14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbok

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Cerpen: Putri Handayani

MALAM. Purnama. Hujan lebat. Aku meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhku tertelan habis dari ujung kaki hingga kepala. Setiap malam, saat masih terjaga, aku selalu menenggelamkan diri dalam selimut, karena aku penakut, apalagi sedang hujan lebat.

Aku takut kalau-kalau sesuatu tiba-tiba muncul dan berbaring di sampingku. Aku takut wajahku diraba oleh tangan-tangan dingin yang kesepian, atau ada yang menarik selimutku dari bawah kasur.

Aku sengaja tidak menutup tirai jendela agar ada secerca sinar purnama yang masuk melalui jendela-jendela itu, jadi kamarku tidak terlihat begitu gelap. Tapi aku kadang takut ketika pohon-pohon di luar jendela yang tertiup angin tiba-tiba membentuk siluet-siluet yang menyeramkan. Bergerak-gerak seperti tangan monster yang hendak mencengkramku.

Sesak. Gerah. Nafasku terengah. Titik-titik keringat mulai mengembun di sekitar dahiku. Aku masih meringkuk di balik selimut, sementara mata ini belum juga mengantuk. Kaki dan tanganku tiba-tiba berkeringat, aku tahu sesuatu pasti ada di sekitarku. Aku penasaran ingin mengintip keadaan di luar selimut tapi aku takut.

Bagaimana jika benar ada sesuatu? Aku menjadi benar-benar penasaran. Setelah beberapa saat berargumen dengan diri sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengintip ke luar selimut. Tanganku gemetar, kakiku semakin berkeringat. Kutarik sedikit demi sedikit tepian selimut yang menutupi wajahku.

Kuedarkan bola mataku ke seluruh penjuru kamar. Tembok kamar masih dihiasi siluet pepohonan yang menyeramkan. Tapi tunggu dulu. Ada sesuatu yang berbeda dari siluet-siluet itu. Mataku menangkap siluet seorang perempuan yang sedang duduk menyamping. Aku melihat lekukan dahinya, hidungnya, bibirnya, dagunya, juga aku melihat siluet rambutnya yang panjang.

Perlahan aku memalingkan wajahku ke kanan. Astaga! Spontan mulutku memekik kecil. Aku belum percaya apa yang kulihat. Benar saja, seorang perempuan tengah duduk dengan manis di tepi kanan kasurku. Ia menoleh kearahku.

Aku menutup mata dengan kelima jariku yang sedikit kurenggangkan. Percuma. Aku masih bisa melihatnya. Wajahnya datar, dingin, pucat. Tidak begitu cantik, tapi wajahnya meneduhkan. Ia tersenyum padaku. Ujung bibirku perlahan tertarik dan aku membalas senyumnya. Malam itu menjadi saksi pertemuan kami.

Aku tidak tahu namanya siapa, tapi aku sering memanggilnya Mbok. Mbok, ya.. pokoknya Mbok. Aku juga tidak tahu ia datang dari mana dan untuk apa. Yang jelas sejak malam purnama disertai hujan lebat itu, ia selalu datang dan memandangiku ketika tidur. Awalnya sangat aneh dan agak menakutkan, tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dengan hal itu.

Ajaib. Aku jadi tidak takut lagi sekarang karena ada Mbok yang selalu menjagaku tidur. Aku jadi merasa terlindungi. Aku tidak lagi berpikir soal sesuatu yang tiba-tiba tidur di sampingku, tangan-tangan dingin yang menyentuh pipi, atau monster yang ingin menarik selimutku dari bawah tempat tidur.

Mbok sudah mewakili semuanya, tapi bedanya aku tidak takut melihatnya karena wujudnya hampir sama seperti manusia, hanya saja wajahnya lebih datar dan dingin. Dia wangi, dia mengenakan baju putih terang. Dan dia bukan kuntilanak.

***

SAAT itu aku kelas 4 SD. Aku ingat sekali, aku sering pulang sendiri berjalan kaki. Tapi aku takut karena sering dihadang ular di jalan. Saat itu jalan yang aku lalui sedang diaspal. Saat itu aku melihat Mbok ada di sampingku. Ia tersenyum. Ia wangi seperti biasa. Lalu aku digendong olehnya. Orang-orang yang tidak bisa melihat keberadaan Mbok mungkin melihatku seperti melayang atau mungkin mereka melihatku hanya berjalan melewati aspal-aspal yang basah itu tanpa takut lengket atau terkena panasnya. Tapi aku merasa tubuhku terangkat dan tiba-tiba saja aku sudah sampai di jalan yang tidak ada aspal yang lengket dan panas. Jadi begitu, setiap pulang sekolah Mbok selalu diam di sana dan menungguiku agar aku tidak diganggu oleh ular-ular nakal itu.

Aku suka bercanda dengan Mbok. Dia lucu dan agak usil. Jadi, aku ingat suatu ketika lampu kamar mandiku mati-hidup dengan sendirinya, dan juga air keran selalu menyala dan mati sendiri. Mbok memainkannya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang usil itu. Ia juga tertawa, atau lebih tepatnya menyeringai seperti yang dilakukan hantu, hemmm, aku tidak tahu Mbok ini hantu atau bukan.

Yang jelas dia baik sekali padaku, dan sudah aku anggap kakak sendiri. Ketika menjelang tidur, seperti biasa Mbok duduk di tepian kasur lalu memandangiku yang tertidur.

Di komplek tempat perumahanku hanya ada dua rumah yang baru rampung dan sisanya sawah juga sungai. Aku suka bermain sendiri di sungai itu. Airnya jernih dan suasananya tenang. Tapi, Mbok melarangku bermain di sungai itu, dia bilang di sana banyak ada ular. Sejak saat itu aku tidak berani lagi pergi atau bermain di sungai itu, menengok saja tidak. Aku sangat takut dengan ular, takut sekali. Untung ada Mbok yang selalu menjaga dan memperingatiku.

***

SUATU ketika aku sakit. Seluruh tubuhku panas. Sudah 3 minggu aku cuti dari sekolah gara-gara sakit. Ayah dan ibuku tidak tahu aku sakit apa. Sudah berbagai dokter spesialis didatangkan, aku belum juga sembuh dan mereka tidak mengerti aku sakit apa. Tapi, sesuatu seperti mengarahkan orang tuaku agar membawaku ke orang pintar.

Maka, berangkatlah kami ke sebuah tempat yang agak terpencil di antara rerimbunan hutan. Sambil digendong aku selalu bertanya ini di mana? Untuk apa ke sini? Aku juga selalu mengeluh tubuhku panas sekali. Seperti ingin mati rasanya. Berkali-kali aku selalu memanggil nama Mbok, Mbok, dan Mbok, tapi dia tidak datang juga. Kenapa justru di saat yang seperti ini ia tidak datang menemaniku? Sejak hari pertama aku sakit aku tidak melihat lagi keberadaannya.

Aku ingat ketika pulang sekolah, Mbok dan aku melewati sebuah pohon jambu air yang cukup besar. Buahnya merah ranum dan banyak sekali. Siang itu memang cukup terik, seragam sekolah sampai basah di bagian punggung oleh keringat. Keringat juga sudah bercucuran di dahi hingga poniku menjadi lepek tak beraturan.

Aku merengek pada Mbok, aku bilang aku haus. Aku ingin Mbok memetikkan beberapa jambu itu untukku. Mbok menolaknya. Kata Mbok pohon jambu itu bukan milikku dan aku tidak boleh memetik buahnya sembarangan, berbahaya. Tapi aku tetap keras kepala dan malah merajuk pada Mbok. Mbok sedikit kesal dengan tingkahku, tapi sepertinya ia tidak tega melihat raut wajahku yang sudah hampir menangis dengan mata yang berkaca-kaca.

Akhinya Mbok menjatuhkan beberapa buah jambu ke tanah dengan satu kibasan tangan. Aku melihatnya tapi orang lain mungkin hanya merasakan ada angin besar yang tiba-tiba menjatuhkan jambu-jambu itu. Aku melonjak kegirangan. Raut wajahku seketika ceria kembali. Lalala, aku memunguti satu demi satu jambu air yang berserakan di tanah sambil sesekali menggigitinya satu per satu. Mbok hanya tersenyum melihat tingkahku. Lalu, keesokan harinya sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku.

Kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku tidak suka tempat ini, lembap dan banyak barang-barang aneh, lalu wewangian dupa yang menyesakkan. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini, tapi apa daya tubuhku terlalu lemas untuk bergerak, bahkan berjalan. Aku masih di dekapan ayah, lalu mereka duduk menghadap orang pintar itu sambil memangku tubuhku. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, yang jelas dari pembicaraan yang aku tangkap, intinya mereka sedang membicarakan kondisiku lalu ritual-ritual untuk penyembuhanku.

Oia, yang lebih aneh lagi, orang pintar itu mengatakan bahwa aku terkena cetik, sejenis racun yang dikirim seseorang melalui makanan atau dikirim secara magis. Ia tahu aku pernah memungut buah di jalan dan memakannya. Aku juga disukai oleh makhluk halus karena dalam tubuhku terdapat sesuatu yang bila sesuatu itu didapatkan oleh orang yang menganut aliran sesat maka orang itu akan bertambah kesaktiannya. Jiwaku sudah ditahan di suatu tempat dan jika tidak segera diupacarai, maka aku akan mati. Begitulah orang pintar itu bercerita yang diiringi oleh isak tangis ayah dan ibuku.

***

TENTANG Mbok, dia tidak lagi menampakkan dirinya di mana pun. Terkadang aku rindu tingkahnya yang usil ketika memainkan lampu dan keran di kamar mandiku. Aku rindu wajahnya yang datar dan dingin. Aku rindu senyumnya yang menyeringai, juga aromanya yang wangi. Aku ingat Mbok selalu menggendongku ketika pulang sekolah, menjauhkan ular-ular itu dariku. Aaaa… Mbok, aku sangat merindukanmu. Aku menyesal telah memaksanya mengambilkan jambu-jambu itu. Pasti dia marah padaku. (T)

 

 

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Acep Zamzam Noor# Kwatrin Kegembiraan, Kwatrin Kesedihan

Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co