4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Dian Suryantini by Dian Suryantini
February 6, 2019
in Khas
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Bu Herma menyiapkan persembahan saat Imlek

Perayaan Imlek kali ini ya seperti biasa saja. Tetap bernuansa merah (bukan partai lo ya), umat Konghucu datang ke Klenteng untuk sembahyang, ada barongsai, ada angpao tentunya. Hal yang tidak biasa justru ada pada saya.

Maklum meskipun telah melewati puluhan perayaan Imlek, baru di Tahun 2019, tepatnya Selasa 5 Februari, ini saya ikut merayakan Imlek secara langsung di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang ada di Singaraja. Saya begitu menikmati proses perayaan Imlek yang dilakukan di keluarga Bu Hermawati.

Kami akrab dengan Bu Herma dalam project teater “11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” di Singaraja yang digagas sutradara Kadek Sonia Piscayanti, di mana Bu Herma adalah salah satu aktornya. Dalam project itu kami adalah kru yang bertugas di bidang produksi.

Keluarga Bu Herma ini adalah kelurga keturunan Tionghoa dari Kapitan Liem Liang An, seorang bangsawan china yang ada di Buleleng pada sekitar tahun 1800an.

Saat tiba di rumah Bu Herma, kami disambut begitu hangat oleh keluarga Bu Herma. Kami memang bukan orang asing bagi mereka. Mereka memperlakukan kami bukan sebagai tamu, melainkan seperti keluarga mereka sendiri.

Satu dari kami, gayanya boleh juga

Awalnya saya dan teman-teman yang datang ke sana merasa tidak enak, karena ketika kami datang mereka tengah sibuk mempersiapkan sarana untuk persembahan saat persembahyangan. Ada yang melipat uang kertas (bukan uang asli, tapi kertas yang diibaratkan seperti uang), ada yang menyiapkan masakan di atas altar, ada juga yang bahagia penuh tawa menikmati durian lezat.

Kami pun duduk dipojokan. Kami mojok bukan tanpa alasan, kami mojok karena kami takut mengganggu mereka yang tengah sibuk. Akan tetapi saudara bahkan Mama dari Bu Herma tidak membiarkan kami duduk di pojokan. Mereka meminta kami untuk bergabung bersama mereka.

Maka kami pun menurut saja. Karena kami tidak bisa melipat uang kertas dan tidak tahu cara menata persembahan di atas altar maka kami lebih memilih bergabung berbahagia menikmati buah durian. Karena hanya itu keahlian yang kami punya saat berada di rumah Bu Herma. Hehehehe, maklum kami bukan orang Cina tapi kami suka produk Cina. Hahaha.

Tidak berbeda jauh dengan upacara hari raya keagamaan dalam umat Hindu, di perayaan Imlek pun sarana upacara yang digunakan terbilang mirip. Ada babi gulingnya juga lo. Akan tetapi sarana yang wajib ada dalam sesajen yang disajikan di atas altar itu adalah masakan mie dan capcay, kue lapis dan kue wajik ketan, buah jeruk, anggur, apel dan pisang.

Tak ketinggalan pohon tebu yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan ukuran kurang lebih 30 cm. Tak hanya itu, kue keranjang pun menjadi hal utama yang harus disiapkan di atas altar.

Waktu pun berganti dari pagi menjadi siang. Persiapan telah selesai dilakukan. Tibalah saatnya para anggota keluarga melakukan persembahyangan di Nyolo (kalau dalam istilah Hindu mungkin itu Sanggah).

Satu persatu dari keluarga Bu Herma mengambil dupa beberapa batang kemudian dinyalakan dan bersembahyanglah mereka sebagaimana persembahyangan umat Konghucu. Saya sendiri masih terheran-heran menyaksikan cara mereka beribadah. Simple dan mendalam. Meskipun saya sudah sering melihat umat Konghucu beribadah secara langsung atau pun di TV (termasuk melihat calon ipar yang juga keturunan Tionghoa), namun saya masih tetap heran.

Sebab antara percaya dan tidak, saya berkesempatan melihat dari awal hingga akhir proses perayaan imlek dari umat Konghucu. Tak henti-hentinya dalam hati saya bergumam, “Oohh jadi begini, ya…” Hehehe.

Setelah selesai beribadah, sajian di atas altar tak langsung dimakan (di-lungsur). Namun harus bertanya dulu kepada Sang Leluhur, apakah sudah selesai menikmati hidangan ataukah belum.

Keluarga Bu Herma, Ritual Imlek

Caranya pun cukup unik. Anggota keluarga tertualah yang harus melakukannya dengan cara melemparkan sepasang kayu ke lantai yang berbentuk seperti biji buah. Jika sepasang kayu tersebut jatuh dengan salah satunya menutup dan satunya terbuka, artinya sajian di atas altar sudah boleh dilungsur dan dinikmati. Namun jika keduanya terbuka Sang Leluhur dipercaya sedanga tertawa dan masih menikmati hidangannya. Sementara, jika keduanya menutup maka sajian di atas altar ada yang kurang. Dan kami juga diberikan kesempatan untuk melihat mereka melakukan itu.

Ketika sajian di atas altar sudah diperbolehkan untuk dimakan, semua anggota keluarga menikmati hidangan. Hanya beberapa sajian seperi buah yang masih dibiarkan di atas altas dan dibiarkan selama semiggu. Dan buah-buah itupun dihias.

Kami juga tak melewatkan kesempatan. Malu-malu tapi mau. Kami ikut menikmati hidangan yang ada. Ada mie, capcay, sup jamur, sate babi, shamsing, babi guling dan masih banyak lagi. Kami pun mengambil mangkuk yang sudah terisi nasi. Tak lupa kami penuhi mangkuk kami dengan berbagai macam lauk.

Lalu kami duduk. Selain itu, kami juga berkesempatam menikmati minuman yang disajikan dalam cangkir kramik yang mungil. Cara minumnya itu ala-ala orang Tionghoa gitu, yang kerap saya tonton di film-film. Jadi rasa-rasanya separti main film khas Tionghoa.

Tak lama kemudian Bu Herma membawakan beberapa mangkuk yang dipenuhi dengan aneka macam lauk. Disusul oleh anak lelakinya yang katanya sebentar lagi mau menikah. Lagi-lagi, karena merasa tak enak, kami pun bilang bahwa yang ada di mangkuk kami sudah cukup. Jangan ditambah lagi. Terimakasih.

Ternyata ada hal lain yang tidak kami ketahui. Ternyata cara makan kami salah (tetoottt…). Harusnya mangkuk nasi yang kami bawa itu tidak dijejali dengan hingar bingarnya lelaukan. Tetapi nasi dalam mangkuk kami tetap dibiarkan bersih. Ketika mau makan barulah kita ambil sedikit lauk, lalu makan deh. (Yang suka nonton Drakor atau drama mandarin pasti ngerti deh gimana cara makannya, hahaha).

Tapi kami mah beda. Tetap saja kami makan ala nasi campur pinggir jalan. Hahahah, ketahuan deh yang…………(isi sendiri).

Sempat saya teringat kalau saya lahir di shio Babi dan Imlek kali ini perayaannya di tahun Babi Mas. Ahhh… saya pun jadi merasa mungkin saya chiong (sial) saat itu. Tapi tak apalah, kan baru pertama kali. Biarlah cara makan saya yang chiong (sial) asalkan asmara saya dengan si dia tidak chiong (sial) – entahlah bagaimana cara menulis ciong dengan benar.

Maafkan, hehehe. Selamat Tahun Baru Imlek 2570. Gong Xi Fa Cai.

Tags: balibulelengImlekTionghoaupacara
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Pemimpin dan Pandita

Next Post

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co