12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 8, 2025
in Khas
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Warung kopi dengan nuansa Tionghoa di wilayah kampung Baru, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

KE arah Timur dari Klenteng Ling Gwan Kiong, atau dari jembatan Pelabuhan Tua Buleleng di Singaraja, vibes jaman kolonial menyeruak sepanjang tepi jalan. Bangunan-bangunan tua itu peninggalan jaman Hindia Belanda yang kini disulap menjadi toko-toko atau jajakan kuliner dengan nuansa Cina.

Aktivitas kuliner dan jajanan itu menjadikan bangunan itu tidak lapuk di makan usia. Tidak terbengkalai, dan terasa sangat merdeka dihidupkan oleh orang-orang, yang sebagian besar merupakan etnis Tionghoa.

Bahkan di sela pagi langit masih gelap sekitar jam 4.30 WITA, Sebuah warung kopi—orang-orang menyebutnya dengan nama Warung Kopi Surapati, barangkali karena warung itu berada di Jalan Surapati—sudah membuka matanya menanti pengunjung datang. Sudah sekitar 50 tahunan warung ini tetap bertahan dari gibasan jaman. Sejak 1975.

Kota Singaraja, selama 50 tahun ini, mengalami pasang-surut kehidupan. Pernah ramai, pernah sepi. Kadang ramai, kadang sepi. Dan warung itu, 50 tahun menjadi saksi.

Warung kopi dengan nuansa Tionghoa di wilayah kampung Baru, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Warung Kopi Surapati bertempat di Kampung Baru, Kelurahan Kampung Baru, Singaraja Bali. Warung ini berdekatan dengan kedai makanan khusus vegan dan vegetarian dengan tulisan “Loving Hut”. Mereka menjajakan menu yang berbeda, pula dengan pasarnya yang berbeda. Tapi sama-sama bertahan di bangunan lama itu.

“Warung Surapati sendiri, sudah lima puluh tahunan atau mungkin lebih. Saya sendiri generasi ke tiga setelah ayah. Generasi pertamanya itu kakek. Kake saya asli dari Cina, leluhur kami dari China,” kata Koh Guan, generasi ketiga Warung Kopi Surapati.

Foto-foto leluhur di dinding warung | Foto: tatkala.co/Son

Di sebuah tembok yang tak jauh dari arah pintu masuk ke ruang keluarga, sebagaimana bangunan itu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal. Warisan. Terdapat foto-foto lawas sang kakek dipajang masih baik untuk mengenang leluhur dan masa lalu. Dengan nama Liem Tiek Khim. Tidak ada tahun masehi yang tertulis di foto itu.

Tapi penampakan wajah si kakek saat masih muda, dan masa tua itu, dapat diperkirakan dipotret sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.

Di sebuah Solo, atau tempat mendiang foto leluhur—disemayakan suci, dihaturkan banten. Tampak jelas kehormatan dan doa diluhurkan untuk mereka para mendiang. “Di Hari Raya Imlek kemarin, doa-doa baik sudah disematkan untuk mereka,” kata Koh Guan.

Koh Guan | Foto: tatkala.co/Son

Koh Guan sendiri lahir pada tahun 1977. Sewaktu kecil, katanya, lelaki itu ingat betul ketika warungnya saat masih dikelola sang kakek. Ramainya minta ampun. Selebihnya, ia tak ingat lagi—bagaimana sang kakek menjaga warung itu tetap hangat dan ramai, dan banyak dikunjungi orang.

Tapi rasanya, kata lelaki itu, para pengunjung waktu di jaman kakeknya, masih ada yang terus datang hingga saat ini, dengan umur yang tua-tua. Langganannya sudah banyak, tetap, dan setia. Tetapi soal nama-nama mereka yang setiap hari datang Koh Guan tidak ingat.

“Saya ingat di wajah, tapi tak ingat di nama,” katanya.

Koh Guan tak sendiri mengelola warung yang diwariskan kakeknya, Liem Tiek Khim. Setelah dibantu paman dan kemudian paman wafat, Koh Guan kemudian mengelola warung warisan itu bersama istrinya tahun 1999.

Istri Koh Guan berdarah Bali, namanya Ketut Suardani. Mereka dikaruniai tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki.

Pecah Telor Ayam Kampung, Rahasia Stamina Leluhur

Dari lima puluh tahun yang lalu sampai sekarang, menu mereka tetap sama. Yaitu kuning telur ayam kampung campur madu, harganya lima ribu rupiah. Juga dengan telur setengah matang dengan tambahan garam dan merica, tegantung selera si pembeli.

Telur setengah matang | Foto: tatkala.co/Son

Setiap hari, Koh Guan bisa menghabiskan sekitar 100 telor ayam kampung bahkan bisa lebih, dan menghabiskan satu botol madu. Selain itu, jajakan kopi susu dan kopi pahit juga masih dipertahankan di sana, baik rasa maupun cara pembuatannya.

Untuk membuat kopi, caranya sederhana. Ia merebus terlebih dahulu kopi dengan air bersamaan, setelah mendidih, disaring ampas ke wadah yang lain. Kemudian, kopi tanpa amas itu dihidangkan, siap diminum. Harganya tiga ribu rupiah untuk kopi biasa, lima ribu untuk kopi susu.

Sekitar jam 05.00, dari arah timur seorang lelaki dengan rambut putih tua datang. Tubuhnya cukup kurus dan ringkih, menggunakan kacamata minus berjalan di atas trotoar dengan bantuan lampu-lampu toko menyala. Walaupun sedikit membungkuk, dari cara berjalannya tanpa tongkat memperlihatkan tubuhnya sehat. Lelaki tua itu duduk dan memesan segelas kopi susu dan dua buah telor setengah matang.

“Untuk penahan rasa lapar,” kata Sukadana. “Bisa juga menambah stamina tubuh, Mas. Saya sering ke sini. Sudah sedari dulu, saat dipegang sama kakeknya Guan,” kata dia.

Sukadana, atau Pak Sukadana, adalah pembeli setia di warung itu. Ia lahir tahun 1940. Di usia senjanya, mengkonsumsi telor ayam kampung memang cukup baik. Di dalamnya terdapat protein, kalium, kalsium, dan fosfor yang dapat mencegah tulang tidak cepat dihantam kropos.  

Di dapur kopi dimasak | Foto: tatkala.co/Son

Selain itu, juga bermanfaat menjaga otak tidak mudah pikun. Saat usianya—masih produktif, sebelum berangkat kerja, pagi ia selalu datang di warung itu. Efeknya, terhadap ingatannya yang sekarang masih kuat terjaga, walaupun mesti membuka laci ingatan itu agak lama.

“Dulu rame di sini, Mas. Pas (Singaraja) jadi ibukotanya Bali. Di sebelah sana ada gedung bioskop. Rame. Sekarang udah enggak ada,” katanya.

Yang setia, tak hanya Sukadana. I Nyoman Danu, kelahiran 1954 itu juga sering datang setiap hari ke Warung Kopi Surapati. Bahkan lebih pagi dari Pak Sukadana, Pak Danu jam 04.00 sudah duduk di sana berhadapan dengan kopi susu. Ia datang untuk ngopi dan menikmati suasana bertemu dengan teman-teman lama, seperti Pak Sukadana, dan teman-teman lainnya.

Setelah matahari mulai menampakkan dirinya, Pak Danu bergegas pulang. “Saya tinggal dulu, ya, Mas. Mau ke toko saya. Toko Mandarin Baut di Jalan A. Yani No. 128. Mampirlah kapan-kapan ke sana, tapi nanti jangan sebut nama, sebut saja pernah ketemu di warung ini. Hehe.” [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet
Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya
Tags: SingarajaTionghoawarung kopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Gebogan Sambut Hari Suci Saraswati di UPMI Bali: Merangkai Buah dan Merajut Kebersamaan

Next Post

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co