24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 4, 2024
in Esai
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Sija | Foto diambil dari akun facebook Dayu Arya Dayu Ani

“Saat itu hati saya girang tak terungkapkan. Bapa Sija (Dalang Sija, Gianyar) berkenan datang mendalang dan memberkati anak saya. Beliau panutan semua dalang yang menekuni pedalangan klasik Bali, seorang maestro seni pewayangan Bali, penerima penghargaan tertinggi bagi seniman Indonesia dari Presiden RI. Kesederhanaan hidup dan kesantunannya senantiasa membuat saya malu.”

Kalimat itu disampaikan budayawan dan filolog Sugi Lanus dalam tulisannya yang berjudul “Blencong, Api di Luar dan Api di Dalam” yang dimuat tatkala.co.

Dalam artikel itu, Sugi Lanus tidak secara khusus menulis Dalang Sija, melainkan menulis tentang kemuliaan dunia pedalangan yang ia kenal. Dalam artikel itu ia melukiskan rasa senangnya karena bisa mengundang Dalang Sija dalam upacara tiga bulanan (105 hari) anaknya itu. Rasa senang seperti yang dirasakan Sugi Lanus tentu juga dirasakan oleh para orang tua yang lain di Bali—orang tua yang bisa mengundang dalang idola mereka untuk memberkati anak mereka dalam upacara tiga bulanan atau otonan.

Dalang Sija, atau biasa dipanggil Bapa Sija, memang dalang idola yang disegani, baik oleh para dalang maupun oleh warga biasa di Bali, bukan hanya di masa lalu, namun juga di zaman modern ini. Ia bernama lengkap Made Sija.

Ia sangat senang dipanggi Bapa. Bapa adalah panggilan terhormat bagi laki-laki Bali dari kalangan biasa. Ia lahir di Bona, Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada suatu hari di tahun 1932.  

Dan pada usia lewat dari 90 tahun ini Bapa Sija menutup usianya. Ia berpulang pada Senin, 3 Juni 2024, dinihari, sekitar pukul 01.00 wita.

 “Bapak memang ada riwayat penyakit jantung, setahun lalu,” kata Wayan Sira, anak Bapa Sija ketika dihubungi lewat WA.

***

Berpulangnya Bapa Sija tentu meninggalkan duka. Bukan hanya duka bagi keluarga, bukan hanya duka bagi warga pedalangan, melainkan juga duka bagi seniman dan siapa pun yang mengabdi pada dunia kesenian.

Bapa Sija dikenal sebagai pengabdi yang teguh pada dunia seni. Ia dikenal sebagai seniman multidimensi: pencipta wayang arja, pembuat sarad, penari, undagi, pelukis, yang menjadi guru banyak murid.

“Saya orang miskin yang berkecukupan,” akunya, sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Sarad. 

“Orang miskin yang berkecukupan” adalah ungkapan yang punya makna seluas samudera sedalam inti bumi. Ia tidak kaya, tapi tak pernah merasa kurang. Kesenian memenuhi segala hasrat dan segala hal yang dibutuhkan untuk mengabdi pada hidup.

Maka itu, Mas Ruscitadewi, seorang seniman sastra dan teater, mengungkapkan rasa kehilangannya lewat puisi. Puisi itu diunggah di laman facebook ketika ia mendengar kabar duka tentang berpulangnya Bapa Sija.

Saget Bapa Matanai
(Katur ring Bapa Made Sidja)

Bapa, kelire jimbar
Blenconge ngabar-abar
Bianglala masunar
nglanar
lawang pesu mulih
tan paipi

Bapa, lelampane jingga
Tanah dilapin baa
Munyi bangras
Tingkahe rengas
Tuara misi
Mapi-mapi

Laut bapa kedek
Nimpalin krebek
Magoba ombeh
Seseh semeleh

Saget bapa matanai
Galangin

Terjemahannya:

Seketika Bapa Matahari
(Persembahan untuk Bapa Made Sidja)

Bapa, layar lebar
Blencongnya berkobar-kobar
Bianglala bersinar
Nanar
Pintu pulang pergi
Tanpa mimpi

Bapa, lakonnya jingga
Tanah terbakar bara
Suara pedas
Lakunya keras
Tanpa isi
Ngaku-aku

Lalu bapa tertawa
Temani guruh bergema
Wajah tak terkira
Aneka rupa

Seketika bapa matahari
Menerangi

Meski telah berpulang, nyujur sunia loka, Bapa Sija tetap akan menerangi, seperti matahari. Sama seperti ketika ia hidup. Ia telah memberi makna, bukan hanya bagi kehidupan berkesenian di Bona, melainkan juga di seluruh Bali, juga di luar Bali.  

Makna hidup dalam dunia kesenian, terutama dalam dunia pedalangan, ia sudah cari sejak masih kanak-kanak. Ia berhenti besekolah karena merasa tak mendapatkan pelajaran seni di sekolah. Dan setelah berhenti, ia kemudian belajar menulis aksara Bali, lalu belajar mendalang.

Ada empat dalang pada masa ia muda, yakni Bapa Granyam, Bapa Cetug, Bapa Gayung dan Bapa Rawa. Semua dalang itu berada di Banjar Bakbakan, Sukawati, Gianyar.

Ia belajar pada Bapa Granyam. Dan Bapa Sija pun menjadi dalang muda yang mulai kerap diupah untuk mendalang.

“Karena saat itu, saya yang masih muda banyak tawaran ngwayang,”ujar Bapa Sija sebagaimana ditulis Tribun Bali.

Bapa Sija hingga tua tetap mengabdi dalam dunia kesenian. Banyak anak-anak muda belajar ke rumahnya untuk mendapatkan ilmu pedalangan, juga ilmu metembang, juga ilmu menari, dan lain-lain. Ia bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu, dan karena itu banyak dalang lahir dari tangan dingin didikannya.

Mas Ruscitadewi, bahkan pernah dengan tekun belajar pada Bapa Sija, untuk mengembangkan ilmu teater modern yang ditekuninya. Jadi, untuk urusan kesenian masa kini semacam teater modern,  Bapa Sija tetap menjadi sumber ilmu.

Barangkali karena itulah, salah satu anaknya, Made Sidia dianggap berhasil mengembangkan wayang listrik sebagai upaya-upaya kreatif untuk membawa pedalangan kepada dunia yang lebih luas. Semangat untuk mengembangkan wayang listrik, tentu didapat dari Bapa Sija yang tak pernah bosan mengabdi agar dunia pedalangan terus bergerak, terus disukai, terus diminati, terus dipelajari, hingga sampai kapan pun.

Bapa Sija meninggalkan 6 anak. Dua anaknya tetap melanjutkan pengabdian Bapa Sija dalam mengembangkan dunia pedalangan, yakni Wayan Sira dan Made Sidia.

Majalah Sarad pernah menulis, Made Sija adalah seniman yang tipikal Bali. Ia menjadikan seni sebagai sebuah esensi. Ia ingin seni digeluti  intens oleh keturunannya.

Made Sidia, anaknya, adalah dosen pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, disegani oleh banyak seniman mancanegara. Ia sering berkolaborasi dengan seniman-seniman  luar negeri. Dan pengaruh sang ayah sebagai dalang melekat kuat pada sang anak.

Bapa Sija tentu saja sangat bangga pada kesempatan-kesempatan yang berhasil direbut oleh darah dagingnya. Ia berhasil membuktikan, daya pikat Bali, keotentikannya, memang benar-benar pada kesenian. Sija mengajak siapa pun seniman yang menjadikan seni sebagai tempat mewujudkan rasa bakti, hendaklah juga menjadikannya sebagai pilihan hidup.  

***

Upacara puncak pelebon Bapa Sija akan dilaksanakan 15 Juni 2024 di Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar.

“Api lampu blencong dan kelir wayang punya daya getar. Perpaduan keduanya bisa memberi urip (nafas hidup), seiring tiupan angin yang menggoyang-goyang api blencong, sosok wayang kulit menjadi hidup. Ukirannya membayang penuh kemegahan. Api dan bayang ini terus berkerja sekalipun kelir dan blencong telah ditutup”.

Demikian saya kutip tulisan Sugi Lanus di tatkala.co. Blencong dan kelir wayang yang punya daya getar itu, meski sudah ditutup, bisa dibayangkan adalah Bapa Sija.  Selamat jalan, Bapa. Tetaplah mendalang di kedituan. [T]


Penulis/Editor: Made Adnyana Ole

“Blencong”, Api di Luar dan Api di Dalam

Tags: Desa BonaGianyarin memoriamMade Sijapedalanganpewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Next Post

Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Kisah Cinta yang Mendewasakan -- Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co