2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
March 2, 2025
in Tualang
Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Gedung-gedung di Putrajaya dengan bagian atas perkantoran atau hotel dan bagian bawahnya fasilitas komersial

APA yang kita definisikan sebagai sebuah kota? Atau, kalau kita ganti pertanyaannya menjadi lebih sederhana, apa yang membuat sebuah kota adalah kota?

Imaji-imaji kita tentang kota diisi dengan keramaian, aktivitas beragam, kendaraan yang lalu diasosiasikan dengan kemacetan. Selain kemacetan, masalah perkotaan yang terbayang adalah juga banjir, angka kriminalitas yang tiggi, kesenjangan ekonomi serta hal lainnya. Meskipun ada banyak persoalan, tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa kota adalah mesin pertumbuhan dunia.

Kota adalah tempat dimana ekonomi berpacu cepat, pendidikan yang baik tersedia, komoditas hasil alam dan industri diperdagangkan, ide-ide diadu satu sama lain dan diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Kota membutuhkan heterogenitas penduduk, ide, kondisi sosial dan juga budaya agar terjadi percikan-percikan aktivitas tadi. Segala jenis aktivitas yang memberi nilai positif bagi kemajuan kita sebagai manusia tersebut membutuhkan fasilitas. Untuk menyediakan fasilitas terebut, kita menbutuhkan pemerintahan kota. Pemerintahan kota yang baik akan membuat kota menjadi produktif dan terhindar dari berbagai masalah.

Sebagian besar kota memiliki sejarah panjang berakar pada masa tradisional. Di kawasan Asia Tenggara, ada dua tipe kota tradisional yaitu kota yang lokasinya di pedalaman dan yang ada di daerah pesisir. Keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda.

Kota-kota di pedalaman umumnya memiliki sifat relijius dengan wujud fisik pusat kerajaan yang ditata berdasarkan atas asas-asas kosmologis yang dipercaya oleh pemimpin dan rakyatnya. Penduduknya bekerja sebagai petani.

Berlawanan, kota di kawasan pesisir, yang umumnya tumbuh di sekitar pelabuhan, memiliki sifat yang lebih pragmatis. Para penghuninya menata kawasan dengan prinsip-prinsip kepraktisan untuk mendukung sistem ekonomi perdagangan antar pulau yang merupakan aktivitas ekonomi utamanya. Penghuni kota pesisir biasanya sangat heterogen, terdiri atas pedagang dari pulau-pulau berbeda namun memiliki kepentingan yang sama untuk melakukan transaksi. Akibatnya, pasar dan pelabuhan adalah pusat dari segala aktivitas penduduknya. Di masa sebelum adanya bandar udara, kota-kota pelabuhan adalah mesin-mesin pertumbuhan ekonomi wilayah Nusantara.

Gedung-gedung di Putrajaya dengan bagian atas perkantoran atau hotel dan bagian bawahnya fasilitas komersial | Foto: Gede Maha Putra

Saat ini, ada pula kota-kota yang dibangun dari awal, tidak memiliki akar tradisi, dan ditujukan untuk satu fungsi tertentu saja. Salah satunya adalah Kota Putrajaya di Malaysia. Kota ini dibuat sebagai pusat pemerintahan bagi negeri jiran tersebut pada masa pemerintahan Mahathir Muhammad di tahun 1995. Sang Perdana Menteri berfikir bahwa Kuala Lumpur sudah terlalu sesak sehingga berinisiatif untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi yang baru. Jadilah Putrajaya sebagai kota dengan fungsi utama yang homogen, tunggal, yaitu pusat pemerintahan.

Secara fisik, kota ini dibangun dengan perencanaan yang baik. Kondisi lahan yang tidak rata dimanfaatkan sebagai mekanisme penanggulangan banjir. Wilayah-wilayah yang rendah dibiarkan sebagai ruang terbuka sementara bangunan-bangunan ditempatkan di daerah yang lebih tinggi. Secara ekonomi, penataan ini juga menghemat biaya karena tidak dibutuhkan biaya pematangan lahan yang banyak. Strategi serupa juga sebenarnya bisa kita jumpai pada permukiman-permukiman tradisional kita.

Wilayah kota yang luas dibagi menjadi beberapa klaster untuk memudahkan penataan. Klaster-klaster tersebut dibuat mengikuti permukaan lahan sehingga, jika dilihat dari atas, membentuk pola-pola permukiman yang tidak kaku melainkan meliuk-meliuk.

Segala bangunan harus dibuat sesuai dengan perencanaan yang sudah ditetapkan. Perkantoran pemerintah menjadi fasilitas utama karena memang itulah tujuan utamanya. Tidak ada bangunan liar apalagi bedeng-bedeng atau emperan yang bisa membuat citra visual kota menjadi kotor di mata pemerintah.

Taman-taman luas adalah hal lumrah di kota Putrajaya | Foto: Gede Maha Putra

Gedung-gedung perkantoran dibuat menjulang tinggi. Bagian bawah gedung dimanfaatkan sebagai area komersial tempat para pegawainya bisa makan siang, ngopi, membeli kudapan dan lain-lain saat jam istirahat. Fasilitas komersial lain yang ada di lantai bawah setiap gedung adalah supermarket tempat berjualan bahan makanan mentah: daging, sayur mayur dan buah-buahan termasuk berbagai jenis bumbu-bumbu dapur.

Sebelum pulang, para pekerja bisa mampir untuk membeli keperluan dan bahan makanan untuk makan malam. Dengan begitu, seorang pegawai tidak perlu pergi melintas Gedung untuk memenuhi kebutuhan, ini menghemat pergerakan dan penggunaan mobil. Jadilah gedung-gedung mandiri, yang memenuhi segala kebutuhan penghuninya.

Meski demikian, tetap terdapat pusat perbelanjaan atau mall yang menjual keperluan-keperluan lain seperti pakaian, buku, mainan anak dan seterusnya di Gedung yang berbeda.

Sebagai kota baru yang terencana, Putrajaya memikirkan kebutuhan ruang terbuka dengan baik. Berbeda dengan kota lama yang sudah terlanjur sesak, para perencana kota ini memiliki keleluasaan karena asal wilayah ini adalah hutan dan sebagian bekas tambang. Saya membayangkan para perencana berwajah cerah menggoreskan pensilnya di atas kertas kosong. Taman-taman botani luas menjadi elemen lansekap utama bersama dengan hutan-hutan yang masih alami. Di atas taman-taman tersebut disediakan arena bermain anak, camping ground dan sesekali bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaraan event besar seperti konser musik, festival kuliner, atau berbagai macam lomba.

Jalur pejalan kaki yang nyaman terpisah tegas dari jalur mobil | Foto: Gede Maha Putra

Selain dalam bentuk taman, ruang terbuka hijau yang lebar juga menjadi elemen jalan yang melindungi pejalan kaki dari panas terik. Selama tiga hari ada di kota ini, saya mencoba berjalan kaki setiap hari menikmati ‚kemewahan‘ lebarnya jalur yang disediakan bagi mereka yang tidak menggunakan kendaraan bermotor ini. Jalur ini juga bisa dipakai oleh pengguna sepeda gayung. Tempat-tempat istirahat disediakan dalam interval tertentu. Tanaman-tanaman yang meneduhi jalur ini beserta rumput yang ada di bawahnya nampaknya dipelihara dengan baik dengan pemotongan secara berkala.

Bukan hanya jalur pejalan kaki dan sepedanya, jalan rayanyapun dibuat lebar. Bundaran-bundaran ditata sebagai alat untuk mengatur arus lalu-lintas sehingga tidak hanya bergantung pada lampu pengatur. “Ini kota yang sangat bagus,“ ujar sopir taksi yang mengantarkan saya dari bandara menuju ke kota.

“Pemerintah kami sudah lama memikirkan hal ini, sejak tahun 1995. Sekarang kita melihat hasilnya,“ ujarnya lagi dengan raut muka bangga saat mobil yang kami tumpangi melaju di atas aspal mulus.

Di dalam hati saya mengamini apa yang diucapkan si Bapak itu. Memanglah tidak ada kendaraan yang parkir sembarangan karena tempat-tempat parkir tersedia luas. Jalanan menjadi terlihat rapi ditambah kerindangan pohon di tepiannya. Tidak ada papan reklame atau videotron yang menyilaukan pengendara. Semua system penanda jalan dibuat seragam, rapi dan kelimis. Bahkan tiang-tiang untuk menempatkan bendera untuk perayaan hari kemerdekaanpun sudah dirancang penempatannya.

Ini kota yang sangat tertib dan terencana. Tidak ada pelanggaran tata ruang di sini.

Suasana kota sepi di siang hari karena semua penduduknya ada di dalam gedung perkantoran | Foto: Gede Maha Putra

Kebersihan kota ini menjadi satu nilai lebih yang patut mendapatkan pujian. Pagi hari, dari luar jendela kamar tempat menginap terdengar suara kendaraan yang menyapu jalanan. Debu-debunyapun tidak banyak karena hampir seluruh permukaan tanah yang tidak diperkeras ditanami rumput. Para pemelihara taman menjadi pahlawan utama atas kebersihan hal ini mengingat banyaknya pohon yang pasti menjatuhkan banyak daun. Daun-daun pohon tersebut kembali ditempatkan di bawah masing-masing pohon agar menjadi kompos.

Kesan awal tentang kota tersebut yang cukup positif perlahan berubah. Di hari kedua saya mulai merasakan kalau kota ini sedikit berbeda dengan jmajinasi kita tentang kota. Ia terlalu sepi. Tidak banyak orang lalu-lalang. Jangan tanyakan pedagang kaki limanya, tidak ada. Saya menduga-duga jika ada hal lain yang menyebabkan tidak banyaknya orang dan aktivitas jalanan yang berlangsung. Tadinya saya berfikir jika penduduknya yang sebagian besar adalah pegawai pemerintah membuat kota ini terlalu homogen adalah penyebabnya. Iya, itu satu penyebab, kota yang terlalu homogen akan kesulitan menciptakan kehidupan yang beragam. Tidak terjadi interaksi dari ide yang berbeda, semua punya pemikiran dan penghidupan yang seragam.

Ada kemungkinan lain yaitu persoalan desain. Ketertiban yang berada di titik terbaiknya disini membuat perilaku masyarakatnya juga terpengaruh.

”Why are you here? This city is so boring!“ Seorang kawan arsitek senior berkata demikian.

“What do you mean?”  tanya saya. Rupanya dia tidak menyukai kondisi di mana tidak ada kehidupan malam yang hidup. Tidak ada club hanya restaurant keluarga. Tidak ada yang menjual aneka minuman tetapi teh Tarik dan kopi. Kawan saya itu, yang bukan pegawai pemerintah, tentu saja mengontraskan kondisi kota ini dengan kota yang ada di imajinasinya. Penduduknya sangat tertib.

Ketertiban ini, bisa jadi, juga disebabkan oleh desain gedung yang dirancang efisien dengan fasilitas lengkap sehingga orang enggan berpindah tempat. Begitu keluar dari ruangan tempat kerja, mereka menyelesaiakn segala kebutuhan di lantai dasar lalu pulang ke rumah. Tempat bekerja dan tempat tinggal menjadi dua tempat yang ada penghuninya. Tempat-tempat ketiganya? Taman-tamannya? Bahkan mall-mall nya? Sepi.

Klusterisasi yang rigid, memisahkan tempat kerja dan tempat tinggal, juga menciptakan Kawasan-kawasan heterogen. Kawasan-kawasan perkantoran akan sangat sepi di sore dan malam hari sementara kawasan permukiman memiliki kondisi sebaliknya, sepi di siang hari karena penghuninya bekerja atau bersekolah. Jarak antar klaster yang cukup jauh bisa juga menjadi masalah. Di sini, skala kekompakan kota tidak terjadi. Meskipun penduduk mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya bahkan tanpa berpindah gedung.

Pusat permukiman, ramai di sore hari sehabis jam kerja | Foto: Gede Maha Putra

Saya merasa sedikit terasing saat merayapi jalan setapak lebar yang sepi. Bahkan, selama tiga hari menyusuri jalan-jalan tersebut, cukup jarang dan hampir tidak bertemu orang lain. Barulah di klaster pemukiman ada sedikit kehidupan. Di wilayah ini terdapat kedai-kedai makan dan beberapa toko keperluan sehari-hari. Di sini kehidupan terasa lebih berdenyut. Tetapi, tetap saja rasanya kurang. Mungkin karena imajinasi saya tentang kota sedikit kontras dengan kondisi di Putrajaya ini, sama seperti kawan tadi.

Di Putrajaya memang tidak ada banjir. Angka kriminalitas juga sangat rendah. Jalanan macet hanya sebentar saja, bahkan di akhir pekan, kata sopir taksi yang mengantar saya balik ke bandar udara, jalanan sangat sepi. Banjir tidak mungkin terjadi disini. Tetapi rasanya, entah mengapa, agak hambar di hati. Ini mungkin kota yang secara fisik sangat nyaman, tetapi kadang kota membutuhkan pedagang kaki lima. Penduduknya butuh makan di emperan, atau setidaknya jalanannya yang agak ramai. Keramaian ini adalah tontonan tersendiri di sebuah kota. Tontonan itulah yang tidak saya jumpai di Putrajaya yang tenang. Di Putrajaya, imajinasi kita tentang kota bisa berubah. Kota ternyata bukan hanya soal fisik, tetapi juga rasa, sense dan feeling, juga soal imajinasi. [T] KLIA 27/2/2025

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meningkatnya Individualism yang Mengalahkan Nilai Komunalisme Arsitektur di Bali Hari Ini
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturKotaKuala LumpurMalaysiaPutrajaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang Yasa, Setia Pada Zaman, Setia Merawat Peradaban Dokar di Singaraja

Next Post

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co