3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
August 5, 2023
in Cerpen
Rindu Kemesraan Kata-Kata | Cerpen Meisa Wulandari

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PEREMPUAN itu membangun sebuah menara di kepalanya, hingga pagi menjelang dengan isi pikiran yang memuntahkan beragam kekhawatiran. Tidak ada tanda-tanda masalah akhir-akhir ini, rutinitas masih sama. Namun ia bisa merasakan perubahan pada angin berembus makin dingin tiap harinya.

Ketika ia melihat kembali beberapa obrolan singkat pada gawai yang sedang ia pegang dan mulai menghitung jumlah kata yang terhapus juga pesan-pesan singkat yang ditata rapi kembali ia simpan. Ya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berhari-hari.

Kehampaan menggerogoti sebentar, hubungan asmara yang penuh gejolak dan hatinya sedikit goyah. Perkara perasaan dan permenungan yang entah, dalam beberapa monolog tentang seorang lelaki bernama Bara. Ada beberapa kebiasaan yang hilang membuatnya merasakan kemarahan, kecemburuan, firasat dan pikiran negatif yang liar dan menggebu-gebu, padahal itu hanyalah tafsiran-tafsiran belaka yang belum terbukti kebenarannya.

Belakangan ini sepertinya Bara  sedang sibuk-sibuknya, ia sering pergi ke rumah temannya hingga larut pagi—bahkan pergi ke beberapa tempat tanpa memberitahu gadis itu.

Hampir seminggu perempuan itu menunggu telepon dari Bara, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Bara  lewat panggilan WhatsApp. Sayang, beberapa kali telepon itu tak kunjung berdering, hanya “memanggil”—artinya memang sedang berada di luar jangkauan. Entah di luar jangkauan signal atau lain hal, ia juga kurang paham.

Ia mencoba menelpon berkali-kali namun hasilnya masih tetap sama. Pikirannya semakin kalut. Entah apa yang sedang dilakukan Bara di rumah kawannya yang entah di mana.

Rasa penasarannya semakin memuncak, lalu ia kirimkan pesan pada Bara.

“Kak Bara, memang gak ada signal ya? Atau memang gak bisa ditelepon?”

“Paketnya cuma paket chat, baru liat hp sudah ada panggilan tak terjawab aja,” balas Bara

Aneh ya, memang iya kalau paket chat tidak bisa dipakai untuk telepon WhatsApp? Jelas sekali telponnya tidak tersambung tapi chatnya masuk. Apa jangan-jangan…? Ah, tidak mungkin begitu, pikir perempuan itu. 

Semalaman perempuan itu mencari berbagai tutorial di Youtube-nya, mulai dari paket chat, sampai panggilan yang dibatasi, dan benar saja, perempuan itu menemukan bermacam cara yang bisa dilakukan untuk membatasi panggilan telepon WhatsApp. Menemukan kenyataan tesebut membuat perempuan itu banyak mengira-ngira. Sebagian lagi masih menjelma pertanyaan, sedang waktu berputar cepat seperti gasing.

***

Keesokan harinya, perempuan itu bangun dengan mata sembab sebab ia hanya tidur selama dua jam saja, padahal ia juga harus bekerja. Namun, hatinya boleh saja kacau, tapi ia harus tetap tersenyum. Kebetulan sekali ia cukup sibuk dengan pekerjaannya saat itu hingga siang baru ia sempat mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan dari Bara.

“Pagi ygs, baru bangun”

“Kak Bara di mana? Kapan ada waktu, boleh kita bicara?”

“Aiss, bicara apa? Serius gati (baca: sekali),” balas Bara dengan emoticon tertawa.

Rasanya seperti tersedak membaca pesan dari Bara, tetapi perempuan itu masih berusaha untuk tetap tenang, ia memberanikan diri dan menurunkan gengsinya yang setinggi langit ke tujuh itu, lalu sekali lagi bertanya pada Bara.

“Kak Bara kenapa? Aku perhatikan belakangan ini komunikasinya kurang baik. Apa karena lagi banyak kegiatan di luar? Atau kak Bara ada marah sama aku? Belakangan juga sulit sekali aku hubungi, aku telpon tapi gak bisa. Dan kak Bara tidak mencoba telepon balik aku. Ada apa, kak? Bisa ceritakan sama aku.”

“Gak kenapa, lagi malas lihat hp aja,” kata Bara

Sontak saja perempuan itu terperangah dengan jawaban Bara, bagaimana tidak, lelaki manis seperti Bara tetiba saja ketus seperti itu. Apa salahnya perempuan itu bertanya, mudahnya Bara tinggal menjawab dengan jujur. Perempuan itu menghentikan percakapan yang rasa-rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Ia merasa sangat kecewa dan sedih.

“Kalau lagi malas lihat hp, buang saja hpmu,” gumam perempuan itu dalam hatinya.

Perempuan itu sangat mengerti dengan perkataan Bara, tentu saja Bara tak bermasalah dengan ponselnya, sebab beberapa kali Bara update story di beranda WhatsApp-nya. Bara hanya sedang malas berdebat dan berurusan dengan perempuan itu.

Alih-alih bersikeras urat leher mendebat dan membela diri, nyatanya Bara lebih memilih tak menjawab. Dalam banyak diam yang mereka ciptakan. Perempuan itu terlihat murung memikirkan Bara, ia terisak menahan rasa seperti tertusuk duri mengingat beberapa kata yang selalu mengusik hatinya. Mau dijelaskan bagaimanapun, orang lain tak akan mengerti. Yang tahu seberapa sedihnya hanyalah ia sendiri.

“Rasanya baru kemarin kau datang dan menyapaku, lalu kenapa sekarang terasa begitu asing? Untuk semua hal yang telah kita lalui, aku bahkan tidak tahu mengapa kamu meninggalkanku, apa karena kau lama menungguku? Atau seorang telah mengambil hatimu? Oh sayang ini terlalu cepat untuk mengatakan kisah kita sudah berakhir.”

Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui nilai dirimu di dalam hati seseorang, tetapi percayalah kau bisa mengetahuinya dari sikap mereka terhadapmu. Menghargai dan memberi apresiasi tanpa harus diminta saat mereka begitu peduli. Dan acuh ketika mereka merasa cukup untuk berhenti.

People come and go, masing-masing dari kita memiliki garis waktu. Beberapa hal memang harus berakhir saja, bukan karena hal lain melainkan tugasnya sudah cukup dan harus pisah jalan. Seperti perempuan itu yang tak cukup gila untuk memohon agar Bara tetap disampingnya.

Ia bahkan  tak pernah memaksa Bara untuk sekedar memahami ataupun selalu ada menemaninya sepanjang waktu. Kalau memang mau pergi silakan dan kalau kembali juga menyesuaikan. Jangan sampai kita dipertemukan hanya karena keterpaksaan yang sama.

***

Waktu berlalu dan berlalu, tak ada komunikasi. Kalaupun ada hanya sebatas formalitas.

“Jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan lain kita, sungguh banyak yang sedang aku tenangkan dalam diri ini, atau mungkin hatiku tak lagi menginginkanmu pulang ke rumah ini. Begitu banyak yang belum sempat kita selesaikan. Oh kasih, aku hanya menunggu jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku. Dan menunggu keberanianmu mengungkap semua itu, apapun jawabanmu akan aku terima.”

“Kak Bara jangan kau diam lagi, aku tak sanggup menahan, aku tak punya kendali untuk menahanmu pergi, bicaralah sayang.”

Bagaimana mungkin perempuan itu bisa melalui hari-harinya lewat begitu saja, setelah sebelumnya mereka selalu menghabiskan hari dengan percakapan yang tak habis dikunyah waktu. Tidakkah lagi sehangat dulu? Seperti saat mereka sedang menaruh rindu pada kendi-kendi teracotta, atau barangkali penghuninya telah berkhianat dan memilih pergi berlalu.

Jangan berusaha memahami semuanya. Nanti akan tiba saatnya, semua menjadi bisa dipahami. Perempuan itu sudah jatuh cinta teramat sangat pada Bara, semua berlalu kecuali rindu. Menembus batas sepi pada suasana yang tak lagi ia mengerti.

Seperti kutipan dalam sebuah film, “Kamu tau gak? Sebelum hujan turun ke bumi, langit mendung terlebih dahulu memberitahumu?”

Begitu juga dengan harapan perempuan itu, setidaknya sebelum Bara  memutuskan pergi beritahulah terlebih dahulu agar ia bisa menghadapi ketakutan akan dirinya. Mencintai dan bersetia adalah jalan yang tidak mudah. Batu saja bisa luluh karena air, semua ada prosesnya bukan sekedar mengambil, memanfaatkan dan menelantarkan begitu saja.

Lalu cintalah yang membuat perempuan itu melatih kesabaran, menghargai dalam segala bentuk perlakuan. Perempuan itu dikelilingi orang-orang yang ia sayang. Menerima semua yang terjadi adalah sekian cara untuk tumbuh dan sembuh karena mencintai tidaklah mudah.

We are sillence with sweet promises.[T]

  • BACA cerpen lainnya
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Mengatasi Pemanasan Global

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co