23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
October 16, 2022
in Cerpen
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

tatkala.co | Wiradinata

Saat menikmati segelas susu kental manis coklat di teras, ketika hujan dengan riangnya bergurau bersama tanah, aku teringat padamu. Kulitmu yang kecoklatan dan senyum manismu.

Uap panas dari gelasku menggeliat manja. Menyeruak wangi menggoda ingin segera diteguk. Tentangmu bagai susu kental manis hangat. Menggiurkan untuk selalu bermain dalam sketsa hitam putih pikiranku. Menghangatkan.

Bait-bait indah terlantun dari Banda Neira, duo favorit kita lewat earphone yang kupasang ketat di telingaku. Hujan membuat suara mereka semakin merdu.  Kau menyukai sajak, aku pun begitu. Kita bisa berlama-lama saling terdiam menikmati sajak hati kita masing masing. Saling mengungkap rindu dalam diam.

Kuaman ada bersamamu..
Selamanya…
Sampai kita tua
Sampai jadi debu

“Sampai Jadi Debu” mengalun sayup. Kau sedang tak bersamaku. Aku hanya ditemani representasimu, segelas susu kental manis coklat yang hangat. Akankah kita menua bersama? Bersamamu aku seperti menemukan sosok yang hilang dalam hidupku. Sosok ayah.

Seseorang menarik earphone di telingaku. Ayah berdiri di sebelahku. Laki-laki 50 tahunan, berbadan tegap. Teman-temanku memujinya. Kata mereka ayahku mirip artis Tio Pakusadewo. Ayah menatapku dingin Ini bukan kali pertama, karena aku bukan anak gadis manis seperti kakakku yang selalu dia banggakan. Tatapan dingin hampir setiap hari kudapat.

“Mandi dan bantu kakakmu menyiapkan makan malam. Sebentar lagi keluarga Bapak Kusuma akan datang,” katanya datar.

Aku mengernyit.

“Siapa mereka? Apa keuntungan untukku jika mereka datang?” tanyaku sembari memasang kembali sumbat telinga yang mengalunkan lagu dari Efek Rumah Kaca.

Tidak ada jawaban yang kuterima. Ayah dengan tenang masuk ke dalam rumah meninggalkanku dan wajah tidak peduliku.

Tepat pukul 7 malam, keluarga Bapak Kusuma akan datang. Ini masih pukul 6 sore, Ajeng sudah siap dengan gaun terbaiknya dan berdandan lebih menor dari biasanya, menurutku. Ajeng berwajah sendu, lembut meneduhkan. Namun, kali ini wajahnya gusar dan menegang. Berkali-kali dia tampak menghela napas berat, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak mampu. Dia memang seperti itu, anak gadis manis yang penurut selalu menjadi kebanggaan ayah.

“Aku ingin menjadi sepertimu, Sekar,” ucapnya tiba-tiba di sela helaan napas tertahan.

Aku menoleh padanya tak percaya. “Kau mengigau?”

Ajeng menggeleng, dia mendekatkan kepalanya ke bahuku. Menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali membiarkannya menangis dan menyodorkan tisu padanya.

“Kenapa kau tidak menolak saja?” tanyaku akhirnya. Ajeng menggeleng lemah.

“Kau tahu bagaimana ayah. Aku tidak pernah bisa membantah apa perintah ayah. Kau tahu itu,” ucapnya lirih

Ajeng akan dijodohkan dengan anak laki-laki Pak Kusuma. Perjodohan demi kelangsungan silaturahmi keluarga, dalih ayah. Begitulah ayah, menganggap kami tak bernyawa, hanya boneka. Ajeng tidak pernah membantah. Aku mengira, Ajeng melakukan dengan sukacita semua yang ayah inginkan. Sebagian besar mungkin iya, namun tidak kali ini.

Ajeng merasa sesak, ingin meledak namun tak sanggup. Ajeng ingin sepertiku. Dia ingin bebas seperti adiknya. Menjadi penurut melelahkan, apalagi untuk urusan cinta. Ajeng telah jatuh hati pada laki-laki lain. Seseorang yang dikenalnya di sebuah yayasan penyandang disabilitas. Mereka sesama relawan, saling bertukar cerita dan jatuh cinta. Ayah sudah mengetahui hal itu, namun ia tidak menyetujui hubungan Ajeng.

Ayah selalu lebih peduli pada Ajeng. Sedangkan aku? Bagi ayah, aku seperti tidak ada. Segala urusan tentangku dilimpahkan kepada Ajeng. Kakakku mengurusku seperti seorang ibu. Sosok ibu memang kudapatkan darinya. Ibu kami meninggal saat melahirkanku. Kata orang, ibu bersikeras mempertahankanku di saat seharusnya aku tidak dilahirkan. Kondisi kesehatannya kala itu tidak memungkinkan untuk melahirkan lagi. Benar saja, beliau meninggal dan aku lahir. Kelahiran yang tidak diharapkan oleh ayah.

Ayah selalu tertawa dan tersenyum saat bersama Ajeng. Cahaya berpendar di matanya. Aku tidak pernah melihat hal itu jika dia sedang bersamaku. Tawa tak lepas dari bibirnya. Ayah hanya milik kakak yang penurut. Tidak ada ayah bagiku seberapa pun aku berusaha membuatnya senang. Apalagi aku penyebab ibu kehabisan darah saat memaksaku melihat dunia

Saat aku kecil, aku mengira dengan belajar giat dan meraih peringkat pertama di kelas akan membuatnya bangga. Ternyata tidak. Semua tentangku tidak membawa pengaruh apapun pada ayah. Aku berhenti menarik simpati ayah dengan menjadi juara kelas dan berprestasi di sekolah. Kuputuskan melakukan apapun yang aku inginkan.

Aku bolos sekolah, pulang larut malam demi mendapatkan sedikit saja rasa peduli darinya. Sampai-sampai aku juga abai akan perasaan Ajeng. Hingga saat ini, ketika dia melepaskan tangisnya di pundakku. Aku baru menyadari. Ajeng juga seorang manusia. Bukan boneka ayah. Ia selalu mengubur keinginannya sendiri demi kebahagiaan dan tawa ayah. Termasuk perihal perjodohan yang tidak ia inginkan.

Sepanjang pertemuan dengan keluarga Kusuma, Ajeng hanya terdiam. Tidak banyak yang dia ucapkan, hanya senyum-senyum kecil sekenanya yang dia tunjukkan untuk sekadar menjaga kesopanan dan nama baik ayah. Tampaknya ayah maupun keluarga Kusuma tidak menyadari sikap diam Ajeng. Mereka tertawa dan memutuskan tanggal pernikahan. Ajeng menerima tanpa membantah.

Ajeng kembali ke kamar dan mengunci diri. Aku membiarkan dia sendiri menenangkan perang batin yang sedang berlangsung sengit dalam hati dan kepalanya. Sedangkan suasana hati ayah tampak begitu riang. Dia bersenandung dan memutar musik kesukaannya di dalam kamar. Aku memilih membenamkan tubuhku di bawah selimut. Sambil mengingatmu. Lelaki susu kental manis hangatku.

Aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku bermimpi buruk. Aku bermimpi tentang Ajeng yang tertunduk sedih di atas sebuah batu besar. Wajahnya pucat dan lusuh. Aku bergegas meninggalkan kamarku dan berlari ke dapur. Biasanya Ajeng akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Tapi Ajeng tak di sana. Dapur masih kosong. Aku berjalan menuju kamar Ajeng, ayah sudah ada di depan kamar sambil mengetuk pintu. Tak ada jawaban.

Raut wajah ayah terlihat panik. Dia mengetuk dengan keras dan memanggil nama Ajeng. Tidak juga ada jawaban. Kesabarannya hilang, dengan keras ia mendobrak pintu kamar Ajeng. Pintu terbuka, mata ayah membelalak mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Apa yag dia lihat membuat sarafnya berhenti bekerja.

Aku menerobos masuk. Di pinggir ranjang Ajeng terduduk menunduk. Menggenggam sepucuk surat yang sebagian telah berwarna merah di tangan kanannya. Aku menghampiri tubuhnya. Tubuh kakakku yang hanya tinggal tubuh tanpa jiwa. Darah tergenang dari pergelangan tangan kirinya.

Aku bukan lagi gadis ayah yang penurut. Aku ingin duniaku sendiri. Aku ingin memilih sesuai kehendakku. aku bahkan iri pada burung-burung yang terbang dengan bebasnya. Aku iri pada Sekar yang memilih untuk membebaskan dirinya. Aku sudah memilih, memilih cinta untukku sendiri. Memilih lelaki milik wanita lain dan anaknya. Pilihanku salah, pada kali pertama aku mencoba membuat pilihan sendiri. Pilihan yang aku tahu tidak akan ayah setujui. Sekarang bolehkah aku membuat pilihanku lagi? Wal….

Surat terakhir Ajeng juga yang belum terselesaikan. Goresan terakhir begitu panjang. Dia belum sempat menyudahi kata-katanya saat ajal menarik paksa. Sesuai keinginannya, dia akhirnya menentukan jalannya sendiri. Kenangan–kenangan bersama Ajeng berputar di kepalaku. Caranya menyelipkan sisa rambut ikalnya di belakang telinga, mengerjapkan bulu matanya yang lentik, tertawanya yang tak terdengar bahkan caranya mendiamkanku jika sedang marah.

Jingga menyelimuti langit sore, gundukan tanah d ihadapanku masih basah. Ajeng tertidur dengan bangga di dalam sana. Bangga pada akhirnya dia menentukan nasibnya sendiri. Dia tidak akan pernah menua. Sepertimu juga lelaki susu kental manis coklat hangat, takkan pernah menua. Akupun tak kan pernah bisa menua bersamamu. Kau terkapar bersama jarum suntik dan cairan pembawa maut itu. Terbang bersama mereka tanpa sayap. Aku akan menua bersama romantisme sesaat kita. Aku memilih menua bersama ayahku. Ayah yang masih tidak peduli padaku. Ayah yang hanya bisa mengerjapkan mata, tidak bicara dan hanya membunyikan lonceng kecil yang aku letakkan di sisi ranjangnya.

Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

– Barasuara; Api dan Lentera

[][][]

BACA cerpen lain

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog ”Drupadi”, Gugatan Perempuan, Kekuatan Panggung dan Citraan Visual

Next Post

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co