3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terpejam untuk Melihat (2024): Suara-Suara dari Tepi

Jaswanto by Jaswanto
February 24, 2024
in Ulas Film
Terpejam untuk Melihat (2024): Suara-Suara dari Tepi

Pemutaran dan diskusi film "Terpejam untuk Melihat" di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Singaraja Menonton

SETELAH sukses dengan dua film dokumenter sebelumnya, Diam dan Dengarkan (2020) dan Atas Nama Daun (2022), Mahatma Putra kembali menelurkan sebuah film dokumenter yang berjudul Terpejam untuk Melihat yang dikerjakannya dari September 2023 sampai Februari 2024.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, Terpejam untuk Melihat merupakan film dokumenter politik yang dirilis untuk menyambut Pemilu 2024. Angle-nya adalah politik personal. Ini cukup mengherankan sebab setahu saya Mahatma Putra tidak suka membuat atau memproduksi film tentang politik. Dia lebih suka memilih tema lingkungan dan sosial—seperti dua film dokumenternya terdahulu. Dan bukankah tema politik telah habis dikupas media lain?

Saya menemukan alasannya saat membaca hasil wawancaranya di Koran Tempo (15 Februari 2024). Salah seorang pendiri Anatman Pictures, rumah produksi yang banyak membuat iklan, itu belakangan menyadari bahwa semua hal tidak bisa lepas dari politik. Dalam wawancara tersebut, Putra mengatakan, “Apa pun yang kita lakukan, pasti berdampak politik, termasuk soal lingkungan. Bukan politik praktis, melainkan lebih ke apa yang bisa kita lakukan dibanding menggantungkan semua hal ke politik praktis.”

Terpejam untuk Melihat, meski berbeda dengan dua filmnya terdahulu, benang merahnya sama, yaitu tentang kesadaran lingkungan. Film dokumenter yang berdurasi 1 jam 17 menit ini dibuka dengan alunan musik sendu yang langsung membuat penonton terhanyut pada hijau hutan di layar lebar. Setidaknya demikian yang saya rasakan saat menonton film ini di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam “Pemutaran dan Diskusi Film Terpejam untuk Melihat” yang diselenggarakan komunitas mikro cinema Singaraja Menonton, Jumat malam, 23 Februari kemarin.

Seperti halnya dua film dokumenter sebelumnya, film ini juga dibagi menjadi lima babak dengan latar belakang yang berbeda. Babak pertama membahas tentang apa pun, segala sesuatu, di dunia ini saling terkoneksi. Bahasan ini mengingatkan saya kepada teori ekosentrisme deep ecology Arne Naess—yang memandang bahwa seluruh makhluk biotik maupun abiotik di alam semesta ini memiliki hubungan yang saling terkait sehingga harus dihargai. Pada babak ini, kita banyak mendapat ceramah dari Pemimpin Pondok Pesantren Ekologi Ath Thariq, Jawa Barat, Nyai Nissa Wargadipura.

Selain berbicara tentang koneksi segala sesuatu di alam raya, Terpejam untuk Melihat juga membahas bagaimana sikap politik terhadap pemilu, tentang mereka yang termarjinalkan dan hanya digaungkan keberadaannya saat pemilu seperti kelompok transpuan yang bermukim di Duri, Jakarta Barat, misalnya.

Mengenai soratan kehidupan kaum marjinal kelompok transpuan ini, Muttaqiena Imaamaa, Produser Terpejam untuk Melihat, mengatakan—sebagaimana dikatakannya di Koran Tempo—“Saya baru tahu mereka memiliki kegelisahan. Mereka takut saat tua tidak ada yang mengurus. Akhirnya mereka berjejaring dan sedang mengupayakan panti jompo untuk transpuan.”

Tak berhenti di situ, film dokumenter yang dibuat sebagai perwujudan sertifikat B Corp—perusahaan yang berkomitmen peduli sosial dan lingkungan—yang mereka miliki itu, juga membahas orang-orang yang menolak standar mapan dari sistem yang diadopsi pasar. Ada bagian menarik di babak V, saat film menampilkan sosok bernama Maharlikha—ia memaknainya sebagai “merdeka”—memilih keluar dari kemapanannya sebagai pekerja kantoran di Jakarta dan memilih menjadi petani di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Melihat Maharlikha—atau Mahardika—saya teringat sosok Christopher Johnson McCandless dalam film Into the Wild (2007). Bedanya, setelah lulus dari Universitas Emory di Georgia pada tahun 1990 McCandless melakukan perjalanan (meninggalkan kemapanan) melintasi Amerika Utara dan akhirnya menumpang ke Alaska pada bulan April 1992, Maharlikha cukup hidup sederhana di kampung halamannya.

Namun, keduanya sama-sama membongkar paradigma kesuksesan dan kemerdekaan dengan mulai hidup baru tanpa uang sepeser pun serta sepenuhnya bersandar pada alam atau lingkungan—meski hal ini berakibat fatal kepada Christopher, ia meninggal karena keracunan. Menurut Maharlikha, alamlah yang membuatnya tetap hidup. “Kalau enggak ada hujan, kita enggak bisa hidup,” katanya.

Dengan laku hidup yang jauh dari kaca pembesar orang kebanyakan, Maharlikha mengkritik sistem kemapanan meski jalan hidup yang ia tempuh dianggap absurd oleh banyak orang. Namun, justru dengan berperilaku hidup seperti itu ia merasakan kemerdekaan dalam arti yang sebenar-benarnya. Lelaki yang memakan laron hidup-hidup itu mempraktikkan permakultur, konsep hidup yang berdasarkan ekosistem lingkungan.

Perihal perlawanan terhadap kemapanan, Henry David Thoreau juga melakukannya. Ia memilih tinggal di hutan sebagai bentuk perlawanan kepada industrialisasi yang membuat muak. Sastrawan dan filsuf Amerika Serikat, penulis buku Walden (1854) yang fenomenal, itu bahkan mengaitkan fase-fase spiritualnya dengan tanda-tanda alam.

Hutan, bagi Thoreau, “tempat bagiku untuk hidup bebas.” Kejumudan spiritualnya digambarkan lewat air danau yang membeku. Dan, pagi serta sinar matahari adalah “sebuah undangan menyenangkan untuk bisa menjalani hidup yang jauh dari kerakusan.”

Suara Marjinal

Dari beberapa yang telah disampaikan di atas, dari suara-suara yang ditayangkan dalam kelima babak film Terpejam untuk Melihat, sebenarnya sama-sama lahir dari mereka yang “termarjinalkan”—atau mereka yang memilih jalan berbeda dari orang kebanyakan—yang dikaitkan dengan lingkungan dan relasi kuasa atau politik—pihak Anatman Pictures meberi judul “Dokumenter Meditasi Politik & Lingkungan (2024): Terpejam untuk Melihat” di kanal Youtube mereka.

Dikenal sebagai salah satu rumah film dengan misi menghadirkan suara-suara yang belum terdengar di ruang diskusi masif, Anatman Pictures sejauh ini memang konsisten di rel dokumenter yang menyorot mereka yang memilih “berbeda” dan berjuang menuntut hak yang semestinya didapatkan sebagai warga negara; mereka yang suaranya terhempas dari hingar-bingar politik praktis—suara-suara yang lahir dari tepian wacana dan hitung-hitungan kalkulasi politik.

Meski banyak rumah produksi film yang menyuarakan hal-hal demikian, menurut saya Anatman Pictures tetap memiliki cirinya sendiri. Dalam setiap film dokumenter yang diproduksi—dalam hal ini film-film Mahatma Putra—selain menyajikan data, wacana kritis, informasi, rumah produksi ini juga menghadirkan narasi-narasi yang kontemplatif—membangkitkan renungan dan sebagainya.

Dengan cara demikian, suara-suara merjinal yang dihadirkan tidak hanya sekadar menarik simpati penonton, tapi sedikit-banyak juga menyadarkan dan membuat penonton berpikir ulang akan hidup yang selama ini dijalani. Narasi-narasi yang menenangkan itu, bukan saja membuat kita merenung, tapi mungkin juga dapat menjadi pengantara tidur kita—untuk tidur yang lebih nyenyak.

Di negara kita, masih banyak suara marjinal yang terabaikan. Misalnya hak-hak kaum penyandang disabilitas yang belum mendapat ruang infrastruktur yang aksesibel. Atau kedudukan kaum transpuan dalam sosial masyarakat kita.

Namun, di belahan bumi yang jauh di sana, segala sesuatu yang marjinal, pinggir, unik, dan berbeda sepertinya justru sedang bergerak mendesak sekarang ini. Sebaliknya, pada saat bersamaan semuanya yang berdimensi universal, mayoritas, dan homogen memang lagi mengalami fase keterdesakan.

Lihat saja bagaimana Bollywood, industri film dari India, sedang mendesak dan bisa jadi mengancam Hollywood, atau bagaimana musik-musik Amerika Latin dan Afrika lebih mendominasi World Space Radio—sebuah radio yang memuat siaran-siaran manca negara. Tetapi, mungkin semua ini memang hanya fenomena kultural yang kelihatannya sedang beralih paradigma. Peralihan paradigma yang tidak terlepas juga dari peranan teori perbedaan yang didengungkan Derrida, seorang filsuf mutakhir yang banyak mempengaruhi pemikiran postmodern.

Dalam Terpejam untuk Melihat, mereka yang terpinggirkan tampak kesulitan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan publik. Tidak jarang suara mereka disisihkan karena dianggap tidak cukup kuat. Suara-suara itu terbentur seperti kata Rendra dalam puisi Sajak Sebatang Lisong—“membentur meja kekuasaan yang macet, dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan.”

Film Terpejam untuk Melihat adalah corong sekaligus etalase yang menampilkan mereka-mereka yang berjuang dengan cara berbeda dan mereka yang, sebagaimana dikatakan Anis Sholeh Ba’asyin, merasa selalu ditinggal sendirian menghadapi tumpukan masalahnya. Celakanya, dalam persepsi rakyat, sebagian besar masalah ini justru merupakan akibat kebijakan dari pihak yang mestinya menyelesaikan masalah mereka.[T]

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Tags: filmfilm dokumenterUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenaikan Harga Beras dan Penyederhanaan Logika Berbahasa

Next Post

Pantai Segara Wilis, Pasir Hitam yang Lembut dan Langit Penuh Warna

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Segara Wilis, Pasir Hitam yang Lembut dan Langit Penuh Warna

Pantai Segara Wilis, Pasir Hitam yang Lembut dan Langit Penuh Warna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co