2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 10, 2023
in Esai
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Ilustrasi Tatkala.co

SEJAK DULU KALA seperti sudah terpatri di otak kita bahwa orang Barat (Eropa, Amerika, termasuk juga Australia meski bukan berada di sebelah Barat Indonesia) adalah sosok yang sangat individualis, tidak peduli dengan orang lain karena mereka asyik dengan kehidupannya sendiri.

Sebaliknya, kita—orang Timur—mengklaim diri kita merupakan makhluk yang masuk dalam klaster ramah, suka tolong menolong, sangat berempati dengan kondisi orang lain dan berbagai atribut positif lainnya.

Entah sejak kapan dan dari mana asalnya pemahaman tersebut sehingga potret terhadap orang Barat tidaklah berubah. Sayangnya pola pikir seperti itu terjadi secara “turun temurun”. Lantas, apakah “warisan perspektif lintas budaya” yang seperti itu benar adanya?

Sepertinya buku maupun film-film yang kita maupun orang tua kita tontonlah yang menjadi pembentuk perspektif yang keliru tersebut—karena sejatinya apa yang terjadi di buku maupun film belum tentu mencerminkan realita yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

Salah satu metode sahih yang bisa membuktikannya adalah melalui pengalaman dengan berinteraksi secara langsung dengan mereka yang berbeda budaya.

***

Pembuktian berlangsung dalam perjalanan saya ke Inggris, salah satu negara yang menjadi kiblat tidak hanya Eropa tapi juga dunia.

Nyatanya, pengalaman berabad-abad melakukan penjajahan di berbagai negara tidak menjadikan orang Inggris menjadi jumawa, egois, dan mengabaikan orang lain ketika berinteraksi dengan orang yang budaya dan latar belakangnya jauh berbeda.

Saya membuktikannya sendiri. Saya kaget, dan tidak menyangka, bahwa seorang guru besar dan istrinya yang juga berpendidikan tinggi bersedia menjemput saya di bandara, seseorang yang belum pernah mereka temui sama sekali.

Lambaian tangan dan senyum yang hangat dari mereka berdua menyambut saya begitu keluar dari pintu keluar bandara setelah menunggu bagasi. Rasanya seperti ketemu sahabat atau saudara yang memang sudah sering bertemu dan mengenal satu sama lain dengan baik. Padahal, ini merupakan pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi melalui email. Aksi foto bertiga di bandara pun langsung kami lakukan buat kenang-kenangan pertemuan pertama.

Setelah itu, dan ini yang membuat saya kaget untuk kedua kalinya, tidak canggung-canggung, sang guru besar langsung meminta koper saya dan memasukkannya ke bagasi mobilnya sembari minta maaf karena birokrasi yang berbelit sehingga menunda kedatangan saya ke Inggris.

Tidak kalah gesitnya, si istri juga melakukan hal yang sama dengan tas punggung saya. Mereka juga bilang, ”Shinta, kamu pasti capek sekali ya, karena perjalanan yang sangat panjang.” Belum sempat saya jawab, ia kembali berkata, “Dalam perjalanan bisa tidur apa tidak, Shinta?”

Mereka juga mempersilakan saya duduk di kursi depan, sebuah kehormatan bagi seorang tamu. Duhhhh……jadi malu sendiri.

Sekilas pertanyaan-pertanyaan tersebut memang sederhana dan tidak bermakna apa-apa. Namun bagi saya semua itu sangat berarti dan membuat saya langsung betah begitu menginjakkan kaki di Leeds sekaligus membalikkan persepsi yang sudah tertanam di benak saya tentang karakter orang barat.

***

Di sepanjang perjalanan terjadi percakapan-percakapan ringan seputar keluarga, seperti bagaimana anak-anak saya (karena saya tinggal di Inggris), usia dan sekolah mereka, suami kerja di mana, dan sebagainya.

Mereka juga antusias memberi tahu lokasi kampus, rute dan pemberhentian bus dari rumah ke kampus, serta yang tak kalah penting adalah, groceries, alias toko sembako yang ternyata hanya beberapa langkah dari akomodasi tempat saya tinggal.

Setelah perjalanan kurang lebih setengah jam, tibalah saya di rumah yang akan saya tempati selama 4,5 bulan ke depan. Syukurlah, letak rumah sangat strategis, di tengah kota. (Jangan bayangkan tengah kota di sini sama dengan tengah kota di Indonesia yang bising dan macet.)

Di sini semuanya serba teratur sehingga tidak ada cerita tentang nyerobot jalan maupun kebut-kebutan. Kendaraan antre di perempatan hanya di satu barisan saja meski sebenarnya sebelah kanan dan kiri masih kosng. Sesuatu yang bakal tidak disia-siakan untuk segera tancap gas jika di negara kita. Betapa tertibnya mereka dengan budaya antre.

Begitu sampai di rumah, tuan rumah langsung mengajak saya touring ke seisi rumah sambil menjelaskan fungsi berbagai peralatan yang ada di rumah tersebut. Jadi ketahuan ndesitnya karena banyak hal baru yang belum pernah saya coba.

Tetapi semangat untuk bisa segera beradaptasi mengalahkan rasa ndesit saya. Tuan rumah juga mempersilakan saya menggunakan semua peralatan yang ada beserta bahan makanan yang ada di dapur termasuk bumbu-bumbu, pasta, gula, teh, kopi, selai, dan sebaginya. Waduh saya jadi bingung mau diapain bumbu sebanyak itu. Seperti melihat acara Master Chef secara langsung karena lengkapnya pantry.

Ketika saya dan tuan rumah sedang di kamar yang nantinya akan saya tempati, tiba-tiba sang guru besar datang dan membawa koper saya yang beratnya 20 kg melalui tangga spiral dari besi—yang hanya cukup untuk satu orang. Bukan pekerjaan mudah tentu saja. Wowww… sesuatu yang hampir mustahil terjadi di negara kita.

Seorang guru besar yang sangat dihormati dan memiliki jabatan struktural–yang tinggi pula di kampus—mau-maunya ngangkut koper saya?

Kejutan belum berhenti sampai di situ. Tidak berapa lama beliau menyerahkan tas berwarna merah dari sebuah supermarket yang ternyata berisi sembako. “This is for you,” katanya. Sampai bingung saya harus bilang apa. Sampai segitunya beliau memikirkan saya yang pastinya belum mempunyai apa-apa untuk dikonsumsi.

Saya memang tidak membawa secuil pun makanan dari Indonesia karena khawatir bermasalah di bandara.  Inggris memang terkenal keras dengan larangan membawa makanan dan bahan olahan lainnya dari negara lain.

Istrinya juga langsung mempunyai ide untuk membuat WhatsApp grup yang berisi kami berempat (saya, tuan rumah, pak professor dan istrinya). Katanya kalau saya ada kendala atau perlu apa-apa kapanpun biar mereka bisa langsung bantu.

Sebelum berpamitan, pak professor juga menyampaikan kalau saya kerjanya lusa saja, besok biar saya istirahat total setelah perjalanan yang panjang. Ketika tulisan ini sedang saya buat pak professor juga mengirim pesan melalui WhatsApp dan menanyakan kepada saya apakah saya baik-baik saja.

Beliau juga akan menjemput saya besok pagi dan menemani naik bus agar saya tidak bingung dalam menggunakan moda transportasi tersebut. Segitunya mereka memperdulikan saya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.

***

Rentetan peristiwa-peristiwa di atas menepis persepsi lintas budaya yang seringkali keliru. Bahwa egois, individualis, maupun humanis, suka menolong, dan sebagainya, tidak bisa disematkan begitu saja dan dijadikan patokan akan karakter sebuah budaya.

Persepsi yang bersifat turun temurun tanpa divalidasi dengan pengalaman empiris secara langsung hanya akan menjauhkan kita dari interaksi global yang masing-masing aktor tidak lepas dari akar budayanya masing-masing.

Justru pergaulan dengan dunia luar membuat mata dan pikiran kita semakin terbuka bahwa ternyata kita tidak selalu benar, bahwa budaya kita tidak selalu lebih baik disbanding budaya lain, begitu pula sebaliknya.[T]

Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: BudayaesaiInggrisperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi

Next Post

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co