3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Warga adat Bali di Baturiti menggotong mayat nenek saya yang warga keturunan saat diantar ke kuburan di Baturiti Tabanan. /Foto: Julio

 

SUATU sore, April 2017, saya sedang mengantuk di kelas saat ikut mata kuliah di Undiksha Singaraja. Tiba-tiba saya menerima sebuah pesan singkat yang sangat menyanyat hati. Pengirimnya ayah saya. Nenek saya, ibunda ayah tercinta, telah berpulang.

Saya langsung terjaga dari kantuk. Tapi tetap tak bisa konsentrasi ikut kulih. Saya ingin cepat bergegas ke kampung halaman saya di Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dan begitu kuliah usai saya langsung meluncur ke kampung. Tentu, karena nenek termasuk satu orang yang sangat saya sayangi, dan dia menyayangi saya juga.

Kesedihan menimpali saya di atas motor, di sepanjang perjalanan pulang.

Di rumah, saya temui dan langsung larut dalam suasana adat persemayaman dan tradisi kematian yang khas etnis Tionghoa. Ya, saya dan tentu juga keluarga saya adalah etnis Tionghoa yang menetap sejak bertahun-tahun di Desa Baturiti.

Sepasang lampion putih sebagai tanda adanya orang yang meninggal telah digantung di depan rumah. Jenasah nenek telah selesai dimandikan dan dikenakan pakaian yang telah dilubangi dengan hio yang menyala, juga telah siap untuk dimasukan ke dalam peti.

Altar untuk persemayaman jenasah nenek disiapkan. Beberapa lilin menyala di dekat foto nenek. Harum dupa yang dibakar tercium memenuhi ruangan. Semua anak-anak dan cucu-cucu, juga beberapa kerabat dan sanak famili nenek menggunakan pakaian serba putih dan topi putih yang terbuat dari kain blacu.

Nuansa upacara persemayaman tersebut sangat kental rasa Tionghoa-nya. Namun tidak demikian suasana yang tampak di luar ruang persemayaman, seperti di halaman rumah dan depan rumah. Tidak ada nuansa Tionghoa sama sekali. Suasana yang terasa justru sama persis seperti suasana pada tradisi serangkaian acara kematian milik orang Hindu Bali.

Di halaman samping rumah, beberapa wanita dewasa yang merupakan krama banjar adat di wilayah Desa Baturiti dan sekitarnya terlihat menggunakan pakaian adat Bali, kebaya dan kamen warna gelap. Mereka membantu mengurus tamu pelayat, semisal menyapa, menyiapkan hidangan, dan lain-lain.

Suasana di dapur seperti dapur orang Bali pada umumnya. Para ibu menyiapkan jamuan untuk para pelayat. Di halaman belakang, banyak pria dewasa krama banjar setempat juga berpakaian adat, dengan baju dan kain warna gelap, membantu membuat tetaring dan sarana lain. Pada malam hari mereka megebagan (berjaga) agar rumah duka tidak sepi sekaligus agar keluarga yang berduka bisa istirahat dan konsentrasi mengikuti ritual.

Saat acara pembakaran jenasah, peti nenek tidak diangkut menggunakan mobil milik sebuah yayasan suka duka pada umumnya, namun digotong oleh krama Bali menuju kuburan yang letaknya 5 kilometer dari rumah saya. Warga etnis Bali dan Tionghoa dengan pakaian khas masing-masing tampak bercampur-aduk dalam sebuah ritual.

Mereka memang mudah dikenali dari pakaiannya. Warga etnis Tionghoa menggunakan pakaian pakaian serba putih, sedangkan warga etnis Bali menggunakan pakaian serba hitam atau warga gelap. Namun ekspresi ketulusan dari wajah-wajah mereka tampak sama. Suara gamelan dari sekaa gong juga ikut menemani perjalanan nenek saya menuju tempat pembakaran di kuburan. Suasana adat Tionghoa dan Bali benar-benar menjadi satu. Mereka bareng-bareng ngayah, mereka ngayah bareng-bareng.

Bukan Hal Baru

Suasana seperti itu bukanlah hal yang baru di Desa Baturiti. Etnis keturunan dan krama Bali di Baturiti memang sudah seperti keluarga sejak lama. Dari sekian ribu jumlah penduduk di Baturiti, sekitar 200 orang di antaranya adalah etnis keturunan Tionghoa, salah satunya adalah keluarga saya sendiri.

Erlina Kang Adiguna, atau yang lebih dikenal dengan Mama Leon, juga merupakan etnis keturunan Tionghoa yang menjadi warga atau penduduk Desa Baturiti. Tahun masuknya etnis keturunan Tionghoa ke Desa Baturiti tidak diketahui secara pasti, namun jalinan antara keduanya diyakini bermula dan semakin erat dengan hadirnya tujuh orang sesepuh dari negeri Cina ke Desa Baturiti.

Mereka tidak membawa bekal apa-apa, namun mereka mewarisi berbagai hal yang bermanfaat di kemudian hari bagi warga etnis Tionghoa yang bermukim di desa itu, seperti cara-cara berdagang, bertani, serta ajaran-ajaran kehidupan yang bijak serta penanaman etos kerja dan lain-lain.

Pergaulan warga etnis Tionghoa di Baturiti makin berkembang setelah didirikannya perkumpulan Tiong Hwa Hwe Tjoe Batoeriti atau Perkumpulan Cing Bing Kongsi Baturiti pada 28 April 1931. Perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan yang menghimpun orang-orang Tionghoa di Desa Baturiti dengan tujuan membantu etnis Tionghoa yang meninggal dunia.

Toleransi dan kerukunan etnis keturunan Tionghoa dan krama Bali di Desa Baturiti sudah menjadi budaya tersendiri yang dijaga oleh masyarakat di desa itu, baik oleh masyarakat etnis Tionghoa maupun warga lokal Desa Baturiti. Etnis keturunan Tionghoa selalu mencerminkan sikap toleransi dan kerukunan yang tinggi kepada etnis Bali, begitu pula etnis Bali kepada etnis Tinghoa di Baturiti. Mereka saling terbuka, menghormati dan membantu satu sama lain.

Contohnya pun beragam. Etnis keturunan Tionghoa selalu memberikan sumbangan untuk segala jenis upacara manusia dan keagamaan yang ada di Desa Baturiti, seperti odalan di Pura Desa atau Pura Puseh. Ketika salah seorang etnis Bali memiliki acara kematian, etnis keturunan Tionghoa juga akan ikut melayat dan membantu.

Yang menarik, etnis keturunan Tionghoa juga terdaftar di banjar masing-masing, sehingga saat Hari Raya Nyepi tiba, pemuda-pemudi Tionghoa di Desa Baturiti juga ikut menjadi bagian dari pawai ogoh-ogoh di bawah naungan seka teruna masing-masing.

Jika etnis keturunan Tionghoa memiliki acara, etnis Bali juga akan mengulurkan tangannya memberi bantuan, menyumbangkan pikiran mereka, tenaga, bahkan materi. Contohnya seperti saat acara kematian nenek saya itu. Benar-benar acara adat kematian yang terasa Bali namun sebenarnya Cina.

Abhiseka Buddha Rupang

Contoh lain adalah saat acara Abhiseka Buddha Rupang atau menempatkan patung Buddha dalam ruang dhammasala Vihara Dhammadana, Baturiti ,pada tahun 2011. Acara tersebut sangat besar dan meriah karena melibatkan seluruh umat Buddha di seluruh Bali. Saat itu sikap toleransi dari etnis Bali sangat bisa dilihat. Warga dari empat banjar yang ada di Desa Baturiti turut ngayah.

Mereka membuat 50 penjor yang ditancapkan di sepanjang jalan raya menuju ke Vihara. Ada juga parade 32 gebogan dari ibu-ibu PKK, gamelan gong dari sekeha gong dan tarian rejang dewa dari sekaha teruna di Desa Baturiti. Mereka semua ambil bagian menyambut kedatangan arca Buddha. Suasana Bali dan Buddha juga kuat terasa.

Di hari gembira, seperti pada Hari Raya Galungan bagi umat Hindu dan Imlek bagi warga keturunan, suasana saling berbagi kebahagiaan juga tampak kental. Mereka saling ngejot atau berbagi dan saling hantar makanan satu sama lain.

Misalnya pada hari raya besar Galungan dan Kuningan, etnis Bali akan berbagi makanan khas hari raya tersebut kepada tetangga-tetangga etnis Tionghoa, seperti lawar, sate, babi guling, urutan, tum dan lain-lain. Pada hari raya besar etnis Tionghoa, yaitu Tahun Baru Imlek, giliran etnis Tionghoa untuk saling berbagi makanan dan jajanan khas Imlek kepada para tetangga etnis Bali, seperti mie panjang umur, kue lapis, kue keranjang, jeruk mandarin dan lain sebagainya.

Masih banyak wujud toleransi dan kerukunan antar etnis Tionghoa dan Bali di Desa Baturiti. Hubungan yang harmonis antara etnis Tionghoa dan umat Buddha Baturiti tentu saja menjadi warisan yang harus dijaga untuk tetap meraih kesejahteraan, kebahagiaan antarumat yang berlandaskan keluhuran budi dan hati.

Lahir, hidup, dan mati, bagi saya dan keluarga, juga bagi keluarga keturunan di Desa Baturiti, adalah ritual biasa yang tak bikin cemas. Lahir di Baturiti, hidup di Baturiti, dan mati di Baturiti, akan dibantu oleh warga Baturiti, apa pun asal-usul etnisnya.

Saya lihat dan rasakan sendiri saat nenek meninggal dan ritual menuju surga. Maka, Selamat Jalan, Nenek. Jika lahir kembali, lahirlah di Baturiti, jadi anak dari warga keturunan Tionghoa atau jadi anak warga Bali, sama saja. (T)

Peserta Anugerah Jurnalisme Warga

Tags: baliBudhahinduTionghoatoleransi
Share598TweetSendShareSend
Previous Post

Kelas Jurnalisme Warga: Ketika Anak-anak Pengungsi Bercerita

Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co