4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Dian Suryantini by Dian Suryantini
February 6, 2019
in Khas
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Bu Herma menyiapkan persembahan saat Imlek

Perayaan Imlek kali ini ya seperti biasa saja. Tetap bernuansa merah (bukan partai lo ya), umat Konghucu datang ke Klenteng untuk sembahyang, ada barongsai, ada angpao tentunya. Hal yang tidak biasa justru ada pada saya.

Maklum meskipun telah melewati puluhan perayaan Imlek, baru di Tahun 2019, tepatnya Selasa 5 Februari, ini saya ikut merayakan Imlek secara langsung di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang ada di Singaraja. Saya begitu menikmati proses perayaan Imlek yang dilakukan di keluarga Bu Hermawati.

Kami akrab dengan Bu Herma dalam project teater “11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” di Singaraja yang digagas sutradara Kadek Sonia Piscayanti, di mana Bu Herma adalah salah satu aktornya. Dalam project itu kami adalah kru yang bertugas di bidang produksi.

Keluarga Bu Herma ini adalah kelurga keturunan Tionghoa dari Kapitan Liem Liang An, seorang bangsawan china yang ada di Buleleng pada sekitar tahun 1800an.

Saat tiba di rumah Bu Herma, kami disambut begitu hangat oleh keluarga Bu Herma. Kami memang bukan orang asing bagi mereka. Mereka memperlakukan kami bukan sebagai tamu, melainkan seperti keluarga mereka sendiri.

Satu dari kami, gayanya boleh juga

Awalnya saya dan teman-teman yang datang ke sana merasa tidak enak, karena ketika kami datang mereka tengah sibuk mempersiapkan sarana untuk persembahan saat persembahyangan. Ada yang melipat uang kertas (bukan uang asli, tapi kertas yang diibaratkan seperti uang), ada yang menyiapkan masakan di atas altar, ada juga yang bahagia penuh tawa menikmati durian lezat.

Kami pun duduk dipojokan. Kami mojok bukan tanpa alasan, kami mojok karena kami takut mengganggu mereka yang tengah sibuk. Akan tetapi saudara bahkan Mama dari Bu Herma tidak membiarkan kami duduk di pojokan. Mereka meminta kami untuk bergabung bersama mereka.

Maka kami pun menurut saja. Karena kami tidak bisa melipat uang kertas dan tidak tahu cara menata persembahan di atas altar maka kami lebih memilih bergabung berbahagia menikmati buah durian. Karena hanya itu keahlian yang kami punya saat berada di rumah Bu Herma. Hehehehe, maklum kami bukan orang Cina tapi kami suka produk Cina. Hahaha.

Tidak berbeda jauh dengan upacara hari raya keagamaan dalam umat Hindu, di perayaan Imlek pun sarana upacara yang digunakan terbilang mirip. Ada babi gulingnya juga lo. Akan tetapi sarana yang wajib ada dalam sesajen yang disajikan di atas altar itu adalah masakan mie dan capcay, kue lapis dan kue wajik ketan, buah jeruk, anggur, apel dan pisang.

Tak ketinggalan pohon tebu yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan ukuran kurang lebih 30 cm. Tak hanya itu, kue keranjang pun menjadi hal utama yang harus disiapkan di atas altar.

Waktu pun berganti dari pagi menjadi siang. Persiapan telah selesai dilakukan. Tibalah saatnya para anggota keluarga melakukan persembahyangan di Nyolo (kalau dalam istilah Hindu mungkin itu Sanggah).

Satu persatu dari keluarga Bu Herma mengambil dupa beberapa batang kemudian dinyalakan dan bersembahyanglah mereka sebagaimana persembahyangan umat Konghucu. Saya sendiri masih terheran-heran menyaksikan cara mereka beribadah. Simple dan mendalam. Meskipun saya sudah sering melihat umat Konghucu beribadah secara langsung atau pun di TV (termasuk melihat calon ipar yang juga keturunan Tionghoa), namun saya masih tetap heran.

Sebab antara percaya dan tidak, saya berkesempatan melihat dari awal hingga akhir proses perayaan imlek dari umat Konghucu. Tak henti-hentinya dalam hati saya bergumam, “Oohh jadi begini, ya…” Hehehe.

Setelah selesai beribadah, sajian di atas altar tak langsung dimakan (di-lungsur). Namun harus bertanya dulu kepada Sang Leluhur, apakah sudah selesai menikmati hidangan ataukah belum.

Keluarga Bu Herma, Ritual Imlek

Caranya pun cukup unik. Anggota keluarga tertualah yang harus melakukannya dengan cara melemparkan sepasang kayu ke lantai yang berbentuk seperti biji buah. Jika sepasang kayu tersebut jatuh dengan salah satunya menutup dan satunya terbuka, artinya sajian di atas altar sudah boleh dilungsur dan dinikmati. Namun jika keduanya terbuka Sang Leluhur dipercaya sedanga tertawa dan masih menikmati hidangannya. Sementara, jika keduanya menutup maka sajian di atas altar ada yang kurang. Dan kami juga diberikan kesempatan untuk melihat mereka melakukan itu.

Ketika sajian di atas altar sudah diperbolehkan untuk dimakan, semua anggota keluarga menikmati hidangan. Hanya beberapa sajian seperi buah yang masih dibiarkan di atas altas dan dibiarkan selama semiggu. Dan buah-buah itupun dihias.

Kami juga tak melewatkan kesempatan. Malu-malu tapi mau. Kami ikut menikmati hidangan yang ada. Ada mie, capcay, sup jamur, sate babi, shamsing, babi guling dan masih banyak lagi. Kami pun mengambil mangkuk yang sudah terisi nasi. Tak lupa kami penuhi mangkuk kami dengan berbagai macam lauk.

Lalu kami duduk. Selain itu, kami juga berkesempatam menikmati minuman yang disajikan dalam cangkir kramik yang mungil. Cara minumnya itu ala-ala orang Tionghoa gitu, yang kerap saya tonton di film-film. Jadi rasa-rasanya separti main film khas Tionghoa.

Tak lama kemudian Bu Herma membawakan beberapa mangkuk yang dipenuhi dengan aneka macam lauk. Disusul oleh anak lelakinya yang katanya sebentar lagi mau menikah. Lagi-lagi, karena merasa tak enak, kami pun bilang bahwa yang ada di mangkuk kami sudah cukup. Jangan ditambah lagi. Terimakasih.

Ternyata ada hal lain yang tidak kami ketahui. Ternyata cara makan kami salah (tetoottt…). Harusnya mangkuk nasi yang kami bawa itu tidak dijejali dengan hingar bingarnya lelaukan. Tetapi nasi dalam mangkuk kami tetap dibiarkan bersih. Ketika mau makan barulah kita ambil sedikit lauk, lalu makan deh. (Yang suka nonton Drakor atau drama mandarin pasti ngerti deh gimana cara makannya, hahaha).

Tapi kami mah beda. Tetap saja kami makan ala nasi campur pinggir jalan. Hahahah, ketahuan deh yang…………(isi sendiri).

Sempat saya teringat kalau saya lahir di shio Babi dan Imlek kali ini perayaannya di tahun Babi Mas. Ahhh… saya pun jadi merasa mungkin saya chiong (sial) saat itu. Tapi tak apalah, kan baru pertama kali. Biarlah cara makan saya yang chiong (sial) asalkan asmara saya dengan si dia tidak chiong (sial) – entahlah bagaimana cara menulis ciong dengan benar.

Maafkan, hehehe. Selamat Tahun Baru Imlek 2570. Gong Xi Fa Cai.

Tags: balibulelengImlekTionghoaupacara
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Pemimpin dan Pandita

Next Post

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co