5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Visual Made Sudana

Hartanto by Hartanto
May 12, 2025
in Ulas Rupa
Refleksi Visual Made Sudana

Made Sudana, "Segaragunung", mix media on canvas (croping oleh tatkala)

JUDUL Segara Gunung karya Made Sudana ini memadukan dua elemen alam yang sangat ikonikal: lautan dan gunung. Dalam tradisi Bali, gunung sering kali dianggap sebagai tempat suci, lambang stabilitas, dan sumber kehidupan yang suci. Sedangkan lautan menunjukkan kebesaran, kedalaman, dan aliran energi kehidupan. Penggabungan kedua unsur ini bukan hanya mengundang perenungan tentang kekuatan alam, tetapi juga mengingatkan kita pada ritual dan filosofi leluhur yang kerap kali menyatu dengan elemen alam dalam upacara keagamaan di Bali. Di Bali, kedua tempat ini sangat di sucikan. Dimana “Segaregunung” merupakan simbol dari lingga dan Yoni,  dalam pertemuan ini dipercaya akan memunculkan suatu energi.

Karya ini memadukan simbolisme tradisional dan estetika modern  yang dalam dan dimensi spiritual – merupakan hubungan antara gunung dan laut. Ini, secara kosmologis di Bali dihormati sebagai tempat sakral. Karya Made Sudana ini menangkap makna transendental, mengacu pada simbol lingga dan yoni—representasi kesatuan antara maskulin dan feminim.

Dari segi simbolis, karya ini tampak sebagai jalinan narasi antara kekuatan alam dan spiritualitas masyarakat Bali. Lapisan-lapisan tekstur dan penggunaan media campuran mengisyaratkan proses pelapisan makna—sebagian pengamat dapat membaca ini sebagai representasi dari perjalanan spiritual, di mana unsur keras (gunung) bertemu dengan unsur cair (laut). Keterlibatan objek pelepah sebagai elemen tiga dimensi seolah menjadi jembatan yang menghubungkan konsep abstrak tersebut dengan realitas fisik, mengajak pengamat untuk merenungkan hubungan antara materialitas dan transendensi. Penataan yang tersusun seakan mengundang kita menyelami proses kontemplatif yang mirip dengan ritual penyucian dalam tradisi Bali, di mana unsur-unsur alam dimanifestasikan sebagai simbol dari perjalanan batin manusia.

Dengan ukuran 246 x 216 cm dan bahan acrylic di atas kanvas, karya ini memberi ruang ekspresi yang luas, menciptakan suasana yang imersif (pengalaman yang mendalam dan menyeluruh) untuk penikmat seni. “Segaregunung” sebagai tema menghubungkan dua elemen alam yang kontradiktif tapi saling melengkapi. Dalam konteks Bali, harmoni ini mencerminkan keseimbangan dalam kehidupan spiritual dan material. Penekanan pada pertemuan antara gunung dan laut menunjukkan perpaduan dua kekuatan besar yang melambangkan dinamika dan keseimbangan alam semesta.

Karya ini digelar pada perhelatan 29 tahun Kelompok Seni Galang Kangin (KSKG) di Neka Art Museum Ubud, dari tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025. Pameran senirupa ini bertema “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”, diikuti oleh 12 perupa anggota KSKG, dan 3 orang perupa undangan. Tema tersebut, sebagai langkah merefleksikan manifesto Galang Kangin yang digagas antara KSKG dan Thomas Freitag pada 21 Juni 2002.

Made Sudana, “Ayam”, mix media, acrylic, & klase, 2025

Seni rupa kontemporer sering kali mencerminkan konteks ruang dan waktu, serta mengintegrasikan elemen budaya lokal dengan eksplorasi konsep global. Dalam hal ini, karya Made Sudana yang mengangkat simbol lingga dan yoni sebagai representasi kesatuan energi penciptaan dapat dilihat sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi Bali dengan wacana seni rupa kontemporer yang lebih luas.

Pendekatan seni rupa kontemporer juga memungkinkan interpretasi yang lebih fleksibel, di mana karya seni tidak hanya dilihat dari aspek visual, tetapi juga dari makna filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Elemen-elemen seperti pelepah pisang yang digunakan dalam karya ini menunjukkan eksplorasi media campuran, yang merupakan ciri khas seni rupa kontemporer.

Kanvas yang tidak konvensional dengan sudut-sudut yang unik menunjukkan eksplorasi bentuk yang melampaui batas tradisional. Seni rupa kontemporer sering kali melawan norma estetika dengan menghadirkan inovasi dalam bentuk dan media – seperti pada pilihan kanvas dengan beberapa sudut, kreasi Made Sudana ini. Karya ini tidak hanya menarik secara visual tetapi juga mengandung makna filosofis personal Sudana, yang mendalam.

Karya  lukisan abstrak  Made Sudana ini,  memiliki tekstur kaya dan penggunaan warna yang dinamis. Latar belakangnya didominasi oleh warna abu-abu dengan percikan merah, biru, kuning, dan hijau, menciptakan kesan gerakan dan kedalaman. Teknik sapuan kuas dan percikan cat yang digunakan memberikan nuansa ekspresif dan spontan. Selain itu, terdapat elemen tiga dimensi seperti sudah saya sebutkan di atas, yakni berupa potongan pelepah pisang yang ditempelkan pada kanvas. Ini menambah aksentuasi, dimensi dan karakter unik pada karya ini. Karya-karya Made Sudana memang sering kali mencerminkan eksplorasi tekstur dan bentuk,

Karya Segara Gunung ini mengundang penikmat seni untuk mempertanyakan keberadaan dan peran elemen alam dalam perjalanan spiritual serta kehidupan sehari-hari. Melalui penggunaan warna yang kontras, tekstur yang kaya, dan integrasi media yang inovatif, Made Sudana menawarkan refleksi visual yang menantang—sebuah undangan untuk merenung tentang hubungan mendalam antara manusia, alam, dan tradisi yang hidup di dalamnya. Karya ini tidak hanya bercerita tentang keindahan alam, tetapi juga tentang perjalanan batin dan pemaknaan ulang terhadap simbol-simbol mistis yang melekat pada budaya Bali.

Sebagai perbandingan proses kreatif Made Sudana, mari kita simak karyanya yang lain, yang bertajuk ;  “Kegelapan Pasti Berakhir”. Ini merupakan sebuah manifestasi visual yang mendalami perjalanan emosional—dari keputusasaan menuju harapan. Dalam karya abstrak ini, penggunaan palet warna gelap seperti hitam dan abu-abu mendominasi, kemudian diselingi dengan semburat warna hangat seperti merah dan oranye serta aksen biru. Kombinasi tersebut menciptakan dialog visual antara kegelapan yang tampak menyesakkan dengan percikan cahaya yang muncul sebagai simbol pembaruan dan semangat.

Made Sudana, “Tanah Merah”, 2022

Komposisi lukisan yang diterapkan terasa dinamis berkat tekstur cat yang kental dan penggunaan sapuan kuas yang ekspresif. Bentuk-bentuk abstrak yang seolah bergerak mengarahkan pengamat untuk merasakan keberadaan sebuah transisi—seperti pergerakan alam dari malam ke fajar, di mana setiap lapisan warna mengisahkan perjalanan menuju pencerahan. Ukuran kanvas yang besar 180 x 140 cm juga menambah intensitas pengalaman visual, seakan mengajak penikmatnya terlarut dalam narasi emosi dan waktu.

Pilihan warna dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, melainkan juga sebagai metafora yang mendalam. Warna hitam dan abu-abu menggambarkan rasa berat, kerap kali identik dengan kesendirian atau beban batin, sementara semburat merah dan oranye menyiratkan energi, keberanian, dan semangat yang perlahan merebut kembali ruang dari keputusasaan. Aksen biru, di sisi lain, memberikan sentuhan ketenangan dan stabilitas yang mengimbangi kekuatan emosional warna-warna lain, sehingga tercipta harmoni meskipun pada awalnya tampak penuh konflik.

Menurut saya, dalam seni rupa, analisis warna merupakan salah satu aspek penting untuk memahami makna, komposisi, dan dampak visual sebuah karya. Pendekatan ini berdasarkan hubungan warna dalam lingkaran warna (color wheel) dan prinsip dasar seperti warna primer, sekunder, dan tersier. Analisis ini juga mencakup konsep harmoni warna seperti komplementer, analog, triadik, dan tetradik untuk memahami efek visualnya. Pendekatan psikologi warna ini berfokus pada efek emosional dan psikologis yang ditimbulkan oleh warna. Misalnya, merah sering dikaitkan dengan gairah atau kemarahan, biru dengan ketenangan, dan kuning dengan kebahagiaan. Psikologi warna membantu dalam memahami bagaimana warna dapat membentuk persepsi dan perasaan dalam karya seni.

Lebih lanjut, mari kita simak karya Made yang bertajuk : “Tanah Merah”. Menurut saya, pada karya ini tempak jelas kemampuan Made dalam mengolah saturasi (intensitas warna). Selain itu, juga menunjukkan kemampuan Made dalam ‘memainkan’ gradasi. Karya ini menampilkan dominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Warna merah tidak terlalu mencolok secara visual, tetapi memiliki muatan simbolis yang kuat. Dalam konteks “Tanah Merah,” warna ini dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari energy kehidupan. Namun bisa juga diasosiasikan dengan tanah yang gersang, kaya mineral, namun juga keras dan tidak mudah ditaklukkan.

Meskipun karya ini tampak abstrak, namun penempatan elemen-elemen visual memberikan nuansa tertata yang menggambarkan bahwa meskipun alam tampak liar, sebenarnya terdapat struktur dan harmoni di balik setiap retakan dan lapisan. Garis dan bentuk yang saling berinteraksi dengan sapuan warna merah, hitam, dan abu-abu mengundang penikmat untuk ‘membaca’ narasi visual tentang pertemuan antara kehidupan yang keras dan kebijaksanaan yang menghidupkan alam.

Made Sudana, “Kegelapan Pasti Berakhir”, aclyric on canvas

Karya Made Sudana kerap menonjolkan tekstur yang terasa  berlapis, yang mengingatkan pada lapisan waktu, sejarah, dan kealamian. Ini mengingatkan saya pada karya-karya Gerhard Richter. Pelukis Jerman ini juga dikenal dengan teknik penggunaan lapisan cat yang tebal dan paduan material yang bertekstur, sehingga menciptakan kesan mendalam sekaligus kontemplatif. Kedua seniman dengan cara ini, merefleksikan pengaruh fisik alam terhadap karya mereka. Ini menandakan mereka punya hubungan emosional yang kuat dengan “tanah” atau bumi.

Sementara itu, Gerhard Richter terkenal dengan teknik alat bilah (squeegee) yang menghasilkan lapisan-lapisan cat dengan efek kabur dan ambigu. Pendekatan Richter terhadap warna—di mana ia mengeksplorasi ketidaktegasan dan proses penyembuhan melalui waktu—dapat dihubungkan dengan cara Sudana menampilkan narasi transformasi dalam karya-karyanya. Walaupun tekniknya berbeda, keduanya sama-sama mengajak audiens untuk menyelami perbedaan antara realitas yang tampak dan emosi yang tersembunyi di balik lapisan cat.

Made Sudana, “Segaragunung”, mix media on canvas

Perbandingan karya Made Sudana dan Gerhard Richter, memang tak bisa sama persis. Baik secara teknis, konten, maupun visual akhir. Sebab, bisa kita lihat bahwa seniman internasional seperti Richter seringkali menggunakan tekstur, lapisan, dan simbolisme warna untuk mengungkapkan perjalanan emosional serta kontemplasi atas masa lalu dan alam.

Sementara itu, karya Made Sudana — dengan kekayaan warna dan tekniknya — menyatu dalam tradisi global yang menekankan ekspresi batin dan hubungan manusia dengan kekuatan alam. Setiap perbandingan membuka ruang bagi interpretasi yang lebih luas – apakah kita merasakan refleksi visual karya “tanah merah” Sudana ini sebagai lambang kehidupan yang keras, atau sebagai medium untuk merenungkan keberadaan yang lebih mendalam?

Apakah elemen gestural dan lapisan pada karya-karya tersebut mengundang kita untuk kembali ke kenangan atau refleksi pribadi tentang perjalanan hidup? Nah, ini menarik untuk didiskusikan dengan perupanya, tentunya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: Komunitas Galang KanginPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Next Post

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co