2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
May 13, 2024
in Khas
I Made Rakanetra, Pelopor Petani Durian di Desa Pedawa

I Made Rakanetra | Foto: Eka

“SEBENARNYA, menanam durian ini sebagai alternatif lain, karena tanah ini kurang cocok untuk cengkeh,” kata lelaki paruh baya itu sembari mengayunkan cangkul, mengikis tanah yang berwana coklat itu secara perlahan. Ia di kebun siang itu. Banyaknya pohon durian dan cengkeh membuat panas siang itu tidak terasa sama sekali, padahal matahari tepat berada di atas kepala.

Di kebun dengan luas kurang lebih 2 hektar itu, selain pohon durian sebagai komoditas utama, juga ada beberapa pohon penghasil uang lainnya, seperti cengkeh, manggis, duku, dan vanili. Beragam memang, karena ia menerapkan konsep tumpang sari.

Siang itu ia sedang memberi makan tanah dengan pupuk organik. Aroma pupuk bercampur dengan aroma durian yang begitu menyengat, masuk menusuk hidung. Seolah tidak terpengaruh dengan baunya itu, ia, dengan semangat menyala, dibantu dua orang, menuangkan satu karung pupuk organik di sekeliling pohon durian itu.

Ia mengenakan baju lengan panjang hijau tua serta celana kain hitam. Kakinya terbungkus sepatu boots dan topi usang bertengger di kepalanya. Ialah Raka, lelaki paruh baya yang sedang mengayunkan cangkul itu, petani durian yang sukses dari Desa Pedawa.

I Made Rakanetra sedang menggemburkan tanah | Foto: Eka

Nama lengkapnya I Made Rakanetra, biasa dipanggil Raka. Lahir dari keluarga sederhana yang jauh dari kata mewah. Karena hal itulah membuatnya berprofesi sebagai petani. Dan dalam prosesnya, sampai pada titik ia dianggap menjadi petani durian yang sukses, itu tidak mudah. Banyak keringat yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini.

Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, cukup cerah saat itu. Di bawah pohon durian jenis kane yang sedang berbuah itu, Raka bercerita bahwa tanah yang ia punya tidak cocok untuk cengkeh. “Ini ada beberapa pohon cengkeh, tapi tidak cocok dengan tanahnya, apalagi posisinya di sini telalu dingin, karena itu selalu tidak bisa maksimal saat berbuah,” tuturnya sambil tangannya bertumpu pada gagang cangkul.

Walapun secara geografis Desa Pedawa terletak di pegunungan dengan kesuburan tanahnya yang terkenal, namun di beberapa wilayahnya, ada tanah yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan udara juga telalu dingin. Hal ini menyebabkan pohon primadona di desa itu, yaitu cengkeh, sulit untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang maksimal.

Pria kelahiran 31 Desember 1973 itu terus becerita dengan penuh semangat. Bahwa sebelum fokus pada durian, ada beberapa komoditas yang pernah ia tanam, dari pohon coklat, kopi, cengkeh, sampai manggis. Namun, itu semua tidak bisa memberikan penghasilan yang cukup.

Pada tahun 2014, ketika saat itu cengkeh masih menjadi tanaman yang diistimewakan oleh masyarakat Desa Pedawa, dengan langkah berani, hanya bermodalkan pengalaman dan cerita-cerita orang lain, Raka nekat menghabiskan modal yang ia punya untuk mulai menaman pohon durian, yang pada saat itu masih dilirik sebelah mata oleh masyarakat Desa Pedawa.

“Awal menanam durian itu tahun 1995, jenisnya kane, namun itu hanya nyoba-nyoba saja. Saya menanam durian secara masif di tahun 2014,” tutur pria yang kini berusia 51 tahun itu.

Bisa dikatakan, Raka adalah pelopor masuknya durian ke Pedawa, desa yang terkenal dengan penghasil cengkeh. Kini, durian telah menjadi idola baru di Desa Pedawa. Seperti kacang lupa kulitnya, banyak pohon cengkeh yang ditebang hanya untuk menanam pohon durian.

Harga jual yang tinggi, seperti jenis kane perkilonya berkisar 30 ribu dan waktu panen pasca tanam hanya membutuhka waktu selama lima tahun, membuat durian kian digandrungi masyarakat Desa Pedawa.

Usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya, begitu kira-kira kata-kata yang menggambarkan perjuangan Raka saat ini. Di usia senja, ia baru bisa memetik hasil dari keringat yang ia peras sejak dulu, banyak hal sudah dikorbankan untuk merawat durian ini, dari uang, tenaga, waktu, dan pikiran.

I Made Rakanetra sedang menggunting wadah pupuk | Foto: Eka

Raka kembali bercerita, bahwa sebenarnya ia menanam pohon durian hanya sebagai sampingan saja, karena memang saat itu cengkeh masih menjadi yang utama walaupun kurang menghasilkan.

“Cengkeh tidak mengalami peningkatan, saya lihat durian ini sepertinya mempunyai peluang yang besar,” tuturnya sambil sesekali mengibaskan tangan untuk mengusir nyamuk yang berkerumun mengitarinya.

“Total saat ini sudah ada 500 pohon durian dan 200 pohon sudah produktif berbuah, yang 300 masih proses berbunga,” ceritanya dengan bangga. Ia juga menambahkan mayoritas jenis durian yang ditanam adalah kane, tapi juga ada beberapa jenis musang king.

Hasil dari durian memang sangat menjanjikan, meski penuh dengan perawatan dan tantangan. “Lebih mudah merawat cengkeh dibandingkan durian. Durian perlu banyak perawatan, pemupukan, penyemprotan hama, pemberian vitamin. Tapi hasil durian lebih besar daripada cengkeh,” tutur pria yang sudah memiliki cucu itu.

Di tengah mencekiknya harga pupuk kimia, Raka melakukan penghematan dengan membuat pupuk organik sendiri, berupa pupuk kompos yang berasal dari kotoran kambing dan sapi yang ia dapatkan dari para peternak di Pedawa “Untuk pemupukan saya beli dan saya imbangi dengan membuat sendiri,” tuturnya sambil terus memberikan pohon durian makanan.

Sama seperti manusia, di samping membutuhkan makanan, pohon juga memerlukan air untuk tetap hidup. Raka sudah memikirkan hal itu. Dengan membuat beberapa titik bak penampungan air, ia mengatasi kekeringan pada musim kemarau tiba.

Usia yang sudah tidak muda lagi, bukan berarti menjadi sebab semangatnya bertani surut. Dibantu kedua anaknya, dan ia juga memperkerjakan dua orang tetangganya, Raka merawat pohon-pohon duriannya.

Dalam proses berkebun, tentu banyak rintangan yang ia hadapi, dari gagal panen akibat cuaca buruk, serangan hama, hingga dimakan tupai. Namun, itu semua dianggap Raka sebagai pelajaran untuk memahami secara mendalam seluk-beluk durian. Kini, Raka telah menikmati hasil duriannya dengan omset 200 juta per tahun.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa
Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawadurian kanepetani durian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KKN di Desa Penari (2022): Belajar Tentang Menjaga Sebuah Etika

Next Post

Wisata Lansia: Memanjakan “Baby Boomer”

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisata Lansia: Memanjakan "Baby Boomer"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co