12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Isran Kamal by Isran Kamal
August 16, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Bayangkan 17 Agustus yang identik dengan bendera merah putih, upacara, dan lomba-lomba kemerdekaan, dan di antara lautan kain merah putih itu, tiba-tiba terlihat selembar bendera hitam bergambar tengkorak memakai topi jerami. Sebagian orang tertawa mengenali simbol itu. Jolly Roger milik kru Topi Jerami dari anime One Piece. Sebagian lainnya mengernyit, bertanya-tanya: “Ini bendera bajak laut, kok ada di perayaan kemerdekaan?”

Fenomena ini memicu pro-kontra. Ada yang menganggapnya sekadar ekspresi cinta fandom, ada pula yang menilai sebagai bentuk protes kreatif terhadap pemerintah, bahkan simbol kekecewaan atas kondisi sosial-politik. Di titik ini, kita berhadapan dengan pertanyaan penting: kapan sebuah simbol fiksi berubah menjadi bahasa politik?

Hal yang menarik dari fenomena ini adalah ketika hal ini terjadi di zaman di mana garis pembatas antara hiburan dan pernyataan politik sudah tipis seperti sinyal Wi-Fi di pelosok. Meme jadi senjata, potongan anime dijadikan manifesto, dan tokoh fiksi kerap terdengar lebih jujur daripada pidato pejabat. Jadi, pertanyaannya bukan lagi “kenapa ada bendera bajak laut di hari kemerdekaan?”, tapi “apakah kita memang sudah kehabisan tokoh nyata yang cukup layak untuk dijadikan simbol perlawanan?”

Jolly Roger sebagai Simbol Pop Culture

Dalam dunia One Piece, Jolly Roger adalah identitas kapal dan kru bajak laut. Versi milik Luffy dan kawan-kawan mewakili kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap otoritas yang korup. Makna ini sangat resonan bagi penggemarnya bukan sekadar dekorasi, melainkan bendera yang membawa cerita, nilai, dan semangat.

Saya sendiri mengenal Luffy sejak masih duduk di bangku SD, dan kini, di usia 32 tahun, saya menyadari bahwa perjalanan mereka bukan sekadar hiburan mingguan. Dari East Blue hingga Wano, cerita ini selalu konsisten menghadirkan perjuangan melawan tirani, tekad menjaga persahabatan, dan keberanian untuk mengejar mimpi meski dunia menertawakan. Lambang tengkorak dengan topi jerami itu, bagi saya, bukan tanda ancaman, melainkan pengingat untuk tetap teguh menjadi diri sendiri di tengah tekanan.

Bagi banyak penggemar, One Piece adalah teman tumbuh. Ada yang setia menonton tiap minggu selama belasan tahun, ada yang tenggelam dalam manga berlembar-lembar, ada pula yang memajang merchandise sebagai simbol kebanggaan. Ikatan panjang ini membuat Jolly Roger Luffy melampaui batas fiksi dimana One Piece menjadi bagian dari memori kolektif, mewakili janji tak terucap bahwa seperti kru Topi Jerami kita akan saling menopang dalam perjalanan hidup masing-masing.

Fandom modern tidak hanya mengkonsumsi karya, tapi juga “hidup” di dalamnya. Mereka mengadopsi simbol, bahasa, dan nilai-nilai cerita untuk membangun identitas kelompok. Dalam psikologi sosial, hal ini sejalan dengan fan identity theory, simbol fandom berfungsi sebagai tanda keanggotaan, rasa memiliki, dan pembeda dari “yang bukan bagian” dari kelompok tersebut.

Simbol sebagai Bahasa Protes

Dalam kacamata Social Identity Theory (Tajfel & Turner, 1979), simbol seperti Jolly Roger berfungsi sebagai jangkar identitas sosial. Simbol tersebut membantu individu merasa menjadi bagian dari kelompok yang memiliki tujuan dan nilai bersama. Ketika simbol ini muncul di ruang publik dalam konteks protes, simbol tersebut tidak hanya memperkuat kohesi kelompok, tetapi juga mempermudah individu untuk bergabung. Ada rasa “kita” yang terbangun, bahkan di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, hanya karena mereka berbagi tanda visual yang sama.

Dari sudut pandang Symbolic Interactionism, makna Jolly Roger bersifat cair dan kontekstual. Di dalam cerita One Piece, Jolly Roger adalah simbol kebebasan kru Topi Jerami. Namun, dalam situasi protes, maknanya dapat bergeser menjadi lambang perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap tidak adil. Pergeseran ini terjadi melalui interaksi sosial dan pembacaan kolektif di mana satu simbol memiliki banyak makna, tergantung siapa yang memegang dan di mana dikibarkan.

Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Kita pernah melihat bagaimana topeng Guy Fawkes dari film V for Vendetta yang awalnya hanya bagian dari narasi fiksi bertransformasi menjadi simbol global perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim, digunakan oleh kelompok seperti Anonymous hingga gerakan Occupy Wall Street.

Secara psikologis, simbol-simbol ini bekerja karena sifatnya yang transdiagnostic, Simbol ini tidak terikat pada satu isu spesifik, sehingga berbagai kelompok dengan agenda berbeda dapat merasa terwakili. Selain itu, daya tarik emosionalnya datang dari narasi pahlawan melawan tirani yang universal dan mudah dipahami lintas budaya. Dalam konteks protes, simbol pop culture seperti ini berfungsi ganda dimana simbol tersebut dapat mempersatukan massa di bawah identitas visual bersama, sekaligus memberikan “perisai” emosional yang membuat peserta merasa bagian dari kisah heroik yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Penggunaan simbol pop culture dalam protes juga dapat dilihat melalui perspektif emotional contagion suatufenomena di mana emosi menyebar dengan cepat dalam kelompok. Simbol yang akrab dan disukai, seperti Jolly Roger, mampu memicu emosi positif (nostalgia, semangat, kebersamaan) sekaligus membungkus pesan kritis terhadap kondisi sosial-politik. Kombinasi ini membuat pesan protes terasa lebih inklusif dan mengundang partisipasi. Inilah yang menjadikannya bagian dari low-risk activism, suatu aksi yang relatif aman dari sanksi keras, tetapi tetap efektif dalam membangun solidaritas dan menyampaikan kritik tajam.

Protes Kreatif di Era Digital

Indonesia punya tradisi panjang terhadap protes kreatif seperti mural satir, kaos dengan slogan politik, hingga meme yang menyindir kebijakan pemerintah. Dari zaman Orde Baru, ketika kritik harus disamarkan dalam bentuk lagu, teater, atau seni rupa, hingga era media sosial saat ini, masyarakat selalu menemukan cara untuk “mengatakan sesuatu” tanpa harus mengatakannya secara frontal. Kreativitas ini lahir dari keterbatasan ruang ekspresi, memaksa kritik berkembang menjadi bentuk seni yang cerdas, penuh lapisan makna, dan sering kali menyentil dengan humor.

Media sosial mempercepat penyebaran pesan ini. Dalam hitungan jam, foto bendera Jolly Roger di tiang bambu bisa viral, memancing diskusi publik dan mengundang komentar dari ribuan orang dari berbagai latar belakang. Penyebaran yang cepat ini membuat protes kreatif memiliki daya tembak yang jauh melampaui batas ruang dan waktu acara aslinya. Dari satu lokasi di sebuah desa atau kelurahan, simbol itu bisa menjadi pembicaraan nasional bahkan internasional.

Perayaan kemerdekaan menjadi momen simbolik yang kuat. Di tengah euforia nasionalisme, menyisipkan simbol “asing” seperti bendera bajak laut akan langsung menonjol. Ini adalah bentuk visual disruption, strategi komunikasi yang memanfaatkan kejutan visual untuk memaksa orang berhenti sejenak dan berpikir: “Apa maksudnya ini?” Strategi ini efektif karena bekerja di tingkat bawah sadar; otak kita secara alami memperhatikan hal yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Inilah yang membuat protes kreatif menarik untuk dibahas: Hal ini menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan cara keras, kasar, atau penuh konfrontasi. Justru dengan mengemas pesan dalam bentuk yang estetis, lucu, atau nyeleneh, pesan tersebut sering kali lebih mudah diterima, memancing rasa ingin tahu, dan mendorong percakapan lebih lanjut. Dalam konteks bendera Jolly Roger, simbol ini tidak datang dengan teriakan, tapi dengan senyum nakal dan kadang, senyum itu lebih memancing rasa penasaran daripada orasi berapi-api.

Risiko dan Kontroversi

Tentu saja, penggunaan simbol non-negara di momen kenegaraan mengundang pertanyaan etis. Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi atau justru pelecehan simbol negara? Ambiguitas pesan membuat sebagian orang tersenyum, sebagian tersinggung, dan sebagian lagi bingung.

Namun, penting untuk dicatat bahwa protes kreatif seperti ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi apalagi merendahkan sang Saka Merah Putih. Masyarakat yang melakukannya umumnya paham betul batas-batas simbolik bahwa bendera Jolly Roger tidak dikibarkan setara atau lebih tinggi dari bendera nasional, melainkan ditempatkan sebagai simbol tambahan, pelengkap, atau bahkan sisipan satir yang tetap menghormati hierarki simbol negara. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kritik tidak harus identik dengan perusakan atau penodaan, melainkan bisa disampaikan dalam bingkai yang tetap menghargai simbol resmi.

Meski begitu, risiko salah tafsir selalu ada. Simbol yang diadopsi dari budaya pop bisa dibaca dengan berbagai cara, tergantung latar belakang dan sensitivitas yang melihatnya. Sebagian mungkin mempersepsikannya sebagai tanda kreatifitas dan kecerdasan sosial, sementara yang lain bisa saja menganggapnya tindakan tidak pantas di momen sakral. Risiko lainnya adalah potensi reduksi pesan, ketika simbol lebih viral daripada makna yang ingin disampaikan, fokus publik bisa bergeser hanya pada kontroversinya, bukan substansi protesnya.

Justru di sinilah tantangan protes kreatif, bagaimana menjaga agar pesan tetap utuh dan tidak hilang di tengah kebisingan interpretasi publik. Ambiguitas memang membuat simbol menarik, namun tanpa narasi pendukung, simbol protes tersebut bisa kehilangan arah atau bahkan dimanfaatkan pihak lain untuk agenda yang berbeda. Pada akhirnya, keberhasilan aksi seperti ini bergantung pada kecerdikan penggunanya dalam meramu simbol, momen, dan pesan, sehingga yang tertinggal bukan hanya perdebatan, tetapi juga kesadaran baru tentang makna kebebasan berekspresi di negeri ini.

Kebebasan, Otentisitas, dan “One Piece” Bangsa Indonesia

Dalam One Piece, setiap kru Topi Jerami berlayar bukan sekadar mencari harta, tapi mencari arti hidup masing-masing. Kebebasan yang mereka perjuangkan bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan untuk setia pada diri sendiri dan melindungi orang-orang yang mereka anggap keluarga.

Dari sudut pandang filsafat eksistensial, kemerdekaan sejati adalah keberanian untuk hidup autentik, membuat pilihan sadar, meski itu sulit atau berisiko. Protes kreatif seperti Jolly Roger di Hari Kemerdekaan mungkin, bagi sebagian orang, adalah cara mereka mengekspresikan otentisitas itu. Mereka ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, tapi juga hak untuk menyuarakan ketidaksetujuan.

Bendera Jolly Roger di Hari Kemerdekaan bisa dibaca sebagai fandom, bisa juga dibaca sebagai protes. Makna akhirnya ada di mata yang memandang. Tapi satu hal yang jelas, simbol memiliki kekuatan untuk menghidupkan percakapan tentang siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan kemerdekaan macam apa yang ingin kita wariskan.

Mungkin, seperti kru Topi Jerami, kita semua sedang mencari “one piece” kita masing-masing, entah itu keadilan, martabat, atau sekadar ruang untuk menjadi diri sendiri, tanpa takut pada ombak yang datang. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: bendera merah putihHUT Kemerdekaan RIone piece
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Next Post

Beda Mulut, Beda Bicara

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Beda Mulut, Beda Bicara

Beda Mulut, Beda Bicara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co