25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Jaswanto by Jaswanto
June 3, 2024
in Khas
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi

Gong mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero | Foto: Rusdy

DI panggung Sasana Budaya sisi timur, sebarung gong kebyar tanpa ukiran di ancak-nya ditata sedemikian rapi. Seperangkat gong dengan penyangga kayu bergaris biru muda dan putih itu, berhadap-hadapan dengan gong berancak ukiran—yang terkesan sangat mewah—yang terletak di panggung sebelah barat. Gong-gong itu diam seribu bahasa sebelum para penabuh memainkannya.

Suasana sekitar panggung pementasan sudah tampak ramai. Dari anak-anak, remaja, sampai orang tua, berduyun-duyun, datang dari berbagai arah. Mereka duduk bergerombol dan berderet di tribune-tribune Sasana Budaya sambil berbincang, merokok, dan menikmati kudapan.

Pangung, lampu, dan segala piranti pendukung pertunjukan sudah siap. Pewara mempersilakan para penabuh untuk memasuki panggung. Ia memanggil penabuh dari Sekaa Eka Wakya dari Banjar Paketan untuk masuk terlebih dahulu. Para penabuh Eka Wakya muncul dari sisi timur—representasi dangin njung. Sesaat setelah Sekaa Eka Wakya menempati posisinya, dari sisi barat—representasi dauh njung—penabuh Sanggar Seni Wahana Santhi Desa Umejero memasuki panggung.

Suasana gong mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero serangkaian acara Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram | Foto: Rusdy

Kedua grup gong kebyar sudah berada di atas panggung dan para penabuhnya sudah menempati posisi masing-masing. Dan inilah gong mebarung antara Sekaa Eka Wakya dengan Sanggar Seni Wahana Santhi dalam acara Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram di Sasana Budaya, Jumat (31/5/2024) malam.

Ada empat materi tabuh, tanpa tari, yang ditampilkan pada mebarung kali ini. Masing-masing sekaa menampilkan dua tabuh. Sekaa Eka Wakya membawakan tabuh Nem Lelambatan “Galang Kangin” Style Banjar Paketan dan Tabuh Tari Subali Sugriwa. Sedangkan Sanggar Seni Wahana Santhi membawakan tabuh Terunajaya dan Taruna II.

Sanggar Eka Wakya lebih dulu mendapat kesempatan untuk unjuk kebolehan. Di tribun Sasana Budaya, orang-orang bersorak dan tepuk tangan pecah di sana. Suasana sangat ramai—dan seharusnya memang demikian. Mebarung tanpa keramaian itu rasanya memang ada yang kurang.

Penabuh Eka Wakya—sekaa gong Banjar Paketan yang pada 1926 dipimpin oleh Pan Sasih berdasarkan catatan yang ada dalam Soerat Nomor 68 tanggal 25 November 1926 oleh Poenggawa Diestriet Boeleleng itu—mulai memainkan gamelan kebanggan mereka. Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin mengentak, memenuhi ruangan Sasana Budaya. Temponya mengeras, cepat, melambat, seperti tak terduga.

Penabuh terompong menunjukkan keahliannya. Bergantian dengan ugal, terompong memimpin melodi. Sedangkan kendang, gangsa, gong, pemade, jublag, jegog, reyong, seruling, dan cengceng membuat utuh komposisi tersebut. Semua instrumen sama-sama memiliki peran penting. Tak ada yang satu lebih penting daripada yang lain. Semua menyatu menjadi komposisi yang, tak hanya enak didengar, tapi barangkali juga membangkitkan ingatan-ingatan masa silam orang-orang tua yang hadir malam itu.

Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin tentu saja bukan tabuh baru dalam panggung kekebyaran. Tabuh ini digubah sekitar tahun 1950-an oleh tangan dingin Wayan Beratha—seniman yang dianggap sebagai pembaharu gamelan kebyar. Pada kisaran tahun tersebut, bersama Gde Manik dan I Gusti Agung Made Kertha (purnawirawan TNI AD), I Wayan Beratha membina sekaa gong Banjar Paketan, Singaraja.

Sekitar tahun 1968, Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin dianggap telah mencapai kejayaannya. Dan dalam perkembangannya, tabuh ini memiliki sejumlah versi yang berbeda.

Sekaa Eka Wakya Banjar Paketan saat mebarung di Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram | Foto: Rusdy

Pada kisaran tahun tersebut, dua pembina tabuh di Banjar Paketan, Bapa Ketut Dasna dan Bapa Ketut Supatra—yang berasal dari Desa Munduk—menyempurnakan tabuh ini dengan menambahkan pengawit, angsel-angsel, dan kekotekan-kekotekan. Sehingga, lahirlah Tabuh Galang Kangin Style Banjar Paketan seperti yang dibawakan Sekaa Eka Wakya kemarin malam.

Namun, seiring perkembangan zaman, tabuh ini sudah jarang dibawakan, memang. Tetapi beruntung, tokoh-tokoh Sekaa Eka Wakya Banjar Paketan masih mau dan mampu merekonstruksinya kembali, sehingga pecinta dan penikmat kesenian gong kebyar hari ini masih bisa mendengarkan, menyaksikan, dan barangkali mempelajarinya.

“Saya bertahun-tahun merekonstruksi Tabuh Galang Kangin, sampai berkunjung ke desa-desa karena banyak versi. Saya ke Ambengan, Sangket, Menyali, Sawan, Bebetin, sampai Buleleng bagian timur untuk menggali dan memastikan bahwa Tabuh Galang Kangin yang sebenarnya itu bagaimana,” ujar Dek Pas Kocok Wirsutha, seniman Sekaa Eka Wakya yang bernama asli Kadek Pasca Wirsutha itu seusai mebarung.

Kurang lebih lima belas menit Nem Lelambatan Galang Kangin mendaulat Sasana Budaya. Penonton, sekali lagi, bersorak memberi apresiasi.

Suasana kembali riuh saat pewara mempersilakan Sanggar Seni Wahana Santhi memainkan gamelannya. Seperti tak mau kalah, para penabuh muda-mudi itu, dengan semangat meluap, mulai unjuk kebolehan. Sebagaimana telah disinggung di awal, Sanggar Seni Wahana Santhi membawakan Tabuh Terunajaya karya sang maestro Gde Manik.

Dalam sinopsis karya yang ditayangkan di layar di panggung pementasan dan yang dibacakan pewara sebelum penabuh memainkan gamelan, Terunajaya disebut sebagai tabuh versi pendek dari Kebyar Legong ciptaan Wayan Paraupan pada tahun 1914. Nama Terunajaya sendiri konon diberikan oleh Ir. Soekarno ketika menyaksikan pertunjukkan di Istana Tampak Siring.

Masih dalam sumber yang sama, secara kompositorik, komposisi Terunajaya didominasi oleh tekstur bapang dengan skema kontras yang ditunjukkan dalam setiap perubahan tempo, dari cepat menuju lambat, pada bagian pengadeng. Komposisi ini memperlihatkan konsistensi tonika dalam menempatkan figur nada dung dan ding sebagai identitas yang mendominasi dan menempati posisi penting dalam durasi siklus meter.

Dalam komposisi Terunajaya, menurut keterangan dalam sinopsis, skema elastisitasnya tidak hanya ditunjukkan pada rangkaian struktural yang terintegrasi, tapi juga terdapat pada bagian lainnya seperti pada pengadeng—penggandaan dari kontur bapang yang berdurasi delapan ketukan itu.

Tak sampai di situ, teknik kamuflase dengan menempatkan ornamentasi tekstur gangsa dan elaborasi ugal juga turut memberikan pengayaan yang kompleks, sehingga persepsi kita tentang satu substansi yang sesungguhnya sama adalah berbeda.

Salah satu bagian menarik pada komposisi Terunajaya versi Jageraga—berdasarkan rekaman Bali Barong tahun 1974—adalah munculnya pukulan gong secara tiba-tiba pada setiap aksen “byang” reyong pada posisi off-beat. Pada versi komposisi ini, peranan gong secara substansial tidak hanya dipersepsi sebagai tanda awal atau akhir dari suatu siklus melodi, tetapi (peranannya) semakin dimaksimalkan untuk mengartikulasikan kebyar yang datang secara tiba-tiba.

Namun, terlepas dari teori-konsep Terunajaya, malam itu, para penabuh dari sanggar yang berdiri sejak tahun 2016 itu tampak bersemangat dan seolah menjiwai spirit Terunajaya yang memang mewakili gelora anak muda. Pemain ugal (instrumen yang memimpin melodi), sambil menggerakkan kedua tangannya, juga menggerakkan kepalanya mengikuti nada yang dimainkan—kepalanya tampak seperti menari.

Sanggar Seni Wahana Santhi Desa Umejero saat mebarung di Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram | Foto: Rusdy

Selesai Terunajaya dimainkan, kini giliran Sekaa Eka Wakya menunjukkan repertoar Tabuh Tari Subali Sugriwa hasil rekonstruksi Made Keranca dan I Made Pasca Wirsutha. Tari Subali Sugriwa juga tercipta sekitar tahun 1950-an. Tari ini diciptakan oleh I Wayan Beratha bersama Gde Manik.

“Tari Subali Sugriwa direkontruksi dan diaransemen kembali oleh Mayor (Purn) TNI AD I Gusti Agung Made Kertha (Mayor Kertha)  dengan menata kekotekan dan kekebyaran yang dinamis pada tahun 1960-an saat membina di Banjar Paketan,” Dek Pas Kocok menjelaskan.

Menurut Kocok, Tari Subali Sugriwa bisa dibilang menjadi tari kebesaran Banjar Paketan. Jika Jagaraga memiliki Terunajaya dan Kedis memiliki Wiranjaya, maka Banjar Paketan mempunyai Subali Sugriwa. Tetapi, Subali Sugriwa tak hanya ada di Banjar Paketan saja, di Jagaraga juga ada. “Gaya Jagaraga lebih panjang daripada versi Banjar Paketan,” kata Kocok.

Gong mebarung dalam acara Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram ini semakin malam semakin meriah. Sampai saat Tabuh Subali Sugriwa selesai dipentaskan, orang-orang masih bertahan di tempat duduk masing-masing, hanya barang dua atau tiga orang saja yang memilih untuk tidak menyaksikan dan mendengarkan tabuh selanjutnya, yakni Taruna II, tabuh terakhir yang dimainkan malam itu.

Taruna II, sebagaimana tertulis dalam sinopsis, adalah komposisi musik baru dalam gamelan gong kebyar yang lahir dari pikiran I Ketut Pany Ryandhi, komponis muda Buleleng yang sedang mekar saat ini. Tabuh ini dibawakan oleh Sanggar Seni Wahana Santhi dengan sangat baik.

Komposisi garapan Pany ini merupakan upaya reintepretasi terhadap tekstur kebyar dalam komposisi Terunajaya karya Gede Manik yang menjauhkan stigma kebyar sebagai tekstur dengan fitur meter non-siklis, fluktuasi tempo secara mendadak.

Menurut Pany dalam sinopsis karyanya, penerapan berbagai teknik komposisi, seperti retrograde pada tekstur kotekan, augmentasi lintas strata, tempo, adalah upaya kamuflatif yang menjadi dasar pijakan berkomposisi. Pola ocak-ocakan pada bagian akhir mengadopsi fitur bapang dengan tidak lagi mempertahankan aturan kolotomik yang menandai jarak-jarak temporal secara simetris dan konsisten.

Hal-Hal yang Menarik

Pada gong mebarung antara Banjar Paketan dan Desa Umejero kemarin terdapat beberapa hal yang berbeda dan menarik untuk dibahas. Selain perbedaan materi yang dibawakan, jenis gong dan rata-rata usia penabuh juga berbeda. Sekaa Eka Wakya Banjar Paketan membawa dua tabuh hasil rekonstruksi sedangkan Sanggar Seni Wahana Santhi menghidangkan dua tabuh hasil reinterpretasi Terunajaya karya Gde Manik.

Kata “rekonstruksi” dan “reinterpretasi” tentu memiliki makna yang berbeda. Rekonstruksi berasal dari kata “konstruksi” yang berarti pembangunan. Kata tersebut kemudian ditambah imbuhan “re” menjadi “rekonstruksi”. Jadi, rekonstruksi dapat diartikan membangun kembali atau mengembalikan seperti semula. Dan memang begitulah yang dilakukan Sekaa Eka Wakya. Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin dan Subali sugriwa, sekali lagi, bukan karya baru—atau hasil ciptaan baru—dalam jagat gong kebyar.

Berbeda dengan apa yang dilakukan Sekaa Eka Wakya, Sanggar Seni Wahana Santhi (dalam hal ini I Ketut Pany Ryandhi) lebih memilih menafsir kembali (reinterpretasi) komposisi Terunajaya yang sudah “mapan”. Penafsiran ulang ini dilakukan atas dasar pembacaan dekat Pany Ryandhi atas komposisi yang termuat dalam karya yang melambungkan nama Gde Manik itu.

“Selain dihubungkan dengan berbagai intrik komposisi musik, Terunajaya juga terdiri dari diam; sebuah refleksi yang mengingatkan sejauh mana semuanya berlalu, dan bagaimana mengantisipasi masa depan,” terang I Ketut Pany Ryandhi, komponis muda Buleleng, pada saat bincang seniman seusai kedua sekaa gong sama-sama menampilkan tabuh-tabuhnya.

Dek Pas Kocok Wiesutha (kiri), Ketut Pany Ryandhi (tengah), dan Wayan Gde Yudane (kanan) saat “Bincang Seniman” seusai gong mebarung | Foto: Rusdy

Sebagai seniman sekaligus intelektual-akademis, Pany mencoba menawarkan, seperti yang telah disinggung di atas, pembacaan “baru” atas Terunajaya. Menurutnya, dengan menjauhkannya dari konvensi tradisi, itu akan memungkinkan kita melihat sesuatu di masa depan.

Pany memiliki pemikiran bahwa dalam Terunajaya ada ruang diam—bahkan dalam Taruna II, selain memasukkan rebab, ia juga menambahkan permainan-permainan kecil yang nyaris tak terdengar. Baginya, karya ini  terbuka atas tafsir—dan itulah spirit yang ingin ia sampaikan.

“Saya bisa memainkan gamelan dari kebyar. Dan saat memainkannya, seolah saya mendapat semangat lain. Sebenarnya saya sulit mengutarakannya dengan kata-kata. Tetapi, saat mendengarkan atau memainkan kebyar, saya merasakan kebebasan,” ujar Pany.

Selain materi tabuh, gong yang masing-masing grup mainkan juga berbeda. Sekaa Eka Wakya menggunakan gamelan berbilah yang dipacek, sedangkan Sanggar Seni Wahana Santhi memainkan gamalen berbilah yang digantung. Dalam khazanah gong kebyar, menurut sebagian orang, dua jenis gong ini identik dengan utara dan selatan. Gong mepacek mewakili Bali Utara, sedangkan gong megantung mewakili Bali Selatan.

Namun, malam itu, tak jelas apa alasan atau pertimbangan kedua grup memilih gamelan yang berbeda. Tapi menurut Dek Pas Kocok, mungkin, itu hanya soal teknis saja. “Gaya (tabuh) Buleleng itu kan cepat dan banyak kekotekan, terutama gending-gending kunonya. Makanya, mungkin, saat memaki gamelan mepacek, itu lebih tekek—kukuh,” ujarnya.

Sekadar menyebut satu hal lagi, jika penabuh dari Sekaa Eka Wakya semua berjenis kelamin laki-laki—dan beberapa sudah berusia lanjut, sebaliknya, Sanggar Seni Wahana Santhi justru terdiri dari laki-laki dan perempuan—dan semua masih sangat muda. Percampuran penabuh di Sanggar Seni Wahana Santhi seolah menunjukkan bahwa karakter mereka sangat terbuka (tidak konservatif), menjunjung kesetaraan, dan berpikiran lebih maju.

Sampai di sini, terlepas dari banyak hal di atas, gong mebarung adalah warisan masa silam yang membawa semangat konstruktif antarseniman. Dari gong mebarung seniman belajar menguji diri dan barangkali juga mendapat “pengakuan” dari sana. Ini semacam medan laga untuk unjuk “kesaktian”.

Maka wajar jika di masa-masa awal Kebyar, sebagaimana percakapan Edward Herbst dengan I Made Monog (2007), sekaa-sekaa zaman dulu bahkan sampai mengirim mata-mata—untuk pergi memanjat pohon sekitar tempat latihan lawan dalam jarak sependengaran dan sepengelihatan—dengan harapan dapat mengetahui ciptaan terkini yang akan dipertandingkan oleh kelompok lawan dalam perlombaan (mebarung) berikutnya.

Namun, walau “persaingan” (mebarung) merangsang kreativitas, dunia seni—dalam hal ini gong kebyar—di Bali tidak serta-merta hanya terbangun dari itu saja, tapi juga berkembang dari hasil kerja sama yang baik dan erat antara seniman dari berbagai desa dan daerah yang berbeda, sebagaimana dicatat oleh Miguel Covarrubias dalam “Island of Bali” (1937) itu.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana Ole

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan
Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram: Bentuk Dukungan dan Pengakuan untuk Komponis Perempuan
Ekosistem Seni untuk Keragaman Identitas Pelaku Seni – Sambutan pada Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram  
Tags: Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaramgong kebyargong mebarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rare Bali Festival: Made Taro Bimbing Guru PAUD dan TK Workshop Permainan Tradisional

Next Post

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar — In Memoriam Dalang Bapa Sija

Ia Blencong, Ia Kelir Wayang yang Penuh Getar -- In Memoriam Dalang Bapa Sija

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co