5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 4, 2025
in Panggung
Menjaga Rasa, Menjaga Bangsa | Dari Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di Ubud Food Festival 2025

Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

MATAHARI menggantung tenang di langit Ubud ketika jarum jam perlahan menyentuh angka 12.30. Hari itu, Minggu, 1 Juni 2025, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, Gianyar mulai dipenuhi orang-orang yang datang bukan hanya mencari rasa, tetapi juga cerita di balik pangan lokal. Di luar, cuaca terasa menyengat, namun di dalam Rumah Kayu, suasana terasa teduh—bukan karena suhu, melainkan oleh percakapan hangat yang mengalir.

Rumah Kayu terisi perlahan, penonton datang dari berbagai latar belakang: anak muda pencinta kuliner, wisatawan asing yang penasaran, hingga warga lokal yang sehari-hari akrab dengan pasar dan dapur. Saat diskusi dimulai, tak banyak yang sibuk dengan gawai. Sebagian besar menyimak dengan saksama, mencatat poin penting, atau sekadar mengangguk pelan saat pembicara menyampaikan hal-hal yang mengena.

Dalam semarak hari terakhir Ubud Food Festival 2025, sebuah diskusi ringan digelar: pembahasan buku “Ragam Resep Pangan Lokal”. Karya kolaboratif antara Badan Pangan Nasional dan Yayasan Gastronomi NUSA Indonesia—yang dikurasi oleh Chef Ragil Imam Wibowo. Buku tersebut tak hanya menyuguhkan kumpulan resep, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya keberagaman pangan lokal, serta kandungan nutrisi dan gizinya yang kaya.

Dari kiri ke kanan, Meilati Batubara, Chef Ragil Imam Wibowo, Wimas Astari | Foto: tatkala.co/Dede

Diskusi tersebut menghadirkan dua sosok berdedikasi: Meilati Batubara, akrab disapa Mei—pengusaha sekaligus peneliti kuliner yang telah lama memperjuangkan ketahanan dan keadilan pangan, serta Chef Ragil Imam Wibowo—maestro kuliner yang dikenal karena perannya dalam melestarikan dan memodernisasi masakan Nusantara. Acara dipandu oleh Wimas Astari, pembuat kue tradisional dengan pembawaan hangat dan bersahaja.

Wimas membuka diskusi dengan ringkas, lalu disambung oleh Mei, yang berbicara dengan nada tenang dan tegas. “Buku ini bukan cuma soal resep masak,” ujarnya. “Ini tentang kembali ke akar—mengenal kembali pangan lokal yang selama ini terlupakan.” Ia menambahkan, “Kita terlalu fokus pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama, padahal Indonesia kaya akan alternatif seperti jagung, singkong, ubi, dan sorgum. Bahan-bahan ini tak hanya berpotensi menggantikan nasi, tapi juga punya nilai gizi dan cerita budaya yang tak kalah kaya.”

Diskusi Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Meilati Batubara bukan nama asing dalam lanskap gastronomi Indonesia. Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Gastronomi NUSA Indonesia dan Co-Founder NUSA Indonesian Gastronomy, ia adalah motor penggerak di balik berbagai riset dan inisiatif pelestarian pangan lokal. Ia memimpin program Pusaka Rasa Nusantara, mendirikan Sokola Rasa sebagai wadah pendidikan kuliner, serta memperkenalkan produk-produk artisanal lewat Toko Rasanusa. Visi besarnya sederhana namun dalam, membangun sistem pangan yang adil, sehat, dan berakar pada budaya lokal.

Sementara itu, Chef Ragil membawa energi dan kejujuran dengan gaya bicaranya yang akrab dan penuh humor. “Jadi, orang Indonesia kalau nggak ada beras, nggak mati juga,” katanya, disambut tawa ringan penonton. “Karbohidrat kita beragam, ada jagung, singkong, sagu, talas—semuanya enak dan bisa jadi bintang di meja makan.” Ia juga menekankan pentingnya kesejahteraan petani. “Kalau pangan yang kita konsumsi beragam, kita tidak hanya mensejahterakan petani padi, tapi juga petani jagung, singkong, dan bahan lokal lain yang menopang keberlanjutan pangan kita. Kalau petani sejahtera, ketahanan pangan kita pun ikut kuat.”

Chef Ragil Imam Wibowo adalah salah satu tokoh kuliner yang berpengaruh di Indonesia. Ia meraih berbagai penghargaan, bukan hanya karena kepiawaiannya dalam mengolah rasa, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap keberlanjutan. Ia dikenal sebagai pejuang pangan lokal yang bekerja langsung dengan petani dan komunitas akar rumput. Kini, ia menjabat sebagai Ketua Komite Kuliner Indonesia—sebuah wadah lintas sektor yang memperkuat ekosistem gastronomi nasional lewat kebijakan dan inovasi.

Di sela diskusi, Chef Ragil mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pola makan masyarakat urban yang makin bergeser. “Padahal kita punya potensi untuk sehat lewat makanan lokal. Sayangnya, banyak yang tumbuh dengan jajan sembarangan di luar, yang banyak mengandung MSG,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan B2SA—Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman—yang menjadi semangat utama dalam buku “Ragam Resep Pangan Lokal”.

Penonton melihat buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Penonton diskusi buku “Ragam Resep Pangan Lokal” di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

Diskusi mengalir lancar berkat panduan Wimas Astari, yang tak hanya seorang moderator, tetapi juga pelaku kuliner. Ia adalah pembuat kue tradisional Indonesia dengan resep turun-temurun keluarganya. Kue buatannya tak hanya sedap, tapi juga sarat cerita. Dengan suara lembut dan bahasa yang bersahaja, Wimas menjaga ritme acara tetap intim, mengajak penonton menyimak lebih dari sekadar kata-kata—melainkan kisah dan nilai.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 13.30—satu jam telah berlalu. Diskusi pun ditutup, dan kursi-kursi mulai kosong satu per satu. Siang itu bukan sekadar diskusi buku, melainkan ajakan untuk kembali merenungkan apa yang kita makan dan dari mana makanan itu berasal.

Buku “Ragam Resep Pangan Lokal” bukan hanya catatan resep, tetapi juga catatan sejarah dan harapan. Di dalamnya tersimpan kisah tentang siapa kita, dan potensi besar yang bisa kita gali dari tanah sendiri. Karena, seperti yang ditekankan Meilati Batubara dan Chef Ragil: dengan menjaga rasa, kita sedang menjaga bangsa. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Senyum Rikha dan Cendol Nangka Pertama: Cerita Manis di Ubud Food Festival 2025
Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025
Pindang Ayam Gunung: Aroma Rumah dari Pangandaran yang Menguar di Ubud Food Festival 2025
Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025
Ubud Food Festival 2025 Merayakan Potensi Lokal: Made Masak dan Bili Wirawan Siapkan Kejutan
Tags: BukukulinerUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lalapooh: Cinta, Crepes, dan Cerita di Tengah Pasar Senggol Pelabuhan Tua Buleleng

Next Post

The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

The Voices After Cak!:  Keriuhan di Balik-balik Tubuh yang Diguncang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co