14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
April 15, 2023
in Ulas Film
Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh

Pemutaran film pendek dengan tajuk Arsitektur Tubuh oleh Mulawali Institute di Mash Denpasar

DALAM KEADAAN KOTA DENPASAR yang ingar-bingar, malam itu, Sabtu 8 April 2023, saya dan kawan-kawan mengadakan sebuah pemutaran film pendek di Mash Denpasar. Ada tiga film pendek yang dihadirkan dalam program Layar Mulatari oleh Mulawali Institute yang bekerja sama dengan Mash Denpasar dan Tatkala.co.

Film pendek yang diputar adalah “Pinget” karya koreografer Jacko Kaneko dan sutradara Putu Sayoga, “Sikut Awak” karya koreografer Krisna Satya dan penata gambar Prema Ananda, dan “Harga Mahal yang Dibayar Murah” karya sutradara sekaligus koreografer Razan Wirdjosanjojo dan performer Murah Pranoto. Ketiga film ini diikat dalam satu bingkai kuratorial yang bertajuk Arsitektur Tubuh.

Apa yang ingin ditawarkan oleh film-film ini? Mengapa tajuk “Arsitektur Tubuh” dipilih untuk menghubungkan ketiga film pendek ini?

Dalam pengantar program yang tercantum dalam booklet, arsitektur tubuh merujuk pada hubungan dunia dalam (tubuh) dengan dunia luar (tata ruang fisik-sosial). Pada titik ini, kita bisa membayangkan framing arsitektur tubuh ini ditujukan untuk melihat hubungan tubuh dengan ruang/bangunan.

Hubungan ini tidak hanya mengacu pada satu arah, semisal tubuh yang membentuk ruang atau ruang yang membentuk tubuh. Namun ada pula upaya-upaya tubuh untuk beradaptasi dengan ruang, tubuh yang merespon ruang, pengalaman tubuh yang membentuk ruang, dan masih banyak intrik lainnya yang bisa ditarik dari hubungan ruang-tubuh.

***

Film “Pinget” memberikan contoh gamblang mengenai kerapuhan industri pariwisata di Bali. Pada Maret 2020, Pandemi Covid-19 menyerang Indonesia yang mengakibatkan lumpuhnya pariwisata. Hotel-hotel sepi, kafe-kafe tutup, para pekerja dirumahkan, bahkan sampai diberhentikan. Hal semacam ini yang coba ditangkap oleh Putu Sayoga dan Jacko Kaneko dalam filmnya.

Pada satu adegan Jacko yang bergerak pada tangga sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi dengan graffiti. Pada pegangan tangga terdapat hiasan-hiasan yang biasanya hadir saat terjadinya natal atau tahun baru. Hiasan berwarna kuning itu dipasang melingkar melalui tralis pegangan yang berwarna emas. Kontras dengan dinding yang berwarna biru dengan graffiti dan sebuah patung beruang besar yang berdiri tepat di depan pintu toko.

Seolah ia tengah menjaga toko itu dari pengunjung atau menjaga agar virus tidak masuk ke dalam toko. Terus berpindah ke sebuah portokoan yang saling berhadapan. Toko-toko yang biasanya dilalui pengunjung kini meninggalkan jejak berupa papan nama dan gambar pada temboknya. Kemudian berpindah pada pantai, banyak terdapat terpal yang sedang membungkus sesuatu.

Entah apa yang berada di dalam terpal tersebut, mungkin saja pelampung sewaan, dagangan, atau barang-barang lainnya yang biasa dijajakan di pinggir pantai. Adapula payung-payung yang menutup dan meja kayu kelapa yang sedikit rusak.

Pemandangan seperti ini hampir bisa kita temui pada kawasan pariwisata Kuta, Seminyak, Ubud, dan lainnya pada saat awal atau pertengahan pandemi Covid-19. Dengan gerak koreografi yang sederhana dan tidak begitu rumit, Jacko memberikan peluang untuk penonton memperhatikan dan melihat bagaimana rapuhnya industri pariwisata yang menopang kebutuhan masyarakat banyak di Bali.

Walau pada beberapa situs tidak memperlihatkan bahwa tempat itu berada di Bali, seperti kata Cika (Fransiska Prihadi) dalam diskusi, namun saya merasa pemilihan situs yang terlihat seperti tidak memiliki identitas-tempat (Bali) menjadi pilihan yang tepat, untuk merepresentasikan bahwa kejadian ini tidak hanya terjadi di Bali. Bahwa pandemi tidak hanya berdampak bagi industri pariwisata.

Dalam satu adegan film “Pinget”, Jacko berusaha untuk menyeimbangkan badannya berdiri di atas puing-puing bangunan, kemudian melangkah di udara, dan juga berjalan pada papan kayu yang tipis serta kecil. Seperti ingin menunjukkan bahwa masyarakat yang terkena dampak pandemi masih mencoba bertahan dan berjuang melewati masa sulit ini.

Meski harus menyeimbangkan pengeluaran-pemasukan, masyarakat mencoba beberapa rencana alternatif yang belum tentu menguntungkan atau mungkin membuahkan hasil. Namun semua itu harus dilakukan, karena kita belum tahu kapan ini akan berakhir. Maka Pinget menjadi penting sebagai  pengingat bahwa sebenarnya kita sedang berjalan di jembatan (pariwisata) yang terlihat membawa kemakmuran dan penghidupan, tetapi di satu sisi ia juga sangat rapuh dan mudah hancur. Maka Pinget, ada sebagai pengingat, ada sebagai penanda.

***

Pada film “Sikut Awak” yang menawarkan sebuah koreografi dengan pendekatan Sikut Natah dan Sikut Gegulak dalam Asta Kosala Kosali. Asta Kosala Kosali merupakan sumber atau pedoman dalam membuat rumah tradisional Bali. Sikut Natah digunakan untuk mengukur jarak antarbangunan dalam satu tapak (lahan).

Sikut Gegulak digunakan dalam mengukur proporsi sebuah bangunan. Biasanya metode pengukurannya menggunakan anatomi tubuh kepala keluarga dari rumah yang akan dibangun. Dengan menggunakan metode ini setiap rumah akan memiliki proporsi yang berbeda, tergantung dari bagaimana kondisi fisik yang dijadikan tolak ukur. Jika ia berbadan besar maka rumahnya akan ikut besar, bila berbadan kecil maka hasilnya juga akan mengikuti. Konsep ini membuat manusia sebagai pusat dari rumah yang akan dibangun, menjadikannya sangat antroposentris.

Metode pengukuran itu yang coba diadaptasi oleh Krisna ke dalam koreografi yang coba ditawarkan dalam filmnya. Seperti penggunaan ukuran Agemel (genggaman), Akacing (jari kelingking), Acengkang (jarak ujung jari telunjuk ke ujung jempol), Atapak Batis (panjang telapak kaki), Atapak Batis Ngandang (lebar telapak kaki), dan banyak lainnya.

Bentuk-bentuk pengukuran ini sangat terlihat jelas ketika dalam satu adegan yang mengarah ke lantai dan empat pasang kaki yang melakukan geraknya masing-masing. Ada yang bergerak selayaknya mengukur Sikut Natah, ada yang terdiam, ada juga tangannya yang bergerak mengukur.

Jika biasanya pengukuran dilakukan sebelum membangun, dalam film ini Krisna justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia seperti mengajak kita untuk mencoba mengenali ruang-ruang yang menjadi tempat hidup kita. Mencoba melihat setiap detailnya, merasakan tekstur materialnya, dan mencoba mengingatkan akan adanya sebuah cara pengukuran lain selain menggunakan alat ukur meteran (centimeter/meter) yang kita kenal saat ini.

Ada beberapa adegan yang membuat saya sedikit bertanya-tanya, semisal pada adegan di kontainer. Adegan ini cukup kontras bila dilihat dari pemilihan site dan gradasi warnanya. Kebanyakan adegan berada pada site rumah tradisional Bali (bale), alam, dan panggung pertunjukan yang cenderung menggunakan gradasi warna hangat kekuningan. Namun menuju akhir, ada beberapa adegan yang menunjukkan kontainer dengan gradasi warna dingin kebiruan.

Krisna seperti ingin menunjukkan adanya perbandingan yang menunjukkan ruang yang diukur dengan tubuh dan ruang yang diukur dengan alat ukur terstandardisasi. Ruang yang diukur dengan tubuh penghuninya memiliki kedekatan personal sedangkan ruang satunya terasa sedikit asing. Mungkin itu yang bisa saya tangkap dari hadirnya dua citra ruang yang berbeda tersebut.

Namun tidak hanya hubungan manusia dengan ruang yang ditampilkan dalam film, ada pula hubungan manusia dengan manusia, dan juga manusia dengan alam. Seperti pada adegan ketika salah satu penari berdiam diri di antara dua pohon besar dan ketika dua penari saling mengukur tubuh mereka satu sama lain.

Pengukuran membuat kita bisa mendekatkan dan merasakan ruang yang kita ukur, begitu juga pada adegan mengukur tubuh manusia dan mengukur alam. Krisna seperti mengajak kita mengenali ruang, dalam konteks ini bangunan dan juga kondisi fisik-sosialnya.

Yang artinya, kita diajak mengenali sesama manusia dan makhluk hidup atau pun benda mati lainnya sehingga kita bisa lebih peka terhadap sekitar dan sadar akan apa saja yang terjadi. Pada titik itu, mungkin kita bisa membentuk ruang dengan lebih bijak dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kita memang membentuk ruang tetapi jangan lupa, ruang juga membentuk kita.

***

Film “Harga Mahal yang Dibayar Murah” mengangkat biografi Murah Pranoto seorang penari yang berasal dari Kebumen. Dalam film ini, Razan mencoba mengangkat kisah Murah yang mengidap dwarfisme dan aktivitasnya sehari-hari. Tawaran pendekatan dokumenter menjadi sebuah pengalaman berbeda dari rangkaian film-film pada program pemutaran ini.

Jika pada dua film sebelumnya saya merasa untuk diajak merenung ketika menonton, dalam film ini saya merasa seperti mendengarkan dan melihat seseorang berjuang hidup dalam ruang fisik-sosialnya. Apalagi saat Murah mencoba mengakali keterbatasannya dan beradaptasi dengan ruang hidupnya.

Adegan yang menggambarkan secara jelas skala tubuh Murah dengan ruang di sekitarnya adalah ketika Murah tengah latihan di sebuah ruang dengan menggunakan tongkat yang mungkin ukurannya dua kali tinggi tubuhnya. Ruang itu tampak seperti ruang kumpul yang di kelilingi oleh kamar kos.

Beberapa temannya tengah asyik mengerjakan kegiatan mereka masing-masing, Murah masih sibuk dengan latihan menarinya. Kemudian adegan berlanjut menuju area jemur pakaian. Hanya ada pakaian basah dengan warna merah dan kuning yang menggantung. Perlahan-lahan sebuah pakaian dengan gantungan baju muncul dari bawah. Pakaian itu diangkat menggunakan sebuah tongkat yang digunakan oleh Murah sebelumnya. Murah tetap tidak terlihat di layar. Pada adegan ini kita dihadapkan dengan Murah yang sudah mengakali keterbatasannya dan beradaptasi dengan lingkungan kosan.

Adegan kemudian berpindah ke sebuah area tempat sebuah pementasan Reog. Murah merupakan salah satu penarinya. Di antara lainnya ia memiliki ukuran tubuh yang paling berbeda. Meski demikian Murah tetap melakukan tariannya dengan penuh percaya diri. Setelah pertunjukan Reog adegan kemudian berpindah menjadi sebuah kejar-kejaran.

Murah dikejar oleh sesosok hitam, sesosok yang mengejarnya dari satu gang ke gang lainnya. Makhluk itu tetap mengejarnya. Hingga pada satu titik ia bisa lolos dari makhluk tersebut dengan menyeberangi sungai melalui pipa kecil. Pipa yang hanya bisa dilalui oleh tubuhnya. Dalam adegan itu, saya berpikir keterbatasannyalah yang menyelamatkan hidupnya dari sosok hitam tersebut.

Adegan kemudian berpindah menjadi sudut pandang orang pertama, mata kamera berubah menjadi mata Murah. Dalam adegan ini terdapat sebuah raja dan ratu lengkap dengan perhiasannya sedang melawan Murah. Pertarungan ini terjadi di latar tempat puing-puing bekas rumah. Adegan bertarung terjadi antara ketiga karakter, pada adegan ini kita tetap menjadi Murah. Adegan berupa saling tusuk, kemudian saling kejar-mengejar.

Sesekali adegan berubah ke sebuah perkelahian pada sebuah lubang berlumpur. Di mana Murah juga sedang bertempur melawan orang lain pada adegan itu. Pergantian antara pertarungan pada puing-puing rumah dengan lubang berlumpur terus berganti. Hingga pada satu titik ketika Raja mengangkat Murah ke atas lalu membantingnya. Ketika membanting, adegan langsung berganti ke pertarungan di lumpur dan Murah sudah jatuh di genangan lumpur lubang. Pria yang menjadi lawannya tersebut naik, kemudian mengubur Murah secara perlahan.

Dalam film “Harga Mahal yang Dibayar Murah” ini terdapat dua pembagian cerita yang sangat jelas. Babak satu adalah dokumenter kehidupan seorang penari bernama Murah Pranoto. Dan babak kedua bisa disebut mimpi-mimpi buruk yang dialami oleh Murah. Jika babak satu kita melihat bagaimana Murah sudah mampu beradaptasi dan selesai dengan segala persoalan tubuhnya, pada babak kedua mimpi buruk itu tetap ada menghantui Murah.

Dalam film ini kita ditawarkan bagaimana Murah berusaha bertahan dan berkembang. Kita juga diperlihatkan perbedaan skala pada tubuh dengan ruang. Juga dengan penggunaan perspektif orang pertama membuat kita lebih mudah berempati kepada tokoh utama. Film ini tidak hanya bercerita mengenai hubungan manusia dengan ruang fisik-sosialnya, lebih dari itu ia memberikan sebuah perspektif berbeda meski ruang terbentuk tidak sesuai dengan keadaan fisik yang kita miliki. Selama kita hidup dan bernaung di ruang tersebut, selama itu pula kita akan terus berjuang dan beradaptasi dengan cara kita masing-masing.

Dalam pemutaran film ini kita diberikan beragam perspektif bagaimana hubungan ruang dalam (tubuh) dengan ruang luar (tata ruang fisik-sosial). Seperti bagaimana kita merespon dan merasakan ruang-ruang di sekitar selayaknya dalam film “Pinget”. Kemudian bagaimana kita mengenali dan merasakan ruang di sekitar seperti pada film “Sikut Awak”. Juga bagaimana kita yang bertahan serta berkembang pada sebuah ruang selayaknya film “Harga Malah yang Dibayar Murah”.

Ketiga film juga memberikan garis tebal mengenai hubungan tubuh dalam dengan tubuh luar yang tidak bisa lepas dari skala dan citra. Skala yang memberikan perbandingan ukuran antara kita dengan ruang dan benda lainnya. Serta citra yang memberikan kesan dan impresi kepada kita yang bernaung di dalamnya. [T]

Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”
Workshop Gerak Mulawali Institute: Mencari Pusat Diri Dalam Tubuh Setengah Jadi
Tags: filmMash DenpasarMulawali InstituteTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah, Sosok yang Saya Kagumi

Next Post

Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co