14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 9, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DI tengah banjir informasi, notifikasi, dan algoritma yang seolah tahu segalanya tentang kita, muncul satu kebutuhan mendesak yang sering diabaikan, diam sejenak. Menjauh dari layar, mematikan ponsel, dan berhenti scrolling bisa terdengar sepele, bahkan tidak produktif. Tapi dalam konteks kehidupan modern, tindakan sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal. yaitu perlawanan terhadap keterasingan, terhadap kelelahan mental, dan terhadap hilangnya makna.

Digital detox, secara harfiah berarti puasa dari perangkat digital, yang semakin relevan dalam masyarakat dengan ketergantungan pada teknologi. Tapi artikel ini tidak sekadar mengajak detoks demi “kesehatan mental” yang seringkali dikomersialisasi. Kali ini kita akan melihat digital detox sebagai bagian dari revolusi eksistensial. Sebuah usaha untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, yang hadir secara otentik, merdeka berpikir, dan terhubung secara genuine, bukan hanya online.

Hidup di Era Overconnectivity

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kita bisa tahu kabar teman lama, mengikuti influencer idola, atau membaca opini siapa pun bahkan orang yang belum pernah kita temui. Tapi ironisnya, semakin terhubung kita secara digital, semakin terasa kosong secara emosional. Kita menjadi overconnected, oversharing, tapi semua bersifat trivial. Kita berbagi makanan, outfit, atau highlight reel kehidupan, namun jarang menyentuh lapisan terdalam dari pengalaman manusia yang nyata seperti rasa kesepian, kehilangan, keraguan, atau pencarian makna.

Inilah paradoks zaman kita saat ini, dikelilingi notifikasi, tapi kesepian. Menerima ratusan “like”, tapi tetap merasa tidak valid. Sebab koneksi yang dibentuk algoritma bukan koneksi yang autentik, melainkan simulasi koneksi. Semua ini menumpuk di permukaan, tapi tak pernah menembus kedalaman dan menyentuh sisi manusia kita. Dan justru di sinilah kelelahan mental muncul  bukan dari keterasingan digital, tapi dari keterhubungan palsu yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Absennya Diri di Dunia Digital

Filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Heidegger pernah mengingatkan kita soal bahaya hidup yang “tidak autentik”. Hidup yang tidak dijalani dengan kesadaran penuh, melainkan sekadar mengikuti arus, rutinitas, dan harapan orang lain. Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dimana kita kehilangan keheningan, kehilangan kesendirian, dan pada akhirnya kehilangan kesadaran atas diri sendiri.

Kita menjadi hadir di mana-mana, tapi absen dari diri sendiri. Pikiran kita terpencar ke feeds, reels, threads, atau for you page. Kita jarang bertanya, “apa yang benar-benar penting?” karena waktu habis untuk menanggapi apa yang sedang trending. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati kita sendiri. Sesuatu yang oleh eksistensialis disebut sebagai dasar kebebasan sejati.

Digital detox menjadi penting bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita butuh ruang kosong agar kesadaran bisa kembali bernapas. Kita perlu berhenti sejenak dari keramaian buatan agar bisa mendengar kembali suara yang paling sunyi tapi paling jujur, suara dari diri kita sendiri.

Merawat Kewarasan di Tengah Era Kecanduan

Dalam artikel sebelumnya, kita membahas konsep cognitive offloading, suatu kecenderungan manusia modern untuk menyerahkan fungsi berpikir kepada teknologi. Ketika kita terlalu sering mencari jawaban lewat Google, terlalu mengandalkan AI untuk menyusun pikiran, dan terlalu bergantung pada algoritma untuk memilihkan konten, maka kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan kritis.

Akibatnya, otak kehilangan kelenturan. Kita menjadi pembaca pasif, bukan pemikir aktif. Dan lambat laun, hal ini bukan hanya melemahkan kecerdasan, tapi juga membahayakan kesehatan mental. Muncul fenomena seperti doomscrolling, digital fatigue, bahkan digital brainrot, istilah yang menggambarkan kemunduran kualitas berpikir karena konsumsi digital yang pasif dan berlebihan.

Digital detox, dalam konteks ini, bukan sekadar istirahat dari layar. Digital detox juga menjadi terapi preventif untuk menjaga kesehatan otak, menjaga kewarasan emosi, dan menjaga jarak yang sehat antara manusia dan mesin. Digital detox adalah momen untuk kembali menggunakan otak sebagaimana mestinya,  berpikir, merenung, mempertanyakan, dan merasakan secara utuh.

Menemukan Diri, Membangun Koneksi Sejati

Detoks digital bukanlah pelarian dari dunia, melainkan jalan masuk kembali ke kehidupan yang lebih autentik. Saat kita mencabut diri dari ponsel, kita memberi ruang untuk hadir secara penuh di hadapan diri sendiri. Kita mulai mengenali kembali rasa sepi, rasa bosan, rasa gelisah, semua emosi yang selama ini kita redam dengan scrolling tanpa henti.

Dan inilah paradoks menariknya, justru dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain. Sebab kita tidak lagi hadir sebagai persona digital yang dikurasi, melainkan sebagai manusia utuh yang bisa merasakan, bertanya, dan mendengarkan.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang “terlempar ke dunia” dan harus menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks hari ini, “terlempar ke dunia” berarti terlempar ke dalam arus teknologi yang tak henti-henti. Maka tugas kita bukan melawan teknologi, tapi menemukan kembali arah, makna, dan kebebasan di tengah teknologi itu.

Mari Kita Hening Sejenak

Barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang mengendalikan hidup kita hari ini? Apakah kita masih berpikir, merasa, dan memilih dengan sadar? Ataukah kita sekadar mengikuti apa yang muncul di layar, satu demi satu, hingga tanpa sadar hari-hari berlalu?

Digital detox tidak harus ekstrem. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti satu jam tanpa ponsel, satu sore membaca buku fisik, atau satu hari jalan kaki tanpa mendengarkan apa pun. Tapi yang lebih penting adalah niatnya, niat untuk hadir, untuk menyadari, untuk menjadi manusia.

Sebab di tengah keramaian digital yang terus membisingkan pikiran, diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Dan menjauh dari layar bisa menjadi langkah awal untuk kembali ke ruang paling sunyi,  ruang tempat kita bertemu kembali dengan diri kita sendiri. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: digitaldigital detoxPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajeng Kliwon | Cerpen Made Sugianto

Next Post

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co