24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Jaswanto by Jaswanto
August 20, 2025
in Persona
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

IA merapikan rambutnya yang panjang, yang digelung, lalu menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya. Duduk bersandar tiang balai di depan rumahnya yang sederhana, ia berkisah banyak hal tentang wayang Tejakula; tentang tokoh-tokohnya, motifnya, kisahnya, yang itu semua bermuara pada dirinya sendiri. Suaranya serak. “Maaf, tenggorokan lagi nggak enak,” terangnya. Tapi itu seperti bukan batu sandungan untuk tetap merokok dan lantang berbicara. Suara yang serak itu tampak seperti bukan gangguan, melainkan karakternya yang khas.

“Saya ambilkan beberapa wayang dulu,” ujar lelaki berambut panjang yang digelung itu sembari beranjak dari tempat duduknya. Ekor mata saya mengikutinya. Ia masuk rumah dan tak lagi terlihat. Tak selang lama, sosok itu muncul kembali dengan banyak wayang kulit di genggamannya. Berbagai tokoh wayang kulit itu ia taruh di lantai balai lalu ia mengambil salah satu dari mereka. “Ini Hanoman khas Tejakula,” ujarnya sembari tersenyum. “Buatan saya sendiri,” sambungnya kemudian. Saya terkagum.

Wayang Hanoman (Anoman: Jawa) itu begitu indah, berkarakter, catnya presisi—tak meluber-luber dan paduannya pas, dengan lubang-lubang tatahan yang detail. Di kaki depan Hanoman, terdapat beberapa lonceng kecil yang ketika ia digerakkan menimbulkan bunyi yang khas, seperti kaki penari Barong. Saya mengamatinya lekat-lekat.

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Hari menjelang siang ketika saya sampai di rumah Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa, dalang sekaligus perajin wayang kulit, di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Siang itu panas cukup membakar. Desa Tejakula bagian selatan terasa lengang. Gerah udara merambat dari ujung kepala sampai ke lipatan-lipatan badan—di beberapa bagian terasa lengket. Sedangkan debu tanah berputar-putar dibawa angin kemarau monsun timur.

“Menurut kalian, apa yang membedakan wayang Tejakula dengan wayang-wayang Bali pada umumnya?” tanya Jro Dalang kepada kami, tamu-tamunya. Tentu saja kami memilih diam dengan bibir tersungging daripada menjawab sesuatu yang kami tak tahu. Tapi saya merasa itu bukan murni pertanyaan, melainkan pemantik untuk obrolan yang lebih panjang.

“Ini,” katanya, menunjuk bagian leher wayang Hanoman. Saya melihat kalung berwujud ular berkulit kain poleng Bali di sana. “Ya, ini yang membedakan wayang khas Tejakula dengan wayang-wayang dari daerah lain di Bali,” jelasnya. Kami manggut-manggut, puas, seperti baru saja memecahkan sebuah teka-teki silang.

Lantas, apa dasarnya Jro Dalang mengatakan demikian? Jawabannya ada di dalam pamahbah—merujuk pada bagian awal atau prolog pertunjukan wayang kulit. Menurut Jro Dalang Catur, panggilan akrabnya, dalam pamahbah wayang kulit Tejakula dijelaskan ciri-ciri setiap tokoh pewayangan, dari fisik, busana, sampai sifat-sifatnya. Dari panduan itulah Jro Dalang Catur membuat wayang, selain memang begitulah bentuk wayang kulit Tejakula sejak dulu. Dalam khazanah pewayangan Jawa, perbedaan bentuk wayang di setiap daerah itu disebut gagrak, misalnya gagrak Yogyakarta atau gagrak Surakarta.

Wayang Hanoman khas Tejakula karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa lahir pada 23 Juli 1986. Lahir dari keluarga dalang—seniman pewayangan—di Tejakula, sejak kecil ia sudah akrab dengan kesenian wayang kulit. Ayahnya, Jro Dalang Made Sukadana, bisa dibilang dalang senior di Tejakula. Sedangkan kakeknya merupakan perajin wayang yang andal. Ia belajar membuat wayang sejak SD. Dan baru menjadi dalang sejak empat tahun yang lalu. Ia tak pernah sekolah pedalangan secara formal.

Meski demikian, awalnya Jro Dalang Catur tak ingin menjadi dalang—atau setidaknya menekuni dunia pewayangan. Ia ingin bebas, layaknya orang-orang pada umumnya. Namun, semesta berkehendak lain. Semakin menolak, leluhur seperti bertubi-tubi memberinya semacam “teguran”—untuk tidak mengatakan hukuman—sebagaimana banyak kisah spiritual semacam itu di Bali.

“Aku tidak dibunuh, tapi dibikin gila,” Jro Dalang bercerita. Saya menatapnya. Ada senyum samar di bibirnya. Dan ia terlihat serius, tidak sedang bercanda. “Tiga kali saya gila, sampai masuk RSJ Bangli.” Kami terkejut. Terus terang saya tidak sekali dua mendengar kisah semacam ini di Bali. Tapi baru kali ini saya mendengar dari orang yang mengalaminya secara langsung.

Panggilan “Jro Mangku Dalang” yang disematkan di depan namanya tidak bisa ditolak. Itu sudah kehendak Tuhan. Leluhur telah menentukan pilihannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya sebagai bentuk karunia-anugerah, alih-alih beban kehidupan. “Kalau saya tidak menerima kehendak itu, mungkin saya masih di RSJ Bangli sekarang,” ujarnya, kali ini ada sedikit tawa di ujung perkataannya. Kami ikut tertawa.

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa memperlihatkan teknik memahat kulit sapi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kisah seperti yang dialami Jro Dalang Catur banyak terjadi di Bali. Misalnya ada seorang yang ditetapkan atau ditunjuk Dewa sebagai pemangku—orang suci yang bertugas memimpin ritual, memberikan tuntunan spiritual kepada umat, dan menjaga kesucian pura—tapi ia menolak, biasanya hidup orang itu tidak akan jenak, ada saja “tegurannya”: kalau tidak kecelakaan, sakit, ya gila. Percaya tidak percaya, tapi buktinya ada. Hal-hal seperti ini memang sulit dijelaskan secara logika. Dan, tentu saja, banyak orang yang menganggapnya sebagai lelucon, tak masuk akal, dan bla bla bla. Tetapi saya memilih mempercayainya.

Angin monsun timur berembus. Menggerakkan wayang Bisma yang belum dicat, yang tercantel di kayu reng balai Jro Dalang Catur. Ada beberapa wayang yang masih berwarna putih polos di balai, salah duanya wayang Bisma dan Hanoman, yang ditunjukkan kepada kami. Selain itu, ada pula pola-pola gambar wayang di kertas—cetakan wayang, katakanlah begitu—, lembar-lembar kulit sapi yang belum diproses, dan beberapa alat pahat dengan mata yang berbeda-beda.

“Saya beli kulit sapi di daerah Darmasaba,” Jro Dalang menjawab pertanyaan saya. Lalu ia menjelaskan proses pengolahan kulit sapi menjadi wayang. Pertama, kulit sapi harus direndam semalaman di air bersih; lalu dijemur di bawah sinar matahari sampai teksturnya pas, tidak kaku pun tidak terlalu lentur. “Susah saya menjelaskan hal itu,” ujarnya sesaat setelah mengisap rokok lalu mengembuskan asapnya. “Pokoknya saya bisa merasakan bagaimana tekstur kulit yang sudah bisa diproses [disketsa, dipahat, dan diwarnai] atau belum.” Kami tertawa bersama. Saya tergoda untuk membakar sebatang rokok—yang kesekian kalinya.

Selain membuat wayang untuk kebutuhan pertunjukan sendiri, Jro Dalang Catur juga melayani pesanan dari banyak orang. Banyak dalang di Bali yang memesan wayang darinya. Pun pesanan dari orang-orang biasa untuk kebutuhan koleksi atau dekorasi. Tetapi, katanya, ia tak bisa diajak buru-buru. Membuat wayang adalah ketekunan dan kesabaran, bukan soal kecepatan, meski ia bisa mengerjakan satu wayang dalam seminggu.

Wayang Hanoman dan Boma karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Membuat wayang tak semudah kelihatannya, apalagi wayang Bali—yang harus ditonton melalui bayangan. Maka keahlian membuat wayang adalah sesuatu yang langka. Orang-orang seperti Jro Dalang Catur adalah—meminjam istilah Goenawan Mohamad (GM) di Catatan Pinggirnya—pencipta ilusi. Ia membuat kita menangkap kebijaksanaan Bisma, atau ketampanan Arjuna, meskipun wajah dan tubuh yang diraut di kulit sapi itu adalah sebuah distorsi, proporsinya abnormal. Seperti kata GM, berabad-abad ilusi itu hidup, bahwa orang bisa menangis, kagum dan sedih, menyaksikan benda yang sebenarnya hanya “walulang inukir”, kulit belulang yang diukir. Dalang adalah penyulap. Yang “maya”, yang semu, “bhawa siluman”, jadi nyata seperti manusia.

“Wayang Bali adalah bayangan. Tidak seperti wayang Jawa. Di situlah letak tantangannya. Saya harus membuat lubang serapi mungkin supaya terlihat bagus saat berhadapan dengan cahaya blencong [penerangan yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit],” terang Jro Dalang. Masuk akal. Wayang yang dikerjakan asal-asalan tentu akan mencipta bayangan yang tak estetik. Dan Jro Dalang Catur tak mau itu terjadi. Sebisa mungkin, dengan teknik dan pengalamannya, ia berusaha menciptakan wayang yang “hidup”. Dan jangan lupa, selain perajin wayang, Jro Dalang Catur juga seorang dalang aktif di Tejakula. Ia sering diundang dalam banyak acara warga. Maka dari itulah ia begitu menjiwai saat membuat wayang.

Dalang adalah penyair imajis, kata Goenawan Mohamad. Terladang ia bawakan imaji-imaji visual yang berbaur dengan efek bunyi, membentuk satu keseluruhan, sebuah “Gestalt”: sebuah  suasana yang tak mudah dianalisa. Tangan dan pita suara dalang, bentangan layar, sinar  blencong, irama dalam tembang dan getar dalam “suluk”, semuanya bertemu dengan kita, penonton, bukan hanya dalam komunikasi akal budi. Dalam teater total itu, makna lahir dari—untuk memakai teori Julia Kristeva—yang “semiotique”.

Wayang Hanoman khas Tejakula karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Mungkin itu sebabnya kita menerima dan terbawa oleh kosakata Kawi dan idiom para pujangga lama, yang dipakai para dalang di celah-celah “janturan”, meskipun kita tak memahaminya. Bagi saya, misalnya, “Swuh rep data pitana…” atau “hong ilahèng awigna mastu purnama…” adalah entah yang indah, variasi bunyi yang misterius dalam narasi yang memikat, tanpa bisa diterjemahkan,” tulis Goenawan Mohamad dalam Dalang di kolom “Catatan Pinggir” Majalah Tempo.

Siang beranjak. Gerah tak kunjung pergi. Sesaat setelah bercerita tentang kisah pertarungan antara Krishna dan Boma, yang mengharuskan Sri Krishna membelah dua: menjadi Garuda dan penunggangnya—yang banyak orang kenal sebagai Garuda Wisnu Kencana itu—, Jro Dalang Catur mengatakan bahwa tak ada lagi perajin wayang Tejakula kecuali dirinya. Oleh karena itu, ia juga berusaha mengajarkan keahliannya kepada generasi berikutnya.

“Selain belajar gender [instrumen gamelan Bali yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit], anak-anak sini [di sekitar rumahnya] kadang juga saya ajari membuat wayang,” kata Jro Dalang. Tampaknya, ia tak ingin wayang khas Tejakula berakhir di tangannya. Ia berharap akan lahir perajin-perajin selanjutnya—yang akan menambah hikayat wayang Tejakula menjadi lebih panjang, lebih panjang, dan lebih panjang lagi, selama-lamanya![T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Made Indra Sanjaya, Ayah Dalang, Dia Dalang Juga
Mengenal Daneswara Satya Swandaru, Dalang Cilik Berprestasi dari Gunungkidul
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija
Made Georgiana Triwinadi, Berkesenian Sejak Dalam Kandungan
Tags: DalangJro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwawayang Baliwayang kulitwayang Tejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Next Post

Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co