11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Ulasan

Catatan ini ditulis ketika Putu Wijaya mementaskan monolog Burung Merak di Open Stage Lovina, Buleleng, Bali, Rabu 25 November 2009, malam. Monolog itu dipentaskan untuk memperingati 100 hari meninggalnya Si Burung Merak Rendra. Catatan ini bisa dijadikan pemercik api semangat untuk para pemonolog yang akan meramaikan Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya, Maret hingga Desember 2017.  

*

SETIDAKNYA terdapat dua pokok pikiran WS Rendra, si Burung Merak, yang seharusnya bisa dijadikan landasan untuk memperbaiki bangsa ini. Yakni, “Mempertimbangkan Tradisi” dan “Gagah dalam Kemiskinan”.

Jika harus ditambah lagi, maka sederet pemikiran lain dari Rendra bisa secara terus-menerus dihidupkan dalam setiap diri orang Indonesia. Bukan hanya untuk sekadar diingat sebagai baris puisi yang indah, namun juga dikenang sebagai peretas jalan menuju masa depan yang lebih gemilang. Antara lain, “Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata” dan “Kemarin dan Esok adalah Hari Ini, Bencana dan Keberuntungan Sama Saja”.

Pemikiran Rendra bisa jadi sebuah dongeng bagi anak-anak, justru karena kata-katanya mengandung daya sihir yang tak pernah lapuk. Bisa jadi juga sederet falsafah yang membuat orang secara terus-menerus berpikir tentang hidup. Atau bisa hanya sekadar tutur tak luntur, puisi bagus yang membuat seseorang jadi sekadar menggeser posisi hidupnya atau bisa menjungkirbalikkan seluruh hidup.

Dongeng, falsafah hidup, tutur, atau puisi-puisi bagus dari Rendra itu dilontarkan kembali dalam bentuk monolog oleh Putu Wijaya untuk memperingati 100 hari meninggalnya Rendra di Open Stage Lovina, Rabu (25/11/2009) malam.

Lebih dari seratus orang dari kalangan seniman, mahasiswa, pejabat dan orang biasa, menonton monolog yang diberi judul “Burung Merak” itu dengan tekun. Bahkan ketika Putu Wijaya mengajak penonton membuat yel, berteriak dan bernyanyi, maka dengan suka cita semua penonton mengikutinya. Melontarkan kembali pemikiran seseorang yang pernah hidup secara nyata dan terkenal dalam bentuk pementasan di atas panggung boleh jadi merupakan satu terobosan baru dalam monolog Putu Wijaya.

Sebelumnya, Putu memang kerap memperkenalkan berbagai tokoh dalam monolognya, semisal Merdeka dan Zetan. Namun, tokoh itu hanya rekaan, meski — seperti juga Rendra — tokoh-tokoh rekaan itu memiliki pemikiran yang ajaib dan kadang mengejutkan secara logika dan nalar. Lebih Dikenal Di tangan Putu Wijaya, pemikiran dari tokoh nyata semacam Rendra atau pemikiran dari tokoh rekaan semacam Zetan, sama mudahnya untuk diolah jadi monolog yang memukau.

Dalam “Burung Merak”, Putu memulai dengan kisah perjumpaan dirinya dengan Rendra yang meninggal dunia seratus hari sebelumnya. Putu kemudian mencomot, mengurai, mempertanyakan, menganalisa dan menyimpulkan kembali deretan pikiran Rendra yang oleh sebagian orang memang diingat sebagai sebuah landasan, tapi oleh sebagian besar yang lain pikiran itu diabaikan bahkan tak diketahui sama sekali.

Untuk penonton di Singaraja, monolog Putu Wijaya memperkenalkan lebih dari dua hal dalam sekaligus: akting dan ketokohan Putu serta pemikiran dan ketokohan Rendra. Secara emosional, di Bali Utara, Putu Wijaya jauh lebih dikenal ketimbang Rendra. Tentu karena Putu pernah tinggal, bergaul secara kreatif maupun secara sembarangan, di Kota Singaraja pada saat ia masih SMA.

Bahkan orang yang menyiapkan pementasan Putu di Singaraja notabene adalah teman dan kerabatnya, seperti Ketut Englan yang menjadi pemilik Open Stage Lovina sekaligus pengelola Yayasan Budaya Denbukit, Hardika dan Gede Dharma, serta Mang Jung yang dikenal sebagai ponakan Putu.

Di mata penonton yang lebih mengenal Putu ketimbang Rendra, bisa jadi Rendra dianggap tokoh rekaan dalam lakon baru. Rendra bisa saja dianggap sama dengan tokoh ciptaan Putu yang lain seperti Merdeka, Maya atau Zetan.

Ketika Putu mencomot pemikiran Rendra tentang tradisi yang seperti kasur tua lapuk, hal itu seperti sebuah pemikiran yang baru saja diciptakan. Maka, monolog “Burung Merak” di Singaraja punya semangat dan makna yang berbeda dengan ketika ia pentas di Yogyakarta, Bandung atau Jakarta. Di kota besar itu, di mana penonton mengenal Rendra dan Putu dengan kadar yang seimbang, maka monolog Putu bisa menjadi semacam pengingat kembali kecemerlangan kata-kata Rendra.

Di Singaraja, Putu lebih bermakna sebagai penyambung lidah Rendra. Melalui Putu, Rendra yang sebelumnya hanya dikenal melalui puisi-puisinya, kini bisa dikenal secara lebih dalam, termasuk “penderitaannya” sebagai sastrawan di negeri yang tak terlalu menghargai sastra.

Selain “Burung Merak”, di Singaraja Putu juga mementaskan monolog “Zetan” dan “Perkutut”. Dua monolog ini sebenarnya sudah beberapa kali dipentaskan di sejumlah tempat di Singaraja, namun penonton tetap saja seperti mendapatkan hal baru dari pementasan Putu, meski seniman yang lahir di Tabanan itu kini sudah menunjukkan ketidakkuasaannya melawan umur yang terus bertambah. (T)

Catatan:

Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post 29 November 2009

Ketut Englan (budayawan dan tokoh pariwisata) dan Gede Dharna (sastrawan dan veteran) yang disebutkan dalam tulisan ini adalah pecinta tetaer di Buleleng, yang kini sudah berpulang. Semoga beliau berbahagia di surga.

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologRendraTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Mbok

Next Post

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co