaian tangan dan senyum yang hangat dari mereka berdua menyambut saya begitu keluar dari pintu keluar bandara setelah menunggu bagasi. Rasanya seperti ketemu sahabat atau saudara yang memang sudah sering bertemu dan mengenal satu sama lain dengan baik. Padahal, ini merupakan pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi melalui email. Aksi foto bertiga di bandara pun langsung kami lakukan buat kenang-kenangan pertemuan pertama.

Setelah itu, dan ini yang membuat saya kaget untuk kedua kalinya, tidak canggung-canggung, sang guru besar langsung meminta koper saya dan memasukkannya ke bagasi mobilnya sembari minta maaf karena birokrasi yang berbelit sehingga menunda kedatangan saya ke Inggris.

Tidak kalah gesitnya, si istri juga melakukan hal yang sama dengan tas punggung saya. Mereka juga bilang, ”Shinta, kamu pasti capek sekali ya, karena perjalanan yang sangat panjang.” Belum sempat saya jawab, ia kembali berkata, “Dalam perjalanan bisa tidur apa tidak, Shinta?”

Mereka juga mempersilakan saya duduk di kursi depan, sebuah kehormatan bagi seorang tamu. Duhhhh……jadi malu sendiri.

Sekilas pertanyaan-pertanyaan tersebut memang sederhana dan tidak bermakna apa-apa. Namun bagi saya semua itu sangat berarti dan membuat saya langsung betah begitu menginjakkan kaki di Leeds sekaligus membalikkan persepsi yang sudah tertanam di benak saya tentang karakter orang barat.

***

Di sepanjang perjalanan terjadi percakapan-percakapan ringan seputar keluarga, seperti bagaimana anak-anak saya (karena saya tinggal di Inggris), usia dan sekolah mereka, suami kerja di mana, dan sebagainya.

Mereka juga antusias memberi tahu lokasi kampus, rute dan pemberhentian bus dari rumah ke kampus, serta yang tak kalah penting adalah, groceries, alias toko sembako yang ternyata hanya beberapa langkah dari akomodasi tempat saya tinggal.

Setelah perjalanan kurang lebih setengah jam, tibalah saya di rumah yang akan saya tempati selama 4,5 bulan ke depan. Syukurlah, letak rumah sangat strategis, di tengah kota. (Jangan bayangkan tengah kota di sini sama dengan tengah kota di Indonesia yang bising dan macet.)

Di sini semuanya serba teratur sehingga tidak ada cerita tentang nyerobot jalan maupun kebut-kebutan. Kendaraan antre di perempatan hanya di satu barisan saja meski sebenarnya sebelah kanan dan kiri masih kosng. Sesuatu yang bakal tidak disia-siakan untuk segera tancap gas jika di negara kita. Betapa tertibnya mereka dengan budaya antre.

Begitu sampai di rumah, tuan rumah langsung mengajak saya touring ke seisi rumah sambil menjelaskan fungsi berbagai peralatan yang ada di rumah tersebut. Jadi ketahuan ndesitnya karena banyak hal baru yang belum pernah saya coba.

Tetapi semangat untuk bisa segera beradaptasi mengalahkan rasa ndesit saya. Tuan rumah juga mempersilakan saya menggunakan semua peralatan yang ada beserta bahan makanan yang ada di dapur termasuk bumbu-bumbu, pasta, gula, teh, kopi, selai, dan sebaginya. Waduh saya jadi bingung mau diapain bumbu sebanyak itu. Seperti melihat acara Master Chef secara langsung karena lengkapnya pantry.

Ketika saya dan tuan rumah sedang di kamar yang nantinya akan saya tempati, tiba-tiba sang guru besar datang dan membawa koper saya yang beratnya 20 kg melalui tangga spiral dari besi—yang hanya cukup untuk satu orang. Bukan pekerjaan mudah tentu saja. Wowww… sesuatu yang hampir mustahil terjadi di negara kita.

Seorang guru besar yang sangat dihormati dan memiliki jabatan struktural–yang tinggi pula di kampus—mau-maunya ngangkut koper saya?

Kejutan belum berhenti sampai di situ. Tidak berapa lama beliau menyerahkan tas berwarna merah dari sebuah supermarket yang ternyata berisi sembako. “This is for you,” katanya. Sampai bingung saya harus bilang apa. Sampai segitunya beliau memikirkan saya yang pastinya belum mempunyai apa-apa untuk dikonsumsi.

Saya memang tidak membawa secuil pun makanan dari Indonesia karena khawatir bermasalah di bandara.  Inggris memang terkenal keras dengan larangan membawa makanan dan bahan olahan lainnya dari negara lain.

Istrinya juga langsung mempunyai ide untuk membuat WhatsApp grup yang berisi kami berempat (saya, tuan rumah, pak professor dan istrinya). Katanya kalau saya ada kendala atau perlu apa-apa kapanpun biar mereka bisa langsung bantu.

Sebelum berpamitan, pak professor juga menyampaikan kalau saya kerjanya lusa saja, besok biar saya istirahat total setelah perjalanan yang panjang. Ketika tulisan ini sedang saya buat pak professor juga mengirim pesan melalui WhatsApp dan menanyakan kepada saya apakah saya baik-baik saja.

Beliau juga akan menjemput saya besok pagi dan menemani naik bus agar saya tidak bingung dalam menggunakan moda transportasi tersebut. Segitunya mereka memperdulikan saya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.

***

Rentetan peristiwa-peristiwa di atas menepis persepsi lintas budaya yang seringkali keliru. Bahwa egois, individualis, maupun humanis, suka menolong, dan sebagainya, tidak bisa disematkan begitu saja dan dijadikan patokan akan karakter sebuah budaya.

Persepsi yang bersifat turun temurun tanpa divalidasi dengan pengalaman empiris secara langsung hanya akan menjauhkan kita dari interaksi global yang masing-masing aktor tidak lepas dari akar budayanya masing-masing.

Justru pergaulan dengan dunia luar membuat mata dan pikiran kita semakin terbuka bahwa ternyata kita tidak selalu benar, bahwa budaya kita tidak selalu lebih baik disbanding budaya lain, begitu pula sebaliknya.[T]

Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: BudayaesaiInggrisperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi

Next Post

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co