5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 3, 2025
in Cerpen
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

KABAR terakhir yang kuterima beringin tua yang tumbuh ratusan tahun itu sekarang ini harus mati. Katanya akan ada pembangunan dan pelebaran jalan entah apa nama proyeknya. Orang-orang desa yang telah lama merawat pohon itu merasa berhutang nyawa padanya. Oksigen yang dihasilkan dari pohon itu telah menyelamatkan ratusan jiwa yang berada di dekatnya. Semestinya ucapan terima kasih yang harus diterima oleh pohon itu. Tapi, nyatanya, batang-batangnya sudah mulai ditebas satu per satu. Setiap batang yang terjatuh seperti menyuarakan kepiluan yang mendalam. Getah pohon yang meleleh berwarna merah semerah darah. Beberapa orang di sana mulai kerauhan. Ia berteriak-teriak tak bisa terima dengan kenyataan itu. Tapi, itu hanya teriakkan kecil yang tak punya makna. Gergaji terus bergerak memotong setiap dahan hingga tak ada lagi dahan-dahan yang merindanginya.

 Dulu, memang pohon itu sebagai pengingat pendirian desa. Satu pohon ditanam di simpang empat desa. Di bawahnya ada tenten, tempat orang-orang berjualan. Tetua sepakat menandai desanya dengan pohon beringin. Orang-orang desa juga menjaganya dengan memakaikan saput poleng dan mengeramatkan pohon beringin itu. Setiap hari, ada saja yang menghaturkan sajen. Jika belum sempat mempersembahkan sepasang canang sekar, rasanya belum tenang hati orang-orang di sana. Jika ada upacara ngroras, dilakukan upacara memohon daun beringin yang digunakan sebagai sekah saat upacara ngroras. Wangi dupa seakan memberikan kesadaran murni bagi yang melewati simpang empat itu.

“Apa yang mesti kita lakukan?” Tetua desa itu memulai pembicaraan. “Kita merasa bersalah tidak bisa menjaga warisan tetua desa kita. Kita hanya bisa pasrah dan tidak berbuat apapun? Ini baru satu pohon. Pohon-pohon yang lain akan menunggu gilirannya.” Tetua desa menyeka keringatnya sambil menatap warganya. Sepi. Tak ada yang berani berkata. Mereka orang-orang kalah karena kebijakan. “Baiklah! Jika tidak ada yang berani berbicara, biar tiang yang menjadi caru di desa ini. Besok, rencananya pohon  beringin itu ditumbangkan. Akar-akarnya akan dicabut dan membusuk. Kita sudah mengamputasi satu per satu pohon-pohon di desa kita dan kita yang mematung melihat pohon itu dimutilasi.”

Malam itu, tetua desa menyampaikan hati nuraninya ke hadapan pohon beringin yang tinggal batang tunggalnya. Ia tatap pohon itu beralama-lama. Ia seperti mendengar jerit tangisan dari pohon beringin itu. “Tak ada yang mau berterima kasih padaku. Pohon ini bukan sekadar pengingat desa. Ia juga pengingat napas. Berapa polusi dimurnikan kembali oleh pohon ini. Tapi nyatanya, satupun tak ada yang berani belapati. Jika pohon di simpang empat ini mati, bersiaplah bencana akan mendatangi desa ini.”

Tetua itu duduk tepekur. Ia mengusap-usap air matanya. Ketidakberaniannya membuatnya seperti ini. Pasrah bukanlah jalan keluar terbaik. Ia mesti berbuat walau dengan segala kemungkinan bisa terjadi. Ia naiki pohon itu. Ia duduk menunggu matahari pagi. Pagi menhampiri hidupnya. Ia tatap matahari sambil menyampaikan isi hatinya. Matahri dan pohon adalah satu kesatuan. Kedua energinya memberikan hidup pada semesta. Orang-orang yang melewati jalanan itu memandangnya dengan beragam raut wajah. Ada yang nyengir, ada yang menganggapnya gila, ada yang merasa kasihan. Ia tak pedulikan orang-orang itu. Hanya satu di hatinya. Pohon itu masih bisa hidup walau batang-batangnya telah dimutilasi dengan gergaji.

Semakin siang, alat pencabut nyawa pohon mulai mendekat. Negosiasi berjalan. Tetua desa tak mau menjawab. Ia seperti seorang pertapa yang khususk memuja semesta. “Pak, kami menjalan perintah. Kami juga kasihan pohon ini dicabut. Tapi, kami mesti menjalankan perintah. Tolong hormati tugas kami juga.” Tetua desa itu tetap mematung. Ia semakin khusuk memohon agar pohon itu masih hidup.

Orang-orang itu menelepon seseorang, ia katakan situasi yang dihadapi. “Jika demikian urungkan saja pencabutan pohon itu hari ini. Kita pilih hari lain lagi. Tiang yakin, tetua itu tak akan kuat bertahan di pohon itu. Saat ia lengah, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.”

“Baik Pak!” Orang-orang pencabut itu kembali. Tak ada pencabutan hari itu. Untuk sementara masih bisa berdiri batang pohon beringin itu. Wajah ceria terlihat pada orang-orang di tempat itu. Semua memuji keberanian tetua desanya. Tetua desa tak mau berkomentar banyak. Ia menyadari kekalahan akan mendekatinya. Ia tahu kekuatannya tak seberapa. Tapi, itu lebih baik dibandingkan tanpa ada perlawanan. Ia turun setelah pencabut pohon itu menjauh. Ia peluk pohon beringin itu erat sekali. Rasa sayangnya teramat amat. Ia pergi setelah dirasakan cukup. “Maaf, tiang mungkin tak bisa menjagamu lagi. Tiang sudah berusaha, tapi tak mungkin bisa bertahan. Maaf, jika tiang tidak bisa menjaga kehidupanmu lagi.” Ia tinggalkan pohon beringin itu. Ia menenangkan hatinya. Ia temui istri tercintanya.

“Beli, tiang sudah dengar Beli menjaga pohon itu hingga semalaman. Kita tak akan bisa terus menjaganya. Kita orang-orang kalah Beli. Kita hanya bisa memohon pada Hyang Widhi agar tidak terjadi apapun di desa kita. Kita sudah berusaha merawat dan menjaganya. Tapi, tiang yakin tak akan bisa.” Perempuan yang setia pada suaminya itu menyuguhkan kopi pahit kesukaan suaminya. Ia ceruput kopi itu bertemankan ubi rebus. Aromanya menyegarkan kembali pikirannya. Ia menatap wajah istrinya. “Jika terjadi sesuatu terhadap beli. Tolong rawat anak-anak kita. Dia adalah masa depan kita. Beli yakin ada yang tidak etrima dengan sikap beli ini.”

Perempuan pemegang janji setia itu memeluknya. “Tak usah meragukan kesetiaan tiang Beli. Apapun yang Beli lakukan di rel kebenaran, tiang akan tetap mendampingi Beli.”

Tetua desa itu melepaskan rasa lelahnya. Ia tertidur lelap sekali. Alam mimpinya membawanya pada pohon beringin itu. Ia lihat gergaji dan alat pencabut pohon beringin berdatangan. Wajah-wajah ceria tanda kemenangan berseliweran di matanya. Ia marah pada dirinya. Ia benci pada hidupnya. Ia mau bangun, tapi matanya tak bisa dibukanya. Ia gerak-gerakkan tubuhnya mau berlari menuju pohon beringin itu, tapi tubuhnya terasa kaku. [T]

Catatan:

  • Beli: kakkak
  • Kerauhan: kesurupan
  • tenten,: pasar kecil    
  • saput poleng: kain berwarna hitam putih
  • canang sekar: saji kembang rampai
  • caru: kurban
  • belapati: bertaruh nyawa
  • tiang: saya
  • ngoras: upacara penyucian roh setelah upacara ngaben
  • sekah: stana roh pada upacara ngroras

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Next Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co