25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Georgiana Triwinadi, Berkesenian Sejak Dalam Kandungan

Jaswanto by Jaswanto
November 15, 2024
in Persona
Made Georgiana Triwinadi, Berkesenian Sejak Dalam Kandungan

Made Georgiana Triwinadi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

IA, pemuda tambun dan gondrong itu, memegang dan mengangkat Tualen yang tingginya hampir satu meter. Lalu ia memberi wayang tersebut semacam ruh, sehingga dapat bergerak dan berbicara. Punakawan yang bertubuh hitam pekat itu, bergelagat dan bersuara karikatural-parodikal, pula tampak arif bijaksana. Orang-orang yang menontonnya tak dapat membendung gelak.

Kini, pemuda itu memainkan dua wayang sekaligus. Tangan kanan memegang Tualen, sedangkan yang kiri memainkan Merdah. Tualen dan Merdah berdialog. Kadang mereka menggunakan bahasa Bali, tak jarang bahasa Indonesia, dan di sela-sela itu Merdah bahkan berbahasa Inggris. Sekali lagi, lalu berkali-kali, orang-orang terbahak karena pertunjukan tersebut.

Tapi tak hanya Tualen dan Merdah, Delem dan Sangut juga tak mau kalah. Mereka berdua dimainkan dan diperkenalkan dengan lagak jenaka dan sedikit sombong—pun malas—sebagaimana karakter dua tokoh tersebut.

Ialah Made Georgiana Triwinadi, dalang muda di balik pertunjukan tersebut, Sabtu (9/11/2024) siang itu. Saat itu, Georgia sedang pentas di Subak Spirit Festival 2024 dengan tajuk “Wayang Bercerita”—dengan cerita “Temu Rasa”, semacam judul lakon, sebut saja begitu, yang diangkat sebagai garapan eksperimental, menggabungkan introduksi wayang dengan kisah surat Dewi Sita (atau Sinta) kepada Rama melalui Hanoman.

Georgia menganggap bahwa pesan Sita kepada Rama melalui Hanoman itu bukan sekadar urusan asmara. Pula simbol yang berkaitan dengan relasi (hubungan) antara manusia dan alam yang sangat erat, jalin-jemalin. “Temu Rasa itu menggambarkan alam dan kita; Sita adalah Siti; siti adalah pertiwi [tanah], yang menyampaikan pesan alam kepada kita semua,” Georgia menegaskan.

Made Georgiana Triwinadi saat memainkan Tualen dan Merdah (wayang wong-wongan) di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sebelum lebih jauh, mengenai kisah surat-menyurat tersebut, kata Georgia, itu satu kisah yang menurutnya jarang dilirik oleh banyak orang. Dalam epos—atau kakawin atau apalah sebutannya—Ramayana, kisah yang terkenal adalah pada saat Hanoman menemui Sita di Taman Ansoka, kera putih itu mendapat bunga emas dari kekasih Rama tersebut. Padahal, selain itu, Sita juga menitipkan surat—untuk Rama—ke Hanoman. “Menurut saya itu menarik untuk dipentaskan,” kata Georgiana.

Pertunjukan wayang tersebut memang berbeda dari biasanya. Bukan saja tanpa kelir, blencong, gamelan gender, dan dipentaskan di tengah sawah di Jatiluwih, pula bentuk wayangnya pun berbeda. Ya, wayang yang dimainkan Georgiana tampak lebih besar, lebih tinggi, dan lebar. “Ini wayang wong-wongan,” terang Georgiana.

Konsep Wayang Bercerita merupakan bentuk eksperimen (praktik) yang berangkat dari sebuah pertanyaan, “Kenapa orang-orang tidak banyak yang tertarik dengan pementasan wayang?” Jawaban yang sering terdengarkan saat mendapat pertanyaan demikian adalah karena tidak tahu atau paham tentang jalan ceritanya, tokoh-tokohnya, pun bahasa yang digunakan.

Oleh karena kesadaran tersebut, sebagai dalang, Georgia berusaha untuk mendekatkan wayang kepada orang-orang yang tidak tahu itu dengan cara menggelar pentas wayang tapi hanya untuk memperkenalkan, menjelaskan, sosoknya saja, mulai dari bentuk, suara, sampai sifat yang melekat dalam diri setiap tokoh pewayangan Bali. Jadilah “Wayang Bercerita”—wayang yang menceritakan sosoknya sendiri, seperti Tualen, Merdah, Delem, dan Sangut yang disinggung di awal tulisan.

Lantas, siapa sebenarnya Made Georgiana Triwinadi ini?

Perjalanan Berkesenian

Pada tahun 2010, media The Hindu menerbitkan sebuah liputan berjudul “The Little Warrior!”. Dalam laporan tersebut, Shailaja Tripathi menulis, “Georgiana Triwinadi yang berusia 11 tahun bukanlah Pawan Putra Hanuman—dewa monyet yang kuat yang dipuja oleh umat Hindu—tetapi ia benar-benar bisa terbang… Mimpi Georgiana, dan lebih dari itu, kecintaannya yang mendalam pada seni, telah memberinya sayap untuk terbang.”

Shailaja menulis kekagumannya setelah ia menonton Georgia—yang saat itu masih berumur 11 tahun—menarikan Baris—yang Shailaja sebut sebagai “tarian prajurit kuno”, salah satu bentuk tarian paling rumit di Pulau Bali—di India empat belas tahun silam.

Pada saat itu, berdasarkan surat terlampir dari Indira Gandhi National Centre for the Arts, New Delhi, tanggal 1 Januari 2010, Bali akan berkolaborasi bersama seniman dari Yogyakarta, Thailand,  Kamboja, dan India dengan target menghasilkan 3 fusion dance. Dan di antara seniman Bali yang berangkat, nama Georgiana tercantum di sana. Rombongan seniman Bali itu dipimpin Prof. I Nyoman Sedana, Ph.D, tak lain adalah ayah Georgia sendiri.

Dalam rangka pentas dan diplomasi budaya tersebut, Prof. Sedana mempresentasikan sebuah paper berjudul Indian Diaspora in Balinese Performing Arts. Sedangkan Georgia, selain menari, ia juga mendalang, membawakan dua lakon, yakni Arjuna Tapa dan Sutasoma. Saat itu, ia pentas di 5 kota di timur laut India, yaitu Guwahati, Shillong, Agartala, Imphal, dan Dimapur. Dan puncak pertunjukan kolaborasi tersebut digelar di New Delhi bersama para seniman dari berbagai negara.

Tahun berikutnya, ia tampil sebagai dalang cilik berbahasa Inggris dalam World Nature & Culture Heritage UNESCO di Nusa Dua Bali.

Tapi perlawatan ke India itu jelas bukan awal perjalanan kesenian Georgia. Sebenarnya, bisa dikatakan, ia sudah berkesenian sejak dalam kandungan. Pasalnya, Georgia lahir dari pasangan seniman cum akademisi-cerdik pandai pilih tanding di Bali. Ayahnya adalah guru besar pedalangan di ISI Denpasar. Sedangkan ibunya merupakan seniman tari yang andal.

Namun, meski begitu, seperti yang dituliskan Shailaja Tripathi, waktu menarikan Baris, bukan gerakan mata yang kaku atau postur tubuh yang berat yang membuat Georgia kecil khawatir, melainkan ketegangan bahwa ia mungkin terlihat gemuk dalam kostum tari yang ketat.

“Ibu saya menyimpan botol-botol susu instan di lemari es, dan kapan pun saya merasa lapar, saya meminumnya,” kata Georgia kepada jurnalis The Hindu itu. Saat itu, Georgia sedang duduk dengan nyaman di kursi di luar kamar tamu di gedung baru IGNCA (Indira Gandhi National Centre for the Arts), New Delhi, India.

Tumbuh besar di keluarga seniman akademisi, Georgia menjelma seniman muda yang multitalenta. Ia pandai dalam menari, cakap memainkan gamelan, dan piawai saat mendalang. Tapi belakangan, sebagaimana sang ayah, Georgia tampaknya lebih serius menggeluti dunia pedalangan. Oleh karena itu, selesai di bangku SMP ia melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 3 Sukawati jurusan Pedalangan. Tekadnya menjadi dalang tak dapat dibendung.

Made Georgiana Triwinadi saat memainkan Tualen (wayang wong-wongan) di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ayah Georgia, I Nyoman Sedana, adalah seorang profesor ternama di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Prof. Sedana lahir dari keluarga penari tradisional di Gianyar dan lulus dari sekolah menengah atas (KOKAR) dan perguruan tinggi (ASTI) Seni Pertunjukan.

Dalam seni pedalangan, Prof. Sedana berguru kepada I Nyoman Sumandhi dan Dalang Sidja. Ia menerima gelar MA dari Brown University dan gelar Ph.D dari University of Georgia, USA. Penelitiannya tentang tradisi boneka di Asia didukung oleh Asian Cultural Council, dan ia mendapat penghargaan Asia Fellow dari Ford Foundation, IIAS di Leiden, National University of Singapore, dan lembaga-lembaga lainnya. Prof. Sedana adalah penulis Performance in Bali (dengan Leon Rubin) dan menjadi seniman tamu di Butler University di Indiana.

“Ya, saya anak nomor dua Prof. I Nyoman Sedana,” ujar Georgia saat dikonfirmasi tatkala.co melalui WhatsAp, Kamis (14/11/2024) malam.

Berkat kiprah dan dedikasinya di bidang ksenian sejak kecil, Georgia mendapat penghargaan seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk Kategori Anak dan Remaja yang Berdedikasi terhadap Kebudayaan tahun 2014. Tahun itu, Prof. I Made Bandem juga mendapat Anugerah Tanda Kehormatan Kelas Satyalancana Kebudayaan.

Sebagai dalang, Georgia mempunyai kemampuan berbahasa Bali dan Inggris yang sama-sama baiknya. Kenapa mendalang dalam bahasa Bali dan Inggris? Georgia mengatakan, selain karena tumbuh dan besar di Bali, pula mementaskan wayang di Bali, ia ingin go international. “Karena itu saya juga berbahasa Inggris,” ungkapnya.

Mengenai hal tersebut, tak mengherankan sebenarnya. Sebab, saat berusia tiga bulan, Georgia sudah terbang ke Amerika Serikat saat ayahnya mendapat tugas menyelesaikan pendidikan doktor bidang pedalangan di sana. Ia dan keluarganya tinggal di sana selama empat tahun, sehingga Georgia sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa manca itu.

Georgia mengenal wayang sama baiknya seperti mengenal dirinya sendiri. Mungkin karena ia lahir dan besar dari keluarga seniman. Tapi barangkali juga oleh sebab ketekunannya. Ia salah satu sarjana ISI Denpasar terbaik di angkatannya waktu itu.

Seniman muda yang menyukai tokoh Kresna dalam kisah “Mahabharata” dan Batara Siwa dalam kisah dewa-dewa itu, kini sedang mengembangkan jenis wayang yang ia sebut wayang wong-wongan. Dan ia bercita-cita membuat animasi pertunjukan wayang.

Pada 2021, bersama I Nyoman Sedana, I Made Sidia, dan I Gusti Made Darma Putra, Georgia menuangkan pikirannya dalam tulisan “Wayang Paramosadham Penawar Covid Lintas Negara” yang dimuat dalam buku antologi Bunga Rampai Kajian Seni Budaya Ragam Perspektif yang diterbitkan oleh Unesa University Press.

Eksperimen Wayang Wong-wongan

Saat ini, Georgia memang terkenal dengan inovasi wayang wong-wongannya. Ya, berawal dari garapan wayang kulit raksasa untuk ujian tugas akhir (TA) seni pedalangan di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tahun 2020, wayang wong-wongan kini seolah menjadi nama tengah Georgiana Triwinadi. Setiap kali menyebut wayang wong-wongan, kita akan mengingat nama seniman 26 tahun tersebut.

Benar. Tak seperti wayang Bali pada umumnya, wayang wong-wongan berukuran jauh lebih tinggi dan besar, kisaran 90 cm hingga 2 meter. Itu setinggi orang dewasa.

Wayang wong-wongan adalah hasil eksperimen Georgia sejak beberapa tahun yang lalu. Desain wayang ini, katanya, terinspirasi dari lukisan wayang tradisi Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, bernama wong-wongan. Nama “wong-wongan” diusulkan oleh seniman Gungaji Saba yang diajak Georgia untuk mensketsa polanya sebelum dibentuk menjadi wayang.

“Wayang wong-wongan ini saya garap dengan bahan kedap air, bukan kulit, yakni karpet talang air setelah beberapa kali eksperimen,” terang Georgia dalam sebuah wawancara dengan media lokal Bali.

Pada awalnya, ia memakai metode pencetakan. Wayang standar difoto, diperbesar, lalu dicetak pada bahan serupa spanduk/baliho. Menurutnya, biaya produksi metode cetak ini cukup murah, namun kurang otentik. Kemudian, ia melakukan eksperimen kedua dengan mengikuti cara pembuatan wayang standar yang berbahan kulit.

Tualen (wayang wong-wongan) karya Made Georgiana Triwinadi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Bedanya ukurannya jauh lebih besar. Itu sangat otentik sebenarnya, tapi biaya produksinya tinggi—karena harga kulit yang mahal,” ujar Georgia.

Eksperimen selanjutnya, Georgia memakai bahan kertas solex yang biasa digunakan sebagai payasan (aksesoris) ogoh-ogoh. Biaya produksinya cukup ramah kantong dan secara kualitas bahan cukup sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun, lambat laun, bahan solex ini akan robek dan rusak, apalagi jika terkena air.

Oleh karena itu ia memilih memakai bahan karpet talang air setelah sekian berganti bahan. Karpet talang air dianggap paling cocok. “Tapi proses pewarnaannya perlu perlakuan khusus. Kami harus mengamplasnya terlebih dulu, baru dicat akrilik dengan campuran lem,” terang Georgia.

Dengan wayang wong-wongannya, Georgia sudah sampai ke Singapura, India, AS, dan Tiongkok. Kata Georgiana, wayang wong-wongan bakal menjadi program prioritas Studio Seni Kamajaya—studio yang didirikan kedua orang tuanya, Prof. Sedana dan Ni Wayan Seniasih, sejak 2006 silam.

Pertunjukan wayang betel, begitu Georgia menyebut pertunjukan wayang yang menggunakan wayang wong-wongan. Wayang betel mengadopsi dan mengembangkan pertunjukan wayang lemah/gedog Bali yang ritualistik ke dalam konteks artistik dan hiburan. Seperti dalang wayang lemah, dalang wayang betel juga terlihat penonton.

Tapi dalam pertunjukan wayang betel, dalang terlibat langsung sebagai bagian atraksi. Sang dalang ikut menari, mendramatisir panggung, sembari memainkan wayang berukuran jumbo—sebagaimana Georgia pentas di Subak Spirit Festival 2024 beberapa hari yang lalu.

Delem dan Sangut (wayang wong-wongan) karya Made Georgiana Triwinadi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bentuk pertunjukan wayang telah mengalami transformasi berulang kali seiring pertumbuhan dan perubahan masyarakat pendukungnya, memang. Dari semula pertunjukan bayangan, berkembang menjadi pertunjukan panggung yang bisa ditonton dari sudut mana pun. Dalang dan para pendukung pertunjukan yang semula berada di balik layar (kelir) dalam perkembangannya telah pula menjadi bagian utama dari pertunjukan itu sendiri.

Dan sekarang, perkembangan tersebut bisa melintasi apa pun. Wayang bisa dipadukan dengan pertunjukan teater, bisa pula dipentaskan sebagaimana Georgiana melakukannya. Sebab, kesenian wayang mutakhir tak melulu soal sakralitas, suci, keramat, pakem, atau semacamnya. Kemajuan teknologi telah menjalankan desakralisasi atas benda-benda seni—seperti kata Walter Benjamin dalam esai klasiknya di tahun 1936, yang telah mencermati gejala lenyapnya ‘aura’ karya seni akibat kemungkinan untuk direproduksi secara mekanis sampai tak hingga.

Dalam sebuah artikel berjudul “Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris”, Martin Suryajaya juga menerangkan mengenai hal tersebut. Menurut Martin, sebelum adanya teknologi reproduksi citrawi, setiap benda seni seakan mengandung kesan misterius dan suci seperti pusaka yang dikeramatkan dalam kepercayaan religius dikarenakan fakta bahwa benda itu cuma ada satu dan karenanya unik.

Tapi, kata Martin, berlawanan dengan tafsiran yang lazimnya dijumpai di Indonesia, Walter Benjamin tidak mengartikan hilangnya aura ini sebagai sesuatu yang buruk atau perlu disesali. Justru sebaliknya, ia merayakan itu karena dengan begitulah karya seni bisa diakses oleh masyarakat luas dan dari situ terjadi pensosialan atas pengalaman estetis.

Namun, dalam konteks pertunjukan wayang hari ini, bagi orang-orang yang berpandangan karya seni pada aspek bendawinya, transformasi (desakralisasi, sebut saja begitu) ini jelas menjadi agak problematik. Wayang yang semula merupakan peristiwa yang terkait erat dengan ritus-ritus sosial lambat laun bergeser menjadi sebuah agenda seremonial yang kehadiran bentuknya menjadi lebih penting daripada isinya. Masyarakat makin akrab dengan pertunjukan wayang tapi secara paradoks makin berjarak dengan kisahnya.

Arjuna (wayang wong-wongan) karya Made Georgiana Triwinadi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tapi barangkali pertunjukan wayang betel (wong-wongan) tidak demikian. Selain memikirkan bentuk, pula mementingkan isi. Bentuk dan isi ini memang selayaknya menyatu dalam seni pertunjukan. Dengan begitu, pertunjukan wayang jadi tak kalah bersaing dengan budaya massa yang lain, dan kemudian lolos dari ujian masa. Dan itu harus didukung dengan format yang menarik, dan perangkat sosial-budaya yang memadai.

Sebab, mengutip Goenawan Mohamad (GM), sudah lama dunia pewayangan tak digerakkan daya cipta. Kisah Mahabharata dan Ramayana berubah sekadar jadi potongan-potongan melodrama. Cerita-cerita wayang hanya menempatkan para Kurawa dalam pihak yang-jahat-dan-pasti-kalah, dan Pandawa pada posisi sebaliknya. Wayang makin tak berdaya membangun sebuah tragedi.

Kita semua berharap, di tangan seniman muda seperti Georgia ini, pertunjukan wayang bisa keluar dari apa yang dituduhkan GM, bahwa wayang masih berkubang pada cerita yang gampang ditebak atau jadi dunia verbal yang itu-itu-lagi; jadi narasi yang kehilangan hening, yang mengakibatkan klise tumbuh seperti benalu pada karya seni, yang mematikan daya cipta sebab klise adalah hasil yang selalu siap mengikuti formula—gampang karena mengulang. Bagaiman, Bli Georgia?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Putu Agus Gotawa: Seniman Muda yang Memiliki Mimpi Besar
Gaga Rizky, The Puppeteer Wayang Suket Indonesia
Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula
Dua Jam Bersama Luh Menek
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Tags: kesenian baliMade Georgiana TriwinadiSubak Spirit Festivalwayang Baliwayang wong-wongan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Olah Raga Tradisional dan Permainan Rakyat Anak-anak Kehilangan Ruang, Apa Upaya Kita?

Next Post

Kelas Kosong, Segala Haru dan Romantis Tumpah Ruah di Lapangan : Cerita HUT SMPN 2 Sawan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Kelas Kosong, Segala Haru dan Romantis Tumpah Ruah di Lapangan : Cerita HUT SMPN 2 Sawan

Kelas Kosong, Segala Haru dan Romantis Tumpah Ruah di Lapangan : Cerita HUT SMPN 2 Sawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co