4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Pandita

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hidup sebagai rakyat biasa di negara Telaga, maka saya harus mengatakan, pemimpin dan pandita adalah tulang punggung negara. Keduanya memiliki andil besar dalam keberlangsungan ketatanegaraan. Jika keduanya tidak harmonis, maka hancurlah negara Telaga.

Negara bisa maju dalam berbagai bidang semisal ekonomi, teknologi, sains, tapi kemudian hancur karena tidak ada kecerdasan buddhi di dalamnya. Jika pun kemudian orang-orang yang konon suci hanya mengajarkan tentang baiknya memuja Yang Kudus tanpa peduli sekitar, negara sudah di ambang batas kehancuran. Lalu bagaimana?

Maka janganlah salah memilih pemimpin juga pandita. Sebab akan mempengaruhi kehidupan anak semua wangsa. Itulah yang musti dilakukan oleh rakyat sebagai tenaga penggerak (bayu) dalam tubuh negara. Sudah tidak ada waktu lagi! Pemimpin harus segera dipilih dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, jika tidak maka negara akan kacau dan serigala-serigala yang sudah lama mengintai akan datang dan menerkam diam-diam. Jangan juga golput, karena satu suara rakyat sangat berharga!

Pilihlah yang menguasai ketatanegaraan dan ketata-agama-an. Itu saran saya sebagai Cangak yang belajar banyak. Bukankah keduanya adalah pokok ajaran yang mestinya dipahami oleh pemimpin yang baik untuk memimpin negeri yang dipenuhi rakyat spiritualis ini?

Sungguh tidak mudah mempelajari keduanya sekaligus. Terus terang dahulu ketika masih sangat muda, saya pernah belajar keduanya. Saat belajar itulah, saya meyakini ada beberapa ciri-ciri pemimpin dan pandita yang baik. Apakah sodara-sodara sewangsa, selangit, setanah air ingin mengetahuinya? Anggaplah sodara ingin, jika tidak ingin pun, saya harus tetap menjelaskannya, sebab inilah gunanya saya belajar sejak lama. Begini isinya.

Pemimpin ikan-ikan di negeri Telaga idealnya memiliki delapan sifat kepemimpinan sebagaimana diajarkan pada tingkat sekolah dasar. Untuk kepentingan penjelasan ini agar runut, saya harus kembali mengingatkan pada sodara-sodara para bijaksanawan-bijaksanawati Asta Brata; menurunkan anugerah hujan (dana)  seperti Indra, adil seperti Yama, menyinari seperti Surya, menyejukkan seperti Bulan, mengetahui semua tempat seperti Bayu, memperhatikan kesejahteraan seperti Kuwera, menakutkan bagi yang jahat seperti Baruna, dan penuh semangat seperti Agni.

Ada lagi sembilan sifat pemimpin yang jarang dipelajari, Nawa Natya namanya. Berburu seperti Mrega (macan), berenang seperti ikan (Matsya), penuh cinta (Srengga), mahir dalam perang (Samara), mahir dalam keindahan (Kalangwan), bertangan dingin (Pana), hati-hati dalam berjudi (Dyuta), memiliki rasa humor (Asya), dan pekerja keras (Shrama).

Belum lagi jika membaca geguritan Niti Raja Sasana, ada enam belas brata pemimpin di dalamnya. Teguh seperti gunung (Giri), hati-hati memerintah dan tidak mudah percaya pada kata-kata sembarangan (Indra), merata memberikan dana (Mretawarsa), melenyapkan yang jahat (Geni), menerima kesalahan dan pengampun (Lawana), tidak bingung (Mrega), berwibawa seperti singa (Singha), bergerak cepat dalam perang (Anila), penuh kasih (Sata), hati-hati berkata dan memilih makanan (Mayura), mengasihi rakyat (Cataka), dapat meramalkan kematian (Kaganila), tidak bertindak jika ragu (Wyaghra), memilih tempat yang baik untuk makan (Cundaga), menjadikan yang pandai sebagai utusan (Cundaga), dan bersikap adil (Yama). Sebegitulah banyaknya menurut shastra yang harus dipelajari, dipahami dan diingat oleh pemimpin. Tapi masa kini, jarang pemimpin yang ingat tentang yang begitu-begitu. Jangankan dasar shastra, pada janji sendiri saja mereka sering lupa.

Jika sodara membacanya saja sudah pusing, percayalah bahwa bukan tugas sodara menjadi pemimpin. Tiap-tiap orang memiliki tugas tersendiri tentunya. Bayangkan bagaimana Cangak seperti saya harus mempelajari semua itu, dan juga harus mengingatnya dengan detail. Percayalah itu berat, biar saya saja.

Pelajaran tentang kepemimpinan, memang memusingkan. Apalagi harus juga belajar tentang kepanditaan. Tambah pusing lagi. Tapi itu pusing, sejenis pusing-pusing menyenangkan. Hanya bisa dinikmati oleh Cangak yang sudah sejak lama belajar. Jangan kira guru ikan-ikan suci tidak memiliki kriteria untuk disebut baik. Absolutely NO!

Harus kuwakuwi memampang foto kalem di media sosial saja tidak cukup. Musti dibarengi dengan kata-kata meneduhkan bagi orang-orang kepanasan oleh ini dan itu. Sesekali pamer pekerjaan sebagai rohaniawan juga bisa mendongkrak popularitas. Hati-hati jangan sampai terkenal karena tiba-tiba terjangkit kasus hukum.

Apa sodara tahu apa saja kriteria menjadi pandita? Jika tidak, maka perkenankanlah saya menjelaskan kepada sodara-sodara sekalian para pembaca yang baik dan budiman tentang bagian kecil dari hasil belajar saya.

Asta Brata juga namanya delapan brata untuk Pandita; tidak suka marah-marah apalagi ngambekan(Akroda), suka berkata yang benar (Satyam), jujur pada diri (Sambwibhaga), teguh pendirian (Acarwan), berpengetahuan luas (Bhuwanarya), memahami perkembangan psikologi msyarakat (Desa Pakraman), berpengetahuan penyucian (Panyupatan Mahayuning Rat), dan menguasai jnana (Tattwajnana).

Ada lagi tiga kriteria lainnya: mengetahui segala kenyataan (Jnana Bhyudreka), kesucian yang tidak terkena kekotoran (Indriya Yoga Marga), dan pembersihan pikiran (Tresna Dosasaya). Itu saja sudah cukup banyak untuk dipahami oleh orang-orang yang mengikat dirinya dengan janji sebagai pejalan di jalan suci bernama Pandita.

Pandita berarti ia yang telah bijaksana! Tidak ada orang bijaksana marah-marah, cepat tersinggung, penyebar hoax, tidak tetap pendirian, pengetahuannya sempit, tidak peka, pedofil, dan tidak tahu kapan saatnya mati.Oleh sebab itu, maka ketidakjelasan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikepemimpinan dan prikepanditaan.

Siapa yang berhak jadi pemimpin dan pandita? Sodara-sodara sekalian, percayalah bahwa saya tidak betul-benar tahu siapa yang berhak. Tetapi untuk mengentaskan kebingungan, saya bersedia menjadi satu-satunya calon.

Saya tidaklah bermaksud menakut-nakuti, apalagi menyeram-nyeramkan. Tapi memang benar air di negara Telaga ini akan segera mengering, barangkali beberapa tahun lagi. Buatlah upacara sebesar-besarnya agar para dewa mengasihani dan segera menurunkan hujan. Jika hujan sudah turun, itulah pertanda para dewa sangat amat senang sekali dengan upacara itu.

Jika hujannya deras lalu jadi banjir, itu berarti kutukan, para dewa tidak senang dan harus segera dibuatkan upacara yang lebih besar lagi. Jika sodara-sodara tidak mengerti bagaimana membuat upacara besar, tenanglah, ada saya. Saya yang akan menanggung semuanya, sodara cukup hanya duduk diam, dan menonton.

Saya hanya butuh bantuan beberapa orang kepercayaan saya untuk menyiapkan piranti-pirantinya. Dan sebagai balas jasa kepada mereka, sebaiknya sodara memberikan sekadarnya penghargaan. Jangan hitung saya, karena saya sudah tidak lagi butuh penghargaan. Semuanya saya miliki tanpa memiliki. Hilang tapi tidak merasa kehilangan. Aku ada bukan milikku.

Begitulah sodara-sodara para ikan sekalian, pemimpin-pandita harus segera ditemukan. Jika tidak, siap-siaplah ikut mengering di Telaga ini. Jika panas matahari sudah mulai membakar ekor, maka sesegera mungkin semua ikan akan kehilangan kewarasan. Kakeknya ikan akan menelan cucunya, ayah menyakiti ibu, ibu merongrong bapak, anak-anak hilang hormatnya pada orang tua, orang tua menyakiti anak.

Guru-guru yang konon suci mulai tidak terkendali, suka berantem berebut harta, berebut pemuja, berebut murid, berebut batu paras, berebut ngomong. Tentu tidak tepat jika kemudian, guru-guru itu disebut seperti gerombolan semut pencari makan. Tidak ada lagi perlindungan. Semua kejahatan menjadi kasat mata. Sebab ditutupi tameng super halus, salah satunya bernama agama dan spiritual.Tentu agama dan spiritual bukan tameng, tapi begitulah caranya para guru-guru suci ikan memperlakukan keduanya. Tempat berlindung tidak terlindungi. Penjahat memegang tahta dan duduk di singgasana. Siapkah sodara-sodara?

Saya Cangak yang bisa meramalkan masa depan sodara-sodara. Di dalam pengelihatan saya tentang masa depan, terlihat jelas masa depan yang buram. Maka mari menyeberang, jangan ditunggu lagi. Saya yang akan membimbing sodara-sodara menuju tempat yang baru. Di suatu tempat nun jauh disana, ada telaga yang lebih segar dengan air yang tak habis-habis, tidak kering-kering. Teratai tumbuh dimana-mana. Jadi jangan ragu lagi. Come on beibeh! (T)

Baca Juga: Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tags: filsafatnegarapemimpinpendetarenungan
Share131TweetSendShareSend
Previous Post

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Next Post

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co