12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang Yasa, Setia Pada Zaman, Setia Merawat Peradaban Dokar di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
March 2, 2025
in Khas
Komang Yasa, Setia Pada Zaman, Setia Merawat Peradaban Dokar di Singaraja

Komang Yasa dan dokarnya | Foto: tatkala.co/Son

SEORANG ibu paruh baya dengan warna putih di rambutnya, terlihat santai mengendarai motor listrik berwarna merah tanpa helm. Perempuan itu menatap jalan di depannya seperti elang menatap sesuatu. Mendelik tajam, dan penuh hati-hati ketika menyela pengendara lain di sekitarnya.

Perempuan itu melewati banyak hal ketika pagi di Pasar Anyar di Jalan Diponogoro Singaraja. Sebuah mini bus tentara dengan tulisan besar “Raider 900” di kaca mobilnya, lewat di jalan yang sama. Ada beberapa tentara yang menatap perempuan itu, barangkali karena motornya tak menimbulkan suara, dan perempuan itu tak hirau.

Di trotoar jalan, seabrek motor berderet terparkir di sana, dan lalu-lalang kendaraan begitu santer di jalanan, dan perempuan itu tetap tak hirau.

Tidak hanya itu, perempuan itu juga tampaknya tak peduli bahwa ia sebenarnya melewatkan dokar di tepi jalan, dengan kuda yang kesepian.

“Sudah biasa,” kata Komang Yasa, kusir dokar itu.

Yasa kini umurnya lima puluh tahun.  Pada Jum’at, 28 Februari 2025, ia bercerita banyak tentang peradaban dokar di masa lalu, dan kini dokar seperti tak diperlukan lagi. Kini orang bicara soal motor listrik, seperti yang dikendarai seorang ibu, yang lewat di jalanan, di sekitar dokar itu terparkir.

“Palingan satu atau, kadang tiga orang yang mau naik dokar,” kata lelaki itu cerita, begitu sepi peminat orang-orang naik dokar di jaman sekarang.

Perempuan melintas di belakang dokar Komang Yasa | Foto: tatkala.co/Son

Di depan Toko Ex-Hisur No. 70, seuah toko spesialis grosir dan eceran sepatu, tas sandal, dan kaos kaki, Komang Yasa–sang kusir itu, sudah ada sejak jam lima pagi dengan kudanya di sana.

Tidak lama ia mangkal, pedagang bakpao datang memarkirkan jajakannya di tempat yang sama. Yasa, yang sedang menunggu penumpang di pinggir jalan itu, memberi lelaki itu senyum ramah, sebagai tanda menyapa selamat pagi.

Tanpa bahasa lisan, mereka saling memberi tatapan segar hingga menyimpul senyum sesama. Begitupun dengan pedagang balon yang sudah lebih dulu mangkal, ia juga memberi senyum, lantas mengajak orang itu ngobrol.

Barangkali si pedagang balon itu hendak mengusir jenuh memegang erat balon-balon terbang ang belum lunas terjual sejak tadi. Tampaknya, keakraban di antara mereka cukup intim terlihat. Mungkin karena sesama pedagang.

Komang Yasa dan dokarnya | Foto: tatkala.co/Son

Melewatkan obrolan dari mereka, Yasa kemudian turun dari dokarnya dan melipir ke belakang pasar membawa ember kecil. Dua orang itu seolah mengerti tanpa mesti bertanya mau ke mana lelaki itu pergi, tanpa permisi membawa ember.

Yasa datang kemudian membawa air, dan lekas ember itu didekatkan ke mulut kuda miliknya. Kuda itu meminumnya. Pedagang balon dan pedagang bakpao melirik Yasa ramah.

Setelah dirasa cukup kuda minum, kuda itu berhenti dengan sendirinya. Tapi perut keroncongan terdengar dari dengusan si kuda. Segera Pak Kusir itu pergi mengambil rumput di dalam karung yang tersimpan dekat tempat duduknya di dalam dokar, dengan tulisan di atasnya; “Singaraja Sakti : BLL 10/2002”.

Tulisan itu berwarna merah telah pudar dilalap musim barangkali. Di bawah nama itu, terdapat dua boneka yang juga dengan warnanya telah pudar dan dekil, tercantel—menggantung tawar.

Satu kunci, dua boneka. Benda-benda itu menggantung di arloji tangan yang tak lagi memutarkan waktu. Rusak. Digantung juga di sana. Dan karung rumput tersimpan di bawahnya.

Dibukanya karung. Sejumput rumput diraihnya dengan tangan kosong, lalu disodorkannya ke mulut kuda. Kuda itu meraihnya, dan makan dengan lahap.

Lelaki itu mengelus kepala kuda, dan mata kuda sayu menikmati rasa kasih. Seperti sudah mengerti, hewan itu membiarkan tangan liat lelaki itu—untuk mempersilahkan memegang kepalanya mengelus-elus. Mereka sudah bersahabat.

Setia Pada Dokar, Setia Pada Warisan

Sejak 1985, Yasa memang sudah biasa dengan kuda, mengurus kuda. Dan ia setia pada pekerjaannya sebagai seorang kusir delman atawa dokar di Singaraja.

Ia tinggal di daerah Jineng Dalem, bersama kudanya, bersama sanak keluarganya juga. Sebetar lagi ia akan pulang setelah menumpuk beberapa karung berisikan sayur mayur itu ke dalam dokar.

Untuk kuda yang ia bawa sekarang, itu baru beberapa tahun diajak bekerja—sekitar tahun 2019, katanya. Tentu, setelah beberapa kuda miliknya yang lain telah pensiun.

Menaruh barang di atas dokar | Foto: tatkala.co/Son

Seperti manusia, kuda juga memiliki umur yang produktif. Yang jelas, katanya lagi. Ia tak pernah memaksa kuda itu untuk melayaninya narik jika memang sedang sakit misalnya, atau umur pensiun setelah memasuki umur ke-10.

“Kuda seperti manusia, harus dirawat. Diberi makan dan minum yang sehat,” kata Komang Yasa.

Yang jelas lagi, lelaki itu setia pada warisan sang bapak, yang menitipkannya keahlian membawa dokar dan juga menunggang kuda ketika masih muda.

“Sebenarnya, ini warisan dari bapak saya. Dulu bapak saya jadi kusir juga waktu tahun gak enak (kolonial). Saya meneruskan usaha bapak sekitar tahun 1985,” kata Komang Yasa.

Yasa menghentikan ceritanya, seorang ibu menghampirinya dan mengobrol dalam bahasa Bali yang tak pernah saya mengerti. Padahal, sudah empat tahun saya berada di kota ini, tapi masih blo’on soal bahasa orang sini.

Tapi kira-kira, dari raut wajah si perempuan itu yang melempar humor dan memulai pembicaraan kepada Yasa, seperti ada tawar-menawar soal naik dokar.

Tapi tebakan saya bisa saja salah, sebelum saya menebak-nebak lagi, perempuan itu justru pergi menaiki motor pribadi. Ya, tebakan saya salah. Ia membawa motor pribadi. Sendiri.

Sepuluh meter dari Toko Textil Olimpyc yang tak jauh dari Toko Ex-Hisur No. 70 di Jalan Diponogoro itu, Komang Yasa sudah datang sejak jam 5 pagi, untuk melayani siapa saja, atau keperluan apa saja. Atawa sekadar mengobrol seperti tadi di trotoar sambil ngetem seperti mobil angkot.

Sebuah mobil dari parkiran hendak ke luar, Yasa memajukan dokarnya sebentar memberi jalan. Segera si kuda menurut. Mobil itu keluar perlahan, dan Yasa kembali membawa kudanya di posisi semula.

Dan menyusul sebuah keluarga baru saja melewati dokarnya juga, dan seorang anak menatap kuda cukup kagum.

Dokar, selain ditumpangi orang dewasa, juga terkadang ditumpangi anak-anak bersama orang tuanya sebagai hiburan. Tapi untuk hari ini, anak kecil itu hanya melewatkannya saja.

Selain penumpang yang mau pergi ke pasar atau sekadar jalan-jalan, Yasa juga kerap membawa pengantin baru mau kawin sebagai projek musiman. “Yang penting si kuda sanggup mengangkut, dan jelas jarak tempuh dan berapa bayarannya,” kata Komang Yasa.

Sayuran juga diangkutnya. Kalau penumpang, katanya, biasanya lima puluh ribu untuk keliling dari Jalan Diponogoro ke Jalan Hasanudin. “Tergantung jarak tempuh,” kata lelaki itu seperti mau menegaskan, sebab ini kuda, bukan mesin. Mengertilah.

Dokar Menolak Narsis, dan Ia Berjalan Apa Adanya

Dokar yang lain baru saja melintasinya membawa dua penumpang sekaligus ke arah utara. Lantas Yasa melambaikan tangan ke kusir itu seperti memberi selamat bekerja dan selamat di jalan.

“Kalau saya baru dua kali narik untuk hari ini,” kata lelaki itu seperti kepayahan.

Dari jam 05.00 sampai jam 09.00 pagi, Yasa biasa narik di sana, kadang juga sampai jam sepuluh. Dalam waktu beberapa jam itu, baru dua penumpang. Itu pun hanya keliling—tak penting-penting amat, tapi, hidup tak mesti diragukan, rezeki baik bisa berupa apa saja.

“Kuda sehat, besok narik lagi,” katanya.

Sekitar abad ke-19 di Jawa, seperti di Jogja, dokar—atau kereta kencana yang dibawa kuda, menjadi satu alat tranportasi orang-orang keraton, khususnya raja atau priayi. Tentu, begitupun di Bali pada masanya.

Namun sekarang, dokar menjadi semacam artefak—yang mencoba untuk terus hidup dan melayani zaman sekuat tenaga. Sekuat usia si kuda, dan kesetiaan Sang Kusir—tak mau modar—digerus zaman itu wasiat sang bapak. Semua dilakukan apa adanya di tengah kerasnya zaman.

Di tengah kuda mesin seperti motor, atau mobil—yang sudah banyak macam-macamnya itu dengan warna lebih mengkilat—orang-orang mulai meninggalkan dokar sebagai alat transportasi yang penting.

Sebab lebih memilih menaiki motor sendiri atau angkutan umum yang lebih cepat, tak peduli polusi jadi kotor atau semacet apa jalanan di depan.

Seperti pada seorang ibu-ibu dengan wajah kesel di sebelah pos penjaga—parkir dekat pedagang kopi arah masuk pasar. Jaraknya sepuluh meter dari dokar milik Yasa.

Perempuan itu baru saja membawa barang bawaannya ke dalam mobil angkot berwarna biru langit setelah selesai berbelanja di pasar.

Berangkat | Foto: tatkala.co/Son

Di dalam mobil itu, dari kaca yang terbuka sedikit, wajahnya terlihat jutek setelah duduk dan menunggu lama dari dalam. Hari cukup panas memang, padahal masih dua jam lagi sebenarnya memasuki pemanggangan matahari siang. Perempuan itu terpanggang di dalam mobil oleh udara panas.

“Mengapa tidak menggunakan dokar saja, Bu?” batin saya.

Pada zamannya, tenaga kuda sangat dipercaya, lho, Bu. Larinya cepat, dan kusirnya sopan. Dan mungkinkah orang-orang akan beralih kembali ke dokar setelah mesin motor dan mobil mereka batuk-batuk karena mengisi BBM pertamax ternyata isinya adalah pertalite!? [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976
Zainul Qiram, Kuliah di Undiksha, Nongkrong plus Jualan Tahu Walik di Tepi Jalan Singaraja
Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja
Legit Melon di Nik Okoh Farm, Singaraja : Boleh Metik, Bayar Kemudian
Tags: dokarSingarajatransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

Next Post

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co