13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
August 5, 2023
in Cerpen
Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PEREMPUAN itu membangun sebuah menara di kepalanya, hingga pagi menjelang dengan isi pikiran yang memuntahkan beragam kekhawatiran. Tidak ada tanda-tanda masalah akhir-akhir ini, rutinitas masih sama. Namun ia bisa merasakan perubahan pada angin berembus makin dingin tiap harinya.

Ketika ia melihat kembali beberapa obrolan singkat pada gawai yang sedang ia pegang dan mulai menghitung jumlah kata yang terhapus juga pesan-pesan singkat yang ditata rapi kembali ia simpan. Ya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berhari-hari.

Kehampaan menggerogoti sebentar, hubungan asmara yang penuh gejolak dan hatinya sedikit goyah. Perkara perasaan dan permenungan yang entah, dalam beberapa monolog tentang seorang lelaki bernama Bara. Ada beberapa kebiasaan yang hilang membuatnya merasakan kemarahan, kecemburuan, firasat dan pikiran negatif yang liar dan menggebu-gebu, padahal itu hanyalah tafsiran-tafsiran belaka yang belum terbukti kebenarannya.

Belakangan ini sepertinya Bara  sedang sibuk-sibuknya, ia sering pergi ke rumah temannya hingga larut pagi—bahkan pergi ke beberapa tempat tanpa memberitahu gadis itu.

Hampir seminggu perempuan itu menunggu telepon dari Bara, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Bara  lewat panggilan WhatsApp. Sayang, beberapa kali telepon itu tak kunjung berdering, hanya “memanggil”—artinya memang sedang berada di luar jangkauan. Entah di luar jangkauan signal atau lain hal, ia juga kurang paham.

Ia mencoba menelpon berkali-kali namun hasilnya masih tetap sama. Pikirannya semakin kalut. Entah apa yang sedang dilakukan Bara di rumah kawannya yang entah di mana.

Rasa penasarannya semakin memuncak, lalu ia kirimkan pesan pada Bara.

“Kak Bara, memang gak ada signal ya? Atau memang gak bisa ditelepon?”

“Paketnya cuma paket chat, baru liat hp sudah ada panggilan tak terjawab aja,” balas Bara

Aneh ya, memang iya kalau paket chat tidak bisa dipakai untuk telepon WhatsApp? Jelas sekali telponnya tidak tersambung tapi chatnya masuk. Apa jangan-jangan…? Ah, tidak mungkin begitu, pikir perempuan itu. 

Semalaman perempuan itu mencari berbagai tutorial di Youtube-nya, mulai dari paket chat, sampai panggilan yang dibatasi, dan benar saja, perempuan itu menemukan bermacam cara yang bisa dilakukan untuk membatasi panggilan telepon WhatsApp. Menemukan kenyataan tesebut membuat perempuan itu banyak mengira-ngira. Sebagian lagi masih menjelma pertanyaan, sedang waktu berputar cepat seperti gasing.

***

Keesokan harinya, perempuan itu bangun dengan mata sembab sebab ia hanya tidur selama dua jam saja, padahal ia juga harus bekerja. Namun, hatinya boleh saja kacau, tapi ia harus tetap tersenyum. Kebetulan sekali ia cukup sibuk dengan pekerjaannya saat itu hingga siang baru ia sempat mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan dari Bara.

“Pagi ygs, baru bangun”

“Kak Bara di mana? Kapan ada waktu, boleh kita bicara?”

“Aiss, bicara apa? Serius gati (baca: sekali),” balas Bara dengan emoticon tertawa.

Rasanya seperti tersedak membaca pesan dari Bara, tetapi perempuan itu masih berusaha untuk tetap tenang, ia memberanikan diri dan menurunkan gengsinya yang setinggi langit ke tujuh itu, lalu sekali lagi bertanya pada Bara.

“Kak Bara kenapa? Aku perhatikan belakangan ini komunikasinya kurang baik. Apa karena lagi banyak kegiatan di luar? Atau kak Bara ada marah sama aku? Belakangan juga sulit sekali aku hubungi, aku telpon tapi gak bisa. Dan kak Bara tidak mencoba telepon balik aku. Ada apa, kak? Bisa ceritakan sama aku.”

“Gak kenapa, lagi malas lihat hp aja,” kata Bara

Sontak saja perempuan itu terperangah dengan jawaban Bara, bagaimana tidak, lelaki manis seperti Bara tetiba saja ketus seperti itu. Apa salahnya perempuan itu bertanya, mudahnya Bara tinggal menjawab dengan jujur. Perempuan itu menghentikan percakapan yang rasa-rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Ia merasa sangat kecewa dan sedih.

“Kalau lagi malas lihat hp, buang saja hpmu,” gumam perempuan itu dalam hatinya.

Perempuan itu sangat mengerti dengan perkataan Bara, tentu saja Bara tak bermasalah dengan ponselnya, sebab beberapa kali Bara update story di beranda WhatsApp-nya. Bara hanya sedang malas berdebat dan berurusan dengan perempuan itu.

Alih-alih bersikeras urat leher mendebat dan membela diri, nyatanya Bara lebih memilih tak menjawab. Dalam banyak diam yang mereka ciptakan. Perempuan itu terlihat murung memikirkan Bara, ia terisak menahan rasa seperti tertusuk duri mengingat beberapa kata yang selalu mengusik hatinya. Mau dijelaskan bagaimanapun, orang lain tak akan mengerti. Yang tahu seberapa sedihnya hanyalah ia sendiri.

“Rasanya baru kemarin kau datang dan menyapaku, lalu kenapa sekarang terasa begitu asing? Untuk semua hal yang telah kita lalui, aku bahkan tidak tahu mengapa kamu meninggalkanku, apa karena kau lama menungguku? Atau seorang telah mengambil hatimu? Oh sayang ini terlalu cepat untuk mengatakan kisah kita sudah berakhir.”

Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui nilai dirimu di dalam hati seseorang, tetapi percayalah kau bisa mengetahuinya dari sikap mereka terhadapmu. Menghargai dan memberi apresiasi tanpa harus diminta saat mereka begitu peduli. Dan acuh ketika mereka merasa cukup untuk berhenti.

People come and go, masing-masing dari kita memiliki garis waktu. Beberapa hal memang harus berakhir saja, bukan karena hal lain melainkan tugasnya sudah cukup dan harus pisah jalan. Seperti perempuan itu yang tak cukup gila untuk memohon agar Bara tetap disampingnya.

Ia bahkan  tak pernah memaksa Bara untuk sekedar memahami ataupun selalu ada menemaninya sepanjang waktu. Kalau memang mau pergi silakan dan kalau kembali juga menyesuaikan. Jangan sampai kita dipertemukan hanya karena keterpaksaan yang sama.

***

Waktu berlalu dan berlalu, tak ada komunikasi. Kalaupun ada hanya sebatas formalitas.

“Jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan lain kita, sungguh banyak yang sedang aku tenangkan dalam diri ini, atau mungkin hatiku tak lagi menginginkanmu pulang ke rumah ini. Begitu banyak yang belum sempat kita selesaikan. Oh kasih, aku hanya menunggu jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku. Dan menunggu keberanianmu mengungkap semua itu, apapun jawabanmu akan aku terima.”

“Kak Bara jangan kau diam lagi, aku tak sanggup menahan, aku tak punya kendali untuk menahanmu pergi, bicaralah sayang.”

Bagaimana mungkin perempuan itu bisa melalui hari-harinya lewat begitu saja, setelah sebelumnya mereka selalu menghabiskan hari dengan percakapan yang tak habis dikunyah waktu. Tidakkah lagi sehangat dulu? Seperti saat mereka sedang menaruh rindu pada kendi-kendi teracotta, atau barangkali penghuninya telah berkhianat dan memilih pergi berlalu.

Jangan berusaha memahami semuanya. Nanti akan tiba saatnya, semua menjadi bisa dipahami. Perempuan itu sudah jatuh cinta teramat sangat pada Bara, semua berlalu kecuali rindu. Menembus batas sepi pada suasana yang tak lagi ia mengerti.

Seperti kutipan dalam sebuah film, “Kamu tau gak? Sebelum hujan turun ke bumi, langit mendung terlebih dahulu memberitahumu?”

Begitu juga dengan harapan perempuan itu, setidaknya sebelum Bara  memutuskan pergi beritahulah terlebih dahulu agar ia bisa menghadapi ketakutan akan dirinya. Mencintai dan bersetia adalah jalan yang tidak mudah. Batu saja bisa luluh karena air, semua ada prosesnya bukan sekedar mengambil, memanfaatkan dan menelantarkan begitu saja.

Lalu cintalah yang membuat perempuan itu melatih kesabaran, menghargai dalam segala bentuk perlakuan. Perempuan itu dikelilingi orang-orang yang ia sayang. Menerima semua yang terjadi adalah sekian cara untuk tumbuh dan sembuh karena mencintai tidaklah mudah.

We are sillence with sweet promises.[T]

  • BACA cerpen lainnya
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Mengatasi Pemanasan Global

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co