5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 4, 2025
in Panggung
Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

MATAHARI menggantung tenang di langit Ubud ketika jarum jam perlahan menyentuh angka 12.30. Hari itu, Minggu, 1 Juni 2025, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, Gianyar mulai dipenuhi orang-orang yang datang bukan hanya mencari rasa, tetapi juga cerita di balik pangan lokal. Di luar, cuaca terasa menyengat, namun di dalam Rumah Kayu, suasana terasa teduh—bukan karena suhu, melainkan oleh percakapan hangat yang mengalir.

Rumah Kayu terisi perlahan, penonton datang dari berbagai latar belakang: anak muda pencinta kuliner, wisatawan asing yang penasaran, hingga warga lokal yang sehari-hari akrab dengan pasar dan dapur. Saat diskusi dimulai, tak banyak yang sibuk dengan gawai. Sebagian besar menyimak dengan saksama, mencatat poin penting, atau sekadar mengangguk pelan saat pembicara menyampaikan hal-hal yang mengena.

Dalam semarak hari terakhir Ubud Food Festival 2025, sebuah diskusi ringan digelar: pembahasan buku “Ragam Resep Pangan Lokal”. Karya kolaboratif antara Badan Pangan Nasional dan Yayasan Gastronomi NUSA Indonesia—yang dikurasi oleh Chef Ragil Imam Wibowo. Buku tersebut tak hanya menyuguhkan kumpulan resep, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya keberagaman pangan lokal, serta kandungan nutrisi dan gizinya yang kaya.

Dari kiri ke kanan, Meilati Batubara, Chef Ragil Imam Wibowo, Wimas Astari | Foto: tatkala.co/Dede

Diskusi tersebut menghadirkan dua sosok berdedikasi: Meilati Batubara, akrab disapa Mei—pengusaha sekaligus peneliti kuliner yang telah lama memperjuangkan ketahanan dan keadilan pangan, serta Chef Ragil Imam Wibowo—maestro kuliner yang dikenal karena perannya dalam melestarikan dan memodernisasi masakan Nusantara. Acara dipandu oleh Wimas Astari, pembuat kue tradisional dengan pembawaan hangat dan bersahaja.

Wimas membuka diskusi dengan ringkas, lalu disambung oleh Mei, yang berbicara dengan nada tenang dan tegas. “Buku ini bukan cuma soal resep masak,” ujarnya. “Ini tentang kembali ke akar—mengenal kembali pangan lokal yang selama ini terlupakan.” Ia menambahkan, “Kita terlalu fokus pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama, padahal Indonesia kaya akan alternatif seperti jagung, singkong, ubi, dan sorgum. Bahan-bahan ini tak hanya berpotensi menggantikan nasi, tapi juga punya nilai gizi dan cerita budaya yang tak kalah kaya.”

Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Meilati Batubara bukan nama asing dalam lanskap gastronomi Indonesia. Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Gastronomi NUSA Indonesia dan Co-Founder NUSA Indonesian Gastronomy, ia adalah motor penggerak di balik berbagai riset dan inisiatif pelestarian pangan lokal. Ia memimpin program Pusaka Rasa Nusantara, mendirikan Sokola Rasa sebagai wadah pendidikan kuliner, serta memperkenalkan produk-produk artisanal lewat Toko Rasanusa. Visi besarnya sederhana namun dalam, membangun sistem pangan yang adil, sehat, dan berakar pada budaya lokal.

Sementara itu, Chef Ragil membawa energi dan kejujuran dengan gaya bicaranya yang akrab dan penuh humor. “Jadi, orang Indonesia kalau nggak ada beras, nggak mati juga,” katanya, disambut tawa ringan penonton. “Karbohidrat kita beragam, ada jagung, singkong, sagu, talas—semuanya enak dan bisa jadi bintang di meja makan.” Ia juga menekankan pentingnya kesejahteraan petani. “Kalau pangan yang kita konsumsi beragam, kita tidak hanya mensejahterakan petani padi, tapi juga petani jagung, singkong, dan bahan lokal lain yang menopang keberlanjutan pangan kita. Kalau petani sejahtera, ketahanan pangan kita pun ikut kuat.”

Chef Ragil Imam Wibowo adalah salah satu tokoh kuliner yang berpengaruh di Indonesia. Ia meraih berbagai penghargaan, bukan hanya karena kepiawaiannya dalam mengolah rasa, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap keberlanjutan. Ia dikenal sebagai pejuang pangan lokal yang bekerja langsung dengan petani dan komunitas akar rumput. Kini, ia menjabat sebagai Ketua Komite Kuliner Indonesia—sebuah wadah lintas sektor yang memperkuat ekosistem gastronomi nasional lewat kebijakan dan inovasi.

Di sela diskusi, Chef Ragil mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pola makan masyarakat urban yang makin bergeser. “Padahal kita punya potensi untuk sehat lewat makanan lokal. Sayangnya, banyak yang tumbuh dengan jajan sembarangan di luar, yang banyak mengandung MSG,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan B2SA—Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman—yang menjadi semangat utama dalam buku “Ragam Resep Pangan Lokal”.

Penonton melihat buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Penonton diskusi buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Diskusi mengalir lancar berkat panduan Wimas Astari, yang tak hanya seorang moderator, tetapi juga pelaku kuliner. Ia adalah pembuat kue tradisional Indonesia dengan resep turun-temurun keluarganya. Kue buatannya tak hanya sedap, tapi juga sarat cerita. Dengan suara lembut dan bahasa yang bersahaja, Wimas menjaga ritme acara tetap intim, mengajak penonton menyimak lebih dari sekadar kata-kata—melainkan kisah dan nilai.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 13.30—satu jam telah berlalu. Diskusi pun ditutup, dan kursi-kursi mulai kosong satu per satu. Siang itu bukan sekadar diskusi buku, melainkan ajakan untuk kembali merenungkan apa yang kita makan dan dari mana makanan itu berasal.

Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” bukan hanya catatan resep, tetapi juga catatan sejarah dan harapan. Di dalamnya tersimpan kisah tentang siapa kita, dan potensi besar yang bisa kita gali dari tanah sendiri. Karena, seperti yang ditekankan Meilati Batubara dan Chef Ragil: dengan menjaga rasa, kita sedang menjaga bangsa. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Senyum Rikha dan Cendol Nangka Pertama: Cerita Manis di Ubud Food Festival 2025
Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025
Pindang Ayam Gunung: Aroma Rumah dari Pangandaran yang Menguar di Ubud Food Festival 2025
Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025
Ubud Food Festival 2025 Merayakan Potensi Lokal: Made Masak dan Bili Wirawan Siapkan Kejutan
Tags: BukukulinerUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lalapooh: Cinta, Crepes, dan Cerita di Tengah Pasar Senggol Pelabuhan Tua Buleleng

Next Post

The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co