12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 9, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DI tengah banjir informasi, notifikasi, dan algoritma yang seolah tahu segalanya tentang kita, muncul satu kebutuhan mendesak yang sering diabaikan, diam sejenak. Menjauh dari layar, mematikan ponsel, dan berhenti scrolling bisa terdengar sepele, bahkan tidak produktif. Tapi dalam konteks kehidupan modern, tindakan sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal. yaitu perlawanan terhadap keterasingan, terhadap kelelahan mental, dan terhadap hilangnya makna.

Digital detox, secara harfiah berarti puasa dari perangkat digital, yang semakin relevan dalam masyarakat dengan ketergantungan pada teknologi. Tapi artikel ini tidak sekadar mengajak detoks demi “kesehatan mental” yang seringkali dikomersialisasi. Kali ini kita akan melihat digital detox sebagai bagian dari revolusi eksistensial. Sebuah usaha untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, yang hadir secara otentik, merdeka berpikir, dan terhubung secara genuine, bukan hanya online.

Hidup di Era Overconnectivity

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kita bisa tahu kabar teman lama, mengikuti influencer idola, atau membaca opini siapa pun bahkan orang yang belum pernah kita temui. Tapi ironisnya, semakin terhubung kita secara digital, semakin terasa kosong secara emosional. Kita menjadi overconnected, oversharing, tapi semua bersifat trivial. Kita berbagi makanan, outfit, atau highlight reel kehidupan, namun jarang menyentuh lapisan terdalam dari pengalaman manusia yang nyata seperti rasa kesepian, kehilangan, keraguan, atau pencarian makna.

Inilah paradoks zaman kita saat ini, dikelilingi notifikasi, tapi kesepian. Menerima ratusan “like”, tapi tetap merasa tidak valid. Sebab koneksi yang dibentuk algoritma bukan koneksi yang autentik, melainkan simulasi koneksi. Semua ini menumpuk di permukaan, tapi tak pernah menembus kedalaman dan menyentuh sisi manusia kita. Dan justru di sinilah kelelahan mental muncul  bukan dari keterasingan digital, tapi dari keterhubungan palsu yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Absennya Diri di Dunia Digital

Filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Heidegger pernah mengingatkan kita soal bahaya hidup yang “tidak autentik”. Hidup yang tidak dijalani dengan kesadaran penuh, melainkan sekadar mengikuti arus, rutinitas, dan harapan orang lain. Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dimana kita kehilangan keheningan, kehilangan kesendirian, dan pada akhirnya kehilangan kesadaran atas diri sendiri.

Kita menjadi hadir di mana-mana, tapi absen dari diri sendiri. Pikiran kita terpencar ke feeds, reels, threads, atau for you page. Kita jarang bertanya, “apa yang benar-benar penting?” karena waktu habis untuk menanggapi apa yang sedang trending. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati kita sendiri. Sesuatu yang oleh eksistensialis disebut sebagai dasar kebebasan sejati.

Digital detox menjadi penting bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita butuh ruang kosong agar kesadaran bisa kembali bernapas. Kita perlu berhenti sejenak dari keramaian buatan agar bisa mendengar kembali suara yang paling sunyi tapi paling jujur, suara dari diri kita sendiri.

Merawat Kewarasan di Tengah Era Kecanduan

Dalam artikel sebelumnya, kita membahas konsep cognitive offloading, suatu kecenderungan manusia modern untuk menyerahkan fungsi berpikir kepada teknologi. Ketika kita terlalu sering mencari jawaban lewat Google, terlalu mengandalkan AI untuk menyusun pikiran, dan terlalu bergantung pada algoritma untuk memilihkan konten, maka kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan kritis.

Akibatnya, otak kehilangan kelenturan. Kita menjadi pembaca pasif, bukan pemikir aktif. Dan lambat laun, hal ini bukan hanya melemahkan kecerdasan, tapi juga membahayakan kesehatan mental. Muncul fenomena seperti doomscrolling, digital fatigue, bahkan digital brainrot, istilah yang menggambarkan kemunduran kualitas berpikir karena konsumsi digital yang pasif dan berlebihan.

Digital detox, dalam konteks ini, bukan sekadar istirahat dari layar. Digital detox juga menjadi terapi preventif untuk menjaga kesehatan otak, menjaga kewarasan emosi, dan menjaga jarak yang sehat antara manusia dan mesin. Digital detox adalah momen untuk kembali menggunakan otak sebagaimana mestinya,  berpikir, merenung, mempertanyakan, dan merasakan secara utuh.

Menemukan Diri, Membangun Koneksi Sejati

Detoks digital bukanlah pelarian dari dunia, melainkan jalan masuk kembali ke kehidupan yang lebih autentik. Saat kita mencabut diri dari ponsel, kita memberi ruang untuk hadir secara penuh di hadapan diri sendiri. Kita mulai mengenali kembali rasa sepi, rasa bosan, rasa gelisah, semua emosi yang selama ini kita redam dengan scrolling tanpa henti.

Dan inilah paradoks menariknya, justru dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain. Sebab kita tidak lagi hadir sebagai persona digital yang dikurasi, melainkan sebagai manusia utuh yang bisa merasakan, bertanya, dan mendengarkan.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang “terlempar ke dunia” dan harus menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks hari ini, “terlempar ke dunia” berarti terlempar ke dalam arus teknologi yang tak henti-henti. Maka tugas kita bukan melawan teknologi, tapi menemukan kembali arah, makna, dan kebebasan di tengah teknologi itu.

Mari Kita Hening Sejenak

Barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang mengendalikan hidup kita hari ini? Apakah kita masih berpikir, merasa, dan memilih dengan sadar? Ataukah kita sekadar mengikuti apa yang muncul di layar, satu demi satu, hingga tanpa sadar hari-hari berlalu?

Digital detox tidak harus ekstrem. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti satu jam tanpa ponsel, satu sore membaca buku fisik, atau satu hari jalan kaki tanpa mendengarkan apa pun. Tapi yang lebih penting adalah niatnya, niat untuk hadir, untuk menyadari, untuk menjadi manusia.

Sebab di tengah keramaian digital yang terus membisingkan pikiran, diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Dan menjauh dari layar bisa menjadi langkah awal untuk kembali ke ruang paling sunyi,  ruang tempat kita bertemu kembali dengan diri kita sendiri. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: digitaldigital detoxPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajeng Kliwon | Cerpen Made Sugianto

Next Post

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co