26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
May 13, 2024
in Khas
I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

I Made Rakanetra | Foto: Eka

“SEBENARNYA, menanam durian ini sebagai alternatif lain, karena tanah ini kurang cocok untuk cengkeh,” kata lelaki paruh baya itu sembari mengayunkan cangkul, mengikis tanah yang berwana coklat itu secara perlahan. Ia di kebun siang itu. Banyaknya pohon durian dan cengkeh membuat panas siang itu tidak terasa sama sekali, padahal matahari tepat berada di atas kepala.

Di kebun dengan luas kurang lebih 2 hektar itu, selain pohon durian sebagai komoditas utama, juga ada beberapa pohon penghasil uang lainnya, seperti cengkeh, manggis, duku, dan vanili. Beragam memang, karena ia menerapkan konsep tumpang sari.

Siang itu ia sedang memberi makan tanah dengan pupuk organik. Aroma pupuk bercampur dengan aroma durian yang begitu menyengat, masuk menusuk hidung. Seolah tidak terpengaruh dengan baunya itu, ia, dengan semangat menyala, dibantu dua orang, menuangkan satu karung pupuk organik di sekeliling pohon durian itu.

Ia mengenakan baju lengan panjang hijau tua serta celana kain hitam. Kakinya terbungkus sepatu boots dan topi usang bertengger di kepalanya. Ialah Raka, lelaki paruh baya yang sedang mengayunkan cangkul itu, petani durian yang sukses dari Desa Pedawa.

I Made Rakanetra sedang menggemburkan tanah | Foto: Eka

Nama lengkapnya I Made Rakanetra, biasa dipanggil Raka. Lahir dari keluarga sederhana yang jauh dari kata mewah. Karena hal itulah membuatnya berprofesi sebagai petani. Dan dalam prosesnya, sampai pada titik ia dianggap menjadi petani durian yang sukses, itu tidak mudah. Banyak keringat yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini.

Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, cukup cerah saat itu. Di bawah pohon durian jenis kane yang sedang berbuah itu, Raka bercerita bahwa tanah yang ia punya tidak cocok untuk cengkeh. “Ini ada beberapa pohon cengkeh, tapi tidak cocok dengan tanahnya, apalagi posisinya di sini telalu dingin, karena itu selalu tidak bisa maksimal saat berbuah,” tuturnya sambil tangannya bertumpu pada gagang cangkul.

Walapun secara geografis Desa Pedawa terletak di pegunungan dengan kesuburan tanahnya yang terkenal, namun di beberapa wilayahnya, ada tanah yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan udara juga telalu dingin. Hal ini menyebabkan pohon primadona di desa itu, yaitu cengkeh, sulit untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang maksimal.

Pria kelahiran 31 Desember 1973 itu terus becerita dengan penuh semangat. Bahwa sebelum fokus pada durian, ada beberapa komoditas yang pernah ia tanam, dari pohon coklat, kopi, cengkeh, sampai manggis. Namun, itu semua tidak bisa memberikan penghasilan yang cukup.

Pada tahun 2014, ketika saat itu cengkeh masih menjadi tanaman yang diistimewakan oleh masyarakat Desa Pedawa, dengan langkah berani, hanya bermodalkan pengalaman dan cerita-cerita orang lain, Raka nekat menghabiskan modal yang ia punya untuk mulai menaman pohon durian, yang pada saat itu masih dilirik sebelah mata oleh masyarakat Desa Pedawa.

“Awal menanam durian itu tahun 1995, jenisnya kane, namun itu hanya nyoba-nyoba saja. Saya menanam durian secara masif di tahun 2014,” tutur pria yang kini berusia 51 tahun itu.

Bisa dikatakan, Raka adalah pelopor masuknya durian ke Pedawa, desa yang terkenal dengan penghasil cengkeh. Kini, durian telah menjadi idola baru di Desa Pedawa. Seperti kacang lupa kulitnya, banyak pohon cengkeh yang ditebang hanya untuk menanam pohon durian.

Harga jual yang tinggi, seperti jenis kane perkilonya berkisar 30 ribu dan waktu panen pasca tanam hanya membutuhka waktu selama lima tahun, membuat durian kian digandrungi masyarakat Desa Pedawa.

Usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya, begitu kira-kira kata-kata yang menggambarkan perjuangan Raka saat ini. Di usia senja, ia baru bisa memetik hasil dari keringat yang ia peras sejak dulu, banyak hal sudah dikorbankan untuk merawat durian ini, dari uang, tenaga, waktu, dan pikiran.

I Made Rakanetra sedang menggunting wadah pupuk | Foto: Eka

Raka kembali bercerita, bahwa sebenarnya ia menanam pohon durian hanya sebagai sampingan saja, karena memang saat itu cengkeh masih menjadi yang utama walaupun kurang menghasilkan.

“Cengkeh tidak mengalami peningkatan, saya lihat durian ini sepertinya mempunyai peluang yang besar,” tuturnya sambil sesekali mengibaskan tangan untuk mengusir nyamuk yang berkerumun mengitarinya.

“Total saat ini sudah ada 500 pohon durian dan 200 pohon sudah produktif berbuah, yang 300 masih proses berbunga,” ceritanya dengan bangga. Ia juga menambahkan mayoritas jenis durian yang ditanam adalah kane, tapi juga ada beberapa jenis musang king.

Hasil dari durian memang sangat menjanjikan, meski penuh dengan perawatan dan tantangan. “Lebih mudah merawat cengkeh dibandingkan durian. Durian perlu banyak perawatan, pemupukan, penyemprotan hama, pemberian vitamin. Tapi hasil durian lebih besar daripada cengkeh,” tutur pria yang sudah memiliki cucu itu.

Di tengah mencekiknya harga pupuk kimia, Raka melakukan penghematan dengan membuat pupuk organik sendiri, berupa pupuk kompos yang berasal dari kotoran kambing dan sapi yang ia dapatkan dari para peternak di Pedawa “Untuk pemupukan saya beli dan saya imbangi dengan membuat sendiri,” tuturnya sambil terus memberikan pohon durian makanan.

Sama seperti manusia, di samping membutuhkan makanan, pohon juga memerlukan air untuk tetap hidup. Raka sudah memikirkan hal itu. Dengan membuat beberapa titik bak penampungan air, ia mengatasi kekeringan pada musim kemarau tiba.

Usia yang sudah tidak muda lagi, bukan berarti menjadi sebab semangatnya bertani surut. Dibantu kedua anaknya, dan ia juga memperkerjakan dua orang tetangganya, Raka merawat pohon-pohon duriannya.

Dalam proses berkebun, tentu banyak rintangan yang ia hadapi, dari gagal panen akibat cuaca buruk, serangan hama, hingga dimakan tupai. Namun, itu semua dianggap Raka sebagai pelajaran untuk memahami secara mendalam seluk-beluk durian. Kini, Raka telah menikmati hasil duriannya dengan omset 200 juta per tahun.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa
Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawadurian kanepetani durian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Next Post

Wisata Lansia: Memanjakan “Baby Boomer”

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisata Lansia: Memanjakan "Baby Boomer"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co