16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Son Lomri by Son Lomri
May 12, 2025
in Esai
Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

DI Sekolah, fenomena bullying (dalam bahasa Indoneisa biasa ditulis membuli) sudah menjadi ancaman besar bagi dunia kanak-kanak, atau remaja yang baru bisa mimpi basah. Dan kekerasan semacam bullying bukan lagi menyoal apa yang robek dari kulit si korban atau baju seragamnya. Tapi juga bagaimana psikologisnya pasti terguncang hebat.

Ini mesti disadari mengapa kasus buli atau perundungan itu menjadi ancaman mengkhawatirkan.

Karena gemetar jiwanya si korban bukan lagi dirasakan ketika darah mengalir dari kulit atau hidung akibat dipukul itu, tapi bagaimana pukulan itu datang dan terekam jelas di ingatan si korban adalah kengerian.

Mungkin luka fisik bisa sembuh satu minggu atau satu bulan. Tapi sakitnya jiwa tidak. Ia lama.

Bayangan kelam disiksa bisa menimbulkan traumatis yang panjang. Bahkan hingga dewasa, trauma itu bakal ada dengan rasa nyeri masih sama; rasa ketakutan, merasa diri tak berguna, kesepian, dan ketakutan.

Menjadi kutukan yang berkarat setelahnya. Menteror. Menjadi mimpi buruk yang bisa muncul tiba-tiba itu pada si korban. Selain dapat menggangu tidur, juga melemahkan mental si korban dalam bergaul dan mencari masa depan kelak.

Tapi kita juga tidak bisa terus-terusan menghakimi si pelaku sebagai monster tanpa memandang si pelaku juga sebenarnya lebih sakit. Jiwanya lebih terguncang—hingga membuatnya jadi bengis.

Maka tak hanya korban yang mesti dikasihani–diperhatikan. Justru pelaku juga mesti kita beri ruang untuk dimengerti perasaan-perasaannya. Dimengerti cita-citanya.

Bagaimana si pelaku bisa melakukan bullying atau kekerasan pada sesamanya, tengah dalam ganguan psikologis yang aneh.

Merasakan kelezatan hidup jika melihat temannya tak bersalah dan lemah itu ditonjok, dirobek bibir dan baju, diludahi atau ditoyor kepalanya sambil diserapahi “Taek loe!”–hingga menangis. Tidakkah itu sangat aneh?

Maka mestilah membuka lebar hati kita, dalam memahami perasaan si pelaku itu secara saksama. Dengan penuh perasaan karena si pelaku juga manusia bukan monster langsung jadi. Ia layak diperhatikan secara kepuasan batin—kok ada manusia kaya begitu. Heran. Apa yang membuatnya bisa begitu? Yang begitu-begitulah kita cari tahu. Begitu.

Yang tersenyum dan tertawa bahagia sentosa asik jos ketika menonton si korban nelongso setelah disiksa ramean habis-habisan alias sadis itu, apalagi kalau bukan kesakitan luar biasa sebagai manusia—berdarah dingin si pelaku.

Dan jika menoyor kepala teman yang lemah adalah titik kepuasan tertinggi mereka sebagai ajang jago-jagoan, maka, apa yang bisa kita selidiki bersama adalah, dari mana rasa terdorong menyakiti itu berasal.

Para pembuli itu barangkali datang dari lorong gelap jalan menuju sekolah, merasa diri sukses setelah membuat sesamanya menangis dan luka-luka sambil tertawa-membusungkan dada, merasa diri hebat dan jagoan ketika berjalan. Jika itu masalahnya, sakit jiwanya berarti sudah menjadi-jadi. Ini bahaya. Mengerikan sebagai manusia.

Dan semisal dari film adegan kekerasan itu menjadi titik temu si pembuli dengan romantisme bullying adalah yang pertama, maka dari ruang keluarga mestilah harus suka rela dan rendah hati memberi perhatian pada anaknya untuk mempertontonkan film edukatif sambil disayang-sayang.

Misalnya nonton film azab. Yang isinya orang celaka akibat berbuat jahat. Orang tak akan beruntung jika berbuat jahat. Orang jahat akan dijatuhi karma dosa oleh Tuhan.

Maka sambil nontonlah orang tua punya waktu berbisik ke telinga si anak lebih dekat:

“Makanye elu jangan kejem ame orang. Jangan tengil. Meledak kuburan elu nanti kaya ono-noh!” Sambil tunjuk adegan kuburan meledak.

Tak hanya ruang keluarga, sekolah-sekolah juga mestilah memberikan media pembelajaran semacam nobar film edukatif yang tak mesti film azab tentu saja. Boleh yang lain. Yang lebih kreatif dari film azab. Dan itu bisa dilakukan setelah berdoa atau saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Yang penting sesuai tematik pelajarannya apa. Disesuaikan mau film apa sesuai fase umur.

Film adalah miniatur kehidupan. Jadi jangan sungkan ibu guru dan bapak guru untuk menonton film, dan pilihlah film yang bagus (bisa tanya teman saya Azman Bahbereh soal itu).

Film yang bagus sudah pasti memiliki visual dan cerita yang diperhitungkan mati-matian oleh sang sutradara. Sehingga sangat perlu setiap anak dikenalkan itu: selain untuk rekreatif, juga sebagai pembelajaran yang asik.

Syukur-syukur bisa terpatri di dalam lubuk hati para siswa ketika ada semacam pengajaran lebih dulu, dan diskusi bersama sebagai ruang pembelajaran yang memantik berpikir kritis tentang dunia sosial yang kompleks melalui film.

Tidak mudah memukul orang tanpa sebab. Sebab itulah memukul orang lemah adalah kejahatan.

Tapi jika si pelaku berbuat bullying karena ingin menguji seberapa hebat pukulannya, keberanian, dan mentalitas dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, tentu, peran sekolah memiliki tanggung jawab utama di sini. Untuk meyakinkan, jika pada manusia terdapat keterampilan berbeda-beda, minat soft skill yang berbeda-beda. Apa yang beda-beda itulah kemudian oleh sekolah difasilitasi.

Misalnya, disediakan eskul silat, begulet, eskul sumo, atau eskul yang lain yang berhubungan dengan ketangkasan dan kelincahan selayaknya pendekar seperti di film Jaka Sembung Bawa Golok (ini bukan pantun. Tapi yang diperankan aktor lawas Barry Prima, apa kaden judulnya). Sangat cocok untuk mereka yang mau jadi jagoan. Terwadahi jadinya. Jadinya gak pukul orang seperti kencing bisa di mana saja—sembarang.

Mendidik anak-anak yang rengas jika tidak bisa didekati dengan pelajaran agama, ya, tadi, pembelajaran penuh adrenalin semacam eskul itu bisa saja dicoba-coba untuk mereka sebagai win-win solution.

Dan kalau gagal, misalnya, karena mereka males mengembangkan bakat pergi ke eskul, sehingga tak kunjung pula berakhlak, jangan menyerah kita. Hakkul yakkin bapak guru ibu guru sekalian, karena ini bukan cara satu-satunya. Ada banyak cara untuk si pelaku pembuli agar tak mengulangi lagi perbuatannya seumur hidupnya bahkan:

Punishment—yang mengenang dibuang sayang.

Misalnya, tarolah beberapa si pembuli itu di kandang babi secara terpisah setelah minta ijin ke orang tuanya. Jika disetujui, biarkan ia menginap di kandang babi itu masing-masing satu minggu. Biarkan mereka tidur sama babi tanpa bantal dan selimut. Biarkan ia makan sama babi. Kentut sama babi. Jika hari sudah pagi, tontonlah ia berame—satu kelas—sambil ngopi dan berteriak—babi! Babi! Babi! Asu!

—untuk meyakinkan mereka bahwa tindakan binatangisme bernama bullying itu tidak layak dilakukan sama sekali. Tidak layak.

Tapi kalo cara ini gagal dan mereka masih berulah lagi dan lebih ganas ulahnya setelah keluar dari kandang itu, bisa cari cara yang laen, yang agaknya bisa menyentuh—ulu ati—langsung si pelaku.

“Ambil palu. Pukul dadanya. Kesel gue!”

#StopBullying [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja
Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying
“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali
Tags: bullyingPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan

Next Post

Refleksi Visual Made Sudana

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Visual Made Sudana

Refleksi Visual Made Sudana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co