15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 4, 2024
in Esai
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Sija | Foto diambil dari akun facebook Dayu Arya Dayu Ani

“Saat itu hati saya girang tak terungkapkan. Bapa Sija (Dalang Sija, Gianyar) berkenan datang mendalang dan memberkati anak saya. Beliau panutan semua dalang yang menekuni pedalangan klasik Bali, seorang maestro seni pewayangan Bali, penerima penghargaan tertinggi bagi seniman Indonesia dari Presiden RI. Kesederhanaan hidup dan kesantunannya senantiasa membuat saya malu.”

Kalimat itu disampaikan budayawan dan filolog Sugi Lanus dalam tulisannya yang berjudul “Blencong, Api di Luar dan Api di Dalam” yang dimuat tatkala.co.

Dalam artikel itu, Sugi Lanus tidak secara khusus menulis Dalang Sija, melainkan menulis tentang kemuliaan dunia pedalangan yang ia kenal. Dalam artikel itu ia melukiskan rasa senangnya karena bisa mengundang Dalang Sija dalam upacara tiga bulanan (105 hari) anaknya itu. Rasa senang seperti yang dirasakan Sugi Lanus tentu juga dirasakan oleh para orang tua yang lain di Bali—orang tua yang bisa mengundang dalang idola mereka untuk memberkati anak mereka dalam upacara tiga bulanan atau otonan.

Dalang Sija, atau biasa dipanggil Bapa Sija, memang dalang idola yang disegani, baik oleh para dalang maupun oleh warga biasa di Bali, bukan hanya di masa lalu, namun juga di zaman modern ini. Ia bernama lengkap Made Sija.

Ia sangat senang dipanggi Bapa. Bapa adalah panggilan terhormat bagi laki-laki Bali dari kalangan biasa. Ia lahir di Bona, Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada suatu hari di tahun 1932.  

Dan pada usia lewat dari 90 tahun ini Bapa Sija menutup usianya. Ia berpulang pada Senin, 3 Juni 2024, dinihari, sekitar pukul 01.00 wita.

 “Bapak memang ada riwayat penyakit jantung, setahun lalu,” kata Wayan Sira, anak Bapa Sija ketika dihubungi lewat WA.

***

Berpulangnya Bapa Sija tentu meninggalkan duka. Bukan hanya duka bagi keluarga, bukan hanya duka bagi warga pedalangan, melainkan juga duka bagi seniman dan siapa pun yang mengabdi pada dunia kesenian.

Bapa Sija dikenal sebagai pengabdi yang teguh pada dunia seni. Ia dikenal sebagai seniman multidimensi: pencipta wayang arja, pembuat sarad, penari, undagi, pelukis, yang menjadi guru banyak murid.

“Saya orang miskin yang berkecukupan,” akunya, sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Sarad. 

“Orang miskin yang berkecukupan” adalah ungkapan yang punya makna seluas samudera sedalam inti bumi. Ia tidak kaya, tapi tak pernah merasa kurang. Kesenian memenuhi segala hasrat dan segala hal yang dibutuhkan untuk mengabdi pada hidup.

Maka itu, Mas Ruscitadewi, seorang seniman sastra dan teater, mengungkapkan rasa kehilangannya lewat puisi. Puisi itu diunggah di laman facebook ketika ia mendengar kabar duka tentang berpulangnya Bapa Sija.

Saget Bapa Matanai
(Katur ring Bapa Made Sidja)

Bapa, kelire jimbar
Blenconge ngabar-abar
Bianglala masunar
nglanar
lawang pesu mulih
tan paipi

Bapa, lelampane jingga
Tanah dilapin baa
Munyi bangras
Tingkahe rengas
Tuara misi
Mapi-mapi

Laut bapa kedek
Nimpalin krebek
Magoba ombeh
Seseh semeleh

Saget bapa matanai
Galangin

Terjemahannya:

Seketika Bapa Matahari
(Persembahan untuk Bapa Made Sidja)

Bapa, layar lebar
Blencongnya berkobar-kobar
Bianglala bersinar
Nanar
Pintu pulang pergi
Tanpa mimpi

Bapa, lakonnya jingga
Tanah terbakar bara
Suara pedas
Lakunya keras
Tanpa isi
Ngaku-aku

Lalu bapa tertawa
Temani guruh bergema
Wajah tak terkira
Aneka rupa

Seketika bapa matahari
Menerangi

Meski telah berpulang, nyujur sunia loka, Bapa Sija tetap akan menerangi, seperti matahari. Sama seperti ketika ia hidup. Ia telah memberi makna, bukan hanya bagi kehidupan berkesenian di Bona, melainkan juga di seluruh Bali, juga di luar Bali.  

Makna hidup dalam dunia kesenian, terutama dalam dunia pedalangan, ia sudah cari sejak masih kanak-kanak. Ia berhenti besekolah karena merasa tak mendapatkan pelajaran seni di sekolah. Dan setelah berhenti, ia kemudian belajar menulis aksara Bali, lalu belajar mendalang.

Ada empat dalang pada masa ia muda, yakni Bapa Granyam, Bapa Cetug, Bapa Gayung dan Bapa Rawa. Semua dalang itu berada di Banjar Bakbakan, Sukawati, Gianyar.

Ia belajar pada Bapa Granyam. Dan Bapa Sija pun menjadi dalang muda yang mulai kerap diupah untuk mendalang.

“Karena saat itu, saya yang masih muda banyak tawaran ngwayang,”ujar Bapa Sija sebagaimana ditulis Tribun Bali.

Bapa Sija hingga tua tetap mengabdi dalam dunia kesenian. Banyak anak-anak muda belajar ke rumahnya untuk mendapatkan ilmu pedalangan, juga ilmu metembang, juga ilmu menari, dan lain-lain. Ia bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu, dan karena itu banyak dalang lahir dari tangan dingin didikannya.

Mas Ruscitadewi, bahkan pernah dengan tekun belajar pada Bapa Sija, untuk mengembangkan ilmu teater modern yang ditekuninya. Jadi, untuk urusan kesenian masa kini semacam teater modern,  Bapa Sija tetap menjadi sumber ilmu.

Barangkali karena itulah, salah satu anaknya, Made Sidia dianggap berhasil mengembangkan wayang listrik sebagai upaya-upaya kreatif untuk membawa pedalangan kepada dunia yang lebih luas. Semangat untuk mengembangkan wayang listrik, tentu didapat dari Bapa Sija yang tak pernah bosan mengabdi agar dunia pedalangan terus bergerak, terus disukai, terus diminati, terus dipelajari, hingga sampai kapan pun.

Bapa Sija meninggalkan 6 anak. Dua anaknya tetap melanjutkan pengabdian Bapa Sija dalam mengembangkan dunia pedalangan, yakni Wayan Sira dan Made Sidia.

Majalah Sarad pernah menulis, Made Sija adalah seniman yang tipikal Bali. Ia menjadikan seni sebagai sebuah esensi. Ia ingin seni digeluti  intens oleh keturunannya.

Made Sidia, anaknya, adalah dosen pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, disegani oleh banyak seniman mancanegara. Ia sering berkolaborasi dengan seniman-seniman  luar negeri. Dan pengaruh sang ayah sebagai dalang melekat kuat pada sang anak.

Bapa Sija tentu saja sangat bangga pada kesempatan-kesempatan yang berhasil direbut oleh darah dagingnya. Ia berhasil membuktikan, daya pikat Bali, keotentikannya, memang benar-benar pada kesenian. Sija mengajak siapa pun seniman yang menjadikan seni sebagai tempat mewujudkan rasa bakti, hendaklah juga menjadikannya sebagai pilihan hidup.  

***

Upacara puncak pelebon Bapa Sija akan dilaksanakan 15 Juni 2024 di Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar.

“Api lampu blencong dan kelir wayang punya daya getar. Perpaduan keduanya bisa memberi urip (nafas hidup), seiring tiupan angin yang menggoyang-goyang api blencong, sosok wayang kulit menjadi hidup. Ukirannya membayang penuh kemegahan. Api dan bayang ini terus berkerja sekalipun kelir dan blencong telah ditutup”.

Demikian saya kutip tulisan Sugi Lanus di tatkala.co. Blencong dan kelir wayang yang punya daya getar itu, meski sudah ditutup, bisa dibayangkan adalah Bapa Sija.  Selamat jalan, Bapa. Tetaplah mendalang di kedituan. [T]


Penulis/Editor: Made Adnyana Ole

“Blencong”, Api di Luar dan Api di Dalam

Tags: Desa BonaGianyarin memoriamMade Sijapedalanganpewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Next Post

Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Kisah Cinta yang Mendewasakan -- Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co