14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KORUPSI merupakan salah satu fenomena sosial paling merusak di banyak negara, termasuk Indonesia. Korupsi tidak hanya menghancurkan sistem birokrasi dan kepercayaan publik, tetapi juga menimbulkan kerugian moral dan psikologis yang luas. Meski sering dipahami semata-mata sebagai masalah hukum atau politik, korupsi sesungguhnya juga dapat ditinjau dari berbagai perspektif psikologis.

Mengapa seseorang yang berpendidikan tinggi, religius, bahkan dipercaya masyarakat, tetap melakukan korupsi? Pertanyaan ini membawa kita pada ranah psikologi, di mana perilaku koruptif dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas.

Tulisan ini mencoba menelaah fenomena korupsi dari berbagai perspektif psikologis, mulai dari psikologi budaya yang menyoroti norma kolektif, psikologi kognitif yang mengungkap bias berpikir, psikologi sosial yang menyoroti pengaruh kelompok, hingga psikologi kepribadian dan moral yang menjelaskan dimensi individu. Pada akhirnya, meskipun setiap perspektif memberi penjelasan yang berharga, ada satu benang merah yang tidak bisa diabaikan: korupsi adalah tindakan destruktif yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Budaya

Dari perspektif psikologi budaya, perilaku koruptif dapat dipahami dalam kerangka nilai, norma, dan praktik sosial yang membentuk perilaku individu. Geert Hofstede (1980, 2001) melalui teori dimensi budaya menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat power distance (jarak kekuasaan) yang tinggi cenderung lebih permisif terhadap penyalahgunaan wewenang, karena adanya penerimaan sosial terhadap hierarki yang timpang. Dalam konteks ini, praktik korupsi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” atau bagian dari sistem.

Selain itu, Harry Triandis (1995) dalam teori individualisme-kolektivisme menunjukkan bahwa dalam masyarakat kolektivis, loyalitas terhadap kelompok atau jaringan sosial bisa lebih diutamakan daripada kepentingan umum. Hal ini menjelaskan mengapa praktik nepotisme, kolusi, atau “bagi-bagi proyek” dalam lingkaran kerabat lebih mudah muncul, karena ikatan sosial dianggap lebih penting daripada prinsip keadilan universal.

Sementara itu, Shalom Schwartz (1992, 2006) melalui Theory of Basic Human Values menekankan adanya perbedaan orientasi nilai seperti konservatisme vs. otonomi dan hierarki vs. egalitarianisme. Pada masyarakat dengan nilai hierarkis yang dominan, perilaku koruptif bisa memperoleh justifikasi karena dipandang selaras dengan praktik patronase dan ketundukan pada otoritas.

Dengan demikian, dari perspektif psikologi budaya, korupsi bukan hanya masalah individu yang “nakal”, melainkan juga cerminan dari nilai budaya dan struktur sosial yang memungkinkan praktik tersebut tumbuh dan bertahan. Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan bagaimana individu belajar dan beradaptasi dengan norma sosial yang berlaku.

Jika seseorang melihat bahwa orang-orang di sekitarnya menganggap korupsi sebagai hal wajar atau bahkan sebagai strategi bertahan hidup, maka individu tersebut akan lebih rentan menirunya. Proses ini sejalan dengan konsep cultural learning yang dijelaskan oleh Bandura melalui teori pembelajaran sosial bahwa perilaku tidak hanya lahir dari dorongan internal, tetapi juga dipelajari melalui observasi, imitasi, dan penguatan sosial. Dalam konteks korupsi, penguatan ini bisa berupa penerimaan sosial, status, atau keuntungan finansial yang dianggap sah menurut standar lingkungan tertentu.

Namun, meski budaya memberikan kerangka nilai dan legitimasi, keputusan individu untuk melakukan korupsi tetap dipengaruhi oleh proses kognitif internal. Setiap pelaku korupsi pada akhirnya melakukan rasionalisasi, justifikasi, atau bahkan distorsi berpikir untuk meredakan konflik moral yang mungkin muncul. Di sinilah psikologi kognitif mengambil peran penting untuk menjelaskan bagaimana bias, heuristik, dan proses pembenaran diri memungkinkan seseorang untuk merasa “benar” meskipun melakukan tindakan salah. Pembahasan berikutnya mengenai psikologi kognitif akan memperlihatkan mekanisme mental yang menopang dan memperkuat praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kognitif

Dari perspektif psikologi kognitif, korupsi dapat dipahami melalui cara individu memproses informasi, membuat keputusan, dan membentuk justifikasi moral terhadap tindakannya. Korupsi sering kali melibatkan mekanisme kognitif yang kompleks, termasuk distorsi kognitif, rasionalisasi, serta bias dalam penilaian moral.

Individu yang terlibat korupsi cenderung melakukan moral disengagement, yakni memutuskan kaitan antara tindakan yang salah dengan tanggung jawab pribadi, misalnya dengan berpikir “semua orang juga melakukannya” atau “uang negara toh tidak jelas ke mana perginya”. Proses ini memungkinkan seseorang mengurangi disonansi kognitif yang muncul ketika ada perbedaan antara nilai moral internal dengan tindakan menyimpang yang dilakukannya.

Sejumlah teori dalam psikologi kognitif membantu menjelaskan fenomena ini. Teori Cognitive Dissonance dari Leon Festinger (1957) menekankan bahwa ketika terdapat ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku, individu terdorong untuk mencari justifikasi yang dapat meredakan ketegangan psikologis. Dalam konteks korupsi, seorang pejabat yang awalnya menolak praktik suap dapat kemudian membenarkan tindakannya dengan alasan kebutuhan keluarga atau tuntutan pekerjaan.

Selain itu, konsep bounded rationality yang diperkenalkan Herbert Simon (1955) juga relevan: individu tidak selalu membuat keputusan yang sepenuhnya rasional, melainkan berdasarkan keterbatasan informasi, tekanan situasional, dan kapasitas kognitif. Dalam situasi di mana peluang korupsi terbuka lebar dan risiko hukum dianggap rendah, keputusan untuk melakukan korupsi bisa dipersepsi sebagai pilihan “rasional” dalam kerangka terbatas tersebut.

Dengan demikian, psikologi kognitif menyoroti bahwa korupsi bukan semata masalah moralitas atau budaya, melainkan juga produk dari proses berpikir yang terdistorsi. Distorsi ini membuat individu mampu menyamarkan perilaku menyimpang sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan perlu. Pemahaman ini menjadi jembatan untuk melihat lebih jauh pada psikologi sosial, di mana interaksi dengan lingkungan, norma kelompok, dan tekanan sosial memperkuat pola kognitif tersebut hingga akhirnya mengakar dalam perilaku kolektif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Sosial

Dari sudut pandang psikologi sosial, perilaku koruptif dapat dijelaskan melalui dinamika kelompok, pengaruh sosial, dan norma yang berlaku. Salah satu konsep penting adalah conformity (konformitas), yaitu kecenderungan individu menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan kelompok. Dalam konteks organisasi yang sudah terlanjur memiliki budaya permisif terhadap korupsi, individu baru yang masuk cenderung menyesuaikan diri dengan praktik tersebut agar diterima. Seperti yang ditunjukkan oleh eksperimen klasik Solomon Asch (1951), tekanan sosial kelompok dapat membuat seseorang menyetujui sesuatu yang jelas-jelas salah, hanya karena ingin dianggap “bagian dari kelompok”. Dalam organisasi birokrasi atau politik, fenomena serupa bisa mendorong orang yang awalnya idealis untuk ikut terjerumus dalam praktik korupsi.

Selain itu, konsep obedience to authority dari Stanley Milgram (1963) juga relevan. Milgram menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti perintah otoritas meskipun perintah itu bertentangan dengan nilai moral pribadinya. Dalam kasus korupsi, pegawai bawahan sering merasa terikat untuk menuruti instruksi atasan, misalnya memalsukan laporan keuangan atau menyalurkan dana secara ilegal. Mereka melakukannya bukan semata karena setuju, tetapi karena tekanan hierarki dan rasa takut terhadap konsekuensi bila menolak. Dengan demikian, otoritas dalam sistem sosial dapat memperkuat praktik korupsi melalui mekanisme kepatuhan.

Lebih jauh, teori social learning dari Albert Bandura (1977) juga menjelaskan bagaimana perilaku korupsi bisa menular. Individu belajar dari model atau figur yang dihormati. Jika mereka melihat senior atau tokoh publik berhasil memperoleh keuntungan besar dari korupsi tanpa konsekuensi serius, perilaku itu berpotensi ditiru. Hal ini diperkuat oleh mekanisme vicarious reinforcement ketika seseorang melihat orang lain mendapat “reward” dari tindakan menyimpang, dia juga terdorong untuk meniru hal itu meskipun sadar tindakan tersebut salah. Karena itu, pola korupsi sering berulang lintas generasi di lembaga yang sama, seakan menjadi tradisi tak tertulis.

Dengan perspektif psikologi sosial, korupsi tidak hanya dipahami sebagai hasil dorongan individu, tetapi juga sebagai produk tekanan kelompok, otoritas, dan proses pembelajaran sosial. Artinya, upaya pemberantasan korupsi perlu mempertimbangkan strategi yang mengubah norma kelompok, mengurangi kekuasaan otoritas yang sewenang-wenang, serta menghentikan siklus pembelajaran korupsi melalui teladan negatif.

Dengan demikian, tiga perspektif awal pada artikel ini yakni, psikologi budaya, kognitif, dan sosial, memberi gambaran bahwa korupsi lahir dari interaksi antara norma kolektif, cara berpikir yang terdistorsi, serta tekanan kelompok dan otoritas. Namun, kerangka ini baru menjelaskan setengah dari persoalan. Realitasnya, tidak semua individu yang hidup dalam budaya permisif, terpapar bias kognitif, atau berada dalam kelompok koruptif akhirnya terjerumus. Ada orang-orang yang tetap bertahan menjaga integritasnya.

Perbedaan ini menuntun kita untuk melihat lebih dalam pada faktor internal yang lebih personal, yakni bagaimana kepribadian, regulasi diri, serta perkembangan moral berperan dalam membentuk kerentanan atau ketahanan seseorang terhadap praktik korupsi. Aspek inilah yang akan dibahas lebih rinci dalam Bagian Kedua tulisan ini, yang mengulas korupsi dari perspektif psikologi kepribadian dan psikologi moral. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Tags: Anti KorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jia CURATED 2025: Bali sebagai Episentrum Kreativitas Global

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co