13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gaga Rizky, The Puppeteer Wayang Suket Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
November 1, 2024
in Persona
Gaga Rizky, The Puppeteer Wayang Suket Indonesia

Gaga Rizky | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

SORE itu, lima tahun yang lalu, pada April 2019, pemuda itu berdiri di panggung Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, bersama enam kawannya yang masing-masing memegang alat musik—gendang, kudu (yang berbentuk seperti kendi), gitar, seruling, synthesizer, siter, dan beberapa alat musik lainnya. Di panggung itu, mendong atau semacamnya, ditebar dan dijadikan dekorasi.

Sementara di belakang mereka duduk, tepat di tengah-tengah panggung, kelir kecil yang diapit hiasan padang kering itu, berdiri, mencipta semacam semesta kecil dengan kehidupannya sendiri. Sedang di samping kanan dan kiri atas kelir itu, enam wayang ditancapkan.

Rambut panjang pemuda yang berdiri itu digelung dengan jepitan alih-alih diikat. Di sana, di panggung itu, sesaat setelah menyapa hadirin, dengan logat Jawanya yang khas, ia berbicara tentang apa yang sedang dan akan ia tampilkan.

“Perkenalkan, kami dari Wayang Suket Indonesia. Kali ini kami akan membawakan pertunjukan wayang suket dengan lakon Roro Jonggrang,” ujar pemuda itu, dengan kepercayaan diri yang penuh.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di Galeri Indonesia Kaya 2019 dengan lakon “Roro Jonggrang” | Foto: Dok Wayang Suket Indonesia

Perlu Anda ketahui, itu pertunjukan wayang yang lain dari segi apa pun. Bukan saja dari jenis dan bentuk wayangnya, tapi juga cerita, alat musik, dan segala perangkat yang menyertainya. Benar saja. Ini bukan pertunjukan wayang kulit (purwa) dengan segala keagungannya itu; ini, sebagaimana telah dikatakan pemuda tersebut, merupakan pertunjukan wayang suket—wayang yang terbuat dari rumput (suket).

Lihatlah, kini kelir mulai menyala seiring musik dimainkan. Pemuda yang berdiri memperkenalkan diri tadi ternyata juga selaku “dalang” dari pertunjukan ini. Di balik kelir, suaranya menggema dan mulai membawakan cerita dengan iringan musik yang menenangkan.

Di kelir, bayangan-bayangan sosok mulai muncul satu per satu. Narasi dan dialog tumpah silih-berganti dengan nyanyian dan musik pengiring, layaknya pementasan wayang kulit dengan sinden dan wiyogo-nya. Kisah mengalir. Dan Gaga Rizky, pemuda tersebut, menuntaskan legenda Candi Prambanan—kisah antara Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso—itu dengan kesan yang dalam. Gaga dan Wayang Suket Indonesia, sore itu, panen apresiasi.

Menonton pertunjukan Wayang Suket Indonesia—Gaga, dkk—mengingatkan kita kembali pada sosok seniman multitalenta Slamet Gundono (1966-2014). Ya, wayang suket pernah booming saat Slamet—seniman bertubuh bongsor yang ikonik itu—pentas di berbagai acara dan televisi nasional era 2008-2012. Sayangnya, pamor hiburan wong cilik ini kembali tenggelam setelah Slamet Gundono tutup usia pada Januari 2014 silam.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di Galeri Indonesia Kaya 2019 dengan lakon “Roro Jonggrang” | Foto: Dok Wayang Suket Indonesia

Selain wayang suket, sebagaimana yang tertulis di Wikipedia, Slamet juga menetaskan konsep wayang nggremeng, wayang lindur, wayang air, wayang multimedia, wayang kondo-m, dan wayang api. Masing-masing konsep pertunjukan wayang ini sudah mengangkat sejumlah repertoar yang digelar di berbagai panggung dan kantong seni dalam maupun luar negeri. Dan Slamet memberontaki pakem-pakem pewayangan dengan cinta dan elegan.

Uniknya, proses kreatif Slamet juga digodok, dierami dan ditetaskan di Solo, di mana Wayang Suket Indonesia lahir dari buah-pikir Gaga Rizky belakangan—walaupun Gaga mengaku saat membentuk komunitas seni tersebut ia belum tahu sosok maestro Slamet Gundono.

Nama lengkapnya Yhoga Rizky Kristanto. Barangkali Gaga Rizky hanya nama panggung saja. Ia lahir di Tuban, 25 Maret 1990. Gaga, panggilan akrabnya, merupakan pendiri sekaligus direktur kreatif Wayang Suket Indonesia. Dan di setiap pertunjukan, ia sendiri yang menjadi dalangnya—walaupun ia enggan disebut demikian.

Gaga Rizky dengan karya wayang suketnya | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Alasan Gaga enggan disebut dalang karena menurutnya sebutan itu memiliki pakem khusus, tidak bisa sembarangan orang mengklaim dirinya sebagai dalang. Gaga benar. “Jadi, saya ini puppeteer, bukan dalang,” ujarnya dalam sebuah wawancara di media massa di Tuban beberapa tahun yang lalu.

Sebelum menggeluti kesenian wayang suket, Gaga sebenarnya lebih dulu intens dengan seni boneka tali (marionette)—semacam Pinokio, tokoh boneka kayu yang terkenal itu. Ia mengaku cukup lihai dalam menggerakkan kesenian yang berasal dari peradaban kuno seperti Mesir dan Yunani itu. Gaga dapat, katakanlah, memberi ruh kepada boneka-boneka tali yang ia mainkan.

Tapi, sejak kembali bersentuhan dan pada akhirnya bergumul, bertungkus lumus melestari-wacanakan wayang suket, ada semacam nasionalisme, sebut saja begitu, atau kesadaran identitas, yang tiba-tiba bersemayam dalam hati dan pikirannya, tidak sekadar merasa keren sebagaimana saat ia memainkan marionette, dulu.

Gaga Rizky saat mementaskan wayang suket | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

***

Wayang Suket Indonesia seperti sudah menjadi identitas yang melekat dalam diri Gaga. Bagaimana pun, kelompok seni tersebut lahir dari buah pikir kepalanya. Pada awalnya, ia merasa prihatin akan keberadaan wayang suket dan cerita rakyat yang eksistensinya perlahan lenyap dari pengetahuan-ingatan kolektif, dan pandangan mata khalayak.

Wayang suket serta cerita rakyat bagi banyak orang hanya dianggap sekadar masa lalu dengan embel-embel peyoratif—seperti jadul, ketinggalan zaman, kuno, kampungan, tidak masuk akal, dll.

“Saya belajar membuat wayang suket sejak kecil,” ungkap Gaga kepada Tatkala.co saat dihubungi lewat WhatsApp, Rabu (30/10/2024) siang. Siang itu ia mengaku sedang di Yogyakarta. “Tapi saya berhenti membuatnya—dan itu sudah sangat lama,” sambungnya.

Gaga mengenal wayang suket dari sang kakek—ia memanggilnya Mbah Kung. Namun, seingat Gaga, ia belajar membuat wayang suket secara otodidak dari panduan sebuah buku membuat kerajinan yang ia baca di perpustakaan. Tapi pada saat itu bukan rumput yang ia pakai, melainkan tangkai daun singkong. Dan itu terjadi sudah lama sekali, sekira ia masih duduk di kelas 4 atau 5 SD.

Wayang suket karya Wayang Suket Indonesia | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

(Di beberapa desa di Tuban, Jawa Timur, pada era ‘90-an sampai awal 2000-an, wayang suket masih banyak dimainkan anak-anak, memang.)   

Gaga kembali membuat wayang suket pada 2017 silam, saat seorang teman memintanya membuat semacam cinderamata untuk sebuah hotel. Saat itu ia masih kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. “Waktu itu saya memang jualan souvenir—untuk tambahan makan dan biaya kos,” terang Gaga.

(Wayang suket kreasi Gaga berbahan rumput mendong (Fimbristylis umbellaris). Ia sengaja memilih jenis rumput tersebut karena, selain tahan lama dan tidak mengeluarkan bau tak sedap, pula paling memungkinkan untuk dianyam menjadi berbagai bentuk—karena kelenturan (elastisitas) rumput tersebut. Di beberapa daerah, rumput ini dibudidayakan untuk memenuhi pasokan bahan baku kriya. Di tangan Gaga, mendong-mendong kering itu bisa menjelma-rupa tokoh kesatria, priayi, wanita, dan anak-anak, dan berbagai bentuk lain sesuai kebutuhan cerita.)

Wayang suket karya Wayang Suket Indonesia | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Ternyata, wayang suket buatannya laku keras. Bahkan ia sering ikut pameran produk kreatif sejak itu. Tapi beberapa orang memberinya syak wasangka. Termasuk seorang anak kecil yang mengatakan bahwa kerajinan tangannya hanya sekadar rumput. “Suket [rumput] kok dijual!” kata Gaga menirukan anak kecil yang menyangsikan karyanya. Dari situlah Gaga mulai paham bahwa generasi belakangan ternyata tidak mengerti apa-apa tentang wayang suket.

“Lalu saya punya ide proyek pelestarian wayang suket. Hingga 25 Januari 2018, terbentuklah Wayang Suket Indonesia,” Gaga mengisahkan terbentuknya Wayang Suket Indonesia kepada Tatkala.co.

Pemuda lulusan SMAN 1 Tuban ini mengawali kariernya menjadi puppeteer (katakanlah orang yang menghidupkan boneka—kalau bukan dalang) untuk pertama kalinya saat masih duduk di bangku ilmu komunikasi UNS Surakarta.

Gaga mengatakan, pada awalnya, saat hendak melakukan pementasan wayang suket, sangat sulit mengajak teman-teman yang berasal dari Indonesia. Tapi, saat ia mengajak mereka yang dari luar, orang-orang manca berkulit pucat itu, Gaga disambut dengan penuh antusias. “Awalnya teman-teman saya yang bule-bule itu justru yang ngoyak-ngoyak [baca: menyemangati] saya,” kata Gaga, bernostalgia.

Rumput mendong, bahan baku wayang suket | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Saat ia mendirikan Wayang Suket Indonesia, 80 persen anggotanya berasal dari luar negeri—dari Amerika hingga Eropa. Kebanyakan dari bule tersebut adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bersama mereka, Gaga mementaskan wayang suket. Dan mereka kebanjiran tawaran manggung, dari dalam dan luar negeri. Berkat kemampuannya berbahasa Inggris, itu berkah bagi Gaga.

Jadilah Gaga dan Wayang Suket Indonesia terbang ke mana-mana, pindah dari satu panggung pertunjukan ke panggung lainnya. Dari Solo ke Jakarta, Hungary, Qatar, Taiwan, sampai Korea Selatan. Dari panggung konser di Balai Soedjatmoko (2018), sampai pentas di International Gamelan Festival pada tahun yang sama.

Dari Galeri Indonesia Kaya (2019), ArtJog Festival 2019, Parade Pertunjukan Seni Media Baru 2020, sampai di Helateater Salihara 2023. Dari Karakulit International Shadow Theatre Festival 2023 di Hungary, terbang ke panggung Years of Culture 2023 di Qatar, berkemas ke Lize Artist in Residence Program 2023 di Taiwan, dan belakangan performance di Busan University of Foreign Studies 2024 di Korea Selatan.

“Tapi sekarang sudah sebaliknya. 80 persen anggota kami dari Indonesia, selebihnya dari luar. Bahkan tim inti pementasan juga 100 persen orang Indonesia,” ujar Gaga sembari bersyukur.

Beberapa anak punk ikut workshop wayang suket di Sukabumi, Jawa Barat | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Selama ini, ide cerita Wayang Suket Indonesia selalu mengangkat kisah legenda atau cerita rakyat, seperti Roro Jonggrang, Aji Saka, Jaka Tarub, dan sebagainya. Setiap pentas, Wayang Suket Indonesia menampilkan kolaborasi visual, musik, dan storytelling trilingual language (bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa). Setiap cerita rakyat dibawakan dengan kemasan baru—dengan muatan kritik sosial, humor, dan pesan moral yang lebih segar. “Sekali pentas membutuhkan 6 sampai 12 orang,” terang Gaga.

Pementasan wayang suket dilakukan dengan teknik bayangan (shadow art techniques), yang menggabungkan perpaduan antara wayang suket dan seni visual bayangan. Terdapat tiga komponen utama dalam pementasan semacam ini, yaitu (1) wayang suket sebagai props atau alat untuk membawakan cerita, (2) visual art sebagai pendukung untuk memvisualisasikan latar belakang cerita, dan (3) musik sebagai pengiring yang lebih memberikan jiwa dan rasa pada pementasan wayang suket.

“Tapi kegiatan Wayang Suket Indonesia tidak hanya pertunjukan saja,” terang Gaga. Setidaknya ada empat hal yang mereka lakukan. Pertama, lokakarya membuat wayang suket; kedua, pementasan wayang suket; ketiga, eksibisi wayang suket; dan keempat, kegiatan sosial. “Misalnya terjadi bencana alam, biasanya kami melelang karya, dan hasilnya kami sumbangkan. Atau sekadar pentas di tempat bencana, sebagai semacam trauma healing,” Gaga mempresentasikan program-programnya secara umum.

***

Di Desa Semanding Gaga mencerap api kecil (jiwa) kesenian dari sang kakek—yang notabene sebagai seniman keroncong. Sosok yang ia panggil Mbah Kung itulah yang kerap mengajaknya latihan keroncong dan menonton pertunjukan wayang kulit, dulu. “Saya senang saat diajak nonton wayang, walaupun belum mengerti alur ceritanya,” ujar Gaga.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, Gaga lahir dan besar di Tuban, Jawa Timur. Bahkan setelah lama tinggal di Yogyakarta, sekira lima tahunan, ia pulang kampung ke Dusun Semanding Barat, Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. “Saya pulang kampung biar relasi saya dari berbagai negara di dunia itu tahu kalau Wayang Suket Indonesia itu dari Tuban,” kata dia.

Menurut Gaga, pada saat ia SMA dulu, ekosistem kesenian kontemper atau tradisi di Tuban cukup bergeliat. Pentas teater cukup ramai di Gedung Budaya Loka. Lalu seni pertunjukan macam sindir atau langen tayub, sandur, masih hidup dan lestari di desa-desa. Tapi setelah pulang kampung beberapa tahun yang lalu—Gaga cukup lama “meninggalkan” Tuban untuk menambang ilmu di beberapa kota—ia agak kaget.

Gaga Risky dan Wayang Suket Indonesia saat memberikan workshop di Kota Semarang | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

“Saya merasa kesenian dan kebudayaan di Tuban sekarang tidak seramai dulu. Makanya saya punya cita-cita membuat festival di Tuban, tapi masih merangkai dan mencoba membangun relasi dengan teman-teman seniman di Tuban,” terangnya.

Ekosistem kesenian dan kebudayaan di Tuban tampaknya memang sedang rebah—kalau bukan pingsan atau bahkan mati suri. Hal-hal yang berbau sastra, teater, atau katakanlah kesenian tradisi, seperti tak memiliki ruang jembar untuk berkembang. Festival-festival digelar hanya sekadar seremonial dan terkesan hiburan—untuk tidak mengatakan hura-hura—semata.

Tampaknya, barangkali kesenian di Tuban memang telah lama tinggal semata sebagai (aktivitas) kesenian. Ia telah menjadi sirkus pasar malam setiap akhir pekan atau di bulan-bulan tertentu dalam bentuk festival-festival populis dengan artis-artis musik yang sedang naik daun. Ia menjadi festival kostum dan perayaan setahun sekali dalam rupa karnaval-karnaval. Lalu untuk apa kesenian dan kebudayaan ketika ia sudah sampai di tahap itu?

Namun, dengan pulangnya Gaga dan wayang suketnya, Tuban masih memiliki harapan—masih ada cahaya di ujung lorong sana.

Saat ini, Wayang Suket Indonesia masih berjalan sebagaimana visi-misinya, yakni melestarikan dan mengenalkan wayang suket dan cerita-cerita rakyat Indonesia ke seluruh dunia. Sembari terus menjalankan program, Gaga dan Wayang Suket Indonesia tak berhenti belajar.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di ArtJog Festival 2019 | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Mereka terus berusaha mengeksplorasi bentuk-bentuk artistik baru. Melakukan riset-riset yang dapat menguatkan ekosistem wayang suket. Dan terus terlibat dengan banyak agenda festival untuk merawat relasi sebagai penguat modal sosial.

“Seniman harus terus mencari, pencarian yang takkan pernah selesai,” kata Slamet Gundono, maestro wayang suket di Indonesia.

Akhirnya, Wayang Suket Indonesia akan terus tampil total, unik, dan menarik. Menggelitik, namun jauh dari vulgar. Sarat kritik, tapi tidak kasar. Selalu memproduksi sindiran (sarkas) segar untuk isu aktual. Kadang penonton diajak terbahak, atau sekejap diantarkan untuk menangis.

Wayang suket selalu tampil lentur, memang. Durasi pementasannya tak pernah baku, tergantung panjang-pendek cerita yang dibawakan. Begitu pula iringan musiknya. Dan lakon memang bersumber dari cerita rakyat, tapi diperkaya dengan konteks, isu-isu terkini, serta cerita keseharian yang sedang jadi sorotan publik, misalnya.

Maka, wayang suket pun menjadi media seni teater berbasis kesenian wayang yang tak hanya sekadar populer, tapi juga berakar dari jiwa Jawa itu sendiri. Pesan-pesan kebaikan lewat visual, dialog, dan lagu-lagu, menarik lebih banyak orang dari lintas usia untuk memetik dan mendapatkan ibrah manis darinya. Bukan begitu, Mas Ga?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula
Dua Jam Bersama Luh Menek
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Tags: Gaga RizkyJawa TimurTubanwayang suketWayang Suket Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Next Post

Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co