14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gaga Rizky, The Puppeteer Wayang Suket Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
November 1, 2024
in Persona
Gaga Rizky, The Puppeteer Wayang Suket Indonesia

Gaga Rizky | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

SORE itu, lima tahun yang lalu, pada April 2019, pemuda itu berdiri di panggung Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, bersama enam kawannya yang masing-masing memegang alat musik—gendang, kudu (yang berbentuk seperti kendi), gitar, seruling, synthesizer, siter, dan beberapa alat musik lainnya. Di panggung itu, mendong atau semacamnya, ditebar dan dijadikan dekorasi.

Sementara di belakang mereka duduk, tepat di tengah-tengah panggung, kelir kecil yang diapit hiasan padang kering itu, berdiri, mencipta semacam semesta kecil dengan kehidupannya sendiri. Sedang di samping kanan dan kiri atas kelir itu, enam wayang ditancapkan.

Rambut panjang pemuda yang berdiri itu digelung dengan jepitan alih-alih diikat. Di sana, di panggung itu, sesaat setelah menyapa hadirin, dengan logat Jawanya yang khas, ia berbicara tentang apa yang sedang dan akan ia tampilkan.

“Perkenalkan, kami dari Wayang Suket Indonesia. Kali ini kami akan membawakan pertunjukan wayang suket dengan lakon Roro Jonggrang,” ujar pemuda itu, dengan kepercayaan diri yang penuh.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di Galeri Indonesia Kaya 2019 dengan lakon “Roro Jonggrang” | Foto: Dok Wayang Suket Indonesia

Perlu Anda ketahui, itu pertunjukan wayang yang lain dari segi apa pun. Bukan saja dari jenis dan bentuk wayangnya, tapi juga cerita, alat musik, dan segala perangkat yang menyertainya. Benar saja. Ini bukan pertunjukan wayang kulit (purwa) dengan segala keagungannya itu; ini, sebagaimana telah dikatakan pemuda tersebut, merupakan pertunjukan wayang suket—wayang yang terbuat dari rumput (suket).

Lihatlah, kini kelir mulai menyala seiring musik dimainkan. Pemuda yang berdiri memperkenalkan diri tadi ternyata juga selaku “dalang” dari pertunjukan ini. Di balik kelir, suaranya menggema dan mulai membawakan cerita dengan iringan musik yang menenangkan.

Di kelir, bayangan-bayangan sosok mulai muncul satu per satu. Narasi dan dialog tumpah silih-berganti dengan nyanyian dan musik pengiring, layaknya pementasan wayang kulit dengan sinden dan wiyogo-nya. Kisah mengalir. Dan Gaga Rizky, pemuda tersebut, menuntaskan legenda Candi Prambanan—kisah antara Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso—itu dengan kesan yang dalam. Gaga dan Wayang Suket Indonesia, sore itu, panen apresiasi.

Menonton pertunjukan Wayang Suket Indonesia—Gaga, dkk—mengingatkan kita kembali pada sosok seniman multitalenta Slamet Gundono (1966-2014). Ya, wayang suket pernah booming saat Slamet—seniman bertubuh bongsor yang ikonik itu—pentas di berbagai acara dan televisi nasional era 2008-2012. Sayangnya, pamor hiburan wong cilik ini kembali tenggelam setelah Slamet Gundono tutup usia pada Januari 2014 silam.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di Galeri Indonesia Kaya 2019 dengan lakon “Roro Jonggrang” | Foto: Dok Wayang Suket Indonesia

Selain wayang suket, sebagaimana yang tertulis di Wikipedia, Slamet juga menetaskan konsep wayang nggremeng, wayang lindur, wayang air, wayang multimedia, wayang kondo-m, dan wayang api. Masing-masing konsep pertunjukan wayang ini sudah mengangkat sejumlah repertoar yang digelar di berbagai panggung dan kantong seni dalam maupun luar negeri. Dan Slamet memberontaki pakem-pakem pewayangan dengan cinta dan elegan.

Uniknya, proses kreatif Slamet juga digodok, dierami dan ditetaskan di Solo, di mana Wayang Suket Indonesia lahir dari buah-pikir Gaga Rizky belakangan—walaupun Gaga mengaku saat membentuk komunitas seni tersebut ia belum tahu sosok maestro Slamet Gundono.

Nama lengkapnya Yhoga Rizky Kristanto. Barangkali Gaga Rizky hanya nama panggung saja. Ia lahir di Tuban, 25 Maret 1990. Gaga, panggilan akrabnya, merupakan pendiri sekaligus direktur kreatif Wayang Suket Indonesia. Dan di setiap pertunjukan, ia sendiri yang menjadi dalangnya—walaupun ia enggan disebut demikian.

Gaga Rizky dengan karya wayang suketnya | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Alasan Gaga enggan disebut dalang karena menurutnya sebutan itu memiliki pakem khusus, tidak bisa sembarangan orang mengklaim dirinya sebagai dalang. Gaga benar. “Jadi, saya ini puppeteer, bukan dalang,” ujarnya dalam sebuah wawancara di media massa di Tuban beberapa tahun yang lalu.

Sebelum menggeluti kesenian wayang suket, Gaga sebenarnya lebih dulu intens dengan seni boneka tali (marionette)—semacam Pinokio, tokoh boneka kayu yang terkenal itu. Ia mengaku cukup lihai dalam menggerakkan kesenian yang berasal dari peradaban kuno seperti Mesir dan Yunani itu. Gaga dapat, katakanlah, memberi ruh kepada boneka-boneka tali yang ia mainkan.

Tapi, sejak kembali bersentuhan dan pada akhirnya bergumul, bertungkus lumus melestari-wacanakan wayang suket, ada semacam nasionalisme, sebut saja begitu, atau kesadaran identitas, yang tiba-tiba bersemayam dalam hati dan pikirannya, tidak sekadar merasa keren sebagaimana saat ia memainkan marionette, dulu.

Gaga Rizky saat mementaskan wayang suket | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

***

Wayang Suket Indonesia seperti sudah menjadi identitas yang melekat dalam diri Gaga. Bagaimana pun, kelompok seni tersebut lahir dari buah pikir kepalanya. Pada awalnya, ia merasa prihatin akan keberadaan wayang suket dan cerita rakyat yang eksistensinya perlahan lenyap dari pengetahuan-ingatan kolektif, dan pandangan mata khalayak.

Wayang suket serta cerita rakyat bagi banyak orang hanya dianggap sekadar masa lalu dengan embel-embel peyoratif—seperti jadul, ketinggalan zaman, kuno, kampungan, tidak masuk akal, dll.

“Saya belajar membuat wayang suket sejak kecil,” ungkap Gaga kepada Tatkala.co saat dihubungi lewat WhatsApp, Rabu (30/10/2024) siang. Siang itu ia mengaku sedang di Yogyakarta. “Tapi saya berhenti membuatnya—dan itu sudah sangat lama,” sambungnya.

Gaga mengenal wayang suket dari sang kakek—ia memanggilnya Mbah Kung. Namun, seingat Gaga, ia belajar membuat wayang suket secara otodidak dari panduan sebuah buku membuat kerajinan yang ia baca di perpustakaan. Tapi pada saat itu bukan rumput yang ia pakai, melainkan tangkai daun singkong. Dan itu terjadi sudah lama sekali, sekira ia masih duduk di kelas 4 atau 5 SD.

Wayang suket karya Wayang Suket Indonesia | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

(Di beberapa desa di Tuban, Jawa Timur, pada era ‘90-an sampai awal 2000-an, wayang suket masih banyak dimainkan anak-anak, memang.)   

Gaga kembali membuat wayang suket pada 2017 silam, saat seorang teman memintanya membuat semacam cinderamata untuk sebuah hotel. Saat itu ia masih kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. “Waktu itu saya memang jualan souvenir—untuk tambahan makan dan biaya kos,” terang Gaga.

(Wayang suket kreasi Gaga berbahan rumput mendong (Fimbristylis umbellaris). Ia sengaja memilih jenis rumput tersebut karena, selain tahan lama dan tidak mengeluarkan bau tak sedap, pula paling memungkinkan untuk dianyam menjadi berbagai bentuk—karena kelenturan (elastisitas) rumput tersebut. Di beberapa daerah, rumput ini dibudidayakan untuk memenuhi pasokan bahan baku kriya. Di tangan Gaga, mendong-mendong kering itu bisa menjelma-rupa tokoh kesatria, priayi, wanita, dan anak-anak, dan berbagai bentuk lain sesuai kebutuhan cerita.)

Wayang suket karya Wayang Suket Indonesia | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Ternyata, wayang suket buatannya laku keras. Bahkan ia sering ikut pameran produk kreatif sejak itu. Tapi beberapa orang memberinya syak wasangka. Termasuk seorang anak kecil yang mengatakan bahwa kerajinan tangannya hanya sekadar rumput. “Suket [rumput] kok dijual!” kata Gaga menirukan anak kecil yang menyangsikan karyanya. Dari situlah Gaga mulai paham bahwa generasi belakangan ternyata tidak mengerti apa-apa tentang wayang suket.

“Lalu saya punya ide proyek pelestarian wayang suket. Hingga 25 Januari 2018, terbentuklah Wayang Suket Indonesia,” Gaga mengisahkan terbentuknya Wayang Suket Indonesia kepada Tatkala.co.

Pemuda lulusan SMAN 1 Tuban ini mengawali kariernya menjadi puppeteer (katakanlah orang yang menghidupkan boneka—kalau bukan dalang) untuk pertama kalinya saat masih duduk di bangku ilmu komunikasi UNS Surakarta.

Gaga mengatakan, pada awalnya, saat hendak melakukan pementasan wayang suket, sangat sulit mengajak teman-teman yang berasal dari Indonesia. Tapi, saat ia mengajak mereka yang dari luar, orang-orang manca berkulit pucat itu, Gaga disambut dengan penuh antusias. “Awalnya teman-teman saya yang bule-bule itu justru yang ngoyak-ngoyak [baca: menyemangati] saya,” kata Gaga, bernostalgia.

Rumput mendong, bahan baku wayang suket | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Saat ia mendirikan Wayang Suket Indonesia, 80 persen anggotanya berasal dari luar negeri—dari Amerika hingga Eropa. Kebanyakan dari bule tersebut adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bersama mereka, Gaga mementaskan wayang suket. Dan mereka kebanjiran tawaran manggung, dari dalam dan luar negeri. Berkat kemampuannya berbahasa Inggris, itu berkah bagi Gaga.

Jadilah Gaga dan Wayang Suket Indonesia terbang ke mana-mana, pindah dari satu panggung pertunjukan ke panggung lainnya. Dari Solo ke Jakarta, Hungary, Qatar, Taiwan, sampai Korea Selatan. Dari panggung konser di Balai Soedjatmoko (2018), sampai pentas di International Gamelan Festival pada tahun yang sama.

Dari Galeri Indonesia Kaya (2019), ArtJog Festival 2019, Parade Pertunjukan Seni Media Baru 2020, sampai di Helateater Salihara 2023. Dari Karakulit International Shadow Theatre Festival 2023 di Hungary, terbang ke panggung Years of Culture 2023 di Qatar, berkemas ke Lize Artist in Residence Program 2023 di Taiwan, dan belakangan performance di Busan University of Foreign Studies 2024 di Korea Selatan.

“Tapi sekarang sudah sebaliknya. 80 persen anggota kami dari Indonesia, selebihnya dari luar. Bahkan tim inti pementasan juga 100 persen orang Indonesia,” ujar Gaga sembari bersyukur.

Beberapa anak punk ikut workshop wayang suket di Sukabumi, Jawa Barat | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Selama ini, ide cerita Wayang Suket Indonesia selalu mengangkat kisah legenda atau cerita rakyat, seperti Roro Jonggrang, Aji Saka, Jaka Tarub, dan sebagainya. Setiap pentas, Wayang Suket Indonesia menampilkan kolaborasi visual, musik, dan storytelling trilingual language (bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa). Setiap cerita rakyat dibawakan dengan kemasan baru—dengan muatan kritik sosial, humor, dan pesan moral yang lebih segar. “Sekali pentas membutuhkan 6 sampai 12 orang,” terang Gaga.

Pementasan wayang suket dilakukan dengan teknik bayangan (shadow art techniques), yang menggabungkan perpaduan antara wayang suket dan seni visual bayangan. Terdapat tiga komponen utama dalam pementasan semacam ini, yaitu (1) wayang suket sebagai props atau alat untuk membawakan cerita, (2) visual art sebagai pendukung untuk memvisualisasikan latar belakang cerita, dan (3) musik sebagai pengiring yang lebih memberikan jiwa dan rasa pada pementasan wayang suket.

“Tapi kegiatan Wayang Suket Indonesia tidak hanya pertunjukan saja,” terang Gaga. Setidaknya ada empat hal yang mereka lakukan. Pertama, lokakarya membuat wayang suket; kedua, pementasan wayang suket; ketiga, eksibisi wayang suket; dan keempat, kegiatan sosial. “Misalnya terjadi bencana alam, biasanya kami melelang karya, dan hasilnya kami sumbangkan. Atau sekadar pentas di tempat bencana, sebagai semacam trauma healing,” Gaga mempresentasikan program-programnya secara umum.

***

Di Desa Semanding Gaga mencerap api kecil (jiwa) kesenian dari sang kakek—yang notabene sebagai seniman keroncong. Sosok yang ia panggil Mbah Kung itulah yang kerap mengajaknya latihan keroncong dan menonton pertunjukan wayang kulit, dulu. “Saya senang saat diajak nonton wayang, walaupun belum mengerti alur ceritanya,” ujar Gaga.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, Gaga lahir dan besar di Tuban, Jawa Timur. Bahkan setelah lama tinggal di Yogyakarta, sekira lima tahunan, ia pulang kampung ke Dusun Semanding Barat, Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. “Saya pulang kampung biar relasi saya dari berbagai negara di dunia itu tahu kalau Wayang Suket Indonesia itu dari Tuban,” kata dia.

Menurut Gaga, pada saat ia SMA dulu, ekosistem kesenian kontemper atau tradisi di Tuban cukup bergeliat. Pentas teater cukup ramai di Gedung Budaya Loka. Lalu seni pertunjukan macam sindir atau langen tayub, sandur, masih hidup dan lestari di desa-desa. Tapi setelah pulang kampung beberapa tahun yang lalu—Gaga cukup lama “meninggalkan” Tuban untuk menambang ilmu di beberapa kota—ia agak kaget.

Gaga Risky dan Wayang Suket Indonesia saat memberikan workshop di Kota Semarang | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

“Saya merasa kesenian dan kebudayaan di Tuban sekarang tidak seramai dulu. Makanya saya punya cita-cita membuat festival di Tuban, tapi masih merangkai dan mencoba membangun relasi dengan teman-teman seniman di Tuban,” terangnya.

Ekosistem kesenian dan kebudayaan di Tuban tampaknya memang sedang rebah—kalau bukan pingsan atau bahkan mati suri. Hal-hal yang berbau sastra, teater, atau katakanlah kesenian tradisi, seperti tak memiliki ruang jembar untuk berkembang. Festival-festival digelar hanya sekadar seremonial dan terkesan hiburan—untuk tidak mengatakan hura-hura—semata.

Tampaknya, barangkali kesenian di Tuban memang telah lama tinggal semata sebagai (aktivitas) kesenian. Ia telah menjadi sirkus pasar malam setiap akhir pekan atau di bulan-bulan tertentu dalam bentuk festival-festival populis dengan artis-artis musik yang sedang naik daun. Ia menjadi festival kostum dan perayaan setahun sekali dalam rupa karnaval-karnaval. Lalu untuk apa kesenian dan kebudayaan ketika ia sudah sampai di tahap itu?

Namun, dengan pulangnya Gaga dan wayang suketnya, Tuban masih memiliki harapan—masih ada cahaya di ujung lorong sana.

Saat ini, Wayang Suket Indonesia masih berjalan sebagaimana visi-misinya, yakni melestarikan dan mengenalkan wayang suket dan cerita-cerita rakyat Indonesia ke seluruh dunia. Sembari terus menjalankan program, Gaga dan Wayang Suket Indonesia tak berhenti belajar.

Wayang Suket Indonesia saat pentas di ArtJog Festival 2019 | Foto: Dok. Wayang Suket Indonesia

Mereka terus berusaha mengeksplorasi bentuk-bentuk artistik baru. Melakukan riset-riset yang dapat menguatkan ekosistem wayang suket. Dan terus terlibat dengan banyak agenda festival untuk merawat relasi sebagai penguat modal sosial.

“Seniman harus terus mencari, pencarian yang takkan pernah selesai,” kata Slamet Gundono, maestro wayang suket di Indonesia.

Akhirnya, Wayang Suket Indonesia akan terus tampil total, unik, dan menarik. Menggelitik, namun jauh dari vulgar. Sarat kritik, tapi tidak kasar. Selalu memproduksi sindiran (sarkas) segar untuk isu aktual. Kadang penonton diajak terbahak, atau sekejap diantarkan untuk menangis.

Wayang suket selalu tampil lentur, memang. Durasi pementasannya tak pernah baku, tergantung panjang-pendek cerita yang dibawakan. Begitu pula iringan musiknya. Dan lakon memang bersumber dari cerita rakyat, tapi diperkaya dengan konteks, isu-isu terkini, serta cerita keseharian yang sedang jadi sorotan publik, misalnya.

Maka, wayang suket pun menjadi media seni teater berbasis kesenian wayang yang tak hanya sekadar populer, tapi juga berakar dari jiwa Jawa itu sendiri. Pesan-pesan kebaikan lewat visual, dialog, dan lagu-lagu, menarik lebih banyak orang dari lintas usia untuk memetik dan mendapatkan ibrah manis darinya. Bukan begitu, Mas Ga?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula
Dua Jam Bersama Luh Menek
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Tags: Gaga RizkyJawa TimurTubanwayang suketWayang Suket Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Next Post

Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co