14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Daneswara Satya Swandaru, Dalang Cilik Berprestasi dari Gunungkidul

Jaswanto by Jaswanto
October 8, 2024
in Persona
Mengenal Daneswara Satya Swandaru, Dalang Cilik Berprestasi dari Gunungkidul

Daneswara Satya Swandaru | Foto: Dok. Pribadi

LAKON “Wiratha Parwa” jelas bukan lakon yang ringan dalam pertunjukan wayang kulit, semua pecinta wayang purwa tahu itu. Lakon ini bercerita tentang persoalan Negara Wiratha dan seputar agenda (licik) Kurawa dalam mengalahkan kedigdayaan kerabat mereka sendiri, Pandawa—yang seumur hidup mereka anggap sebagai musuh itu. Muatan politik dan perebutan kekuasaan, pengaruh, sangat kental dalam cerita ini.

Tetapi, dengan mengejutkan, anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu, meski belum bisa dikatakan sempurna, berani membawakannya di depan umum dalam sebuah pertunjukan wayang ana-anak. Anak kecil itu bahkan suluk sebelum cerita dimulai. Dan betapa ia juga berusaha, dengan lugu, untuk bersuara berat dan besar saat memainkan Werkudara (Bima versi Jawa)—walaupun suaranya terdengar sangat menggemaskan.

Sebagai penikmat pertunjukan wayang, menurut saya, penampilan Daneswara Satya Swandaru di Festival Dalang Cilik ke-10 di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2021 itu jelas tidak bisa dianggap remeh. Dalang cilik dari Gunungkidul, Yogyakarta, itu sangat baik—meski bukan yang terbaik—dalam memainkan cerita Wiratha Parwa. Bahkan, dalam festival tersebut, ia meraih juara ketiga.

Daneswara Satya Swandaru saat menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 | Foto: Dok. Pribadi

Pada September kemarin, di Jakarta, remaja yang akrab dipanggil Daneswara itu duduk diam bersama Zakia Minang Ayu (pegiat seni dan sastra cilik dari Bangka) dan Nurul Khaerul Nisa (penyanyi dan penari cilik dari Cianjur). Ia dan kedua seniman cilik itu sama-sama mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 kategori anak.

Sebagaimana telah disinggung di atas, Daneswara merupakan seorang dalang cilik yang lahir dan besar di Dusun Nogosari, Kalurahan Bandung Kapanewon, Gunungkidul, DIY. Menurut Yoseph Harjanto, ayah Daneswara, anak sematawayangnya ini memang memiliki komitmen dan semangat yang kuat dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Jawa, khususnya pedalangan wayang kulit.

“Daneswara sudah menggeluti seni pedalangan sejak berusia 5 tahun. Kegemarannya bermain wayang sebenarnya sudah tampak sejak balita,” kata Yoseph, Jumat (20/09/2024) bulan lalu. Lebih lanjut, Yoseph juga mengungkapkan, selain pandai mendalang wayang kulit dan golek Menak, Daneswara juga pintar soal karawitan.

Di tangan bocah yang saat ini duduk di bangku kelas I SMPN 2 Wonosari itu, wayang bisa tampak hidup. Gerakannya luwes, lentur, dan artikulasinya jelas. Bahasa Jawanya ngelothok. Dan penguasaan ceritanya tak perlu diragukan lagi. Walaupun saat melakukan adegan peperangan ia masih tampak ragu-ragu. Ia belum begitu tegen saat melakukan sabetan yang satu ini. Dan dalam seni olah suara, tampaknya ia harus belajar lebih giat lagi.

Teknik sabetan dalam pertunjukan wayang bukan hanya sekadar perkara teknis. Ia, sabetan, merupakan seni gerak yang harus dilatih terus menerus hingga dalang seolah menyatu dengan wayang yang dimainkan—hingga wayang seperti bergerak sendiri, berbicara, hidup, sampai penonton seperti tak melihat sosok dalang di baliknya.

Daneswara Satya Swandaru saat tampil di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2023 | Foto: Dok. Pribadi

Sabetan wayang seperti cepengan (teknik memegang wayang), tancepan (teknik menancapkan wayang pada batang pisang), solah ( teknis menggerakkan wayang), dedholan (teknik dalam sabetan wayang), entas-entasan (teknik mencabut dan gerak wayang keluar dari layar), dan seterusnya, adalah proses belajar terus-menerus selama dalang masih memantaskan wayang.

Tapi umurnya baru 13 tahun. Mana adil membandingkannya dengan sosok Ki Seno Nugroho atau Ki Enthus Susmono, misalnya. Apalagi dengan dalang kondang Ki Anom Suroto atau Ki Nartosabdo. Jelas, itu hanya akan sia-sia. Sebab, dalam khazanah pewayangan Jawa, nama Daneswara adalah masa depan. Perjalanannya masih panjang. Kesempatan belajarnya masih banyak. Pengalamannya, tentu saja, akan terus bertambah.

“Dia [Daneswara] berlatih seni pedalangan dan karawitan di Sanggar Pengalasan di Wiladeg Kapanewon, Karangmojo, pimpinan Pak Slamet Haryadi,” terang Yoseph.

Kepiawaiannya dalam seni pedalangan mampu menorehkan prestasi dalam berbagai ajang festival dalang cilik, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Daneswara tercatat dua kali menyabet juara di festival dalang cilik tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2021 dan 2023 yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dia juga meraih Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak dari Gubernur DIY (2023) dan Anugerah Bupati Gunungkidul kategori anak berprestasi bidang kebudayaan pada 2022—dan tentu saja masih banyak prestasi lomba yang tak dapat disebutkan satu per satu. Dan lihatlah, akhir Juli 2024 kemarin, dengan percaya diri, Daneswara mementaskan wayang golek dengan lakon “Iman Suwangsa Ngawu Sudarma” di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta. Ini sebuah pencapaian yang tak semua orang bisa meraihnya.

Kekonsistenan dan semangatnya ini telah menjadikannya sosok yang menginspirasi anak-anak lain untuk mencintai seni dan budaya, khususnya wayang. Kegemarannya sebagai dalang mencerminkan upaya generasi muda dalam melestarikan dan menjaga keberlangsungan budaya wayang di tengah masyarakat modern yang lebih banyak menganggap wayang hanya sekadar kelangenan masa lalu.

Daneswara Satya Swandaru saat menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 | Foto: Dok. Pribadi

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, anak dari pasangan Yoseph Harjanto-Ratna Wijayanti ini juga tercatat aktif mengikuti berbagai kegiatan pelestarian budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul dan Provinsi DIY.

“Sering sebagai pengrawit pada festival-festival, seperti langen carita, langen sekar, karawitan anak, dan remaja, sendratari, teater, dan festival upacara adat serta uyon-uyon,” ujar Yoseph.

Kini Daneswara merupakan seniman cilik peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia—penghargaan prestisius dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI bagi pelaku seni dan budaya.

Dan dari penghargaan tersebut ia berharap dapat menginspirasi generasi muda Indonesia agar semakin mencintai dan melestarikan seni budaya warisan leluhur—agar keberadaanya bisa tetap eksis dan berkembang di masa mendatang.

“Penghargaan yang istimewa ini, saya dedikasikan untuk seluruh generasi muda pegiat seni dan pelestari budaya, agar terus berkarya dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini,” ujar Daneswara, malu-malu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Temu Misti: “Saya Ingin Menari Sampai Akhir Hayat”
Dua Jam Bersama Luh Menek
Tags: Dalang CilikDaneswara Satya SwandaruGunungkidulseni wayang kulitYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Odon dan Medali Emas Pertama untuk Tenis Meja Bali

Next Post

Bali Utara Sebagai Titik Simpul Perdagangan dan Jalur Rempah Nusantara Abad XIX

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails
Next Post
Bali Utara Sebagai Titik Simpul Perdagangan dan Jalur Rempah Nusantara Abad XIX

Bali Utara Sebagai Titik Simpul Perdagangan dan Jalur Rempah Nusantara Abad XIX

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co