23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 20, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PADA bagian pertama, kita telah menelaah korupsi dari perspektif psikologi budaya, kognitif, dan sosial. Tiga sudut pandang tersebut menyoroti bagaimana norma kolektif, distorsi berpikir, serta tekanan kelompok dan otoritas berkontribusi terhadap lahirnya perilaku koruptif. Namun, sebagaimana disinggung sebelumnya, tidak semua orang yang berada dalam lingkungan permisif terhadap korupsi akhirnya ikut terjerumus. Ada individu-individu yang justru mampu menjaga integritasnya meskipun menghadapi tekanan yang sama.

Pertanyaan inilah yang membuka jalan bagi analisis di bagian kedua. Tulisan ini akan mengulas dua perspektif tambahan, yakni psikologi kepribadian dan psikologi moral, untuk memahami lebih dalam bagaimana faktor internal dalam diri seseorang berperan dalam kerentanan maupun resistensi terhadap praktik korupsi.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kepribadian

Dari perspektif psikologi kepribadian, perilaku korupsi dapat dipahami sebagai ekspresi dari pola karakter, motivasi, dan mekanisme regulasi diri yang relatif konsisten dalam diri individu. Teori Big Five Personality Traits misalnya, memberikan kerangka untuk melihat bagaimana kepribadian tertentu dapat memengaruhi kecenderungan melakukan korupsi.

Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya skor pada dimensi Conscientiousness (ketelitian, disiplin, tanggung jawab) dan Agreeableness (empati, kejujuran, kepedulian pada orang lain) berkorelasi dengan perilaku yang lebih permisif terhadap tindakan tidak etis, termasuk korupsi. Sebaliknya, individu dengan tingkat Conscientiousness yang tinggi cenderung lebih mampu menahan diri dari godaan karena memiliki kontrol diri yang kuat serta orientasi jangka panjang terhadap tujuan hidup dan moralitas.

Selain itu, faktor-faktor motivasional juga berperan penting. Teori Self-Determination dari Deci dan Ryan menekankan perbedaan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Individu dengan motivasi ekstrinsik yang kuat, misalnya untuk mengejar status, kekuasaan, atau materi, lebih rentan terjerumus dalam korupsi ketika kesempatan terbuka.

Sebaliknya, individu yang lebih didorong oleh motivasi intrinsik, seperti komitmen terhadap nilai moral atau makna kerja yang otentik, cenderung lebih resisten terhadap perilaku menyimpang. Hal ini selaras dengan temuan bahwa korupsi tidak hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari interaksi antara disposisi kepribadian dengan tekanan dan peluang lingkungan.

Dengan demikian, psikologi kepribadian membantu menjelaskan mengapa tidak semua orang yang berada dalam lingkungan penuh peluang korupsi akhirnya ikut melakukan praktik tersebut. Faktor disposisional berperan sebagai filter: orang dengan integritas tinggi dan regulasi diri yang kuat tetap dapat memilih untuk menolak peluang itu, sementara mereka dengan kepribadian lebih permisif terhadap risiko dan kurang peduli pada norma sosial lebih mudah tergoda. Perspektif ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam strategi pencegahan korupsi, misalnya melalui seleksi pemimpin dengan standar integritas yang jelas serta penguatan regulasi diri dalam pendidikan karakter.

Meskipun pendekatan kepribadian mampu menjelaskan variasi disposisional dalam kerentanan terhadap korupsi, hal tersebut belum sepenuhnya menyentuh dimensi normatif yang lebih dalam yakni, bagaimana individu menimbang benar dan salah dalam tindakannya. Di sinilah psikologi moral memberi lapisan analisis tambahan. Perspektif ini tidak hanya melihat kecenderungan perilaku, tetapi juga dinamika pertimbangan etis yang mendasarinya, seperti tahapan perkembangan moral, dilema etis, dan peran emosi moral dalam menahan atau justru mendorong perilaku koruptif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Moral

Psikologi moral berusaha memahami bagaimana individu menilai benar atau salah, adil atau tidak adil, dalam konteks perilaku manusia. Dalam studi korupsi, perspektif ini menjadi penting karena korupsi selalu berkaitan dengan pelanggaran norma moral, baik yang bersifat universal (seperti keadilan) maupun yang bersifat lokal (aturan hukum suatu negara).

Lawrence Kohlberg, misalnya, melalui teori perkembangan moralnya, menjelaskan bahwa individu melewati tahapan moral dari yang paling sederhana (ketaatan karena takut hukuman) hingga tahap yang lebih kompleks (berbasis pada prinsip etika universal). Dari perspektif ini, perilaku koruptif dapat dibaca sebagai kegagalan individu atau kelompok untuk melampaui tahap moral yang rendah yakni moralitas instrumental dan konvensional menuju moralitas pascakonvensional yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kebaikan bersama.

Jonathan Haidt menambahkan perspektif lain melalui teori moral foundations, yang menggarisbawahi bahwa penilaian moral manusia dipengaruhi oleh fondasi-fondasi dasar seperti keadilan, kepedulian, loyalitas, otoritas, dan kesucian. Dalam kasus korupsi, fondasi keadilan dan kepedulian sering dikalahkan oleh loyalitas sempit pada kelompok, patron, atau jaringan kekuasaan. Dengan kata lain, pelaku korupsi dapat merasa “benar” selama dia loyal pada kelompoknya, meski tindakannya merugikan masyarakat luas. Hal ini menjelaskan mengapa moralitas dalam konteks korupsi sering bersifat relatif dan pragmatis, bukan berbasis pada prinsip universal.

Lebih jauh, penelitian-penelitian psikologi moral kontemporer menunjukkan bahwa moralitas tidak hanya dibentuk oleh pertimbangan rasional, tetapi juga oleh intuisi moral dan emosi. Emosi seperti rasa malu, bersalah, atau jijik dapat menjadi benteng terhadap perilaku koruptif. Namun, ketika emosi ini tumpul karena normalisasi praktik korupsi dalam masyarakat, kontrol moral pun melemah. Dengan demikian, dari perspektif psikologi moral, pemberantasan korupsi bukan hanya soal regulasi hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran moral yang lebih matang, memperkuat emosi moral, serta mendorong masyarakat untuk menilai perilaku koruptif sebagai sesuatu yang secara fundamental salah dan merusak kehidupan bersama.

Korupsi Tidak Bisa Dibenarkan dalam Bentuk Apa pun

Artikel ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai penyimpangan individu, melainkan sebagai fenomena multidimensional yang berakar pada budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas. Kelima perspektif ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menjalin: budaya permisif membuka ruang bagi rasionalisasi kognitif, dilegitimasi oleh solidaritas kelompok, diperkuat oleh karakter kepribadian tertentu, dan diperlemah oleh norma moral yang longgar. Pola ini membentuk lingkaran yang sulit diputus jika hanya mengandalkan kebijakan hukum atau penindakan semata.

Dengan demikian, pemberantasan korupsi menuntut transformasi menyeluruh pada level individu, kelompok, dan sistem. Integrasi perspektif psikologi ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan budaya organisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat bagi perubahan yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, psikologi menawarkan cara untuk membangun masyarakat yang tidak hanya patuh pada hukum, tetapi juga kritis, berdaya moral tinggi, dan memiliki integritas sebagai nilai bersama. Dengan visi inilah, Indonesia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan berkeadilan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
Tags: Anti KorupsiKorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Larangan Vaping Singapura  Menuju Jalan Panjang  Generasi Indonesia Emas 2045

Next Post

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co