23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Warga adat Bali di Baturiti menggotong mayat nenek saya yang warga keturunan saat diantar ke kuburan di Baturiti Tabanan. /Foto: Julio

 

SUATU sore, April 2017, saya sedang mengantuk di kelas saat ikut mata kuliah di Undiksha Singaraja. Tiba-tiba saya menerima sebuah pesan singkat yang sangat menyanyat hati. Pengirimnya ayah saya. Nenek saya, ibunda ayah tercinta, telah berpulang.

Saya langsung terjaga dari kantuk. Tapi tetap tak bisa konsentrasi ikut kulih. Saya ingin cepat bergegas ke kampung halaman saya di Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dan begitu kuliah usai saya langsung meluncur ke kampung. Tentu, karena nenek termasuk satu orang yang sangat saya sayangi, dan dia menyayangi saya juga.

Kesedihan menimpali saya di atas motor, di sepanjang perjalanan pulang.

Di rumah, saya temui dan langsung larut dalam suasana adat persemayaman dan tradisi kematian yang khas etnis Tionghoa. Ya, saya dan tentu juga keluarga saya adalah etnis Tionghoa yang menetap sejak bertahun-tahun di Desa Baturiti.

Sepasang lampion putih sebagai tanda adanya orang yang meninggal telah digantung di depan rumah. Jenasah nenek telah selesai dimandikan dan dikenakan pakaian yang telah dilubangi dengan hio yang menyala, juga telah siap untuk dimasukan ke dalam peti.

Altar untuk persemayaman jenasah nenek disiapkan. Beberapa lilin menyala di dekat foto nenek. Harum dupa yang dibakar tercium memenuhi ruangan. Semua anak-anak dan cucu-cucu, juga beberapa kerabat dan sanak famili nenek menggunakan pakaian serba putih dan topi putih yang terbuat dari kain blacu.

Nuansa upacara persemayaman tersebut sangat kental rasa Tionghoa-nya. Namun tidak demikian suasana yang tampak di luar ruang persemayaman, seperti di halaman rumah dan depan rumah. Tidak ada nuansa Tionghoa sama sekali. Suasana yang terasa justru sama persis seperti suasana pada tradisi serangkaian acara kematian milik orang Hindu Bali.

Di halaman samping rumah, beberapa wanita dewasa yang merupakan krama banjar adat di wilayah Desa Baturiti dan sekitarnya terlihat menggunakan pakaian adat Bali, kebaya dan kamen warna gelap. Mereka membantu mengurus tamu pelayat, semisal menyapa, menyiapkan hidangan, dan lain-lain.

Suasana di dapur seperti dapur orang Bali pada umumnya. Para ibu menyiapkan jamuan untuk para pelayat. Di halaman belakang, banyak pria dewasa krama banjar setempat juga berpakaian adat, dengan baju dan kain warna gelap, membantu membuat tetaring dan sarana lain. Pada malam hari mereka megebagan (berjaga) agar rumah duka tidak sepi sekaligus agar keluarga yang berduka bisa istirahat dan konsentrasi mengikuti ritual.

Saat acara pembakaran jenasah, peti nenek tidak diangkut menggunakan mobil milik sebuah yayasan suka duka pada umumnya, namun digotong oleh krama Bali menuju kuburan yang letaknya 5 kilometer dari rumah saya. Warga etnis Bali dan Tionghoa dengan pakaian khas masing-masing tampak bercampur-aduk dalam sebuah ritual.

Mereka memang mudah dikenali dari pakaiannya. Warga etnis Tionghoa menggunakan pakaian pakaian serba putih, sedangkan warga etnis Bali menggunakan pakaian serba hitam atau warga gelap. Namun ekspresi ketulusan dari wajah-wajah mereka tampak sama. Suara gamelan dari sekaa gong juga ikut menemani perjalanan nenek saya menuju tempat pembakaran di kuburan. Suasana adat Tionghoa dan Bali benar-benar menjadi satu. Mereka bareng-bareng ngayah, mereka ngayah bareng-bareng.

Bukan Hal Baru

Suasana seperti itu bukanlah hal yang baru di Desa Baturiti. Etnis keturunan dan krama Bali di Baturiti memang sudah seperti keluarga sejak lama. Dari sekian ribu jumlah penduduk di Baturiti, sekitar 200 orang di antaranya adalah etnis keturunan Tionghoa, salah satunya adalah keluarga saya sendiri.

Erlina Kang Adiguna, atau yang lebih dikenal dengan Mama Leon, juga merupakan etnis keturunan Tionghoa yang menjadi warga atau penduduk Desa Baturiti. Tahun masuknya etnis keturunan Tionghoa ke Desa Baturiti tidak diketahui secara pasti, namun jalinan antara keduanya diyakini bermula dan semakin erat dengan hadirnya tujuh orang sesepuh dari negeri Cina ke Desa Baturiti.

Mereka tidak membawa bekal apa-apa, namun mereka mewarisi berbagai hal yang bermanfaat di kemudian hari bagi warga etnis Tionghoa yang bermukim di desa itu, seperti cara-cara berdagang, bertani, serta ajaran-ajaran kehidupan yang bijak serta penanaman etos kerja dan lain-lain.

Pergaulan warga etnis Tionghoa di Baturiti makin berkembang setelah didirikannya perkumpulan Tiong Hwa Hwe Tjoe Batoeriti atau Perkumpulan Cing Bing Kongsi Baturiti pada 28 April 1931. Perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan yang menghimpun orang-orang Tionghoa di Desa Baturiti dengan tujuan membantu etnis Tionghoa yang meninggal dunia.

Toleransi dan kerukunan etnis keturunan Tionghoa dan krama Bali di Desa Baturiti sudah menjadi budaya tersendiri yang dijaga oleh masyarakat di desa itu, baik oleh masyarakat etnis Tionghoa maupun warga lokal Desa Baturiti. Etnis keturunan Tionghoa selalu mencerminkan sikap toleransi dan kerukunan yang tinggi kepada etnis Bali, begitu pula etnis Bali kepada etnis Tinghoa di Baturiti. Mereka saling terbuka, menghormati dan membantu satu sama lain.

Contohnya pun beragam. Etnis keturunan Tionghoa selalu memberikan sumbangan untuk segala jenis upacara manusia dan keagamaan yang ada di Desa Baturiti, seperti odalan di Pura Desa atau Pura Puseh. Ketika salah seorang etnis Bali memiliki acara kematian, etnis keturunan Tionghoa juga akan ikut melayat dan membantu.

Yang menarik, etnis keturunan Tionghoa juga terdaftar di banjar masing-masing, sehingga saat Hari Raya Nyepi tiba, pemuda-pemudi Tionghoa di Desa Baturiti juga ikut menjadi bagian dari pawai ogoh-ogoh di bawah naungan seka teruna masing-masing.

Jika etnis keturunan Tionghoa memiliki acara, etnis Bali juga akan mengulurkan tangannya memberi bantuan, menyumbangkan pikiran mereka, tenaga, bahkan materi. Contohnya seperti saat acara kematian nenek saya itu. Benar-benar acara adat kematian yang terasa Bali namun sebenarnya Cina.

Abhiseka Buddha Rupang

Contoh lain adalah saat acara Abhiseka Buddha Rupang atau menempatkan patung Buddha dalam ruang dhammasala Vihara Dhammadana, Baturiti ,pada tahun 2011. Acara tersebut sangat besar dan meriah karena melibatkan seluruh umat Buddha di seluruh Bali. Saat itu sikap toleransi dari etnis Bali sangat bisa dilihat. Warga dari empat banjar yang ada di Desa Baturiti turut ngayah.

Mereka membuat 50 penjor yang ditancapkan di sepanjang jalan raya menuju ke Vihara. Ada juga parade 32 gebogan dari ibu-ibu PKK, gamelan gong dari sekeha gong dan tarian rejang dewa dari sekaha teruna di Desa Baturiti. Mereka semua ambil bagian menyambut kedatangan arca Buddha. Suasana Bali dan Buddha juga kuat terasa.

Di hari gembira, seperti pada Hari Raya Galungan bagi umat Hindu dan Imlek bagi warga keturunan, suasana saling berbagi kebahagiaan juga tampak kental. Mereka saling ngejot atau berbagi dan saling hantar makanan satu sama lain.

Misalnya pada hari raya besar Galungan dan Kuningan, etnis Bali akan berbagi makanan khas hari raya tersebut kepada tetangga-tetangga etnis Tionghoa, seperti lawar, sate, babi guling, urutan, tum dan lain-lain. Pada hari raya besar etnis Tionghoa, yaitu Tahun Baru Imlek, giliran etnis Tionghoa untuk saling berbagi makanan dan jajanan khas Imlek kepada para tetangga etnis Bali, seperti mie panjang umur, kue lapis, kue keranjang, jeruk mandarin dan lain sebagainya.

Masih banyak wujud toleransi dan kerukunan antar etnis Tionghoa dan Bali di Desa Baturiti. Hubungan yang harmonis antara etnis Tionghoa dan umat Buddha Baturiti tentu saja menjadi warisan yang harus dijaga untuk tetap meraih kesejahteraan, kebahagiaan antarumat yang berlandaskan keluhuran budi dan hati.

Lahir, hidup, dan mati, bagi saya dan keluarga, juga bagi keluarga keturunan di Desa Baturiti, adalah ritual biasa yang tak bikin cemas. Lahir di Baturiti, hidup di Baturiti, dan mati di Baturiti, akan dibantu oleh warga Baturiti, apa pun asal-usul etnisnya.

Saya lihat dan rasakan sendiri saat nenek meninggal dan ritual menuju surga. Maka, Selamat Jalan, Nenek. Jika lahir kembali, lahirlah di Baturiti, jadi anak dari warga keturunan Tionghoa atau jadi anak warga Bali, sama saja. (T)

Peserta Anugerah Jurnalisme Warga

Tags: baliBudhahinduTionghoatoleransi
Share598TweetSendShareSend
Previous Post

Kelas Jurnalisme Warga: Ketika Anak-anak Pengungsi Bercerita

Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co