2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 20, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PADA bagian pertama, kita telah menelaah korupsi dari perspektif psikologi budaya, kognitif, dan sosial. Tiga sudut pandang tersebut menyoroti bagaimana norma kolektif, distorsi berpikir, serta tekanan kelompok dan otoritas berkontribusi terhadap lahirnya perilaku koruptif. Namun, sebagaimana disinggung sebelumnya, tidak semua orang yang berada dalam lingkungan permisif terhadap korupsi akhirnya ikut terjerumus. Ada individu-individu yang justru mampu menjaga integritasnya meskipun menghadapi tekanan yang sama.

Pertanyaan inilah yang membuka jalan bagi analisis di bagian kedua. Tulisan ini akan mengulas dua perspektif tambahan, yakni psikologi kepribadian dan psikologi moral, untuk memahami lebih dalam bagaimana faktor internal dalam diri seseorang berperan dalam kerentanan maupun resistensi terhadap praktik korupsi.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kepribadian

Dari perspektif psikologi kepribadian, perilaku korupsi dapat dipahami sebagai ekspresi dari pola karakter, motivasi, dan mekanisme regulasi diri yang relatif konsisten dalam diri individu. Teori Big Five Personality Traits misalnya, memberikan kerangka untuk melihat bagaimana kepribadian tertentu dapat memengaruhi kecenderungan melakukan korupsi.

Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya skor pada dimensi Conscientiousness (ketelitian, disiplin, tanggung jawab) dan Agreeableness (empati, kejujuran, kepedulian pada orang lain) berkorelasi dengan perilaku yang lebih permisif terhadap tindakan tidak etis, termasuk korupsi. Sebaliknya, individu dengan tingkat Conscientiousness yang tinggi cenderung lebih mampu menahan diri dari godaan karena memiliki kontrol diri yang kuat serta orientasi jangka panjang terhadap tujuan hidup dan moralitas.

Selain itu, faktor-faktor motivasional juga berperan penting. Teori Self-Determination dari Deci dan Ryan menekankan perbedaan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Individu dengan motivasi ekstrinsik yang kuat, misalnya untuk mengejar status, kekuasaan, atau materi, lebih rentan terjerumus dalam korupsi ketika kesempatan terbuka.

Sebaliknya, individu yang lebih didorong oleh motivasi intrinsik, seperti komitmen terhadap nilai moral atau makna kerja yang otentik, cenderung lebih resisten terhadap perilaku menyimpang. Hal ini selaras dengan temuan bahwa korupsi tidak hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari interaksi antara disposisi kepribadian dengan tekanan dan peluang lingkungan.

Dengan demikian, psikologi kepribadian membantu menjelaskan mengapa tidak semua orang yang berada dalam lingkungan penuh peluang korupsi akhirnya ikut melakukan praktik tersebut. Faktor disposisional berperan sebagai filter: orang dengan integritas tinggi dan regulasi diri yang kuat tetap dapat memilih untuk menolak peluang itu, sementara mereka dengan kepribadian lebih permisif terhadap risiko dan kurang peduli pada norma sosial lebih mudah tergoda. Perspektif ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam strategi pencegahan korupsi, misalnya melalui seleksi pemimpin dengan standar integritas yang jelas serta penguatan regulasi diri dalam pendidikan karakter.

Meskipun pendekatan kepribadian mampu menjelaskan variasi disposisional dalam kerentanan terhadap korupsi, hal tersebut belum sepenuhnya menyentuh dimensi normatif yang lebih dalam yakni, bagaimana individu menimbang benar dan salah dalam tindakannya. Di sinilah psikologi moral memberi lapisan analisis tambahan. Perspektif ini tidak hanya melihat kecenderungan perilaku, tetapi juga dinamika pertimbangan etis yang mendasarinya, seperti tahapan perkembangan moral, dilema etis, dan peran emosi moral dalam menahan atau justru mendorong perilaku koruptif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Moral

Psikologi moral berusaha memahami bagaimana individu menilai benar atau salah, adil atau tidak adil, dalam konteks perilaku manusia. Dalam studi korupsi, perspektif ini menjadi penting karena korupsi selalu berkaitan dengan pelanggaran norma moral, baik yang bersifat universal (seperti keadilan) maupun yang bersifat lokal (aturan hukum suatu negara).

Lawrence Kohlberg, misalnya, melalui teori perkembangan moralnya, menjelaskan bahwa individu melewati tahapan moral dari yang paling sederhana (ketaatan karena takut hukuman) hingga tahap yang lebih kompleks (berbasis pada prinsip etika universal). Dari perspektif ini, perilaku koruptif dapat dibaca sebagai kegagalan individu atau kelompok untuk melampaui tahap moral yang rendah yakni moralitas instrumental dan konvensional menuju moralitas pascakonvensional yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kebaikan bersama.

Jonathan Haidt menambahkan perspektif lain melalui teori moral foundations, yang menggarisbawahi bahwa penilaian moral manusia dipengaruhi oleh fondasi-fondasi dasar seperti keadilan, kepedulian, loyalitas, otoritas, dan kesucian. Dalam kasus korupsi, fondasi keadilan dan kepedulian sering dikalahkan oleh loyalitas sempit pada kelompok, patron, atau jaringan kekuasaan. Dengan kata lain, pelaku korupsi dapat merasa “benar” selama dia loyal pada kelompoknya, meski tindakannya merugikan masyarakat luas. Hal ini menjelaskan mengapa moralitas dalam konteks korupsi sering bersifat relatif dan pragmatis, bukan berbasis pada prinsip universal.

Lebih jauh, penelitian-penelitian psikologi moral kontemporer menunjukkan bahwa moralitas tidak hanya dibentuk oleh pertimbangan rasional, tetapi juga oleh intuisi moral dan emosi. Emosi seperti rasa malu, bersalah, atau jijik dapat menjadi benteng terhadap perilaku koruptif. Namun, ketika emosi ini tumpul karena normalisasi praktik korupsi dalam masyarakat, kontrol moral pun melemah. Dengan demikian, dari perspektif psikologi moral, pemberantasan korupsi bukan hanya soal regulasi hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran moral yang lebih matang, memperkuat emosi moral, serta mendorong masyarakat untuk menilai perilaku koruptif sebagai sesuatu yang secara fundamental salah dan merusak kehidupan bersama.

Korupsi Tidak Bisa Dibenarkan dalam Bentuk Apa pun

Artikel ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai penyimpangan individu, melainkan sebagai fenomena multidimensional yang berakar pada budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas. Kelima perspektif ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menjalin: budaya permisif membuka ruang bagi rasionalisasi kognitif, dilegitimasi oleh solidaritas kelompok, diperkuat oleh karakter kepribadian tertentu, dan diperlemah oleh norma moral yang longgar. Pola ini membentuk lingkaran yang sulit diputus jika hanya mengandalkan kebijakan hukum atau penindakan semata.

Dengan demikian, pemberantasan korupsi menuntut transformasi menyeluruh pada level individu, kelompok, dan sistem. Integrasi perspektif psikologi ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan budaya organisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat bagi perubahan yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, psikologi menawarkan cara untuk membangun masyarakat yang tidak hanya patuh pada hukum, tetapi juga kritis, berdaya moral tinggi, dan memiliki integritas sebagai nilai bersama. Dengan visi inilah, Indonesia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan berkeadilan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
Tags: Anti KorupsiKorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Larangan Vaping Singapura  Menuju Jalan Panjang  Generasi Indonesia Emas 2045

Next Post

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co