14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 3, 2025
in Cerpen
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

KABAR terakhir yang kuterima beringin tua yang tumbuh ratusan tahun itu sekarang ini harus mati. Katanya akan ada pembangunan dan pelebaran jalan entah apa nama proyeknya. Orang-orang desa yang telah lama merawat pohon itu merasa berhutang nyawa padanya. Oksigen yang dihasilkan dari pohon itu telah menyelamatkan ratusan jiwa yang berada di dekatnya. Semestinya ucapan terima kasih yang harus diterima oleh pohon itu. Tapi, nyatanya, batang-batangnya sudah mulai ditebas satu per satu. Setiap batang yang terjatuh seperti menyuarakan kepiluan yang mendalam. Getah pohon yang meleleh berwarna merah semerah darah. Beberapa orang di sana mulai kerauhan. Ia berteriak-teriak tak bisa terima dengan kenyataan itu. Tapi, itu hanya teriakkan kecil yang tak punya makna. Gergaji terus bergerak memotong setiap dahan hingga tak ada lagi dahan-dahan yang merindanginya.

 Dulu, memang pohon itu sebagai pengingat pendirian desa. Satu pohon ditanam di simpang empat desa. Di bawahnya ada tenten, tempat orang-orang berjualan. Tetua sepakat menandai desanya dengan pohon beringin. Orang-orang desa juga menjaganya dengan memakaikan saput poleng dan mengeramatkan pohon beringin itu. Setiap hari, ada saja yang menghaturkan sajen. Jika belum sempat mempersembahkan sepasang canang sekar, rasanya belum tenang hati orang-orang di sana. Jika ada upacara ngroras, dilakukan upacara memohon daun beringin yang digunakan sebagai sekah saat upacara ngroras. Wangi dupa seakan memberikan kesadaran murni bagi yang melewati simpang empat itu.

“Apa yang mesti kita lakukan?” Tetua desa itu memulai pembicaraan. “Kita merasa bersalah tidak bisa menjaga warisan tetua desa kita. Kita hanya bisa pasrah dan tidak berbuat apapun? Ini baru satu pohon. Pohon-pohon yang lain akan menunggu gilirannya.” Tetua desa menyeka keringatnya sambil menatap warganya. Sepi. Tak ada yang berani berkata. Mereka orang-orang kalah karena kebijakan. “Baiklah! Jika tidak ada yang berani berbicara, biar tiang yang menjadi caru di desa ini. Besok, rencananya pohon  beringin itu ditumbangkan. Akar-akarnya akan dicabut dan membusuk. Kita sudah mengamputasi satu per satu pohon-pohon di desa kita dan kita yang mematung melihat pohon itu dimutilasi.”

Malam itu, tetua desa menyampaikan hati nuraninya ke hadapan pohon beringin yang tinggal batang tunggalnya. Ia tatap pohon itu beralama-lama. Ia seperti mendengar jerit tangisan dari pohon beringin itu. “Tak ada yang mau berterima kasih padaku. Pohon ini bukan sekadar pengingat desa. Ia juga pengingat napas. Berapa polusi dimurnikan kembali oleh pohon ini. Tapi nyatanya, satupun tak ada yang berani belapati. Jika pohon di simpang empat ini mati, bersiaplah bencana akan mendatangi desa ini.”

Tetua itu duduk tepekur. Ia mengusap-usap air matanya. Ketidakberaniannya membuatnya seperti ini. Pasrah bukanlah jalan keluar terbaik. Ia mesti berbuat walau dengan segala kemungkinan bisa terjadi. Ia naiki pohon itu. Ia duduk menunggu matahari pagi. Pagi menhampiri hidupnya. Ia tatap matahari sambil menyampaikan isi hatinya. Matahri dan pohon adalah satu kesatuan. Kedua energinya memberikan hidup pada semesta. Orang-orang yang melewati jalanan itu memandangnya dengan beragam raut wajah. Ada yang nyengir, ada yang menganggapnya gila, ada yang merasa kasihan. Ia tak pedulikan orang-orang itu. Hanya satu di hatinya. Pohon itu masih bisa hidup walau batang-batangnya telah dimutilasi dengan gergaji.

Semakin siang, alat pencabut nyawa pohon mulai mendekat. Negosiasi berjalan. Tetua desa tak mau menjawab. Ia seperti seorang pertapa yang khususk memuja semesta. “Pak, kami menjalan perintah. Kami juga kasihan pohon ini dicabut. Tapi, kami mesti menjalankan perintah. Tolong hormati tugas kami juga.” Tetua desa itu tetap mematung. Ia semakin khusuk memohon agar pohon itu masih hidup.

Orang-orang itu menelepon seseorang, ia katakan situasi yang dihadapi. “Jika demikian urungkan saja pencabutan pohon itu hari ini. Kita pilih hari lain lagi. Tiang yakin, tetua itu tak akan kuat bertahan di pohon itu. Saat ia lengah, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.”

“Baik Pak!” Orang-orang pencabut itu kembali. Tak ada pencabutan hari itu. Untuk sementara masih bisa berdiri batang pohon beringin itu. Wajah ceria terlihat pada orang-orang di tempat itu. Semua memuji keberanian tetua desanya. Tetua desa tak mau berkomentar banyak. Ia menyadari kekalahan akan mendekatinya. Ia tahu kekuatannya tak seberapa. Tapi, itu lebih baik dibandingkan tanpa ada perlawanan. Ia turun setelah pencabut pohon itu menjauh. Ia peluk pohon beringin itu erat sekali. Rasa sayangnya teramat amat. Ia pergi setelah dirasakan cukup. “Maaf, tiang mungkin tak bisa menjagamu lagi. Tiang sudah berusaha, tapi tak mungkin bisa bertahan. Maaf, jika tiang tidak bisa menjaga kehidupanmu lagi.” Ia tinggalkan pohon beringin itu. Ia menenangkan hatinya. Ia temui istri tercintanya.

“Beli, tiang sudah dengar Beli menjaga pohon itu hingga semalaman. Kita tak akan bisa terus menjaganya. Kita orang-orang kalah Beli. Kita hanya bisa memohon pada Hyang Widhi agar tidak terjadi apapun di desa kita. Kita sudah berusaha merawat dan menjaganya. Tapi, tiang yakin tak akan bisa.” Perempuan yang setia pada suaminya itu menyuguhkan kopi pahit kesukaan suaminya. Ia ceruput kopi itu bertemankan ubi rebus. Aromanya menyegarkan kembali pikirannya. Ia menatap wajah istrinya. “Jika terjadi sesuatu terhadap beli. Tolong rawat anak-anak kita. Dia adalah masa depan kita. Beli yakin ada yang tidak etrima dengan sikap beli ini.”

Perempuan pemegang janji setia itu memeluknya. “Tak usah meragukan kesetiaan tiang Beli. Apapun yang Beli lakukan di rel kebenaran, tiang akan tetap mendampingi Beli.”

Tetua desa itu melepaskan rasa lelahnya. Ia tertidur lelap sekali. Alam mimpinya membawanya pada pohon beringin itu. Ia lihat gergaji dan alat pencabut pohon beringin berdatangan. Wajah-wajah ceria tanda kemenangan berseliweran di matanya. Ia marah pada dirinya. Ia benci pada hidupnya. Ia mau bangun, tapi matanya tak bisa dibukanya. Ia gerak-gerakkan tubuhnya mau berlari menuju pohon beringin itu, tapi tubuhnya terasa kaku. [T]

Catatan:

  • Beli: kakkak
  • Kerauhan: kesurupan
  • tenten,: pasar kecil    
  • saput poleng: kain berwarna hitam putih
  • canang sekar: saji kembang rampai
  • caru: kurban
  • belapati: bertaruh nyawa
  • tiang: saya
  • ngoras: upacara penyucian roh setelah upacara ngaben
  • sekah: stana roh pada upacara ngroras

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Next Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co