2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Ulasan

Catatan ini ditulis ketika Putu Wijaya mementaskan monolog Burung Merak di Open Stage Lovina, Buleleng, Bali, Rabu 25 November 2009, malam. Monolog itu dipentaskan untuk memperingati 100 hari meninggalnya Si Burung Merak Rendra. Catatan ini bisa dijadikan pemercik api semangat untuk para pemonolog yang akan meramaikan Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya, Maret hingga Desember 2017.  

*

SETIDAKNYA terdapat dua pokok pikiran WS Rendra, si Burung Merak, yang seharusnya bisa dijadikan landasan untuk memperbaiki bangsa ini. Yakni, “Mempertimbangkan Tradisi” dan “Gagah dalam Kemiskinan”.

Jika harus ditambah lagi, maka sederet pemikiran lain dari Rendra bisa secara terus-menerus dihidupkan dalam setiap diri orang Indonesia. Bukan hanya untuk sekadar diingat sebagai baris puisi yang indah, namun juga dikenang sebagai peretas jalan menuju masa depan yang lebih gemilang. Antara lain, “Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata” dan “Kemarin dan Esok adalah Hari Ini, Bencana dan Keberuntungan Sama Saja”.

Pemikiran Rendra bisa jadi sebuah dongeng bagi anak-anak, justru karena kata-katanya mengandung daya sihir yang tak pernah lapuk. Bisa jadi juga sederet falsafah yang membuat orang secara terus-menerus berpikir tentang hidup. Atau bisa hanya sekadar tutur tak luntur, puisi bagus yang membuat seseorang jadi sekadar menggeser posisi hidupnya atau bisa menjungkirbalikkan seluruh hidup.

Dongeng, falsafah hidup, tutur, atau puisi-puisi bagus dari Rendra itu dilontarkan kembali dalam bentuk monolog oleh Putu Wijaya untuk memperingati 100 hari meninggalnya Rendra di Open Stage Lovina, Rabu (25/11/2009) malam.

Lebih dari seratus orang dari kalangan seniman, mahasiswa, pejabat dan orang biasa, menonton monolog yang diberi judul “Burung Merak” itu dengan tekun. Bahkan ketika Putu Wijaya mengajak penonton membuat yel, berteriak dan bernyanyi, maka dengan suka cita semua penonton mengikutinya. Melontarkan kembali pemikiran seseorang yang pernah hidup secara nyata dan terkenal dalam bentuk pementasan di atas panggung boleh jadi merupakan satu terobosan baru dalam monolog Putu Wijaya.

Sebelumnya, Putu memang kerap memperkenalkan berbagai tokoh dalam monolognya, semisal Merdeka dan Zetan. Namun, tokoh itu hanya rekaan, meski — seperti juga Rendra — tokoh-tokoh rekaan itu memiliki pemikiran yang ajaib dan kadang mengejutkan secara logika dan nalar. Lebih Dikenal Di tangan Putu Wijaya, pemikiran dari tokoh nyata semacam Rendra atau pemikiran dari tokoh rekaan semacam Zetan, sama mudahnya untuk diolah jadi monolog yang memukau.

Dalam “Burung Merak”, Putu memulai dengan kisah perjumpaan dirinya dengan Rendra yang meninggal dunia seratus hari sebelumnya. Putu kemudian mencomot, mengurai, mempertanyakan, menganalisa dan menyimpulkan kembali deretan pikiran Rendra yang oleh sebagian orang memang diingat sebagai sebuah landasan, tapi oleh sebagian besar yang lain pikiran itu diabaikan bahkan tak diketahui sama sekali.

Untuk penonton di Singaraja, monolog Putu Wijaya memperkenalkan lebih dari dua hal dalam sekaligus: akting dan ketokohan Putu serta pemikiran dan ketokohan Rendra. Secara emosional, di Bali Utara, Putu Wijaya jauh lebih dikenal ketimbang Rendra. Tentu karena Putu pernah tinggal, bergaul secara kreatif maupun secara sembarangan, di Kota Singaraja pada saat ia masih SMA.

Bahkan orang yang menyiapkan pementasan Putu di Singaraja notabene adalah teman dan kerabatnya, seperti Ketut Englan yang menjadi pemilik Open Stage Lovina sekaligus pengelola Yayasan Budaya Denbukit, Hardika dan Gede Dharma, serta Mang Jung yang dikenal sebagai ponakan Putu.

Di mata penonton yang lebih mengenal Putu ketimbang Rendra, bisa jadi Rendra dianggap tokoh rekaan dalam lakon baru. Rendra bisa saja dianggap sama dengan tokoh ciptaan Putu yang lain seperti Merdeka, Maya atau Zetan.

Ketika Putu mencomot pemikiran Rendra tentang tradisi yang seperti kasur tua lapuk, hal itu seperti sebuah pemikiran yang baru saja diciptakan. Maka, monolog “Burung Merak” di Singaraja punya semangat dan makna yang berbeda dengan ketika ia pentas di Yogyakarta, Bandung atau Jakarta. Di kota besar itu, di mana penonton mengenal Rendra dan Putu dengan kadar yang seimbang, maka monolog Putu bisa menjadi semacam pengingat kembali kecemerlangan kata-kata Rendra.

Di Singaraja, Putu lebih bermakna sebagai penyambung lidah Rendra. Melalui Putu, Rendra yang sebelumnya hanya dikenal melalui puisi-puisinya, kini bisa dikenal secara lebih dalam, termasuk “penderitaannya” sebagai sastrawan di negeri yang tak terlalu menghargai sastra.

Selain “Burung Merak”, di Singaraja Putu juga mementaskan monolog “Zetan” dan “Perkutut”. Dua monolog ini sebenarnya sudah beberapa kali dipentaskan di sejumlah tempat di Singaraja, namun penonton tetap saja seperti mendapatkan hal baru dari pementasan Putu, meski seniman yang lahir di Tabanan itu kini sudah menunjukkan ketidakkuasaannya melawan umur yang terus bertambah. (T)

Catatan:

Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post 29 November 2009

Ketut Englan (budayawan dan tokoh pariwisata) dan Gede Dharna (sastrawan dan veteran) yang disebutkan dalam tulisan ini adalah pecinta tetaer di Buleleng, yang kini sudah berpulang. Semoga beliau berbahagia di surga.

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologRendraTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Mbok

Next Post

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co