23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 20, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PADA bagian pertama, kita telah menelaah korupsi dari perspektif psikologi budaya, kognitif, dan sosial. Tiga sudut pandang tersebut menyoroti bagaimana norma kolektif, distorsi berpikir, serta tekanan kelompok dan otoritas berkontribusi terhadap lahirnya perilaku koruptif. Namun, sebagaimana disinggung sebelumnya, tidak semua orang yang berada dalam lingkungan permisif terhadap korupsi akhirnya ikut terjerumus. Ada individu-individu yang justru mampu menjaga integritasnya meskipun menghadapi tekanan yang sama.

Pertanyaan inilah yang membuka jalan bagi analisis di bagian kedua. Tulisan ini akan mengulas dua perspektif tambahan, yakni psikologi kepribadian dan psikologi moral, untuk memahami lebih dalam bagaimana faktor internal dalam diri seseorang berperan dalam kerentanan maupun resistensi terhadap praktik korupsi.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kepribadian

Dari perspektif psikologi kepribadian, perilaku korupsi dapat dipahami sebagai ekspresi dari pola karakter, motivasi, dan mekanisme regulasi diri yang relatif konsisten dalam diri individu. Teori Big Five Personality Traits misalnya, memberikan kerangka untuk melihat bagaimana kepribadian tertentu dapat memengaruhi kecenderungan melakukan korupsi.

Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya skor pada dimensi Conscientiousness (ketelitian, disiplin, tanggung jawab) dan Agreeableness (empati, kejujuran, kepedulian pada orang lain) berkorelasi dengan perilaku yang lebih permisif terhadap tindakan tidak etis, termasuk korupsi. Sebaliknya, individu dengan tingkat Conscientiousness yang tinggi cenderung lebih mampu menahan diri dari godaan karena memiliki kontrol diri yang kuat serta orientasi jangka panjang terhadap tujuan hidup dan moralitas.

Selain itu, faktor-faktor motivasional juga berperan penting. Teori Self-Determination dari Deci dan Ryan menekankan perbedaan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Individu dengan motivasi ekstrinsik yang kuat, misalnya untuk mengejar status, kekuasaan, atau materi, lebih rentan terjerumus dalam korupsi ketika kesempatan terbuka.

Sebaliknya, individu yang lebih didorong oleh motivasi intrinsik, seperti komitmen terhadap nilai moral atau makna kerja yang otentik, cenderung lebih resisten terhadap perilaku menyimpang. Hal ini selaras dengan temuan bahwa korupsi tidak hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari interaksi antara disposisi kepribadian dengan tekanan dan peluang lingkungan.

Dengan demikian, psikologi kepribadian membantu menjelaskan mengapa tidak semua orang yang berada dalam lingkungan penuh peluang korupsi akhirnya ikut melakukan praktik tersebut. Faktor disposisional berperan sebagai filter: orang dengan integritas tinggi dan regulasi diri yang kuat tetap dapat memilih untuk menolak peluang itu, sementara mereka dengan kepribadian lebih permisif terhadap risiko dan kurang peduli pada norma sosial lebih mudah tergoda. Perspektif ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam strategi pencegahan korupsi, misalnya melalui seleksi pemimpin dengan standar integritas yang jelas serta penguatan regulasi diri dalam pendidikan karakter.

Meskipun pendekatan kepribadian mampu menjelaskan variasi disposisional dalam kerentanan terhadap korupsi, hal tersebut belum sepenuhnya menyentuh dimensi normatif yang lebih dalam yakni, bagaimana individu menimbang benar dan salah dalam tindakannya. Di sinilah psikologi moral memberi lapisan analisis tambahan. Perspektif ini tidak hanya melihat kecenderungan perilaku, tetapi juga dinamika pertimbangan etis yang mendasarinya, seperti tahapan perkembangan moral, dilema etis, dan peran emosi moral dalam menahan atau justru mendorong perilaku koruptif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Moral

Psikologi moral berusaha memahami bagaimana individu menilai benar atau salah, adil atau tidak adil, dalam konteks perilaku manusia. Dalam studi korupsi, perspektif ini menjadi penting karena korupsi selalu berkaitan dengan pelanggaran norma moral, baik yang bersifat universal (seperti keadilan) maupun yang bersifat lokal (aturan hukum suatu negara).

Lawrence Kohlberg, misalnya, melalui teori perkembangan moralnya, menjelaskan bahwa individu melewati tahapan moral dari yang paling sederhana (ketaatan karena takut hukuman) hingga tahap yang lebih kompleks (berbasis pada prinsip etika universal). Dari perspektif ini, perilaku koruptif dapat dibaca sebagai kegagalan individu atau kelompok untuk melampaui tahap moral yang rendah yakni moralitas instrumental dan konvensional menuju moralitas pascakonvensional yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kebaikan bersama.

Jonathan Haidt menambahkan perspektif lain melalui teori moral foundations, yang menggarisbawahi bahwa penilaian moral manusia dipengaruhi oleh fondasi-fondasi dasar seperti keadilan, kepedulian, loyalitas, otoritas, dan kesucian. Dalam kasus korupsi, fondasi keadilan dan kepedulian sering dikalahkan oleh loyalitas sempit pada kelompok, patron, atau jaringan kekuasaan. Dengan kata lain, pelaku korupsi dapat merasa “benar” selama dia loyal pada kelompoknya, meski tindakannya merugikan masyarakat luas. Hal ini menjelaskan mengapa moralitas dalam konteks korupsi sering bersifat relatif dan pragmatis, bukan berbasis pada prinsip universal.

Lebih jauh, penelitian-penelitian psikologi moral kontemporer menunjukkan bahwa moralitas tidak hanya dibentuk oleh pertimbangan rasional, tetapi juga oleh intuisi moral dan emosi. Emosi seperti rasa malu, bersalah, atau jijik dapat menjadi benteng terhadap perilaku koruptif. Namun, ketika emosi ini tumpul karena normalisasi praktik korupsi dalam masyarakat, kontrol moral pun melemah. Dengan demikian, dari perspektif psikologi moral, pemberantasan korupsi bukan hanya soal regulasi hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran moral yang lebih matang, memperkuat emosi moral, serta mendorong masyarakat untuk menilai perilaku koruptif sebagai sesuatu yang secara fundamental salah dan merusak kehidupan bersama.

Korupsi Tidak Bisa Dibenarkan dalam Bentuk Apa pun

Artikel ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai penyimpangan individu, melainkan sebagai fenomena multidimensional yang berakar pada budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas. Kelima perspektif ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menjalin: budaya permisif membuka ruang bagi rasionalisasi kognitif, dilegitimasi oleh solidaritas kelompok, diperkuat oleh karakter kepribadian tertentu, dan diperlemah oleh norma moral yang longgar. Pola ini membentuk lingkaran yang sulit diputus jika hanya mengandalkan kebijakan hukum atau penindakan semata.

Dengan demikian, pemberantasan korupsi menuntut transformasi menyeluruh pada level individu, kelompok, dan sistem. Integrasi perspektif psikologi ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan budaya organisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat bagi perubahan yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, psikologi menawarkan cara untuk membangun masyarakat yang tidak hanya patuh pada hukum, tetapi juga kritis, berdaya moral tinggi, dan memiliki integritas sebagai nilai bersama. Dengan visi inilah, Indonesia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan berkeadilan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
Tags: Anti KorupsiKorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Larangan Vaping Singapura  Menuju Jalan Panjang  Generasi Indonesia Emas 2045

Next Post

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co