3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Mulut, Beda Bicara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 16, 2025
in Esai
Beda Mulut, Beda Bicara

Ilustrasi tatkala.co

SERINGKALI ketika berkumpul dengan kerabat atau sahabat, topik pembicaraan menyangkut orang lain, keluarga atau teman dekat. Budaya “ngomongin orang lain” tampaknya sudah melekat. Rasanya ada yang kurang jika pertemuan tanpa membahas kabar orang lain.

Kalau sekadar menanyakan kabar, itu wajar. Tapi ketika obrolan bergeser ke kekurangan atau keburukan, di situlah bahaya muncul. Ada istilah lama, yakni “termakan omongan”. Artinya, kita mudah hanyut oleh perkataan orang lain tentang saudara, kerabat, atau teman yang menjadi objek gosip.

Kita sering ikut menimpali, menambahkan pengalaman atau informasi yang kita tahu. Obrolan pun terasa hangat, bahkan seru. Tapi jika gosip menyasar diri kita sendiri, kemarahan, kesal, atau sedih bisa muncul begitu saja.

Padahal, jika kita cek dan ricek, kabar itu belum tentu benar. Omongan sering sudah “dibumbui” sedemikian rupa. Lidah yang “tidak bertulang” ini bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga untuk mengadu domba. Omongan yang satu bisa melebar menjadi cerita lain, berubah bentuk sesuai kepentingan si pembicara. Tahu bisa menjadi pizza, pizza bisa menjadi martabak, dan tiba-tiba kita semua ikut makan “cerita” itu.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana gosip bisa mengubah persepsi sekelompok orang. Dalam sebuah pertemuan keluarga, ada isu tentang seorang anggota keluarga yang kabarnya melakukan kesalahan. Cerita itu berkembang begitu cepat, setiap orang menambahkan versi mereka sendiri. Akhirnya, fakta asli hampir tidak terdengar, dan suasana menjadi tegang. Ini bukan sekadar soal salah paham, tapi tentang bagaimana lidah yang tidak terkendali mampu merusak persatuan keluarga yang terbangun sejak lama.

Tak heran jika seorang mistik kontemporer India membuat pedoman bagi muridnya. Pedoman pertama: tidak membicarakan orang lain, terutama jika mereka tidak ada. Lidah, kata dia, adalah hal pertama yang harus dikendalikan.

Saat kita berkumpul dan membicarakan orang lain, energi yang terasa sering negatif. Fakta bisa kabur atau sengaja dikaburkan. Lidah yang tak terkendali bisa menjadi fitnah yang merusak persahabatan, pertemanan, bahkan ikatan keluarga.

Dalam antropologi, gosip bukan sekadar obrolan ringan. Ia memiliki fungsi sosial yang kompleks. Banyak antropolog menyebutnya sebagai mekanisme pengaturan sosial–cara masyarakat menegakkan norma, mengawasi perilaku anggota, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di masyarakat tradisional, gosip bisa menjadi pengingat perilaku yang diharapkan, menyebarkan kabar penting, atau menegaskan batasan antara anggota dan non-anggota komunitas. Misalnya, dalam beberapa studi etnografi, gosip digunakan untuk memberi “peringatan sosial” kepada mereka yang melanggar aturan adat. Tanpa sanksi formal, kabar yang beredar melalui gosip cukup efektif membuat individu sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Namun, gosip juga bisa menjadi alat kekuasaan dan manipulasi. Mereka yang lihai berbicara atau memiliki akses informasi sensitif dapat memengaruhi opini orang lain, membentuk reputasi seseorang secara tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa gosip adalah cermin relasi sosial, bukan sekadar hiburan ringan.

Di era digital, gosip berkembang lebih cepat. Media sosial membuatnya tersebar luas, tetapi dampaknya tetap sama, yaitu memperkuat ikatan kelompok, tapi juga bisa menimbulkan konflik. Terkadang, gosip digital lebih kejam karena sulit dikontrol dan bisa menjangkau orang yang tidak pernah kita kenal secara langsung. Setiap like, share, atau komentar menjadi bagian dari rantai informasi yang membesar dan seringkali tidak lagi mengenal kebenaran.

Meski fungsinya jelas, gosip memiliki dampak buruk yang nyata. Ia bisa merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, atau memicu retaknya persahabatan dan keluarga. Omongan yang dibumbui membuat fakta kabur dan masyarakat salah persepsi. Orang yang menjadi objek gosip sering merasa diawasi, dikritik, atau dikucilkan, menimbulkan stres dan isolasi. Gosip juga bisa memperkuat prasangka, stigma, dan stereotip dalam kelompok masyarakat. Dalam jangka panjang, kepercayaan antar anggota komunitas bisa menurun, dan energi sosial habis untuk konflik dan kecurigaan.

Selain itu, gosip dapat mengubah perilaku orang. Individu yang sering menjadi objek gosip mungkin mulai menahan diri, tidak lagi terbuka, atau bahkan mengubah cara mereka bersosialisasi. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan ketegangan sosial. Secara budaya, gosip yang tersebar luas dapat membentuk pandangan kolektif yang salah terhadap seseorang atau kelompok, bahkan mempengaruhi reputasi komunitas secara keseluruhan.

Dari perspektif antropologi, gosip memiliki dualitas. Di satu sisi alat pengikat sosial, di sisi lain senjata yang merusak tatanan masyarakat. Kesadaran ini mendorong kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih kritis dalam mendengar, dan selalu melakukan konfirmasi sebelum mempercayai kabar tentang orang lain.

Jauh sebelum istilah hoaks atau berita bohong dikenal, kata “membual” sudah ada: omongan yang tampak menarik tapi kosong, penuh kebohongan dan keculasan. Memahami gosip sebagai fenomena sosial dan budaya mengingatkan kita bahwa lidah yang terkendali bukan sekadar soal etika, tapi juga menjaga harmoni, hubungan, dan energi positif di sekitar kita.

Di dunia yang cepat bergerak ini, lidah yang terkendali menjadi alat sederhana namun kuat untuk menahan fitnah, menjaga persahabatan, dan memberi ruang bagi percakapan yang membangun. Jadi, sebelum bicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri, apakah lidah kita membawa kebaikan, atau bara yang siap membakar hubungan?

Dan ingat, lidah bisa membuat kita tersedak jika tidak hati-hati. Bicara itu seperti menyeruput kopi panas; nikmati, tapi jangan sampai terbakar. Lebih dari itu, gosip juga memberi kita kesempatan untuk refleksi. Kita bisa belajar tentang diri sendiri, bahwa seberapa sering kita ikut menyebarkan cerita tanpa cek fakta, seberapa mudah kita termakan kabar yang belum tentu benar. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk menumbuhkan komunitas yang lebih sehat, hubungan yang lebih tulus, dan lingkungan sosial yang lebih damai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Tags: gosipkomunikasirumor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Next Post

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co