3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Jaswanto by Jaswanto
April 7, 2024
in Esai
Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Ajay Devgan saat berperan sebagai Bhagat Singh dalam The Legend of Bhagat Singh (2002)

AKHIR tahun lalu saya menonton Drishyam (1&2). Film ini dibintangi Ajay Devgan. Sebelum saya menonton Ajay dalam film thriller kriminal yang bagus tersebut (dalam hal ini, India memang nyaris tak pernah gagal mengeksekusi cerita thriller), lebih dulu saya menemukannya dalam film Gangubai Kathiawadi (2022).

Gangubai merupakan sebuah film biopic Ganga Harjivandas—yang memiliki julukan The Mafia Queen of Mumbai—yang memperjuangkan hak-hak pelacur di India. Dalam film Gangubai, Ajay berperan sebagai Haji Mastan, salah satu mafia Mumbai yang berteman dengan Don Karim Lala dan Varadarajan.

Namun, selain dua film tersebut, sependek ingatan, saya tak pernah lagi menonton Ajay dalam film apa pun. Hingga awal tahun ini, setelah membaca beberapa artikel Mahfud Ikhwan yang membahas tentang film India, saya kembali menonton Ajay dalam film The Lagend of Bhagat Singh—film lama di belantikan Bollywood.

The Lagend of Bhagat Singh merupakan film bikinan Rajkumar Santhosi bertahun 2002. Film ini bercerita tentang sosok revolusioner India yang memilih jalan non-kompromi terhadap kolonialisme Inggris—bahkan tak jarang menerapkan anarkhisme ala Bakunin dalam perjuangannya. Pahlawan tersebut bernama Bhagat Shing—revolusioner kelahiran Punjab yang namanya harum di India, khususnya di India Utara. Bisa dikata, Bhagat adalah sisi lain dari kepahlawanan Gandhi yang lembek.

Dalam film ini, tak main-main, Ajay langsung membintangi tokoh utama, sang legenda, Bhagat Singh. Dengan kumis melintang dan topi kulit yang khas, Ajay menjelma menjadi Bhagat muda yang pemberani dengan tangan mengepal meneriakkan “Inquilab Zindabad!” bersama kolega-kolega sosialisnya.

Pada kisarah tahun 50-an sampai 2000-an, setidaknya ada tujuh film tentang Bhagat Singh yang diproduksi, salah satunya adalah The Lagend of Bhagat Singh—salah satu film India yang saya tonton tanpa subtitle bahasa Indonesia, selain Gandhi (1982).

Meskipun Bhagat Singh seorang atheis, namanya tetap harum sebagai pahlawan di India. Ia dipatungkan bersama Gandhi dan Bose. Pada tahun 2008, sebuah polling di majalah India Today menempatkan Bhagat di posisi pertama sebagai “The Greatest Indian” mengalahkan Gandhi dan Bose.

Itu merupakan bukti betapa India menaruh hormat kepada Bhagat. Bahkan di tengah sikap fundamentalisme agama di India yang semakin menguat, nama Bhagat Singh ternyata tidak terlupakan oleh rakyat India.

Saya tidak tahu bagaimana orang India memperlakukan pahlawannya. Tapi yang jelas, di India, tampaknya pahlawan tetaplah pahlawan, tak peduli apakah dia seorang Hindu, Muslim, maupun Komunis sekali pun. Dan yang dilakukan para sineas India sungguh hebat. Mereka tak pilih kasih dalam memfilmkan sosok pahlawan India. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan negara kita, Indonesia.

Banar apa yang dikatakan Mahfud Ikhawan. Saat menonton The Lagend of Bhagat Singh, saya langsung teringat satu sosok yang sama-sama menginginkan “Merdeka 100%”, Tan Malaka. Dalam tuntutan kemerdekaan, Bhagat Singh tak jauh berbeda dengan Tan Malaka.

Bhagat memiliki teriakan “Inquilab Zindabad!”, di Indonesia punya “Merdeka atau Mati!” Namun, meski demikian, nasib keduanya jauh berbeda. Bhagat sangat dicintai. Tapi Tan, jangankan memiliki tujuh film tentangnya, bahkan menyebut namanya saja seolah pamali bagi banyak orang.

Pada 2010 ada Sang Pencerah, film tentang tokoh besar Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Tiga tahun berselang, giliran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim As’ari, yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Kiai. Lalu tayang Soekarno (2013), Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), hingga Buya Hamka (2023), tapi tidak dengan tokoh di “sisi kiri jalan” macam Tan Malaka, Haji Misbach, Kartosuwirjo, Semaun, apalagi sampai Amir Sjarifudin, Muso, Widarta, Kutil, hingga Aidit, Lukman, sampai Disman.

Nama-nama yang terakhir disebut sepertinya adalah kemustahilan dalam sinema Indonesia—meski memungkinkan, tapi sepertinya kita harus menunggu sangat lama untuk peristiwa itu terjadi. Mereka, para pahlawan Komunis itu, tak ubahnya bajingan bagi bangsa ini.

Sebagaimana seorang bajingan—yang tak bertuhan lagi—tentu tak pantas mendapat penghormatan. Bangsa ini bukan India, yang menghormati pahlawannya tanpa memandang latar belakang agama, ideologi, dan bagaimana pun jalan yang ditempuhnya—hal yang oleh bangsa ini masih harus terus dipelajari.

Tapi jangankan Tan Malaka, bahkan untuk orang-orang yang namanya tenar, “bersih”, dan “berdiri di sisi kanan jalan” macam Bung Hatta, Sjahrir, juga jenderal besar Pak Dirman (sebenarnya ada satu, tapi itu karena ada jenderal lain yang ingin numpang tenar) saja tak memiliki film biografi sebagaimana Bhagat, Gandhi, Surya Sen, Netaji Bose, Udham Singh, dll.

Bhagar Singh lahir sebagai Sikh dan gugur sebagai atheis, diberi gelar Shaheed-E-Azaam, dan dipuja di Republik Islam Pakistan. Surya Sen, seorang guru Hindu di Cittagong yang memberontak bersama murid-muridnya, dimuliakan sebagai pahlawan Bangladesh, dan terus dihormati di India (dan bahkan diabadikan dalam dua film yang indah oleh sineas-sineas Bollywood di Bombay) meskipun Cittagong kini sudah bukan lagi menjadi wilayah India.

Jika di India Pemberontakan Cittagong yang dilakukan seorang guru bersama 10 rekan dan 50-an murid-murid yang masih remaja tampak begitu agung dan abadi, di Indonesia, pemberontakan kaum Komunis di Prambanan, Banten, dan Silungkang yang melibatkan ribuan orang bahkan nyaris terlupakan—kalau bukan dipersalahkan sebagai tindakan merusak perjuangan.

Tak ada tempat bagi tokoh palu arit di negara ini—bahkan untuk nama besar macam Tan Malaka. Si Pacar Merah—begitulah para penulis fiksi tahun 30-an menyebutnya—memang memiliki nama yang tenar. Buku-buku yang ditulisnya dan buku tentangnya laris dibaca. Tapi, pada saat yang sama, ia tidak benar-benar sepenuhnya diterima.

Pembongkaran kuburannya bukannya menjadi peristiwa bersejarah yang mengharukan, tapi malah beralih jadi peristiwa politik yang kontroversial. Diskusi-diskusi buku dan pemikirannya tidak dihadiri khalayak dengan buku catatan dan rasa ingin tahu, tapi dengan pedang, pentungan, dan batu.

Tan dibenci oleh sebagain besar rakyat Indonesia tanpa perlu mengenalnya. Bahwa ia seorang tokoh PKI, partai yang telah dihabisi dan ideologinya sampai sekarang masih terlarang di negeri ini, dan bahwa ia mati ditembak tentara, itu sudah cukup untuk jadi alasan menyingkirkannya dari buku-buku sejarah di sekolah dan film-film di bioskop.

Saat nama Bhagat Singh harum di samping nama-nama besar pahlawan India, bahkan tak satu jalan pun yang menggunakan nama Tan Malaka—kecuali, konon, sebuah jalan kecil di kampung halamannya sendiri. Bhagat punya National Martyr Memorial di Husainiwala, juga Bhagat Singh Museum & Bhagat Singh Memorial tempat kelahirannya di Khatkar Kalan, sementara kuburan Tan Malaka—dan tokoh-tokoh PKI lainnya—terlantar dan hampir tak terlacak keberadaannya.

Seperti kata Cak Mahfud, pasti indah sekali jika bisa menyaksikan seorang aktor Indonesia memerankan Tan Malaka yang berpidato di depan Lenin dan para petinggi partai Komunis sedunia tentang betapa cocoknya Komunisme dan Pan-Islamisme, tapi ah… sudahlah. Saya tak mau berandai-andai.[T]

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Tags: Bhagat SinghfilmFilm BollywoodindiaKomunisPKITan Malaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Jayaprana Layonsari”, Lain Dulu Lain Sekarang

Next Post

Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails
Next Post
Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co