24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Bersama Membangun Negeri”, Komedi Satir Untuk Para Calon Legislatif

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
May 28, 2024
in Ulas Film
Film “Bersama Membangun Negeri”, Komedi Satir Untuk Para Calon Legislatif

Adegan film Bersama Membangun Negeri | Foto: tangkap layar youtube

IA hadir di tengah-tengah gang sempit pada perumahan yang terlihat kumuh. Keberadaanya menarik perhatian lima orang anak kecil dengan menunjukkan rasa hormatnya kepada perempuan yang seakan sedang mencari solusi atas permasalahan masyarakat setempat.

Heni, menjelma layaknya sang ratu adil di tengah-tengah rasa keputusasaan masyarakat. Selayaknya politisi musiman, ia mencoba bergerak lebih dekat dengan masyarakat. Berbagai upaya ia lakukan untuk menarik simpati dari masyarakat. Seperti misal, blusukan ke perkampungan warga dan menceburkan diri pada aliran sungai yang kotor. Tentu, tak lain dan tak bukan tujuannya adalah untuk mengumpulkan kantong-kantong suara pemilih untuknya.

Sampai di sini, timbul pertanyaan, bukankah perilaku itu adalah kegiatan yang lumrah dilakukan oleh seorang politisi musiman bukan?

Hal yang menguatkan bahwa Heni merupakan politisi musiman adalah ketika ia membuat video kampanye di perkampungan yang terpinggirkan. Dalam video tersebut, Heni berhadapan dengan Satinah, seorang janda tua yang baru saja berduka atas kematian suaminya. Heni, menggunakan kesedihan Satinah sebagai objek video kampanye miliknya.

Namun, siapa sangka, Heni bersama timnya mengalami kesulitan ketika Satinah tidak dapat menangis sesuai kebutuhan video kampanye miliknya. Dalam usahanya, Heni mencoba berbagai cara untuk memancing tangis dari Satinah. Bahkan, ia sampai mengadakan casting yang diikuti oleh masyarakat guna mendapatkan aktor yang sesuai dengan kebutuhan objek video kampanye miliknya.

Ya, setidaknya itu yang saya tangkap dari alur keseluruhan dari film pendek yang berjudul Bersama Membangun Negeri (2022) karya Deo Mahameru.

Film pendek itu diputar dan didiskusikan bersama dua film pendek lainnya, Berdoa, Mulai (2022) karya Tanzilal Azizie, dan Membicarakan Kejujuran Diana (2021) karya Angkasa Ramadan.

Ketiga film itu diputar dan didiskusikan Kamis, 23 Mei 2024, serangkaian kegiatan Tatkala May May May 2024, yang digelar tatkala.co di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Suasana Pemutaran dan Diskusi Film dalam acara Tatkala May May May 2024 di Singaraja, Bali | Foto : Pande

Bersama Membangun Negeri, merupakan sebuah film pendek yang bergenre komedi satire dengan sentuhan kearifan lokal. Di mana kearifan lokal itu dihidangkan oleh Deo Mahameru—selaku sutradara—secara utuh dari pemilihan ide maupun pengemasan konsep di film pendek tersebut. Ia mencoba menghadirkan realitas sosial yang terjadi di setiap pemilihan calon legislatif.

Di film pendek itu, kesedihan masih menjadi poin penting dalam upaya meraih hasil suara dalam pertarungan pemilihan calon-calon legislatif. Ibarat sebuah tanaman, suara rakyat akan dipanen setiap lima tahun sekali dengan menggunakan alat panennya, yakni kesedihan.

Ya, di Indonesia, jika berbicara tentang rasa simpati, atau meminjam istilah sekarang “mengandung bawang” akan cepat mendapat perhatian publik. Biasanya konten-konten yang “mengandung bawang” itu masih menjadi alat kampanye yang patut diacungi jempol kinerjanya, selain blusukan dan masuk ke dalam gorong-gorong.

Alhasil, dari konten-konten yang “mengandung bawang” itu, akan lahir calon-calon pemimpin yang seakan-akan mengerti dan merasakan betul apa yang dirasakan oleh masyarakat. Sehingga, alih-alih mengedepankan visi dan misi sebagai jalan politiknya, para politisi akan lebih senang mengumbar air mata ketimbang kinerjanya.

Deo Mahameru, menggunakan gimik kesedihan dan tangisan politik sebagai konsep dasar pembuatan film pendek tersebut. Sehingga, Bersama Membangun Negeri, merupakan film yang hadir sebagai sindiran untuk calon-calon politisi agar tidak lagi menggunakan teknik menjual kesedihan sebagai alat kampanyenya. Dengan kata lain, konten-konten seperti itu sudah basi jika terus dilakukan secara berulang-ulang.

Film pendek Bersama Membangun Negeri, telah diputar diberbagai festival film, seperti Jakarta Film Week, Jogja-Netpac Asian Film Festival, Piala Maya, hingga Festival Film Bulanan. Sehingga, tak mengherankan jika film pendek garapan rumah produksi Cinemahameru ini menarik perhatian filmmaker nasional.

Mengutip laman Idntimes.com, film pendek Bersama Membangun Negeri akan diproses menjadi film panjang. Menurut Andreas Sihombing selaku produser dari film pendek tersebut, film pendek Bersama Membangun Negeri sudah ditarik oleh salah satu rumah produksi yang telah memasuki tahap pre-production dan mulai syuting di tahun 2024.

Sehingga, tak menutup kemungkinan eksplorsi ide dan konsep serta keliaran-keliaran lainnya dari Deo Mahameru akan menambah kekayaan sudut pandang dari film tersebut.

Simbol-simbol perlawanan

Uniknya—setidaknya menurut saya—dalam film pendek tersebut, Heni, si calon legislatif, menggunakan jasa kameramen untuk merekam segala aktivitas kampanyenya itu dengan tampilan yang sangat menarik perhatian saya. Kameramen itu—sebut saja si Ujang, meski di film tak disebutkan namanya—menggunakan kaos official merchandise dari band Rage Against The Machine (RATM), band rock asal California, Amerika Serikat.

Suasana Pemutaran dan Diskusi Film dalam acara Tatkala May May May 2024 di Singaraja, Bali | Foto : Pande

Sebagai orang yang suka dan menikmati musik-musik keras—Underground—tentu saya tak asing dengan kaos bergambar biksu yang sedang terbakar itu. Gambar yang sangat ikonik itu merupakan cover album berjudul “Rage Against The Machine” sebagai album pertama dari RATM yang rilis pada 3 November 1992 silam.

Cover album tersebut merupakan foto aksi membakar diri dari seorang biksu bernama Thich Quang Duc, di jalanan Saigon, yang kemudian berganti nama menjadi Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pada tahun 1963.

Aksi membakar diri tersebut merupakan sebuah bentuk kekecewaan dan aksi protes terhadap diskriminasi ras dan agama yang dilakukan pemerintah Vietnam, yang pada saat itu dipimpin oleh Ngo Dinh Diem.

Foto yang sempat mengguncang dunia pada dekade 1960-an itu merupakan buah karya fotografer Malcom Browne, seorang koresponden Associated Press. Sehingga, menurut jurnal Rocknation, album cover milik band yang terbentuk pada tahun 1991 itu masuk dalam jajaran album cover kontroversial versi Rocknation.

Suara-suara perlawanan tidak hanya ditampilkan dalam cover album saja, melainkan, dengan sentuhan gitar distorsi dari Tom Morello, RATM menghadirkan lirik-lirik politisnya dengan mengakat isu-isu sosial, politik, dan ekonomi, yang dikombinasikan dengan genre musik rock, punk, hip-hop, dan elemen-elemen musik lainnya, menjadikan band ini sebagai suara perlawanan dan aktivisme sejak awal pembentukannya pada awal tahun 1990-an.

Selain melalui musik, mereka—personal RATM—aktif dalam berbagai gerakan sosial dan politik. Mereka sering tampil dalam acara-acara protes dan mendukung berbagai kampnye hak asasi manusia, dan terlibat dalam perjuangan melawan kapitalisme dan korporasi besar, yang menjadi tema sentral dalam banyak lirik-lirik yang mereka hasilkan.

Secara garis besar, RATM adalah bukti bahwa musik dapat menjadi alat perlawanan guna mendukung perubahan sosial. Sehingga, banyak musisi maupun aktivis generasi baru yang terinspirasi oleh gaya bermusik RATM untuk tetap bersuara terhadap ketidakadilan dan ketidaksetaraan.

Apa hubungannya dengan film?

Ujang, si kameramen itu, alih-alih hidup dengan idealismenya—sesuai dengan kaos RATM yang ia kenakan, baginya, urusan perut lebih realistis ketimbang sok-sok hidup dengan idealis. Sehingga, ia rela mengorbankan sisi idealismenya demi keberlangsungan hidupnya.

Filmmaker-filmmaker join diskusi via Zoom, bersama peserta Pemutaran dan Diskusi Film | Foto: Pande

Idealis dan realistis merupakan dua sikap dan kepribadian yang saling bertolak belakang. Seseorang yang hidup dengan idealismenya akan berpaku dan berpegang teguh pada prinsip yang menurutnya paling ideal. Sehingga, seringkali keputusan yang dipilih tidak logis dan terkesan memaksakan diri.

Berbeda dengan orang yang mengedepankan sisi realistis dalam kehidupannya, orang yang realistis biasanya dapat membuat keputusan secara logis, sesuai dengan keadaan dan lebih fleksibel.

Dengan kata lain, Bersama Membangun Negeri mencoba mengingatkan keresahan sosial tersebut lewat ide dan konsep di film pendeknya itu. Hal tersebut dibenarkan oleh Deo Mahameru yang berkesempatan join diskusi via zoom bersama filmmaker-filmmaker lainnya malam itu.

Ia mengaku, adanya simbol-simbol perlawanan di film pendeknya itu bukanlah suatu kebetulan. Ia dengan sengaja memasukkan simbol-simbol yang kontras tersebut sebagai upaya untuk menyadarkan realistas sosial yang terjadi sekarang.

“Tentu saya ingin menyampaikan pesan-pesan itu di dalam film pendek ini,” ucapnya via zoom malam itu.

Lebih lanjut lagi, ia mengatakan “Di film ini, saya ingin menyampaikan bahwa di era sekarang, hidup dengan mengandalkan idealisme sangat susah dijalani, sehingga, seperti si kameramen tadi, ia harus merelakan sisi idealismenya demi urusan perutnya,” jelasnya.

Sehingga, jelas bahwa film ini mencoba memberikan pesan bahwa, meski Bersama Membangun Negeri hanya film fiksi, namun praktik-praktik politik kotor sebagaimana terjadi di film pendek tersebut merupakan praktik-praktik sosial yang sering dan lumrah dilakukan oleh seorang politisi.

Dan, jika berbicara tentang urusan perut, apa yang dilakukan oleh si kameramen itu dengan menghianati prinsip-prinsip kehidupan, tidak lagi menjadi persoalan. Dengan kata lain, bisa dibenarkan, tergantung sudut pandang. [T]

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Terpejam untuk Melihat (2024): Suara-Suara dari Tepi
Tags: filmFilm Bersama Membangun Negerifilm pendekTatkala May May May
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Medis Mendulang Turis

Next Post

Pengendalian Rokok di Indonesia dan Negara-negara Dunia yang Tak Pernah Padam

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Pengendalian Rokok di Indonesia dan Negara-negara Dunia yang Tak Pernah Padam

Pengendalian Rokok di Indonesia dan Negara-negara Dunia yang Tak Pernah Padam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co