3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 20, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PADA bagian pertama, kita telah menelaah korupsi dari perspektif psikologi budaya, kognitif, dan sosial. Tiga sudut pandang tersebut menyoroti bagaimana norma kolektif, distorsi berpikir, serta tekanan kelompok dan otoritas berkontribusi terhadap lahirnya perilaku koruptif. Namun, sebagaimana disinggung sebelumnya, tidak semua orang yang berada dalam lingkungan permisif terhadap korupsi akhirnya ikut terjerumus. Ada individu-individu yang justru mampu menjaga integritasnya meskipun menghadapi tekanan yang sama.

Pertanyaan inilah yang membuka jalan bagi analisis di bagian kedua. Tulisan ini akan mengulas dua perspektif tambahan, yakni psikologi kepribadian dan psikologi moral, untuk memahami lebih dalam bagaimana faktor internal dalam diri seseorang berperan dalam kerentanan maupun resistensi terhadap praktik korupsi.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kepribadian

Dari perspektif psikologi kepribadian, perilaku korupsi dapat dipahami sebagai ekspresi dari pola karakter, motivasi, dan mekanisme regulasi diri yang relatif konsisten dalam diri individu. Teori Big Five Personality Traits misalnya, memberikan kerangka untuk melihat bagaimana kepribadian tertentu dapat memengaruhi kecenderungan melakukan korupsi.

Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya skor pada dimensi Conscientiousness (ketelitian, disiplin, tanggung jawab) dan Agreeableness (empati, kejujuran, kepedulian pada orang lain) berkorelasi dengan perilaku yang lebih permisif terhadap tindakan tidak etis, termasuk korupsi. Sebaliknya, individu dengan tingkat Conscientiousness yang tinggi cenderung lebih mampu menahan diri dari godaan karena memiliki kontrol diri yang kuat serta orientasi jangka panjang terhadap tujuan hidup dan moralitas.

Selain itu, faktor-faktor motivasional juga berperan penting. Teori Self-Determination dari Deci dan Ryan menekankan perbedaan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Individu dengan motivasi ekstrinsik yang kuat, misalnya untuk mengejar status, kekuasaan, atau materi, lebih rentan terjerumus dalam korupsi ketika kesempatan terbuka.

Sebaliknya, individu yang lebih didorong oleh motivasi intrinsik, seperti komitmen terhadap nilai moral atau makna kerja yang otentik, cenderung lebih resisten terhadap perilaku menyimpang. Hal ini selaras dengan temuan bahwa korupsi tidak hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari interaksi antara disposisi kepribadian dengan tekanan dan peluang lingkungan.

Dengan demikian, psikologi kepribadian membantu menjelaskan mengapa tidak semua orang yang berada dalam lingkungan penuh peluang korupsi akhirnya ikut melakukan praktik tersebut. Faktor disposisional berperan sebagai filter: orang dengan integritas tinggi dan regulasi diri yang kuat tetap dapat memilih untuk menolak peluang itu, sementara mereka dengan kepribadian lebih permisif terhadap risiko dan kurang peduli pada norma sosial lebih mudah tergoda. Perspektif ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam strategi pencegahan korupsi, misalnya melalui seleksi pemimpin dengan standar integritas yang jelas serta penguatan regulasi diri dalam pendidikan karakter.

Meskipun pendekatan kepribadian mampu menjelaskan variasi disposisional dalam kerentanan terhadap korupsi, hal tersebut belum sepenuhnya menyentuh dimensi normatif yang lebih dalam yakni, bagaimana individu menimbang benar dan salah dalam tindakannya. Di sinilah psikologi moral memberi lapisan analisis tambahan. Perspektif ini tidak hanya melihat kecenderungan perilaku, tetapi juga dinamika pertimbangan etis yang mendasarinya, seperti tahapan perkembangan moral, dilema etis, dan peran emosi moral dalam menahan atau justru mendorong perilaku koruptif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Moral

Psikologi moral berusaha memahami bagaimana individu menilai benar atau salah, adil atau tidak adil, dalam konteks perilaku manusia. Dalam studi korupsi, perspektif ini menjadi penting karena korupsi selalu berkaitan dengan pelanggaran norma moral, baik yang bersifat universal (seperti keadilan) maupun yang bersifat lokal (aturan hukum suatu negara).

Lawrence Kohlberg, misalnya, melalui teori perkembangan moralnya, menjelaskan bahwa individu melewati tahapan moral dari yang paling sederhana (ketaatan karena takut hukuman) hingga tahap yang lebih kompleks (berbasis pada prinsip etika universal). Dari perspektif ini, perilaku koruptif dapat dibaca sebagai kegagalan individu atau kelompok untuk melampaui tahap moral yang rendah yakni moralitas instrumental dan konvensional menuju moralitas pascakonvensional yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kebaikan bersama.

Jonathan Haidt menambahkan perspektif lain melalui teori moral foundations, yang menggarisbawahi bahwa penilaian moral manusia dipengaruhi oleh fondasi-fondasi dasar seperti keadilan, kepedulian, loyalitas, otoritas, dan kesucian. Dalam kasus korupsi, fondasi keadilan dan kepedulian sering dikalahkan oleh loyalitas sempit pada kelompok, patron, atau jaringan kekuasaan. Dengan kata lain, pelaku korupsi dapat merasa “benar” selama dia loyal pada kelompoknya, meski tindakannya merugikan masyarakat luas. Hal ini menjelaskan mengapa moralitas dalam konteks korupsi sering bersifat relatif dan pragmatis, bukan berbasis pada prinsip universal.

Lebih jauh, penelitian-penelitian psikologi moral kontemporer menunjukkan bahwa moralitas tidak hanya dibentuk oleh pertimbangan rasional, tetapi juga oleh intuisi moral dan emosi. Emosi seperti rasa malu, bersalah, atau jijik dapat menjadi benteng terhadap perilaku koruptif. Namun, ketika emosi ini tumpul karena normalisasi praktik korupsi dalam masyarakat, kontrol moral pun melemah. Dengan demikian, dari perspektif psikologi moral, pemberantasan korupsi bukan hanya soal regulasi hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran moral yang lebih matang, memperkuat emosi moral, serta mendorong masyarakat untuk menilai perilaku koruptif sebagai sesuatu yang secara fundamental salah dan merusak kehidupan bersama.

Korupsi Tidak Bisa Dibenarkan dalam Bentuk Apa pun

Artikel ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai penyimpangan individu, melainkan sebagai fenomena multidimensional yang berakar pada budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas. Kelima perspektif ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menjalin: budaya permisif membuka ruang bagi rasionalisasi kognitif, dilegitimasi oleh solidaritas kelompok, diperkuat oleh karakter kepribadian tertentu, dan diperlemah oleh norma moral yang longgar. Pola ini membentuk lingkaran yang sulit diputus jika hanya mengandalkan kebijakan hukum atau penindakan semata.

Dengan demikian, pemberantasan korupsi menuntut transformasi menyeluruh pada level individu, kelompok, dan sistem. Integrasi perspektif psikologi ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan budaya organisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat bagi perubahan yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, psikologi menawarkan cara untuk membangun masyarakat yang tidak hanya patuh pada hukum, tetapi juga kritis, berdaya moral tinggi, dan memiliki integritas sebagai nilai bersama. Dengan visi inilah, Indonesia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan berkeadilan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
Tags: Anti KorupsiKorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Larangan Vaping Singapura  Menuju Jalan Panjang  Generasi Indonesia Emas 2045

Next Post

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Kisah Jro Mangku Dalang Catur dan Wayang Kulit Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co