3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
May 13, 2024
in Ulas Film
KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Aktor film KKN di Desa Penari | Foto: Google picture

HOROR dan jumpscare ibaratnya sudah menjadi saudara yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi rasanya tidak selamanya film horor harus ditampilkan dengan berbagai kejadian jumpscare yang tak terduga, apalagi unsur jumpscare itu ditaruh tidak sesuai dengan porsi penempatannya. Sudah sedari saya kecil, film horor dijadikan sebagai bahan untuk menakut-nakuti anak-anak yang tergolong bandel dengan orang tua mereka.

Sejauh ini, film horor selalu menjadi langganan saya ketika berkunjung ke bioskop, karena cuman film horor yang disukai berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi dengan rating film yang bagus dan dari berbagai ulasan menarik di media sosial.

Terkadang, bagi saya, pulang-pergi Singaraja – Denpasar sudah menjadi hal yang biasa. Bayangkan saja, itu semua hanya untuk mengisi rasa penasaran saya akan sebuah film yang sedang trending. Harap maklum, Singaraja belum ada satu pun bioskop ketika saya membuat tulisan ini. Entahlah, bisa saja nanti ketika anak dan cucu saya membaca ulasan ini.

Film “KKN di Desa Penari” (KKNDDP), salah satu film fenomenal yang diadaptasi dari salah satu thread viral pada tahun 2019. Cerita itu ditulis langsung di laman twitter @simpleman, yang bahkan sampai saat ini, tidak diketahui pasti siapa nama asli sebenarnya. Sontak saja, thread ini begitu heboh karena kisahnya yang cukup mengerikan.

Kisahnya pun menjadi perbincangan yang hangat di kalangan netizen, karena kisah dengan pesan etika serta sopan santun yang ditampilkan, sudah menjadi hal wajar dan harus dilestarikan bagi masyarakat Indonesia.Setelah kemunculan audiovisualnya, apalagi ditambah dengan beberapa bintang ternama, semakin membuat rasa penasaran untuk menyaksikan kisahnya.

KKNDDP sukses mencatatkan rekor 10 juta penonton, menjadikannya sebagai salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa, menggeser film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) yang telah bertengger enam tahun lamanya.

Film yang rilis pada tanggal 30 April 2022 itu diproduksi oleh MD Pictures Pichoues Films dan dibintangi langsung oleh Aghniny Haque (Ayu), Aulia Sarah (Badarawuhi), Adinda Thomas (Widya), Achmad Megantara (Bima), Tissa Biani Azzahra (Nur), Diding Boneng (Mbah Buyut), Fajar Nugra (Wahyu), Calvin Jeremy (Anton) serta beberapa bintang film lainnya, yang turut meramaikan film ini.

Aulia sukses mebawakan peran Badarawuhi yang begitu misterius, sehingga karakter inilah yang paling mencolok dibahas oleh netizen, serta Tissa Biani yang membawa dan mendalami karakter Nur sehingga penonton juga merasakan tingkat emosi yang dirasakan oleh Nur itu sendiri.

***

Berbicara tentang KKNDDP, film ini mengisahkan tentang enam mahasiswa, yang akan melaksanakan salah satu studi wajib dari kampus, yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Menariknya, mereka melaksanakannya di desa terpencil yang berada di timur Pulau Jawa.

Seisi bioskop, termasuk saya, dibuat pesimis karena scene awal pada film ini, keresahan dimulai ketika ibu Widya sedikit ragu memberikan izin untuk melaksanakan program kerja (proker) di desa tersebut, namun dengan keteguhan hati Widya meyakinkan ibunya, hingga ibunya memberikan izin dengan syarat selalu menjaga perilaku, perbuatan, serta ucapan mereka ketika berada di tempat tesebut.

Penonton kembali disuguhkan dengan cinematography yang menawan ditambah backsound yang mendukung. Benar sekali, ini adalah karya apik khas sutradara Awi Suryadi. Pemilihan lokasi film yang tepat dengan suasana tengah hutan yang begitu lebat, benar-benar membawa kita juga ikut masuk dan merasakan apa yang terjadi dalam film tersebut.

Jembatan beton tua dengan besi berkarat menjorok masuk ke dalam hutan, ditambah dengan banyaknya daun-daun kering yang berserakan, menambah kesan desa ini benar-benar berada di daerah yang tidak tersentuh oleh masyarakat luar, apalagi perkembangan dunia. Di sinilah keenam mahasiswa itu dijemput oleh warga-warga desa, yang sudah siap dengan motor butut mereka masing-masing.

Penonton disuguhkan dengan keadaan desa yang sama sekali tidak ada aliran listrik, tidak adanya sanitasi yang memadai, pemandian yang lumayan jauh dari desa, serta perumahan warga yang masih memakai bedeg atau anyaman yang terbuat dari bambu sebagai dinding rumah.

Pak Prabu, kepala desa di sana, membantu agar proker mereka dapat berjalan dengan baik. Pelaksanaan KKN semula berjalan dengan lancar, hanya saja ada sedikit keanehan yang terjadi, tapi itu dianggap sebagai hal yang biasa bagi mereka.

Pak Prabu menunjukkan tempat permandian para penari dengan kondisi yang sudah tua dan terbengkalai. Tempat inilah yang nantinya akan mereka perbaiki dengan harapan dapat membantu pendistribusian air dan sebagai sumber mata air bagi masyarakat. Di sini, Wahyu melontarkan kata yang tidak pantas setelah melihat sesajen yang dihaturkan, hal inilah yang sempat membuat Pak Prabu sedikit kesal. Adegan itu, ikut membuat saya sedikit bergumam kesal, mungkin juga beberapa penonton yang melihat tingkah Wahyu.

Pak Prabu mengajak mereka untuk berkeliling di sekitar wilayah desa, hingga tiba di suatu tempat  yang bernama Napak Tilas, ia  kembali untuk memperingatkan agar tidak macam-macam mendekati ataupun mencoba masuk melewati tugu batas itu.

Keadaan mulai berubah ketika berbagai hal mistis menghantui mereka. Nur yang peka akan keadaan lingkungan di sana, Widya yang menari sendirian di tengah malam, Bima yang sikapnya mulai berubah dan sering kali mengabaikan ibadah salatnya, Wahyu yang membawa bangkai kepala monyet yang ia dapatkan dari hajatan malam di tengah hutan dan juga ketika Nur kesurupan roh seorang nenek yang memberitahukan Widya jika ada teman mereka yang melanggar norma serta aturan di desa itu.

Kondisi semakin kacau ketika di suatu malam Widya merasa penasaran dan membuntuti Bima yang keluar dari tempat mereka menginap. Benar saja, Bima melanggar aturan atau larangan yang telah mereka sepakati bersama, untuk tidak melewati batas desa.

Penonton dibuat terdiam karena adegan Bima yang sedang berkencan dengan seekor ular. Keadaan semakin mencekam, ketika Widya dilihat oleh Badarawuhi, sosok penguasa di desa itu. Memiliki Getih Anget menjadi sebuah alasan, Widya sangat spesial bagi Badarawuhi. Getih Anget digambarkan orang yang bau darahnya wangi, dan sangat disukai oleh makhluk gaib.

Widya tiba di sebuah tempat seperti sanggar pementasan. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Ayu sedang menari tanpa henti, diiringi suara gamelan dan sosok-sosok hantu menyeramkan yang ikut menari mengelilingi Ayu dan Widya. Badarawuhi membujuk dengan keras agar Widya tinggal bersamanya di sana.

Nur terbangun dari tidurnya, dan sudah mendapati Ayu dengan wajah yang begitu pucat. Sontak kejadian ini membuat warga desa heboh. Nur pada saat itu menceritakan kepada Pak Prabu jika Bima dan Ayu melakukan hubungan seksual di tempat terlarang Napak Tilas. Inilah yang membuat penonton geram karena perilaku mereka yang tidak taat akan aturan.

Widya berhasil diselamatkan dari gengaman Badarawuhi, namun sayangnya, hingga film berakhir, Bima dan Ayu dikatakan tidak dapat terselamatkan, ini dikarenakan sukma mereka telah ditahan di angkara murka, alam dimana Badarawuhi tinggal di sana. Mereka dihukumakibat perbuatan yang mereka lakukan selama ini,begitu yang dijelaskan oleh Mbah Buyut selaku tetua dan juga tokoh masyarakat di desa itu.

Kepulangan mereka menutup kisah perjalanan mereka di desa itu. Bima meninggal empat hari setelah kepulangan mereka dan Ayu meninggal tiga bulan kemudian sesuai dengan apa yang dijelaskan kalimat akhir dengan latar belakang hitam.

KKNDDP, bagi saya adalah salah satu film horor yang berbeda dengan film-film horor pada umumnya. Beberapa scene jumpscare-nya pun masih bisa diterima oleh penonton, tidak begitu tegang ketika menyaksikannya. Penambahan efek-efek suara juga tidak begitu berlebihan, begitu juga dengan penampilan sebagian hantunya, masih tergolong biasa dan terkesan tidak lebay.

Film ini lebih banyak menekankan untuk senantiasa bersikap sopan santun, baik dari segi etika dan perbuatan selama berada di suatu tempat yang tidak pernah kita kunjungi sebelumnya. Percaya tidak percaya, bersikap dengan baik akan membawa kita kepada nasib yang baik pula, seperti yang dialami oleh karakter Anton.

Anton memiliki sikap yang tenang dan penuh rasa positif, penggambarannya pun dibuat sebagai pendukung karakter yang lainnya agar lebih berhati-hati dan tetap menjaga etika serta perbuatan mereka masing-masing. Sesekali Anton menegur Wahyu yang memang tidak mengenal etika apalagi pada hari pertama mereka sampai di desa itu. Sikap dan perbuatan Anton inilah yang membuat ia ditampilkan tidak diganggu, seperti karakter-karakter yang lainnya.

Film ini mencoba memberikan kesan dan pesan kepada setiap penonton, seperti memberikan pengetahuan yang baru, bahwa tidak selamanya film horor memberikan audiovisual yang menegangkan secara terus-menerus, hingga pesan yang ingin disampaikan pada akhirnya terlupakan dan diabaikan, semua itu akibat ketegangan yang ditampilkan dari awal hingga akhir film.

Memberikan porsi penyampaian pesan tentang pentingnya menjaga sopan santun baik dalam etika serta perbuatan, ditampilkan lebih banyak diimbangi dengan efek ketegangan yang tidak terlalu berlebihan. Ini menjadikan KKNDDP keluar dan berani tampil beda dari film-film horor sebelumnya.

Terlebih kisahnya akan terus melekat di benak saya sebagai seorang mahasiswa saat menjalankan studi kampus (KKN) nantinya. Tentu, film ini akan selalu ingat agar selalu menjaga etika, moral perbuatan serta selalu menaati segala apapun yang sudah menjadi aturan di tempat di mana kita berada.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Film “Jayaprana Layonsari”, Lain Dulu Lain Sekarang
Sanju (2018): Film Humas Sanjay Dutt?
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: KKN di Desa PenariUlas Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awal Mula dan Transformasi Desain Penginapan di Bali

Next Post

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co