23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KORUPSI merupakan salah satu fenomena sosial paling merusak di banyak negara, termasuk Indonesia. Korupsi tidak hanya menghancurkan sistem birokrasi dan kepercayaan publik, tetapi juga menimbulkan kerugian moral dan psikologis yang luas. Meski sering dipahami semata-mata sebagai masalah hukum atau politik, korupsi sesungguhnya juga dapat ditinjau dari berbagai perspektif psikologis.

Mengapa seseorang yang berpendidikan tinggi, religius, bahkan dipercaya masyarakat, tetap melakukan korupsi? Pertanyaan ini membawa kita pada ranah psikologi, di mana perilaku koruptif dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas.

Tulisan ini mencoba menelaah fenomena korupsi dari berbagai perspektif psikologis, mulai dari psikologi budaya yang menyoroti norma kolektif, psikologi kognitif yang mengungkap bias berpikir, psikologi sosial yang menyoroti pengaruh kelompok, hingga psikologi kepribadian dan moral yang menjelaskan dimensi individu. Pada akhirnya, meskipun setiap perspektif memberi penjelasan yang berharga, ada satu benang merah yang tidak bisa diabaikan: korupsi adalah tindakan destruktif yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Budaya

Dari perspektif psikologi budaya, perilaku koruptif dapat dipahami dalam kerangka nilai, norma, dan praktik sosial yang membentuk perilaku individu. Geert Hofstede (1980, 2001) melalui teori dimensi budaya menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat power distance (jarak kekuasaan) yang tinggi cenderung lebih permisif terhadap penyalahgunaan wewenang, karena adanya penerimaan sosial terhadap hierarki yang timpang. Dalam konteks ini, praktik korupsi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” atau bagian dari sistem.

Selain itu, Harry Triandis (1995) dalam teori individualisme-kolektivisme menunjukkan bahwa dalam masyarakat kolektivis, loyalitas terhadap kelompok atau jaringan sosial bisa lebih diutamakan daripada kepentingan umum. Hal ini menjelaskan mengapa praktik nepotisme, kolusi, atau “bagi-bagi proyek” dalam lingkaran kerabat lebih mudah muncul, karena ikatan sosial dianggap lebih penting daripada prinsip keadilan universal.

Sementara itu, Shalom Schwartz (1992, 2006) melalui Theory of Basic Human Values menekankan adanya perbedaan orientasi nilai seperti konservatisme vs. otonomi dan hierarki vs. egalitarianisme. Pada masyarakat dengan nilai hierarkis yang dominan, perilaku koruptif bisa memperoleh justifikasi karena dipandang selaras dengan praktik patronase dan ketundukan pada otoritas.

Dengan demikian, dari perspektif psikologi budaya, korupsi bukan hanya masalah individu yang “nakal”, melainkan juga cerminan dari nilai budaya dan struktur sosial yang memungkinkan praktik tersebut tumbuh dan bertahan. Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan bagaimana individu belajar dan beradaptasi dengan norma sosial yang berlaku.

Jika seseorang melihat bahwa orang-orang di sekitarnya menganggap korupsi sebagai hal wajar atau bahkan sebagai strategi bertahan hidup, maka individu tersebut akan lebih rentan menirunya. Proses ini sejalan dengan konsep cultural learning yang dijelaskan oleh Bandura melalui teori pembelajaran sosial bahwa perilaku tidak hanya lahir dari dorongan internal, tetapi juga dipelajari melalui observasi, imitasi, dan penguatan sosial. Dalam konteks korupsi, penguatan ini bisa berupa penerimaan sosial, status, atau keuntungan finansial yang dianggap sah menurut standar lingkungan tertentu.

Namun, meski budaya memberikan kerangka nilai dan legitimasi, keputusan individu untuk melakukan korupsi tetap dipengaruhi oleh proses kognitif internal. Setiap pelaku korupsi pada akhirnya melakukan rasionalisasi, justifikasi, atau bahkan distorsi berpikir untuk meredakan konflik moral yang mungkin muncul. Di sinilah psikologi kognitif mengambil peran penting untuk menjelaskan bagaimana bias, heuristik, dan proses pembenaran diri memungkinkan seseorang untuk merasa “benar” meskipun melakukan tindakan salah. Pembahasan berikutnya mengenai psikologi kognitif akan memperlihatkan mekanisme mental yang menopang dan memperkuat praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kognitif

Dari perspektif psikologi kognitif, korupsi dapat dipahami melalui cara individu memproses informasi, membuat keputusan, dan membentuk justifikasi moral terhadap tindakannya. Korupsi sering kali melibatkan mekanisme kognitif yang kompleks, termasuk distorsi kognitif, rasionalisasi, serta bias dalam penilaian moral.

Individu yang terlibat korupsi cenderung melakukan moral disengagement, yakni memutuskan kaitan antara tindakan yang salah dengan tanggung jawab pribadi, misalnya dengan berpikir “semua orang juga melakukannya” atau “uang negara toh tidak jelas ke mana perginya”. Proses ini memungkinkan seseorang mengurangi disonansi kognitif yang muncul ketika ada perbedaan antara nilai moral internal dengan tindakan menyimpang yang dilakukannya.

Sejumlah teori dalam psikologi kognitif membantu menjelaskan fenomena ini. Teori Cognitive Dissonance dari Leon Festinger (1957) menekankan bahwa ketika terdapat ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku, individu terdorong untuk mencari justifikasi yang dapat meredakan ketegangan psikologis. Dalam konteks korupsi, seorang pejabat yang awalnya menolak praktik suap dapat kemudian membenarkan tindakannya dengan alasan kebutuhan keluarga atau tuntutan pekerjaan.

Selain itu, konsep bounded rationality yang diperkenalkan Herbert Simon (1955) juga relevan: individu tidak selalu membuat keputusan yang sepenuhnya rasional, melainkan berdasarkan keterbatasan informasi, tekanan situasional, dan kapasitas kognitif. Dalam situasi di mana peluang korupsi terbuka lebar dan risiko hukum dianggap rendah, keputusan untuk melakukan korupsi bisa dipersepsi sebagai pilihan “rasional” dalam kerangka terbatas tersebut.

Dengan demikian, psikologi kognitif menyoroti bahwa korupsi bukan semata masalah moralitas atau budaya, melainkan juga produk dari proses berpikir yang terdistorsi. Distorsi ini membuat individu mampu menyamarkan perilaku menyimpang sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan perlu. Pemahaman ini menjadi jembatan untuk melihat lebih jauh pada psikologi sosial, di mana interaksi dengan lingkungan, norma kelompok, dan tekanan sosial memperkuat pola kognitif tersebut hingga akhirnya mengakar dalam perilaku kolektif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Sosial

Dari sudut pandang psikologi sosial, perilaku koruptif dapat dijelaskan melalui dinamika kelompok, pengaruh sosial, dan norma yang berlaku. Salah satu konsep penting adalah conformity (konformitas), yaitu kecenderungan individu menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan kelompok. Dalam konteks organisasi yang sudah terlanjur memiliki budaya permisif terhadap korupsi, individu baru yang masuk cenderung menyesuaikan diri dengan praktik tersebut agar diterima. Seperti yang ditunjukkan oleh eksperimen klasik Solomon Asch (1951), tekanan sosial kelompok dapat membuat seseorang menyetujui sesuatu yang jelas-jelas salah, hanya karena ingin dianggap “bagian dari kelompok”. Dalam organisasi birokrasi atau politik, fenomena serupa bisa mendorong orang yang awalnya idealis untuk ikut terjerumus dalam praktik korupsi.

Selain itu, konsep obedience to authority dari Stanley Milgram (1963) juga relevan. Milgram menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti perintah otoritas meskipun perintah itu bertentangan dengan nilai moral pribadinya. Dalam kasus korupsi, pegawai bawahan sering merasa terikat untuk menuruti instruksi atasan, misalnya memalsukan laporan keuangan atau menyalurkan dana secara ilegal. Mereka melakukannya bukan semata karena setuju, tetapi karena tekanan hierarki dan rasa takut terhadap konsekuensi bila menolak. Dengan demikian, otoritas dalam sistem sosial dapat memperkuat praktik korupsi melalui mekanisme kepatuhan.

Lebih jauh, teori social learning dari Albert Bandura (1977) juga menjelaskan bagaimana perilaku korupsi bisa menular. Individu belajar dari model atau figur yang dihormati. Jika mereka melihat senior atau tokoh publik berhasil memperoleh keuntungan besar dari korupsi tanpa konsekuensi serius, perilaku itu berpotensi ditiru. Hal ini diperkuat oleh mekanisme vicarious reinforcement ketika seseorang melihat orang lain mendapat “reward” dari tindakan menyimpang, dia juga terdorong untuk meniru hal itu meskipun sadar tindakan tersebut salah. Karena itu, pola korupsi sering berulang lintas generasi di lembaga yang sama, seakan menjadi tradisi tak tertulis.

Dengan perspektif psikologi sosial, korupsi tidak hanya dipahami sebagai hasil dorongan individu, tetapi juga sebagai produk tekanan kelompok, otoritas, dan proses pembelajaran sosial. Artinya, upaya pemberantasan korupsi perlu mempertimbangkan strategi yang mengubah norma kelompok, mengurangi kekuasaan otoritas yang sewenang-wenang, serta menghentikan siklus pembelajaran korupsi melalui teladan negatif.

Dengan demikian, tiga perspektif awal pada artikel ini yakni, psikologi budaya, kognitif, dan sosial, memberi gambaran bahwa korupsi lahir dari interaksi antara norma kolektif, cara berpikir yang terdistorsi, serta tekanan kelompok dan otoritas. Namun, kerangka ini baru menjelaskan setengah dari persoalan. Realitasnya, tidak semua individu yang hidup dalam budaya permisif, terpapar bias kognitif, atau berada dalam kelompok koruptif akhirnya terjerumus. Ada orang-orang yang tetap bertahan menjaga integritasnya.

Perbedaan ini menuntun kita untuk melihat lebih dalam pada faktor internal yang lebih personal, yakni bagaimana kepribadian, regulasi diri, serta perkembangan moral berperan dalam membentuk kerentanan atau ketahanan seseorang terhadap praktik korupsi. Aspek inilah yang akan dibahas lebih rinci dalam Bagian Kedua tulisan ini, yang mengulas korupsi dari perspektif psikologi kepribadian dan psikologi moral. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Tags: Anti KorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jia CURATED 2025: Bali sebagai Episentrum Kreativitas Global

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co