4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luruh di Pangkuan Biang | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 16, 2025
in Cerpen
Luruh di Pangkuan Biang | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Ilustrasi tatkala.co

IBU menjadi pangkuan terakhir bagi siapa saja untuk berkeluh. Pada ibu pula kejujuran meluncur, tanpa takut disalahkan, diabaikan. Suara lembut ibu yang akan membenamkan segala masalah, yang besar atau yang kecil, yang sengaja atau terjadi begitu saja. Semua luruh di pangkuan ibu.

Gus Tu sangat dekat dengan ibunya. Sebagai anak lelaki satu-satunya, ia dimanja, suaranya didengarkan. Pun hingga kini saat umurnya sudah sampai 40-an, bagi Gus Tu, pangkuan ibu tetap senyaman dulu.

“Aku menyesal nikah, Bu.” Gus Tu mengisak di pangkuan ibunya.

Sang ibu terdiam. Ia seperti mengumpulkan keberanian untuk menimpali kesuh anaknya. “Kenapa begitu? Bukankah dia dulu adalah gadis pilihanmu? Kau bilang dari ratusan gadis Jogja, hanya dia yang nyantol. Jauh-jauh Gelis kamu boyong kesini. Bahkan, kamu menolak Dayu Mira kan, gadis pilihan Ajikmu dulu?” Dipandang wajah anaknya yang mulai mengkerut itu. Namun, di matanya, ia tetap balitanya.

“Itu dulu. Semenjak aku tahu sifatnya, entahlah.”

“Selesaikan kalau ada masalah. Apa kamu sudah menyampaikan unek-unekmu? Jangan diam.”

“Kukira ia akan seperti ibu. Kukira semua perempuan seperti ibu. Ternyata tidak.”

Berceritalah Gus Tu tentang rumah tangganya. Sesekali sesunggukan, sesekali suaranya bergetar karena marah.

Pagi di rumah Gus Tu disambut dengan cekcok ringan. Lalu sebuah piring aluminium jatuh ke lantai. Gus Tu matanya memerah. Giginya menggeretak seperti singa yang siap menerkam mangsa, tetapi ada ketakutan untuk melampiaskannya. Ia biarkan kemarahan itu bergemuruh dalam tubuhnya lewat napas yang menderu.

“Lis, sudah kukatakan berkali-kali. Kau urus dulu anakmu, baru pergi.” Tubuhnya melenguh kecewa.

Gelis diam. Ia membersihkan sisa makanan dilantai. Kantong matanya berat, seperti ada tangis yang siap ia tumpahkan. Ia tahan-tahan karena ketiga anaknya menyaksikan. Setelah itu, tanpa melihat lagi tiga anaknya yang berdiri sesenggukan, ia pergi meninggalkan suaminya yang masih penuh amarah.

Gus Tu lalu merapikan bajunya. Dengan tergesa ia mengajak ketiga anaknya naik ke atas sepeda motor.

“Apa nanti siang ibu yang jemput?” Tanya si bungsu.

“Jangan tunggu ibu. Ibumu takbisa diharapkan. Tunggu Ajik saja. Jam 1 nanti Ajik jemput ke sekolah. Setelah sekolah kita beli mainan ya!”

Di perjalanan menuju sekolah anaknya, Gus Tu masih mengumpat. Dikeluarkannya segala serapah untuk istrinya yang belum sempat ia sampaikan. “Kalau saja aku tahu kau tidak bisa diandalkan, pasti kita takmenikah. Perempuan macam apa yang tidak punya rasa cinta, tak peduli anak dan suami.”

“Kalau kalian besar nanti, jangan begitu. Uruslah anak-anak kalian baik-baik. Jangan tinggalkan mereka. Ibu itu harus ngurus rumah. Kalau rumah berantakan, ya berantakan hidupmu. Ibu itu harus mau masak, agar anak-anakmu sehat. Jangan seperti ibumu. Mentang-mentang punya uang, ia ingin beli segalanya. Kalau sudah bekerja, bukan berarti ibumu itu bebas mau apa saja.”

Omelan Gus Tu berhenti saat ia sudah sampai di sekolah anaknya. Satu per satu turun. Dengan lembut Gus Tu mencium kening anaknya. Setelah ketiga anaknya lenyap ke balik gedung kelas, Gus Tu kembali ke rumah. Di rumah, sama seperti pagi-pagi sebelumnya ia akan memfoto keadaan rumah. Baginya itu harus ia lakukan agar istrinya sadar dengan kewajiban-kewajiban yang tidak pernah ia jalankan.

Gus Tu membuka pintu gerbang. Sisa canang sesajen kemarin yang masih berserakan di halaman depan ia foto, lalu dikirim ke WA istrinya. Di kamar tamu, sampah berserakan, buku-buku berantakan. Masuk ke dapur, ia mendapati piring dan gelas yang belum dicuci, tak luput pula dari jepretan kamera HP-nya. Kemudian, foto dapur yang berantakan itu ia kirim ke WA istrinya. Walaupun berpuluh gambar itu takpernah mendapat jawaban, baginya, foto itu harus tetap sampai.

Gus Tu lalu mandi. Di kamar mandi ia menangis sesenggukan. Seperti ada beban besar dalam kepalanya yang tak pernah ia sampaikan. Beban tentang sisa hutang almarhum ayahnya yang mesti ia lunasi, beban karena utangnya sendiri yang terus bertambah, beban dengan beragam cicilan yang harus dia penuhi untuk kehidupan keluarganya, beban tentang masa depan anak-anaknya yang selalu ia khawatirkan. Juga beban keturunan griya.

Semenjak ayahnya meninggal, kini Gus Tu adalah pewaris satu-satunya. Warisan yang kini menjadi bebannya, tentu warisan sosial. Ayahnya, Tuaji Demung, demikian masyarakat memanggilnya, adalah sosok berwibawa, bukan semata karena seorang brahmana, melainkan karena intelektual dan kebijaksanaannya. Pada Tuaji Demunglah masyarakat sering menggantungan harapan saat mereka kehilangan pegangan. Bagi mereka yang haus pengetahuan, Tuaji Demung adalah kitab. Bagi mereka yang rindu kebersamaan, Tuaji Demung adalah rumah. Taktanggung-tanggung, Tuaji Demung rela ngebon di warung jika tahu ada warga yang kekurangan sandang. Tentu, masyarakat menganggap kehadiran Gus Tu adalah citra bapaknya. Selayaknya Tuaji Demung, demikian pula masyarakat berharap kepada Gus Tu. Apalagi Gus Tu dianggap lebih berpendidikan dan kini sudah jadi pegawai negeri dengan jabatan penting di kabupaten.

Sementara itu, ibunya, Tubiang Sandat, adalah perempuan lembut. Seluruh harinya dihabiskan untuk melayani suami dan anaknya. Bagi Gus Tu, ibunya adalah sosok paling ideal sehingga seperti ibunyalah sosok Gelis ia harapkan.

Beban lain yang jarang Gus Tu ceritakan pada istrinya, semenjak dua tahun ini penyakit yang pernah diderita ayahnya, tanda-tandanya sudah ada padanya. Rambutnya rontok, kulitnya kering, dan batuk berhari-hari yang takkunjung sembuh walaupun sudah dibawa ke dokter. Setiap tengah malam ia terbangun takbisa tidur lagi.

Karena beban-beban itulah, Gus Tu ingin istrinya selalu ada untuknya, membuatkan momen-momen kecil yang menyenangkan. Ia ingin istrinya memasak yang sehat. Sebelum berangkat bekerja, Gus Tu ingin bisa sembahyang bersama-sama. Saat hajatan tetangga, sebagai keluarga yang paling dihormati, Gus Tu ingin istrinya hadir di tengah masyarakat, sama seperti kebiasaan ibunya. Namun, baginya harapan itu takpernah ia dapatkan. Menurutnya, Gelis terlalu sibuk dengan ambisinya sendiri, berangkat terlalu cepat dan pulang selalu lambat, padahal, dia hanya pegawai biasa di kantor kecamatan.

Gus Tu berjalan keluar kamar mandi. Kepalanya masih ia pukul, berkali-kali berharap beban-beban dalam pikirannya hilang. Saat kelebat wajah istrinya muncul, kepalanya bertambah pening. “Takada yang lebih menyakitkan dari seseorang yang diabaikan.” Gus Tu memegang erat kepalanya, lalu kembali memukulnya ringan. “Apalagi dari seorang perempuan yang selama ini kucintai.” Pukulan itu semakin menjadi-jadi, lebih keras.

Di tempat berbeda, Gelis dadanya sesak. Ia perhatikan setiap sudut rumahnya lewat foto-foto yang dikirm suaminya. Rak buku di kamar tamu yang subuh tadi ia tata kini berantakan. Rak piring tampak kosong, wastafel dapur masih menyala dengan perabotan kotor yang sebenarnya sudah ia bersihkan. Andai saja saat ini ia tidak di sekolah anak-anaknya membawakan bekal, mungkin dada yang sesak itu sudah ia tumpahkan lewat tangis dan teriakan. Ia masih bisa menjaga kewarasan untuk sekadar menarik napas.

Gelis tersenyum saat anak sulungnya berlari mendekatinya. “Apa bekalnya, Bu?”

“Nasi goreng dengan ikan pedas manis,” jawab Gelis. “Kasi juga nanti untuk adik-adikmu, ya. Belajar yang rajin.”

“Bu, tadi Ajik marah-marah. Kata-katanya kasar sekali. Kakak juga dimarahi, adik juga.”

“Sudahlah, abaikan saja.”

“Kenapa tidak Ibu yang mengantar ke sekolah?”

“Itu sudah keinginan Ajikmu sayang. Kalian senang kan diantar Ajik? Lihatlah, mana ada anak yang diantar Bapaknya? Jadi, syukurilah.”

Gelis menyerahkan uang dua puluh ribuan. “Bagi juga sama adikmu, ya. Ibu tinggal dulu.”

Gelis pergi meninggalkan sekolah anaknya. Ia taklagi ke kantornya, tetapi balik ke rumah.

Pintu rumah sudah digembok. Itu artinya suaminya sudah ke kantor. Pelan ia buka gerbang itu. Diperhatikan baik-baik halaman depan dengan jemuran yang berserakan. Gelis memungutnya satu-satu. Yang masih bersih ia jemur kembali, sedangkan yang kotor karena tanah atau diinjak kucing ia masukkan dalam ember. Masuk ke dalam rumah, pandangan matanya seketika sayu. Rumah yang sebelumnya ia tinggalkan dalam keadaan rapi, kini berantakan sekali.

Bagi Gelis, ini adalah pemandangan setiap hari. Sebagai ibu tiga anak yang sehari-hari juga bekerja, ia sudah bangun sangat subuh: memasak, membersihkan rumah, mencuci, kemudian sembahyang. Ia juga menyiapkan bekal sekolah untuk ketiga anaknya. Ia juga menyiapkan sarapan pagi di atas meja makan untuk seluruh keluarga, makanan paling sehat yang diinginkan suaminya. Sore ia akan mebanten. Saat hari-hari kedatangan tamu atau kerabat, ia sigap melayani seperti perintah suaminya itu. Semua berjalan begitu saja, tenang. Lalu entah karena apa, sesaat yang lain tabiat suaminya berubah. Suaminya marah-marah tanpa sebab. Celetukan-celetukan kecil, semisal Gelis yang berkata uang bulanan habis atau terlambat menyajikan minuman untuk tamu, Gus Tu dengan segala umpatannya akan melemparkan seluruh barang yang ada di depannya, tentu setelah tamu pergi.

Pernah suatu kali Gelis pergi meninggalkan rumah. Namun, bayang ketiga anaknya terus melekat. Ia taktega hati meninggalkan buah hatinya. Lebih dari itu, rasa cinta kepada Gus Tu membuatnya percaya bahwa suatu saat nanti suaminya itu akan sembuh. Apalagi, ibu mertua selalu berpesan padanya, lebih tepatnya permohonan, “Gelis, Tu Biang mohon, apapun yang terjadi, jangan tinggalkan suamimu. Tanpamu takada yang bisa menolongnya.” [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Made Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi A. Jefrino-Fahik | Setelan Cuek Yeremias

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [6]–Sprei Penginapan yang Membuat Gatal Seluruh Tubuh

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [6]–Sprei Penginapan yang Membuat Gatal Seluruh Tubuh

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [6]–Sprei Penginapan yang Membuat Gatal Seluruh Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co