3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 2, 2025
in Esai
Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Warga keturunan Tionghoa bersembahyang di sebuah klenteng di Singaraja | Foto: Dok. tatkala.co

PADA sebuah batu nisan tertulis DCB 1884.

“Kubur ini adalah kuburan ayah kakek saya,” kata Lie Hong Tan, lelaki berusia 73 tahun yang tinggal di belakang konco kecil (kelenteng) di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, bali.

Menurutnya, DCB barangkali singkatan untuk bulan Desember. Angka 1884 adalah tahun untuk penguburannya. Tapi Hong Tan agak ragu, “Mungkin saja itu tahun pemugarannya. Saya tidak bisa pastikan”.

Keraguan terhadap angka tahun itu muncul karena ia tak mampu membaca sebagian besar huruf-huruf Cina yang memenuhi nisan itu. Tapi ia tahu bahwa yang terbaring dalam kubur itu adalah Lie Sing Hwat, buyutnya yang datang langsung dari Tiongkok.

Kakek dan ayah Hong Tan lahir di Bali. Hong Tan sendiri lahir di Nongan pada tahun1924. Sehari-hari ia berbahasa Bali. Tidak bisa berbahasa Cina.

“Kami Hokian, kemungkinan dari Hayting,” ujarnya dengan ragu.

Imigrasi warga Tiongkok ke Bali dalam gelombang-gelombang yang berbeda. Era sebelum Majapahit, mata uang masyarakat Bali adalah Mong, mata uang yang diperkirakan awalnya dipakai kalangan warga Cina. Pemberlakuan mata uang Cina ini menandakan perdagangan Cina menguasai pulau ini.

Pura Pucak Penulisan yang diperkirakan telah ada sekitar abad X masehi, tidak lepas dari keterkaitan legenda pernikahan Putri Cina dengan raja Bali. Konon, putri Cina (bermarga Kang), setelah dinikahi raja Bali, mereka membuka sebuah kawasan di utara Gunung Batur, pada hamparan tanah subur di sekitar 4 kilometer dari Pura Penulisan. Tempat itu disebut Bali-Kang, yang sampai kini dikenal sebagai Pura Balingkang di Desa Pingan. Pingan berarti damai dalam bahasa Cina.

Sensus Warga Tionghoa


Volkstelling, semacam sensus yang dilakukan pemerintah Belanda, pada tahun 1930 mencatat kedatangan imigran Tiongkok masuk Indonesia periode tahun 1869 sampai1890 naik dari 221.438 jiwa sampai 451.089 jiwa. Total jumlah imigran Tiongkok yang telah masuk ke Indonesia sampai tahun 1930 telah mencapai 1.233.214 jiwa.

Lie Sing Hwat, dan seorang keponakannya, yang sama-sama kelahiran Tiongkok, kemungkinan mereka bagian dari gelombang imigran yang datang ke Bali periode Hindia-Belanda, sekitar tahun 1869. Sing Hwat menetap di Desa Nongan, menikah 4 kali, istri pertamanya yang keturunan warga Tionghoa yang bermukim di Desa Sangsit, Buleleng, pantai utara Bali. Tiga istri lainnya keturunan warga Bali.

Keturunan Sing Hwat tinggal di Nongan sampai sekarang, beberapa diantaranya menyebar ke wilayah lain di Bali. Keturunan Sing Hwat secara turun-temurun bercerita bahwa Sing Hwat diberi kepercayaan oleh Raja Bangli untuk bermukim di kawasan Nongan, segitiga perbatasan tiga Kerajaan Karangasem-Bangli-Klungkung. Sementara itu, keponakan Sing Hwat, diperkirakan bernama Lie Bun Gong, bergabung dengan pasukan Raja Bangli lainnya untuk menjaga daerah segitiga perbatasan Kerajaan Bangli-Kerajaan Badung-Kerajaan Buleleng di Dusun Lampu, perbukitan Catur kawasan Kintamani-Batur.

Di Dusun Lampu, yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari Desa Nongan, kita bisa menemui Lie Giok Tian, salah seorang keturunan Lie Bun Gong.

“Leluhur kami memang semula bermukim di Desa Nongan,” aku Lie Giok Tian.

Lie Giok Tan bercerita tentang leluhurnya yang menjaga perbatasan, bernama Lie Bun Gong. Namun nama itu tidak begitu jelas baginya. Sebagai keturunan serdadu penjaga perbatasan, disamping sengaja menyembunyikan kejelasan nama dan berbagai cerita, Giok Tian merasakan hubungannya dengan ayah atau kakeknya tidak begitu dekat.

“Barangkali karena mereka serdadu. Mereka jarang bercerita tentang masa lalu mereka. Mereka barangkali sengaja menyembunyikannya untuk keamanan keluarga,”tambah Giok Tan.

Legenda Dusun Nanpu

Di Dusun Lampu, bukan hanya keluarga Tan yang terlahir dari serdadu penjaga perbatasan. Sekurangnya sebelas warga Tiongkok sempat menjadi penjaga perbatasan itu. Keturunannya yang masih bermukim di Lampu ada 6 marga : Lie, Siaw, Cwa, Po,Ang dan Tan. Lima marga lainnya berpindah ke daerah lain dan seorang dari serdadu itu tewas dalam pertempuran di perbatasan.

Salah satu anggota serdadu yang tewas itu konon bernama Ming Seng An. Ia dikubur di lokasi perbatasan. Walau nisan Ming Seng An itu telah dibongkar warga yang bertani, karena nisan itu sempat lama menjadi penanda wilayah itu, desa itu sampai kini masih dikenal sebagai Desa Mungsengan. Ming Seng An memang tewas dalam pertempuran itu, tapi namanya tak pernah terkubur. Ming Seng An identik dengan Mungsengan, sebuah desa perkebunan yang subur dan hijau.

Menurut cerita yang didengar Lie Hong Tan, usai upacara penguburan Ming Seng An, serdadu warga Tionghoa lainnya bergerak ke arah utara tempat itu, dengan membawa obor dan perlangkapan ritual penguburan. Tepat di wilayah Desa Lampu sekarang, obor mereka tiba-tiba padam. Merekapun menangkap padamnya obor sebagai sebuah pertanda untuk berhenti dan menetap di sana. Mereka membangun tenda dan gubuk-gubuk, berhari-hari menyalakan lampion-lampion tanda berkabung atas kematian Ming Seng An. Desa itu selanjutnya dikenal sebagai Desa Lampu.

Lie Giok Tan punya versi lain tentang nama dusunnya. Konon, pasukan dari Kerajaan Jagaraga, Buleleng, menyerang kawasan perbatasan itu. Para serdadu Cina yang diperintah raja Bangli itu terdesak. Karena berjumlah hanya belasan orang saja, mereka menyusun strategi. Untuk memperlampat serbuan pasukan Jagaraga, mereka menebangi pohon-pohon. Lokasi itu kini bernama Desa Mengandang (menghadang). Setelah pasukan Jagaraga mampu menembus hadangan pohon-pohon itu, mereka menyerang dengan lebih beringas. Serdadu Bangli yang anggotanya warga Tionghoa itu mundur perlahan-lahan. Memasuki wilayah Sungai Segae senja makin gelap. Pasukan Jagaraga semakin mendesak serdadu Cina-Bangli sampai ke pinggir barat sungai Sagae. Didesak masuk ke sungai, pasukan Cina-Bangli mulai kalang kabut dan berteriak-teriak.

Saat itulah, di antar pohon-pohon yang lebat, di seberang timur Sungai Segae, tiba-tiba ratusan lampion menyala, cahayanya memecah malam yang baru tiba. Cahayanya bergerak-gerak dalam tiupan angin dan kabut. Aliran sungai bertabur cahaya. Pasukan Jagaraga-Buleleng yang mendesak pasukan Cina-Bali menjadi gusar. Lampion-lampion itu menggangu konsentrasi mereka. Pasukan Jagaraga-Buleleng mundur perlahan dan menghentikan penyerangan.

Lampion-lampion itu hanya trik serdadu Cina-Bangli. Sedari siang seorang serdadu telah menyiapkan ratusan lampion-lampion berjejer di seberang sungai. Saat ia tahu pasukan Cina-Bangli terdesak, ia menyalakan ratusan lampion-lampion itu secara serentak. Kawasan di seberang sungai itu selanjutnya disebut Dusun Lampu. Dusun dimana lampion-lampion-lampion selalu menyala. Di sanalah warga Tionghoa bermukim, berkebun, beranak-pinak, berbaur dan menikah dengan warga setempat.

Ada pula yang menafsir kata Lampu berasal dari kata Nan-Pun (Desa Selatan). Lama kelamaan karena mereka tidak berbahasa Cina keturunan mereka melupakannya. Penduduk sekitar, untuk memudahkan penyebutan, selanjutnya menyebut dusun tersebut sebagai Dusun Lampu.

Apapun versi cerita tentang Dusun Lampu yang berkembang, kini keturunan para serdadu yang dulu menjaga perbatasan itu sebagian menjalani hidup mereka sebagai petani. Ada yang bertani kopi dan pula bercocok tanam jeruk. Beberapa diantaranya menjadi buruh atau petani penggarap. Giok Tan menjadi bengkel. Hok Buan seorang pensiunan supir dan istrinya, Ci Kam menjad tukang jahit kebaya. Beberapa yang lainnya aktif menjadi pemimpin desa adat.

Desa-desa Perbatasan Peranakan



Di dua titik perbatasan lain, yang juga di kawasan Kerajaan Bangli yang dulu dijaga para serdadu Tionghoa, seperti Desa Langgahan, terletak di perbatasan tiga Kerajaan Bangli-Gianyar-Badung, Po Sin Cin bertani mengelola tanah warisan leluhurnya yang diperoleh dari hadiah Raja Bangli karena telah gigih menjaga perbatasan. Di Kembang Sari, desa perbatasan Bangli dan Buleleng, Lie Tian Han menjadi petani vanili. Oleh warga desanya, ia lebih dikenal sebagai Penyarikan (pemimpin adat) dengan nama Mangku Candra. Sehari-hari ia memimpin berbagai ritual di berbagai Pura di desanya, menjadi saksi penikahan, dan rapat-rapat adat. Ia merasakan dua aliran darah mengalir dalam dirinya, Cina dan Bali. Di belakang rumahnya ia pun membangun konco (kelenteng) untuk leluhur dari pihak ayahnya dan mrajan (pura leluhur) untuk leluhur dari pihak ibunya.

Dalam era kemerdekaan Indonesia, daerah-daerah perbatasan kerajaan tidak banyak lagi terjadi sengketa perbatasan. Batas-batas kerajaan di Bali kini menjadi batas-batas kabupaten yang ada. Keturunan Cina yang datang semasa jaman kerajaan identik dengan daerah perbatasan. Perbatasan juga bagian dari identas mereka. Mereka tetap berada di perbatasan antara ke-Cina-an dan ke-Bali-an mereka. Secara genetik keturunan Tionghoa namun ikatan bathin mereka lebih dekat dengan tanah Bali. Mereka berbahasa Bali, berusaha mengikuti ketentuan keanggotaan desa adat dan tradisi Bali. Tetap saja, mereka “orang dalam” merangkap “orang luar”. Secara kultural dan geografis mereka masih bermukim di perbatasan.


Nara sumber :
1.Lie Giok Tian, Desa Lampu (perbatasan Bangli-Buleleng-Badung).
2.Mangku Candra alias Lie Tian Han, Desa Kembang Sari (perbatasan Bangli-Buleleng).
3.Po Sin Cin, Desa Langgahan (perbatasan Bangli-Gianyar-Badung)
4.Lie Hon Tan, 73 tahun, Desa Nongan (perbatasan Karangasem-Bangli-Klungkung)

Catatan : Data dan jumlah imigran Tiongkok diambil dari Konfrontasi, Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial. No 1, Oktober 1998

Sumber : http://www.scribd.com/doc/45359347/nongan-Peranakan-Cina-Di-Bali-Sugi-Lanus

  • BACA JUGA:
Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Tags: BanglibulelengChinaDesa NonganDusun LampuTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Next Post

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co