24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Jayaprana Layonsari”, Lain Dulu Lain Sekarang

Made Adnyana by Made Adnyana
April 8, 2024
in Ulas Film
Film “Jayaprana Layonsari”, Lain Dulu Lain Sekarang

Film Jayaprana Layonsari (2023) | Foto: Dok, Panitia Fim Bali

APA yang terlintas di dalam benak ketika mendengar kabar ada film produksi Bali, “Jayaprana Layonsari” diputar di sejumlah bioskop sejak pekan lalu? Ingatan saya langsung melayang ke masa lalu, 40 tahun yang lalu. Ketika itu saya masih duduk di bangku kelas I SMP, ada satu film nasional yang berjudul “Jayaprana”. Saya pun berkesempatan menonton saat film tersebut sampai juga diputar di Balai Masyarakat Adat, desa Pupuan.

Mau tidak mau saya jadi “bernostalgia”, mengingat kembali film yang diproduksi PT Inem Film, salah satu produsen film yang sangat aktif di era 80-an itu. Banding-membandingkan tentu tak bisa dielakkan. Film Jayaprana diproduksi 1983 oleh perusahaan film nasional, dengan deretan pemain utama dan pendukung yang nyaris keseluruhannya bintang film nasional. Jayaprana diperankan aktor Johan Saimima (yang belakangan dikenal sebagai musuh utama Saras di serial Saras 008), sedangkan Layonsari diperankan Sita Gramich.

Ada beberapa pemain asli Bali yang dilibatkan, di antaranya Arya Jimbara dan IGL Jagatkarana (alm.), dua pemain drama klasik kenamaan. Jagatkarana didaput sebagai Patih Sawunggaling. Selain itu juga ada AA Oka Suci, tokoh drama gong yang juga pentolan grup lawak Kayangan Suci. Saya lupa apa perannya ketika itu.

Sebagaimana kebanyakan film bertemakan Bali, berlatar belakang kisah Bali yang digarap secara nasional oleh orang-orang Jakarta, kerap muncul keraguan sejauh mana pendekatan secara sosio kultural juga menampilkan tontonan semirip kisah aslinya. Atau, bagaimana upaya memunculkan ruh ke-Bali-an di dalamnya. Apalagi kemudian terdapat banyak penyesuaian-penyesuaian untuk kepentingan tontonan komersial.

Saya tidak mengatakan film “Jayaprana” yang disutradarai BZ Kadaryono tersebut gagal meskipun seingat saya film ini sendiri tidak begitu terdengar gaungnya dalam omongan box office dan sebagainya. Apalagi ada beberapa alur cerita yang agak berbeda dari awal mula Jayaprana menjadi abdi Raja Kalianget. Yang jelas kala film ini beredar empat dasawarsa lalu, sudah cukup menyenangkan sebagian masyarakat Bali, karena ada kisah otentik dari Bali yang diangkat ke layar lebar.

Lalu bagaimana dengan film “Jayaprana Layonsari” produksi 2023 yang baru beredar luas tahun 2024 ini? Terus terang bukan karena rasa kedaerahan yang terlalu kuat, saya menganggap garapan duo sutradara Kusuma – Putu Kusuma  Wijaya dan Putu Satria Kusuma – ini lebih setia dengan keaslian kisah maupun aspek-aspek teknis filmis lainnya. Apakah ini juga didorong oleh keberadaan Putu Satria Kusuma sebagai orang Buleleng asli, di mana kisah Jayaprana terjadi? Mungkin saja demikian adanya.

Film Jayaprana Layonsari (2023) | Foto: Dok, Panitia Fim Bali

Terkesan kuat ada idealisme tersendiri yang dipegang Putu Satria Kusuma sebagai penulis naskah, pun ketika menjadi sutradara bersama Putu Kusuma Wijaya. Upaya menghidupkan suasana masa lampau mulai dari pemilihan lokasi suting dan penggunaan properti salah satunya. Gambar-gambar yang dihadirkan indah namun juga kuat menyiratkan kesuraman dengan tidak banyak mengeksploitasi pencahayaan. Penggunaan bahasa Bali sepenuhnya dengan logat Buleleng menguatkan penuturan sepanjang adegan.

Diakui atau tidak, menengok latar belakang Putu Satria Kusuma sebagai salah satu tokoh teater di Bali, tak heran beberapa kali muncul dialog-dialog yang yang terkesan teatrikal. Namun untungnya tak terjebak pada kesan memindahkan drama panggung ke layar lebar.

Hal menarik lainnya pemilihan pemeran atau casting. Dari beberapa film produksi sineas Bali yang beredar di bioskop dalam beberapa tahun terakhir, semuanya mengedepankan sosok figur publik seperti penyanyi, pelawak atau seniman Bali kenamaan lain. Entah memang dipasang sebagai daya pikat tarik atau ada keraguan takkan menarik bila pemeran utamanya bukan “artis yang sudah punya nama”. Namun itu tak terjadi pada “Jayaprana dan Layonsari” yang notabene keseluruhan pemainnya bukanlah mereka yang viral atau kerap muncul di medsos.

Jayaprana dan Layonsari dimainkan dua nama yang bahkan terbilang awam dengan dunia akting. Meskipun demikian sebagai debut, akting Janhar sebagai Jayaprana dan Ni Luh Putu Diah Puspita Dewi sebagai Layonsari tidak mengecewakan. Di luar tokoh Jayaprana dan Layonsari, tokoh utama lain yang aktingnya memikat adalah Gusti Made Aryana sebagai patih Sawunggaling. Acungan jempol untuk penampilannya saat konflik batin ketika akan menghabisi Jayaprana.

Film Jayaprana Layonsari (2023) | Foto: Dok, Panitia Fim Bali

Bagi yang belum mengetahui kisah Jayaprana, pun bagi mereka yang tak terbiasa menikmati tontonan yang mengutamakan dialog dan akting, maka menyaksikan “Jayaprana Layonsari” selama 120 menit bisa jadi sedikit membosankan. Alur cerita terasa lambat bahkan cenderung datar hingga klimaks. Bisa dimaklumi, sekali lagi karena kesetiaan terhadap kisah aslinya, tanpa harus menambahkan bumbu atau gimmick yang berlebihan hanya sekadar penyegar. Pun sebagaimana pernah diungkapkan Putu Kusuma Wijaya, film “Jayaprana Layonsari” tidak terjebak pada stereotip siapa yang baik siapa yang jahat, negatif melawan positif. Lebih dari itu bagaimana menampilkan kedua sisi tokohnya apa adanya.

Sebagai langkah awal pemunculan film-film produksi Bali sebagai salah satu menu tontonan di bioskop berjejaring nasional, “Jayaprana Layonsari” layak diapresiasi. Bukan hanya perkara bagus atau buruk, menarik tidak menarik, tetapi lebih sebagai upaya mendokumentasikan kekayaan budaya Bali terutama kisah-kisah legenda yang perlu diketahui generasi penerus. Pun ini menjadi kesempatan bagi sineas maupun pekerja film dari Bali untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka yang apabila digeluti dengan sungguh-sungguh, tidak kalah dengan produksi Ibukota. [T]

“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar
Sanju (2018): Film Humas Sanjay Dutt?
Jawan, Film Angry Young Man?
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Tags: filmfilm baliFilm Jayaprana Layonsari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Next Post

Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co