23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

VIRAL

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 4, 2019
in Esai
VIRAL

KOPLAK merasa belakangan ini kepalanya sering gatal-gatal. Tingkat rasa gatal itu makin hari makin keras menyerang dan rasa gatal itu bagi Koplak sudah seperti kekuasaan yang tidak lagi bisa dimusnahkan dengan beragam sampo anti ketombe. Apalagi dengan suara hiruk-pikuk yang tumpah ruah dalam ajang kontestasi Pilpres.

Rasa gatal yang menyerang kepala Koplak sudah semacam kekerasan yang masuk ke ranah privat dan sangat menganggu. Mengekang pikiran dan hati Koplak. Efeknya sebagai seorang pejabat dan berkuasa, walaupun kekuasaan Koplak kecil, bahkan nama desa tempat Koplak memimpin dan berkuasa tidak bisa ditemukan di google.

Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Koplak antara ada dan tiada. Maklum sangat terpencil, apalagi sebagai orang paling berkuasa di desanya Koplak juga merasa jubah kekuasaan yang dililitkan di lehernya sesungguhnya adalah beban berat juga bagi Koplak.

Karena bisa dibayangkan, Koplak harus mengatur desanya dengan baik. Mengurus administrasi warga desanya yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Koplak pun tidak bisa terlalu bisa bergaya memerintah ini-itu untuk warga. Warga desanya pun sangat bangga dipimpin oleh Koplak, karena Koplaklah satu-satunya sarjana yang mau pulang ke desa.

“Kalau kau ingin jadi Kades seumur hidup kami semua setuju saja, asal urusan desa kau atur dengan benar?” suatu hari seorang warga sepuh dan disegani warga desa berkata sambil berbisik. Hampir saja jantung Koplak merosot dan pindah tempat. Berkuasa seumur hidup? Koplak bergumam.

“Kau bisa mengatur desa ini sampai kau tua dan tidak sanggup lagi. Pikirkan itu. Kalau aku yang bicara, warga desa ikut saja. Aku ini semacam pemimpin agama sama seperti para pemimpin-pemimpin agama yang ribut menggunakan agama untuk melegalkan kekuasaan. Apa salahnya aku ikut-ikutan mereka. Karena pemimpin agama dijamin tidak ada salahnya. Ucapannya adalah wahyu bagi pengikutnya. Semacam perintah yang wajib ditaati pengikutnya.” Sahut lelaki tua desa itu. Koplak terdiam. Menatap mata lelaki tua di depannya.

“Bape serius?” tanya Koplak hampir tidak terdengar.

“Serius, jika ucapan Bape laku dijual untuk kebaikan desa ini apa salahnya?”

“Tiang— saya tidak suka Bape Lingsir ikut-ikutan bergaya seperti orang-orang di luar itu. Masak agama ditenteng-tenteng dan dipakai jualan. Memangnya agama bisa ditakar. Bape ingin jadi pelingsir yang bicara semaunya? Karena Bape dianggap dituakan dan mengerti petiket Bape harus selalu didengar dan memiliki kebenaran mutlak? Bape, Bape mereka di luar itu seperti jualan kecap saja, ada kecap nomor satu dan nomor dua. Bape ini bagaimana?”

Koplak bersungut-sungut. Tidak ingin sesepuh desa yang dihormatinya tertular virus viral sok berkuasa, sok benar, dan sok paling kenal Tuhan.

“Itu yang sedang viral? Saling goyang saling menghina. Kau lihat saja di TV, hiruk-pikuk seperti suasana pasar. Lebih heboh dari pasar Badung di Denpasar.” lelaki tua itu terkekeh sambul terbatuk-batuk.

“Gaya sekali Bape tahu viral segala.” Koplak berkata pelan sambil menyodorkan segelas kopi pahit dan pisang rebus. Lelaki tua itu menganggat gelas kopi menciumnya dalam-dalam.

“Adakah kebahagiaan yang lebih nikmat ketika mencium aroma kopi yang diseduh dengan rasa tulus dan penuh cinta?” tanya lelaki tua itu datar dan menatap mata Koplak. Koplak menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja semakin menjengkelkan. Ketombe-ketombe yang tumbuh di atas kepala Koplak belum juga menyerah.

“Kalimat Bape selalu bersayap.”

“Sekarang kita harus pandai-pandai memilih kata-kata. Jika ada yang tersinggung kita bisa masuk bui.ahaya jika kau kena pasal itu!” Kata lelaki itu serius.

Aslinya Koplak tidak percaya bahwa lelaki tua yang duduk dihadapannya tidak mengenal bangku sekolah. Koplak merasa pasti Pan Manda seorang lelaki yang paham betul dunia pendidikan di Bali, karena topik apa pun yang dibicarakan dengan Pan Manda. Lelaki tua itu memiliki jawaban-jawaban yang bagi Koplak sangat cerdas dan mendalam. Juga yang menyangkut kehidupan sosial dan agama di Bali.

“Apa pendapatmu tentang kekuasaan?” Suatu hari Koplak disodorkan pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Koplak pun terdiam. Lalu lelaki tua itu pun melanjutkan.

“Kekuasaan itu bisa seperti candu. Bisa merusak dirimu, juga orang yang kau kuasai.” Lelaki itu berkata sambil kembali mengangkat gelas kopinya menghirupnya dalam-dalam. Aroma kopi itu menguar bebas dan singgah di hidung Koplak.

Koplak terdiam. Teringat bagaimana persaingan dirinya ketika bersabung di arena Pildes. Apa pun yang dilakukan Koplak selalu diserang kubu yang ingin berkuasa dengan cara-cara tidak hormat.

Tetapi bagi Koplak kekuasaan itu adalah caranya ingin mengelola desa ini, Koplak tidak ingin menganggap kekuasaannya saat ini justru mengangkatnya jadi memiliki kasta sosial paling tinggi. Koplak tidak ingin kekuasaannya membuat dirinya menjadi priyayi-priyayi yang sok memiliki darah biru. Yang selalu ingin disembah, dihargai, dihormati tetapi tidak bisa menyembah, menghormati dan menghargai kehadiran orang lain.

Sampai saat ini Koplak masih yakin darah di dalam tubuhnya belum berubah warna. Masih merah. Sama dengan darah seluruh orang di desa ini. Juga darah seluruh manusia di kapal besar bernama, Indonesia ini.

Makanya Koplak heran Pilres jadi begitu berisik, menenteng cucu dianggap menggunakan anak  kecil untuk kampanye. Padahal sekali pun sebagai Presiden — orang nomor satu yang memiliki kekuasaan penuh dan memiliki tanggungjawab yang tidak kecil sebagai nakhoda kapal besar bernama, Indonesia.

Dia tetap seorang manusia, seorang kakek yang rindu pada cucunya. Kata orang-orang kerinduan kita pada cucu melebihi kerinduan kita pada anak. Itu kata orang, Koplak sendiri belum memiliki pengalaman memiliki cucu, jadi rindunya selalu untuk Kemitir – anak perempuan semata wayangnya.

Koplak juga tidak habis pikir, apa yang salah jika seorang kandidat presiden berjoget dan bergembira di hari Natal bersama saudara-saudaranya.

Belakangan apa yang viral itu yang jadi kebenaran. Isi media sosial penuh makian tidak sehat bagi negeri ini. Ketika isu golput muncul semua panik, padahal dua Paslon dan timnya itulah sumber semua yang terjadi di negeri ini. Mereka ikut menyumbangkan kegaduhan viral terhadap naiknya ketidakpercayaan pemilih pada mereka.

“Harusnya mereka berdua dan timnya berpikir sedikitlah. Bertarunglah memikirkan visi-misi masa depan Indonesia. Isu lingkungan, isu teknologi, dan isu mau dibawa kemana generasi milineal ini. Ini kok malah rebutan jadi tokoh viral!” Pan Manda menatap mata Koplak sambil meneguk kopi di depannya.

Viral? Apakah kalau sudah viral semua persoalan negeri ini bisa tuntas? Hidup jadi lebih baik? Beragam bencana kabur? Koplak menggaruk kepalanya. Belum juga hilang ketombe sialan ini! (T)

Tags: desagaya hidupmedia sosialrenungan
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Tampang Boyolali Menginap di Villa

Next Post

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co