24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Dian Suryantini by Dian Suryantini
February 6, 2019
in Khas
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Bu Herma menyiapkan persembahan saat Imlek

Perayaan Imlek kali ini ya seperti biasa saja. Tetap bernuansa merah (bukan partai lo ya), umat Konghucu datang ke Klenteng untuk sembahyang, ada barongsai, ada angpao tentunya. Hal yang tidak biasa justru ada pada saya.

Maklum meskipun telah melewati puluhan perayaan Imlek, baru di Tahun 2019, tepatnya Selasa 5 Februari, ini saya ikut merayakan Imlek secara langsung di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang ada di Singaraja. Saya begitu menikmati proses perayaan Imlek yang dilakukan di keluarga Bu Hermawati.

Kami akrab dengan Bu Herma dalam project teater “11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” di Singaraja yang digagas sutradara Kadek Sonia Piscayanti, di mana Bu Herma adalah salah satu aktornya. Dalam project itu kami adalah kru yang bertugas di bidang produksi.

Keluarga Bu Herma ini adalah kelurga keturunan Tionghoa dari Kapitan Liem Liang An, seorang bangsawan china yang ada di Buleleng pada sekitar tahun 1800an.

Saat tiba di rumah Bu Herma, kami disambut begitu hangat oleh keluarga Bu Herma. Kami memang bukan orang asing bagi mereka. Mereka memperlakukan kami bukan sebagai tamu, melainkan seperti keluarga mereka sendiri.

Satu dari kami, gayanya boleh juga

Awalnya saya dan teman-teman yang datang ke sana merasa tidak enak, karena ketika kami datang mereka tengah sibuk mempersiapkan sarana untuk persembahan saat persembahyangan. Ada yang melipat uang kertas (bukan uang asli, tapi kertas yang diibaratkan seperti uang), ada yang menyiapkan masakan di atas altar, ada juga yang bahagia penuh tawa menikmati durian lezat.

Kami pun duduk dipojokan. Kami mojok bukan tanpa alasan, kami mojok karena kami takut mengganggu mereka yang tengah sibuk. Akan tetapi saudara bahkan Mama dari Bu Herma tidak membiarkan kami duduk di pojokan. Mereka meminta kami untuk bergabung bersama mereka.

Maka kami pun menurut saja. Karena kami tidak bisa melipat uang kertas dan tidak tahu cara menata persembahan di atas altar maka kami lebih memilih bergabung berbahagia menikmati buah durian. Karena hanya itu keahlian yang kami punya saat berada di rumah Bu Herma. Hehehehe, maklum kami bukan orang Cina tapi kami suka produk Cina. Hahaha.

Tidak berbeda jauh dengan upacara hari raya keagamaan dalam umat Hindu, di perayaan Imlek pun sarana upacara yang digunakan terbilang mirip. Ada babi gulingnya juga lo. Akan tetapi sarana yang wajib ada dalam sesajen yang disajikan di atas altar itu adalah masakan mie dan capcay, kue lapis dan kue wajik ketan, buah jeruk, anggur, apel dan pisang.

Tak ketinggalan pohon tebu yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan ukuran kurang lebih 30 cm. Tak hanya itu, kue keranjang pun menjadi hal utama yang harus disiapkan di atas altar.

Waktu pun berganti dari pagi menjadi siang. Persiapan telah selesai dilakukan. Tibalah saatnya para anggota keluarga melakukan persembahyangan di Nyolo (kalau dalam istilah Hindu mungkin itu Sanggah).

Satu persatu dari keluarga Bu Herma mengambil dupa beberapa batang kemudian dinyalakan dan bersembahyanglah mereka sebagaimana persembahyangan umat Konghucu. Saya sendiri masih terheran-heran menyaksikan cara mereka beribadah. Simple dan mendalam. Meskipun saya sudah sering melihat umat Konghucu beribadah secara langsung atau pun di TV (termasuk melihat calon ipar yang juga keturunan Tionghoa), namun saya masih tetap heran.

Sebab antara percaya dan tidak, saya berkesempatan melihat dari awal hingga akhir proses perayaan imlek dari umat Konghucu. Tak henti-hentinya dalam hati saya bergumam, “Oohh jadi begini, ya…” Hehehe.

Setelah selesai beribadah, sajian di atas altar tak langsung dimakan (di-lungsur). Namun harus bertanya dulu kepada Sang Leluhur, apakah sudah selesai menikmati hidangan ataukah belum.

Keluarga Bu Herma, Ritual Imlek

Caranya pun cukup unik. Anggota keluarga tertualah yang harus melakukannya dengan cara melemparkan sepasang kayu ke lantai yang berbentuk seperti biji buah. Jika sepasang kayu tersebut jatuh dengan salah satunya menutup dan satunya terbuka, artinya sajian di atas altar sudah boleh dilungsur dan dinikmati. Namun jika keduanya terbuka Sang Leluhur dipercaya sedanga tertawa dan masih menikmati hidangannya. Sementara, jika keduanya menutup maka sajian di atas altar ada yang kurang. Dan kami juga diberikan kesempatan untuk melihat mereka melakukan itu.

Ketika sajian di atas altar sudah diperbolehkan untuk dimakan, semua anggota keluarga menikmati hidangan. Hanya beberapa sajian seperi buah yang masih dibiarkan di atas altas dan dibiarkan selama semiggu. Dan buah-buah itupun dihias.

Kami juga tak melewatkan kesempatan. Malu-malu tapi mau. Kami ikut menikmati hidangan yang ada. Ada mie, capcay, sup jamur, sate babi, shamsing, babi guling dan masih banyak lagi. Kami pun mengambil mangkuk yang sudah terisi nasi. Tak lupa kami penuhi mangkuk kami dengan berbagai macam lauk.

Lalu kami duduk. Selain itu, kami juga berkesempatam menikmati minuman yang disajikan dalam cangkir kramik yang mungil. Cara minumnya itu ala-ala orang Tionghoa gitu, yang kerap saya tonton di film-film. Jadi rasa-rasanya separti main film khas Tionghoa.

Tak lama kemudian Bu Herma membawakan beberapa mangkuk yang dipenuhi dengan aneka macam lauk. Disusul oleh anak lelakinya yang katanya sebentar lagi mau menikah. Lagi-lagi, karena merasa tak enak, kami pun bilang bahwa yang ada di mangkuk kami sudah cukup. Jangan ditambah lagi. Terimakasih.

Ternyata ada hal lain yang tidak kami ketahui. Ternyata cara makan kami salah (tetoottt…). Harusnya mangkuk nasi yang kami bawa itu tidak dijejali dengan hingar bingarnya lelaukan. Tetapi nasi dalam mangkuk kami tetap dibiarkan bersih. Ketika mau makan barulah kita ambil sedikit lauk, lalu makan deh. (Yang suka nonton Drakor atau drama mandarin pasti ngerti deh gimana cara makannya, hahaha).

Tapi kami mah beda. Tetap saja kami makan ala nasi campur pinggir jalan. Hahahah, ketahuan deh yang…………(isi sendiri).

Sempat saya teringat kalau saya lahir di shio Babi dan Imlek kali ini perayaannya di tahun Babi Mas. Ahhh… saya pun jadi merasa mungkin saya chiong (sial) saat itu. Tapi tak apalah, kan baru pertama kali. Biarlah cara makan saya yang chiong (sial) asalkan asmara saya dengan si dia tidak chiong (sial) – entahlah bagaimana cara menulis ciong dengan benar.

Maafkan, hehehe. Selamat Tahun Baru Imlek 2570. Gong Xi Fa Cai.

Tags: balibulelengImlekTionghoaupacara
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Pemimpin dan Pandita

Next Post

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co