14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Jaswanto by Jaswanto
August 20, 2025
in Persona
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

IA merapikan rambutnya yang panjang, yang digelung, lalu menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya. Duduk bersandar tiang balai di depan rumahnya yang sederhana, ia berkisah banyak hal tentang wayang Tejakula; tentang tokoh-tokohnya, motifnya, kisahnya, yang itu semua bermuara pada dirinya sendiri. Suaranya serak. “Maaf, tenggorokan lagi nggak enak,” terangnya. Tapi itu seperti bukan batu sandungan untuk tetap merokok dan lantang berbicara. Suara yang serak itu tampak seperti bukan gangguan, melainkan karakternya yang khas.

“Saya ambilkan beberapa wayang dulu,” ujar lelaki berambut panjang yang digelung itu sembari beranjak dari tempat duduknya. Ekor mata saya mengikutinya. Ia masuk rumah dan tak lagi terlihat. Tak selang lama, sosok itu muncul kembali dengan banyak wayang kulit di genggamannya. Berbagai tokoh wayang kulit itu ia taruh di lantai balai lalu ia mengambil salah satu dari mereka. “Ini Hanoman khas Tejakula,” ujarnya sembari tersenyum. “Buatan saya sendiri,” sambungnya kemudian. Saya terkagum.

Wayang Hanoman (Anoman: Jawa) itu begitu indah, berkarakter, catnya presisi—tak meluber-luber dan paduannya pas, dengan lubang-lubang tatahan yang detail. Di kaki depan Hanoman, terdapat beberapa lonceng kecil yang ketika ia digerakkan menimbulkan bunyi yang khas, seperti kaki penari Barong. Saya mengamatinya lekat-lekat.

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Hari menjelang siang ketika saya sampai di rumah Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa, dalang sekaligus perajin wayang kulit, di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Siang itu panas cukup membakar. Desa Tejakula bagian selatan terasa lengang. Gerah udara merambat dari ujung kepala sampai ke lipatan-lipatan badan—di beberapa bagian terasa lengket. Sedangkan debu tanah berputar-putar dibawa angin kemarau monsun timur.

“Menurut kalian, apa yang membedakan wayang Tejakula dengan wayang-wayang Bali pada umumnya?” tanya Jro Dalang kepada kami, tamu-tamunya. Tentu saja kami memilih diam dengan bibir tersungging daripada menjawab sesuatu yang kami tak tahu. Tapi saya merasa itu bukan murni pertanyaan, melainkan pemantik untuk obrolan yang lebih panjang.

“Ini,” katanya, menunjuk bagian leher wayang Hanoman. Saya melihat kalung berwujud ular berkulit kain poleng Bali di sana. “Ya, ini yang membedakan wayang khas Tejakula dengan wayang-wayang dari daerah lain di Bali,” jelasnya. Kami manggut-manggut, puas, seperti baru saja memecahkan sebuah teka-teki silang.

Lantas, apa dasarnya Jro Dalang mengatakan demikian? Jawabannya ada di dalam pamahbah—merujuk pada bagian awal atau prolog pertunjukan wayang kulit. Menurut Jro Dalang Catur, panggilan akrabnya, dalam pamahbah wayang kulit Tejakula dijelaskan ciri-ciri setiap tokoh pewayangan, dari fisik, busana, sampai sifat-sifatnya. Dari panduan itulah Jro Dalang Catur membuat wayang, selain memang begitulah bentuk wayang kulit Tejakula sejak dulu. Dalam khazanah pewayangan Jawa, perbedaan bentuk wayang di setiap daerah itu disebut gagrak, misalnya gagrak Yogyakarta atau gagrak Surakarta.

Wayang Hanoman khas Tejakula karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa lahir pada 23 Juli 1986. Lahir dari keluarga dalang—seniman pewayangan—di Tejakula, sejak kecil ia sudah akrab dengan kesenian wayang kulit. Ayahnya, Jro Dalang Made Sukadana, bisa dibilang dalang senior di Tejakula. Sedangkan kakeknya merupakan perajin wayang yang andal. Ia belajar membuat wayang sejak SD. Dan baru menjadi dalang sejak empat tahun yang lalu. Ia tak pernah sekolah pedalangan secara formal.

Meski demikian, awalnya Jro Dalang Catur tak ingin menjadi dalang—atau setidaknya menekuni dunia pewayangan. Ia ingin bebas, layaknya orang-orang pada umumnya. Namun, semesta berkehendak lain. Semakin menolak, leluhur seperti bertubi-tubi memberinya semacam “teguran”—untuk tidak mengatakan hukuman—sebagaimana banyak kisah spiritual semacam itu di Bali.

“Aku tidak dibunuh, tapi dibikin gila,” Jro Dalang bercerita. Saya menatapnya. Ada senyum samar di bibirnya. Dan ia terlihat serius, tidak sedang bercanda. “Tiga kali saya gila, sampai masuk RSJ Bangli.” Kami terkejut. Terus terang saya tidak sekali dua mendengar kisah semacam ini di Bali. Tapi baru kali ini saya mendengar dari orang yang mengalaminya secara langsung.

Panggilan “Jro Mangku Dalang” yang disematkan di depan namanya tidak bisa ditolak. Itu sudah kehendak Tuhan. Leluhur telah menentukan pilihannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya sebagai bentuk karunia-anugerah, alih-alih beban kehidupan. “Kalau saya tidak menerima kehendak itu, mungkin saya masih di RSJ Bangli sekarang,” ujarnya, kali ini ada sedikit tawa di ujung perkataannya. Kami ikut tertawa.

Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa memperlihatkan teknik memahat kulit sapi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kisah seperti yang dialami Jro Dalang Catur banyak terjadi di Bali. Misalnya ada seorang yang ditetapkan atau ditunjuk Dewa sebagai pemangku—orang suci yang bertugas memimpin ritual, memberikan tuntunan spiritual kepada umat, dan menjaga kesucian pura—tapi ia menolak, biasanya hidup orang itu tidak akan jenak, ada saja “tegurannya”: kalau tidak kecelakaan, sakit, ya gila. Percaya tidak percaya, tapi buktinya ada. Hal-hal seperti ini memang sulit dijelaskan secara logika. Dan, tentu saja, banyak orang yang menganggapnya sebagai lelucon, tak masuk akal, dan bla bla bla. Tetapi saya memilih mempercayainya.

Angin monsun timur berembus. Menggerakkan wayang Bisma yang belum dicat, yang tercantel di kayu reng balai Jro Dalang Catur. Ada beberapa wayang yang masih berwarna putih polos di balai, salah duanya wayang Bisma dan Hanoman, yang ditunjukkan kepada kami. Selain itu, ada pula pola-pola gambar wayang di kertas—cetakan wayang, katakanlah begitu—, lembar-lembar kulit sapi yang belum diproses, dan beberapa alat pahat dengan mata yang berbeda-beda.

“Saya beli kulit sapi di daerah Darmasaba,” Jro Dalang menjawab pertanyaan saya. Lalu ia menjelaskan proses pengolahan kulit sapi menjadi wayang. Pertama, kulit sapi harus direndam semalaman di air bersih; lalu dijemur di bawah sinar matahari sampai teksturnya pas, tidak kaku pun tidak terlalu lentur. “Susah saya menjelaskan hal itu,” ujarnya sesaat setelah mengisap rokok lalu mengembuskan asapnya. “Pokoknya saya bisa merasakan bagaimana tekstur kulit yang sudah bisa diproses [disketsa, dipahat, dan diwarnai] atau belum.” Kami tertawa bersama. Saya tergoda untuk membakar sebatang rokok—yang kesekian kalinya.

Selain membuat wayang untuk kebutuhan pertunjukan sendiri, Jro Dalang Catur juga melayani pesanan dari banyak orang. Banyak dalang di Bali yang memesan wayang darinya. Pun pesanan dari orang-orang biasa untuk kebutuhan koleksi atau dekorasi. Tetapi, katanya, ia tak bisa diajak buru-buru. Membuat wayang adalah ketekunan dan kesabaran, bukan soal kecepatan, meski ia bisa mengerjakan satu wayang dalam seminggu.

Wayang Hanoman dan Boma karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Membuat wayang tak semudah kelihatannya, apalagi wayang Bali—yang harus ditonton melalui bayangan. Maka keahlian membuat wayang adalah sesuatu yang langka. Orang-orang seperti Jro Dalang Catur adalah—meminjam istilah Goenawan Mohamad (GM) di Catatan Pinggirnya—pencipta ilusi. Ia membuat kita menangkap kebijaksanaan Bisma, atau ketampanan Arjuna, meskipun wajah dan tubuh yang diraut di kulit sapi itu adalah sebuah distorsi, proporsinya abnormal. Seperti kata GM, berabad-abad ilusi itu hidup, bahwa orang bisa menangis, kagum dan sedih, menyaksikan benda yang sebenarnya hanya “walulang inukir”, kulit belulang yang diukir. Dalang adalah penyulap. Yang “maya”, yang semu, “bhawa siluman”, jadi nyata seperti manusia.

“Wayang Bali adalah bayangan. Tidak seperti wayang Jawa. Di situlah letak tantangannya. Saya harus membuat lubang serapi mungkin supaya terlihat bagus saat berhadapan dengan cahaya blencong [penerangan yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit],” terang Jro Dalang. Masuk akal. Wayang yang dikerjakan asal-asalan tentu akan mencipta bayangan yang tak estetik. Dan Jro Dalang Catur tak mau itu terjadi. Sebisa mungkin, dengan teknik dan pengalamannya, ia berusaha menciptakan wayang yang “hidup”. Dan jangan lupa, selain perajin wayang, Jro Dalang Catur juga seorang dalang aktif di Tejakula. Ia sering diundang dalam banyak acara warga. Maka dari itulah ia begitu menjiwai saat membuat wayang.

Dalang adalah penyair imajis, kata Goenawan Mohamad. Terladang ia bawakan imaji-imaji visual yang berbaur dengan efek bunyi, membentuk satu keseluruhan, sebuah “Gestalt”: sebuah  suasana yang tak mudah dianalisa. Tangan dan pita suara dalang, bentangan layar, sinar  blencong, irama dalam tembang dan getar dalam “suluk”, semuanya bertemu dengan kita, penonton, bukan hanya dalam komunikasi akal budi. Dalam teater total itu, makna lahir dari—untuk memakai teori Julia Kristeva—yang “semiotique”.

Wayang Hanoman khas Tejakula karya Jro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Mungkin itu sebabnya kita menerima dan terbawa oleh kosakata Kawi dan idiom para pujangga lama, yang dipakai para dalang di celah-celah “janturan”, meskipun kita tak memahaminya. Bagi saya, misalnya, “Swuh rep data pitana…” atau “hong ilahèng awigna mastu purnama…” adalah entah yang indah, variasi bunyi yang misterius dalam narasi yang memikat, tanpa bisa diterjemahkan,” tulis Goenawan Mohamad dalam Dalang di kolom “Catatan Pinggir” Majalah Tempo.

Siang beranjak. Gerah tak kunjung pergi. Sesaat setelah bercerita tentang kisah pertarungan antara Krishna dan Boma, yang mengharuskan Sri Krishna membelah dua: menjadi Garuda dan penunggangnya—yang banyak orang kenal sebagai Garuda Wisnu Kencana itu—, Jro Dalang Catur mengatakan bahwa tak ada lagi perajin wayang Tejakula kecuali dirinya. Oleh karena itu, ia juga berusaha mengajarkan keahliannya kepada generasi berikutnya.

“Selain belajar gender [instrumen gamelan Bali yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit], anak-anak sini [di sekitar rumahnya] kadang juga saya ajari membuat wayang,” kata Jro Dalang. Tampaknya, ia tak ingin wayang khas Tejakula berakhir di tangannya. Ia berharap akan lahir perajin-perajin selanjutnya—yang akan menambah hikayat wayang Tejakula menjadi lebih panjang, lebih panjang, dan lebih panjang lagi, selama-lamanya![T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Made Indra Sanjaya, Ayah Dalang, Dia Dalang Juga
Mengenal Daneswara Satya Swandaru, Dalang Cilik Berprestasi dari Gunungkidul
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija
Made Georgiana Triwinadi, Berkesenian Sejak Dalam Kandungan
Tags: DalangJro Mangku Dalang Ketut Catur Supartiwawayang Baliwayang kulitwayang Tejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Next Post

Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Arjuna Wiwaha, Cerita Bersambung dalam Pameran “The Beauty of Wayang” di Pustaka Bali Seni Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co