14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
February 5, 2019
in Opini
Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Ist

“Malam ini kite ledakkan panggung wak!” ucapku, ke kawan-kawan se-band. Waktu itu kami diundang untuk tampil di panggung rakyat untuk menyambut tahun baru. Kami masih berseragam putih abu-abu.

Ini pengalaman saya:

Tepatnya saya lupa, mungkin jelang 2007. Band Pentagram diundang tampil di panggung rakyat di Jalan Tanjung Pura, Pontianak.

“Do kitak main lah di panggung depan gang aku,” pinta si kembang SMA yang tak mau saya sebut namanya, karena lupa, di jam istirahat sekolah.

 “Boleh ke, kami bawak lagu keras nih!”

“Tak ape!!” pungkasnya.

“Mantap!”

Malam jelang pergantian tahun. Kami bersiap untuk tampil. Ala Band Hardcore, ritual kami sebelum tampil ialah berdandan Gothic dengan alat make-up serba hitam; lipstick hitam, eye shadow hitam, pantat kuali hitam, eh yang terakhir ini bukan buat make-up ding.

“Wak udah seram belom?”

“Udah wak!” Balas Eko, si vokalis kedua.

Saya vokalis utama hehe. Agus di gitar, Andre di bass juga berdandan bak Band Purgatory. Hanya Maulana si drummer yang tak bermake-up, karena kulitnya udah hitam dop. Jadi percuma saja pake lipstick hitam.

Dengan penuh semangat, kami pun turun menuju ke lokasi. Saat itu Saya sempat teringat penampilan kami di panggung kampus teknik di Universitas Tanjung Pura. Kami diundang di acara Dies Natalis mereka. Mendadak disuruh bawa lagu Hardcore. Namun, dengan ciptaan sendiri. Gawatnya, kami biasa tampil tapi belum pernah ciptakan lagu. Biasa bawa lagu Slipknot, Lamb of God, paling slownkami tampil dengan lagu Metallica, atau jatuh-jatuhnya Paparoach.

Namun kami tetap mengiyakan tantangan itu. Jadilah satu lagu. Liriknya digarap boleh Eko. Alhasil lagu kami disambut meriah oleh anak-anak Kampus Teknik yang terkenal sangar itu. Mereka jingkrak-jingkrak. Kepala diputar-putar, membuat gulungan rambut gondrongnya bak kincir angin yang diputar melawan arah jarum jam.

Penampilan full dengan suara growl terbaik, keluar dari pita suara Saya dan Eko. Kelar tampil kami didatangi salah satu penonton. “Mantap wak lagunye! Ape judulnye  tuh!!” “MERAKIT TAMIYA!!!” Jawab Eko, ditambah ketawa ngakak dari kami semua.

Sampai di lokasi panggung rakyat. Kami mendadak bingung.

“Wak benar ke ini panggunggnya?” tanyaku ke Andri.

“Aok inilah tempatnye!” jawabnya.

“Woiii, sini lah!!” sapa si kembang sekolah.

“Eh benar ke endak ni, kamek main disini!”

“Benar, nanti kitak bise naik, abis ini.”

Kami mulai panas.

“Eh kau liatlah tu, yang nonton banyak emak-emak bawa anak! Terus itu yang maen Band Dangdut. Kamek nih bawa lagu keras! Hardcore!!”

“Tu kau dengarlah, suare musiknye keras, soundsistem betingkat-tingkat. Suarenye keras sampai ke sungai kapuas!” Jawab si cewek dengan polos.

“Palak Hotak die, yok boy cabot!”

Dengan perasaan kesal kami minggat tak jadi nampil. 

“Eh Do” bisik si cewek.

Aku mulai Ge-Er, “Ape?”

“Resleting kau terbuka.”

Maaak… Malunye, berarti selama turun dari  motor, udah keliatan banyak orang. Pantas emak-emak ade yg ngelirik sambil senyum-senyum. “Balek Wak, Ngopi Jak Kite!!!”.

Pesanku:

“Kami Band Hardcore! Band beraliran musik keras, dan terkadang keras dengan suara dan pesan-pesan yang kami menantang! Tapi, kami tahu diri. Kami tak mengotori telinga mereka yang tak ingin, atau tak layak mendengar musik kami (seperti emak-emak, dan anak-anak). Kami punya panggung sendiri! Kami punya pendengar sendiri! Kami ada karena selalu didengar!”

***

“Mengapa musisi kini akan diatur dalam RUU Permusikan?!!”

Pertanyaan ini mengganggu saya, semenjak beberapa hari kemarin. Saya yang dulu pernah menjadi anak Band, mungkin akan membuat aksi serupa jika RUU itu bergulir.

“RUU Permusikan membatasi ruang gerak berekspresi dalam bermusik.” Saya setuju ini.

 JRIX SID dan Seringai Band juga sejalan. Diajukan oleh Kami Musik Indonesia pada 2017, RUU Permusikan menjadi prioritas DPR tahun ini. Draf yang dibuat, banyak pasal-pasal yang terlihat aneh.

Terutama di Pasal 5, terulis:

‘Musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan, serta melawan hukum, membuat konten pornografi, memprovokasi pertentangan antarkelompok, menodai agama, membawa pengaruh negatif budaya asing dan merendahkan harkat serta martabat manusia.’

Sejumlah musisi menganggap pasal ini bisa membelenggu kebebasan berekspresi musisi. Terlebih adanya Pasal 50, yang mengatur hukuman penjara dan denda bagi yang melanggar Pasal 5.

“Saya menolak pasal-pasal yang berhubungan dengan kebebasan berekspresi.” Ungkap Glenn Fredly, saat menghadiri diskusi terkait Rancangan Undang Undang (RUU) Permusikan, di Cilandak Town Square, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin  (4/2/2019).

Anggota komisi X DPR RI sekaligus musisi Anang Hermansyah, yang sangat kental menyuarakan RUU Permusikan pun akhirnya angkat suara, “mengenai kebebasan yang dibatasi isinya macem-macem. Ada 8 poin. Draf ini bisa nggak dirubah? Bisa! Makanya masukan tadi apakah Pasal 5, nanti kalau didiskusikan bersama-sama bisa didrop dengan keputusan bersama.”

Namun, menurut pemikiran saya pribadi. Ini bukan sekedar pasal-pasal kontroversial. Ini lebih kepada bisnis yang membatasi ruang gerak. Pemusik Independent yang kini sudah tak lagi melirik Mayor Lable, sudah sejak lama gerah dengan aturan-aturan yang mengekang kreativitas demi melirik pasar yang lebih luas.

Band-band indie yang idealis gerah. Mereka buat lable sendiri, lalu laris. Sedangkan Mayor Lable kini semakin sepi peminat. Terlebih kini siapa saja bebas memanfaatkan YouTube untuk mengunggah video clip garapan sendiri. Jika diatur, maka akan ada badan hukum yang menyediakan fasilitas untuk berekspresi. Mayor Lable kembali mengiming-imingi untuk memfasilitasi, agar tidak terjerat hukum.

Jadi menurut saya, tak harus ada RUU Permusikan. (T)

Tags: musikRUU Permusikan
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

VIRAL

Next Post

Pemimpin dan Pandita

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemimpin dan Pandita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co