25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Temu Misti: “Saya Ingin Menari Sampai Akhir Hayat”

Jaswanto by Jaswanto
October 2, 2024
in Persona
Temu Misti: “Saya Ingin Menari Sampai Akhir Hayat”

Temu Misti | Foto: Poeticpicture

IA duduk tenang di antara seniman, pelaku budaya, dan komunitas dari berbagai daerah di Indonesia yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024. Didampingi kerabatnya, perempuan 71 tahun itu tampak lebih banyak diam daripada berbicara. Ia begitu anteng—walaupun sesekali terlihat berbincang dengan Tatang Setiadi, seniman tradisi, dengan suara pelan.

Dengan menggunakan pakaian Tari Gandrung lengkap; dengan sisa-sia kecantikan, aura, dan kekuatannya, Temu Misti, seniman tua yang duduk tenang tersebut, kini berjalan pelan dan hati-hati. Digandeng seorang pria muda, ia melangkah menuju panggung sesaat setelah namanya disebutkan oleh pembawa acara. Dari jauh, Mbok Temu, sebagaimana ia akrab dipanggil, tampak tersenyum.

Ya, di The Tribrata Hotel and Convention, Jakarta, Selasa (17/9/2024) malam itu, Mbok Temu menjadi sorotan sebab negara, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), mendakunya sebagai salah satu seniman yang berhak, juga layak, mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 untuk kategori maestro seni tradisi bersama Kartolo (seniman Ludruk), Rusini (penyusun dan penari tradisi), Tatang Setiadi (seniman tradisi), dan Baiya (pedendang nyanyian sastra lisan Panjang).

Temu Misti duduk di antara seniman dan pelaku budaya penerima AKI 2024 saat gladi bersih | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di atas panggung, saat ia menerima piagam penghargaan, Mbok Temu tersenyum lebar, menampilkan giginya yang putih dan masih utuh—ia tampak sangat bahagia. Di usianya yang tak lagi muda, maestro Gandrung itu masih tampak cantik, bugar, dan nyenengke.

Temu Misti lahir di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada 20 April 1953. Dalam khazanah Tari Gandrung di Banyuwangi, namanya sering disebut. Ia meniti perjalanan panjang menjadi seorang seniman Gandrung.

Mbok Temu merupakan anak dari pasangan Mustari dan Supiah. Temu kecil sering sakit, menurut kisah-kisah yang banyak beredar di kanal berita online. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sembuh dan sudah besar Temu akan ia jadikan sebagai penari Gandrung. Kisah ini mirip dengan Semi—yang dikenal sebagai penari Gandrung pertama.

Berawal dari seorang juragan Gandrung bernama Mbah Ti’ah, Temu akhirnya belajar menari Gandrung saat usianya 15 tahun. Dalam beberapa tahun saja, ia menjadi mahir, terkenal, dan lantas menjalani hari-hari yang padat dengan pentas ke berbagai tempat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu menjadi primadona.

“Saya manggung pertama kali itu di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggal saya,” terang Temu. “Pementasan itu merupakan ritual meras—langkah awal sebagai penari Gandrung,” lanjutnya dengan bahasa Jawa logat Banyuwangian yang khas.

Sejak masih gadis, Temu telah dikenal sebagai penari dan penyanyi Gandrung dengan ciri khas vokal lantang dan suara timbre padat, serta penguasaan penuh terhadap lagu-lagu Gandrung Osing. Artinya, hingga saat ini, Temu sudah menari Gandrung selama hampir enam dekade.

Tapi Temu memang lahir dari keluarga seniman. Darah seninya mengalir dari sosok sang ayah yang merupakan pemain Ludruk, dan kakek Temu yang bernama Samin adalah seorang yang ahli dalam seni tradisi membaca lontar di Banyuwangi.

Oleh karena itu, pantas saja Temu berhasil menjadi maestro Gandrung Banyuwangi—dan itu juga berkat kemampuannya dalam menari, menembang, dengan suaranya yang khas, melengking tinggi, gaya khas masyarakat Suku Osing.

Pada masa awal perkembangan rekaman kaset, suara Temu termasuk menjadi bagian awal yang menghiasi pita rekaman. Sejumlah lagu Gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset dan CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran.

Menurut Farida Indiriastuti dalam Dari Kemiren ke Hollywood yang terbit di Kompas, 3 November 2007, album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record mampu menembus angka penjualan fantastis: 50 ribu VCD dan 10 ribu kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali.

Suara Temu juga telah melengking sampai ke mancanegara. Pada 1980-an, suara Temu diabadikan oleh Smithsonian Institution dari Amerika Serikat dalam proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat yang bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia—sekarang Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Smithsonian membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia dan Gandrung Banyuwangi berada di volume pertama yang berjudul Songs Before Dawn dan dirilis tahun 1991.

“Tapi penari Gandrung sekarang ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi—sehingga yang menyanyi harus orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat dalam buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan suntingan Philip Yampolsky.

Namun, sebagaimana kisah-kisah maestro kesenian gong kebyar di Bali yang sering diajak pentas di luar negeri oleh para orientalis, popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkan dan kondisi kehidupannya di Banyuwangi. Meski, misalnya, Songs Before Dawn terjual sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam—sebagaimana catatan Farida mengacu pada data amazon.com—Temu tetap hidup sederhana.

Konsistensinya dalam menjalani karier sebagai seniman Gandrung membuatnya tak hanya mendapat panggung di ranah lokal dan nasional, tetapi juga mendapat sorotan dunia internasional. Pada tahun 2015 lalu, tak main-main, Mbok Temu menarikan Gandrung di Frankfurt, Jerman.

Dan baru-baru ini, di panggung tak berundak di ruangan yang gelap dan dingin dalam ajang Panggung Maestro di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (13/6/2024) itu, Temu seperti dibawa kembali ke masa lampau ketika ia menjadi bintang. Tubuhnya yang dipulas riasan wajah dan kostum merah bak bersinar disorot lampu. Tubuhnya bergerak otomatis saat musik mengalun.

Berkat Temu, Gandrung Banyuwangi kian dikenal dunia. Berkat dedikasi Temu pula, Gandrung tetap lestari sampai ditetapkan sebagai Warusan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. “Padahal saya memulai karier sebagai seniman Gandrung itu dari panggung acara hajatan warga,” Temu menerangkan.

Keberhasilan Mbok Temu melestarikan, mengajarkan, dan memperkenalkan tarian Gandrung kepada generasi muda, khususnya Banyuwangi, menjadi salah satu alasan utama ia dinilai layak menerima AKI 2024. Mbok Temu dianggap menginspirasi banyak orang untuk terus melestarikan seni tari tradisional tersebut.

“Bagi saya, Gandrung merupakan ladang penghidupan sekaligus sarana mengekspresikan diri,” ujar Temu, seniman yang sempat tenar sebagai penari populer, tapi kini dikenal sebagai maestro seni tradisi itu.

Kini, selain masih aktif menari, Temu juga mengelola Sanggar Tari Sopo Ngiro—yang berarti “siapa mengira” atau “siapa sangka”—yang melestarikan dan mewariskan seni Gandrung. Dan berkat dedikasinya dalam bidang ini, ia menerima banyak penghargaan sebagai bukti kontribusinya terhadap seni Gandrung, salah satunya adalah penghargaan Maestro Gandrung yang diberikan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 2012 silam.

Sampai sekarang Temu masih aktif menari dan tampil di berbagai pertunjukan tari. Ia menunjukkan konsistensi dan kesinambungan yang tinggi—yang berkiprah pada seni Gandrung sekurangnya 4 generasi Gandrung Banyuwangi. “Saya ingin menari sampai akhir hayat,” ujar Mbok Temu dengan senyum yang meyakinkan.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan
Dua Jam Bersama Luh Menek
Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Tags: Anugerah Kebudayaan IndonesiaTari Gandrung BanyuwangiTemu Misti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Band Indie Asal Taiwan Mencuri Perhatian di AXEAN Festival 2024

Next Post

Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co