5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbok

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Cerpen: Putri Handayani

MALAM. Purnama. Hujan lebat. Aku meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhku tertelan habis dari ujung kaki hingga kepala. Setiap malam, saat masih terjaga, aku selalu menenggelamkan diri dalam selimut, karena aku penakut, apalagi sedang hujan lebat.

Aku takut kalau-kalau sesuatu tiba-tiba muncul dan berbaring di sampingku. Aku takut wajahku diraba oleh tangan-tangan dingin yang kesepian, atau ada yang menarik selimutku dari bawah kasur.

Aku sengaja tidak menutup tirai jendela agar ada secerca sinar purnama yang masuk melalui jendela-jendela itu, jadi kamarku tidak terlihat begitu gelap. Tapi aku kadang takut ketika pohon-pohon di luar jendela yang tertiup angin tiba-tiba membentuk siluet-siluet yang menyeramkan. Bergerak-gerak seperti tangan monster yang hendak mencengkramku.

Sesak. Gerah. Nafasku terengah. Titik-titik keringat mulai mengembun di sekitar dahiku. Aku masih meringkuk di balik selimut, sementara mata ini belum juga mengantuk. Kaki dan tanganku tiba-tiba berkeringat, aku tahu sesuatu pasti ada di sekitarku. Aku penasaran ingin mengintip keadaan di luar selimut tapi aku takut.

Bagaimana jika benar ada sesuatu? Aku menjadi benar-benar penasaran. Setelah beberapa saat berargumen dengan diri sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengintip ke luar selimut. Tanganku gemetar, kakiku semakin berkeringat. Kutarik sedikit demi sedikit tepian selimut yang menutupi wajahku.

Kuedarkan bola mataku ke seluruh penjuru kamar. Tembok kamar masih dihiasi siluet pepohonan yang menyeramkan. Tapi tunggu dulu. Ada sesuatu yang berbeda dari siluet-siluet itu. Mataku menangkap siluet seorang perempuan yang sedang duduk menyamping. Aku melihat lekukan dahinya, hidungnya, bibirnya, dagunya, juga aku melihat siluet rambutnya yang panjang.

Perlahan aku memalingkan wajahku ke kanan. Astaga! Spontan mulutku memekik kecil. Aku belum percaya apa yang kulihat. Benar saja, seorang perempuan tengah duduk dengan manis di tepi kanan kasurku. Ia menoleh kearahku.

Aku menutup mata dengan kelima jariku yang sedikit kurenggangkan. Percuma. Aku masih bisa melihatnya. Wajahnya datar, dingin, pucat. Tidak begitu cantik, tapi wajahnya meneduhkan. Ia tersenyum padaku. Ujung bibirku perlahan tertarik dan aku membalas senyumnya. Malam itu menjadi saksi pertemuan kami.

Aku tidak tahu namanya siapa, tapi aku sering memanggilnya Mbok. Mbok, ya.. pokoknya Mbok. Aku juga tidak tahu ia datang dari mana dan untuk apa. Yang jelas sejak malam purnama disertai hujan lebat itu, ia selalu datang dan memandangiku ketika tidur. Awalnya sangat aneh dan agak menakutkan, tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dengan hal itu.

Ajaib. Aku jadi tidak takut lagi sekarang karena ada Mbok yang selalu menjagaku tidur. Aku jadi merasa terlindungi. Aku tidak lagi berpikir soal sesuatu yang tiba-tiba tidur di sampingku, tangan-tangan dingin yang menyentuh pipi, atau monster yang ingin menarik selimutku dari bawah tempat tidur.

Mbok sudah mewakili semuanya, tapi bedanya aku tidak takut melihatnya karena wujudnya hampir sama seperti manusia, hanya saja wajahnya lebih datar dan dingin. Dia wangi, dia mengenakan baju putih terang. Dan dia bukan kuntilanak.

***

SAAT itu aku kelas 4 SD. Aku ingat sekali, aku sering pulang sendiri berjalan kaki. Tapi aku takut karena sering dihadang ular di jalan. Saat itu jalan yang aku lalui sedang diaspal. Saat itu aku melihat Mbok ada di sampingku. Ia tersenyum. Ia wangi seperti biasa. Lalu aku digendong olehnya. Orang-orang yang tidak bisa melihat keberadaan Mbok mungkin melihatku seperti melayang atau mungkin mereka melihatku hanya berjalan melewati aspal-aspal yang basah itu tanpa takut lengket atau terkena panasnya. Tapi aku merasa tubuhku terangkat dan tiba-tiba saja aku sudah sampai di jalan yang tidak ada aspal yang lengket dan panas. Jadi begitu, setiap pulang sekolah Mbok selalu diam di sana dan menungguiku agar aku tidak diganggu oleh ular-ular nakal itu.

Aku suka bercanda dengan Mbok. Dia lucu dan agak usil. Jadi, aku ingat suatu ketika lampu kamar mandiku mati-hidup dengan sendirinya, dan juga air keran selalu menyala dan mati sendiri. Mbok memainkannya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang usil itu. Ia juga tertawa, atau lebih tepatnya menyeringai seperti yang dilakukan hantu, hemmm, aku tidak tahu Mbok ini hantu atau bukan.

Yang jelas dia baik sekali padaku, dan sudah aku anggap kakak sendiri. Ketika menjelang tidur, seperti biasa Mbok duduk di tepian kasur lalu memandangiku yang tertidur.

Di komplek tempat perumahanku hanya ada dua rumah yang baru rampung dan sisanya sawah juga sungai. Aku suka bermain sendiri di sungai itu. Airnya jernih dan suasananya tenang. Tapi, Mbok melarangku bermain di sungai itu, dia bilang di sana banyak ada ular. Sejak saat itu aku tidak berani lagi pergi atau bermain di sungai itu, menengok saja tidak. Aku sangat takut dengan ular, takut sekali. Untung ada Mbok yang selalu menjaga dan memperingatiku.

***

SUATU ketika aku sakit. Seluruh tubuhku panas. Sudah 3 minggu aku cuti dari sekolah gara-gara sakit. Ayah dan ibuku tidak tahu aku sakit apa. Sudah berbagai dokter spesialis didatangkan, aku belum juga sembuh dan mereka tidak mengerti aku sakit apa. Tapi, sesuatu seperti mengarahkan orang tuaku agar membawaku ke orang pintar.

Maka, berangkatlah kami ke sebuah tempat yang agak terpencil di antara rerimbunan hutan. Sambil digendong aku selalu bertanya ini di mana? Untuk apa ke sini? Aku juga selalu mengeluh tubuhku panas sekali. Seperti ingin mati rasanya. Berkali-kali aku selalu memanggil nama Mbok, Mbok, dan Mbok, tapi dia tidak datang juga. Kenapa justru di saat yang seperti ini ia tidak datang menemaniku? Sejak hari pertama aku sakit aku tidak melihat lagi keberadaannya.

Aku ingat ketika pulang sekolah, Mbok dan aku melewati sebuah pohon jambu air yang cukup besar. Buahnya merah ranum dan banyak sekali. Siang itu memang cukup terik, seragam sekolah sampai basah di bagian punggung oleh keringat. Keringat juga sudah bercucuran di dahi hingga poniku menjadi lepek tak beraturan.

Aku merengek pada Mbok, aku bilang aku haus. Aku ingin Mbok memetikkan beberapa jambu itu untukku. Mbok menolaknya. Kata Mbok pohon jambu itu bukan milikku dan aku tidak boleh memetik buahnya sembarangan, berbahaya. Tapi aku tetap keras kepala dan malah merajuk pada Mbok. Mbok sedikit kesal dengan tingkahku, tapi sepertinya ia tidak tega melihat raut wajahku yang sudah hampir menangis dengan mata yang berkaca-kaca.

Akhinya Mbok menjatuhkan beberapa buah jambu ke tanah dengan satu kibasan tangan. Aku melihatnya tapi orang lain mungkin hanya merasakan ada angin besar yang tiba-tiba menjatuhkan jambu-jambu itu. Aku melonjak kegirangan. Raut wajahku seketika ceria kembali. Lalala, aku memunguti satu demi satu jambu air yang berserakan di tanah sambil sesekali menggigitinya satu per satu. Mbok hanya tersenyum melihat tingkahku. Lalu, keesokan harinya sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku.

Kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku tidak suka tempat ini, lembap dan banyak barang-barang aneh, lalu wewangian dupa yang menyesakkan. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini, tapi apa daya tubuhku terlalu lemas untuk bergerak, bahkan berjalan. Aku masih di dekapan ayah, lalu mereka duduk menghadap orang pintar itu sambil memangku tubuhku. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, yang jelas dari pembicaraan yang aku tangkap, intinya mereka sedang membicarakan kondisiku lalu ritual-ritual untuk penyembuhanku.

Oia, yang lebih aneh lagi, orang pintar itu mengatakan bahwa aku terkena cetik, sejenis racun yang dikirim seseorang melalui makanan atau dikirim secara magis. Ia tahu aku pernah memungut buah di jalan dan memakannya. Aku juga disukai oleh makhluk halus karena dalam tubuhku terdapat sesuatu yang bila sesuatu itu didapatkan oleh orang yang menganut aliran sesat maka orang itu akan bertambah kesaktiannya. Jiwaku sudah ditahan di suatu tempat dan jika tidak segera diupacarai, maka aku akan mati. Begitulah orang pintar itu bercerita yang diiringi oleh isak tangis ayah dan ibuku.

***

TENTANG Mbok, dia tidak lagi menampakkan dirinya di mana pun. Terkadang aku rindu tingkahnya yang usil ketika memainkan lampu dan keran di kamar mandiku. Aku rindu wajahnya yang datar dan dingin. Aku rindu senyumnya yang menyeringai, juga aromanya yang wangi. Aku ingat Mbok selalu menggendongku ketika pulang sekolah, menjauhkan ular-ular itu dariku. Aaaa… Mbok, aku sangat merindukanmu. Aku menyesal telah memaksanya mengambilkan jambu-jambu itu. Pasti dia marah padaku. (T)

 

 

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Acep Zamzam Noor# Kwatrin Kegembiraan, Kwatrin Kesedihan

Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co