13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
March 2, 2025
in Tualang
Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Gedung-gedung di Putrajaya dengan bagian atas perkantoran atau hotel dan bagian bawahnya fasilitas komersial

APA yang kita definisikan sebagai sebuah kota? Atau, kalau kita ganti pertanyaannya menjadi lebih sederhana, apa yang membuat sebuah kota adalah kota?

Imaji-imaji kita tentang kota diisi dengan keramaian, aktivitas beragam, kendaraan yang lalu diasosiasikan dengan kemacetan. Selain kemacetan, masalah perkotaan yang terbayang adalah juga banjir, angka kriminalitas yang tiggi, kesenjangan ekonomi serta hal lainnya. Meskipun ada banyak persoalan, tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa kota adalah mesin pertumbuhan dunia.

Kota adalah tempat dimana ekonomi berpacu cepat, pendidikan yang baik tersedia, komoditas hasil alam dan industri diperdagangkan, ide-ide diadu satu sama lain dan diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Kota membutuhkan heterogenitas penduduk, ide, kondisi sosial dan juga budaya agar terjadi percikan-percikan aktivitas tadi. Segala jenis aktivitas yang memberi nilai positif bagi kemajuan kita sebagai manusia tersebut membutuhkan fasilitas. Untuk menyediakan fasilitas terebut, kita menbutuhkan pemerintahan kota. Pemerintahan kota yang baik akan membuat kota menjadi produktif dan terhindar dari berbagai masalah.

Sebagian besar kota memiliki sejarah panjang berakar pada masa tradisional. Di kawasan Asia Tenggara, ada dua tipe kota tradisional yaitu kota yang lokasinya di pedalaman dan yang ada di daerah pesisir. Keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda.

Kota-kota di pedalaman umumnya memiliki sifat relijius dengan wujud fisik pusat kerajaan yang ditata berdasarkan atas asas-asas kosmologis yang dipercaya oleh pemimpin dan rakyatnya. Penduduknya bekerja sebagai petani.

Berlawanan, kota di kawasan pesisir, yang umumnya tumbuh di sekitar pelabuhan, memiliki sifat yang lebih pragmatis. Para penghuninya menata kawasan dengan prinsip-prinsip kepraktisan untuk mendukung sistem ekonomi perdagangan antar pulau yang merupakan aktivitas ekonomi utamanya. Penghuni kota pesisir biasanya sangat heterogen, terdiri atas pedagang dari pulau-pulau berbeda namun memiliki kepentingan yang sama untuk melakukan transaksi. Akibatnya, pasar dan pelabuhan adalah pusat dari segala aktivitas penduduknya. Di masa sebelum adanya bandar udara, kota-kota pelabuhan adalah mesin-mesin pertumbuhan ekonomi wilayah Nusantara.

Gedung-gedung di Putrajaya dengan bagian atas perkantoran atau hotel dan bagian bawahnya fasilitas komersial | Foto: Gede Maha Putra

Saat ini, ada pula kota-kota yang dibangun dari awal, tidak memiliki akar tradisi, dan ditujukan untuk satu fungsi tertentu saja. Salah satunya adalah Kota Putrajaya di Malaysia. Kota ini dibuat sebagai pusat pemerintahan bagi negeri jiran tersebut pada masa pemerintahan Mahathir Muhammad di tahun 1995. Sang Perdana Menteri berfikir bahwa Kuala Lumpur sudah terlalu sesak sehingga berinisiatif untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi yang baru. Jadilah Putrajaya sebagai kota dengan fungsi utama yang homogen, tunggal, yaitu pusat pemerintahan.

Secara fisik, kota ini dibangun dengan perencanaan yang baik. Kondisi lahan yang tidak rata dimanfaatkan sebagai mekanisme penanggulangan banjir. Wilayah-wilayah yang rendah dibiarkan sebagai ruang terbuka sementara bangunan-bangunan ditempatkan di daerah yang lebih tinggi. Secara ekonomi, penataan ini juga menghemat biaya karena tidak dibutuhkan biaya pematangan lahan yang banyak. Strategi serupa juga sebenarnya bisa kita jumpai pada permukiman-permukiman tradisional kita.

Wilayah kota yang luas dibagi menjadi beberapa klaster untuk memudahkan penataan. Klaster-klaster tersebut dibuat mengikuti permukaan lahan sehingga, jika dilihat dari atas, membentuk pola-pola permukiman yang tidak kaku melainkan meliuk-meliuk.

Segala bangunan harus dibuat sesuai dengan perencanaan yang sudah ditetapkan. Perkantoran pemerintah menjadi fasilitas utama karena memang itulah tujuan utamanya. Tidak ada bangunan liar apalagi bedeng-bedeng atau emperan yang bisa membuat citra visual kota menjadi kotor di mata pemerintah.

Taman-taman luas adalah hal lumrah di kota Putrajaya | Foto: Gede Maha Putra

Gedung-gedung perkantoran dibuat menjulang tinggi. Bagian bawah gedung dimanfaatkan sebagai area komersial tempat para pegawainya bisa makan siang, ngopi, membeli kudapan dan lain-lain saat jam istirahat. Fasilitas komersial lain yang ada di lantai bawah setiap gedung adalah supermarket tempat berjualan bahan makanan mentah: daging, sayur mayur dan buah-buahan termasuk berbagai jenis bumbu-bumbu dapur.

Sebelum pulang, para pekerja bisa mampir untuk membeli keperluan dan bahan makanan untuk makan malam. Dengan begitu, seorang pegawai tidak perlu pergi melintas Gedung untuk memenuhi kebutuhan, ini menghemat pergerakan dan penggunaan mobil. Jadilah gedung-gedung mandiri, yang memenuhi segala kebutuhan penghuninya.

Meski demikian, tetap terdapat pusat perbelanjaan atau mall yang menjual keperluan-keperluan lain seperti pakaian, buku, mainan anak dan seterusnya di Gedung yang berbeda.

Sebagai kota baru yang terencana, Putrajaya memikirkan kebutuhan ruang terbuka dengan baik. Berbeda dengan kota lama yang sudah terlanjur sesak, para perencana kota ini memiliki keleluasaan karena asal wilayah ini adalah hutan dan sebagian bekas tambang. Saya membayangkan para perencana berwajah cerah menggoreskan pensilnya di atas kertas kosong. Taman-taman botani luas menjadi elemen lansekap utama bersama dengan hutan-hutan yang masih alami. Di atas taman-taman tersebut disediakan arena bermain anak, camping ground dan sesekali bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaraan event besar seperti konser musik, festival kuliner, atau berbagai macam lomba.

Jalur pejalan kaki yang nyaman terpisah tegas dari jalur mobil | Foto: Gede Maha Putra

Selain dalam bentuk taman, ruang terbuka hijau yang lebar juga menjadi elemen jalan yang melindungi pejalan kaki dari panas terik. Selama tiga hari ada di kota ini, saya mencoba berjalan kaki setiap hari menikmati ‚kemewahan‘ lebarnya jalur yang disediakan bagi mereka yang tidak menggunakan kendaraan bermotor ini. Jalur ini juga bisa dipakai oleh pengguna sepeda gayung. Tempat-tempat istirahat disediakan dalam interval tertentu. Tanaman-tanaman yang meneduhi jalur ini beserta rumput yang ada di bawahnya nampaknya dipelihara dengan baik dengan pemotongan secara berkala.

Bukan hanya jalur pejalan kaki dan sepedanya, jalan rayanyapun dibuat lebar. Bundaran-bundaran ditata sebagai alat untuk mengatur arus lalu-lintas sehingga tidak hanya bergantung pada lampu pengatur. “Ini kota yang sangat bagus,“ ujar sopir taksi yang mengantarkan saya dari bandara menuju ke kota.

“Pemerintah kami sudah lama memikirkan hal ini, sejak tahun 1995. Sekarang kita melihat hasilnya,“ ujarnya lagi dengan raut muka bangga saat mobil yang kami tumpangi melaju di atas aspal mulus.

Di dalam hati saya mengamini apa yang diucapkan si Bapak itu. Memanglah tidak ada kendaraan yang parkir sembarangan karena tempat-tempat parkir tersedia luas. Jalanan menjadi terlihat rapi ditambah kerindangan pohon di tepiannya. Tidak ada papan reklame atau videotron yang menyilaukan pengendara. Semua system penanda jalan dibuat seragam, rapi dan kelimis. Bahkan tiang-tiang untuk menempatkan bendera untuk perayaan hari kemerdekaanpun sudah dirancang penempatannya.

Ini kota yang sangat tertib dan terencana. Tidak ada pelanggaran tata ruang di sini.

Suasana kota sepi di siang hari karena semua penduduknya ada di dalam gedung perkantoran | Foto: Gede Maha Putra

Kebersihan kota ini menjadi satu nilai lebih yang patut mendapatkan pujian. Pagi hari, dari luar jendela kamar tempat menginap terdengar suara kendaraan yang menyapu jalanan. Debu-debunyapun tidak banyak karena hampir seluruh permukaan tanah yang tidak diperkeras ditanami rumput. Para pemelihara taman menjadi pahlawan utama atas kebersihan hal ini mengingat banyaknya pohon yang pasti menjatuhkan banyak daun. Daun-daun pohon tersebut kembali ditempatkan di bawah masing-masing pohon agar menjadi kompos.

Kesan awal tentang kota tersebut yang cukup positif perlahan berubah. Di hari kedua saya mulai merasakan kalau kota ini sedikit berbeda dengan jmajinasi kita tentang kota. Ia terlalu sepi. Tidak banyak orang lalu-lalang. Jangan tanyakan pedagang kaki limanya, tidak ada. Saya menduga-duga jika ada hal lain yang menyebabkan tidak banyaknya orang dan aktivitas jalanan yang berlangsung. Tadinya saya berfikir jika penduduknya yang sebagian besar adalah pegawai pemerintah membuat kota ini terlalu homogen adalah penyebabnya. Iya, itu satu penyebab, kota yang terlalu homogen akan kesulitan menciptakan kehidupan yang beragam. Tidak terjadi interaksi dari ide yang berbeda, semua punya pemikiran dan penghidupan yang seragam.

Ada kemungkinan lain yaitu persoalan desain. Ketertiban yang berada di titik terbaiknya disini membuat perilaku masyarakatnya juga terpengaruh.

”Why are you here? This city is so boring!“ Seorang kawan arsitek senior berkata demikian.

“What do you mean?”  tanya saya. Rupanya dia tidak menyukai kondisi di mana tidak ada kehidupan malam yang hidup. Tidak ada club hanya restaurant keluarga. Tidak ada yang menjual aneka minuman tetapi teh Tarik dan kopi. Kawan saya itu, yang bukan pegawai pemerintah, tentu saja mengontraskan kondisi kota ini dengan kota yang ada di imajinasinya. Penduduknya sangat tertib.

Ketertiban ini, bisa jadi, juga disebabkan oleh desain gedung yang dirancang efisien dengan fasilitas lengkap sehingga orang enggan berpindah tempat. Begitu keluar dari ruangan tempat kerja, mereka menyelesaiakn segala kebutuhan di lantai dasar lalu pulang ke rumah. Tempat bekerja dan tempat tinggal menjadi dua tempat yang ada penghuninya. Tempat-tempat ketiganya? Taman-tamannya? Bahkan mall-mall nya? Sepi.

Klusterisasi yang rigid, memisahkan tempat kerja dan tempat tinggal, juga menciptakan Kawasan-kawasan heterogen. Kawasan-kawasan perkantoran akan sangat sepi di sore dan malam hari sementara kawasan permukiman memiliki kondisi sebaliknya, sepi di siang hari karena penghuninya bekerja atau bersekolah. Jarak antar klaster yang cukup jauh bisa juga menjadi masalah. Di sini, skala kekompakan kota tidak terjadi. Meskipun penduduk mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya bahkan tanpa berpindah gedung.

Pusat permukiman, ramai di sore hari sehabis jam kerja | Foto: Gede Maha Putra

Saya merasa sedikit terasing saat merayapi jalan setapak lebar yang sepi. Bahkan, selama tiga hari menyusuri jalan-jalan tersebut, cukup jarang dan hampir tidak bertemu orang lain. Barulah di klaster pemukiman ada sedikit kehidupan. Di wilayah ini terdapat kedai-kedai makan dan beberapa toko keperluan sehari-hari. Di sini kehidupan terasa lebih berdenyut. Tetapi, tetap saja rasanya kurang. Mungkin karena imajinasi saya tentang kota sedikit kontras dengan kondisi di Putrajaya ini, sama seperti kawan tadi.

Di Putrajaya memang tidak ada banjir. Angka kriminalitas juga sangat rendah. Jalanan macet hanya sebentar saja, bahkan di akhir pekan, kata sopir taksi yang mengantar saya balik ke bandar udara, jalanan sangat sepi. Banjir tidak mungkin terjadi disini. Tetapi rasanya, entah mengapa, agak hambar di hati. Ini mungkin kota yang secara fisik sangat nyaman, tetapi kadang kota membutuhkan pedagang kaki lima. Penduduknya butuh makan di emperan, atau setidaknya jalanannya yang agak ramai. Keramaian ini adalah tontonan tersendiri di sebuah kota. Tontonan itulah yang tidak saya jumpai di Putrajaya yang tenang. Di Putrajaya, imajinasi kita tentang kota bisa berubah. Kota ternyata bukan hanya soal fisik, tetapi juga rasa, sense dan feeling, juga soal imajinasi. [T] KLIA 27/2/2025

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meningkatnya Individualism yang Mengalahkan Nilai Komunalisme Arsitektur di Bali Hari Ini
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturKotaKuala LumpurMalaysiaPutrajaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang Yasa, Setia Pada Zaman, Setia Merawat Peradaban Dokar di Singaraja

Next Post

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co