13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Isran Kamal by Isran Kamal
August 16, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Bayangkan 17 Agustus yang identik dengan bendera merah putih, upacara, dan lomba-lomba kemerdekaan, dan di antara lautan kain merah putih itu, tiba-tiba terlihat selembar bendera hitam bergambar tengkorak memakai topi jerami. Sebagian orang tertawa mengenali simbol itu. Jolly Roger milik kru Topi Jerami dari anime One Piece. Sebagian lainnya mengernyit, bertanya-tanya: “Ini bendera bajak laut, kok ada di perayaan kemerdekaan?”

Fenomena ini memicu pro-kontra. Ada yang menganggapnya sekadar ekspresi cinta fandom, ada pula yang menilai sebagai bentuk protes kreatif terhadap pemerintah, bahkan simbol kekecewaan atas kondisi sosial-politik. Di titik ini, kita berhadapan dengan pertanyaan penting: kapan sebuah simbol fiksi berubah menjadi bahasa politik?

Hal yang menarik dari fenomena ini adalah ketika hal ini terjadi di zaman di mana garis pembatas antara hiburan dan pernyataan politik sudah tipis seperti sinyal Wi-Fi di pelosok. Meme jadi senjata, potongan anime dijadikan manifesto, dan tokoh fiksi kerap terdengar lebih jujur daripada pidato pejabat. Jadi, pertanyaannya bukan lagi “kenapa ada bendera bajak laut di hari kemerdekaan?”, tapi “apakah kita memang sudah kehabisan tokoh nyata yang cukup layak untuk dijadikan simbol perlawanan?”

Jolly Roger sebagai Simbol Pop Culture

Dalam dunia One Piece, Jolly Roger adalah identitas kapal dan kru bajak laut. Versi milik Luffy dan kawan-kawan mewakili kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap otoritas yang korup. Makna ini sangat resonan bagi penggemarnya bukan sekadar dekorasi, melainkan bendera yang membawa cerita, nilai, dan semangat.

Saya sendiri mengenal Luffy sejak masih duduk di bangku SD, dan kini, di usia 32 tahun, saya menyadari bahwa perjalanan mereka bukan sekadar hiburan mingguan. Dari East Blue hingga Wano, cerita ini selalu konsisten menghadirkan perjuangan melawan tirani, tekad menjaga persahabatan, dan keberanian untuk mengejar mimpi meski dunia menertawakan. Lambang tengkorak dengan topi jerami itu, bagi saya, bukan tanda ancaman, melainkan pengingat untuk tetap teguh menjadi diri sendiri di tengah tekanan.

Bagi banyak penggemar, One Piece adalah teman tumbuh. Ada yang setia menonton tiap minggu selama belasan tahun, ada yang tenggelam dalam manga berlembar-lembar, ada pula yang memajang merchandise sebagai simbol kebanggaan. Ikatan panjang ini membuat Jolly Roger Luffy melampaui batas fiksi dimana One Piece menjadi bagian dari memori kolektif, mewakili janji tak terucap bahwa seperti kru Topi Jerami kita akan saling menopang dalam perjalanan hidup masing-masing.

Fandom modern tidak hanya mengkonsumsi karya, tapi juga “hidup” di dalamnya. Mereka mengadopsi simbol, bahasa, dan nilai-nilai cerita untuk membangun identitas kelompok. Dalam psikologi sosial, hal ini sejalan dengan fan identity theory, simbol fandom berfungsi sebagai tanda keanggotaan, rasa memiliki, dan pembeda dari “yang bukan bagian” dari kelompok tersebut.

Simbol sebagai Bahasa Protes

Dalam kacamata Social Identity Theory (Tajfel & Turner, 1979), simbol seperti Jolly Roger berfungsi sebagai jangkar identitas sosial. Simbol tersebut membantu individu merasa menjadi bagian dari kelompok yang memiliki tujuan dan nilai bersama. Ketika simbol ini muncul di ruang publik dalam konteks protes, simbol tersebut tidak hanya memperkuat kohesi kelompok, tetapi juga mempermudah individu untuk bergabung. Ada rasa “kita” yang terbangun, bahkan di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, hanya karena mereka berbagi tanda visual yang sama.

Dari sudut pandang Symbolic Interactionism, makna Jolly Roger bersifat cair dan kontekstual. Di dalam cerita One Piece, Jolly Roger adalah simbol kebebasan kru Topi Jerami. Namun, dalam situasi protes, maknanya dapat bergeser menjadi lambang perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap tidak adil. Pergeseran ini terjadi melalui interaksi sosial dan pembacaan kolektif di mana satu simbol memiliki banyak makna, tergantung siapa yang memegang dan di mana dikibarkan.

Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Kita pernah melihat bagaimana topeng Guy Fawkes dari film V for Vendetta yang awalnya hanya bagian dari narasi fiksi bertransformasi menjadi simbol global perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim, digunakan oleh kelompok seperti Anonymous hingga gerakan Occupy Wall Street.

Secara psikologis, simbol-simbol ini bekerja karena sifatnya yang transdiagnostic, Simbol ini tidak terikat pada satu isu spesifik, sehingga berbagai kelompok dengan agenda berbeda dapat merasa terwakili. Selain itu, daya tarik emosionalnya datang dari narasi pahlawan melawan tirani yang universal dan mudah dipahami lintas budaya. Dalam konteks protes, simbol pop culture seperti ini berfungsi ganda dimana simbol tersebut dapat mempersatukan massa di bawah identitas visual bersama, sekaligus memberikan “perisai” emosional yang membuat peserta merasa bagian dari kisah heroik yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Penggunaan simbol pop culture dalam protes juga dapat dilihat melalui perspektif emotional contagion suatufenomena di mana emosi menyebar dengan cepat dalam kelompok. Simbol yang akrab dan disukai, seperti Jolly Roger, mampu memicu emosi positif (nostalgia, semangat, kebersamaan) sekaligus membungkus pesan kritis terhadap kondisi sosial-politik. Kombinasi ini membuat pesan protes terasa lebih inklusif dan mengundang partisipasi. Inilah yang menjadikannya bagian dari low-risk activism, suatu aksi yang relatif aman dari sanksi keras, tetapi tetap efektif dalam membangun solidaritas dan menyampaikan kritik tajam.

Protes Kreatif di Era Digital

Indonesia punya tradisi panjang terhadap protes kreatif seperti mural satir, kaos dengan slogan politik, hingga meme yang menyindir kebijakan pemerintah. Dari zaman Orde Baru, ketika kritik harus disamarkan dalam bentuk lagu, teater, atau seni rupa, hingga era media sosial saat ini, masyarakat selalu menemukan cara untuk “mengatakan sesuatu” tanpa harus mengatakannya secara frontal. Kreativitas ini lahir dari keterbatasan ruang ekspresi, memaksa kritik berkembang menjadi bentuk seni yang cerdas, penuh lapisan makna, dan sering kali menyentil dengan humor.

Media sosial mempercepat penyebaran pesan ini. Dalam hitungan jam, foto bendera Jolly Roger di tiang bambu bisa viral, memancing diskusi publik dan mengundang komentar dari ribuan orang dari berbagai latar belakang. Penyebaran yang cepat ini membuat protes kreatif memiliki daya tembak yang jauh melampaui batas ruang dan waktu acara aslinya. Dari satu lokasi di sebuah desa atau kelurahan, simbol itu bisa menjadi pembicaraan nasional bahkan internasional.

Perayaan kemerdekaan menjadi momen simbolik yang kuat. Di tengah euforia nasionalisme, menyisipkan simbol “asing” seperti bendera bajak laut akan langsung menonjol. Ini adalah bentuk visual disruption, strategi komunikasi yang memanfaatkan kejutan visual untuk memaksa orang berhenti sejenak dan berpikir: “Apa maksudnya ini?” Strategi ini efektif karena bekerja di tingkat bawah sadar; otak kita secara alami memperhatikan hal yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Inilah yang membuat protes kreatif menarik untuk dibahas: Hal ini menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan cara keras, kasar, atau penuh konfrontasi. Justru dengan mengemas pesan dalam bentuk yang estetis, lucu, atau nyeleneh, pesan tersebut sering kali lebih mudah diterima, memancing rasa ingin tahu, dan mendorong percakapan lebih lanjut. Dalam konteks bendera Jolly Roger, simbol ini tidak datang dengan teriakan, tapi dengan senyum nakal dan kadang, senyum itu lebih memancing rasa penasaran daripada orasi berapi-api.

Risiko dan Kontroversi

Tentu saja, penggunaan simbol non-negara di momen kenegaraan mengundang pertanyaan etis. Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi atau justru pelecehan simbol negara? Ambiguitas pesan membuat sebagian orang tersenyum, sebagian tersinggung, dan sebagian lagi bingung.

Namun, penting untuk dicatat bahwa protes kreatif seperti ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi apalagi merendahkan sang Saka Merah Putih. Masyarakat yang melakukannya umumnya paham betul batas-batas simbolik bahwa bendera Jolly Roger tidak dikibarkan setara atau lebih tinggi dari bendera nasional, melainkan ditempatkan sebagai simbol tambahan, pelengkap, atau bahkan sisipan satir yang tetap menghormati hierarki simbol negara. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kritik tidak harus identik dengan perusakan atau penodaan, melainkan bisa disampaikan dalam bingkai yang tetap menghargai simbol resmi.

Meski begitu, risiko salah tafsir selalu ada. Simbol yang diadopsi dari budaya pop bisa dibaca dengan berbagai cara, tergantung latar belakang dan sensitivitas yang melihatnya. Sebagian mungkin mempersepsikannya sebagai tanda kreatifitas dan kecerdasan sosial, sementara yang lain bisa saja menganggapnya tindakan tidak pantas di momen sakral. Risiko lainnya adalah potensi reduksi pesan, ketika simbol lebih viral daripada makna yang ingin disampaikan, fokus publik bisa bergeser hanya pada kontroversinya, bukan substansi protesnya.

Justru di sinilah tantangan protes kreatif, bagaimana menjaga agar pesan tetap utuh dan tidak hilang di tengah kebisingan interpretasi publik. Ambiguitas memang membuat simbol menarik, namun tanpa narasi pendukung, simbol protes tersebut bisa kehilangan arah atau bahkan dimanfaatkan pihak lain untuk agenda yang berbeda. Pada akhirnya, keberhasilan aksi seperti ini bergantung pada kecerdikan penggunanya dalam meramu simbol, momen, dan pesan, sehingga yang tertinggal bukan hanya perdebatan, tetapi juga kesadaran baru tentang makna kebebasan berekspresi di negeri ini.

Kebebasan, Otentisitas, dan “One Piece” Bangsa Indonesia

Dalam One Piece, setiap kru Topi Jerami berlayar bukan sekadar mencari harta, tapi mencari arti hidup masing-masing. Kebebasan yang mereka perjuangkan bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan untuk setia pada diri sendiri dan melindungi orang-orang yang mereka anggap keluarga.

Dari sudut pandang filsafat eksistensial, kemerdekaan sejati adalah keberanian untuk hidup autentik, membuat pilihan sadar, meski itu sulit atau berisiko. Protes kreatif seperti Jolly Roger di Hari Kemerdekaan mungkin, bagi sebagian orang, adalah cara mereka mengekspresikan otentisitas itu. Mereka ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, tapi juga hak untuk menyuarakan ketidaksetujuan.

Bendera Jolly Roger di Hari Kemerdekaan bisa dibaca sebagai fandom, bisa juga dibaca sebagai protes. Makna akhirnya ada di mata yang memandang. Tapi satu hal yang jelas, simbol memiliki kekuatan untuk menghidupkan percakapan tentang siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan kemerdekaan macam apa yang ingin kita wariskan.

Mungkin, seperti kru Topi Jerami, kita semua sedang mencari “one piece” kita masing-masing, entah itu keadilan, martabat, atau sekadar ruang untuk menjadi diri sendiri, tanpa takut pada ombak yang datang. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: bendera merah putihHUT Kemerdekaan RIone piece
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Next Post

Beda Mulut, Beda Bicara

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Beda Mulut, Beda Bicara

Beda Mulut, Beda Bicara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co