4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Son Lomri by Son Lomri
May 12, 2025
in Esai
Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

DI Sekolah, fenomena bullying (dalam bahasa Indoneisa biasa ditulis membuli) sudah menjadi ancaman besar bagi dunia kanak-kanak, atau remaja yang baru bisa mimpi basah. Dan kekerasan semacam bullying bukan lagi menyoal apa yang robek dari kulit si korban atau baju seragamnya. Tapi juga bagaimana psikologisnya pasti terguncang hebat.

Ini mesti disadari mengapa kasus buli atau perundungan itu menjadi ancaman mengkhawatirkan.

Karena gemetar jiwanya si korban bukan lagi dirasakan ketika darah mengalir dari kulit atau hidung akibat dipukul itu, tapi bagaimana pukulan itu datang dan terekam jelas di ingatan si korban adalah kengerian.

Mungkin luka fisik bisa sembuh satu minggu atau satu bulan. Tapi sakitnya jiwa tidak. Ia lama.

Bayangan kelam disiksa bisa menimbulkan traumatis yang panjang. Bahkan hingga dewasa, trauma itu bakal ada dengan rasa nyeri masih sama; rasa ketakutan, merasa diri tak berguna, kesepian, dan ketakutan.

Menjadi kutukan yang berkarat setelahnya. Menteror. Menjadi mimpi buruk yang bisa muncul tiba-tiba itu pada si korban. Selain dapat menggangu tidur, juga melemahkan mental si korban dalam bergaul dan mencari masa depan kelak.

Tapi kita juga tidak bisa terus-terusan menghakimi si pelaku sebagai monster tanpa memandang si pelaku juga sebenarnya lebih sakit. Jiwanya lebih terguncang—hingga membuatnya jadi bengis.

Maka tak hanya korban yang mesti dikasihani–diperhatikan. Justru pelaku juga mesti kita beri ruang untuk dimengerti perasaan-perasaannya. Dimengerti cita-citanya.

Bagaimana si pelaku bisa melakukan bullying atau kekerasan pada sesamanya, tengah dalam ganguan psikologis yang aneh.

Merasakan kelezatan hidup jika melihat temannya tak bersalah dan lemah itu ditonjok, dirobek bibir dan baju, diludahi atau ditoyor kepalanya sambil diserapahi “Taek loe!”–hingga menangis. Tidakkah itu sangat aneh?

Maka mestilah membuka lebar hati kita, dalam memahami perasaan si pelaku itu secara saksama. Dengan penuh perasaan karena si pelaku juga manusia bukan monster langsung jadi. Ia layak diperhatikan secara kepuasan batin—kok ada manusia kaya begitu. Heran. Apa yang membuatnya bisa begitu? Yang begitu-begitulah kita cari tahu. Begitu.

Yang tersenyum dan tertawa bahagia sentosa asik jos ketika menonton si korban nelongso setelah disiksa ramean habis-habisan alias sadis itu, apalagi kalau bukan kesakitan luar biasa sebagai manusia—berdarah dingin si pelaku.

Dan jika menoyor kepala teman yang lemah adalah titik kepuasan tertinggi mereka sebagai ajang jago-jagoan, maka, apa yang bisa kita selidiki bersama adalah, dari mana rasa terdorong menyakiti itu berasal.

Para pembuli itu barangkali datang dari lorong gelap jalan menuju sekolah, merasa diri sukses setelah membuat sesamanya menangis dan luka-luka sambil tertawa-membusungkan dada, merasa diri hebat dan jagoan ketika berjalan. Jika itu masalahnya, sakit jiwanya berarti sudah menjadi-jadi. Ini bahaya. Mengerikan sebagai manusia.

Dan semisal dari film adegan kekerasan itu menjadi titik temu si pembuli dengan romantisme bullying adalah yang pertama, maka dari ruang keluarga mestilah harus suka rela dan rendah hati memberi perhatian pada anaknya untuk mempertontonkan film edukatif sambil disayang-sayang.

Misalnya nonton film azab. Yang isinya orang celaka akibat berbuat jahat. Orang tak akan beruntung jika berbuat jahat. Orang jahat akan dijatuhi karma dosa oleh Tuhan.

Maka sambil nontonlah orang tua punya waktu berbisik ke telinga si anak lebih dekat:

“Makanye elu jangan kejem ame orang. Jangan tengil. Meledak kuburan elu nanti kaya ono-noh!” Sambil tunjuk adegan kuburan meledak.

Tak hanya ruang keluarga, sekolah-sekolah juga mestilah memberikan media pembelajaran semacam nobar film edukatif yang tak mesti film azab tentu saja. Boleh yang lain. Yang lebih kreatif dari film azab. Dan itu bisa dilakukan setelah berdoa atau saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Yang penting sesuai tematik pelajarannya apa. Disesuaikan mau film apa sesuai fase umur.

Film adalah miniatur kehidupan. Jadi jangan sungkan ibu guru dan bapak guru untuk menonton film, dan pilihlah film yang bagus (bisa tanya teman saya Azman Bahbereh soal itu).

Film yang bagus sudah pasti memiliki visual dan cerita yang diperhitungkan mati-matian oleh sang sutradara. Sehingga sangat perlu setiap anak dikenalkan itu: selain untuk rekreatif, juga sebagai pembelajaran yang asik.

Syukur-syukur bisa terpatri di dalam lubuk hati para siswa ketika ada semacam pengajaran lebih dulu, dan diskusi bersama sebagai ruang pembelajaran yang memantik berpikir kritis tentang dunia sosial yang kompleks melalui film.

Tidak mudah memukul orang tanpa sebab. Sebab itulah memukul orang lemah adalah kejahatan.

Tapi jika si pelaku berbuat bullying karena ingin menguji seberapa hebat pukulannya, keberanian, dan mentalitas dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, tentu, peran sekolah memiliki tanggung jawab utama di sini. Untuk meyakinkan, jika pada manusia terdapat keterampilan berbeda-beda, minat soft skill yang berbeda-beda. Apa yang beda-beda itulah kemudian oleh sekolah difasilitasi.

Misalnya, disediakan eskul silat, begulet, eskul sumo, atau eskul yang lain yang berhubungan dengan ketangkasan dan kelincahan selayaknya pendekar seperti di film Jaka Sembung Bawa Golok (ini bukan pantun. Tapi yang diperankan aktor lawas Barry Prima, apa kaden judulnya). Sangat cocok untuk mereka yang mau jadi jagoan. Terwadahi jadinya. Jadinya gak pukul orang seperti kencing bisa di mana saja—sembarang.

Mendidik anak-anak yang rengas jika tidak bisa didekati dengan pelajaran agama, ya, tadi, pembelajaran penuh adrenalin semacam eskul itu bisa saja dicoba-coba untuk mereka sebagai win-win solution.

Dan kalau gagal, misalnya, karena mereka males mengembangkan bakat pergi ke eskul, sehingga tak kunjung pula berakhlak, jangan menyerah kita. Hakkul yakkin bapak guru ibu guru sekalian, karena ini bukan cara satu-satunya. Ada banyak cara untuk si pelaku pembuli agar tak mengulangi lagi perbuatannya seumur hidupnya bahkan:

Punishment—yang mengenang dibuang sayang.

Misalnya, tarolah beberapa si pembuli itu di kandang babi secara terpisah setelah minta ijin ke orang tuanya. Jika disetujui, biarkan ia menginap di kandang babi itu masing-masing satu minggu. Biarkan mereka tidur sama babi tanpa bantal dan selimut. Biarkan ia makan sama babi. Kentut sama babi. Jika hari sudah pagi, tontonlah ia berame—satu kelas—sambil ngopi dan berteriak—babi! Babi! Babi! Asu!

—untuk meyakinkan mereka bahwa tindakan binatangisme bernama bullying itu tidak layak dilakukan sama sekali. Tidak layak.

Tapi kalo cara ini gagal dan mereka masih berulah lagi dan lebih ganas ulahnya setelah keluar dari kandang itu, bisa cari cara yang laen, yang agaknya bisa menyentuh—ulu ati—langsung si pelaku.

“Ambil palu. Pukul dadanya. Kesel gue!”

#StopBullying [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja
Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying
“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali
Tags: bullyingPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan

Next Post

Refleksi Visual Made Sudana

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Visual Made Sudana

Refleksi Visual Made Sudana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co