23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 9, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DI tengah banjir informasi, notifikasi, dan algoritma yang seolah tahu segalanya tentang kita, muncul satu kebutuhan mendesak yang sering diabaikan, diam sejenak. Menjauh dari layar, mematikan ponsel, dan berhenti scrolling bisa terdengar sepele, bahkan tidak produktif. Tapi dalam konteks kehidupan modern, tindakan sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal. yaitu perlawanan terhadap keterasingan, terhadap kelelahan mental, dan terhadap hilangnya makna.

Digital detox, secara harfiah berarti puasa dari perangkat digital, yang semakin relevan dalam masyarakat dengan ketergantungan pada teknologi. Tapi artikel ini tidak sekadar mengajak detoks demi “kesehatan mental” yang seringkali dikomersialisasi. Kali ini kita akan melihat digital detox sebagai bagian dari revolusi eksistensial. Sebuah usaha untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, yang hadir secara otentik, merdeka berpikir, dan terhubung secara genuine, bukan hanya online.

Hidup di Era Overconnectivity

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kita bisa tahu kabar teman lama, mengikuti influencer idola, atau membaca opini siapa pun bahkan orang yang belum pernah kita temui. Tapi ironisnya, semakin terhubung kita secara digital, semakin terasa kosong secara emosional. Kita menjadi overconnected, oversharing, tapi semua bersifat trivial. Kita berbagi makanan, outfit, atau highlight reel kehidupan, namun jarang menyentuh lapisan terdalam dari pengalaman manusia yang nyata seperti rasa kesepian, kehilangan, keraguan, atau pencarian makna.

Inilah paradoks zaman kita saat ini, dikelilingi notifikasi, tapi kesepian. Menerima ratusan “like”, tapi tetap merasa tidak valid. Sebab koneksi yang dibentuk algoritma bukan koneksi yang autentik, melainkan simulasi koneksi. Semua ini menumpuk di permukaan, tapi tak pernah menembus kedalaman dan menyentuh sisi manusia kita. Dan justru di sinilah kelelahan mental muncul  bukan dari keterasingan digital, tapi dari keterhubungan palsu yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Absennya Diri di Dunia Digital

Filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Heidegger pernah mengingatkan kita soal bahaya hidup yang “tidak autentik”. Hidup yang tidak dijalani dengan kesadaran penuh, melainkan sekadar mengikuti arus, rutinitas, dan harapan orang lain. Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dimana kita kehilangan keheningan, kehilangan kesendirian, dan pada akhirnya kehilangan kesadaran atas diri sendiri.

Kita menjadi hadir di mana-mana, tapi absen dari diri sendiri. Pikiran kita terpencar ke feeds, reels, threads, atau for you page. Kita jarang bertanya, “apa yang benar-benar penting?” karena waktu habis untuk menanggapi apa yang sedang trending. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati kita sendiri. Sesuatu yang oleh eksistensialis disebut sebagai dasar kebebasan sejati.

Digital detox menjadi penting bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita butuh ruang kosong agar kesadaran bisa kembali bernapas. Kita perlu berhenti sejenak dari keramaian buatan agar bisa mendengar kembali suara yang paling sunyi tapi paling jujur, suara dari diri kita sendiri.

Merawat Kewarasan di Tengah Era Kecanduan

Dalam artikel sebelumnya, kita membahas konsep cognitive offloading, suatu kecenderungan manusia modern untuk menyerahkan fungsi berpikir kepada teknologi. Ketika kita terlalu sering mencari jawaban lewat Google, terlalu mengandalkan AI untuk menyusun pikiran, dan terlalu bergantung pada algoritma untuk memilihkan konten, maka kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan kritis.

Akibatnya, otak kehilangan kelenturan. Kita menjadi pembaca pasif, bukan pemikir aktif. Dan lambat laun, hal ini bukan hanya melemahkan kecerdasan, tapi juga membahayakan kesehatan mental. Muncul fenomena seperti doomscrolling, digital fatigue, bahkan digital brainrot, istilah yang menggambarkan kemunduran kualitas berpikir karena konsumsi digital yang pasif dan berlebihan.

Digital detox, dalam konteks ini, bukan sekadar istirahat dari layar. Digital detox juga menjadi terapi preventif untuk menjaga kesehatan otak, menjaga kewarasan emosi, dan menjaga jarak yang sehat antara manusia dan mesin. Digital detox adalah momen untuk kembali menggunakan otak sebagaimana mestinya,  berpikir, merenung, mempertanyakan, dan merasakan secara utuh.

Menemukan Diri, Membangun Koneksi Sejati

Detoks digital bukanlah pelarian dari dunia, melainkan jalan masuk kembali ke kehidupan yang lebih autentik. Saat kita mencabut diri dari ponsel, kita memberi ruang untuk hadir secara penuh di hadapan diri sendiri. Kita mulai mengenali kembali rasa sepi, rasa bosan, rasa gelisah, semua emosi yang selama ini kita redam dengan scrolling tanpa henti.

Dan inilah paradoks menariknya, justru dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain. Sebab kita tidak lagi hadir sebagai persona digital yang dikurasi, melainkan sebagai manusia utuh yang bisa merasakan, bertanya, dan mendengarkan.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang “terlempar ke dunia” dan harus menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks hari ini, “terlempar ke dunia” berarti terlempar ke dalam arus teknologi yang tak henti-henti. Maka tugas kita bukan melawan teknologi, tapi menemukan kembali arah, makna, dan kebebasan di tengah teknologi itu.

Mari Kita Hening Sejenak

Barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang mengendalikan hidup kita hari ini? Apakah kita masih berpikir, merasa, dan memilih dengan sadar? Ataukah kita sekadar mengikuti apa yang muncul di layar, satu demi satu, hingga tanpa sadar hari-hari berlalu?

Digital detox tidak harus ekstrem. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti satu jam tanpa ponsel, satu sore membaca buku fisik, atau satu hari jalan kaki tanpa mendengarkan apa pun. Tapi yang lebih penting adalah niatnya, niat untuk hadir, untuk menyadari, untuk menjadi manusia.

Sebab di tengah keramaian digital yang terus membisingkan pikiran, diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Dan menjauh dari layar bisa menjadi langkah awal untuk kembali ke ruang paling sunyi,  ruang tempat kita bertemu kembali dengan diri kita sendiri. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: digitaldigital detoxPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajeng Kliwon | Cerpen Made Sugianto

Next Post

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co