24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Isran Kamal by Isran Kamal
August 16, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Bayangkan 17 Agustus yang identik dengan bendera merah putih, upacara, dan lomba-lomba kemerdekaan, dan di antara lautan kain merah putih itu, tiba-tiba terlihat selembar bendera hitam bergambar tengkorak memakai topi jerami. Sebagian orang tertawa mengenali simbol itu. Jolly Roger milik kru Topi Jerami dari anime One Piece. Sebagian lainnya mengernyit, bertanya-tanya: “Ini bendera bajak laut, kok ada di perayaan kemerdekaan?”

Fenomena ini memicu pro-kontra. Ada yang menganggapnya sekadar ekspresi cinta fandom, ada pula yang menilai sebagai bentuk protes kreatif terhadap pemerintah, bahkan simbol kekecewaan atas kondisi sosial-politik. Di titik ini, kita berhadapan dengan pertanyaan penting: kapan sebuah simbol fiksi berubah menjadi bahasa politik?

Hal yang menarik dari fenomena ini adalah ketika hal ini terjadi di zaman di mana garis pembatas antara hiburan dan pernyataan politik sudah tipis seperti sinyal Wi-Fi di pelosok. Meme jadi senjata, potongan anime dijadikan manifesto, dan tokoh fiksi kerap terdengar lebih jujur daripada pidato pejabat. Jadi, pertanyaannya bukan lagi “kenapa ada bendera bajak laut di hari kemerdekaan?”, tapi “apakah kita memang sudah kehabisan tokoh nyata yang cukup layak untuk dijadikan simbol perlawanan?”

Jolly Roger sebagai Simbol Pop Culture

Dalam dunia One Piece, Jolly Roger adalah identitas kapal dan kru bajak laut. Versi milik Luffy dan kawan-kawan mewakili kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap otoritas yang korup. Makna ini sangat resonan bagi penggemarnya bukan sekadar dekorasi, melainkan bendera yang membawa cerita, nilai, dan semangat.

Saya sendiri mengenal Luffy sejak masih duduk di bangku SD, dan kini, di usia 32 tahun, saya menyadari bahwa perjalanan mereka bukan sekadar hiburan mingguan. Dari East Blue hingga Wano, cerita ini selalu konsisten menghadirkan perjuangan melawan tirani, tekad menjaga persahabatan, dan keberanian untuk mengejar mimpi meski dunia menertawakan. Lambang tengkorak dengan topi jerami itu, bagi saya, bukan tanda ancaman, melainkan pengingat untuk tetap teguh menjadi diri sendiri di tengah tekanan.

Bagi banyak penggemar, One Piece adalah teman tumbuh. Ada yang setia menonton tiap minggu selama belasan tahun, ada yang tenggelam dalam manga berlembar-lembar, ada pula yang memajang merchandise sebagai simbol kebanggaan. Ikatan panjang ini membuat Jolly Roger Luffy melampaui batas fiksi dimana One Piece menjadi bagian dari memori kolektif, mewakili janji tak terucap bahwa seperti kru Topi Jerami kita akan saling menopang dalam perjalanan hidup masing-masing.

Fandom modern tidak hanya mengkonsumsi karya, tapi juga “hidup” di dalamnya. Mereka mengadopsi simbol, bahasa, dan nilai-nilai cerita untuk membangun identitas kelompok. Dalam psikologi sosial, hal ini sejalan dengan fan identity theory, simbol fandom berfungsi sebagai tanda keanggotaan, rasa memiliki, dan pembeda dari “yang bukan bagian” dari kelompok tersebut.

Simbol sebagai Bahasa Protes

Dalam kacamata Social Identity Theory (Tajfel & Turner, 1979), simbol seperti Jolly Roger berfungsi sebagai jangkar identitas sosial. Simbol tersebut membantu individu merasa menjadi bagian dari kelompok yang memiliki tujuan dan nilai bersama. Ketika simbol ini muncul di ruang publik dalam konteks protes, simbol tersebut tidak hanya memperkuat kohesi kelompok, tetapi juga mempermudah individu untuk bergabung. Ada rasa “kita” yang terbangun, bahkan di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, hanya karena mereka berbagi tanda visual yang sama.

Dari sudut pandang Symbolic Interactionism, makna Jolly Roger bersifat cair dan kontekstual. Di dalam cerita One Piece, Jolly Roger adalah simbol kebebasan kru Topi Jerami. Namun, dalam situasi protes, maknanya dapat bergeser menjadi lambang perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap tidak adil. Pergeseran ini terjadi melalui interaksi sosial dan pembacaan kolektif di mana satu simbol memiliki banyak makna, tergantung siapa yang memegang dan di mana dikibarkan.

Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Kita pernah melihat bagaimana topeng Guy Fawkes dari film V for Vendetta yang awalnya hanya bagian dari narasi fiksi bertransformasi menjadi simbol global perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim, digunakan oleh kelompok seperti Anonymous hingga gerakan Occupy Wall Street.

Secara psikologis, simbol-simbol ini bekerja karena sifatnya yang transdiagnostic, Simbol ini tidak terikat pada satu isu spesifik, sehingga berbagai kelompok dengan agenda berbeda dapat merasa terwakili. Selain itu, daya tarik emosionalnya datang dari narasi pahlawan melawan tirani yang universal dan mudah dipahami lintas budaya. Dalam konteks protes, simbol pop culture seperti ini berfungsi ganda dimana simbol tersebut dapat mempersatukan massa di bawah identitas visual bersama, sekaligus memberikan “perisai” emosional yang membuat peserta merasa bagian dari kisah heroik yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Penggunaan simbol pop culture dalam protes juga dapat dilihat melalui perspektif emotional contagion suatufenomena di mana emosi menyebar dengan cepat dalam kelompok. Simbol yang akrab dan disukai, seperti Jolly Roger, mampu memicu emosi positif (nostalgia, semangat, kebersamaan) sekaligus membungkus pesan kritis terhadap kondisi sosial-politik. Kombinasi ini membuat pesan protes terasa lebih inklusif dan mengundang partisipasi. Inilah yang menjadikannya bagian dari low-risk activism, suatu aksi yang relatif aman dari sanksi keras, tetapi tetap efektif dalam membangun solidaritas dan menyampaikan kritik tajam.

Protes Kreatif di Era Digital

Indonesia punya tradisi panjang terhadap protes kreatif seperti mural satir, kaos dengan slogan politik, hingga meme yang menyindir kebijakan pemerintah. Dari zaman Orde Baru, ketika kritik harus disamarkan dalam bentuk lagu, teater, atau seni rupa, hingga era media sosial saat ini, masyarakat selalu menemukan cara untuk “mengatakan sesuatu” tanpa harus mengatakannya secara frontal. Kreativitas ini lahir dari keterbatasan ruang ekspresi, memaksa kritik berkembang menjadi bentuk seni yang cerdas, penuh lapisan makna, dan sering kali menyentil dengan humor.

Media sosial mempercepat penyebaran pesan ini. Dalam hitungan jam, foto bendera Jolly Roger di tiang bambu bisa viral, memancing diskusi publik dan mengundang komentar dari ribuan orang dari berbagai latar belakang. Penyebaran yang cepat ini membuat protes kreatif memiliki daya tembak yang jauh melampaui batas ruang dan waktu acara aslinya. Dari satu lokasi di sebuah desa atau kelurahan, simbol itu bisa menjadi pembicaraan nasional bahkan internasional.

Perayaan kemerdekaan menjadi momen simbolik yang kuat. Di tengah euforia nasionalisme, menyisipkan simbol “asing” seperti bendera bajak laut akan langsung menonjol. Ini adalah bentuk visual disruption, strategi komunikasi yang memanfaatkan kejutan visual untuk memaksa orang berhenti sejenak dan berpikir: “Apa maksudnya ini?” Strategi ini efektif karena bekerja di tingkat bawah sadar; otak kita secara alami memperhatikan hal yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Inilah yang membuat protes kreatif menarik untuk dibahas: Hal ini menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan cara keras, kasar, atau penuh konfrontasi. Justru dengan mengemas pesan dalam bentuk yang estetis, lucu, atau nyeleneh, pesan tersebut sering kali lebih mudah diterima, memancing rasa ingin tahu, dan mendorong percakapan lebih lanjut. Dalam konteks bendera Jolly Roger, simbol ini tidak datang dengan teriakan, tapi dengan senyum nakal dan kadang, senyum itu lebih memancing rasa penasaran daripada orasi berapi-api.

Risiko dan Kontroversi

Tentu saja, penggunaan simbol non-negara di momen kenegaraan mengundang pertanyaan etis. Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi atau justru pelecehan simbol negara? Ambiguitas pesan membuat sebagian orang tersenyum, sebagian tersinggung, dan sebagian lagi bingung.

Namun, penting untuk dicatat bahwa protes kreatif seperti ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi apalagi merendahkan sang Saka Merah Putih. Masyarakat yang melakukannya umumnya paham betul batas-batas simbolik bahwa bendera Jolly Roger tidak dikibarkan setara atau lebih tinggi dari bendera nasional, melainkan ditempatkan sebagai simbol tambahan, pelengkap, atau bahkan sisipan satir yang tetap menghormati hierarki simbol negara. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kritik tidak harus identik dengan perusakan atau penodaan, melainkan bisa disampaikan dalam bingkai yang tetap menghargai simbol resmi.

Meski begitu, risiko salah tafsir selalu ada. Simbol yang diadopsi dari budaya pop bisa dibaca dengan berbagai cara, tergantung latar belakang dan sensitivitas yang melihatnya. Sebagian mungkin mempersepsikannya sebagai tanda kreatifitas dan kecerdasan sosial, sementara yang lain bisa saja menganggapnya tindakan tidak pantas di momen sakral. Risiko lainnya adalah potensi reduksi pesan, ketika simbol lebih viral daripada makna yang ingin disampaikan, fokus publik bisa bergeser hanya pada kontroversinya, bukan substansi protesnya.

Justru di sinilah tantangan protes kreatif, bagaimana menjaga agar pesan tetap utuh dan tidak hilang di tengah kebisingan interpretasi publik. Ambiguitas memang membuat simbol menarik, namun tanpa narasi pendukung, simbol protes tersebut bisa kehilangan arah atau bahkan dimanfaatkan pihak lain untuk agenda yang berbeda. Pada akhirnya, keberhasilan aksi seperti ini bergantung pada kecerdikan penggunanya dalam meramu simbol, momen, dan pesan, sehingga yang tertinggal bukan hanya perdebatan, tetapi juga kesadaran baru tentang makna kebebasan berekspresi di negeri ini.

Kebebasan, Otentisitas, dan “One Piece” Bangsa Indonesia

Dalam One Piece, setiap kru Topi Jerami berlayar bukan sekadar mencari harta, tapi mencari arti hidup masing-masing. Kebebasan yang mereka perjuangkan bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan untuk setia pada diri sendiri dan melindungi orang-orang yang mereka anggap keluarga.

Dari sudut pandang filsafat eksistensial, kemerdekaan sejati adalah keberanian untuk hidup autentik, membuat pilihan sadar, meski itu sulit atau berisiko. Protes kreatif seperti Jolly Roger di Hari Kemerdekaan mungkin, bagi sebagian orang, adalah cara mereka mengekspresikan otentisitas itu. Mereka ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, tapi juga hak untuk menyuarakan ketidaksetujuan.

Bendera Jolly Roger di Hari Kemerdekaan bisa dibaca sebagai fandom, bisa juga dibaca sebagai protes. Makna akhirnya ada di mata yang memandang. Tapi satu hal yang jelas, simbol memiliki kekuatan untuk menghidupkan percakapan tentang siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan kemerdekaan macam apa yang ingin kita wariskan.

Mungkin, seperti kru Topi Jerami, kita semua sedang mencari “one piece” kita masing-masing, entah itu keadilan, martabat, atau sekadar ruang untuk menjadi diri sendiri, tanpa takut pada ombak yang datang. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: bendera merah putihHUT Kemerdekaan RIone piece
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Next Post

Beda Mulut, Beda Bicara

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Beda Mulut, Beda Bicara

Beda Mulut, Beda Bicara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co