14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
August 5, 2023
in Cerpen
Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PEREMPUAN itu membangun sebuah menara di kepalanya, hingga pagi menjelang dengan isi pikiran yang memuntahkan beragam kekhawatiran. Tidak ada tanda-tanda masalah akhir-akhir ini, rutinitas masih sama. Namun ia bisa merasakan perubahan pada angin berembus makin dingin tiap harinya.

Ketika ia melihat kembali beberapa obrolan singkat pada gawai yang sedang ia pegang dan mulai menghitung jumlah kata yang terhapus juga pesan-pesan singkat yang ditata rapi kembali ia simpan. Ya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berhari-hari.

Kehampaan menggerogoti sebentar, hubungan asmara yang penuh gejolak dan hatinya sedikit goyah. Perkara perasaan dan permenungan yang entah, dalam beberapa monolog tentang seorang lelaki bernama Bara. Ada beberapa kebiasaan yang hilang membuatnya merasakan kemarahan, kecemburuan, firasat dan pikiran negatif yang liar dan menggebu-gebu, padahal itu hanyalah tafsiran-tafsiran belaka yang belum terbukti kebenarannya.

Belakangan ini sepertinya Bara  sedang sibuk-sibuknya, ia sering pergi ke rumah temannya hingga larut pagi—bahkan pergi ke beberapa tempat tanpa memberitahu gadis itu.

Hampir seminggu perempuan itu menunggu telepon dari Bara, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Bara  lewat panggilan WhatsApp. Sayang, beberapa kali telepon itu tak kunjung berdering, hanya “memanggil”—artinya memang sedang berada di luar jangkauan. Entah di luar jangkauan signal atau lain hal, ia juga kurang paham.

Ia mencoba menelpon berkali-kali namun hasilnya masih tetap sama. Pikirannya semakin kalut. Entah apa yang sedang dilakukan Bara di rumah kawannya yang entah di mana.

Rasa penasarannya semakin memuncak, lalu ia kirimkan pesan pada Bara.

“Kak Bara, memang gak ada signal ya? Atau memang gak bisa ditelepon?”

“Paketnya cuma paket chat, baru liat hp sudah ada panggilan tak terjawab aja,” balas Bara

Aneh ya, memang iya kalau paket chat tidak bisa dipakai untuk telepon WhatsApp? Jelas sekali telponnya tidak tersambung tapi chatnya masuk. Apa jangan-jangan…? Ah, tidak mungkin begitu, pikir perempuan itu. 

Semalaman perempuan itu mencari berbagai tutorial di Youtube-nya, mulai dari paket chat, sampai panggilan yang dibatasi, dan benar saja, perempuan itu menemukan bermacam cara yang bisa dilakukan untuk membatasi panggilan telepon WhatsApp. Menemukan kenyataan tesebut membuat perempuan itu banyak mengira-ngira. Sebagian lagi masih menjelma pertanyaan, sedang waktu berputar cepat seperti gasing.

***

Keesokan harinya, perempuan itu bangun dengan mata sembab sebab ia hanya tidur selama dua jam saja, padahal ia juga harus bekerja. Namun, hatinya boleh saja kacau, tapi ia harus tetap tersenyum. Kebetulan sekali ia cukup sibuk dengan pekerjaannya saat itu hingga siang baru ia sempat mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan dari Bara.

“Pagi ygs, baru bangun”

“Kak Bara di mana? Kapan ada waktu, boleh kita bicara?”

“Aiss, bicara apa? Serius gati (baca: sekali),” balas Bara dengan emoticon tertawa.

Rasanya seperti tersedak membaca pesan dari Bara, tetapi perempuan itu masih berusaha untuk tetap tenang, ia memberanikan diri dan menurunkan gengsinya yang setinggi langit ke tujuh itu, lalu sekali lagi bertanya pada Bara.

“Kak Bara kenapa? Aku perhatikan belakangan ini komunikasinya kurang baik. Apa karena lagi banyak kegiatan di luar? Atau kak Bara ada marah sama aku? Belakangan juga sulit sekali aku hubungi, aku telpon tapi gak bisa. Dan kak Bara tidak mencoba telepon balik aku. Ada apa, kak? Bisa ceritakan sama aku.”

“Gak kenapa, lagi malas lihat hp aja,” kata Bara

Sontak saja perempuan itu terperangah dengan jawaban Bara, bagaimana tidak, lelaki manis seperti Bara tetiba saja ketus seperti itu. Apa salahnya perempuan itu bertanya, mudahnya Bara tinggal menjawab dengan jujur. Perempuan itu menghentikan percakapan yang rasa-rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Ia merasa sangat kecewa dan sedih.

“Kalau lagi malas lihat hp, buang saja hpmu,” gumam perempuan itu dalam hatinya.

Perempuan itu sangat mengerti dengan perkataan Bara, tentu saja Bara tak bermasalah dengan ponselnya, sebab beberapa kali Bara update story di beranda WhatsApp-nya. Bara hanya sedang malas berdebat dan berurusan dengan perempuan itu.

Alih-alih bersikeras urat leher mendebat dan membela diri, nyatanya Bara lebih memilih tak menjawab. Dalam banyak diam yang mereka ciptakan. Perempuan itu terlihat murung memikirkan Bara, ia terisak menahan rasa seperti tertusuk duri mengingat beberapa kata yang selalu mengusik hatinya. Mau dijelaskan bagaimanapun, orang lain tak akan mengerti. Yang tahu seberapa sedihnya hanyalah ia sendiri.

“Rasanya baru kemarin kau datang dan menyapaku, lalu kenapa sekarang terasa begitu asing? Untuk semua hal yang telah kita lalui, aku bahkan tidak tahu mengapa kamu meninggalkanku, apa karena kau lama menungguku? Atau seorang telah mengambil hatimu? Oh sayang ini terlalu cepat untuk mengatakan kisah kita sudah berakhir.”

Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui nilai dirimu di dalam hati seseorang, tetapi percayalah kau bisa mengetahuinya dari sikap mereka terhadapmu. Menghargai dan memberi apresiasi tanpa harus diminta saat mereka begitu peduli. Dan acuh ketika mereka merasa cukup untuk berhenti.

People come and go, masing-masing dari kita memiliki garis waktu. Beberapa hal memang harus berakhir saja, bukan karena hal lain melainkan tugasnya sudah cukup dan harus pisah jalan. Seperti perempuan itu yang tak cukup gila untuk memohon agar Bara tetap disampingnya.

Ia bahkan  tak pernah memaksa Bara untuk sekedar memahami ataupun selalu ada menemaninya sepanjang waktu. Kalau memang mau pergi silakan dan kalau kembali juga menyesuaikan. Jangan sampai kita dipertemukan hanya karena keterpaksaan yang sama.

***

Waktu berlalu dan berlalu, tak ada komunikasi. Kalaupun ada hanya sebatas formalitas.

“Jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan lain kita, sungguh banyak yang sedang aku tenangkan dalam diri ini, atau mungkin hatiku tak lagi menginginkanmu pulang ke rumah ini. Begitu banyak yang belum sempat kita selesaikan. Oh kasih, aku hanya menunggu jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku. Dan menunggu keberanianmu mengungkap semua itu, apapun jawabanmu akan aku terima.”

“Kak Bara jangan kau diam lagi, aku tak sanggup menahan, aku tak punya kendali untuk menahanmu pergi, bicaralah sayang.”

Bagaimana mungkin perempuan itu bisa melalui hari-harinya lewat begitu saja, setelah sebelumnya mereka selalu menghabiskan hari dengan percakapan yang tak habis dikunyah waktu. Tidakkah lagi sehangat dulu? Seperti saat mereka sedang menaruh rindu pada kendi-kendi teracotta, atau barangkali penghuninya telah berkhianat dan memilih pergi berlalu.

Jangan berusaha memahami semuanya. Nanti akan tiba saatnya, semua menjadi bisa dipahami. Perempuan itu sudah jatuh cinta teramat sangat pada Bara, semua berlalu kecuali rindu. Menembus batas sepi pada suasana yang tak lagi ia mengerti.

Seperti kutipan dalam sebuah film, “Kamu tau gak? Sebelum hujan turun ke bumi, langit mendung terlebih dahulu memberitahumu?”

Begitu juga dengan harapan perempuan itu, setidaknya sebelum Bara  memutuskan pergi beritahulah terlebih dahulu agar ia bisa menghadapi ketakutan akan dirinya. Mencintai dan bersetia adalah jalan yang tidak mudah. Batu saja bisa luluh karena air, semua ada prosesnya bukan sekedar mengambil, memanfaatkan dan menelantarkan begitu saja.

Lalu cintalah yang membuat perempuan itu melatih kesabaran, menghargai dalam segala bentuk perlakuan. Perempuan itu dikelilingi orang-orang yang ia sayang. Menerima semua yang terjadi adalah sekian cara untuk tumbuh dan sembuh karena mencintai tidaklah mudah.

We are sillence with sweet promises.[T]

  • BACA cerpen lainnya
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Mengatasi Pemanasan Global

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co