13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalapooh: Cinta, Crepes, dan Cerita di Tengah Pasar Senggol Pelabuhan Tua Buleleng

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
June 4, 2025
in Kuliner
Lalapooh: Cinta, Crepes, dan Cerita di Tengah Pasar Senggol Pelabuhan Tua Buleleng

Crepes Lalapooh di Pelabuhan Tua Buleleng | Foto: Gangga

SORE menjelang malam di Pasar Senggol, di Pelabuhan Tua Buleleng, selalu tercium satu aroma khas yang menguar: adonan tipis berbahan tepung terigu yang dibalurkan mentega panas dan meleleh bersama cokelat, susu, atau keju. Di tengah gemerlap lampu-lampu tenda dan deru motor yang silih berganti, sebuah lapak sederhana bernama Crepes Lalapooh berdiri teguh.

Dijalankan oleh pasangan suami-istri, Jakaria dan Faridah, usaha ini tak sekadar tentang menjual makanan ringan, tetapi juga tentang bertahan hidup, membesarkan anak, dan menjaga mimpi tetap hidup meski dunia tak selalu ramah.

Plang masuk ke Pasar senggol, Pelabuhan Tua Buleleng | Foto: Gangga

Nama Lalapooh, sebagai ikon lapak itu, bukanlah sekadar tempelan. Ia lahir dari kenangan manis tentang anak-anak mereka yang dulu begitu gemar menonton Teletubbies—tokoh televisi anak-anak yang penuh warna dan tawa.

“Kami ingin nama yang dekat dengan anak-anak. Biar gampang diingat,” ujar Faridah sambil mengoleskan selai blueberry di atas adonan yang mulai mengering.

Usaha ini bukan datang secepat membalik telapak tangan. Mereka memulai perjalanan bisnis ini pada tahun 2010, dengan segala keterbatasan. Sebelum crepes, mereka sempat mencoba peruntungan dengan menjual rujak. Namun hidup berkata lain. Jalan membawa mereka pada sebuah restoran, tempat mereka bekerja selama beberapa tahun.

Lapak Crepes Lalapooh | Foto: Gangga

Di sana, di restoran itu, bukan hanya pengalaman yang mereka peroleh, melainkan juga warisan yang tak ternilai: sebuah resep crepes dari sang pemilik restoran, yang harus menutup usahanya karena berpindah profesi menjadi pegawai pemerintah. Resep inilah yang kini menjadi napas bagi Crepes Lalapooh.

Awal jualan? Jangan bayangkan gerobak permanen atau lapak beratap tenda. Mereka hanya bermodalkan sepeda motor dan semangat baja. Setiap pagi hingga sore, mereka menyusuri kota Singaraja, singgah dari satu sekolah ke sekolah lainnya: SMP Negeri 1 Singaraja, SD Negeri 1 Paket Agung, hingga SMP Negeri 2 Singaraja. Setiap anak yang pulang sekolah adalah potensi pembeli. Dan setiap sen yang terkumpul adalah langkah menuju cita-cita: menyekolahkan anak-anak mereka.

Kini, mereka berjualan di lokasi yang lebih tetap, Pasar Senggol Pelabuhan Tua Buleleng, setiap hari dari pukul 17.00 hingga 22.00 malam. Tak lagi berpindah-pindah, namun tak berarti perjuangan mereka berkurang. Dengan sabar, mereka melayani satu per satu pelanggan, membuat crepes pesanan dengan takaran yang presisi namun penuh kasih.

Jakaria sedang menyiapkan pesanan | Foto: Gangga

Menunya? Jangan remehkan warung kecil ini. Variannya nyaris seperti buku menu restoran.

Mulai dari Crepes Rp5.000 dengan rasa susu, cokelat, blueberry, stroberi, hingga nanas, hingga Crepes Rp7.000 yang lebih variatif dengan campuran seperti pisang cokelat, durian susu, hingga scallop dan sosis. Tak cukup sampai di sana, ada juga Crepes Rp10.000 dengan kombinasi “super” seperti Blueberry keju susu, Durian cokelat keju, Burger crepes, hingga Kacang cokelat susu. Dan kalau masih belum puas, mereka juga menawarkan varian Double Jumbo seharga Rp20.000, untuk penggemar berat crepes sejati.

Saat ditanya varian mana yang paling digemari, mereka serempak menjawab: “Cokelat Keju Susu”. Kombinasi yang seolah sudah jadi jodoh abadi dalam dunia kuliner kaki lima.

Namun hidup, seperti lapisan crepes yang dibakar panas, kadang juga terasa pahit dan renyah sekaligus. Mereka pernah dikejar Satpol PP karena berjualan di depan sekolah tanpa izin. Saat pandemi Covid-19 melanda, penjualan nyaris berhenti.

“Saat itu, tidak ada orang yang mau keluar rumah. Siapa juga yang mau jajan crepes?” kenang Jakaria.

Pelanggan sedang menunggu pesanan | Foto: Gangga

Namun mereka bertahan. Dengan tabungan seadanya, dengan doa yang tak henti, dan dengan keyakinan bahwa badai pasti berlalu.

Kini, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Jalan Pulau Menjangan, Banyuning, Singaraja. Dari tempat itulah mereka berangkat setiap sore ke pasar. Di rumah itu pula mereka menyaksikan buah dari jerih payah mereka: dua anak perempuan kini menjadi perawat berstatus PNS, dan satu anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP.

Bagi Jakaria dan Faridah, Crepes Lalapooh bukan hanya tempat mencari nafkah. Ini adalah wujud nyata dari ketekunan, kesetiaan, dan cinta. Mereka menyebutnya sebagai jalan sunyi yang akhirnya mengantar mereka ke titik damai. Titik di mana mereka bisa melihat anak-anaknya tumbuh sukses, sembari tetap melayani pelanggan yang datang membeli camilan manis di ujung malam.

Ketika ditanya pelajaran apa yang bisa diambil dari perjalanan mereka, Faridah menjawab pelan namun penuh makna, “Sabar. Jangan pernah menyerah. Jatuh itu biasa, bangkit itu wajib.” Sebuah filosofi hidup yang mereka jalani sejak awal memutar roda motor dan menjajakan crepes dari pinggir jalan.

Faridah menyiapkan pesanan | Foto: Gangga

Dalam dunia yang bergerak cepat dan serba instan, kisah pasangan ini seperti rem yang mengingatkan kita bahwa keberhasilan sering kali tumbuh dari proses yang panjang. Dari ketekunan. Dari peluh. Dari ketulusan menyajikan makanan seenak mungkin meski dengan alat seadanya.

Di balik selembar crepes yang dibungkus kertas, tersimpan cerita tentang cinta dua insan, tentang harapan yang digulung rapat bersama susu dan cokelat, dan tentang semangat hidup yang tak pernah lelah meski diterpa hujan, panas, dan ujian.

Di tengah riuh pasar malam, Crepes Lalapooh berdiri sebagai pengingat: bahwa mimpi itu bisa diraih siapa saja, asalkan ada keberanian untuk memulai dan kesabaran untuk bertahan. [T]

Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati
Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Tags: bulelengkulinerPelabuhan Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Next Post

Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co