2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Canestra Adi Putra by Canestra Adi Putra
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto koleksi penulis

BIASANYA aku bukan orang yang mudah terbujuk. Tapi kali ini kuakui, aku terbujuk dengan mudah.

Sekembalinya kawan-kawan ke perkemahan Paltuding Gunung Ijen, tiba-tiba Iwan mengeluarkan rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau, masih di kawasan Banyuwangi. Mumpung di Banyuwangi, pikirnya. Tusan, menyetujui. Aku pun terbujuk mendengar kondisi pantai yang katanya idilik dan jauh dari keramaian.

Selain itu, aku tak punya pilihan karena berboncengan dengan Tusan. Gede, Gorby dan Redy agak ragu. Selain perjalanan yang katanya lumayan jauh, kondisi fisik yang lagi lelah tentunya menjadi pertimbangan mereka.

Perdebatan tak bisa dihindari. Namun mereka setuju. Walapun menggerutu.

Ternyata, Teluk Hijau ini jauhnya minta ampun. Aku dan kawan-kawan melewati banyak desa, sungai-sungai yang berwarna cokelat, kebun karet, kebun mahoni, kebun jagung, jalan aspal hingga jalan berbatu. Aduh. Entah kemana aku ini, pikirku dalam hati. Redy malah sudah mulai kesal. Gorby terlihat sangat lelah. Pada titik itu, aku pun sadar bahwa ketidaktahuan memang sangat berbahaya. Jika saja banyak yang tahu bahwa menuju Teluk Hijau akan sejauh itu, tentu banyak yang tidak ikut.

Tapi aku memutuskan untuk bawa senang saja. Gila saja. Tiga jam perjalanan jika dibawa kesal ya capek sendiri.

Setelah tiga jam perjalanan melewati jalan berliku dan perkebunan yang luar biasa luasnya, kami pun memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Waduh. Sampai harus masuk kawasan taman nasional segala. Pantas saja, jalan yang tadinya mulus jadi berbatu. Tusan menggiring kami ke rumah kenalannya. Aku lupa nama bapak itu. Yang jelas, kami disambut ramah. Tuan rumah mempunyai kucing yang lucu sekali, jadi kusempatkan bermain dengan kucing itu sambil mengobrol sebentar. Kuperhatikan kondisi teman-teman yang lain. Redy tampak sangat kesal. Gorby dan Made tak bisa menyembunyikan kelelahannya. Hanya aku, Iwan dan Tusan yang masih bersemangat.

Perjalanan belum berakhir. Kami harus masuk lebih dalam lagi ke taman nasional, melewati jalan rusak dan belukar. Kali ini Gede memilih tidak ikut. Dia akan menunggu di rumah singgah. Tanpa membuang waktu lagi, segera kami menembus hutan. Sudah jauh-jauh sampai masuk taman nasional segala, masak malah batal?

Plang Teluk Hijau. Dari tempat ini, kami harus turun sekitar 1 Km lagi

Tiba di parkiran, aku melihat beberapa petugas taman nasional yang berjaga di sebuah bale-bale. Tampak juga beberapa sepeda motor yang terparkir, berarti masih ada juga pengunjung yang ‘gila’ seperti kami. Haha. Sementara, dari ketinggian tempat parkir, bisa kulihat Samudra Hindia tampak keperakan ditimpa sinar matahari. Debur ombak juga terdengar sayup-sayup. Waktu masih sekitar jam empat sore, tak kubiarkan semangatku surut. Aku mengobrol dengan petugas taman nasional yang berjaga disana. Katanya, dari parkiran, masih harus turun sekitar setengah jam untuk mencapai Teluk Hijau. Wow. It’s another adventure!

Bersama Iwan, aku langsung turun menuju Teluk Hijau melewati hutan hujan tropis yang sangat rindang. Tusan dan Gorby menyusul. Di pepohonan, tampak beberapa lutung yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Ini seperti film Anaconda, pikirku, kecuali ini tanpa ular (kuharap tidak bertemu ular). Sepanjang perjalanan turun, aku dan Iwan tak berbicara. Kami berkonsentrasi dengan hela nafas dan jalan setapak yang makin menukik turun. Di beberapa bagian jalan, ada tali tambang khusus untuk tempat berpegang. Tali itu terlihat tak meyakinkan, apalagi terlihat simpul-simpulnya sudah mulai kendor. Kalau kupegang, mungkin bisa jadi malah aku yang terlempar ke jurang.

Di depan, Iwan tiba-tiba tak terlihat lagi. Sial. Orang itu pastilah berlari. Aku benar-benar sendiri di tengah belantara asing ini. Entah mengapa aku merasa ada mata yang mengintaiku. Itu paling perasaanku saja, tapi cukup membuatku waswas. Aku berderap setengah berlari, kemudian kupanggil Iwan, setengah berteriak. Namun dia tak menyahut. Daun-daun berkeresak, tampak bergoyang. Bayang-bayang pepohonan tampak seperti tengkorak. Beberapa lutung terlihat mengawasiku dari balik dedaunan. Jika ini di film, mungkin aku sudah diserang lutung itu. Aku harus cepat. Kupanggil Iwan lagi, untunglah kali ini dia menyahut. Segera kususul orang itu.

Jalan setapak ini berujung pada Pantai Batu, masih dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Sesuai namanya, pantai ini dipenuhi batu berbagai ukuran. Menurutku, tak ada yang istimewa di pantai ini, kecuali lautnya yang sangat biru. Kulihat beberapa orang tengah menikmati pemandangan Pantai Batu, yang menurutku agak aneh. Apa yang mau dilihat sih di pantai ini? Kecuali kalau kau penggemar batu, ya mungkin saja kau akan menyukai tempat ini. Selebihnya, ordinary.

Batu-batu misterius di Pantai Batu

Dari Pantai Batu, kami berjalan kembali sekitar lima menit ke arah barat menyusuri pantai dan masuk hutan (lagi) untuk mencapai Teluk Hijau. Aduh. Ini teluk memang terlalu jauh jika dicapai dalam satu sore. Seharusnya, kita berangkat pagi. Aku mungkin sudah di rumah tertidur lelap jika saja tidak mengikuti ajakan Iwan ke Teluk Hijau. Pantai ini harus bagus, pikirku. Kalau tidak, percumalah menempuh 93 km dari Banyuwangi. Rugi bensin dan tenaga juga kan.

Selamat Datang di Teluk Hijau

Setelah berjalan beberapa saat, sampailah kita di Teluk Hijau. Pantai ini memang sangat bagus; ombaknya besar, pasirnya putih halus, airnya bening dan hijau toska, ditambah air terjun di pojok pantai yang airnya langsung menuju pantai. Benar-benar surga tersembunyi. Di Bali memang banyak pantai bagus, tapi Teluk Hijau ini sangat eksepsional karena air terjunnya. Ini luar biasa. Jarang aku dapat paket lengkap; pantai sekaligus air terjun. Rasa lelah sudah menghilang.

Salam Indonesia dari Air Terjun Teluk Hijau

Setengah berlari, aku menyusul Iwan yang sudah lebih dulu menuju air terjun. Kami memutuskan untuk mandi, sekalian menghilangkan penat akibat perjalanan tadi. Hitung-hitung relaksasi sedikit lah, sebelum melanjutkan perjalanan balik ke Bali. Selang beberapa menit, Tusan dan Gorby menyusul. Untunglah Tusan bawa kamera. Jadi momen di Teluk Hijau bisa diabadikan. Suasana sangat damai sekali. Kupikir berkemah di tempat ini akan sangat bagus. Selain pemandangannya yang bagus, air bersih juga tersedia.

Karena hari sudah menjelang sore, kami pun balik. Dua jam di Teluk Hijau cukup lah. Lain kali mungkin kami akan kembali, berkemah tentunya. Di sepanjang perjalanan balik, kulihat matahari mulai redup, pantai pun kehilangan birunya. Rasanya enggan meninggalkan tempat ini. Jika saja aku punya waktu lebih dan persediaan yang memadai, tentunya aku ingin tinggal di sini. Tapi kami harus pulang. Redy dan Gede sudah menunggu. (T)

BACA: TUALANG BANYUWANGI (1) – BERTARUH NYAWA DI KAWAH IJEN

Tags: alambanyuwangipetualanganTeluk Hijau
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Next Post

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Canestra Adi Putra

Canestra Adi Putra

Blogger, guru, petualang. Alumni S2 Bahasa Inggris Undiksha yang masih jomblo ini adalah Ketua Impeesa Scout Adventure (2017) yang sudah menjelajah gunung-gunung di Bali, Jawa dan Lombok. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di https://canestra.wordpress.com/

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co