25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 14, 2025
in Kuliner
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Yudianto dan Tik di Depot Siobak Seririt

SIANG itu, langit Seririt menumpahkan rintik hujan tanpa henti. Tiba-tiba, ibu saya melontarkan keinginan yang tak terbantahkan.

”Mang, rasanya enak sekali kalau siang ini makan siobak,” kata Ibu.

”Oke!” sahut saya.

Saya pun bergegas memenuhi permintaan sang ibu. Tujuan saya sudah jelas. Depot Siobak di Seririt, Buleleng, Bali.  Siobak, adalah sebuah nama menu yang melegenda di telinga para pencinta kuliner Buleleng, juga Bali.

Warung makan itu berdiri bersahaja, bertetangga dengan sebuah Indomaret di Jalan Raya Seririt-Singaraja. Tak ada kemewahan di sana, hanya sebuah warung makan yang jujur dalam kesederhanaannya, seolah menyimpan rahasia rasa yang diwariskan turun-temurun.

Depot Siobak Seririt | Foto: Puja

Memasuki warung, aroma khas masakan langsung menyergap indera penciuman, membangkitkan selera. Sambutan hangat langsung saya terima dari sepasang suami istri, Yudianto (74) dan Heti (62), atau yang akrab disapa Tik.

Sembari tangan cekatan Tik menyiapkan pesanan saya dan pelanggan lain, matanya tak lepas dari talenan dan blakas Bali. Dengan fokus yang luar biasa, ia memastikan setiap irisan daging babi terpotong dengan sempurna. Sebuah dedikasi yang terlihat jelas dalam setiap gerakannya. Di usianya yang tak lagi muda, semangat melayani dan menjaga kualitas tetap membara.

Sensasi Rasa yang Tak Tertandingi

Bicara soal siobak, Depot Siobak Seririt memang memiliki kelas tersendiri. Dibuka sejak tahun 1980. Sudah 45 tahun lamanya warung ini berdiri kokoh, menjaga cita rasa autentik yang tak tergantikan. Setiap suapan membawa perpaduan antara manis, gurih, dan sedikit sentuhan pedas yang menggelitik. Daging babinya begitu empuk di lidah, disempurnakan dengan kulit yang renyah sempurna di setiap gigitan.

Kuah siobaknya? Ahh…, itu adalah mahakarya tersendiri. Berwarna cokelat pekat, kental, dan kaya rempah, memeluk setiap potongan daging dan menyatu sempurna. Siobak ini tak pernah disajikan sendiri, selalu ditemani kerupuk babi yang garing renyah, acar timun segar yang memberikan sentuhan asam, dan potongan cabai segar bagi mereka yang ingin sensasi lebih menantang. Sungguh, ini bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman kuliner yang memanjakan seluruh indra.

Dengan harga yang cukup terjangkau, Rp 30 ribu per porsi, pelanggan bahkan diberi keleluasaan dengan selera masing-masing.

“Kalau saya jualan sesuai request pelanggan, misalnya siobak full daging. Kasihan kalau makanannya dibuang-buang, nggak dihabiskan,” ucap Heti dengan senyum ramahnya, menunjukkan perhatiannya pada kepuasan pelanggan dan kepedulian agar tak ada makanan yang tersia-sia.

Yudianto

Depot Siobak Seririt buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WITA. Namun, persiapan di dapur sudah dimulai jauh lebih pagi. Dibantu oleh dua orang karyawannya, Heti dan Yudianto mulai meracik bumbu dan menyiapkan bahan sejak pukul 05.00 WITA.

Yang menarik, proses memasak di Depot Siobak ini masih sangat tradisional, menggunakan kayu bakar. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Heti berkisah, ia pernah mengalami trauma ketika kompor yang dulu digunakannya meledak di warung.

“Dari kejadian itu ada positifnya, jadi pakai kayu bakar juga dapat cita rasa makanan berbeda, karena ada rasa khas memasak menggunakan kayu bakar,” ungkap Heti sambil tersenyum, menyiratkan setiap musibah pun bisa membawa berkah. Memang, aroma dan rasa yang dihasilkan dari masakan kayu bakar memiliki kekhasan tersendiri.

Keluhan yang paling sering dialami selama 45 tahun berdagang adalah kenaikan harga daging babi yang tak kunjung turun setiap tahunnya. ”Biasanya beli daging di Pasar Seririt dengan anak. Kalau di langganan beli harganya Rp 110 ribu per kg, sedangkan yang nggak langganan biasanya Rp 120 ribu,” tutur Yudianto.

Kisah Perjalanan dan Warisan Khelok

Di balik kesuksesan Depot Siobak Seririt, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup Yudianto. Sebelum mendirikan warung ini, ia merantau selama 15 tahun, berpindah-pindah tempat mulai dari Surabaya, Solo, dan terakhir di Klaten. Profesi yang dilakoninya pun beragam.

Pelanggan yang mengantre | Foto: Puja

“Saya kerjanya mulai kerja di Surabaya di pabrik sepatu, di Solo pabrik bensin, di Klaten pabrik minyak bakar yang buat pembakaran kapur, karena saat itu rumah pakai bahan kapur,” tutur Yudianto.

Namun, sebuah peristiwa kelam di tahun 1979 mengubah jalan hidupnya. Saat itu, di Klaten sedang marak isu penembak misterius (petrus) yang menebar ketakutan.

“Saat itu saya mau nagih uang di pabrik Parkarejo dan muncul kejadian itu, saya langsung pulang,” kenangnya dengan raut serius, mengingat kembali momen yang mengubah haluan hidupnya kembali ke kampung halaman.

Hidangan siobak yang menggiurkan | Foto: Puja

Depot Siobak ini bertahan hingga kini karena merupakan satu-satunya mata pencarian mereka, untuk makan sehari-hari. Yudianto adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Khelok. Siobak ini bukan sekadar usaha, melainkan warisan nenek moyang yang terus ia jaga hingga saat ini.

”Kedua anak saya dan menantu saya berjualan siobak juga, dan sudah membuka gerai mandiri tidak satu gerai dengan saya,” tuturnya dengan bangga, menunjukkan bahwa tradisi kuliner ini telah berhasil diturunkan ke generasi berikutnya. Heti pun memiliki harapan besar agar makanan warisan keluarga ini bisa semakin tersebar luas dan menjadi ciri khas cita rasa siobak legendaris yang dikenal banyak orang.

Melihat warung sederhana itu, ingatan saya melayang pada kenangan ibu saya bersama almarhum bapak, saat mereka menikmati siobak di musim hujan.

”Tiap makan sesuap siobak ini, jadi ingat bapakmu yang dulu suka menyuapi ibu,” kenang ibu dengan senyum manis yang menyimpan rindu. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: bulelengkulinerkuliner babiSeriritsiobak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co