6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
October 30, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Beberapa hari terakhir di Bali masyarakat ditunjukkan fenomena-fenomena kekerasan dan agresivitas yang terjadi, dengan aksi dan reaksi yang beragam. Dari sejak demonstrasi yang mengarah pada kekerasan beberapa pekan lalu dan belum pernah terjadi di Bali sebelumnya.

Aksi demonstrasi tersebut disertai aksi pelemparan yang dibalas tindakan tegas aparat pengamanan sebagai respon atas apa yang dilakukan pendemo. Hal itu ditunjukkan secara langsung di video-video atau gambar-gambar di media sosial.

Sebelumnya, banyak juga kita baca tentang kriminalitas yang terjadi beberapa bulan terakhir di masa pandemi yang lebih sering terjadi bila dibandingkan masa sebelum pandemi. Keadaan terkini, beberapa hari yang lalu ada tindakan pemukulan terhadap anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali yang dipicu oleh kontroversi ujaran-ujaran yang menurut sejumlah masyarakat Bali adalah  penghinaan dan kebencian.

Dan terjadilah respon seperti kita saksikan dalam video yang banyak tersebar di media massa, dengan tanggapan beragam. Ada yang mengecam secara halus, ada juga yang mengecam dengan cara yang cukup keras, dengan kata-kata berupa kebencian. Ada juga yang cukup unik, justru merayakan kekerasan itu sebagai hal yang lucu.

Saya tentu tidak akan mengupas bagaimana latar belakang hal tersebut secara sosial karena tidak mempunyai kompetensi di bidang ilmu sosial. Tetapi, saya ingin mengupasnya dari sudut kesehatan mental karena latar belakang saya adalah profesional di bidang kesehatan mental.

Sebenarnya apa yang terjadi dalam otak kita ketika ada perilaku agresif atau violence (kekerasan)? Sebenarnya ada dua regulasi yang terjadi di dalam otak kita yang mempengaruhi tindakan agresif atau kekerasan. Yang pertama adalah mekanisme top down atau sesuatu yang mengatur otak kita untuk bisa menenteramkan atau mencegah terjadinya kekerasan.

Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap top down dan agresivitas adalah bagian frontal, utamanya korteks orbito frontal. Di sini kita menggunakan kemampuan dalam hal merencanakan, mengatur respon kita terhadap suatu emosi primer,misalnya sedih, lelah, capek, frustrasi, kesal dan sebagainya.

Ada juga zat-zat kimia yang berpengaruh pada regulasi ini, misalnya serotonin dan dopamine. Pada serotonin yang rendah pada otak kita, atau peningkatan dopamine pada bagian otak ini akan membuat seseorang mudah marah, melakukan kekerasan, dan tidak ada kendali pada emosinya.

Mekanisme kedua dalam otak kita yang bertangggung jawab terhadap terjadinya agresivitas adalah mekanisme drive up atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan terjadinya kekerasan yaitu bagian otak di limbik sistem, utamanya adalah amigdala dan insula.

Bagian otak ini berpengaruh dalam hal ambang frustrasi, kecemasan dan sebagainya. Ketika bagian ini terlalu sensitif, yang berhubungan dengan kadar zat kimia Gamma Amino Butiric  Acid (GABBA) yang rendah maka maka akan terjadi luapan emosi dan rasa frustasi yang tidak tertahankan.

Jadi sebenarnya rasa marah dan kekerasan bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi, tetapi ada kaitannya dengan keadaan-keadaaan keseimbangan zat kimia di dalam otak. Lalu apa yang menyebabkan terjadinya perubahan di dalam otak kita? Beberapa hal terkait dengan hal itu misalnya paparan berita kekerasan.

Semakin sering seseorang terpapar; membaca, melihat, atau menonton suatu kekerasan di masyarakat, apalagi dibiarkan, artinya yang melakukan hal tersebut tidak mendapat konsekuensi, misalnya para pejabat yang melakukan kekerasan namun perkaranya tidak dimasukkan dalam proses hukum entah karena berbagai sebab.

Hal lainnya, tayangan-tayangan kekerasan di televisi; perusakan, pemukulan apalagi tayangan itu dilakukan secara berulang tanpa penjelasan yang tepat dari berbagai bidang, itu justru akan memberikan perubahan di dalam otak kita menjadi lebih agresif. Selain paparan informasi dan tayangan, ujaran-ujaran kebencian  terutama di media sosial itu juga akan memberikan learning theory kepada otak kita, bahwa hal-hal itu adalah sah untuk dilakukan.

Kemudian ada juga tipikal-tipikal sesuatu hal yang menciptakan kekerasan dalam masyarakat yaitu ucapan-ucapan yang menyinggung suatu kepercayaan atau sesuatu yang sangat diyakini masyarakat. Menyinggung harga diri adalah hal yang sangat mudah memicu terjadinya kekerasan.

Makin sempitnya ruang-ruang dialog yang matang sebagai orang dewasa dimana dialog bukan hanya menjadi tontonan ataupun menambah pencitraan tetapi memang untuk saling bisa memahami. Ketika ruang-ruang seperti ini makin berkurang, tentu saja akan juga memicu terjadinya kekerasan. Penting sekali bagaimana ruang dialog bukan hanya sebuah action, sebuah pencitraan, sebuah pembenaran, ataupun sebuah klarifikasi dari ucapan-ucapan yang bertentangan satu sama lain.

Ketika ruang dialog hanya menjadi panggung sandiwara, itu juga akan menciptakan suasana psikologi masyarakat makin agresif. Juga, riwayat kekerasan yang terjadi di masa lalu pada seseorang atau sebuah komunitas masyarakat juga sangat berpengaruh.

Dalam konteks Bali, tentu kita masih ingat kekerasan terjadi secara masif di tahun 1965-1966 ketika konflik antar warga, pemberantasan orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan Partai Komunitas Indonesia (PKI)  yang berujung pada pembunuhan massal tanpa proses peradilan dan hukum sangat membekas di ingatan masyarakat Bali.

Selain itu, kekerasan juga bisa dipicu oleh kondisi-kondisi gangguan kejiwaan, misalnya pengaruh narkotika dan psikotropika pada otak kita. Penyalahgunaan narkoba juga sangat mempengaruhi ambang frustasi dan kendali terhadap agresivitas kita.

Faktor lain yang mempengaruhi agresivitas adalah stres yang terjadi di masyarakat apakah karena masalah ekonomi, masalah sosial terutama himpitan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kerentanan menjadi agresif dan mudah marah.

Termasuk juga gangguan-gangguan kesehatan mental lainnya, misalnya psikotik dan depresi ataupun kekerasan yang terjadi pada masa remaja. Kondisi-kondisi seperti Conduct Disorder, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif yang tidak tertangani itu juga bisa memicu terjadinya kecenderungan melakukan kekerasan di usia remaja. Misalnya pada korban bullying dulu pernah mengalami kekerasan maka kemungkinan juga melakukan kekerasan di usia dewasa akan makin meningkat.

Marilah kita mulai dari diri sendiri, di masyarakat kita lebih banyak menguatkan diri kita, bukan dengan mengeluarkan istilah-istilah kebencian bagi sekelompok golongan lain yang kita anggap bertentangan dengan kepentingan kita. Istilah-istilah “dauh tukad”, “dangin tukad” untuk menyitir kelompok masyarakat yang kita tidak sukai itupun perlu dipahami secara bawah sadar juga bisa menanamkan kebencian di dalam pikiran kita.

Marilah kita menjadikan momen ini sebagai suatu kesempatan untuk mawas diri, menilai dan memperbaiki diri kita bahkan sebelum kerusakan itu terjadi. Apabila ada anggota keluarga kita yang secara konstan sering agresif, marah bahkan tanpa pemicu yang jelas ada baiknya segera berkonsultasi ke profesional kesehatan mental seperti psikiater.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi cermin bagi kita untuk memperbaiki diri dan senantiasa menjadi mantap jiwa sampai semua keadaan di masa pandemi ini bisa pulih seperti sediakala. Salam mantap jiwa.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Next Post

FSBJ II Tahun 2020 : Seni Virtual, Candika Jiwa, dan Puitika Atma Kerthi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
FSBJ II Tahun 2020 : Seni Virtual, Candika Jiwa, dan Puitika Atma Kerthi

FSBJ II Tahun 2020 : Seni Virtual, Candika Jiwa, dan Puitika Atma Kerthi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co