2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Mulut, Beda Bicara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 16, 2025
in Esai
Beda Mulut, Beda Bicara

Ilustrasi tatkala.co

SERINGKALI ketika berkumpul dengan kerabat atau sahabat, topik pembicaraan menyangkut orang lain, keluarga atau teman dekat. Budaya “ngomongin orang lain” tampaknya sudah melekat. Rasanya ada yang kurang jika pertemuan tanpa membahas kabar orang lain.

Kalau sekadar menanyakan kabar, itu wajar. Tapi ketika obrolan bergeser ke kekurangan atau keburukan, di situlah bahaya muncul. Ada istilah lama, yakni “termakan omongan”. Artinya, kita mudah hanyut oleh perkataan orang lain tentang saudara, kerabat, atau teman yang menjadi objek gosip.

Kita sering ikut menimpali, menambahkan pengalaman atau informasi yang kita tahu. Obrolan pun terasa hangat, bahkan seru. Tapi jika gosip menyasar diri kita sendiri, kemarahan, kesal, atau sedih bisa muncul begitu saja.

Padahal, jika kita cek dan ricek, kabar itu belum tentu benar. Omongan sering sudah “dibumbui” sedemikian rupa. Lidah yang “tidak bertulang” ini bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga untuk mengadu domba. Omongan yang satu bisa melebar menjadi cerita lain, berubah bentuk sesuai kepentingan si pembicara. Tahu bisa menjadi pizza, pizza bisa menjadi martabak, dan tiba-tiba kita semua ikut makan “cerita” itu.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana gosip bisa mengubah persepsi sekelompok orang. Dalam sebuah pertemuan keluarga, ada isu tentang seorang anggota keluarga yang kabarnya melakukan kesalahan. Cerita itu berkembang begitu cepat, setiap orang menambahkan versi mereka sendiri. Akhirnya, fakta asli hampir tidak terdengar, dan suasana menjadi tegang. Ini bukan sekadar soal salah paham, tapi tentang bagaimana lidah yang tidak terkendali mampu merusak persatuan keluarga yang terbangun sejak lama.

Tak heran jika seorang mistik kontemporer India membuat pedoman bagi muridnya. Pedoman pertama: tidak membicarakan orang lain, terutama jika mereka tidak ada. Lidah, kata dia, adalah hal pertama yang harus dikendalikan.

Saat kita berkumpul dan membicarakan orang lain, energi yang terasa sering negatif. Fakta bisa kabur atau sengaja dikaburkan. Lidah yang tak terkendali bisa menjadi fitnah yang merusak persahabatan, pertemanan, bahkan ikatan keluarga.

Dalam antropologi, gosip bukan sekadar obrolan ringan. Ia memiliki fungsi sosial yang kompleks. Banyak antropolog menyebutnya sebagai mekanisme pengaturan sosial–cara masyarakat menegakkan norma, mengawasi perilaku anggota, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di masyarakat tradisional, gosip bisa menjadi pengingat perilaku yang diharapkan, menyebarkan kabar penting, atau menegaskan batasan antara anggota dan non-anggota komunitas. Misalnya, dalam beberapa studi etnografi, gosip digunakan untuk memberi “peringatan sosial” kepada mereka yang melanggar aturan adat. Tanpa sanksi formal, kabar yang beredar melalui gosip cukup efektif membuat individu sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Namun, gosip juga bisa menjadi alat kekuasaan dan manipulasi. Mereka yang lihai berbicara atau memiliki akses informasi sensitif dapat memengaruhi opini orang lain, membentuk reputasi seseorang secara tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa gosip adalah cermin relasi sosial, bukan sekadar hiburan ringan.

Di era digital, gosip berkembang lebih cepat. Media sosial membuatnya tersebar luas, tetapi dampaknya tetap sama, yaitu memperkuat ikatan kelompok, tapi juga bisa menimbulkan konflik. Terkadang, gosip digital lebih kejam karena sulit dikontrol dan bisa menjangkau orang yang tidak pernah kita kenal secara langsung. Setiap like, share, atau komentar menjadi bagian dari rantai informasi yang membesar dan seringkali tidak lagi mengenal kebenaran.

Meski fungsinya jelas, gosip memiliki dampak buruk yang nyata. Ia bisa merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, atau memicu retaknya persahabatan dan keluarga. Omongan yang dibumbui membuat fakta kabur dan masyarakat salah persepsi. Orang yang menjadi objek gosip sering merasa diawasi, dikritik, atau dikucilkan, menimbulkan stres dan isolasi. Gosip juga bisa memperkuat prasangka, stigma, dan stereotip dalam kelompok masyarakat. Dalam jangka panjang, kepercayaan antar anggota komunitas bisa menurun, dan energi sosial habis untuk konflik dan kecurigaan.

Selain itu, gosip dapat mengubah perilaku orang. Individu yang sering menjadi objek gosip mungkin mulai menahan diri, tidak lagi terbuka, atau bahkan mengubah cara mereka bersosialisasi. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan ketegangan sosial. Secara budaya, gosip yang tersebar luas dapat membentuk pandangan kolektif yang salah terhadap seseorang atau kelompok, bahkan mempengaruhi reputasi komunitas secara keseluruhan.

Dari perspektif antropologi, gosip memiliki dualitas. Di satu sisi alat pengikat sosial, di sisi lain senjata yang merusak tatanan masyarakat. Kesadaran ini mendorong kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih kritis dalam mendengar, dan selalu melakukan konfirmasi sebelum mempercayai kabar tentang orang lain.

Jauh sebelum istilah hoaks atau berita bohong dikenal, kata “membual” sudah ada: omongan yang tampak menarik tapi kosong, penuh kebohongan dan keculasan. Memahami gosip sebagai fenomena sosial dan budaya mengingatkan kita bahwa lidah yang terkendali bukan sekadar soal etika, tapi juga menjaga harmoni, hubungan, dan energi positif di sekitar kita.

Di dunia yang cepat bergerak ini, lidah yang terkendali menjadi alat sederhana namun kuat untuk menahan fitnah, menjaga persahabatan, dan memberi ruang bagi percakapan yang membangun. Jadi, sebelum bicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri, apakah lidah kita membawa kebaikan, atau bara yang siap membakar hubungan?

Dan ingat, lidah bisa membuat kita tersedak jika tidak hati-hati. Bicara itu seperti menyeruput kopi panas; nikmati, tapi jangan sampai terbakar. Lebih dari itu, gosip juga memberi kita kesempatan untuk refleksi. Kita bisa belajar tentang diri sendiri, bahwa seberapa sering kita ikut menyebarkan cerita tanpa cek fakta, seberapa mudah kita termakan kabar yang belum tentu benar. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk menumbuhkan komunitas yang lebih sehat, hubungan yang lebih tulus, dan lingkungan sosial yang lebih damai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Tags: gosipkomunikasirumor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Next Post

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co