23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
August 5, 2023
in Cerpen
Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PEREMPUAN itu membangun sebuah menara di kepalanya, hingga pagi menjelang dengan isi pikiran yang memuntahkan beragam kekhawatiran. Tidak ada tanda-tanda masalah akhir-akhir ini, rutinitas masih sama. Namun ia bisa merasakan perubahan pada angin berembus makin dingin tiap harinya.

Ketika ia melihat kembali beberapa obrolan singkat pada gawai yang sedang ia pegang dan mulai menghitung jumlah kata yang terhapus juga pesan-pesan singkat yang ditata rapi kembali ia simpan. Ya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berhari-hari.

Kehampaan menggerogoti sebentar, hubungan asmara yang penuh gejolak dan hatinya sedikit goyah. Perkara perasaan dan permenungan yang entah, dalam beberapa monolog tentang seorang lelaki bernama Bara. Ada beberapa kebiasaan yang hilang membuatnya merasakan kemarahan, kecemburuan, firasat dan pikiran negatif yang liar dan menggebu-gebu, padahal itu hanyalah tafsiran-tafsiran belaka yang belum terbukti kebenarannya.

Belakangan ini sepertinya Bara  sedang sibuk-sibuknya, ia sering pergi ke rumah temannya hingga larut pagi—bahkan pergi ke beberapa tempat tanpa memberitahu gadis itu.

Hampir seminggu perempuan itu menunggu telepon dari Bara, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Bara  lewat panggilan WhatsApp. Sayang, beberapa kali telepon itu tak kunjung berdering, hanya “memanggil”—artinya memang sedang berada di luar jangkauan. Entah di luar jangkauan signal atau lain hal, ia juga kurang paham.

Ia mencoba menelpon berkali-kali namun hasilnya masih tetap sama. Pikirannya semakin kalut. Entah apa yang sedang dilakukan Bara di rumah kawannya yang entah di mana.

Rasa penasarannya semakin memuncak, lalu ia kirimkan pesan pada Bara.

“Kak Bara, memang gak ada signal ya? Atau memang gak bisa ditelepon?”

“Paketnya cuma paket chat, baru liat hp sudah ada panggilan tak terjawab aja,” balas Bara

Aneh ya, memang iya kalau paket chat tidak bisa dipakai untuk telepon WhatsApp? Jelas sekali telponnya tidak tersambung tapi chatnya masuk. Apa jangan-jangan…? Ah, tidak mungkin begitu, pikir perempuan itu. 

Semalaman perempuan itu mencari berbagai tutorial di Youtube-nya, mulai dari paket chat, sampai panggilan yang dibatasi, dan benar saja, perempuan itu menemukan bermacam cara yang bisa dilakukan untuk membatasi panggilan telepon WhatsApp. Menemukan kenyataan tesebut membuat perempuan itu banyak mengira-ngira. Sebagian lagi masih menjelma pertanyaan, sedang waktu berputar cepat seperti gasing.

***

Keesokan harinya, perempuan itu bangun dengan mata sembab sebab ia hanya tidur selama dua jam saja, padahal ia juga harus bekerja. Namun, hatinya boleh saja kacau, tapi ia harus tetap tersenyum. Kebetulan sekali ia cukup sibuk dengan pekerjaannya saat itu hingga siang baru ia sempat mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan dari Bara.

“Pagi ygs, baru bangun”

“Kak Bara di mana? Kapan ada waktu, boleh kita bicara?”

“Aiss, bicara apa? Serius gati (baca: sekali),” balas Bara dengan emoticon tertawa.

Rasanya seperti tersedak membaca pesan dari Bara, tetapi perempuan itu masih berusaha untuk tetap tenang, ia memberanikan diri dan menurunkan gengsinya yang setinggi langit ke tujuh itu, lalu sekali lagi bertanya pada Bara.

“Kak Bara kenapa? Aku perhatikan belakangan ini komunikasinya kurang baik. Apa karena lagi banyak kegiatan di luar? Atau kak Bara ada marah sama aku? Belakangan juga sulit sekali aku hubungi, aku telpon tapi gak bisa. Dan kak Bara tidak mencoba telepon balik aku. Ada apa, kak? Bisa ceritakan sama aku.”

“Gak kenapa, lagi malas lihat hp aja,” kata Bara

Sontak saja perempuan itu terperangah dengan jawaban Bara, bagaimana tidak, lelaki manis seperti Bara tetiba saja ketus seperti itu. Apa salahnya perempuan itu bertanya, mudahnya Bara tinggal menjawab dengan jujur. Perempuan itu menghentikan percakapan yang rasa-rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Ia merasa sangat kecewa dan sedih.

“Kalau lagi malas lihat hp, buang saja hpmu,” gumam perempuan itu dalam hatinya.

Perempuan itu sangat mengerti dengan perkataan Bara, tentu saja Bara tak bermasalah dengan ponselnya, sebab beberapa kali Bara update story di beranda WhatsApp-nya. Bara hanya sedang malas berdebat dan berurusan dengan perempuan itu.

Alih-alih bersikeras urat leher mendebat dan membela diri, nyatanya Bara lebih memilih tak menjawab. Dalam banyak diam yang mereka ciptakan. Perempuan itu terlihat murung memikirkan Bara, ia terisak menahan rasa seperti tertusuk duri mengingat beberapa kata yang selalu mengusik hatinya. Mau dijelaskan bagaimanapun, orang lain tak akan mengerti. Yang tahu seberapa sedihnya hanyalah ia sendiri.

“Rasanya baru kemarin kau datang dan menyapaku, lalu kenapa sekarang terasa begitu asing? Untuk semua hal yang telah kita lalui, aku bahkan tidak tahu mengapa kamu meninggalkanku, apa karena kau lama menungguku? Atau seorang telah mengambil hatimu? Oh sayang ini terlalu cepat untuk mengatakan kisah kita sudah berakhir.”

Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui nilai dirimu di dalam hati seseorang, tetapi percayalah kau bisa mengetahuinya dari sikap mereka terhadapmu. Menghargai dan memberi apresiasi tanpa harus diminta saat mereka begitu peduli. Dan acuh ketika mereka merasa cukup untuk berhenti.

People come and go, masing-masing dari kita memiliki garis waktu. Beberapa hal memang harus berakhir saja, bukan karena hal lain melainkan tugasnya sudah cukup dan harus pisah jalan. Seperti perempuan itu yang tak cukup gila untuk memohon agar Bara tetap disampingnya.

Ia bahkan  tak pernah memaksa Bara untuk sekedar memahami ataupun selalu ada menemaninya sepanjang waktu. Kalau memang mau pergi silakan dan kalau kembali juga menyesuaikan. Jangan sampai kita dipertemukan hanya karena keterpaksaan yang sama.

***

Waktu berlalu dan berlalu, tak ada komunikasi. Kalaupun ada hanya sebatas formalitas.

“Jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan lain kita, sungguh banyak yang sedang aku tenangkan dalam diri ini, atau mungkin hatiku tak lagi menginginkanmu pulang ke rumah ini. Begitu banyak yang belum sempat kita selesaikan. Oh kasih, aku hanya menunggu jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku. Dan menunggu keberanianmu mengungkap semua itu, apapun jawabanmu akan aku terima.”

“Kak Bara jangan kau diam lagi, aku tak sanggup menahan, aku tak punya kendali untuk menahanmu pergi, bicaralah sayang.”

Bagaimana mungkin perempuan itu bisa melalui hari-harinya lewat begitu saja, setelah sebelumnya mereka selalu menghabiskan hari dengan percakapan yang tak habis dikunyah waktu. Tidakkah lagi sehangat dulu? Seperti saat mereka sedang menaruh rindu pada kendi-kendi teracotta, atau barangkali penghuninya telah berkhianat dan memilih pergi berlalu.

Jangan berusaha memahami semuanya. Nanti akan tiba saatnya, semua menjadi bisa dipahami. Perempuan itu sudah jatuh cinta teramat sangat pada Bara, semua berlalu kecuali rindu. Menembus batas sepi pada suasana yang tak lagi ia mengerti.

Seperti kutipan dalam sebuah film, “Kamu tau gak? Sebelum hujan turun ke bumi, langit mendung terlebih dahulu memberitahumu?”

Begitu juga dengan harapan perempuan itu, setidaknya sebelum Bara  memutuskan pergi beritahulah terlebih dahulu agar ia bisa menghadapi ketakutan akan dirinya. Mencintai dan bersetia adalah jalan yang tidak mudah. Batu saja bisa luluh karena air, semua ada prosesnya bukan sekedar mengambil, memanfaatkan dan menelantarkan begitu saja.

Lalu cintalah yang membuat perempuan itu melatih kesabaran, menghargai dalam segala bentuk perlakuan. Perempuan itu dikelilingi orang-orang yang ia sayang. Menerima semua yang terjadi adalah sekian cara untuk tumbuh dan sembuh karena mencintai tidaklah mudah.

We are sillence with sweet promises.[T]

  • BACA cerpen lainnya
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Mengatasi Pemanasan Global

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co