4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 4, 2024
in Esai
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Made Sija | Foto diambil dari akun facebook Dayu Arya Dayu Ani

“Saat itu hati saya girang tak terungkapkan. Bapa Sija (Dalang Sija, Gianyar) berkenan datang mendalang dan memberkati anak saya. Beliau panutan semua dalang yang menekuni pedalangan klasik Bali, seorang maestro seni pewayangan Bali, penerima penghargaan tertinggi bagi seniman Indonesia dari Presiden RI. Kesederhanaan hidup dan kesantunannya senantiasa membuat saya malu.”

Kalimat itu disampaikan budayawan dan filolog Sugi Lanus dalam tulisannya yang berjudul “Blencong, Api di Luar dan Api di Dalam” yang dimuat tatkala.co.

Dalam artikel itu, Sugi Lanus tidak secara khusus menulis Dalang Sija, melainkan menulis tentang kemuliaan dunia pedalangan yang ia kenal. Dalam artikel itu ia melukiskan rasa senangnya karena bisa mengundang Dalang Sija dalam upacara tiga bulanan (105 hari) anaknya itu. Rasa senang seperti yang dirasakan Sugi Lanus tentu juga dirasakan oleh para orang tua yang lain di Bali—orang tua yang bisa mengundang dalang idola mereka untuk memberkati anak mereka dalam upacara tiga bulanan atau otonan.

Dalang Sija, atau biasa dipanggil Bapa Sija, memang dalang idola yang disegani, baik oleh para dalang maupun oleh warga biasa di Bali, bukan hanya di masa lalu, namun juga di zaman modern ini. Ia bernama lengkap Made Sija.

Ia sangat senang dipanggi Bapa. Bapa adalah panggilan terhormat bagi laki-laki Bali dari kalangan biasa. Ia lahir di Bona, Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada suatu hari di tahun 1932.  

Dan pada usia lewat dari 90 tahun ini Bapa Sija menutup usianya. Ia berpulang pada Senin, 3 Juni 2024, dinihari, sekitar pukul 01.00 wita.

 “Bapak memang ada riwayat penyakit jantung, setahun lalu,” kata Wayan Sira, anak Bapa Sija ketika dihubungi lewat WA.

***

Berpulangnya Bapa Sija tentu meninggalkan duka. Bukan hanya duka bagi keluarga, bukan hanya duka bagi warga pedalangan, melainkan juga duka bagi seniman dan siapa pun yang mengabdi pada dunia kesenian.

Bapa Sija dikenal sebagai pengabdi yang teguh pada dunia seni. Ia dikenal sebagai seniman multidimensi: pencipta wayang arja, pembuat sarad, penari, undagi, pelukis, yang menjadi guru banyak murid.

“Saya orang miskin yang berkecukupan,” akunya, sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Sarad. 

“Orang miskin yang berkecukupan” adalah ungkapan yang punya makna seluas samudera sedalam inti bumi. Ia tidak kaya, tapi tak pernah merasa kurang. Kesenian memenuhi segala hasrat dan segala hal yang dibutuhkan untuk mengabdi pada hidup.

Maka itu, Mas Ruscitadewi, seorang seniman sastra dan teater, mengungkapkan rasa kehilangannya lewat puisi. Puisi itu diunggah di laman facebook ketika ia mendengar kabar duka tentang berpulangnya Bapa Sija.

Saget Bapa Matanai
(Katur ring Bapa Made Sidja)

Bapa, kelire jimbar
Blenconge ngabar-abar
Bianglala masunar
nglanar
lawang pesu mulih
tan paipi

Bapa, lelampane jingga
Tanah dilapin baa
Munyi bangras
Tingkahe rengas
Tuara misi
Mapi-mapi

Laut bapa kedek
Nimpalin krebek
Magoba ombeh
Seseh semeleh

Saget bapa matanai
Galangin

Terjemahannya:

Seketika Bapa Matahari
(Persembahan untuk Bapa Made Sidja)

Bapa, layar lebar
Blencongnya berkobar-kobar
Bianglala bersinar
Nanar
Pintu pulang pergi
Tanpa mimpi

Bapa, lakonnya jingga
Tanah terbakar bara
Suara pedas
Lakunya keras
Tanpa isi
Ngaku-aku

Lalu bapa tertawa
Temani guruh bergema
Wajah tak terkira
Aneka rupa

Seketika bapa matahari
Menerangi

Meski telah berpulang, nyujur sunia loka, Bapa Sija tetap akan menerangi, seperti matahari. Sama seperti ketika ia hidup. Ia telah memberi makna, bukan hanya bagi kehidupan berkesenian di Bona, melainkan juga di seluruh Bali, juga di luar Bali.  

Makna hidup dalam dunia kesenian, terutama dalam dunia pedalangan, ia sudah cari sejak masih kanak-kanak. Ia berhenti besekolah karena merasa tak mendapatkan pelajaran seni di sekolah. Dan setelah berhenti, ia kemudian belajar menulis aksara Bali, lalu belajar mendalang.

Ada empat dalang pada masa ia muda, yakni Bapa Granyam, Bapa Cetug, Bapa Gayung dan Bapa Rawa. Semua dalang itu berada di Banjar Bakbakan, Sukawati, Gianyar.

Ia belajar pada Bapa Granyam. Dan Bapa Sija pun menjadi dalang muda yang mulai kerap diupah untuk mendalang.

“Karena saat itu, saya yang masih muda banyak tawaran ngwayang,”ujar Bapa Sija sebagaimana ditulis Tribun Bali.

Bapa Sija hingga tua tetap mengabdi dalam dunia kesenian. Banyak anak-anak muda belajar ke rumahnya untuk mendapatkan ilmu pedalangan, juga ilmu metembang, juga ilmu menari, dan lain-lain. Ia bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu, dan karena itu banyak dalang lahir dari tangan dingin didikannya.

Mas Ruscitadewi, bahkan pernah dengan tekun belajar pada Bapa Sija, untuk mengembangkan ilmu teater modern yang ditekuninya. Jadi, untuk urusan kesenian masa kini semacam teater modern,  Bapa Sija tetap menjadi sumber ilmu.

Barangkali karena itulah, salah satu anaknya, Made Sidia dianggap berhasil mengembangkan wayang listrik sebagai upaya-upaya kreatif untuk membawa pedalangan kepada dunia yang lebih luas. Semangat untuk mengembangkan wayang listrik, tentu didapat dari Bapa Sija yang tak pernah bosan mengabdi agar dunia pedalangan terus bergerak, terus disukai, terus diminati, terus dipelajari, hingga sampai kapan pun.

Bapa Sija meninggalkan 6 anak. Dua anaknya tetap melanjutkan pengabdian Bapa Sija dalam mengembangkan dunia pedalangan, yakni Wayan Sira dan Made Sidia.

Majalah Sarad pernah menulis, Made Sija adalah seniman yang tipikal Bali. Ia menjadikan seni sebagai sebuah esensi. Ia ingin seni digeluti  intens oleh keturunannya.

Made Sidia, anaknya, adalah dosen pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, disegani oleh banyak seniman mancanegara. Ia sering berkolaborasi dengan seniman-seniman  luar negeri. Dan pengaruh sang ayah sebagai dalang melekat kuat pada sang anak.

Bapa Sija tentu saja sangat bangga pada kesempatan-kesempatan yang berhasil direbut oleh darah dagingnya. Ia berhasil membuktikan, daya pikat Bali, keotentikannya, memang benar-benar pada kesenian. Sija mengajak siapa pun seniman yang menjadikan seni sebagai tempat mewujudkan rasa bakti, hendaklah juga menjadikannya sebagai pilihan hidup.  

***

Upacara puncak pelebon Bapa Sija akan dilaksanakan 15 Juni 2024 di Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar.

“Api lampu blencong dan kelir wayang punya daya getar. Perpaduan keduanya bisa memberi urip (nafas hidup), seiring tiupan angin yang menggoyang-goyang api blencong, sosok wayang kulit menjadi hidup. Ukirannya membayang penuh kemegahan. Api dan bayang ini terus berkerja sekalipun kelir dan blencong telah ditutup”.

Demikian saya kutip tulisan Sugi Lanus di tatkala.co. Blencong dan kelir wayang yang punya daya getar itu, meski sudah ditutup, bisa dibayangkan adalah Bapa Sija.  Selamat jalan, Bapa. Tetaplah mendalang di kedituan. [T]


Penulis/Editor: Made Adnyana Ole

“Blencong”, Api di Luar dan Api di Dalam

Tags: Desa BonaGianyarin memoriamMade Sijapedalanganpewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Next Post

Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Kisah Cinta yang Mendewasakan -- Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co