5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Visual Made Sudana

Hartanto by Hartanto
May 12, 2025
in Ulas Rupa
Refleksi Visual Made Sudana

Made Sudana, "Segaragunung", mix media on canvas (croping oleh tatkala)

JUDUL Segara Gunung karya Made Sudana ini memadukan dua elemen alam yang sangat ikonikal: lautan dan gunung. Dalam tradisi Bali, gunung sering kali dianggap sebagai tempat suci, lambang stabilitas, dan sumber kehidupan yang suci. Sedangkan lautan menunjukkan kebesaran, kedalaman, dan aliran energi kehidupan. Penggabungan kedua unsur ini bukan hanya mengundang perenungan tentang kekuatan alam, tetapi juga mengingatkan kita pada ritual dan filosofi leluhur yang kerap kali menyatu dengan elemen alam dalam upacara keagamaan di Bali. Di Bali, kedua tempat ini sangat di sucikan. Dimana “Segaregunung” merupakan simbol dari lingga dan Yoni,  dalam pertemuan ini dipercaya akan memunculkan suatu energi.

Karya ini memadukan simbolisme tradisional dan estetika modern  yang dalam dan dimensi spiritual – merupakan hubungan antara gunung dan laut. Ini, secara kosmologis di Bali dihormati sebagai tempat sakral. Karya Made Sudana ini menangkap makna transendental, mengacu pada simbol lingga dan yoni—representasi kesatuan antara maskulin dan feminim.

Dari segi simbolis, karya ini tampak sebagai jalinan narasi antara kekuatan alam dan spiritualitas masyarakat Bali. Lapisan-lapisan tekstur dan penggunaan media campuran mengisyaratkan proses pelapisan makna—sebagian pengamat dapat membaca ini sebagai representasi dari perjalanan spiritual, di mana unsur keras (gunung) bertemu dengan unsur cair (laut). Keterlibatan objek pelepah sebagai elemen tiga dimensi seolah menjadi jembatan yang menghubungkan konsep abstrak tersebut dengan realitas fisik, mengajak pengamat untuk merenungkan hubungan antara materialitas dan transendensi. Penataan yang tersusun seakan mengundang kita menyelami proses kontemplatif yang mirip dengan ritual penyucian dalam tradisi Bali, di mana unsur-unsur alam dimanifestasikan sebagai simbol dari perjalanan batin manusia.

Dengan ukuran 246 x 216 cm dan bahan acrylic di atas kanvas, karya ini memberi ruang ekspresi yang luas, menciptakan suasana yang imersif (pengalaman yang mendalam dan menyeluruh) untuk penikmat seni. “Segaregunung” sebagai tema menghubungkan dua elemen alam yang kontradiktif tapi saling melengkapi. Dalam konteks Bali, harmoni ini mencerminkan keseimbangan dalam kehidupan spiritual dan material. Penekanan pada pertemuan antara gunung dan laut menunjukkan perpaduan dua kekuatan besar yang melambangkan dinamika dan keseimbangan alam semesta.

Karya ini digelar pada perhelatan 29 tahun Kelompok Seni Galang Kangin (KSKG) di Neka Art Museum Ubud, dari tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025. Pameran senirupa ini bertema “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”, diikuti oleh 12 perupa anggota KSKG, dan 3 orang perupa undangan. Tema tersebut, sebagai langkah merefleksikan manifesto Galang Kangin yang digagas antara KSKG dan Thomas Freitag pada 21 Juni 2002.

Made Sudana, “Ayam”, mix media, acrylic, & klase, 2025

Seni rupa kontemporer sering kali mencerminkan konteks ruang dan waktu, serta mengintegrasikan elemen budaya lokal dengan eksplorasi konsep global. Dalam hal ini, karya Made Sudana yang mengangkat simbol lingga dan yoni sebagai representasi kesatuan energi penciptaan dapat dilihat sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi Bali dengan wacana seni rupa kontemporer yang lebih luas.

Pendekatan seni rupa kontemporer juga memungkinkan interpretasi yang lebih fleksibel, di mana karya seni tidak hanya dilihat dari aspek visual, tetapi juga dari makna filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Elemen-elemen seperti pelepah pisang yang digunakan dalam karya ini menunjukkan eksplorasi media campuran, yang merupakan ciri khas seni rupa kontemporer.

Kanvas yang tidak konvensional dengan sudut-sudut yang unik menunjukkan eksplorasi bentuk yang melampaui batas tradisional. Seni rupa kontemporer sering kali melawan norma estetika dengan menghadirkan inovasi dalam bentuk dan media – seperti pada pilihan kanvas dengan beberapa sudut, kreasi Made Sudana ini. Karya ini tidak hanya menarik secara visual tetapi juga mengandung makna filosofis personal Sudana, yang mendalam.

Karya  lukisan abstrak  Made Sudana ini,  memiliki tekstur kaya dan penggunaan warna yang dinamis. Latar belakangnya didominasi oleh warna abu-abu dengan percikan merah, biru, kuning, dan hijau, menciptakan kesan gerakan dan kedalaman. Teknik sapuan kuas dan percikan cat yang digunakan memberikan nuansa ekspresif dan spontan. Selain itu, terdapat elemen tiga dimensi seperti sudah saya sebutkan di atas, yakni berupa potongan pelepah pisang yang ditempelkan pada kanvas. Ini menambah aksentuasi, dimensi dan karakter unik pada karya ini. Karya-karya Made Sudana memang sering kali mencerminkan eksplorasi tekstur dan bentuk,

Karya Segara Gunung ini mengundang penikmat seni untuk mempertanyakan keberadaan dan peran elemen alam dalam perjalanan spiritual serta kehidupan sehari-hari. Melalui penggunaan warna yang kontras, tekstur yang kaya, dan integrasi media yang inovatif, Made Sudana menawarkan refleksi visual yang menantang—sebuah undangan untuk merenung tentang hubungan mendalam antara manusia, alam, dan tradisi yang hidup di dalamnya. Karya ini tidak hanya bercerita tentang keindahan alam, tetapi juga tentang perjalanan batin dan pemaknaan ulang terhadap simbol-simbol mistis yang melekat pada budaya Bali.

Sebagai perbandingan proses kreatif Made Sudana, mari kita simak karyanya yang lain, yang bertajuk ;  “Kegelapan Pasti Berakhir”. Ini merupakan sebuah manifestasi visual yang mendalami perjalanan emosional—dari keputusasaan menuju harapan. Dalam karya abstrak ini, penggunaan palet warna gelap seperti hitam dan abu-abu mendominasi, kemudian diselingi dengan semburat warna hangat seperti merah dan oranye serta aksen biru. Kombinasi tersebut menciptakan dialog visual antara kegelapan yang tampak menyesakkan dengan percikan cahaya yang muncul sebagai simbol pembaruan dan semangat.

Made Sudana, “Tanah Merah”, 2022

Komposisi lukisan yang diterapkan terasa dinamis berkat tekstur cat yang kental dan penggunaan sapuan kuas yang ekspresif. Bentuk-bentuk abstrak yang seolah bergerak mengarahkan pengamat untuk merasakan keberadaan sebuah transisi—seperti pergerakan alam dari malam ke fajar, di mana setiap lapisan warna mengisahkan perjalanan menuju pencerahan. Ukuran kanvas yang besar 180 x 140 cm juga menambah intensitas pengalaman visual, seakan mengajak penikmatnya terlarut dalam narasi emosi dan waktu.

Pilihan warna dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, melainkan juga sebagai metafora yang mendalam. Warna hitam dan abu-abu menggambarkan rasa berat, kerap kali identik dengan kesendirian atau beban batin, sementara semburat merah dan oranye menyiratkan energi, keberanian, dan semangat yang perlahan merebut kembali ruang dari keputusasaan. Aksen biru, di sisi lain, memberikan sentuhan ketenangan dan stabilitas yang mengimbangi kekuatan emosional warna-warna lain, sehingga tercipta harmoni meskipun pada awalnya tampak penuh konflik.

Menurut saya, dalam seni rupa, analisis warna merupakan salah satu aspek penting untuk memahami makna, komposisi, dan dampak visual sebuah karya. Pendekatan ini berdasarkan hubungan warna dalam lingkaran warna (color wheel) dan prinsip dasar seperti warna primer, sekunder, dan tersier. Analisis ini juga mencakup konsep harmoni warna seperti komplementer, analog, triadik, dan tetradik untuk memahami efek visualnya. Pendekatan psikologi warna ini berfokus pada efek emosional dan psikologis yang ditimbulkan oleh warna. Misalnya, merah sering dikaitkan dengan gairah atau kemarahan, biru dengan ketenangan, dan kuning dengan kebahagiaan. Psikologi warna membantu dalam memahami bagaimana warna dapat membentuk persepsi dan perasaan dalam karya seni.

Lebih lanjut, mari kita simak karya Made yang bertajuk : “Tanah Merah”. Menurut saya, pada karya ini tempak jelas kemampuan Made dalam mengolah saturasi (intensitas warna). Selain itu, juga menunjukkan kemampuan Made dalam ‘memainkan’ gradasi. Karya ini menampilkan dominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Warna merah tidak terlalu mencolok secara visual, tetapi memiliki muatan simbolis yang kuat. Dalam konteks “Tanah Merah,” warna ini dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari energy kehidupan. Namun bisa juga diasosiasikan dengan tanah yang gersang, kaya mineral, namun juga keras dan tidak mudah ditaklukkan.

Meskipun karya ini tampak abstrak, namun penempatan elemen-elemen visual memberikan nuansa tertata yang menggambarkan bahwa meskipun alam tampak liar, sebenarnya terdapat struktur dan harmoni di balik setiap retakan dan lapisan. Garis dan bentuk yang saling berinteraksi dengan sapuan warna merah, hitam, dan abu-abu mengundang penikmat untuk ‘membaca’ narasi visual tentang pertemuan antara kehidupan yang keras dan kebijaksanaan yang menghidupkan alam.

Made Sudana, “Kegelapan Pasti Berakhir”, aclyric on canvas

Karya Made Sudana kerap menonjolkan tekstur yang terasa  berlapis, yang mengingatkan pada lapisan waktu, sejarah, dan kealamian. Ini mengingatkan saya pada karya-karya Gerhard Richter. Pelukis Jerman ini juga dikenal dengan teknik penggunaan lapisan cat yang tebal dan paduan material yang bertekstur, sehingga menciptakan kesan mendalam sekaligus kontemplatif. Kedua seniman dengan cara ini, merefleksikan pengaruh fisik alam terhadap karya mereka. Ini menandakan mereka punya hubungan emosional yang kuat dengan “tanah” atau bumi.

Sementara itu, Gerhard Richter terkenal dengan teknik alat bilah (squeegee) yang menghasilkan lapisan-lapisan cat dengan efek kabur dan ambigu. Pendekatan Richter terhadap warna—di mana ia mengeksplorasi ketidaktegasan dan proses penyembuhan melalui waktu—dapat dihubungkan dengan cara Sudana menampilkan narasi transformasi dalam karya-karyanya. Walaupun tekniknya berbeda, keduanya sama-sama mengajak audiens untuk menyelami perbedaan antara realitas yang tampak dan emosi yang tersembunyi di balik lapisan cat.

Made Sudana, “Segaragunung”, mix media on canvas

Perbandingan karya Made Sudana dan Gerhard Richter, memang tak bisa sama persis. Baik secara teknis, konten, maupun visual akhir. Sebab, bisa kita lihat bahwa seniman internasional seperti Richter seringkali menggunakan tekstur, lapisan, dan simbolisme warna untuk mengungkapkan perjalanan emosional serta kontemplasi atas masa lalu dan alam.

Sementara itu, karya Made Sudana — dengan kekayaan warna dan tekniknya — menyatu dalam tradisi global yang menekankan ekspresi batin dan hubungan manusia dengan kekuatan alam. Setiap perbandingan membuka ruang bagi interpretasi yang lebih luas – apakah kita merasakan refleksi visual karya “tanah merah” Sudana ini sebagai lambang kehidupan yang keras, atau sebagai medium untuk merenungkan keberadaan yang lebih mendalam?

Apakah elemen gestural dan lapisan pada karya-karya tersebut mengundang kita untuk kembali ke kenangan atau refleksi pribadi tentang perjalanan hidup? Nah, ini menarik untuk didiskusikan dengan perupanya, tentunya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: Komunitas Galang KanginPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Next Post

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co