2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makam Tanpa Bunga | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
October 19, 2024
in Cerpen
Makam Tanpa Bunga | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

SUATU KETIKA kami berziarah ke makam kakek dan nenek di pemakaman umum, pagi itu kami melihat ada satu makam yang tidak ditaburi bunga di atas gundukan tanahnya. Kami yang masih bocah pun bertanya kepada ayah, kenapa makam itu tidak ditaburi bunga, padahal masih baru? Ayah yang tidak ingin kami mengusulkan banyak pertanyaan langsung mengajak kami agar cepat-cepat meninggalkan pemakaman. Di dalam perjalanan pertanyaan itu masih berkelebat menghantui pikiranku, karena aku tidak mendapatkan jawabannya. Saat kami sudah jauh meninggalkan pemakaman, aku kembali bertanya kepada ayah.

“Yah, tadi ayah belum sempat memberikan jawaban pada kami, kenapa makam tadi tidak ditaburi bunga, padahal kan masih baru?” aku memutar ulang pertanyaan tadi.

“Ayah tidak tahu, Sam,” jawab ayah datar yang membuatku tidak puas dengan jawabannya itu. Sebab dari mimik mukanya, ayah seperti sedang menyimpan sesuatu yang sangat rahasia dan tidak berani membocorkannya pada siapa pun.

Aku diam. Tapi, pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku seperti garis orbit planet-plenat yang mengelilingi tata surya. Jika ayah tidak mau menjawabnya, biarlah nanti aku akan bertanya pada ibu atau paman. Mereka pasti tahu alasannya.

Setiba di rumah, aku melihat paman sedang membuat ukiran patung dari kayu yang begitu rumit. Tapi, adik ayah itu tampak terampil sehingga tidak sedikit patung-patung rumit yang telah dilahirkan dari kedua tangannya. Lantas aku menghampirinya.

“Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Aku memulai pembicaraan dengan paman agar bisa mengajukan pertanyaanku tadi yang belum sempat dibalas sama ayah.

“Boleh,” jawab paman sambil mengukir patung hewan di bawah tebing air terjun. Patung itu seolah hidup.

“Bukankah di dalam salah satu hadis, Nabi pernah lewat di tengah pemakaman bersama para sahabatnya dan beliau pernah mendengar jenazah yang ada di dalam kubur itu sedang disiksa, lalu beliau menancapkan satu batang pelepah kurma yang masih baru. Lalu, beliau bersabda bahwa selama batang pelepah kurma itu masih segar, maka selama itu pula siksa kubur si mayit diringankan. Jadi, selama ada peziarah yang menancapkan pelepah kurma dan selama itu pula siksanya diringankan. Betulkah begitu, Paman?” Lanjutku bertanya pada paman yang justru membuatnya menghentikan pekerjaannya. Kemudian, lelaki itu meletakkan palu dan alat ukirnya, dan duduk di kursi.

“Betul, Sam. Apa yang kau tanyakan tadi memang benar. Tapi, kenapa kamu bertanya soal itu?” paman balik bertanya.

“Tadi, ketika kami sedang berziarah ke makan kakek dan nenek, aku melihat sebuah makam baru, tapi di atas gundukan tanahnya tidak ditaburi bunga dan di nisannya juga tidak ditulis namanya. Itu sebenarnya makam siapa, Paman?”

Paman mengambil gelasnya dan menyeruput kopi dengan pelan.

“Itu adalah makam seorang pengkhianat bangsa, Sam,” jawab paman dengan memasang mimik muka penuh kemarahan. “Ia adalah orang yang telah membunuh bangsanya sendiri demi kepentingan politiknya.”

Jawaban paman membuatku makin penasaran dan ingin mengorek lebih dalam informasi tentang orang yang disebut pengkhianat bangsa itu. Apa bedanya orang biasa dengan pengkhianat? Apakah benar orang itu seorang pengkhianat bangsa? Dan bukankah kita sama-sama manusia?

“Kenapa orang itu disebut sebagai pengkhianat, Paman? Kenapa ia membunuh bangsanya sendiri hanya demi kepentingan politiknya sendiri?”

Tiba-tiba…

“Saam!”

Ibu memanggilku dari arah teras rumah. Mau tidak mau aku harus mendatangi ibu dan harus meninggalkan paman yang belum memberikan jawaban. Di dalam rumah, tampak ayah sedang makan di meja makan.

“Kamu tidak perlu mempertanyakan makam yang tadi,” ujar ayah sambil makan. “Orang-orang yang menguburkan jasad orang itu sudah tahu kalau setiap makam baru harus ditaburi bunga untuk meringankan siksa setiap orang yang dikubur.”

“Tapi, kenapa makam itu tidak, Yah?”

“Bukankah ayah barusan sudah bilang jangan bertanya soal makam itu?!” Kedua mata ayah menusuk tajam ke arah mukaku.

“Karena hanya orang itu seorang pengkhianat bangsa?”

Ayah diam.

***

Sore harinya, ketika aku sedang bermain di lapangan desa bersama teman-temanku, aku menyaksikan para tentara sedang menangkapi dan mengumpulkan rakyat kecil di tengah lapangan. Bahkan para tentara itu menyuruh kami pulang. Lalu, dari kejauhan aku mengintip dari balik semak-semak apa yang dilakukan oleh para tentara itu di sana. Mereka tampak sedang menginterogasi orang-orang lemah itu sambil mengintimidasi. Jika mereka tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh tentara itu, maka tamparan atau pukulan yang akan menjawabnya. Apakah memang sekeji itukah para tentara kita? Bukankah seharusnya mereka melindungi dan mengayomi rakyat kecil?

“Mereka itu bukan rakyat kecil biasa,” jawab ayah saat aku menanyakan apa yang aku saksikan di lapangan. “Mereka adalah komplotan para pengkhianat bangsa yang ingin menguasai negara ini.”

“Maksud, Ayah?”

“Sudah, sudah, jangan bertanya lagi soal itu!” Ayah berdiri dari kursi duduknya. Rupanya beliau masih marah karena pertanyaanku tadi pagi.

Aku melihat paman yang tampak sedang bekerja mengukir patung yang belum selesai itu. Mungkin itu pesanan seseorang yang harus diselesaikannya.

“Paman, barusan aku melihat banyak tentara menangkapi dan mengumpulkan orang-orang di lapangan desa. Lalu, mereka ditanya dan diinterogasi, bahkan mereka ada yang dipukuli.”

“Mereka ditangkap karena menjadi anggota salah satu partai yang dilarang di negara kita, Sam,” ujar paman.

Dengan panjang lebar paman menjelaskan bahwa di kota kami pernah datang seorang lelaki yang sangat pintar dan alim. Orang itu dulunya pernah tergabung dalam salah satu partai yang paling berbahaya untuk diikuti karena ideologinya dapat merusak ideologi bangsa yang telah ditanamkan oleh para pemimpin bangsa ini. Lalu, partai itu mengumpulkan massa yang kebanyakan dari kaum proletar yang berhaluan sosialis untuk melakukan pemberontakan. Di ibu kota, para pejuang pemberontakan itu berhasil menangkapi dan membunuh para perwira. Kemudian, jasad para perwira itu dibuang ke dalam sumur dan dicor.

“Mereka adalah manusia paling biadab yang pernah ada di atas muka bumi ini,” kata paman dengan geram. “Otak mereka telah diracuni oleh suatu paham politik yang dapat mengubah manusia berhati baik menjadi manusia berhati bengis. Sebut saja Pol Pot, anak seorang petani miskin di desa dan seorang guru yang baik hati. Setelah paham komunis meracuni otaknya, ia berubah menjadi manusia yang paling jahat di atas bumi Kamboja.”

“Apakah paham komunis itu tidak jauh lebih berbahaya dari paham panteis yang ingin menguasai pemerintahan dengan memakai kedok agama, Paman? Apakah paham sosialis itu tidak jauh lebih berbahaya dari paham theologis yang membawa-bawa nama Tuhan dan nabi demi makar terhadap pemimpin yang sah?”

Paman tentu saja terpana dengan pertanyaanku itu.

“Tentu saja kedua paham itu jauh lebih berbahaya dari kedua paham sebelumnya. Tapi, kita sebagai kaum alit tidak bisa melawan kekuasaan kaum elit, Sam. Kita hanya dijadikan boneka oleh para penguasa di negeri ini. Kita hanya dijadikan korban oleh para pemimpin bangsa ini.”

“Lalu, siapakah yang layak disebut sebagai pengkhianat bangsa, Paman? Apakah orang yang menginginkan kemerdekaan atas bangsanya melalui ideologi komunis, atau orang yang ingin menjual bangsanya pada penjajah melalui paham Panteis?”

“Tentu, yang jauh lebih berbahaya adalah mereka yang ingin menjual bangsa dan negaranya sendiri melalui jalan panteis, sebab mereka ingin mendapatkan kekuasaan dengan memakai kedok agama dan Tuhan sebagai topeng. Dan sampai kiamat negata kita akan terus seperti ini, dikuasai dan dipimpin oleh orang-orang ini.”

“Lalu, siapakah nama orang yang makamnya tidak ditaburi bunga itu, Paman?”

“Namanya adalah Tan. Dia adalah seorang pemikir yang menginginkan bangsanya terlepas dari paham khurafat dan tahayul yang disubur-suburkan oleh para penyebar kebohongan. Dia telah membangunkan dan menyadarkan kaum alit bahwa kita selama ini telah dijadikan alat untuk berkhianat pada presiden. Tapi, dialah yang dituduh telah mengadakan pemberontakan dan pengkhianatan terhadap pemimpin yang sah.”

***

Pagi keesokan harinya, aku dan paman berziarah ke pemakaman untuk menaburkan bunga di atas makam pahlawan tak dikenal itu. Kami memanjatkan doa ke langit agar jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara ini diterima dan segala dosanya diampuni oleh Allah. Aku yakin bahwa Tuhan Mahatahu siapa di antara mereka yang pengkhianat negara dan yang bukan, yang komunis dan yang bukan.

“Apakah paham komunis itu, Paman?”

“Meniadakan Tuhan.”

“Apakah orang yang berkhianat dan makar terhadap pemimpinnya masih layak disebut sebagai pengikut paham panteis, Paman? Apakah orang yang mencuri uang negara dengan jalan korupsi masih layak disebut sebagai orang yang bertuhan?”

“Tentu saja tidak.”

“Jadi, orang yang mengaku beragama dan bertuhan tapi memakai keduanya untuk melakukan kejahatan di muka bumi lebih berbahaya dari mereka yang mengaku komunis dan sosialis?”

“Kira-kira begitulah.” Paman menepuk-nepuk pundakku. Kami berjalan di bawah sinar matahari pagi yang ditutupi oleh awan-awan tipis yang menghiasi langit kampung kami.

“Kalian dari mana?” kata seorang bapak-bapak tua yang merupakan juru kunci pemakaman menyapa kami dengan ramah.

“Kami dari makam itu, Pak.” Paman menunjuk makam tanpa bunga itu.

“Itu makam seorang petani yang dicurigai sebagai mata-mata Tan.” Jawaban dari mulut orangtua itu membuat aku kaget bukan buatan. Begitu juga paman. Kami berdua saling berpandangan.

“Makam Tan tidak diketahui di mana. Alasannya agar kelak tidak seorang pun bangsa kita yang mengenalnya sebagai seorang pahlawan revolusi.” [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Meditasi Akhir Tahun

Next Post

Final Tajun Cup V: Misi Revans The Winner atas Planet

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Final Tajun Cup V: Misi Revans The Winner atas Planet

Final Tajun Cup V: Misi Revans The Winner atas Planet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co