5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Visual Made Sudana

Hartanto by Hartanto
May 12, 2025
in Ulas Rupa
Refleksi Visual Made Sudana

Made Sudana, "Segaragunung", mix media on canvas (croping oleh tatkala)

JUDUL Segara Gunung karya Made Sudana ini memadukan dua elemen alam yang sangat ikonikal: lautan dan gunung. Dalam tradisi Bali, gunung sering kali dianggap sebagai tempat suci, lambang stabilitas, dan sumber kehidupan yang suci. Sedangkan lautan menunjukkan kebesaran, kedalaman, dan aliran energi kehidupan. Penggabungan kedua unsur ini bukan hanya mengundang perenungan tentang kekuatan alam, tetapi juga mengingatkan kita pada ritual dan filosofi leluhur yang kerap kali menyatu dengan elemen alam dalam upacara keagamaan di Bali. Di Bali, kedua tempat ini sangat di sucikan. Dimana “Segaregunung” merupakan simbol dari lingga dan Yoni,  dalam pertemuan ini dipercaya akan memunculkan suatu energi.

Karya ini memadukan simbolisme tradisional dan estetika modern  yang dalam dan dimensi spiritual – merupakan hubungan antara gunung dan laut. Ini, secara kosmologis di Bali dihormati sebagai tempat sakral. Karya Made Sudana ini menangkap makna transendental, mengacu pada simbol lingga dan yoni—representasi kesatuan antara maskulin dan feminim.

Dari segi simbolis, karya ini tampak sebagai jalinan narasi antara kekuatan alam dan spiritualitas masyarakat Bali. Lapisan-lapisan tekstur dan penggunaan media campuran mengisyaratkan proses pelapisan makna—sebagian pengamat dapat membaca ini sebagai representasi dari perjalanan spiritual, di mana unsur keras (gunung) bertemu dengan unsur cair (laut). Keterlibatan objek pelepah sebagai elemen tiga dimensi seolah menjadi jembatan yang menghubungkan konsep abstrak tersebut dengan realitas fisik, mengajak pengamat untuk merenungkan hubungan antara materialitas dan transendensi. Penataan yang tersusun seakan mengundang kita menyelami proses kontemplatif yang mirip dengan ritual penyucian dalam tradisi Bali, di mana unsur-unsur alam dimanifestasikan sebagai simbol dari perjalanan batin manusia.

Dengan ukuran 246 x 216 cm dan bahan acrylic di atas kanvas, karya ini memberi ruang ekspresi yang luas, menciptakan suasana yang imersif (pengalaman yang mendalam dan menyeluruh) untuk penikmat seni. “Segaregunung” sebagai tema menghubungkan dua elemen alam yang kontradiktif tapi saling melengkapi. Dalam konteks Bali, harmoni ini mencerminkan keseimbangan dalam kehidupan spiritual dan material. Penekanan pada pertemuan antara gunung dan laut menunjukkan perpaduan dua kekuatan besar yang melambangkan dinamika dan keseimbangan alam semesta.

Karya ini digelar pada perhelatan 29 tahun Kelompok Seni Galang Kangin (KSKG) di Neka Art Museum Ubud, dari tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025. Pameran senirupa ini bertema “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”, diikuti oleh 12 perupa anggota KSKG, dan 3 orang perupa undangan. Tema tersebut, sebagai langkah merefleksikan manifesto Galang Kangin yang digagas antara KSKG dan Thomas Freitag pada 21 Juni 2002.

Made Sudana, “Ayam”, mix media, acrylic, & klase, 2025

Seni rupa kontemporer sering kali mencerminkan konteks ruang dan waktu, serta mengintegrasikan elemen budaya lokal dengan eksplorasi konsep global. Dalam hal ini, karya Made Sudana yang mengangkat simbol lingga dan yoni sebagai representasi kesatuan energi penciptaan dapat dilihat sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi Bali dengan wacana seni rupa kontemporer yang lebih luas.

Pendekatan seni rupa kontemporer juga memungkinkan interpretasi yang lebih fleksibel, di mana karya seni tidak hanya dilihat dari aspek visual, tetapi juga dari makna filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Elemen-elemen seperti pelepah pisang yang digunakan dalam karya ini menunjukkan eksplorasi media campuran, yang merupakan ciri khas seni rupa kontemporer.

Kanvas yang tidak konvensional dengan sudut-sudut yang unik menunjukkan eksplorasi bentuk yang melampaui batas tradisional. Seni rupa kontemporer sering kali melawan norma estetika dengan menghadirkan inovasi dalam bentuk dan media – seperti pada pilihan kanvas dengan beberapa sudut, kreasi Made Sudana ini. Karya ini tidak hanya menarik secara visual tetapi juga mengandung makna filosofis personal Sudana, yang mendalam.

Karya  lukisan abstrak  Made Sudana ini,  memiliki tekstur kaya dan penggunaan warna yang dinamis. Latar belakangnya didominasi oleh warna abu-abu dengan percikan merah, biru, kuning, dan hijau, menciptakan kesan gerakan dan kedalaman. Teknik sapuan kuas dan percikan cat yang digunakan memberikan nuansa ekspresif dan spontan. Selain itu, terdapat elemen tiga dimensi seperti sudah saya sebutkan di atas, yakni berupa potongan pelepah pisang yang ditempelkan pada kanvas. Ini menambah aksentuasi, dimensi dan karakter unik pada karya ini. Karya-karya Made Sudana memang sering kali mencerminkan eksplorasi tekstur dan bentuk,

Karya Segara Gunung ini mengundang penikmat seni untuk mempertanyakan keberadaan dan peran elemen alam dalam perjalanan spiritual serta kehidupan sehari-hari. Melalui penggunaan warna yang kontras, tekstur yang kaya, dan integrasi media yang inovatif, Made Sudana menawarkan refleksi visual yang menantang—sebuah undangan untuk merenung tentang hubungan mendalam antara manusia, alam, dan tradisi yang hidup di dalamnya. Karya ini tidak hanya bercerita tentang keindahan alam, tetapi juga tentang perjalanan batin dan pemaknaan ulang terhadap simbol-simbol mistis yang melekat pada budaya Bali.

Sebagai perbandingan proses kreatif Made Sudana, mari kita simak karyanya yang lain, yang bertajuk ;  “Kegelapan Pasti Berakhir”. Ini merupakan sebuah manifestasi visual yang mendalami perjalanan emosional—dari keputusasaan menuju harapan. Dalam karya abstrak ini, penggunaan palet warna gelap seperti hitam dan abu-abu mendominasi, kemudian diselingi dengan semburat warna hangat seperti merah dan oranye serta aksen biru. Kombinasi tersebut menciptakan dialog visual antara kegelapan yang tampak menyesakkan dengan percikan cahaya yang muncul sebagai simbol pembaruan dan semangat.

Made Sudana, “Tanah Merah”, 2022

Komposisi lukisan yang diterapkan terasa dinamis berkat tekstur cat yang kental dan penggunaan sapuan kuas yang ekspresif. Bentuk-bentuk abstrak yang seolah bergerak mengarahkan pengamat untuk merasakan keberadaan sebuah transisi—seperti pergerakan alam dari malam ke fajar, di mana setiap lapisan warna mengisahkan perjalanan menuju pencerahan. Ukuran kanvas yang besar 180 x 140 cm juga menambah intensitas pengalaman visual, seakan mengajak penikmatnya terlarut dalam narasi emosi dan waktu.

Pilihan warna dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, melainkan juga sebagai metafora yang mendalam. Warna hitam dan abu-abu menggambarkan rasa berat, kerap kali identik dengan kesendirian atau beban batin, sementara semburat merah dan oranye menyiratkan energi, keberanian, dan semangat yang perlahan merebut kembali ruang dari keputusasaan. Aksen biru, di sisi lain, memberikan sentuhan ketenangan dan stabilitas yang mengimbangi kekuatan emosional warna-warna lain, sehingga tercipta harmoni meskipun pada awalnya tampak penuh konflik.

Menurut saya, dalam seni rupa, analisis warna merupakan salah satu aspek penting untuk memahami makna, komposisi, dan dampak visual sebuah karya. Pendekatan ini berdasarkan hubungan warna dalam lingkaran warna (color wheel) dan prinsip dasar seperti warna primer, sekunder, dan tersier. Analisis ini juga mencakup konsep harmoni warna seperti komplementer, analog, triadik, dan tetradik untuk memahami efek visualnya. Pendekatan psikologi warna ini berfokus pada efek emosional dan psikologis yang ditimbulkan oleh warna. Misalnya, merah sering dikaitkan dengan gairah atau kemarahan, biru dengan ketenangan, dan kuning dengan kebahagiaan. Psikologi warna membantu dalam memahami bagaimana warna dapat membentuk persepsi dan perasaan dalam karya seni.

Lebih lanjut, mari kita simak karya Made yang bertajuk : “Tanah Merah”. Menurut saya, pada karya ini tempak jelas kemampuan Made dalam mengolah saturasi (intensitas warna). Selain itu, juga menunjukkan kemampuan Made dalam ‘memainkan’ gradasi. Karya ini menampilkan dominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Warna merah tidak terlalu mencolok secara visual, tetapi memiliki muatan simbolis yang kuat. Dalam konteks “Tanah Merah,” warna ini dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari energy kehidupan. Namun bisa juga diasosiasikan dengan tanah yang gersang, kaya mineral, namun juga keras dan tidak mudah ditaklukkan.

Meskipun karya ini tampak abstrak, namun penempatan elemen-elemen visual memberikan nuansa tertata yang menggambarkan bahwa meskipun alam tampak liar, sebenarnya terdapat struktur dan harmoni di balik setiap retakan dan lapisan. Garis dan bentuk yang saling berinteraksi dengan sapuan warna merah, hitam, dan abu-abu mengundang penikmat untuk ‘membaca’ narasi visual tentang pertemuan antara kehidupan yang keras dan kebijaksanaan yang menghidupkan alam.

Made Sudana, “Kegelapan Pasti Berakhir”, aclyric on canvas

Karya Made Sudana kerap menonjolkan tekstur yang terasa  berlapis, yang mengingatkan pada lapisan waktu, sejarah, dan kealamian. Ini mengingatkan saya pada karya-karya Gerhard Richter. Pelukis Jerman ini juga dikenal dengan teknik penggunaan lapisan cat yang tebal dan paduan material yang bertekstur, sehingga menciptakan kesan mendalam sekaligus kontemplatif. Kedua seniman dengan cara ini, merefleksikan pengaruh fisik alam terhadap karya mereka. Ini menandakan mereka punya hubungan emosional yang kuat dengan “tanah” atau bumi.

Sementara itu, Gerhard Richter terkenal dengan teknik alat bilah (squeegee) yang menghasilkan lapisan-lapisan cat dengan efek kabur dan ambigu. Pendekatan Richter terhadap warna—di mana ia mengeksplorasi ketidaktegasan dan proses penyembuhan melalui waktu—dapat dihubungkan dengan cara Sudana menampilkan narasi transformasi dalam karya-karyanya. Walaupun tekniknya berbeda, keduanya sama-sama mengajak audiens untuk menyelami perbedaan antara realitas yang tampak dan emosi yang tersembunyi di balik lapisan cat.

Made Sudana, “Segaragunung”, mix media on canvas

Perbandingan karya Made Sudana dan Gerhard Richter, memang tak bisa sama persis. Baik secara teknis, konten, maupun visual akhir. Sebab, bisa kita lihat bahwa seniman internasional seperti Richter seringkali menggunakan tekstur, lapisan, dan simbolisme warna untuk mengungkapkan perjalanan emosional serta kontemplasi atas masa lalu dan alam.

Sementara itu, karya Made Sudana — dengan kekayaan warna dan tekniknya — menyatu dalam tradisi global yang menekankan ekspresi batin dan hubungan manusia dengan kekuatan alam. Setiap perbandingan membuka ruang bagi interpretasi yang lebih luas – apakah kita merasakan refleksi visual karya “tanah merah” Sudana ini sebagai lambang kehidupan yang keras, atau sebagai medium untuk merenungkan keberadaan yang lebih mendalam?

Apakah elemen gestural dan lapisan pada karya-karya tersebut mengundang kita untuk kembali ke kenangan atau refleksi pribadi tentang perjalanan hidup? Nah, ini menarik untuk didiskusikan dengan perupanya, tentunya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: Komunitas Galang KanginPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Next Post

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Pendekatan “Deep Learning” dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co