4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 4, 2024
in Esai
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Sija | Foto diambil dari akun facebook Dayu Arya Dayu Ani

“Saat itu hati saya girang tak terungkapkan. Bapa Sija (Dalang Sija, Gianyar) berkenan datang mendalang dan memberkati anak saya. Beliau panutan semua dalang yang menekuni pedalangan klasik Bali, seorang maestro seni pewayangan Bali, penerima penghargaan tertinggi bagi seniman Indonesia dari Presiden RI. Kesederhanaan hidup dan kesantunannya senantiasa membuat saya malu.”

Kalimat itu disampaikan budayawan dan filolog Sugi Lanus dalam tulisannya yang berjudul “Blencong, Api di Luar dan Api di Dalam” yang dimuat tatkala.co.

Dalam artikel itu, Sugi Lanus tidak secara khusus menulis Dalang Sija, melainkan menulis tentang kemuliaan dunia pedalangan yang ia kenal. Dalam artikel itu ia melukiskan rasa senangnya karena bisa mengundang Dalang Sija dalam upacara tiga bulanan (105 hari) anaknya itu. Rasa senang seperti yang dirasakan Sugi Lanus tentu juga dirasakan oleh para orang tua yang lain di Bali—orang tua yang bisa mengundang dalang idola mereka untuk memberkati anak mereka dalam upacara tiga bulanan atau otonan.

Dalang Sija, atau biasa dipanggil Bapa Sija, memang dalang idola yang disegani, baik oleh para dalang maupun oleh warga biasa di Bali, bukan hanya di masa lalu, namun juga di zaman modern ini. Ia bernama lengkap Made Sija.

Ia sangat senang dipanggi Bapa. Bapa adalah panggilan terhormat bagi laki-laki Bali dari kalangan biasa. Ia lahir di Bona, Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada suatu hari di tahun 1932.  

Dan pada usia lewat dari 90 tahun ini Bapa Sija menutup usianya. Ia berpulang pada Senin, 3 Juni 2024, dinihari, sekitar pukul 01.00 wita.

 “Bapak memang ada riwayat penyakit jantung, setahun lalu,” kata Wayan Sira, anak Bapa Sija ketika dihubungi lewat WA.

***

Berpulangnya Bapa Sija tentu meninggalkan duka. Bukan hanya duka bagi keluarga, bukan hanya duka bagi warga pedalangan, melainkan juga duka bagi seniman dan siapa pun yang mengabdi pada dunia kesenian.

Bapa Sija dikenal sebagai pengabdi yang teguh pada dunia seni. Ia dikenal sebagai seniman multidimensi: pencipta wayang arja, pembuat sarad, penari, undagi, pelukis, yang menjadi guru banyak murid.

“Saya orang miskin yang berkecukupan,” akunya, sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Sarad. 

“Orang miskin yang berkecukupan” adalah ungkapan yang punya makna seluas samudera sedalam inti bumi. Ia tidak kaya, tapi tak pernah merasa kurang. Kesenian memenuhi segala hasrat dan segala hal yang dibutuhkan untuk mengabdi pada hidup.

Maka itu, Mas Ruscitadewi, seorang seniman sastra dan teater, mengungkapkan rasa kehilangannya lewat puisi. Puisi itu diunggah di laman facebook ketika ia mendengar kabar duka tentang berpulangnya Bapa Sija.

Saget Bapa Matanai
(Katur ring Bapa Made Sidja)

Bapa, kelire jimbar
Blenconge ngabar-abar
Bianglala masunar
nglanar
lawang pesu mulih
tan paipi

Bapa, lelampane jingga
Tanah dilapin baa
Munyi bangras
Tingkahe rengas
Tuara misi
Mapi-mapi

Laut bapa kedek
Nimpalin krebek
Magoba ombeh
Seseh semeleh

Saget bapa matanai
Galangin

Terjemahannya:

Seketika Bapa Matahari
(Persembahan untuk Bapa Made Sidja)

Bapa, layar lebar
Blencongnya berkobar-kobar
Bianglala bersinar
Nanar
Pintu pulang pergi
Tanpa mimpi

Bapa, lakonnya jingga
Tanah terbakar bara
Suara pedas
Lakunya keras
Tanpa isi
Ngaku-aku

Lalu bapa tertawa
Temani guruh bergema
Wajah tak terkira
Aneka rupa

Seketika bapa matahari
Menerangi

Meski telah berpulang, nyujur sunia loka, Bapa Sija tetap akan menerangi, seperti matahari. Sama seperti ketika ia hidup. Ia telah memberi makna, bukan hanya bagi kehidupan berkesenian di Bona, melainkan juga di seluruh Bali, juga di luar Bali.  

Makna hidup dalam dunia kesenian, terutama dalam dunia pedalangan, ia sudah cari sejak masih kanak-kanak. Ia berhenti besekolah karena merasa tak mendapatkan pelajaran seni di sekolah. Dan setelah berhenti, ia kemudian belajar menulis aksara Bali, lalu belajar mendalang.

Ada empat dalang pada masa ia muda, yakni Bapa Granyam, Bapa Cetug, Bapa Gayung dan Bapa Rawa. Semua dalang itu berada di Banjar Bakbakan, Sukawati, Gianyar.

Ia belajar pada Bapa Granyam. Dan Bapa Sija pun menjadi dalang muda yang mulai kerap diupah untuk mendalang.

“Karena saat itu, saya yang masih muda banyak tawaran ngwayang,”ujar Bapa Sija sebagaimana ditulis Tribun Bali.

Bapa Sija hingga tua tetap mengabdi dalam dunia kesenian. Banyak anak-anak muda belajar ke rumahnya untuk mendapatkan ilmu pedalangan, juga ilmu metembang, juga ilmu menari, dan lain-lain. Ia bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu, dan karena itu banyak dalang lahir dari tangan dingin didikannya.

Mas Ruscitadewi, bahkan pernah dengan tekun belajar pada Bapa Sija, untuk mengembangkan ilmu teater modern yang ditekuninya. Jadi, untuk urusan kesenian masa kini semacam teater modern,  Bapa Sija tetap menjadi sumber ilmu.

Barangkali karena itulah, salah satu anaknya, Made Sidia dianggap berhasil mengembangkan wayang listrik sebagai upaya-upaya kreatif untuk membawa pedalangan kepada dunia yang lebih luas. Semangat untuk mengembangkan wayang listrik, tentu didapat dari Bapa Sija yang tak pernah bosan mengabdi agar dunia pedalangan terus bergerak, terus disukai, terus diminati, terus dipelajari, hingga sampai kapan pun.

Bapa Sija meninggalkan 6 anak. Dua anaknya tetap melanjutkan pengabdian Bapa Sija dalam mengembangkan dunia pedalangan, yakni Wayan Sira dan Made Sidia.

Majalah Sarad pernah menulis, Made Sija adalah seniman yang tipikal Bali. Ia menjadikan seni sebagai sebuah esensi. Ia ingin seni digeluti  intens oleh keturunannya.

Made Sidia, anaknya, adalah dosen pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, disegani oleh banyak seniman mancanegara. Ia sering berkolaborasi dengan seniman-seniman  luar negeri. Dan pengaruh sang ayah sebagai dalang melekat kuat pada sang anak.

Bapa Sija tentu saja sangat bangga pada kesempatan-kesempatan yang berhasil direbut oleh darah dagingnya. Ia berhasil membuktikan, daya pikat Bali, keotentikannya, memang benar-benar pada kesenian. Sija mengajak siapa pun seniman yang menjadikan seni sebagai tempat mewujudkan rasa bakti, hendaklah juga menjadikannya sebagai pilihan hidup.  

***

Upacara puncak pelebon Bapa Sija akan dilaksanakan 15 Juni 2024 di Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar.

“Api lampu blencong dan kelir wayang punya daya getar. Perpaduan keduanya bisa memberi urip (nafas hidup), seiring tiupan angin yang menggoyang-goyang api blencong, sosok wayang kulit menjadi hidup. Ukirannya membayang penuh kemegahan. Api dan bayang ini terus berkerja sekalipun kelir dan blencong telah ditutup”.

Demikian saya kutip tulisan Sugi Lanus di tatkala.co. Blencong dan kelir wayang yang punya daya getar itu, meski sudah ditutup, bisa dibayangkan adalah Bapa Sija.  Selamat jalan, Bapa. Tetaplah mendalang di kedituan. [T]


Penulis/Editor: Made Adnyana Ole

“Blencong”, Api di Luar dan Api di Dalam

Tags: Desa BonaGianyarin memoriamMade Sijapedalanganpewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Next Post

Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Kisah Cinta yang Mendewasakan -- Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co