23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

VIRAL

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 4, 2019
in Esai
VIRAL

KOPLAK merasa belakangan ini kepalanya sering gatal-gatal. Tingkat rasa gatal itu makin hari makin keras menyerang dan rasa gatal itu bagi Koplak sudah seperti kekuasaan yang tidak lagi bisa dimusnahkan dengan beragam sampo anti ketombe. Apalagi dengan suara hiruk-pikuk yang tumpah ruah dalam ajang kontestasi Pilpres.

Rasa gatal yang menyerang kepala Koplak sudah semacam kekerasan yang masuk ke ranah privat dan sangat menganggu. Mengekang pikiran dan hati Koplak. Efeknya sebagai seorang pejabat dan berkuasa, walaupun kekuasaan Koplak kecil, bahkan nama desa tempat Koplak memimpin dan berkuasa tidak bisa ditemukan di google.

Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Koplak antara ada dan tiada. Maklum sangat terpencil, apalagi sebagai orang paling berkuasa di desanya Koplak juga merasa jubah kekuasaan yang dililitkan di lehernya sesungguhnya adalah beban berat juga bagi Koplak.

Karena bisa dibayangkan, Koplak harus mengatur desanya dengan baik. Mengurus administrasi warga desanya yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Koplak pun tidak bisa terlalu bisa bergaya memerintah ini-itu untuk warga. Warga desanya pun sangat bangga dipimpin oleh Koplak, karena Koplaklah satu-satunya sarjana yang mau pulang ke desa.

“Kalau kau ingin jadi Kades seumur hidup kami semua setuju saja, asal urusan desa kau atur dengan benar?” suatu hari seorang warga sepuh dan disegani warga desa berkata sambil berbisik. Hampir saja jantung Koplak merosot dan pindah tempat. Berkuasa seumur hidup? Koplak bergumam.

“Kau bisa mengatur desa ini sampai kau tua dan tidak sanggup lagi. Pikirkan itu. Kalau aku yang bicara, warga desa ikut saja. Aku ini semacam pemimpin agama sama seperti para pemimpin-pemimpin agama yang ribut menggunakan agama untuk melegalkan kekuasaan. Apa salahnya aku ikut-ikutan mereka. Karena pemimpin agama dijamin tidak ada salahnya. Ucapannya adalah wahyu bagi pengikutnya. Semacam perintah yang wajib ditaati pengikutnya.” Sahut lelaki tua desa itu. Koplak terdiam. Menatap mata lelaki tua di depannya.

“Bape serius?” tanya Koplak hampir tidak terdengar.

“Serius, jika ucapan Bape laku dijual untuk kebaikan desa ini apa salahnya?”

“Tiang— saya tidak suka Bape Lingsir ikut-ikutan bergaya seperti orang-orang di luar itu. Masak agama ditenteng-tenteng dan dipakai jualan. Memangnya agama bisa ditakar. Bape ingin jadi pelingsir yang bicara semaunya? Karena Bape dianggap dituakan dan mengerti petiket Bape harus selalu didengar dan memiliki kebenaran mutlak? Bape, Bape mereka di luar itu seperti jualan kecap saja, ada kecap nomor satu dan nomor dua. Bape ini bagaimana?”

Koplak bersungut-sungut. Tidak ingin sesepuh desa yang dihormatinya tertular virus viral sok berkuasa, sok benar, dan sok paling kenal Tuhan.

“Itu yang sedang viral? Saling goyang saling menghina. Kau lihat saja di TV, hiruk-pikuk seperti suasana pasar. Lebih heboh dari pasar Badung di Denpasar.” lelaki tua itu terkekeh sambul terbatuk-batuk.

“Gaya sekali Bape tahu viral segala.” Koplak berkata pelan sambil menyodorkan segelas kopi pahit dan pisang rebus. Lelaki tua itu menganggat gelas kopi menciumnya dalam-dalam.

“Adakah kebahagiaan yang lebih nikmat ketika mencium aroma kopi yang diseduh dengan rasa tulus dan penuh cinta?” tanya lelaki tua itu datar dan menatap mata Koplak. Koplak menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja semakin menjengkelkan. Ketombe-ketombe yang tumbuh di atas kepala Koplak belum juga menyerah.

“Kalimat Bape selalu bersayap.”

“Sekarang kita harus pandai-pandai memilih kata-kata. Jika ada yang tersinggung kita bisa masuk bui.ahaya jika kau kena pasal itu!” Kata lelaki itu serius.

Aslinya Koplak tidak percaya bahwa lelaki tua yang duduk dihadapannya tidak mengenal bangku sekolah. Koplak merasa pasti Pan Manda seorang lelaki yang paham betul dunia pendidikan di Bali, karena topik apa pun yang dibicarakan dengan Pan Manda. Lelaki tua itu memiliki jawaban-jawaban yang bagi Koplak sangat cerdas dan mendalam. Juga yang menyangkut kehidupan sosial dan agama di Bali.

“Apa pendapatmu tentang kekuasaan?” Suatu hari Koplak disodorkan pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Koplak pun terdiam. Lalu lelaki tua itu pun melanjutkan.

“Kekuasaan itu bisa seperti candu. Bisa merusak dirimu, juga orang yang kau kuasai.” Lelaki itu berkata sambil kembali mengangkat gelas kopinya menghirupnya dalam-dalam. Aroma kopi itu menguar bebas dan singgah di hidung Koplak.

Koplak terdiam. Teringat bagaimana persaingan dirinya ketika bersabung di arena Pildes. Apa pun yang dilakukan Koplak selalu diserang kubu yang ingin berkuasa dengan cara-cara tidak hormat.

Tetapi bagi Koplak kekuasaan itu adalah caranya ingin mengelola desa ini, Koplak tidak ingin menganggap kekuasaannya saat ini justru mengangkatnya jadi memiliki kasta sosial paling tinggi. Koplak tidak ingin kekuasaannya membuat dirinya menjadi priyayi-priyayi yang sok memiliki darah biru. Yang selalu ingin disembah, dihargai, dihormati tetapi tidak bisa menyembah, menghormati dan menghargai kehadiran orang lain.

Sampai saat ini Koplak masih yakin darah di dalam tubuhnya belum berubah warna. Masih merah. Sama dengan darah seluruh orang di desa ini. Juga darah seluruh manusia di kapal besar bernama, Indonesia ini.

Makanya Koplak heran Pilres jadi begitu berisik, menenteng cucu dianggap menggunakan anak  kecil untuk kampanye. Padahal sekali pun sebagai Presiden — orang nomor satu yang memiliki kekuasaan penuh dan memiliki tanggungjawab yang tidak kecil sebagai nakhoda kapal besar bernama, Indonesia.

Dia tetap seorang manusia, seorang kakek yang rindu pada cucunya. Kata orang-orang kerinduan kita pada cucu melebihi kerinduan kita pada anak. Itu kata orang, Koplak sendiri belum memiliki pengalaman memiliki cucu, jadi rindunya selalu untuk Kemitir – anak perempuan semata wayangnya.

Koplak juga tidak habis pikir, apa yang salah jika seorang kandidat presiden berjoget dan bergembira di hari Natal bersama saudara-saudaranya.

Belakangan apa yang viral itu yang jadi kebenaran. Isi media sosial penuh makian tidak sehat bagi negeri ini. Ketika isu golput muncul semua panik, padahal dua Paslon dan timnya itulah sumber semua yang terjadi di negeri ini. Mereka ikut menyumbangkan kegaduhan viral terhadap naiknya ketidakpercayaan pemilih pada mereka.

“Harusnya mereka berdua dan timnya berpikir sedikitlah. Bertarunglah memikirkan visi-misi masa depan Indonesia. Isu lingkungan, isu teknologi, dan isu mau dibawa kemana generasi milineal ini. Ini kok malah rebutan jadi tokoh viral!” Pan Manda menatap mata Koplak sambil meneguk kopi di depannya.

Viral? Apakah kalau sudah viral semua persoalan negeri ini bisa tuntas? Hidup jadi lebih baik? Beragam bencana kabur? Koplak menggaruk kepalanya. Belum juga hilang ketombe sialan ini! (T)

Tags: desagaya hidupmedia sosialrenungan
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Tampang Boyolali Menginap di Villa

Next Post

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Menggelitik RUU Permusikan – Ini Cerita Anak Band Hardcore

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co