25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Pandita

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hidup sebagai rakyat biasa di negara Telaga, maka saya harus mengatakan, pemimpin dan pandita adalah tulang punggung negara. Keduanya memiliki andil besar dalam keberlangsungan ketatanegaraan. Jika keduanya tidak harmonis, maka hancurlah negara Telaga.

Negara bisa maju dalam berbagai bidang semisal ekonomi, teknologi, sains, tapi kemudian hancur karena tidak ada kecerdasan buddhi di dalamnya. Jika pun kemudian orang-orang yang konon suci hanya mengajarkan tentang baiknya memuja Yang Kudus tanpa peduli sekitar, negara sudah di ambang batas kehancuran. Lalu bagaimana?

Maka janganlah salah memilih pemimpin juga pandita. Sebab akan mempengaruhi kehidupan anak semua wangsa. Itulah yang musti dilakukan oleh rakyat sebagai tenaga penggerak (bayu) dalam tubuh negara. Sudah tidak ada waktu lagi! Pemimpin harus segera dipilih dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, jika tidak maka negara akan kacau dan serigala-serigala yang sudah lama mengintai akan datang dan menerkam diam-diam. Jangan juga golput, karena satu suara rakyat sangat berharga!

Pilihlah yang menguasai ketatanegaraan dan ketata-agama-an. Itu saran saya sebagai Cangak yang belajar banyak. Bukankah keduanya adalah pokok ajaran yang mestinya dipahami oleh pemimpin yang baik untuk memimpin negeri yang dipenuhi rakyat spiritualis ini?

Sungguh tidak mudah mempelajari keduanya sekaligus. Terus terang dahulu ketika masih sangat muda, saya pernah belajar keduanya. Saat belajar itulah, saya meyakini ada beberapa ciri-ciri pemimpin dan pandita yang baik. Apakah sodara-sodara sewangsa, selangit, setanah air ingin mengetahuinya? Anggaplah sodara ingin, jika tidak ingin pun, saya harus tetap menjelaskannya, sebab inilah gunanya saya belajar sejak lama. Begini isinya.

Pemimpin ikan-ikan di negeri Telaga idealnya memiliki delapan sifat kepemimpinan sebagaimana diajarkan pada tingkat sekolah dasar. Untuk kepentingan penjelasan ini agar runut, saya harus kembali mengingatkan pada sodara-sodara para bijaksanawan-bijaksanawati Asta Brata; menurunkan anugerah hujan (dana)  seperti Indra, adil seperti Yama, menyinari seperti Surya, menyejukkan seperti Bulan, mengetahui semua tempat seperti Bayu, memperhatikan kesejahteraan seperti Kuwera, menakutkan bagi yang jahat seperti Baruna, dan penuh semangat seperti Agni.

Ada lagi sembilan sifat pemimpin yang jarang dipelajari, Nawa Natya namanya. Berburu seperti Mrega (macan), berenang seperti ikan (Matsya), penuh cinta (Srengga), mahir dalam perang (Samara), mahir dalam keindahan (Kalangwan), bertangan dingin (Pana), hati-hati dalam berjudi (Dyuta), memiliki rasa humor (Asya), dan pekerja keras (Shrama).

Belum lagi jika membaca geguritan Niti Raja Sasana, ada enam belas brata pemimpin di dalamnya. Teguh seperti gunung (Giri), hati-hati memerintah dan tidak mudah percaya pada kata-kata sembarangan (Indra), merata memberikan dana (Mretawarsa), melenyapkan yang jahat (Geni), menerima kesalahan dan pengampun (Lawana), tidak bingung (Mrega), berwibawa seperti singa (Singha), bergerak cepat dalam perang (Anila), penuh kasih (Sata), hati-hati berkata dan memilih makanan (Mayura), mengasihi rakyat (Cataka), dapat meramalkan kematian (Kaganila), tidak bertindak jika ragu (Wyaghra), memilih tempat yang baik untuk makan (Cundaga), menjadikan yang pandai sebagai utusan (Cundaga), dan bersikap adil (Yama). Sebegitulah banyaknya menurut shastra yang harus dipelajari, dipahami dan diingat oleh pemimpin. Tapi masa kini, jarang pemimpin yang ingat tentang yang begitu-begitu. Jangankan dasar shastra, pada janji sendiri saja mereka sering lupa.

Jika sodara membacanya saja sudah pusing, percayalah bahwa bukan tugas sodara menjadi pemimpin. Tiap-tiap orang memiliki tugas tersendiri tentunya. Bayangkan bagaimana Cangak seperti saya harus mempelajari semua itu, dan juga harus mengingatnya dengan detail. Percayalah itu berat, biar saya saja.

Pelajaran tentang kepemimpinan, memang memusingkan. Apalagi harus juga belajar tentang kepanditaan. Tambah pusing lagi. Tapi itu pusing, sejenis pusing-pusing menyenangkan. Hanya bisa dinikmati oleh Cangak yang sudah sejak lama belajar. Jangan kira guru ikan-ikan suci tidak memiliki kriteria untuk disebut baik. Absolutely NO!

Harus kuwakuwi memampang foto kalem di media sosial saja tidak cukup. Musti dibarengi dengan kata-kata meneduhkan bagi orang-orang kepanasan oleh ini dan itu. Sesekali pamer pekerjaan sebagai rohaniawan juga bisa mendongkrak popularitas. Hati-hati jangan sampai terkenal karena tiba-tiba terjangkit kasus hukum.

Apa sodara tahu apa saja kriteria menjadi pandita? Jika tidak, maka perkenankanlah saya menjelaskan kepada sodara-sodara sekalian para pembaca yang baik dan budiman tentang bagian kecil dari hasil belajar saya.

Asta Brata juga namanya delapan brata untuk Pandita; tidak suka marah-marah apalagi ngambekan(Akroda), suka berkata yang benar (Satyam), jujur pada diri (Sambwibhaga), teguh pendirian (Acarwan), berpengetahuan luas (Bhuwanarya), memahami perkembangan psikologi msyarakat (Desa Pakraman), berpengetahuan penyucian (Panyupatan Mahayuning Rat), dan menguasai jnana (Tattwajnana).

Ada lagi tiga kriteria lainnya: mengetahui segala kenyataan (Jnana Bhyudreka), kesucian yang tidak terkena kekotoran (Indriya Yoga Marga), dan pembersihan pikiran (Tresna Dosasaya). Itu saja sudah cukup banyak untuk dipahami oleh orang-orang yang mengikat dirinya dengan janji sebagai pejalan di jalan suci bernama Pandita.

Pandita berarti ia yang telah bijaksana! Tidak ada orang bijaksana marah-marah, cepat tersinggung, penyebar hoax, tidak tetap pendirian, pengetahuannya sempit, tidak peka, pedofil, dan tidak tahu kapan saatnya mati.Oleh sebab itu, maka ketidakjelasan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikepemimpinan dan prikepanditaan.

Siapa yang berhak jadi pemimpin dan pandita? Sodara-sodara sekalian, percayalah bahwa saya tidak betul-benar tahu siapa yang berhak. Tetapi untuk mengentaskan kebingungan, saya bersedia menjadi satu-satunya calon.

Saya tidaklah bermaksud menakut-nakuti, apalagi menyeram-nyeramkan. Tapi memang benar air di negara Telaga ini akan segera mengering, barangkali beberapa tahun lagi. Buatlah upacara sebesar-besarnya agar para dewa mengasihani dan segera menurunkan hujan. Jika hujan sudah turun, itulah pertanda para dewa sangat amat senang sekali dengan upacara itu.

Jika hujannya deras lalu jadi banjir, itu berarti kutukan, para dewa tidak senang dan harus segera dibuatkan upacara yang lebih besar lagi. Jika sodara-sodara tidak mengerti bagaimana membuat upacara besar, tenanglah, ada saya. Saya yang akan menanggung semuanya, sodara cukup hanya duduk diam, dan menonton.

Saya hanya butuh bantuan beberapa orang kepercayaan saya untuk menyiapkan piranti-pirantinya. Dan sebagai balas jasa kepada mereka, sebaiknya sodara memberikan sekadarnya penghargaan. Jangan hitung saya, karena saya sudah tidak lagi butuh penghargaan. Semuanya saya miliki tanpa memiliki. Hilang tapi tidak merasa kehilangan. Aku ada bukan milikku.

Begitulah sodara-sodara para ikan sekalian, pemimpin-pandita harus segera ditemukan. Jika tidak, siap-siaplah ikut mengering di Telaga ini. Jika panas matahari sudah mulai membakar ekor, maka sesegera mungkin semua ikan akan kehilangan kewarasan. Kakeknya ikan akan menelan cucunya, ayah menyakiti ibu, ibu merongrong bapak, anak-anak hilang hormatnya pada orang tua, orang tua menyakiti anak.

Guru-guru yang konon suci mulai tidak terkendali, suka berantem berebut harta, berebut pemuja, berebut murid, berebut batu paras, berebut ngomong. Tentu tidak tepat jika kemudian, guru-guru itu disebut seperti gerombolan semut pencari makan. Tidak ada lagi perlindungan. Semua kejahatan menjadi kasat mata. Sebab ditutupi tameng super halus, salah satunya bernama agama dan spiritual.Tentu agama dan spiritual bukan tameng, tapi begitulah caranya para guru-guru suci ikan memperlakukan keduanya. Tempat berlindung tidak terlindungi. Penjahat memegang tahta dan duduk di singgasana. Siapkah sodara-sodara?

Saya Cangak yang bisa meramalkan masa depan sodara-sodara. Di dalam pengelihatan saya tentang masa depan, terlihat jelas masa depan yang buram. Maka mari menyeberang, jangan ditunggu lagi. Saya yang akan membimbing sodara-sodara menuju tempat yang baru. Di suatu tempat nun jauh disana, ada telaga yang lebih segar dengan air yang tak habis-habis, tidak kering-kering. Teratai tumbuh dimana-mana. Jadi jangan ragu lagi. Come on beibeh! (T)

Baca Juga: Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tags: filsafatnegarapemimpinpendetarenungan
Share131TweetSendShareSend
Previous Post

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Next Post

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co