14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
May 13, 2024
in Khas
I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

I Made Rakanetra | Foto: Eka

“SEBENARNYA, menanam durian ini sebagai alternatif lain, karena tanah ini kurang cocok untuk cengkeh,” kata lelaki paruh baya itu sembari mengayunkan cangkul, mengikis tanah yang berwana coklat itu secara perlahan. Ia di kebun siang itu. Banyaknya pohon durian dan cengkeh membuat panas siang itu tidak terasa sama sekali, padahal matahari tepat berada di atas kepala.

Di kebun dengan luas kurang lebih 2 hektar itu, selain pohon durian sebagai komoditas utama, juga ada beberapa pohon penghasil uang lainnya, seperti cengkeh, manggis, duku, dan vanili. Beragam memang, karena ia menerapkan konsep tumpang sari.

Siang itu ia sedang memberi makan tanah dengan pupuk organik. Aroma pupuk bercampur dengan aroma durian yang begitu menyengat, masuk menusuk hidung. Seolah tidak terpengaruh dengan baunya itu, ia, dengan semangat menyala, dibantu dua orang, menuangkan satu karung pupuk organik di sekeliling pohon durian itu.

Ia mengenakan baju lengan panjang hijau tua serta celana kain hitam. Kakinya terbungkus sepatu boots dan topi usang bertengger di kepalanya. Ialah Raka, lelaki paruh baya yang sedang mengayunkan cangkul itu, petani durian yang sukses dari Desa Pedawa.

I Made Rakanetra sedang menggemburkan tanah | Foto: Eka

Nama lengkapnya I Made Rakanetra, biasa dipanggil Raka. Lahir dari keluarga sederhana yang jauh dari kata mewah. Karena hal itulah membuatnya berprofesi sebagai petani. Dan dalam prosesnya, sampai pada titik ia dianggap menjadi petani durian yang sukses, itu tidak mudah. Banyak keringat yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini.

Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, cukup cerah saat itu. Di bawah pohon durian jenis kane yang sedang berbuah itu, Raka bercerita bahwa tanah yang ia punya tidak cocok untuk cengkeh. “Ini ada beberapa pohon cengkeh, tapi tidak cocok dengan tanahnya, apalagi posisinya di sini telalu dingin, karena itu selalu tidak bisa maksimal saat berbuah,” tuturnya sambil tangannya bertumpu pada gagang cangkul.

Walapun secara geografis Desa Pedawa terletak di pegunungan dengan kesuburan tanahnya yang terkenal, namun di beberapa wilayahnya, ada tanah yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan udara juga telalu dingin. Hal ini menyebabkan pohon primadona di desa itu, yaitu cengkeh, sulit untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang maksimal.

Pria kelahiran 31 Desember 1973 itu terus becerita dengan penuh semangat. Bahwa sebelum fokus pada durian, ada beberapa komoditas yang pernah ia tanam, dari pohon coklat, kopi, cengkeh, sampai manggis. Namun, itu semua tidak bisa memberikan penghasilan yang cukup.

Pada tahun 2014, ketika saat itu cengkeh masih menjadi tanaman yang diistimewakan oleh masyarakat Desa Pedawa, dengan langkah berani, hanya bermodalkan pengalaman dan cerita-cerita orang lain, Raka nekat menghabiskan modal yang ia punya untuk mulai menaman pohon durian, yang pada saat itu masih dilirik sebelah mata oleh masyarakat Desa Pedawa.

“Awal menanam durian itu tahun 1995, jenisnya kane, namun itu hanya nyoba-nyoba saja. Saya menanam durian secara masif di tahun 2014,” tutur pria yang kini berusia 51 tahun itu.

Bisa dikatakan, Raka adalah pelopor masuknya durian ke Pedawa, desa yang terkenal dengan penghasil cengkeh. Kini, durian telah menjadi idola baru di Desa Pedawa. Seperti kacang lupa kulitnya, banyak pohon cengkeh yang ditebang hanya untuk menanam pohon durian.

Harga jual yang tinggi, seperti jenis kane perkilonya berkisar 30 ribu dan waktu panen pasca tanam hanya membutuhka waktu selama lima tahun, membuat durian kian digandrungi masyarakat Desa Pedawa.

Usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya, begitu kira-kira kata-kata yang menggambarkan perjuangan Raka saat ini. Di usia senja, ia baru bisa memetik hasil dari keringat yang ia peras sejak dulu, banyak hal sudah dikorbankan untuk merawat durian ini, dari uang, tenaga, waktu, dan pikiran.

I Made Rakanetra sedang menggunting wadah pupuk | Foto: Eka

Raka kembali bercerita, bahwa sebenarnya ia menanam pohon durian hanya sebagai sampingan saja, karena memang saat itu cengkeh masih menjadi yang utama walaupun kurang menghasilkan.

“Cengkeh tidak mengalami peningkatan, saya lihat durian ini sepertinya mempunyai peluang yang besar,” tuturnya sambil sesekali mengibaskan tangan untuk mengusir nyamuk yang berkerumun mengitarinya.

“Total saat ini sudah ada 500 pohon durian dan 200 pohon sudah produktif berbuah, yang 300 masih proses berbunga,” ceritanya dengan bangga. Ia juga menambahkan mayoritas jenis durian yang ditanam adalah kane, tapi juga ada beberapa jenis musang king.

Hasil dari durian memang sangat menjanjikan, meski penuh dengan perawatan dan tantangan. “Lebih mudah merawat cengkeh dibandingkan durian. Durian perlu banyak perawatan, pemupukan, penyemprotan hama, pemberian vitamin. Tapi hasil durian lebih besar daripada cengkeh,” tutur pria yang sudah memiliki cucu itu.

Di tengah mencekiknya harga pupuk kimia, Raka melakukan penghematan dengan membuat pupuk organik sendiri, berupa pupuk kompos yang berasal dari kotoran kambing dan sapi yang ia dapatkan dari para peternak di Pedawa “Untuk pemupukan saya beli dan saya imbangi dengan membuat sendiri,” tuturnya sambil terus memberikan pohon durian makanan.

Sama seperti manusia, di samping membutuhkan makanan, pohon juga memerlukan air untuk tetap hidup. Raka sudah memikirkan hal itu. Dengan membuat beberapa titik bak penampungan air, ia mengatasi kekeringan pada musim kemarau tiba.

Usia yang sudah tidak muda lagi, bukan berarti menjadi sebab semangatnya bertani surut. Dibantu kedua anaknya, dan ia juga memperkerjakan dua orang tetangganya, Raka merawat pohon-pohon duriannya.

Dalam proses berkebun, tentu banyak rintangan yang ia hadapi, dari gagal panen akibat cuaca buruk, serangan hama, hingga dimakan tupai. Namun, itu semua dianggap Raka sebagai pelajaran untuk memahami secara mendalam seluk-beluk durian. Kini, Raka telah menikmati hasil duriannya dengan omset 200 juta per tahun.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa
Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawadurian kanepetani durian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Next Post

Wisata Lansia: Memanjakan “Baby Boomer”

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisata Lansia: Memanjakan "Baby Boomer"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co