5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Son Lomri by Son Lomri
May 12, 2025
in Esai
Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

DI Sekolah, fenomena bullying (dalam bahasa Indoneisa biasa ditulis membuli) sudah menjadi ancaman besar bagi dunia kanak-kanak, atau remaja yang baru bisa mimpi basah. Dan kekerasan semacam bullying bukan lagi menyoal apa yang robek dari kulit si korban atau baju seragamnya. Tapi juga bagaimana psikologisnya pasti terguncang hebat.

Ini mesti disadari mengapa kasus buli atau perundungan itu menjadi ancaman mengkhawatirkan.

Karena gemetar jiwanya si korban bukan lagi dirasakan ketika darah mengalir dari kulit atau hidung akibat dipukul itu, tapi bagaimana pukulan itu datang dan terekam jelas di ingatan si korban adalah kengerian.

Mungkin luka fisik bisa sembuh satu minggu atau satu bulan. Tapi sakitnya jiwa tidak. Ia lama.

Bayangan kelam disiksa bisa menimbulkan traumatis yang panjang. Bahkan hingga dewasa, trauma itu bakal ada dengan rasa nyeri masih sama; rasa ketakutan, merasa diri tak berguna, kesepian, dan ketakutan.

Menjadi kutukan yang berkarat setelahnya. Menteror. Menjadi mimpi buruk yang bisa muncul tiba-tiba itu pada si korban. Selain dapat menggangu tidur, juga melemahkan mental si korban dalam bergaul dan mencari masa depan kelak.

Tapi kita juga tidak bisa terus-terusan menghakimi si pelaku sebagai monster tanpa memandang si pelaku juga sebenarnya lebih sakit. Jiwanya lebih terguncang—hingga membuatnya jadi bengis.

Maka tak hanya korban yang mesti dikasihani–diperhatikan. Justru pelaku juga mesti kita beri ruang untuk dimengerti perasaan-perasaannya. Dimengerti cita-citanya.

Bagaimana si pelaku bisa melakukan bullying atau kekerasan pada sesamanya, tengah dalam ganguan psikologis yang aneh.

Merasakan kelezatan hidup jika melihat temannya tak bersalah dan lemah itu ditonjok, dirobek bibir dan baju, diludahi atau ditoyor kepalanya sambil diserapahi “Taek loe!”–hingga menangis. Tidakkah itu sangat aneh?

Maka mestilah membuka lebar hati kita, dalam memahami perasaan si pelaku itu secara saksama. Dengan penuh perasaan karena si pelaku juga manusia bukan monster langsung jadi. Ia layak diperhatikan secara kepuasan batin—kok ada manusia kaya begitu. Heran. Apa yang membuatnya bisa begitu? Yang begitu-begitulah kita cari tahu. Begitu.

Yang tersenyum dan tertawa bahagia sentosa asik jos ketika menonton si korban nelongso setelah disiksa ramean habis-habisan alias sadis itu, apalagi kalau bukan kesakitan luar biasa sebagai manusia—berdarah dingin si pelaku.

Dan jika menoyor kepala teman yang lemah adalah titik kepuasan tertinggi mereka sebagai ajang jago-jagoan, maka, apa yang bisa kita selidiki bersama adalah, dari mana rasa terdorong menyakiti itu berasal.

Para pembuli itu barangkali datang dari lorong gelap jalan menuju sekolah, merasa diri sukses setelah membuat sesamanya menangis dan luka-luka sambil tertawa-membusungkan dada, merasa diri hebat dan jagoan ketika berjalan. Jika itu masalahnya, sakit jiwanya berarti sudah menjadi-jadi. Ini bahaya. Mengerikan sebagai manusia.

Dan semisal dari film adegan kekerasan itu menjadi titik temu si pembuli dengan romantisme bullying adalah yang pertama, maka dari ruang keluarga mestilah harus suka rela dan rendah hati memberi perhatian pada anaknya untuk mempertontonkan film edukatif sambil disayang-sayang.

Misalnya nonton film azab. Yang isinya orang celaka akibat berbuat jahat. Orang tak akan beruntung jika berbuat jahat. Orang jahat akan dijatuhi karma dosa oleh Tuhan.

Maka sambil nontonlah orang tua punya waktu berbisik ke telinga si anak lebih dekat:

“Makanye elu jangan kejem ame orang. Jangan tengil. Meledak kuburan elu nanti kaya ono-noh!” Sambil tunjuk adegan kuburan meledak.

Tak hanya ruang keluarga, sekolah-sekolah juga mestilah memberikan media pembelajaran semacam nobar film edukatif yang tak mesti film azab tentu saja. Boleh yang lain. Yang lebih kreatif dari film azab. Dan itu bisa dilakukan setelah berdoa atau saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Yang penting sesuai tematik pelajarannya apa. Disesuaikan mau film apa sesuai fase umur.

Film adalah miniatur kehidupan. Jadi jangan sungkan ibu guru dan bapak guru untuk menonton film, dan pilihlah film yang bagus (bisa tanya teman saya Azman Bahbereh soal itu).

Film yang bagus sudah pasti memiliki visual dan cerita yang diperhitungkan mati-matian oleh sang sutradara. Sehingga sangat perlu setiap anak dikenalkan itu: selain untuk rekreatif, juga sebagai pembelajaran yang asik.

Syukur-syukur bisa terpatri di dalam lubuk hati para siswa ketika ada semacam pengajaran lebih dulu, dan diskusi bersama sebagai ruang pembelajaran yang memantik berpikir kritis tentang dunia sosial yang kompleks melalui film.

Tidak mudah memukul orang tanpa sebab. Sebab itulah memukul orang lemah adalah kejahatan.

Tapi jika si pelaku berbuat bullying karena ingin menguji seberapa hebat pukulannya, keberanian, dan mentalitas dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, tentu, peran sekolah memiliki tanggung jawab utama di sini. Untuk meyakinkan, jika pada manusia terdapat keterampilan berbeda-beda, minat soft skill yang berbeda-beda. Apa yang beda-beda itulah kemudian oleh sekolah difasilitasi.

Misalnya, disediakan eskul silat, begulet, eskul sumo, atau eskul yang lain yang berhubungan dengan ketangkasan dan kelincahan selayaknya pendekar seperti di film Jaka Sembung Bawa Golok (ini bukan pantun. Tapi yang diperankan aktor lawas Barry Prima, apa kaden judulnya). Sangat cocok untuk mereka yang mau jadi jagoan. Terwadahi jadinya. Jadinya gak pukul orang seperti kencing bisa di mana saja—sembarang.

Mendidik anak-anak yang rengas jika tidak bisa didekati dengan pelajaran agama, ya, tadi, pembelajaran penuh adrenalin semacam eskul itu bisa saja dicoba-coba untuk mereka sebagai win-win solution.

Dan kalau gagal, misalnya, karena mereka males mengembangkan bakat pergi ke eskul, sehingga tak kunjung pula berakhlak, jangan menyerah kita. Hakkul yakkin bapak guru ibu guru sekalian, karena ini bukan cara satu-satunya. Ada banyak cara untuk si pelaku pembuli agar tak mengulangi lagi perbuatannya seumur hidupnya bahkan:

Punishment—yang mengenang dibuang sayang.

Misalnya, tarolah beberapa si pembuli itu di kandang babi secara terpisah setelah minta ijin ke orang tuanya. Jika disetujui, biarkan ia menginap di kandang babi itu masing-masing satu minggu. Biarkan mereka tidur sama babi tanpa bantal dan selimut. Biarkan ia makan sama babi. Kentut sama babi. Jika hari sudah pagi, tontonlah ia berame—satu kelas—sambil ngopi dan berteriak—babi! Babi! Babi! Asu!

—untuk meyakinkan mereka bahwa tindakan binatangisme bernama bullying itu tidak layak dilakukan sama sekali. Tidak layak.

Tapi kalo cara ini gagal dan mereka masih berulah lagi dan lebih ganas ulahnya setelah keluar dari kandang itu, bisa cari cara yang laen, yang agaknya bisa menyentuh—ulu ati—langsung si pelaku.

“Ambil palu. Pukul dadanya. Kesel gue!”

#StopBullying [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja
Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying
“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali
Tags: bullyingPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan

Next Post

Refleksi Visual Made Sudana

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Visual Made Sudana

Refleksi Visual Made Sudana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co