2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
May 13, 2024
in Khas
I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

I Made Rakanetra | Foto: Eka

“SEBENARNYA, menanam durian ini sebagai alternatif lain, karena tanah ini kurang cocok untuk cengkeh,” kata lelaki paruh baya itu sembari mengayunkan cangkul, mengikis tanah yang berwana coklat itu secara perlahan. Ia di kebun siang itu. Banyaknya pohon durian dan cengkeh membuat panas siang itu tidak terasa sama sekali, padahal matahari tepat berada di atas kepala.

Di kebun dengan luas kurang lebih 2 hektar itu, selain pohon durian sebagai komoditas utama, juga ada beberapa pohon penghasil uang lainnya, seperti cengkeh, manggis, duku, dan vanili. Beragam memang, karena ia menerapkan konsep tumpang sari.

Siang itu ia sedang memberi makan tanah dengan pupuk organik. Aroma pupuk bercampur dengan aroma durian yang begitu menyengat, masuk menusuk hidung. Seolah tidak terpengaruh dengan baunya itu, ia, dengan semangat menyala, dibantu dua orang, menuangkan satu karung pupuk organik di sekeliling pohon durian itu.

Ia mengenakan baju lengan panjang hijau tua serta celana kain hitam. Kakinya terbungkus sepatu boots dan topi usang bertengger di kepalanya. Ialah Raka, lelaki paruh baya yang sedang mengayunkan cangkul itu, petani durian yang sukses dari Desa Pedawa.

I Made Rakanetra sedang menggemburkan tanah | Foto: Eka

Nama lengkapnya I Made Rakanetra, biasa dipanggil Raka. Lahir dari keluarga sederhana yang jauh dari kata mewah. Karena hal itulah membuatnya berprofesi sebagai petani. Dan dalam prosesnya, sampai pada titik ia dianggap menjadi petani durian yang sukses, itu tidak mudah. Banyak keringat yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini.

Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, cukup cerah saat itu. Di bawah pohon durian jenis kane yang sedang berbuah itu, Raka bercerita bahwa tanah yang ia punya tidak cocok untuk cengkeh. “Ini ada beberapa pohon cengkeh, tapi tidak cocok dengan tanahnya, apalagi posisinya di sini telalu dingin, karena itu selalu tidak bisa maksimal saat berbuah,” tuturnya sambil tangannya bertumpu pada gagang cangkul.

Walapun secara geografis Desa Pedawa terletak di pegunungan dengan kesuburan tanahnya yang terkenal, namun di beberapa wilayahnya, ada tanah yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan udara juga telalu dingin. Hal ini menyebabkan pohon primadona di desa itu, yaitu cengkeh, sulit untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang maksimal.

Pria kelahiran 31 Desember 1973 itu terus becerita dengan penuh semangat. Bahwa sebelum fokus pada durian, ada beberapa komoditas yang pernah ia tanam, dari pohon coklat, kopi, cengkeh, sampai manggis. Namun, itu semua tidak bisa memberikan penghasilan yang cukup.

Pada tahun 2014, ketika saat itu cengkeh masih menjadi tanaman yang diistimewakan oleh masyarakat Desa Pedawa, dengan langkah berani, hanya bermodalkan pengalaman dan cerita-cerita orang lain, Raka nekat menghabiskan modal yang ia punya untuk mulai menaman pohon durian, yang pada saat itu masih dilirik sebelah mata oleh masyarakat Desa Pedawa.

“Awal menanam durian itu tahun 1995, jenisnya kane, namun itu hanya nyoba-nyoba saja. Saya menanam durian secara masif di tahun 2014,” tutur pria yang kini berusia 51 tahun itu.

Bisa dikatakan, Raka adalah pelopor masuknya durian ke Pedawa, desa yang terkenal dengan penghasil cengkeh. Kini, durian telah menjadi idola baru di Desa Pedawa. Seperti kacang lupa kulitnya, banyak pohon cengkeh yang ditebang hanya untuk menanam pohon durian.

Harga jual yang tinggi, seperti jenis kane perkilonya berkisar 30 ribu dan waktu panen pasca tanam hanya membutuhka waktu selama lima tahun, membuat durian kian digandrungi masyarakat Desa Pedawa.

Usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya, begitu kira-kira kata-kata yang menggambarkan perjuangan Raka saat ini. Di usia senja, ia baru bisa memetik hasil dari keringat yang ia peras sejak dulu, banyak hal sudah dikorbankan untuk merawat durian ini, dari uang, tenaga, waktu, dan pikiran.

I Made Rakanetra sedang menggunting wadah pupuk | Foto: Eka

Raka kembali bercerita, bahwa sebenarnya ia menanam pohon durian hanya sebagai sampingan saja, karena memang saat itu cengkeh masih menjadi yang utama walaupun kurang menghasilkan.

“Cengkeh tidak mengalami peningkatan, saya lihat durian ini sepertinya mempunyai peluang yang besar,” tuturnya sambil sesekali mengibaskan tangan untuk mengusir nyamuk yang berkerumun mengitarinya.

“Total saat ini sudah ada 500 pohon durian dan 200 pohon sudah produktif berbuah, yang 300 masih proses berbunga,” ceritanya dengan bangga. Ia juga menambahkan mayoritas jenis durian yang ditanam adalah kane, tapi juga ada beberapa jenis musang king.

Hasil dari durian memang sangat menjanjikan, meski penuh dengan perawatan dan tantangan. “Lebih mudah merawat cengkeh dibandingkan durian. Durian perlu banyak perawatan, pemupukan, penyemprotan hama, pemberian vitamin. Tapi hasil durian lebih besar daripada cengkeh,” tutur pria yang sudah memiliki cucu itu.

Di tengah mencekiknya harga pupuk kimia, Raka melakukan penghematan dengan membuat pupuk organik sendiri, berupa pupuk kompos yang berasal dari kotoran kambing dan sapi yang ia dapatkan dari para peternak di Pedawa “Untuk pemupukan saya beli dan saya imbangi dengan membuat sendiri,” tuturnya sambil terus memberikan pohon durian makanan.

Sama seperti manusia, di samping membutuhkan makanan, pohon juga memerlukan air untuk tetap hidup. Raka sudah memikirkan hal itu. Dengan membuat beberapa titik bak penampungan air, ia mengatasi kekeringan pada musim kemarau tiba.

Usia yang sudah tidak muda lagi, bukan berarti menjadi sebab semangatnya bertani surut. Dibantu kedua anaknya, dan ia juga memperkerjakan dua orang tetangganya, Raka merawat pohon-pohon duriannya.

Dalam proses berkebun, tentu banyak rintangan yang ia hadapi, dari gagal panen akibat cuaca buruk, serangan hama, hingga dimakan tupai. Namun, itu semua dianggap Raka sebagai pelajaran untuk memahami secara mendalam seluk-beluk durian. Kini, Raka telah menikmati hasil duriannya dengan omset 200 juta per tahun.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa
Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawadurian kanepetani durian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Next Post

Wisata Lansia: Memanjakan “Baby Boomer”

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisata Lansia: Memanjakan "Baby Boomer"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co