25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Son Lomri by Son Lomri
May 12, 2025
in Esai
Melihat Pelaku Pembulian sebagai Manusia, Bukan Monster

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

DI Sekolah, fenomena bullying (dalam bahasa Indoneisa biasa ditulis membuli) sudah menjadi ancaman besar bagi dunia kanak-kanak, atau remaja yang baru bisa mimpi basah. Dan kekerasan semacam bullying bukan lagi menyoal apa yang robek dari kulit si korban atau baju seragamnya. Tapi juga bagaimana psikologisnya pasti terguncang hebat.

Ini mesti disadari mengapa kasus buli atau perundungan itu menjadi ancaman mengkhawatirkan.

Karena gemetar jiwanya si korban bukan lagi dirasakan ketika darah mengalir dari kulit atau hidung akibat dipukul itu, tapi bagaimana pukulan itu datang dan terekam jelas di ingatan si korban adalah kengerian.

Mungkin luka fisik bisa sembuh satu minggu atau satu bulan. Tapi sakitnya jiwa tidak. Ia lama.

Bayangan kelam disiksa bisa menimbulkan traumatis yang panjang. Bahkan hingga dewasa, trauma itu bakal ada dengan rasa nyeri masih sama; rasa ketakutan, merasa diri tak berguna, kesepian, dan ketakutan.

Menjadi kutukan yang berkarat setelahnya. Menteror. Menjadi mimpi buruk yang bisa muncul tiba-tiba itu pada si korban. Selain dapat menggangu tidur, juga melemahkan mental si korban dalam bergaul dan mencari masa depan kelak.

Tapi kita juga tidak bisa terus-terusan menghakimi si pelaku sebagai monster tanpa memandang si pelaku juga sebenarnya lebih sakit. Jiwanya lebih terguncang—hingga membuatnya jadi bengis.

Maka tak hanya korban yang mesti dikasihani–diperhatikan. Justru pelaku juga mesti kita beri ruang untuk dimengerti perasaan-perasaannya. Dimengerti cita-citanya.

Bagaimana si pelaku bisa melakukan bullying atau kekerasan pada sesamanya, tengah dalam ganguan psikologis yang aneh.

Merasakan kelezatan hidup jika melihat temannya tak bersalah dan lemah itu ditonjok, dirobek bibir dan baju, diludahi atau ditoyor kepalanya sambil diserapahi “Taek loe!”–hingga menangis. Tidakkah itu sangat aneh?

Maka mestilah membuka lebar hati kita, dalam memahami perasaan si pelaku itu secara saksama. Dengan penuh perasaan karena si pelaku juga manusia bukan monster langsung jadi. Ia layak diperhatikan secara kepuasan batin—kok ada manusia kaya begitu. Heran. Apa yang membuatnya bisa begitu? Yang begitu-begitulah kita cari tahu. Begitu.

Yang tersenyum dan tertawa bahagia sentosa asik jos ketika menonton si korban nelongso setelah disiksa ramean habis-habisan alias sadis itu, apalagi kalau bukan kesakitan luar biasa sebagai manusia—berdarah dingin si pelaku.

Dan jika menoyor kepala teman yang lemah adalah titik kepuasan tertinggi mereka sebagai ajang jago-jagoan, maka, apa yang bisa kita selidiki bersama adalah, dari mana rasa terdorong menyakiti itu berasal.

Para pembuli itu barangkali datang dari lorong gelap jalan menuju sekolah, merasa diri sukses setelah membuat sesamanya menangis dan luka-luka sambil tertawa-membusungkan dada, merasa diri hebat dan jagoan ketika berjalan. Jika itu masalahnya, sakit jiwanya berarti sudah menjadi-jadi. Ini bahaya. Mengerikan sebagai manusia.

Dan semisal dari film adegan kekerasan itu menjadi titik temu si pembuli dengan romantisme bullying adalah yang pertama, maka dari ruang keluarga mestilah harus suka rela dan rendah hati memberi perhatian pada anaknya untuk mempertontonkan film edukatif sambil disayang-sayang.

Misalnya nonton film azab. Yang isinya orang celaka akibat berbuat jahat. Orang tak akan beruntung jika berbuat jahat. Orang jahat akan dijatuhi karma dosa oleh Tuhan.

Maka sambil nontonlah orang tua punya waktu berbisik ke telinga si anak lebih dekat:

“Makanye elu jangan kejem ame orang. Jangan tengil. Meledak kuburan elu nanti kaya ono-noh!” Sambil tunjuk adegan kuburan meledak.

Tak hanya ruang keluarga, sekolah-sekolah juga mestilah memberikan media pembelajaran semacam nobar film edukatif yang tak mesti film azab tentu saja. Boleh yang lain. Yang lebih kreatif dari film azab. Dan itu bisa dilakukan setelah berdoa atau saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Yang penting sesuai tematik pelajarannya apa. Disesuaikan mau film apa sesuai fase umur.

Film adalah miniatur kehidupan. Jadi jangan sungkan ibu guru dan bapak guru untuk menonton film, dan pilihlah film yang bagus (bisa tanya teman saya Azman Bahbereh soal itu).

Film yang bagus sudah pasti memiliki visual dan cerita yang diperhitungkan mati-matian oleh sang sutradara. Sehingga sangat perlu setiap anak dikenalkan itu: selain untuk rekreatif, juga sebagai pembelajaran yang asik.

Syukur-syukur bisa terpatri di dalam lubuk hati para siswa ketika ada semacam pengajaran lebih dulu, dan diskusi bersama sebagai ruang pembelajaran yang memantik berpikir kritis tentang dunia sosial yang kompleks melalui film.

Tidak mudah memukul orang tanpa sebab. Sebab itulah memukul orang lemah adalah kejahatan.

Tapi jika si pelaku berbuat bullying karena ingin menguji seberapa hebat pukulannya, keberanian, dan mentalitas dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, tentu, peran sekolah memiliki tanggung jawab utama di sini. Untuk meyakinkan, jika pada manusia terdapat keterampilan berbeda-beda, minat soft skill yang berbeda-beda. Apa yang beda-beda itulah kemudian oleh sekolah difasilitasi.

Misalnya, disediakan eskul silat, begulet, eskul sumo, atau eskul yang lain yang berhubungan dengan ketangkasan dan kelincahan selayaknya pendekar seperti di film Jaka Sembung Bawa Golok (ini bukan pantun. Tapi yang diperankan aktor lawas Barry Prima, apa kaden judulnya). Sangat cocok untuk mereka yang mau jadi jagoan. Terwadahi jadinya. Jadinya gak pukul orang seperti kencing bisa di mana saja—sembarang.

Mendidik anak-anak yang rengas jika tidak bisa didekati dengan pelajaran agama, ya, tadi, pembelajaran penuh adrenalin semacam eskul itu bisa saja dicoba-coba untuk mereka sebagai win-win solution.

Dan kalau gagal, misalnya, karena mereka males mengembangkan bakat pergi ke eskul, sehingga tak kunjung pula berakhlak, jangan menyerah kita. Hakkul yakkin bapak guru ibu guru sekalian, karena ini bukan cara satu-satunya. Ada banyak cara untuk si pelaku pembuli agar tak mengulangi lagi perbuatannya seumur hidupnya bahkan:

Punishment—yang mengenang dibuang sayang.

Misalnya, tarolah beberapa si pembuli itu di kandang babi secara terpisah setelah minta ijin ke orang tuanya. Jika disetujui, biarkan ia menginap di kandang babi itu masing-masing satu minggu. Biarkan mereka tidur sama babi tanpa bantal dan selimut. Biarkan ia makan sama babi. Kentut sama babi. Jika hari sudah pagi, tontonlah ia berame—satu kelas—sambil ngopi dan berteriak—babi! Babi! Babi! Asu!

—untuk meyakinkan mereka bahwa tindakan binatangisme bernama bullying itu tidak layak dilakukan sama sekali. Tidak layak.

Tapi kalo cara ini gagal dan mereka masih berulah lagi dan lebih ganas ulahnya setelah keluar dari kandang itu, bisa cari cara yang laen, yang agaknya bisa menyentuh—ulu ati—langsung si pelaku.

“Ambil palu. Pukul dadanya. Kesel gue!”

#StopBullying [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja
Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying
“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali
Tags: bullyingPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan

Next Post

Refleksi Visual Made Sudana

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Visual Made Sudana

Refleksi Visual Made Sudana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co